Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Teknik Asesmen Kebutuhan Peserta Didik - PPPK BK 1

Teknik Asesmen Kebutuhan Peserta Didik - PPPK BK 1 - hasriani.com


Teknik Asesmen Kebutuhan Peserta Didik - PPPK BK 1 - Penjabaran model kompetensi yang dikembangkan pada kompetensi guru bidang studi lebih spesifik pada pembelajaran 1. Teknik Asesmen Kebutuhan Peserta Didik, ada beberapa kompetensi guru bidang studi yang akan dicapai pada pembelajaran ini, kompetensi yang akan dicapai pada pembelajaran ini adalah guru PPPK mampu:

1. Mampu merumuskan indikator ketercapaian kemandirian melalui layanan bimbingan dan konseling yang berorientasi masa depan (adaptif dan fleksibel), yang terdiri atas aspek sikap, pengetahuan, dan keterampilan secara utuh (kritis, kreatif, komunikatif dan kolaboratif) berdasarkan hasil asesmen kebutuhan.

2. Menguasai, memilih instrumen, dan melaksanakan asesmen untuk kepentingan perancangan layanan bimbingan dan konseling dengan menguasai beberapa topik materi: Konsep Dasar Asesmen, Teknik Asesmen Tes dan mengusai Teknik Asesmen Non Tes.

Dalam rangka mencapai kompetensi guru bidang studi, maka dikembangkanlah indikator-indikator yang sesuai dengan tuntutan kompetensi guru bidang studi.

Indikator  pencapaian  komptensi  yang  akan  dicapai  dalam  pembelajaran 1. Teknik Asesmen Kebutuhan Peserta Didik adalah sebagai berikut.

1. Melakukan asesmen secara obyektif,

2. Melakukan asesmen secara relevan dan informatif bagi murid

Uraian Materi Teknik Asesmen Kebutuhan Peserta Didik - PPPK BK 1

Konsep Dasar Asesmen

a. Pengertian

Sebelum ke konsep inti, perlu kita ingat kembali apa yang dimaksud asesmen, kaitannya asesmen dengan pengukuran, evaluasi, maupun tes. Sebelum kita lebih jauh membahas tentang asesmen, marilah kita bedakan pengertian masing- masing istilah “pengkuran” “evaluasi”, “tes”, dan “asesmen”. Pengukuran (Measurement) menurut Stevens dalam Cadha (2009: 4) didefinisikan sebagai

proses pemberian /penempatan/ assigment angka untuk suatu objek atau peristiwa tertentu. Secara tradisional, pengukuran berhubungan dengan unit kuantitatif, seperti yang terkait dengan panjang (misalnya, meter, inci), waktu (misalnya, detik, menit), massa (misalnya, kilogram, pound), dan suhu (misalnya, Kelvin, Fahrenheit). Pengukuran dalam ilmu sosial berkaitan dengan penyediaan data yang memenuhi beberapa kriteria, dan dengan demikian tes diberikan untuk menilai sejauh mana kriteria terpenuhi.

Menurut Fink (1995:4), Evaluasi merupakan suatu penyelidikan/ investigasi karakteristik dan manfaat suatu program. Tujuannya adalah untuk memberikan informasi tentang efektivitas progam sehingga dapat mengoptimalkan hasil, efisiensi, dan kualitas. 

Hal ini mengandung arti bahwa evaluasi dilakukan untuk melihat keterlaksanaan dan ketercapain kegiatan/layanan yang telah dilaksanakan dalam upaya mengambil keputusan. Sebagai contoh Anda ingin mengetahui ketercapaian progam BK yang sudah Anda laksanakan, maka Anda dapat melakukan kegiatan evaluasi. 

Dengan demikian kegiatan dalam evaluasi meliputi pengukuran dan asesmen. Hays (2013: 5) merumuskan tes sebagai proses sistematis dan sering distandarisasi untuk pengambilan sampel dan menggambarkan suatu minat perilaku individu atau kelompok. 

Sejalan Hays, Furqon & Sunarya (2011: 203) merumuskan tes sebagai himpunan pertanyaan yang harus dijawab, atau pernyataan-pernyataan yang harus dipilih/ditanggapi, atau tugas-tugas yang harus dilakukan oleh orang yang di tes dengan tujuan untuk mengukur suatu aspek perilaku atau memperoleh informasi tentang atribut dari orang yang di tes.

Menurut Hays (2013: 4) “Asesmen is an umbrella term for the evaluation methods counselors use to better understand characteristics of people, places, and things”. Dari rumusan Hays dapat kita fahami bahwa asesmen adalah istilah umum metode evaluasi yang digunakan guru BK untuk lebih memahami karakteristik orang, tempat, dan hal-hal (objek). 

Pendapat lain tentang asesmen juga dirumuskan dalam the standart for educational and Psychological Testing (American Educational Research Association (AERA), APA, NCME (dalam Hays 2013: 4) assessment as “ any systematic method of obtaining information from tests and other sources such as standardized test, rating scale and observation, interview, classification tecnic dan record, used to draw inferences about caracteristics of people, object, or progam help counselors understand their client and situastiona in which client find themselves”. 

Pengertian ini mengandung makna asesmen merupakan metode yang sistematis untuk memperoleh informasi dari tes atau sumber lain seperti tes yang terstandar, skala penilaian, observasi, wawancara, teknik klasifikasi dan catatan catatan tentang konseli sehingga membantu guru BK dalam memahami konseli yang dilayani.

Berdasarkan pengertian di atas maka simpulan pengertian asesmen bila dikaitkan dengan bimbingan dan konseling adalah suatu metode sistematis yang dilakukan oleh guru BK untuk memahami karakteristik, lingkungan dan segala sesuatu yang berhubungan dengan konseli melalui berbagai teknik seperti tes dan non tes (observasi, skala penilaian, wawancara, catatan dan teknik non tes lain sehingga guru BK memperoleh informasi secara mendalam konseli yang dilayani.

b. Tujuan

Menurut Aiken (1997: 11), tujuan utama asesmen baik tes maupun non tes adalah untuk menilai tingkah laku, kecakapan mental, dan karakteristik kepribadian seseorang dalam rangka membantu mereka dalam membuat keputusan, peramalan, dan keputusan tentang seseorang. Asesmen memberikan manfaat dalam konseling karena dapat memberikan informasi bagi guru BK maupun konseli sehingga guru BK dapat memahami, memberikan tanggapan, membuat perencanaan serta melakukan evaluasi yang tepat.

c. Kedudukan Asesmen dalam Bimbingan dan Konseling

Gambar 2. Kerangka Kerja Utuh Bimbingan dan Konseling

Berdasarkan pada gambar kerangka kerja utuh bimbingan dan konseling, asesmen di atas, kedudukan asesmen dijadikan sebagai dasar dalam perancangan progam bimbingan yang sesuai kebutuhan. Kegiatan asesmen dalam layanan bimbingan dan konseling (Depdiknas, 2007: 220) meliputi dua area yaitu:

a. Asesmen lingkungan yang terkait dengan kegiatan mengidentifikasi harapan sekolah/madrasah dan masyarakat (orang tua peserta didik), sarana dan prasarana pendukung progam bimbingan, kondisi dan kualifikasi guru BK, dan kebijakan pimpinan sekolah/Madrasah

b. Asesmen kebutuhan dan masalah peserta didik yang menyangkut karakteristik peserta  didik,  seperti aspek-aspek fisik (kesehatan dan keberfungsiannya), kecerdasan, motif belajar, sikap dan kebiasaan belajar, minat-minat (pekerjaan, jurusan, olah raga, seni, dan keagamaan), masalah- masalah yang dialami dan kepribadian; atau tugas-tugas perkembangannya, sebagai landasan untuk memberikan pelayanan bimbingan dan konseling.

Data hasil asesmen yang memadai dapat menjadi dasar melakukan tindakan edukatif yang tepat  sehingga progam yang dibuat akan  berjalan sesuai dengan yang ditetapkan. Tanpa asesmen yang berkualitas tidak akan ada progam bimbingan dan konseling yang komprehensif, berkualitas, dan mampu mencapai tujuan layanan yang tuntas, baik dalam fungsi kuratif, apalagi fungsi pengembangan dan pencegahan. Jadi asesmen mutlak dilakukan dalam bimbingan dan konseling.

d. Teknik Tes

1) Pengertian

Menurut Gronlund & Linn (1990: 5) tes adalah “an Instrument or systematic procedure for measuring a sample behaviour”, hal ini dapat diartikan” sebuah alat atau prosedur sistematik untuk mengukur perilaku sampel”. Sejalan dengan itu, Cronbach (1984) menyatakan bahwa tes adalah “a systematic procedure for observing a person's behaviour and describing it with the aid of a numerical scale or a category system” atau prosedur sistematik untuk mendiskripsikan dan mengamati perilaku seseorang dan menggambarkannya dengan bantuan skala numerik atau sistem kategori. Tes ini tidak mengukur secara langsung, hanya pada sifat/karakteristik yang ada pada jawaban testee terhadap item tes. Senada dengan pemikiran Gronlund dan Cronbach, menurut Anastasi (2006: 4), “a test as an "objective" and "standardized" measure of a sample of behavior” (tes psikologi adalah alat ukur yang objektif dan dibakukan atas sampel perilaku tertentu).

Berdasarkan beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan pengertian tes adalah suatu alat atau metode pengumpulan data yang sudah distandardisasikan untuk mengukur/mengevaluasi salah satu aspek ability/kemampuan atau kecakapan dengan jalan mengukur sampel dari salah satu aspek tersebut. Dengan demikian tes merupakan alat pengumpul data untuk mengetahui kemampuan individu atau kelompok individu dalam menyelesaikan sesuatu atau memperlihatkan ketrampilan tertentu, dalam memperlihatkan hasil belajar, atau dalam menggunakan kemampuan psikologis untuk memecahkan suatu persoalan.

Menurut Cronbach (1984), terdapat dua klasifikasi tes yakni Test of Maximum Performance dan Test of Typical Performance. Test of Maximum Performance  adalah tes yang digunakan untuk mengukur seluruh kemampuan siswa dan seberapa baik dapat melakukannya. Dalam hal ini pertanyaan atau tugas yang diberikan harus jelas struktur dan tujuannya, serta arah jawaban yang dikehendakinya. Di sini ada jawaban betul dan salah, misalnya: tes intelegensi dan tes hasil belajar.

Selanjutnya, Test of Typical Performance, untuk menilai respon yang khas, yaitu apa yang orang paling sering lakukan atau rasakan dalam situasi tertentu berulang atau dalam kelas yang luas dari sebuah situasi. Dengan kata lain tes ini digunakan untuk mengukur seluruh kemampuan siswa dan seberapa baik dapat melakukannya. Kategori kedua ini merupakan teknik untuk memeriksa kepribadian, kebiasaan, minat, dan karakter. Typical behavior bukan menanyakan apa yang orang dapat lakukan, tetapi apa yang dia lakukan, rasakan atau apa yang dia yakini. Kategori yang kedua ini biasanya menggunakan teknik observasi maupun self-report yang tidak ada ketentuan jawaban benar dan salah, jawaban yang tepat adalah yang sesuai dengan keadaan diri pribadi peserta didik.

2) Kegunaan Tes Psikologi

Tes digunakan untuk berbagai tujuan yang dapat digolongkan dalam kategori yang lebih umum (Domino, 2006: 2). Banyak penulis mengidentifikasi empat kategori yakni: klasifikasi/ classification, pemahaman diri/ self-understanding, evaluasi program/ program evaluation, dan penelitian ilmiah/ scientific inquiry.

Klasifikasi melibatkan keputusan bahwa orang tertentu termasuk dalam kategori tertentu. misalnya, berdasarkan hasil tes kita dapat menetapkan diagnosis kepada pasien, tempat siswa di kursus bahasa inggris bukan saja menengah atau lanjutan, atau menyatakan bahwa seseorang telah memenuhi kualifikasi minimal untuk praktek kedokteran. Macam-macam klasifikasi antara lain: seleksi, sertifikasi, penyaringan, penempatan dan diagnosis (Cronbach, 1984: 21).

Pemahaman diri melibatkan menggunakan informasi tes sebagai sumber informasi mungkin sudah tersedia untuk individu, tetapi tidak dalam cara yang formal misalnya mengetahui tingkat inteligensi, potensi diri dan karakteristik kepribadian yang lainnya.

Evaluasi program pendidikan maupun progam sosial. Hasil pengumpulan data dapat dijadikan evaluasi. Selain itu, penggunaan tes untuk menilai efektivitas program tertentu atau tindakan baik pendidikan atau sosial sesuai dengan kebutuhan.

Diagnosis dan perencanaan perlakuan, fungsi tes untuk mencari penyebab gangguan perilaku dan menggologkan perilaku ke dalam sistem diagnostik. Dengan memperoleh sejumlah data tentang siswa, misalnya siswa yang bermasalah, maka guru BK dapat melakukan penelaah tentang: apa masalah yang dialami peserta didik? Dalam bidang apa masalah itu ada? Apa yang melatarbelakangi masalah itu? Alternatif apa yang diperkirakan cocok untuk membantu menyelesaikan masalahnya? Kepada siapa konseli harus di rujuk? (Furqon & Sunarya, 2011: 230).

