Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Sosiologi sebagai Ilmu Pengetahuan - PPPK Sosiologi 1

Sosiologi sebagai Ilmu Pengetahuan - PPPK Sosiologi 1 hasriani.com


Sosiologi sebagai Ilmu Pengetahuan - PPPK Sosiologi 1 - Penjabaran model kompetensi yang dikembangkan pada kompetensi guru bidang studi lebih spesifik pada pembelajaran 1. Sosiologi sebagai Ilmu Pengetahuan, ada beberapa kompetensi guru bidang studi yang akan dicapai pada pembelajaran ini, kompetensi yang akan dicapai pada pembelajaran ini adalah guru PPPK mampu:

Penjabaran model kompetensi dikembangkan pada kompetensi guru bidang studi yang lebih spesifik. Kompetensi yang akan dicapai pada pembelajaran ini adalah guru P3K mampu menjelaskan sosiologi sebagai Ilmu pengetahuan.

Dalam rangka mencapai kompetensi guru bidang studi, maka dikembangkanlah indikator-indikator yang sesuai dengan tuntutan kompetensi guru bidang studi.

Indikator  pencapaian  komptensi  yang  akan  dicapai  dalam  pembelajaran 1. Sosiologi sebagai Ilmu Pengetahuan adalah sebagai berikut.

1. Menjelaskan sejarah kelahiran dan pemikiran para pendiri sosiologi

2. Menjelaskan karakteristik, sifat-hakikat,  dan manfaat sosiologi

3. Menjelaskan objek kajian dan gejala sosial dalam sosiologi

Uraian Materi Sosiologi sebagai Ilmu Pengetahuan - PPPK Sosiologi 1

1. Sejarah Kelahiran dan Pemikiran Para Pendiri Sosiologi

Secara harafiah, sosiologi berasal dari dua kata Bahasa Latin, yaitu socios (masyarakat) dan logos (ilmu), atau secara sederhana berarti ilmu tentang masyarakat. Berger (dalam Kamanto, 2004) mengatakan bahwa pemikiran sosiologi muncul ketika masyarakat menghadapi ancaman terhadap hal-hal yang selama ini dianggap ”sudah seharusnya demikian”, benar, dan nyata. Orang mulai melakukan renungan sosiologis manakala hal-hal yang diyakini tersebut mengalami krisis.

a. Sejarah Kelahiran Sosiologi

Ilmu pengetahuan pada dasarnya bersumber dari filsafat, yang dianggap sebagai induk dari ilmu pengetahuan. Filsafat berkembang dan mempunyai berbagai cabang ilmu pengetahuan. Sesuai dengan perkembangan zaman, masing-masing cabang ilmu pengetahuan kemudian memisahkan diri dan berkembang untuk mencapai tujuannya masing-masing. Pada awalnya, astronomi dan fisika yang memisahkan diri dari filsafat kemudian disusul oleh ilmu pengetahuan lain.

Sosiologi sendiri secara “resmi” memisahkan diri dari filsafat pada abad 19 yang ditandai dengan terbitnya tulisan Auguste Comte. Tulisan yang berjudul Positive Philosophy merupakan awal lahirnya sosiologi sebagai ilmu pengetahuan. Tulisan yang terbit pada tahun 1842 ini mengukuhkan Comte sebagai bapak sosiologi. Lahirnya tulisan Comte pada dasarnya adalah bentuk keprihatinan terhadap kondisi masyarakat Eropa pada saat itu (Soekanto, 1982: 10-12). Pokok perhatian sosiologi di Eropa adalah pada kesejahteraan masyarakat dan perubahan-perubahan yang terjadi di dalam masyarakat.

Perubahan-perubahan yang terjadi di dalam masyarakat dipengaruhi oleh kekuatan sosial. Adapun kekuatan sosial yang berperan dalam perkembangan ilmu sosiologi, antara lain:

1) Revolusi politik

Peristiwa politik yang terjadi di Eropa diawali dengan Revolusi Perancis pada tahun 1789 yang memberikan semangat bagi para pemikir untuk mempelajari perubahan yang terjadi pada masyarakat. Revolusi selain merubah tatanan politik juga membawa dampak yang begitu luar biasa bagi masyarakat. Serangkaian konflik dan peperangan menimbulkan kerugian yang luar biasa bagi masyarakat, terutama di Perancis. Pada saat itulah, para pemikir mencoba merubah tatanan masyarakat yang tercerai berai menjadi lebih kondusif. Para pemikir bahkan secara ekstrim ingin mengembalikan kondisi seperti pada abad pertengahan (Calhoun, 2002: 25). Namun, beberapa pemikir lainnya mencoba mencari celah untuk mencari “tatanan masyarakat masa depan” yang lebih ideal. Perhatian utama para pemikir adalah pada isu “ketertiban sosial” yang kemudian dikenal dengan sebutan sosiologi klasik, dengan pemikir utama Comte dan Durkheim.