Tes juga digunakan dalam penelitian ilmiah. Jika Anda melirik melalui jurnal profesional yang paling dalam ilmu-ilmu sosial dan perilaku, Anda akan menemukan bahwa sebagian besar studi menggunakan tes psikologis untuk operasional mendefinisikan variabel yang relevan dan untuk menerjemahkan hipotesis ke dalam laporan numerik yang dapat dinilai statistik. Dengan memanfaatkan hasil tes psikologi guru BK dapat mengetahui potensi yang dimiliki oleh peserta didik.

3) Jenis-jenis Tes Psikologi

Ada banyak jenis tes psikologi yang digunakan dalam bimbingan konseling, hanya saja tidak semua guru memiliki kewenangan dalam melancarkan tes dan mengadministrasikan jika tidak memiliki lisensi dari sertifikasi tes. Bagi guru BK penting mengetahui dan mengenal beberapa tes psikologi yang bisa dimanfaatkan untuk menghimpun data tentang

konseli  yang  nanti  bisa  digunakan  sesuai  dengan  kebutuhan  saat membantu konseling mengembangkan potensi yang dimiliki.

Berikut  tes  psikologi  yang  bisa  dimanfaatkan  oleh  bimbingan  dan konseling :

(a) Tes Intelegensi

Inteligensi adalah salah satu kemampuan mental, pikiran, atau intelektual manusia. Inteligensi merupakan merupakan bagian dari proses-proses kognitif pada urutan yang lebih tinggi (high cognition). Alfred Binet (1857) mendefinisikan inteligensi terdiri dari tiga komponen yaitu: a) kemampuan untuk mengarahkan pikiran atau mengarahkan tindakan, b) kemampuan untuk mengubah arah tindakan, dan c) kemampuan untuk mengkritik diri sendiri.

Secara umum inteligensi biasa disebut kecerdasan. Intelegensi bukan kemampuan tunggal dan seragam, tetapi komposit dari berbagai fungsi. Ketika pertama kali diperkenalkan, IQ merujuk pada jenis skor yakni: ratio usia  mental dengan usia  kronologis. Selanjutnya pengertian IQ diperluas yakni, IQ adalah ekspresi dari tingkat kemampuan individu pada saat teretentu, dalam hubungan dengan norma usia tertentu. Tes-tes intelegensi umum yang dirancang untuk digunakan anak-anak usia sekolah atau orang dewasa biasanya mengukur kemampuan-kemampuan verbal, untuk kadar lebih rendah, tes-tes ini juga mencakup kemampuan- kemampuan untuk berurusan dengan simbol numerik dan simbil- simbol abstrak lainnya. Ini adalah kemampuan-kemampuan yang dominan dalam proses belajar di sekolah. Kebanyakan tes intelegensi dapat di pandang sebagai ukuran kemampuan belajar atau intelegensi akademik. Tes- tes intelegensi seharusnya digunakan tidak untuk memberi label pada individu- individu, tetapi untuk membantu memahami mereka.

Jenis jenis tes intelegensi akan dijelaskan sebagaimana berikut: Tes SPM (The Standard Progressive Matrices).

Tes ini merupakan salah satu jenis tes inteligensi yang dapat diberikan baik itu secara individual atau kelompok. Tes ini dirancang oleh

J.C. Raven dan diterbitkan di London pada tahun 1960. Tes SPM merupakan tes yang bersifat non verbal. Hal itu tampak pada item- item soal yang bukan berupa tulisan atau bacaan melainkan gambar- gambar.

Tes SPM terdiri atas lima seri dan tiap seri terdiri atas dua belas item soal jadi total keseluruhan ada 60 butir soal. Butir-butir soal berbentuk suatu pola yang sebagian bentuknya dihilangkan sehingga dengan demikian tugas subjek tes adalah menyempurnakan pola tersebut dengan memilih satu dari enam kemungkinan jawaban yang tersedia. Tes yang bermaksud mengukur faktor “G” (general faktor) dari inteligensi manusia ini dikenakan kepada subjek berdasarkan rentangan umur 12-60 tahun. Sedangkan untuk anak- anak (5-11 tahun) dikenai tes CPM (The Colored Progressive Matrices). Tes CPM terdiri dari 36 item/gambar dikelompokkan menjadi 3 set yaitu set A, set AB dan set B.

Raven berpendapat bahwa tes CPM dimaksudkan untuk mengunkap aspek-aspek: (a) Berpikir logis, (b) Kecakapan pengamatan ruang, (c) kemampuan untuk mencari dan mengerti hubungan antara keseluruhan dan bagianbagian, jadi termasuk kemampuan analisa dan kemampuan integrasi dan (d) kemampuan berpikir secara analogi. Dalam perkembangan berikutnya, khusus bagi mereka yang memiliki kapasitas intelektualnya di atas rata-rata disediakan versi lain yaitu Tes APM (The Advanced Progressive Matrices).

Tes CFIT (The Culture Fair Intelligence Test)

Tes inteligensi umum ini dikembangkan oleh Cattel. Sesuai dengan namanya tes ini dikembangkan dengan menghindari unsur-unsur bahasa, dan isi yang berkaitan dengan budaya. Tes CFIT terdiri atas tiga skala yaitu: Skala 1 yang digunakan untuk mengukur inteligensi

anak yang berumur antar 4-8 tahun dan orang dewasa yang mengalami kecacatan mental.  Skala2 yang digunakan untuk mengukur inteligensi orang dewasa dengan kemampuan rerata dana anak yang berumur antara 8-13 tahun dan Skala 3 yang digunakan untuk mengukur inteligensi pada orang dewasa dengan kemampuan inteligensi yang tinggi dan untuk siswa SMA atau perguruan tinggi. Masing-masing skala tes CFIT terdiri atas dua bentuk (Bentuk A dan B) yang bertujuan untuk memudahkan penyajian dan mengurangi keletihan.

(1) s WISC dan WAIS

Tes ini dikembangkan oleh David Wechsler. Ada dua model tes yang dikembangkan yaitu tes WISC dan WAIS. Tes WISC adalah tes yang digunakan untuk mengukur inteligensi umum pada anak usia 6-16 tahun. Tes WISC terdiri atas 12 subtes yang dua diantaranya digunakan hanya sebagai persediaan apabila diperlukan penggantian subtes. Kedua belas subtes tersebut dikelompokkan menjadi dua golongan, yaitu tes verbal yang terdiri: informasi, pemahaman, hitungan, kesamaan, kosakata, rentang angka dan tes performansi yang terdiri atas: kelengkapan gambar, susunan gambar, rancangan balok,perakitan objek, sandi dan taman sesat. Tes WAIS yang dikenakan pada orang dewasa pada dasarnya sama dengan WISC yakni terdiri atas dua golongan tes yaitu tes verbal dan performansi. Hanya pada tes performansi pada tes WAIS tidak terdapat sub tes.

Dari hasil tes disusunnya, Wechsler kemudian menyusun distribusi

Intelligence Qoutient (I.Q) sebagai berikut: Distribusi IQ oleh Weschler

(a) Tes Bakat

Tes Bakat mucul dikarenakan adanya ketidakpuasaan pada tes intelegensi yang hanya memunculkan skor tunggal yang disebut IQ, karena hasil IQ belum dapat memberikan gambaran kemampuan individu di masa mendatang. Bakat dalam konteks tes bakat ini didefinisikan oleh Bennet et al (1982) sebagai: Suatu kondisi atau seperangkat karakteristik sebagaimana yang tampak dalam simptom kemampuan dasar yang bersifat individual dimana dengan melalui

latihan khusus akan  memungkinkan individu mencapai suatu kecakapan, keterampilan, atau seperangkat respon seperti kecakapan berbicara dalam bahasa, menciptakan musik dll. Tes bakat dimaksudkan untuk mengukur potensi seseorang mencapai aktifitas tertentu atau kemampuannya belajar mencapai aktivitas tersebut.

Tes bakat banyak digunakan para guru BK dan pengguna lain karena memiliki manfaat diantaranya : a) mengidentifikasikan kemampuan potensial yang tidak didasari individu, b) mendukung pengembangan kemampuan istimewa atau potensial individu tertentu,  c)  menyediakan  informasi  untuk  membantu  individu

membuat keputusan pendidikan dan karir atau pilihan lain diantara alternatif-alternatif yang ada, d) membantu memprediksi tingkat sukses akademis atau pekerjaan yang bisa di antisipasi individu, e) berguna mengelompokkan individu-individu dengan bakat serupa bagi tujuan perkembangan kepribadian dan pendidikan.

Dari sekian model tes bakat yang ada, salah satu yang dirancang dan digunakan dalam bimbingan dan konseling adalah tes DAT. Tes DAT (Differential Aptitude Test) ini merupakan tes bakat diferensial yang disusun oleh Bennet, Seashore dan Wesman pada tahun 1947. Tes ini berulang kali mengalai revisi dan standarisasi ulang. Subtes-subtes dam tes DAT dikembangkan berdasarkan suatu teori abilitas pengukuran bakat, dan terutama dikembangkan dengan lebih mengutamakan kegunaannya. Dengan demikian pendeskripsian bakat-bakat dalam DAT tidak bertolak dari konsep faktor- faktor murni, melainkan lebih menitikneratkan pada kemungkinan penggunaan daya ramal hasil tes bagi perkembangan dan karier individu. Perangkat Tes DAT meliputi delapan macam sub tes, namun karena pertimbangan budaya

indonesia hanya memakai tujuh macam subtes saja (Mugiharso, H & Sunawan, 2008: 54) yaitu:

a) Tes Berpikir Verbal yaitu tes yang disusun untuk melihat seberapa baik seseorang dapat mengerti ide-ide dan konsep- konsep yang dinyatakan dalam bentuk kata-kata. Juga untuk melihat seberapa mudah seseorang

dapat  berpikir  dan  memecahkan  masalah-masalah  yang dinyatakan dal bentuk kata-kata.

b) Tes  Berpikir  Numerik  yaitu  untuk  melihat  seberapa  baik

seseorang dapat mengerti ide-ide dan konsep-konsep yang dinyatakan dalam bentuk angka- angka. Juga untuk melihat seberapa mudah seseorang dapat berpikir dan memecahkan masalah-masalah yang dinyatakan dalam bentuk angka- angka.

c) Tes Kemampuan Skolastik, untuk mengukur seberapa baik seseorang kemampuan menyelesaikan tugas-tugas skolastik, mata pelajaran dan persiapan akademik.

d) Tes Berpikir Abstrak, untuk mengukur seberapa baik seseorang mengerti ide ide dan konsep yang tidak dinyatakan dalam bentuk angka-angka dan katakata. Juga dirancang untuk mengetahui seberapa baik atau seberapa mudah seseorang memecahkan masalah-masalah meskipun tidak berupa kata-kata atau angka-angka.

e) Tes Berpikir Mekanik, untuk mengukur seberapa mudah seseorang memahami prinsip-prinsip umum ilmu pengetahuan alamiah dalam kejadian  sehari-hari yang berhubungan dengan kehidupan kita. Juga seberapa baik kemampuan seseorang dalam mengerti tata kerja yang berlaku dalam perkakas sederhana, mesin dan peralatan lainnya.

f) Tes Relasi Ruang, untuk mengukur seberapa baik seseorang dapat menvisualisasi, mengamati, atau membentuk gambar- gambar mental dari obyek-obyek dengan jalan melihat pada rengrengan dua dimensi. Juga seberapa baik seseorang berpikir dalam tig dimensi.

g) Tes Kecepatan dan Ketelitian Klerikal, mengukur seberapa cepat dan teliti seseorang dapat menyelesaikan tugas tulis- menulis, pekerjaan pembukuan, atau ramu meramu yang diperlukan dalam pekerjaan di kantor, gudang, perusahaan dagang.

Dalam pengembangan tes DAT, ternyata kombinasi skor Tes Berpikir Verbal dan Kemampuan Numerikal dapat memprediksi kemampuan akademik, oleh karena itu gabungan kedua subtes ini disebut tes Bakat Skolastik. Hasil

tes bakat skolastik dapat dipakai untuk menyeleksi siswa program siswa cerdas dan berbakat (gifted). Seperti dikemukakan di atas skor tes DAT dapat memprediksikan keberhasilan akademik di sekolah menengah. Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa skor-skor pada subtes bakat skolastik, numerikal, relasi ruang, mekanik dan abstrak dapat memprediksi keberhasilan pada program ilmu pengetahuan alam. Sedangkan skor untuk subtes bakat skolastik dan verbal, berpikir abstrak dan kecepatan ketelitian klerikal dapat memprediksi keberhasilan pada progam Ilmu Pengetahuan Sosial. Sementara itu, skor tes bakat skolastik, verbal dan berpikir abstrak memprediksi keberhasilan siswa pada program Bahasa dan sastra.

(b) Tes Minat

Menurut Hurlock (1993), minat adalah sumber motivasi yang mendorong seseorang untuk melakukan apa yang ingin dilakukan ketika bebas memilih. Tiga bidang terapan hasil tes minat antara lain: 1) Konseling Karier 2) Konseling Pekerjaan, 3) Penjurusan Siswa. Hakikat dan kekuatan dari minat dan sikap seseorang merupakan aspek penting kepribadian. Karakteristik ini secara material mempengaruhi prestasi pendidikan dan pekerjaan, hubungan antar pribadi, kesenangan yang didapatkan seseorang dari aktifitas waktu luang, dan fase-fase utama lainnya dari kehidupan sehari-hari.

Studi tentang minat mendapatkan dorongan terkuat dari penafsiran pendidikan dan karir. Meskipun lebih sedikit kadarnya, pengembangan tes dalam area ini juga dirangsang oleh seleksi dan klasifikasi pekerjaan. 

Perkembangan populer tes minat, berkembang dari studi-studi yang mengindikasikan kalau individu di suatu pekerjaan dicirikan oleh kelompok minat umum yang membedakan mereka dari indivdidu di pekerjaan lainnya. 

Para peneliti juga mencatat perbedaan minat ini bergerak melampaui yang di asosiasikan dengan performa kerja dan yang individu di bidang kerja tertentu memiliki juga minat bukan pekerjaan yang berbeda yaitu aktifitas, hobi dan rekreasi. 

Karena itu, inventori minat bisa di  rancang untuk  menilai minat-minat  pribadi dan mengaitkan minat-minat tersebut dengan wilayah kerja yang lain. Tes minat yang banyak dipakai dalam bimbingan dan konseling pada umumnya adalah Tes minat jabatan. 

Tes minat jabatan disusun atas dasar konsep teoritik yang menyatakan bahwa minat adalah kesukaan atau ketidaksukaan terhadap sesuatu seperti obyek, pekerjaan, seseorang, tugas, gagasan, atau aktivitas. 

Inventori minat jabatan berupa butir-butir daftar pernyataan yang diberi bobot tertentu dan meminta individu untuk merespon secara jujur. Beberapa contoh tes minat adalah: Kuder Preference Record Vocational Test (Tes Kuder) dan Tes Minat Jabatan Lee- Thorpe.

Tes Kuder Preference Record Vocational Sesuai dengan namanya, tes ini berguna untuk menunjukkan preferensi pekerjaan pada diri individu. Tes yang dikembangkan oleh Kuder tersebut dalam pengadministrasiannya mengharuskan testi memilih satu dari dua pilihan pekerjaan dari butir pernyataan yang tersedia.

Jenis minat yang diungkap melalui tes Kuder meliputi:

a) Outdoor, yaitu berkenaan pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan di luar ruangan.

b) Mechanical, yaitu berkenaan dengan pekerjaan mekanis.

c) Computational, berkenaan dengan pekerjaan yang

d) menggunakan kemampuan menghitung.

Science, berkenaan dengan pekerjaan ilmiah. 

e) Persuasive, berkenaan dengan pekerjaan yang memerlukan kemampuan diplomasi atau persuasi.

f) Artistic, berkenaan dengan pekerjaan seni.

g) Literary, berkenaan dengan pekerjaan yang berhubungan dengan bahasa dan sastra.

h) Musical, berkenaan dengan pekerjaan yang berhubungan dengan musik.

i) Social service, berkenaan dengan pekerjaan yang berorientasi pada pemberian pelayanan kepada masyarakat.

j) Clerical, berkenaan dengan pekerjaan administratif.

Tes Minat Jabatan Lee-Thorpe merupakan seperangkat inventori minat terhadap jabatan ini dikembangkan oleh Lee dan Thorpe (1956). Inventori minat jabatan Lee-Thorpe dirancang untuk mengukur dan menganalisis minat jabatan individu. Demikian pula, alat ini merupakan alat pengukuran performansi jabatan dan bukan tes kemampuan atau ketrampilan jabatan. Tujuan utama tes ini adalah untuk membantu individu untuk menemukan minat jabatan dasar pada dirinya. Sehingga dengan demikian hasilnya dapat digunakan untuk membantu individu yang bersangkutan menjadi pekerja atau orang yang berminat, memiliki penyesuaian diri yang baik adan efektif.

Jenis bidang minat yang diukur oleh tes Minat Jabatan Lee- Thorpe meliputi:

a) Pribadi Sosial (personal-social), mencakup pekerjaan- pekerjaan yang menuntut hubungan pribadi dan bidang pelayanan.

b) Natural (natural), mencakup kegiatan-kegiatan yang dilakukan di alam terbuka dan yang memberi banyak kesempatan untuk bergaul dengan hewan dan tumbuh- tumbuhan.

c) Mekanik (mechanical), meliputi bidang kegiatan yang

mempersyaratkan pemahaman mekanika dan bidang permesinan.

d) Bisnis (business), meliputi berbagai kegiatan perniagaan dalam arti yang luas.

e) Seni (the art), mencakup bidang kesenian seperti: musik, sastra dan jenis kesenian lainnya.

f) Sains (the science), bidang yang berkaitan dengan pemahaman dan manipulasi lingkungan fisik dalam kehidupan kita.

Sedangkan tipe minat yang dapat diungkap melaui tes ini adalah (1) Tipe minat Verbal, yaitu tipe minat yang ditandai oleh penekanan pada penggunaan kata-kata dari suatu dunia kerja baik lisan maupun tertulis baik untuk tujuan pelayanan maupun persuasif. (b) Tipe minat Manipulatif, yaitu apabila pekerjaan itu menuntut syarat penggunaan tangan di mana individu mengalami kepuasan bekerja dengan benda atau obyek-obyek. (c) Tipe minat Komputasional, yang menggabungkan antara penggunaan kata dan benda yang berisi item-item yang berhubungan dengan simbol atau konsep angka.

Tes minat ini juga dapat digunakan untuk mengungkap tingkat minat yang terdiri atas: 

(a) tugas rutin atau tingkat pekerjaan rutin,

(b) tugas yang mempersyaratkan keterampilan atau disebut tingkat menengah, dan 

(c) tugas yang, mempersyaratkan pengetahuan, keterampilan dan pertimbangan keahlian (tingkat profesional).

(c) Tes Kepribadian

Tes kepribadian sering dibatasi sebagai tes yang bermaksud mengukur dan menilai aspek-aspek kognitif, artinya aspek-aspek yang bukan abilitas dan kepribadian manusia. Aspek non kognitif, sesuai analisis faktor, banyak jumlahnya. Akan tetapi pada umumnya hanya dibatasi pada aspek pokok yaitu: motivasi, emosi, dan hubungan sosial. Ada dua macam teknik dalam tes kepribadian yaitu teknik proyektif dan teknik self reppory inventory.

Dalam pelayanan bimbingan dan konseling, tes kepribadian jenis inventorilah yang sering dipakai, sedangkan tes proyektif tidak digunakan krena sudah memasuki kawasan psikologi klinis. Asumsi yang dipakai dalam tes kepribadian dengan teknik inventory adalah: (1) bahwa individu adalah orang yang paling tahu tentang keadaan dirinya masing-masing, (2) individu mempunyai kemampuan dan kesadaran untuk menyatakan keadaan dan penghayatannya menurut apa adanya. Salah satu contoh tes kepribadian adalah Tes EPPS (Edwards Personal Preference Schedule). Tes EPPS diciptakan oleh Edwards (1953) dengan maksud terutama untuk melihat kecenderungan kebutuhan-kebutuhan khusus (needs) individu. Tes ini disusun atas daftar kebutuhan pokok manusia yang disusun loeh Henry Murray dan kawan- kawannya.

(d) Pengkomunikasian Informasi Hasil Tes dalam Konseling

Agar pengkomunikasian hasil tes dalam konseling berlangsung efektif ada beberapa rekomendasi oleh Tenesse State testing and Guidance (dalam Amti& Gabriel, A.1983) sebagai beriku

a) Hendaknya konseli ditempatkan sedemikian rupa agar mereka berada dalam suasana yang tenang dan tentram.

b) Guru BK hendaknya berupaya merasakan apa yang sesungguhnya diharapkan oleh konseli melalui konseling itu dan apa yang diharapkannya melalui pengetesan tersebut.

c) Perlunya menghubung-hubungkan hasil tes dengan segala sesuatu yang dikemukakan oleh konseli.

d) Pentingnya memulai pembicaraan dengan hal-hal yang menarik perhatian konseli, misal skor yang tinggi.

e) Guru BK hendaknya membantu konseli mengenali hubungan antara hasil tes dengan pendidikan yang telah dilalui dan pengalaman dalam mata pelajaran, hobi, kegiatan waktu senggang, perhatian keluarga dan sebagainya.

f) Guru BK hendaknya memberi waktu dan kesempatan bagi konseli untuk mengemukakan sikap-sikapnya tentang hasil tes yang diperolehnya.

g) Guru BK perlu memberikan informasi secara perlahan-lahan, tidak semuanya sekaligus.

h) Guru BK perlu memberikan kesempatan bagi konseli untuk menyatakan apa makna hasil tes bagi dirinya dan mengajukan pertanyaan berkenaan dengan tes.

i) Guru BK memperhatikan hubungan hasil tes dengan keberhasilan dan kegagalan dalam belajar.

j) Guru BK hendaknya membantu konseli untuk menghadapi kenyataan berkenaan dengan kekuatan dan kelemahannnya serta membantu konseli agarmemahami bahwa melakukan perbuatan yang melawan kenyataan akan merugikan.

k) Guru BK hendaknya mendiskusikan tentang kedudukan konseli di dalam kelompok.

l) Guru BK perlu membantu konseli menafsirkan angka-angka (sekor) yang diperolehnya melalui tes, misalnya bila berhubungan dengan intelegensi, skor tinggi dapat ditafsirkan dengan: “dapat mengerjakan tugas-tugas

dengan baik” atau “sangat memerlukan tugas-tugas tambahan”, sekor rata- rata atau sedang dapat ditafsirkan dengan: “dapat mengerjakan tugas-tugas yang diberikan tetapi dalam beberapa hal memerlukan kerja keras”. Sedang sekor yang rendah dapat ditafsirkan: “mengalami kesukaran dalam melaksanakan pekerjaan yang bersikap

a) Guru BK perlu menjelaskan keterbatasan tes yang diambil oleh konseli.

b) Guru BK perlu memberikan penjelasan yang masuk akal tentang faktor- faktor yang kemungkinan mempengaruhi hasil tes.

c) Guru BK hendaknya membantu konseli untuk memahami bahwa hasil tes hanyalah sebagian dari pengungkapan tentang kemampuan-kemampuan dan latar belakang yang dimilikinya.

d) Guru BK perlu membantu konseli memahami pengertian dan pentingnya norma-norma kelompok.

e) Perlunya guru BK membicarakan semua tes dalam bahasa yang mudah dipahami oleh konseli.

Dari panduan di atas dapat disimpulkan bahwa penyampaian informasi tes melalui konseling membutuhkan kompetensi profesional yang ditandai dengan sertifikat sebagai tester yang didapat dari mengikuti progam pelatihan sertifikasi tes, minimal progam yang diselenggarakan oleh ABKIN bekerjasama dengan Universitas Negeri Malang. Setelah Bapak, Ibu mempelajari teknik tes, harapannya Bapak/Ibu mampu memilih secara bijak jenis tes yang dibutuhkan dalam layanan bimbingan dan konseling,

perlu penulis informasikan kembali bahwa tidak semua alat tes tersebut di atas diadministrasikan sendiri oleh guru BK karena keterbatasan kemampuan dan kewenangan yang dimiliki, guru BK yang belum memiliki kemampuan dan kewenangan dalam melancarkan dan mengadministrasikan tes dapat bekerja sama dengan lembaga penyelenggara tes baik biro psikologi atau lembaga terpercaya yang sudah memiliki sertifikasi dan lisensi tes dari organisasi profesi. 

Ketika mengetahui bahwa hasil tes itu penting bagi peserta didik untuk mengetahui potensi siswa, besar harapan guru BK mampu menginformasikan kepada kepala sekolah agar sekolah memfasilitasi penyelenggarakan tes psikologis bagi peserta didik.

e. Teknik Non Tes

1) Observasi

a) Pengertian

Apakah Anda memahami bahwa observasi penting dilakukan sebelum memberikan layanan bimbingan kepada siswa? Ketika jawaban Anda adalah “iya” mengapa kegiatan observasi begitu penting? Sebelum Anda menjawab pertanyaan, marilah kita telaah bersama tentang observasi. 

Observasi dalam arti sempit mengandung arti pengamatan secara langsing terhadap gejala yang diteliti. Sedangkan dalam arti luas observasi mengandung arti pengamatan baik secara langsung maupun tidak langsung terhadap objek yang diteliti. Istilah “ pengamatan” dari aspek psikologi tidak sama tidak sama dengan melihat, hal itu karena melihat hanya dengan menggunakan penglihatan (mata); sedang dalam istilah “pengamatan” mengandung makna bahwa dalam melakukan pemahaman terhadap subyek yang diamati dilakukan dengan menggunakan pancaindra yaitu dengan penglihatan, pendengaran, penciuman, bahkan bila dipandang perlu  dengan penggunakan pencecap dan peraba.

Kegiatan observasi dilakukan dengan menggunakan pancaindra karena tidak   semua   gejala   yang   diamati bisa   dikenali   hanya   dengan penglihatan, untuk meyakinkan hasil penglihatan kadang perlu dikuatkan dengan data dari penciuman, pendengaran, pencecap dan peraba, misalnya untuk meyakinkan seorang guru BK bahwa murid yang sedang dilayaninya baru saja merokok, atau tidak, guru BK bisa melihat pada perubahan wajahnya dan atau sekaligus mencium bau rokok yang keluar dari mulut siswa. Bahkan ketika observasi digunakan sebagai alat pengumpul data penelitian kualitatif, maka pengamatan yang dilakukan guru BK bukan hanya sebatas gejala yang nampak saja, tetapi harus mampu menembus latar belakang mengapa gejala itu terjadi.