2) Revolusi industri dan kemunculan kapitalisme

Selain revolusi politik yang melanda Eropa, revolusi industri juga ikut ambil bagian memberikan warna pada lahirnya sosiologi. Revolusi industri ditandai dengan berubahnya corak produksi negara-negara Eropa yang semula bertumpu pada sektor pertanian berubah pada sektor industri. Revolusi industri muncul sebagai akibat dari lahirnya penemuan baru di bidang teknologi. Salah satu penemuan yang spektakuler adalah kemunculan mesin uap yang ditemukan oleh James Watt. Kapitalisme lahir ditandai dengan penguasaan aset produksi oleh sebagian kecil masyarakat, sedangkan sebagian besar masyarakat hanya dijadikan alat produksi sebagai buruh dengan tingkat keuntungan yang kecil (Ritzer dan Goodman, 2007: 7-10). Kondisi ini memunculkan gerakan buruh yang menuntut kesejahteraan bahkan secara radikal seringkali berubah menjadi “pemberontakan buruh”. Pergolakan ini menjadi bahan kajian bagi para pemikir, antara lain Marx, Weber, Durkheim dan Simmel.

3) Kemunculan sosialisme

Sosialisme dianggap sebagai musuh bebuyutan kapitalisme sehingga dapat dikatakan bahwa upaya penghancuran kapitalisme adalah melalui sosialisme. Marx adalah salah satu pendukung gagasan sosialisme, walaupun Marx tidak secara tegas akan mengambangkan sosialisme, namun dalam banyak tulisannya Marx mengkritik habis-habisan kapitalisme. Walaupun menyadari masalah yang timbul seiring dengan kapitalisme, mereka lebih mengkhawatirkan isu sosialisme yang dibawa oleh Marx. Marx mencita-citakan tatanan masyarakat baru melalui revolusi sosial (gerakan buruh).

4) Feminisme

Feminisme merupakan gerakan perempuan yang menuntut adanya persamaan hak dan keluar dari subordinasi yang dihasilkan oleh sistem sosial masyarakat Eropa. Gerakan buruh, persamaan hak perempuan, penghapusan perbudakan, dan kedudukan perempuan dalam hukum menjadi perhatian utama para aktivis feminisme saat itu.

5) Urbanisasi

Revolusi industri membawa permasalahan sosial baru berupa urbanisasi. Laju perpindahan penduduk dari desa ke kota menjadi sangat mengkhawatirkan demikian pula perubahan desa menjadi kota seiring perubahan sistem produksi. Migrasi desa kota membawa dampak pada penyesuaian pola perilaku masyarakat urban. Serangkaian permasalahan juga timbul ketika desa terkena dampak industrialisasi. Topik ini kemudian semakin berkembang ketika Amerika mulai terkena dampak revolusi industri.

6) Perubahan keagamaan

Kapitalisme tidak dapat lepas dari perubahan-perubahan dalam bidang keagamaan. Weber mencoba menelaahnya melalui tulisan yang berjudul “The Protestan Ethic and The Spirit Capitalism”. Gerakan protestan yang berkembang pesat menjadi salah satu kajian yang menarik bagi sosiolog.

7) Perkembangan ilmu pengetahuan

Lahirnya sosiologi diiringi dengan semakin berkembangnya ilmu pengetahuan. Tidak mengherankan apabila pemikir mencoba menggunakan pendekatan- pendekatan ilmu pengetahuan alam. Namun demikian, perdebatan terjadi ketika para ahli berargumentasi bahwa fenomena sosial tidak sama dengan fenomena alam.

b. Pemikiran Para Pendiri Sosiologi

Dalam bahasan ini akan dikupas sedikit tentang sumbangan pemikiran dari para founding fathers sosiologi, yaitu Auguste Comte, Emile Duekheim, Marx Weber, Karl Marx, dan Herbert Spencer.