Di samping proses pengamatan, dalam melakukan observasi harus dilakukan dengan penuh perhatian (attention) tidak hanya melibatkan proses fisik tetapi juga proses psikis. Hal ini bisa dijelaskan bahwa ketika guru BK melakukan observasi, bukan hanya kegiatan melihat, mendengar, mencium saja yang berjalan; tetapi lebih dari itu adalah melihat, mendengar, dan mencium yang disertai dengan pemusatan perhatian, aktivitas, dan kesadaran terhadap obyek atau gejala-gejala tertentu yang sedang diobservasi.

Menurut Djumhana, A (1983: 202) bahwa observasi juga harus dilakukan secara sistematis dan bertujuan, artinya dalam melakukan observasi, observer tidak bisa melakukan hanya secara tiba-tba dan tanpa perencanaan yang jelas, harus jelas apa tujuannya, bagaimana karakteristiknya, gejala-gejala apa saja yang perlu diamati, model pencatatannya, analisisnya, dan pelaporan hasilnya. 

Selain itu, Gall dkk (2003: 254) memandang observasi sebagai salah satu metode pengumpulan data dengan cara mengamati perilaku dan lingkungan (sosial dan atau material) individu yang sedang diamati. Observasi dilakukan untuk memperoleh fakta fakta tentang tingkah laku siswa baik dalam mengerjakan suatu tugas, proses belajar, berinteraksi dengan orang lain, maupun karakteristik khusus yang tampak dalam mengahadapi situasi atau masalah (Furqon & Sunarya, 2011: 2012).

Berdasarkan pada pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa observasi adalah kegiatan mengenali observee dengan menggunakan pancaindra yang dilakukan secara sistematis dan bertujuan sehingga diperoleh fakta tentang tingkahlaku siswa misalnya saat mengerjakan tugas, proses belajar, berinteraksi dengan orang lain maupun karakteristik khusus yang tampak dalam menghadapi situasi atau masalah. 

Dengan melakukan observasi secara baik memungkinkan guru BK bisa memahami siswa yang akan dibimbing, dididik dan dilayaninya dengan sebaik- baiknya dan pada akhirnya diharapkan bisa memberikan pelayan secara tepat. 

Hasil observasi dapat digunakan sebagai tolok ukur menyusun program bimbingan dan konseling komprehensif yang biasa disebut dengan need assessment.

b) Bentuk-bentuk Observasi

Ada beberapa bentuk observasi yang biasa dilakukan oleh guru BK dan atau peneliti, yaitu : Dilihat dari keterlibatan subyek terhadap obyek yang sedang diobservasi (observee), observasi bise dibedakan menjadi tiga bentuk, yaitu :

(1) Observasi partisipan, yaitu observer turut serta atau berpartisipasi dalam kegiatan yang sedang dilakukan oleh observee. Kelebihan observasi partisipan yaitu observee bisa jadi tidak mengetahui bahwa mereka sedang diobservasi, sehingga perilaku yang nampak diharapkan wajar atau tidak dibuat-buat. 

Di sisi lain, kelemahan dari observasi partisipan berkaitan dengan kecermatan dalam melakukan pengamatan dan pencatatan, sebab ketika observer terlibat langsung dalam aktifitas yang sedang dilakukan observee, sangat mungkin observer tidak bisa melakukan pengamatan dan pencatatan secara detail. 

(2) Observasi non-partisipan, yaitu observer tidak terlibat secara langsung atau tidak berpartisipasi dalam aktivitas yang sedang dilakukan oleh observee. 

Kelebihannya yaitu observer bisa melakukan pengamatan dan pencatatan secara detail dan cermat terhadap segala akitivitas yang dilakukan observee. 

Selain itu, kelemahan yaitu bila observee mengetahui bahwa mereka sedang diobservasi, maka perilkunya biasanya dibuat-buat atau tidak wajar. Akibatnya obsever tidak mendapatkan data yang asli. 

(3) Observasi kuasi- partisipan, yaitu observer terlibat pada sebagian kegiatan yang sedang dilakukan oleh observee, sementara pada sebagian kegiatan yang lain observer tidak melibatkan diri dalam kegiatan observee. 

Bentuk ini merupakan jalan tengah untuk mengatasi kelemahan kedua bentuk observasi di atas dan sekaligus memanfaatkan kelebihan dari kedua bentuk tersebut. Menurut penulis, persoalan utama tetap terletak pada tahu atau tidaknya observee bahwa mereka sedang diamati, jika mereka mengetahui bahwa mereka sedang diamati, maka sangat mungkin perilaku yang muncul masih ada kemungkinan tidak wajar.

Dilihat dari segi situasi lingkungan di mana subyek diobservasi, Gall dkk (2003 : 254) membedakan observasi menjadi dua, yaitu: 

(a) Observasi naturalistik (naturalistic observation) yaitu observasi itu dilakukan secara alamiah atau dalam kondisi apa adanya. Misalnya seorang peneliti mengamati perilaku binatang di hutan atau kebun binatang. 

(b) Observasi eksperimental (experimental observation) jika observasi itu dilakukan terhadap subyek dalam suasana eksperimen atau kondisi yang diciptakan sebelumnya. Misalnya, guru BK melakukan pengamatan terhadap dampak intervensi yang diberikan teknik Disentisisasi sistematis terhadap siswa yang fobia.

Bendasarkan pada tujuan dan lapangannya, Hanna Djumhana (1983: 205) mengelompokkan observasi menjadi berikut  : 

 (a)  Finding observation yaitu kegiatan observasi dengan tujuan penjajagan. Dalam melakukan observasi ini observer belum mengetahui dengan jelas apa yang harus diobservasi, observer hanya mengetahui bahwa dia akan menghadapi suatu situasi saja. Selama berhadapan dengan situasi observer bersikap menjajagi saja, kemudian mengamati berbagai variabel yang mungkin dapat dijadikan bahan untuk menyusun observasi yang lebih terstruktur. 

(b) Direct observation yaitu observasi dengan menggunakan “daftar isian” sebagai pedomannya. Daftar ini dapat berupa checklist kategori tingkah laku yang diobservasi. Pada umumnya  pembuatan  daftar  isian  ini  didasarkan  pada  data  yang diperoleh dari finding observation dan atau penjabaran dari konsep dalam teori yang dipandang sudah mapan.

Dalam situasi konseling, kedua bentuk observasi ini dapat diterapkan. Finding observation diterapkan bila guru BK merasa tidak perlu menggunakan berbagai daftar isian serta ingin mendapatkan kesan mengenai tingkah laku konseli yang spontan atau apa adanya. 

Oleh sebab itu guru BK seyogianya benar- benar kompeten dalam masalah ini. Sedangkan direct observation, guru BK menyediakan sebuah daftar berupa penggolongan tingkah laku atau rating. Selama konseling berlangsung atau segera setelah konseling berakhir, guru BK mengisi daftar tersebut dengan

cara memberi tanda pada penggolongan tingkah laku yang sesuai dengan tingkah laku konseli selama proses konseling. Cara ini lebih mudah dibanding cara finding observation, tetapi kelemahannya adalah sering terjadi tingkah laku yang lain dari pada yang digolongkan pada daftarnya, sehingga ada kecenderungan untuk menggolongkannya secara paksa atau mengabaikannya.

c) Kelebihan dan Kelemahan Observasi

(1) Kelebihan

• Memberikan tambahan informasi yang mungkin tidak didapat dari teknik lain

• Dapat menjaring tingkah laku nyata bila observasi tidak diketahui

• Observasi tidak tergantung pada kemauan objek yang diobservasi untuk melaporkan atau menceritakan pengalamanya.

(2) Kelemahan

• Keterbatasan manusia menyimpan hasil pengamatan

• Cara pandang individu terhadap obyek yang sama belum tentu sama antar individu yang satu dengan yang lain

• Ada kecenderungan pada manusia dalam menilai sesuatu hanya berdasarkan pada ciri-ciri yang menonjol.

(3) Alat Bantu Observasi

Dalam melakukan kegiatan observasi, Ada beberapa alat bantu yang dapat dimanfaatkan oleh observer dalam menggunakan metode observasi, yaitu (a) anecdotal record atau daftar riwayat kelakuan, (b) catatan berkala,

(b) Checklist atau daftar cek, (d) skala penilaian, dan (e) alat-alat mekanik/ elektrik (seperti: tape recorder, handphone, handycam, camera CCTV).

(c) Daftar Cek Masalah

Daftar cek masalah adalah daftar yang berisi sejumlah kemungkinan masalah yang pernah atau sedang dihadapi oleh individu atau sekelompok individu. Daftar cek yang digunakan untuk mengungkapkan masalah lazim dikenal dengan sebutan ”Daftar Cak Masalah” (DCM). Daftar cek masalah berfungsi untuk

(a) membantu individu menyatakan masalah yang pernah dan atau sedang dihadapi, (b) mensisitemtisasi masalah yang dihadapi individu atau kelompok, dan (c) memudahkan analisis dan pengambilan keputusan dalam penyusunan program bimbingan lantaran jelas mana masalah yang menonjol dan perlu mendapat preoritas, (d) memberi kemudahan bagi guru BK dalam menetapkan individu-individu yang perlu mendapat perhatian khusus.

(d) Wawancara

a.  Pengertian

Interview dipandang sebagai teknik pengumpulan data dengan cara tanya- jawab lisan yang dilakukan secara sistematis guna mencapai tujuan penelitian. Pada umumnya interview dilakukan oleh dua orang atau lebih, satu

pihak sebagai pencari data (interviewer) pihak yang lain sebagai sumber data (interviewee) dengan memanfaatkan saluran- saluran komunikasi secara wajar dan lancar.

Sebagai pemburu informasi, interviewer mengajukan pertanyaan- pertanyaan, menilai jawaban-jawaban, meminta penjelasan, melakukan paraprase, mencatat atau mengingat-ingat jawaban, dan melakukan penggalian keterangan lebih dalam jawaban- jawaban dari interviewee. 

Di sisi lain, sebagai informan atau sumber data, interviewee menjawab pertanyaan- pertanyan, memberikan penjelasan-penjelasan, dan kadang-kadang juga membalas mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada interviewer. 

Adanya dua pihak yang kedudukannya tidak sama itu menjadi pembeda antara metode interview dengan diskusi. Hubungan antara interviewer dengan interviewee adalah hubungan sepihak, bukan hubungan yang timbal balik.

Gall dkk. (2003: 222) membandingkan interviewew dengan kuesioner, interview berisi pertanyaan-pertanyaan lisan yang ditanyakan oleh interviwer dan dijawab oleh interviwi, sedang kuesioner dalam bentuk tertulis; intervieu berhubungan dengan manusia secara individual, namun demikian dalam perkembangannya juga bisa dilakukan untuk kelompok, sedang pada kuesioner untuk responden dalam jumlah banyak; responden dalam interview menjawab dalam bahasa mereka sendiri, sedang dalam kuesioner jawaban responden kadang sudah disiapkan oleh peneliti; interview bisa dimanfaatkan untuk menggali tentang keyakinan, sikap, dan pengalaman interviwi secara mendalam, sedang kuesioner hanya bersifat kulit luar.

d) Fungsi

Meskipun metode ini dipandang kurang tepat untuk meneliti reaksi- reaksi seseorang dalam bentuk perbuatan, namun dipandang tepat untuk meneliti aksi-rekasi orang dalam bentuk pembicaraan ketika tanya-jawab sedang berlangsung. 

Sutrisno Hadi (2004, II) memandang interview sebagai metode yang baik untuk mengetahui tanggapan, pendapat, keyakinan, perasaan, motivasi, dan proyeksi seseorang tentang masa depannya. Metode ini dipandang baik untuk menggali masa lalu seseorang serta rahasia-rahasia kehidupannya. 

Interview dipandang sebagai metode tanya-jawab untuk menyelidiki pengalaman, perasaan, motif, serta motivasi rakyat. Bagi interviewer yang mahir, interview bisa dimanfaatkan sekaligus untuk mengecek kebenaran jawaban-jawaban yang diberikan oleh interviewee.

Interview bisa difungsikan sebagai metode primer, metode pelengkap, dan sebagai kriterium. Bila interview dijadikan sebagai satu-satu alat pengumpul data, atau sebagai metode utama dalam pengumpulan data, maka metode ini berfungsi sebagai metode primer. 

Sebaliknya jika ia difungsikan sebagai alat untuk mengumpulkan data yang tidak bisa dilakukan dengan metode lain, maka posisinya pada kasus ini adalah  sebagai metode pelengkap. 

Namun demikian, pada saat-saat tertentu, metode interview juga digunakan untuk menguji kebenaran dan kemantapan data yang telah diperoleh dengan cara lain seperti metode tes, kuesioner, dan sebagainya, dalam kasus seperti ini metode interview difungsikan sebagai batu-pengukur atau kriterium.

Jika metode ini  digunakan sebagai  kriterium, maka interview harus dilakukan dengan penuh ketelitian, tidak tergesa-gesa, dan dengan persiapan yang matang. 

Sebab pengecekan kebenaran dan kemantapan suatu datum bukanlah sekedar untuk memenuhi persyaratan formal metodologis, melainkan mendasarkan pada prinsip hakiki dari suatu penelitian ilmiah yang dimaksudkan untuk menghasilkan temuan ilmiah. 

Namun demikian tidak berarti bahwa fungsi yang satu lebih tinggi dari fungsi yang lain, sebagai metode primer ia mengemban tugas yang amat penting, sebagai metode pelengkap ia menjadi sumber informasi yang sangat berharga. Bertolak dari tiga fungsi ini, maka metode interview dipandang sebagai metode yang serba guna.

e) Kelebihan dan Kekurangan

Hadi (2004) dan Gall (2003: 222-23) mencatat beberapa kelebihan dan kekurangan interview --sebagai metode pengumpul data – disarikan berikut:

Kelebihan interview

➢ Sebagai  salah  satu  metode  yang  terbaik  untuk  menilai keadaan pribadi. Bila dibandingkan dengan metode observasi, metode ini lebih mampu mengungkap gejala- gejala psikis yang mendasari perilaku individu yang nampak seperti motiv-motiv, perasaan, pemahaman, persepsi, dan proyeksi seseorang tentang masa depannya.

➢ Tidak dibatasi oleh tingkatan umur dan tingkatan pendidikan subyek  yang  sedang  diselidiki.  Terhadap  individu  usia berapapun, asal ia mampu berbicara dan mampu memahami pertanyaan yang diajukan interviewee, maka intervieu bisa dilakukan. Namun demikian dalam kedaan tertentu (misal : interviewee katakutan karena berhadapan dengan orang asing, atau tidak memahami bahasa yang digunakan interviewer, maka bisa dimanfaatkan pendamping yang bisa membantu menciptakan rasa aman bagi interviewee dan sekaligus penterjemah.

➢ Dalam riset-riset sosial, metode ini hampir tidak bisa ditinggalkan sebagai metode pelengkap, bahkan dalam beberapa kasus difungsikan sebagai metode utama (primer). Hal ini adalah sangat wajar, mengingat dalam penelitian sosial lazim mengungkap masalah-masalah yang berhubungan dengan tanggapan, pendapat, keyakinan, perasaan, motivasi, dan proyeksi seseorang tentang masa depannya. Sedang yang lebih mengetahui tentang hal tanggapan, pendapat, keyakinan, perasaan, motivasi, dan proyeksi seseorang seseorang adalah orang itu sendiri.

➢ Dengan unsur fleksibelitas/keluwesan yang dikandungnya, ia cocok sekali untuk digunakan sebagai alat verivikasi (kriterium)  terhadap  data  yang  diperoleh  dengan  cara observasi, kuesioner dan lain-lain. Metode ini bisa digunakan kepada interviewee yang masih buta huruf, dewasa, dan atau kanak-kanak. Di samping itu, metode ini bisa  digunakan sekaligus untuk mengecek kebenaran jawaban interviewee dengan mengajukan pertanyaan lebih jauh, mengamati bahasa tubuh dan atau realitas yang ada pada subyek yang diinterview. Misal : seorang interviewee dengan pakaian bersih dan rapi, ketika ditanya mengaku sebagai Guru BK sebuah perguruan tinggi terkenal di suatu pripinsi, tetapi ketika ditanya fakultas, jurusan, dan angkatan tahun berapa dia tidak bisa menjawab. Belakangan diketahui ternyata ia seorang karyawan pabrik yang sedang di-PHK, sementara sedang mencari pekerjaan.

➢ Dapat diselengarakan sambil mengadakan observasi. Tidak semua data bisa digali dengan metode observasi, misalnya seorang guru BK melakukan observasi di depan pintu gerbang untuk mengetahui siapa-siapa di antara siswa yang rajin dan siapa pula sering terlambat sekolah. Sekedar untuk mengetahui siapa-siapa yang rajin dan terlambat datang ke sekolah bisa dilakukan dengan cara observasi, tetapi ketika ingin mengetahui mengapa ia terlambat atau mengapa pula ada siswa yang rajin, maka perlu digali dengan metode observasi.

Kekurangan Interview

➢ Tidak   cukup   efisien,   karena   penggunaan   metode   ini

membutuhkan waktu, tenaga, dan biaya yang lebih banyak. Untuk mengatasi kelemahan ini bisa dilakukan penambahan jumlah interviewer yang terlatih, dan pedoman observasi yang mudah digunakan.

➢ Tergantung pada kesediaan, kemampuan, dan waktu yang tepat dari interviwi, sehingga informasi tidak dapat diperoleh

dengan seteliti-telitinya. Untuk mengatasi kelemahan ini, maka diseyogiakan sebelum melakukan interview kepada pihak tertentu dilakukan kesepakatan terlebih dahulu tentang materi interview, tempat dan waktu. Dengan demikian diharapkan kedatangan interviewer bisa disambut dengan baik lantaran sudah ada kesepakatan sebelumnya.

➢ Jalan dan isi wawancara sangat mudah dipengaruhi oleh keadaan-keadaan sekitar yang memberikan tekanan-tekanan yang mengganggu. Untuk mengatasi masalah ini, guru BK atau peneliti bisa memeberi tahukan sebelumnya tentang maksud dan tujuan interview, dan menjelaskan pula arti pentingnya informasi yang disampaikan oleh interviewer.

➢ Membutuhkan interviewer yang benar-benar menguasai bahasa interviewee. Bagi orang-orang yang masih ”asing” amat sulit menggunakan interview sebagai metode penelitian. Untuk mengatasi masalah ini, maka dalam penambahan anggota peneliti seyogianya memperhatikan penguasaan  bahasa  dan  budaya  masyarakat  di  mana interviewee hidup dan dibesarkan.

➢ Jika pendekatan ”sahabat-karib” dilaksanakan untuk meneliti masyarakat yang sangat hetrogen, maka diperlukan interviewer yang cukup banyak. Misalnya jika masyarakat yang   diteliti   dari   bebeberapa   kelompok   yang   saling bertentangan, maka diperlukan interviewer yang masing- masing melayani satu golongan. Untuk mengatasi masalah ini, diseyogiakan interviewer lebih adaptable terhadap hal-hal yang bersifat khas pada interviewer, kemudian berupaya sekuat tenaga untuk menghormatinya.

➢ Sulit untuk menciptakan situasi yang terstandar sehingga kehadiran interviwer tidak mempengaruhi responden dalam memberikan jawaban. Di sisi lain, dalam interview sulit dihindari responden tidak mencantumkan jati dirinya, atau responden harus mencantumkan identitasnya untuk kepentingan analisis dan laporan hasil interview. Untuk mengatasi kelemahan ini, diseyogiakan agar interviewer menciptakan hubugan baik sebelumnya agar interviwi merasa aman, dan jika dipandang mengganggu sebaiknya identitas responden dalam laporan diubah dengan nama samaran, meski identitas aslinya tetap harus disimpan oleh interviewer.

f) Dokumentasi

Pengertian dokumentasi menurut KBBI adalah pengumpulan, pemilihan, pengolahan, dan penyimpanan informasi di bidang pengetahuan; pemberian atau pengumpulan bukti dan keterangan seperti gambar, kutipan, kliping dan bahan referensi lainya.

Dokumentasi dalam bimbingan dan konseling adalah proses pengumpulan, pemilihan, pengolahan dan penyimpanan dokumen-dokumen   yang   ada   atau   catatan-catatan   yang

tersimpan baik misalnya berupa catatan transkip nilai atau rapor, daftar riwayat hidup, riwayat pendidikan, kartu pribadi siswa, rekaman konseling, keadaan ekonomi keluarga siswa, riwayat keluarga siswa, dan lain sebagainya.

Fungsi dari dokumentasi adalah untuk memberikan informasi terkait isi dokumen bagi pihak-pihak yang memerlukan; sebagai penjamin keutuhan dan keotentikan informasi yang dimuat dalam dokumen, menjaga agar dokumen tidak rusak, sebagai alat bukti dan data mengenai keterangan dokumen. Tujuan dokumentasi adalah mempermudah pencarian data siswa, sebagai alat pendukung untuk memahamai masalah pada siswa yang diteliti, dapat membantu menemukan solusi masalah siswa yang diteliti dan bukti nyata dalam proses penelitian untuk membandingkan data yang diperoleh dari metode pengumpulan data lain.

Data tentang siswa yang dikumpulkan harus dihimpun dengan secara sistematis, diklasifikasikan jenisnya kemudian disimpan menurut sistem tertentu. Untuk memenuhi maksud ini diperlukan buku data pribadi siswa/cumulatif record. Semua data tentang murid dimasukkan kedalam buku data pribadi siswa

/cumulatif record. Buku Data Pribadi Siswa/Cumulatif Record dapat bermanfaat bagi pengajaran maupun bagi kepentingan layanan bimbingan dan konseling. Manfaat dan kegunaan Buku Data Pribadi Siswa

/Cumulatif Record meliputi: (1) upaya mendapatkaan informasi tentang pengalaman masa lalu siswa sebagai individu; (2) upaya menyediakan informasi untuk kegiatan kelompok; (3) penyusunan rencana pelajaran dan pengalaman bimbingan yang diperlukan; (4) penilaian tentang perkembangan siswa; (5) penilaian tentang rencana pekerjaan; (5) penyelenggaraan prosedur administrasi; (6) pencatatan pengalaman siswa saat ini;  (7)  pengelompokan  siswa  kedalam  kelas,  kelompok, kegiatan, dalam layanan penempatan.

g) Sosiometri

Berbeda dengan angket dan skala psikologi, metode sosiometri yang dikemukakan Moreno ini bertujuan untuk meneliti hubungan antara anggota kelompok dengan anggota lainnya dalam suatu kelompok. Dengan kata lain, sosiometri banyak digunakan untuk mengumpulkan data tentang dinamika kelompok. Sosiometri juga dapat digunakan untuk mengetahui popularitas seseorang dalam kelompoknya, menyelidiki kesukaan seseorang terhadap teman sekelompoknya, baik dalam pekerjaan, sekolah maupun teman bermain, menyelidiki ketidaksukaan  terhadap teman sekelompoknya.

Manfaat Penggunaan hasil sosiometri memberikan manfaat buat guru BK. Menurut Komalasari (2016: 98) yaitu (1) Memperbaiki struktur hubungan sosial kelompok, (2) Memperbaiki penyesuaian sosial individu, (3) Menemukan norma pergaulan antara peserta didik yang diinginkan dalam kelompok.

Kelebihan sosiometri yaitu guru BK mempunyai peluang untuk memahami bentuk hubungan sosial yang terjadi diantara peserta didik yang dibimbing. Kelemahana sosiometeri : (1) hanya dapat diterapkan pada peserta didik yang sudah saling mengenal, (2) akurasi data penggunaan sosiometri yang sesuai tujuan sangat ditentukan oleh kemampuan guru BK dalam menyusun angket sosiometri.

Angket Sosiometri Alat untuk mendapatkan materi sosiometri dengan menggunakan beberapa pertanyaan yang berisi mengenai siapa yang disenangi (diplih) dan siapa yang tidak disenangi (ditolak) dari anggota kelompoknya. Daftar pertanyaan yang digunakan untuk mendapatkan materi sosiometri dinamakan angket   sosiometri.   Adapun   jawaban   yang   diberikan   oleh responden tentang siapa yang disenangi ataupun siapa yang tidak disenangi tersebut dapat terdiri dari satu, dua, tiga orang atau lebih.

h) Alat Ungkap Masalah (AUM)

(a) Pengertian AUM

AUM atau alat ungkap masalah merupakan instrumen non tes dalam kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling yang digunakan untuk mengungkapkan aspek-aspek permasalahan yang sedang dihadapi individu atau konseli. Pada perkembangannya, kondisi permasalahan individu atau konseli pada kehidupan sehari-harinya secara umum dapat diungkapkan melalui AUM Umum dan kondisi-kondisi permasalahan khusus yang dialami individu terutama tentang masalah kegiatan belajar yang dilakukannya dapat diungkapkan dengan AUM PTSDL. Keseluruhan AUM yaitu AUM Umum dan AUM PTSDL sepenuhnya dimanfaatkan untuk pelaksanaan kegiatan pelayanan BK oleh Guru BK atau Guru BK.

Sejak perkembangan terakhir, di Indonesia, instrumen untuk mengungkapkan permasalahan-permasalahan umum yang dialami individu, yang berkaitan dengan pelayanan BK merupakan     terjemahan/adaptasi     instrumen yang dikembangkan Ross L. Mooney revisi tahun 1950 yaitu 63.

Mooney Problem Check List (MPCL). Prayitno dkk. kemudian menyusun instrumen yang sejenis dengan MPCL untuk dapat dimanfaatkan dalam pelayanan BK yaitu Alat Ungkap Masalah (AUM) yang lebih disesuaikan dengan kondisi di Indonesia atau di tanah air, yang tetap memperhatikan format dan kandungan isi MPCL. AUM Umum sebagai alat ungkap masalah merupakan instrumen non-tes dalam kegiatan pendukung pelayanan BK guna mengungkapkan masalah-masalah umum yang dialami oleh siswa (Prayitno, 2008:5).