1) Auguste Comte

Jika kita lihat dalam sejarah awal munculnya Sosiologi, Comte (1798-1857) pada awalnya bermaksud memberi nama fisika sosial, bagi ilmu yang akan diciptakannya. Namun hal tersebut tidak terwujud dikarenakan istilah fisika sosial telah digunakan oleh Saint Simon terlebih dahulu (Coser, 1977). Sumbangan pemikiran Comte tertuang dalam sebuah karya yang berjudul Course de Philosophie Positive, yang berisi tentang “hukum kemajuan manusia”  atau  “hukum  tiga  tahap  perkembangan  intelektual”.  Comte menyebutkan bahwa sejarah pemikiran manusia melewati tiga tahap yang mendaki, yaitu: teologi, metafisika, dan positif.

Tahap pertama (Teologis), manusia mencoba menjelaskan gejala di sekitarnya dengan merujuk kepada hal-hal adikodrati. Pada tahap ini, bentuk kepercayaan masyarakat primitif berupa kepercayaan kepada roh-roh maupun dewa-dewa yang mengontrol semua gejala alam. Di akhir tahap ini, masyarakat mulai percaya akan Tuhan yang berkuasa penuh atas jagad raya.

Tahap kedua (Metafisik), manusia memahami gejala di sekitarnya dengan mengacu kekuatan-kekuatan metafisik, yaitu hal-hal yang berada di luar jangkauan akal budi manusia) atau hal-hal abstrak.

Tahap ketiga (Positif), merupakan tahap paling tinngi, penjelasan alam maupun sosial dilakukan dengan mengacu pada deskripsi ilmiah atau hukum- hukum ilmiah. Di tahap ini manusia mulai mencari dan menemukan hubungan yang seragam dalam gejala atau fenomena yang ada di sekitarnya. Pengetahuan dijadikan sebagai data empiris. Namun, pengetahuan itu sifatnya sementara dan dinamis sehingga terbuka terhadap pembaharuan.

Gambar 2. Auguste Comte

Sumber: www.listennotes.com

Oleh karena memperkenalkan metode positif, maka Comte dianggap sebagai perintis positivisme. Seperti kita ketahui bahwa ciri dari metode positif ialah bahwa obyek yang dikaji harus berupa fakta, lalu kajian harus bermanfaat serta mengarah ke kepastian dan kecermatan. Menurut Comte, metode yang dapat digunakan untuk melakukan kajian positivistik ialah pengamatan, perbandingan, eksperimen atau metode historis. Hingga saat ini, jika kita lihat

Tahap Positivistik merupakan satu tahap yang kuat dan dipercaya oleh kalangan intelektual sebagai metode yang bersifat ilmiah.

Kita juga melihat sumbangan lainnya adalah pembagian sosiologi ke dalam dua bagian besar, yaitu: Statika Sosial (social statics) yang mewakili stabilitas dan Dinamika Sosial (social dynamics) mewakili perubahan.

2) Emille Durkheim

Emile Durkheim (1858-1917) dipandang sebagai salah satu peletak dan pencetus sosiologi modern. Ia mendirikan fakultas sosiologi pertama di sebuah universitas Eropa pada 1895 dan menerbitkan salah satu jurnal pertama yang diabdikan kepada ilmu sosial, L’Annee Sociologique (1896).

Dalam bukunya tentang The Division of Labor in Society (1893) misalnya, ia mengemukakan bahwa bidang industri modern yang menggunakan mesin, modal dan tenaga kerja, telah mengakibatkan munculnya pembagian kerja dalam bentuk spesialisasi dan pemisahan pekerjaan yang makin terperinci. Tidak hanya di bidang pertanian, pembagian kerja tersebut juga terjadi di sektor perdagangan, politik, hukum, kesenian dan keluarga. Tujuan kajian itu adalah mengetahui faktor penyebab daan memahami fungsi pembagian kerja tersebut.