Secara lebih khusus, instrumen pelayanan BK di Indonesia yang digunakan untuk mengungkapkan masalah-masalah kegiatan belajar yang dialami individu atau siswa adalah terjemahan dari instrumen Survey of Study Habits and Attitudes (SSHA), pengembangannya William F. Brown dan Wayne H. Holtzman sejak tahun 1953. Selanjutnya tahun 1965, SSHA diadaptasi dan divalidasi di Bandung oleh Prayitno dan tahun 1982, alat atau instrumen ini dilakukan pengembangan lagi oleh Marjohan di Padang dengan memvalidasi SSHA versi baru yang dikenal dengan instrumen Pengungkapan Sikap dan Kebiasaan Belajar (PSKB).

PSKB pada perkembangannya dipandang belum secara penuh mampu mengungkapkan sikap dan kebiasaan belajar individu atau siswa, yang kemudia disempurnakan lagi melalui program SP-4 menjadi AUM PTSDL. Prayitno (2008:5) menjelaskan bahwa, “AUM PTSDL sebagai alat ungkap masalah merupakan instrumen non-tes dalam kegiatan pendukung pelayanan BK untuk mengungkapkan masalah-masalah khusus yang berkaitan dengan upaya dan penyelenggaraan kegiatan belajar siswa”. Aspek komponen kegiatan belajar yang diungkapkan AUM PTSDL yaitu prasyarat penguasaan materi pelajaran (P), keterampilan belajar (T), sarana belajar (S), kondisi diri pribadi (D), dan kondisi lingkungan dan sosio- emosional (L).

(b) Manfaat AUM

Menurut Gantina (2016: 135) Manfaat pengunaan AUM adalah:

• Guru BK lebih mengenal peserta didiknya yang membutuhkan bantuan segera

• Guru  BK  memiliki  peta  masalah  individu  maupun kelompok

• Hasil AUM dapat digunakan sebagai landasan penetapan layanan BK yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan peserta didik

• Peserta didik dapat memahami apakah dirinya memerlukan bantuan atau tidak

(c) Kelebihan dan Kelemahan AUM

Kelebihan AUM (Gantina, 2016: 134) adalah (1) Pelaksanaan AUM bisa dilakukan secara individual, kelompok maupun klasikal, (2) Instrumen AUM memiliki validitas dan reliabiltas tinggi, (3) Memudahkan peserta didik mengenali masalah yang sedang atau pernah dialaminya dan (4) Adanya software AUM mempermudah dan mempercepat guru BK mengolah data.

Kelemahan AUM adalah membutuhkan waktu yang banyak untuk pengolahan hasil, sebagai konsekuensi dari bannyakknya jumlah bidang masalah dan jumlah butir pernyataan masalah yang tersedia.

2) Inventori Tugas Perkembangan (ITP)

a) Pengertian ITP

Inventori Tugas Perkembangan (ITP) merupakan instrumen yang dapat digunakan untuk untuk mengukur tingkat perekembangan individu. ITP dikembangkan oleh tim pengembangan dari Universitas Pendidikan Indonesia yang diketua oleh Prof. Sunaryo Kartadinata, M. Pd, dkk. Instrumen ITP ini telah di standarisai (Baku) yang dikembangankan dengan tujuan membantu guru BK menyusun suatu progam layanan yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik di tingkat SD, SMP, SMA dan PT.

b) Tingkat Pencapian Perkembangan yang ada di ITP

Inventori tugas perkembangan yang dikembangkan oleh Prof Sunaryo, dkk. memiliki tujuh tingkat perkembangan yaitu (Nurhudayana, 2013: 128)

1) Tingkat Impulsif (Imp) dengan ciri kemandirian: menempatkan identitas diri sebagai bagian yang terpisah dari orang lain, pola perilaku menuntut dan bergantung pada lingkungan sebagai ganjaran dan hukuman, beroerientasi sekarang, tidak menempatkan diri sebagai faktor penyebab perilaku.

2) Tingkat Perlindungan Diri (Pld) dengan ciri kemandirian: peduli terhadap kontrol dan keuntungan yang dapat diperoleh dan berhubungan dengan orang lain, mengikuti aturan secara oportunis dan hedonistic, berfikir tidak logis dan sterotipe, cenderung menyalahkan dan mencela orang lain dan lingkungan.

3) Tingkat Konformistik (Kof) dengan ciri kemandirian: peduli penampilan diri dan penerimaan sosial, cenderung berfikri sterotipe dan klise, peduli terhadap aturan eksternal, bertindak dengan motif yang dangkal, menyamakan diri dalam ekspresi emosi, kurang instropeksi, perbedaan kelompok didasarkan atas ciri-ciri eksternal, takut tidak diteriam kelompok, tidak sensitif terhadap aturan, merasa berdosa jika melanggar aturan (terutama aturan kelompok)

4) Tingkat Sadar Diri (Sdi) dengan ciri kemandirian: mampu berfikir alternatif, melihat harapan dan berbagai kemungkinan dalam situasi, peduli untuk mengambil manfaat dari kesempatan yang ada, orientasi pemecahan masalah, memikirkan cara hidup, serta penyesuaian terhadap situasi dan peranan.

5) Tingkat Saksama (Ska) dengan ciri kemandirian : bertindak atas dasar nilai internal, mampu melihat diri sebagai pembuat pilihan dan pelaku tindakan, mampu melihat keragaman emosi,motif, dan perspekstif diri, peduli akan hubungan mutualistik, memiliki tujuan jangka panjang, cenderung melihat peristiwa dalam konteks sosial, dan berfikiri lebih kompleks dan atas dasar analisis.

6) Tingkat Individualistik (Ind) dengan ciri kemandirian: peningkatan kesadaran invidualitas, kesadaran akan konflik emosional antara kemandirian dengan ketergantungan, menjadi lebih toleran terhadap diri

sendiri dan orang lain, mengenal eksistensi perbedaan individual, mampu bersikap toleran terhadap pertentangan dalam kehidupan, membedakan kelompok internal dan kehidupan luar dirinya, mengenal kompleksitas diri dan peduli akan perkembangan dan masalah-masalah sosial.

7) Tingkat Otonomi (Oto) dengan ciri kemandirian: memiliki pandangan hidup sebagai suati keseluruhan, cenderung bersikap realistik dan objektif terhadap diri sendiri maupun orang lain, peduli akan paham abstrak seperti keadilan sosial, mampu mengintegrasikan nilai-nilai yang bertentangang, peduli kan self fulfillment( pemuasan kebutuhan diri), ada keberanian untu menyelesaiakn konflik internal, respek terhadap kemandirian orang lain, sadar akan adanya saling ketergantungan dengan orang lain, dan mampu mengekspresikan perasaan dengan penuh keyakinan dan keceriaan.

Tingkat perkembangan di atas merupakan struktur perkembangan diri dari yang sederhana sampai kompleks. Umumnya tingkat perkembangan anak usia SD berkisar antara tingkat I dan IV, untuk anak usia SMP antara II dan V, anak usia SMA antara III dan VI dan tingkat usia mahasiswa antara IV dan VII.

Dalam ITP ada 10 aspek yang diukur untuk peserta didik SD dan SMP, sementara untuk siswa SMA dan PT ada 11 aspek perkembangan. 11 aspek perkembangan ini yang kita kenal dengan Standar Kompetensi Kemandirian Peserta Didik (SKKPD). 11 aspek perkembangan itu adalah : landasan hidup religius, landasan perilaku etis, kematangan emosioanal, kematangan intelektual, kesadaran tanggung jawab, peran sosial sebagai pria dan wanita (gender), penerimaan diri dan pengembangannya, kemandirian perilaku ekonomis, wawasan dan persiapan karir, kematangan hubungan dengan teman sebaya, dan persiapan diri untuk pernikahan dan hidup berkeluarga.

c) Deskripsi Umum ITP

1) Bentuk Soal

Terdapat empat perangkat ITP, masing-masing untuk jenjang SD, SLTP, SLTA, dan untuk jenjang PT (Mahasiswa). ITP untuk siswa jenjang SLTP terdiri atas 50 butir rumpun pernyataan, setiap rumpun terdiri atas empat pernyataan (a, b, c, d) yang secara hierarkis menggambarkan kualitas perkembangan yang dicapai siswa. 10 butir dari 50 butir soal tersebut merupakan pengulangan dari nomor-nomor tertentu yang dimaksudkan untuk menguji konsistensi jawaban siswa.

2) Pengadministrasian

ITP dapat diadministrasikan secara individual maupun kelompok. Waktu yang diperlukan untuk mengerjakannya berkisar antara 20 sampai 50 menit. Pedoman lengkap pengadministrasian ITP (pelaksanaan, penyekoran, pengolahan, dan penafsirannya) disajikan buku Petunjuk Teknis Penggunaan ITP.

d) Deskripsi Perangkat Lunak Analisis Tugas Perkembangan

ATP adalah perangkat lunak berbasis Windows yang dikembangkan untuk mengolah lembar jawaban instrumen ITP. Pengolahan lembar jawaban ITP dengan ATP jauh lebih mudah dan cepat (1 detik untuk 100 lembar jawaban pada komputer Pentium 400) dibandingkan dengan cara manual. Hasil keluaran ATP berbentuk grafik maupun tekstual. Hasil ini dapat digunakan guru bimbingan dan konseling atau guru BK untuk menganalisis tingkat perkembangan siswa secara kelompok maupun individual, dan sebagai dasar pengembangan program bimbingan dan konseling di sekolah. Seperti halnya ITP, ATP juga dikembangkan untuk empat tingkat jenjang pendidikan, SD, SLTP, SLTA dan perguruan tinggi. ATP dirancang agar dapat dipelajari dengan cepat dan mudah untuk digunakan. Petunjuk penggunaan dan pengoperasian ATP disajikan dalam buku Petunjuk Penggunaan ATP. Fasilitas utama yang dimiliki perangkat lunak ATP ini adalah:

1. Data Entry. Data dapat langsung dientri melalui ATP, atau melalui MS Excel kemudian diimpor oleh ATP.

2. Penyekoran data. Setelah data masuk, penyekoran dapat segera dilakukan. Hasil penyekoran dapat di ekspor dalam format MS-Excel untuk analisis lebih lanjut.

3. Analisis Data. Analisis data dapat dilakukan setelah penyetoran data selesai. Secara garis besar, analisis dilakukan dengan dua cara, secara kelompok dan secara individu.

(d) Angket dan Psikologis

(1) Pengertian

Angket   atau   kuesioner   didefinisikan   sebagai   sejumlah

pertanyaan atau pernyataan tertulis tentang data faktual atau opini yang berkaitan dengan diri responden, yang dianggap fakta atau kebenaran yang diketahui dan perlu dijawab oleh responden.

Skala psikologis menurut Azwar (2005: 3-4) sebagai alat ukur yang memiliki karakteristik khusus (a) cenderung digunakan untuk mengukur aspek afektif – bukan kognitif. (b) stimulusnya berupa pertanyaan atau pernyataan yang tidak langsung mengungkap atribut yang hendak diukur, melainkan mengungkap indikator perilaku dari atribut yang bersangkutan,

(c) jawabannya lebih bersifat proyektif, (d) selalu berisi banyak item berkenaan dengan atribut yang diukur, (e) respon subyek tidak diklasifikasikan sebagai jawaban “benar” atau “salah”, semua jawaban dianggap benar sepanjang sesuai keadaan yang sebenarnya, jawaban yang berbeda diinterpretasikan berbeda pula. Dari rumusan pengertian angket dan skala psikologis di atas dapat dipahami, dilihat dari bentuknya yang sama-sama tertulis memang hampir tidak ada perbedaan antara angket dengan psikolologis. Tetapi jika dilihat dari segi aspek yang diungkap, atribut yang diukur, sifat jawaban, dan skoringnya; bisa difahami bahwa terdapat perbedaan yang mendasar antara angket dan skala psikologis.

Secara lebih detail, perbedaan angket dan skala psikologis itu ditunjukkan oleh Saifudin Azwar (2005: 5) berikut:

• Data yang diungkap angket berupa data faktual atau yang dianggap fakta dan kebenaran yang diketahui oleh subyek, sedangkan data yang diungkap oleh skala psikologis berupa konstrak atau konsep psikologis yang menggambarkan aspek kepribadian individu.

• Pertanyaan dalam angket berupa pertanyaan langsung yang terarah kepada informasi mengenai data yang hendak diungkap, yaitu mengenai data atau opini berkenaan dengan diri responden. Sedang pada skala psikologis, pertanyaan tertuju pada indikator perilaku guna memancing jawaban yang merupakan refleksi dari keadaan diri subyek yang biasanya tidak disadari responden.

• Responden pada angket biasanya tahu apa yang ditanyakan dalam angket dan informasi apa yang dikehendaki. Sedangkan responden terhadap skala psikologis, meskipun responden memahami isi pertanyaannya, biasanya mereka tidak menyadari arah jawaban yang dikehendaki dan simpulan apa yang sesungguhnya diungkap oleh pertanyaan tersebut.

• Jawaban terhadap angket tidak bisa diberi skor (dalam arti harga atau nilai) melainkan diberi angka atau coding sebagai identifikasi atau klasifikasi jawaban. Respon terhadap skala psikologi diberi skor melalui proses penskalaan.

• Satu angket dapat mengungkap informasi mengenai banyak hal, sedangkan satu skala psikologis hanya diperuntukkan guna mengungkap suatu atribut tunggal (unidimensional)

• Data dari hasil angket tidak perlu diuji lagi reliabilitasnya, reliabilitas angket terletak pada terpenuhinya asumsi bahwa responden akan menjawab dengan  jujur apa  adanya. Sedangkan hasil ukur skala  psikologi  harus teruji reliabilitasnya secara psikolometris, karena relevansi isi dan

konteks kalimat yang digunakan sebagai stimulus pada skala pada skala psikologi lebih terbuka terhadap eror.

• Validitas angket lebih ditentukan oleh kejelasan tujuan dan lingkup informasi yang hendak diungkap, sedang validitas skala psikologi lebih ditentukan oleh kejelasan konsep psikologi yang hendak diukur dan operasionalisasinya.

(2) Kegunaan

Mc Millan (2001: 257) memandang kuesioner sebagai teknik yang banyak digunakan untuk menggali informasi dari subyek. Kuesioner dipandang relatif ekonomis, sebab dalam waktu singkat sejumlah pertanyaan atau pernyataan bisa dijawab oleh responden dalam jumlah yang banyak pula.

Seperti disajikan di atas, terdapat perbedaan penggunaan antara angket atau kuesioner dengan skala psikologi. Namun, angket dan skala psikologis dimungkinkan bisa digunakan secara bersama-sama, artinya ketika mengungkap  data-data faktual yang diketahui subyek bisa digunakan angket. Ketika mengungkap konstrak atau konsep psikologis yang menggambarkan aspek kepribadian individu, digunakan skala psikologis. Namun demikian perlu diingat, bahwa skoringnya perlu dipisahkan lantaran jawaban angket tidak bisa diberi skor, sedang skoring terhadap respon skala psikologis diberi skor melewati proses penskalaan.

(3) Tahap-tahap Penyusunan Item Angket

Millan, (2001: 258) menunjukkan tahap-tahap penyusunan kuesioner dalam diagram berikut:

Gambar 3. Tahap Penyusunan Kuesioner

Diagram di atas dijelaskan secara singkat berikut ini:

1) Justifikasi

Sebelum melangkah lebih jauh, peneliti perlu mempertimbangkan kelebihan dan kelemahan teknik yang hendak digunakan, sebab tidak ada teknik pengumpulan data yang paling sempurna, yang ada adalah sesuai atau tidak sesuai dengan variable, subyek, dan kondisi lingkungannya.

2) Menetapkan tujuan

Pada tahap ini, peneliti menetapkan tujuan khusus yang ingin dicapai melalui kuesioner tersebut. Tujuan tersebut hendaknya    mendasarkan    pada    problem    riset    atau

pertanyaan-pertanyaan yang hendak dijawab melalui penelitan.

3) Menulis pertanyaan atau pernyataan

Setelah peneliti menetapkan tujuan, hal yang segera dilakukan adalah menyusun pertanyaan atau pernyataan. Agar peneliti bisa menyusun pertanyaan atau pernyataan yang efektif, Millan (2001: 258) menunjukkan rambu-rambu yang perlu diperhatikan berikut:

a) Tulislah item dengan jelas; item dinilai jelas bila semua responden memiliki interpretasi yang sama.

b) Hindari penggunaan pertanyaan atau pernyataan yang memiliki makna ganda (double –barreled question), yaitu pertanyaan atau pernyataan yang memiliki dua makna atau lebih.

c) Responden harus mengetahui jawaban dan memeiliki kewenangan (competent) untuk menjawab; hal ini dipandang penting agar responden memberikan jawaban yang benar-benar sesuai kemampuannya.

d) Pertanyaan harus relevan. Jika responden harus memberi respon terhadap pertanyaan atau pernyataan yang tidak penting bagi mereka, atau tentang suatu pemikiran yang tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan atau tugas mereka, maka mereka akan menjawab dengan sembarangan (carelessly) dan hasilnya bisa menyesatkan.

e) Item yang pendek dan simpel adalah yang terbaik. Item- item yang terlalu panjang dan kompleks harus dihindari, sebab ia lebih sulit difahami, atau bisa jadi responden tidak ingin mencoba memahaminya.

f) Hendaknya dihindari item  negatif,  sebab  hal  itu  bisa menyebabkan salah tafsir.

g) Hindari penggunaan item-item atau istilah-istilah yang maknanya bisa menyimpang atau bias.

4) Melihat kembali (review) item-item yang telah disusun.

Setelah peneliti menyusun item yaitu menyusun pertanyaan atau pernyataan, sebaiknya dilihat kembali apakah susunan kalimatnya sudah benar, bisa difahami responden, dan cetakannya sudah benar atau belum. Pada tahap ini Millan (2001: 260) menyarankan agar peneliti bertanya kepada teman, kolega, dan orang-orang ahli untuk melihat kembali item- item yang telah disusun dan problem yang mungkin muncul.

5) Menyusun format keseluruhan.

Secara keseluruhan, kuesioner pada umumnya terdiri dari (1) pengantar, (2) identitas responden, (3) petunjuk cara memberikan respon terhadap item- item yang tersedia, dan

(4) beberapa petunjuk teknis yang lain.

6) Setelah semua bagian tersusun dengan baik, sebelum kuesioner dikirim kepada responden yang sesungguhnya, sebaiknya peneliti melakukan pretes atau tryout preliminer.

7) Atas dasar hasil tryout itu kemudian dilakukan perbaikan- perbaikan (revisi), dan jika masih dipandang perlu tryout ulang hingga mencapai bentuk final. Format akhir inilah yang nantinya akan dikirim kepada responden yang sebenarnya.

(4) Tahap-tahap Penyusunan Skala Psikologis

Azwar (2005: 11) menunjukkan alur kerja dalam penyusunan skala psikologis sebagai berikut:

1) Penetapan tujuan

8)  Sedikit berbeda dengan penyusunan angket, dalam

menetapkan tujuan skala psikologis Azwar (2005: 12) menyarankan agar pada tahap penetapan tujuan ini dimulai dari identifikasi tujuan ukur, yaitu memilih suatu definisi dan mengenali teori yang mendasari konstrak psikologis atribut yang hendak diukur.

2) Operasionalisiasi konsep

Pada tahap ini, peneliti melakukan pembatasan kawasan (domain) ukur berdasarkan konstrak yang didefinisikan oleh teori yang bersangkutan. Pembatasan ini harus diperjelas dengan menguraikan komponen atau dimensi- dimensi yang ada dalam atribut termaksud. Dengan mengenali batasan ukur dan adanya dimensi yang jelas, maka skala akan mengukur secara komprehensif dan relevan, yang pada gilirannya akan menunjang validitas isi skala.

Misal, seorang guru BK hendak meneliti tentang “konsep diri” siswa, pada tahap ini seyogianya ia sudah memahami konstrak teori tentang “konsep diri” secara benar. Misal: pengertian konsep diri, isi konsep diri, factor yang mempengaruhi pembentukan konsep diri, macam dan ciri-ciri konsep diri. Mendasarkan konstrak tersebut seorang peneliti mengembangkan kisi-kisi, selanjutnya mendasarkan pada indikator-indikator yang ada disusunlah item- item.

3) Pemilihan bentuk stimulan

Sebelum penulisan item dimulai, penyusun skala psikologis perlu menetapkan bentuk atau format stimulus yang hendak digunakan. Bentuk stimulus ini berkaitan dengan metode penskalaannya. Dalam pemilihan bentuk penskalaan biasanya lebih tergantung pada kelebihan teoretis dan manfaat praktis format yang bersangkutan.

4) Penulisan item

Setelah komponen-komponen item jelas identifikasinya atau indikator- indikator perilaku telah dirumuskan dengan benar, lazimnya disajikan dalam bentuk blue-print dalam bentuk tabel yang memuat uraian komponen- komponen dan indikator- indikator perilaku dalam setiap komponen, maka penulisan item bisa dimulai.

5) Review item

Review pertama dilakukan penulis item sendiri, yaitu dengan selalu memeriksa ulang setiap aitem yang baru saja ditulis apakah telah sesuai dengan indikator perilaku yang hendak diungkap dan apakah juga tidak keluar dari pedoman penulisan item. Apabila semua item telah selesai ditulis, review kedua dilakukan oleh beberapa orang yang dipandang kompeten / ahli (expert judgement).

6) Uji coba

Tujuan pertama uji coba item adalah untuk mengetahui apakah kalimat- kalimat dalam item mudah dan dapat dipahami responden sebagaimana diinginkan penulis item. Reaksi- reaksi responden berupa pertanyaan- pertanyaan mengenai kata-kata atau kalimat yang digunakan dalam item merupakan pertanda kurang komunikasinya kalimat yang ditulis, dan itu memerlukan perbaikan

7) Analisis item

Analisis item merupakan proses pengujian parameter- parameter item guna mengetahui apakah item memenuhi persyaratan psikometris untuk disertakan sebagai bagian dari skala. Parameter item yang perlu diuji sekurang- kurangnya adalah daya beda item, yaitu kemampuan item untuk membedakan antara subyek yang memiliki atribut yang diukur dan yang tidak. Lebih spesifik lagi, daya beda item memperlihatkan kemampuan item untuk membedakan individu

ke dalam berbagai tingkatan kualitatif atribut yang diukur berdasarkan skor kuantitatif. Misal: item yang ditujukan untuk mengukur motivasi belajar seseorang, maka item itu tentu bisa menunjukkan perbedaan individu yang motivasi belajarnya tinggi, sedang, dan rendah. Dalam analisis item yang lebih lengkap dilakukan juga analisis indeks validitas dan indeks reliabilitas item.

8) Kompilasi I

Mendasarkan hasil analisis item, maka item-item yang tidak memenuhi persyaratan psikometris akan disingkirkan atau diperbaiki lebih dahulu sebelum dapat menjadi bagian dari skala. Di sisi lain, item-item yang memenuhi persyaratan juga tidak dengan sendirinya disertakan ke dalam skala, sebab proses kompilasi skala masih harus mempertimbangkan proporsionalitas komponen-komponen skala sebagaimana dideskripsikan oleh blue-print-nya. Dari sini bisa dipahami, bahwa dalam mengumpulkan (mengkompilasi) item- item yang memenuhi persyaratan untuk menjadi bagian dari skala perlu memperhatikan (1) apakah suatu item memenuhi persyaratan psikometris atau tidak, dan (2) proposionalitas komponen- komponen skala seperti tertera dalam blue-print.

9) Kompilasi II

Item-item terpilih yang jumlahnya disesuaikan dengan jumlah yang telah dispesifikasikan blue-print, selanjutnya dilakukan uji reliabilitas. Apabila koefisien reliabilitas skala ternyata belum memuaskan, maka penyusun skala dapat kembali ke langkah kompilasi dan merakit ulang skala dengan lebih mengutamakan item-item yang memiliki daya beda tinggi sekalipun perlu mengubah proporsi item dalam masing-masing komponen.

Cara lain yang bisa dilakukan yaitu dengan menambah jumlah item pada setiap komponen secara proporsional dengan (bila

perlu) menurunkan sedikit kriteria seleksi item. Hal ini dilakukan terutama jika jumlah item dalam skala belum begitu banyak. Secara umum, penambahan jumlah item akan meningkatkan koefisien reliabilitas skala.

Proses validasi pada hakekatnya merupakan proses berkelanjutan. Pada skala-skala yang akan digunakan secara terbatas, pada umumnya dilakukan pengujian validitas berdasarkan kriteria. Sedang pada skala yang akan digunakan secara luas biasa diperlukan proses analisis faktor dan validasi silang (cross validation). Selain melakukan uji validasi, peneliti juga melakukan uji reliabilitas. Bahan mengenai uji validitas dan reliabilitas bisa lebih jelas di baca di buku pemahaman individu non tes atau buku validitas dan realiabilitas penulis syaifudin Azwar serta buku yang relevan lainnya.

Pada akhirnya, format akhir skala seyogyanya ditata dalam tampilan yang menarik namun tetap memudahkan bagi responden untuk membaca dan menjawabnya. Hal-hal yang perlu diperhatikan seperti disarankan Azwar (2005 : 15) yaitu (1) perlu dilengkapi dengan pengerjaan dan lembar jawab yang terpisah, (2) ukuran kertas yang digunakan juga perlu disesuaikan dengan panjangnya skala, agar berkas skala tidak nampak terlalu tebal yang menyebabkan responden kehilangan motivasi, dan (3) ukuran huruf sebaiknya juga perlu mempertimbangkan usia responden, seyogyanya tidak menggunakan huruf yang ukurannya terlalu kecil agar responden yang tergolong lanjut usia tidak kesulitan untuk membacanya.

(5) Bentuk-bentuk item

Ada beberapa bentuk item kuesioner maupun skala psikologis yang bisa dipilih oleh peneliti, antara lain:

1) Dilihat dari langsung atau tidaknya kuesioner itu dikirimkan

kepada individu sebagai sumber data, kuesioner bisa dibedakan menjadi angket langsung dan tidak langsung. Jika kuesioner dikirimkan langsung kepada orang yang dimintai keterangan yang berkaitan dengan diri mereka sendiri, maka disebut kuesioner langsung. Sebaliknya jika kuesioner dikirim kepada seseorang yang diminta menceritakan keadaan orang lain, maka disebut kuesioner tidak langsung.

Alternatif Contoh Angket Langsung

“Biodata Diri”

Isilah kolom di bawah ini sesuai dengan data diri Anda Nama : ..........................................

No Absen/ Kelas : ..........................................

Tempat Tanggal Lahir : ..........................................

Alamat : ..........................................

Agama : ...........................................

Alternatif Contoh Angket tidak langsung

“Biodata Diri”

Isilah kolom di bawah ini sesuai dengan data diri Anda

1 Apakah Putra Bapak/Ibu memiliki hoby bermain game online?

a. Ya b. Tidak

2 Kemanakah biasanya putra Bapak/Ibu menghabisakan waktu luang?

a. Di rumah b. di luar rumah, jelaskan ….

2) Dilihat dari segi cara menjawabnya, harus mengisi sendiri atau memilih pilihan yang telah disediakan, bisa dibedakan menjadi kuesioner tipe isian dan tipe pilihan. Pada kuesioner tipe isian, responden sendiri yang harus menuliskan jawaban yang diminta oleh peneliti.

Misal: Nama : ………………. Tempat/tanggal lahir : ………………. Pendidikan terakhir      : ……………….

3) Dilihat dari sisi keleluasaan responden dalam memberikan jawaban atau komentar terhadap pertanyaan atau pernyataan yang diajukan, bisa dibedakan menjadi kuesioner bentuk terbuka (open form questionaire) dan kuesioner bentuk tertutup (closed form questonaire, structured, or closed ended).

Contoh angket terbuka

a. Apakah Saudara memiliki hobi main game online?

..........................................................................................

b. Berapa lama Suadara main game online?

..........................................................................................

Contoh angket tertutup

1. Apakah Saudara memilki hobi main

game online? Ya Tidak

2. Berapa lama saudara main game online?

2 jam > 2 jam

(6) Bentuk-bentuk skala (rating scale)

Terdapat beberapa bentuk skala (rating scale) Aiken (1996: 34-42) menunjukkan beberapa bentuk skala sebagai berikut:

(a) Skala berkutup tunggal (unipolar), dan berkutup dua (bipolar). Contoh skala berkutup tunggal:

Bagaimana pendapat saudara tentang kinerja guru X di sekolah saudara?

1. Kehadiran guru di sekolah 1 2 3 4 5

2. Tampilan di depan kelas 1 2 3 4 5

Pada skala di atas, angka 1 menujukkan skor terendah, sedang angka 5 menunjukkan skor tertinggi. Bentuk kutup tunggal ini bisa dikonversi menjadi bentuk berkutup dua yaitu dengan cara menggunakan dua kata sifat yang berlawanan dan menempatkannya pada dua titik ekstrim

Contoh skala berkutup dua:

Bagaimana pendapat saudara tentang kinerja guru Y?.................................

Hubungan guru dengan murid

buruk bagus

(b) Numerical rating scale

Pada bentuk ini, responden (ratee) diminta untuk memberi tanda cek (v) atau tanda silang pada angka-angka yang menggambarkan kualitas atau intensitas indikator atau komponen atribut yang sedang diukur.

Misal: responden diminta menilai pelaksanaan pelajaran tambahan yang diselenggarakan oleh sekolah

1. Kehadiran guru di sekolah 1 2 3 4 5

2. Penguasaan materi 1 2 3 4 5

(c) Semantic differential scale

Istilah “semantic” berarti berkenaan dengan kata-kata. Bentuk ini lazim digunakan untuk mengungkap pemaknaan seseorang tentang suatu konsep; misal: ayah, ibu, penyakit dan lain-lain. Skala model ini lazimnya disusun dengan model “berkutup dua” dengan menempatkan dua kata sifat yang berlawanan dengan tujuh hingga sembilan point di tengahnya. Contoh konsep tentang “ibu” dinilai dalam bentuk skala berikut:

Ibu

Buruk       

    Baik

Lemah         

   Kuat

(a) Graphic rating scale

Salah satu bentuk skala penilaian yang paling populer adalah bentuk grafik. Responden dimintai memberikan penilaian terhadap suatu indikator atau komponen atribut pada poin-poin yang tersedia, di bawahnya dijelaskan makna poin-poin tersebut. Contoh berikut adalah skala model grafik dalam mengukur motivasi belajar siswa.

! ! ! ! !

Selama Selama Semampu Selama Selama

masih  Ortu saya saya saya

ada masih sehat masih hidup

teman. membiayai

Pada skala tersebut jarak antar poin dibuat sama, di mana setiap poin memiliki makna dari kiri paling rendah, semakin ke kanan semakin tinggi atau bisa dibuat sebaliknya.

(d) Standard rating scale

Pada skala bentuk ini, penilai (rater) menyediakan satu set standar (sifat-sifat manusia) yang harus dibandingkan responden dengan diri sendiri atau individu lain yang sedang dinilai. Dalam mengembangkan skala model ini, peneliti memulai dengan berpikir tentang lima orang yang diduga memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Kemudian responden diminta menilai dengan cara membandingkan lima orang tersebut, karakteristik mana dari kelima orang tersebut yang paling mendekati dengan karakteristik individu yang diharapkan. Standar itu tidak selalu orang, tetapi bisa berupa deskripsi singkat tentang tingkah laku dari “yang paling buruk ke yang paling baik” atau “dari yang paling rendah ke paling tinggi” "paling buruk ke yang terbaik" atau " paling rendah ke paling tinggi".

Alternatif Contoh

ITEM INSTRUMEN

Bagian I

Isilah keterangan yang diminta :

1.  Nama:................................................................. (boleh  tidak

diisi)

2.  Alamat: ................................................................. (boleh

tidak diisi)

3. Usia saat ini: tahun

4. Jenis  kelamin:  Laki-laki/perempuan   (coret  yang   tidak sesuai)

5. Pendidikan terakhir orang tua: …………… 6. Pekerjaan orang tua: ........................

7. Penghasilan orang tua perbualan kurang lebih Rp:………..

Bagian II

Petunjuk

Di bawah ini ada sejumlah hal yang mungkin berhububungan dengan diri saudara. Saudara diminta menunjukkan kesesuaian diri saudara dengan masing- masing pernyataan tersebut dengan memberi tanda cek (V) di bawah kolom

SS : bila pernyataan tersebut sangat sesuai dengan diri saudara S : bila pernyataan tersebut sesuai dengan

diri saudara

R : bila saudara tidak bisa menentukan pendapat

mengenai pernyataan tersebut

TS  : bila pernyataan tersebut tidak sesuai dengan diri saudara STS : bila pernyataan tersebut sangat tidak sesuai dengan diri

saudara

Tidak ada jawaban benar atau salah, yang ada adalah sangat sesuai, kurang sesuai, tidak sesuai, atau sangat tidak sesuai dengan diri saudara. Oleh sebab itu jawablah dengan sejujur-jujurnya sesuai dengan diri saudara yang sebenarnya. Jawaban saudara bersifat pribadi dan tidak akan mempengaruhi nilai akhir semester saudara. Jawaban di tulis pada lembar jawab yang telah disediakan.

No. Pernyat aan Alternatif jawaban

  SS S R TS STS

1 Saya yakin dapat bekerja sesuai dengan bidang yang saya geluti     

2 Saya mengerjakan pekerjaan sesuai dengan keterampilan yang saya miliki     

3 Saya merasa yakin dengan membuat perencanaan  yang matang nantinya akan menemui keberhasilan     

4 Pada saat mengerjakan suatu pekerjaan,     

 saya cenderung melihat punya teman     

5 Saya merasa

khawatir tidak dapat

menyelesaikan suatu pekerjaan     

(7) Kelebihan dan Kelemahan Angket

Menurut Komalasari (2016: 86-87) Kelebihan dan kelemahan angket adalah sebagai berikut:

Kelebihan Angket

1. Angket merupakan metode yang praktis karena dalam waktu yang singkat bisa mendapatkan jumlah responden yang banyak.

2. Pada angket tertutup memudahkan guru BK dalam membuat tabulasi hasil.

3. Pada angket terbuka responden mempunyai kebebasan untuk memberikan keterangan.

4. Responden mempunyai waktu cukup dalam menjawab pertanyaan.

f. Kode Etik Penggunaan Asesmen dalam Bimbingan dan Konseling

Guru BK atau Guru BK bila akan menggunakan asesmen perlu memperhatikan dan menaati kode etik yang telah ditetapkan. Kode etik merupakan ketentuan atau aturan atau tata cara yang menjadi pedoman dalam menjalankan tugas dan aktivitas suatu profesi dan harus diatati. Kode etik dalam sebuah profesi diperlukan untuk tetap menjaga standar mutu dan status profesi dalam batas-batas yang jelas dengan profesi lain, sehingga menjaga sikap kehati-hatian agar terhindar dari penyimpanganya. Mengenai etika penggunaan asesmen dalam bimbingan dan konseling, ABKIN dalam kode etik Bab II poin 6 menjelaskan bahwa: Suatu jenis asesmen (tes dan non tes) hanya bisa diaplikasikan oleh guru BK atau guru BK yang berwenang menggunakan dan menafsirkan hasilnya. Adapun beberapa poin yang harus diperhatikan diantaranya: (a) Asesmen dilakukan bila diperlukan data yang lebih luas tentang kondisi diri atau karakteristik kepribadian konseli untuk kepentingan pelayanan. (b) Guru BK memberikan hasil asesmen kepada konseli dan orang tua untuk kepentingan pelayanan. (c) Penggunaan asesmen wajib mengikuti pedoman atau petunjuk yang berlaku bagi asesmen yang dimaksud. (d) Data hasil asesmen wajib diintegrasikan ke dalam himpunan data dan/ atau dengan informasi dari sumber lain untuk konseli yang sama. (e) Hasil asesmen hanya dapat diberitahu kepada pihak lain sejauh ada hubungannya dengan usaha bantuan terhadap konseli dan tidak menimbulkan kerugian baginya.

Senada dengan kode etik testing di atas, (Furqon & Sunarya, 2013: 231) mengatakan bahwa beberapa hal yang harus diperhatikan oleh guru BK saat melakukan asesmen, terutama bila asesmen itu telah dibakukan/ terstandar. Beberapa hal itu adalah :

1) Orang yang berhak menggunakan instrumen asesmen adalah seseorang yang terlatih dan memiliki kualifiaksi tertentu yang sudah ditetapkan oleh organisasi profesi.

2) Pelaksanaan pemberian asesmen harus memperhatikan kondisi konseli. Tester harus memperhatikan jumlah konseli, kapasitas ruangan dan lain- lain.

3) Kapan instrumen di berikan. Ini berkaitan dengan waktu pelaksanaan dan tujuan pengetesan.

4) Cara mengkomunikasikan hasil. Hasil asesmen harus diberitahukan kepada konseli. Artinya konseli harus tahu atau memahami hasil asesmen.

5) Kerahasiaan hasil. Data hasil asesmen akan menyangkut diri seseorang karena itu sampai batas-batas tertentu harus dirahasiakan oleh guru BK (sepanjang menyangkut pribadi). Tetapi manakala seseorang berhadapan dengan hukum, dan pihak tertentu memerlukan data tersebut, maka menjadi kewajiban guru BK untuk memberikannya.

6) Sikap dalam memperlakukan hasil. Hasil asesmen bukanlah segalanya tentang peserta didik. Karena selain setiap instrumen asesmen memiliki keterbatasan, setiap instrumen juga memiliki kekhususan penggunaan.

Dengan demikian, guru pembimbing jangan terlalu terpaku pada hasil rekomendasi suatu asesmen.

Rangkuman : Hal-hal penting yang telah anda pelajari dapat dirangkum sebagai berikut:

a. Asesmen bila dikaitkan dengan bimbingan dan konseling adalah suatu metode sistematis yang dilakukan oleh guru BK untuk memahami karakteristik, lingkungan dan segala sesuatu yang berhubungan dengan konseli melalui berbagai teknik seperti tes dan non tes (observasi, skala penilaian, wawancara, catatan dan teknik non tes lain sehingga guru BK memperoleh informasi secara mendalam konseli yang dilayani.

b. Tes adalah  suatu alat  atau metode pengumpulan data  yang sudah distandardisasikan untuk mengukur aspek perilaku atau aspek kemampuan atau kecakapan individu atau kelompok  individu dalam menyelesaikan sesuatu atau memperlihatkan ketrampilan tertentu, dalam memperlihatkan hasil belajar, atau dalam menggunakan kemampuan psikologis untuk memecahkan suatu persoalan.

c. Kegunaan tes psikologi untuk klasifikasi/ classification, pemahaman diri/ self- understanding, evaluasi program/ program evaluation, dan penelitian ilmiah/ scientific inquiry.

d. Jenis-jenis tes psikologi yang biasa digunakan dalam bimbingan dan konseling adalah tes intelegensi, tes bakat, tes minat dan tes kepribadian.

Pembelajaran 1. Teknik Asesmen Kebutuhan Peserta Didik : Isrofin, Binti. 2019. Modul 1 Asesmen Kebutuhan Peserta Didik dan Sekolah.

Posting Komentar untuk "Teknik Asesmen Kebutuhan Peserta Didik - PPPK BK 1"