Gambar 3. Emile Durkheim

Sumber: www.listennotes.com

Dalam pandangan Durkheim, setiap kehidupan masyarakat manusia itu memerlukan solidaritas. Menurutnya, soidaritas dibedakan ke dalam dua hal, yaitu mekanis dan organis. Solidaritas mekanis berjalan atas dasar kepercayaan dan kesetiakawanan yang diikat oleh conscience collective (kesadaran kolektif). Kesadaran kolektif dilandasi oleh hati nurani. Menurut

Durkheim, seiring dengan semakin berkembangnya pembagian kerja terjadi proses diferensiasi dan spesialisasi. Pada gilirannya, solidaritas  mekanis berubah menjadi solidaritas organis. Solidaritas organis ditandai dengan adanya saling ketergantungan karena anggota masyarakat tidak dapat memenuhi kebutuhannya. Suatu sistem terpadu yang terdiri dari bagian- bagian seperti suatu organisme. Solidaritas ini didasarkan pada hukum dan akal. Durkheim menekankan arti penting pembagian kerja dalam masyarakat, karena pembagian kerja itu berfungsi meningkatkan solidaritas. Dengan adanya pembagian kerja itu, maka solidaritas akan meningkat, karena setiap bagian tergantung satu sama lain.

Dalam buku Rules of Sociological Method, (1895) Durkheim menyatakan bahwa sosiologi harus mempelajari fakta-fakta sosial. Fakta sosial berisi cara bertindak, berpikir dan merasakan yang mengendalikan individu tersebut. Bentuk fakta sosial antara lain hukum, kepercayaan, adat istiadat, cara berpakaian, atau kaidah ekonomi. Segala bentuk kelanggaran atas hal-hal tersebut akan diberi sanksi.

3) Max Weber

Max Weber (1864-1920) adalah seorang sosiolog Jerman banyak memberikan perhatian kepada manusia yang bertindak. Dikatakannya, bahwa kesatuan dari kehidupan manusia itu adalah tindakan sosial. Tindakan pada pikiran dan kemauan manusia itu sendiri. Yang seharusnya digunakan untuk memahami dan menjelaskan kehidupan masyarakat adalah diri manusia dan tipe-tipe perilaku sosial. Berdasar pada pendekatan tersebut, sosiologi akan menjadi ilmu yang mempelajari tentang pemahaman interpretatif (verstehen) mengenai tindakan sosial manusia.

Gambar 4. Max Weber

Sumber: www.thoughtco com

Weber juga berbicara tentang Tindakan Rasional. Menurut dia, tindakan rasional itu dikategorikan menjadi empat, yaitu tindakan Rasional Instrumental, Tindakan Rasional Nilai, Tindakan Afektif dan Tindakan Tradisional.

a) Tindakan rasional instrumental adalah tindakan yang berdasarkan pada pertimbangan dan pilihan yang sadar dalam kaitannya dengan tujuan suatu tindakan dan alat yang dipakai untuk meraih tujuan. contoh transaksi di pasar, bekerja di kantor, dll.

b) Tindakan rasional berorientasi nilai yaitu tindakan untuk meraih tujuan dalam hubungan dengan nilai absolut bagi individu, yang dipertimbangkan secara sadar. Contoh: memberi bantuan kemanusiaan, mencari nafkah untuk keluarga, dll.

c) Tindakan afektif, yaitu tindakan yang didominasi oleh perasaan tanpa refleksi intelektual atau perencanaan yang sadar. Contoh: tindakan yang didasari perasaan marah, takut, gembira, sedih, atau cinta.

d) Tindakan tradisional, yaitu tindakan dikarenakan kebiasaan tanpa refleksi dan perencanaan yang sadar. Contoh tindakan yang berkaitan nilai-nilai budaya tertentu atau adat-istiadat yang dilakukan secara turun- temurun.

4) Karl Marx

Karl Marx (1818-1881) lebih dikenal sebagai seorang tokoh sejarah ekonomi, filsafat dan aktivis yang mengembangkan teori sosialisme. Dalam perkembanganya, gagasan-gagasan Marx berkembang menjadi ideologi dikenal dengan istilah Marxisme.. Sumbangan Marx terhadap ilmu sosiologi terletak pada teori kelas. Dalam melihat dunia, Marx berpandangan bahwa sejarah umat manusia merupakan sejarah perjuangan kelas. Menurutnya, perkembangan pembagian kerja dalam kapitalisme menumbuhkan dua kelas yang berbeda. Kelas pertama, yaitu borjuis, adalah mereka yang menguasai alat produksi dan mengeksploitasi mereka yang tidak memiliki alat produksi. Mereka yang tidak memiliki alat produksi, hanya memiliki tenaga fisik, dan dieksploitasi, adalah kelas proletar.

Menurut Marx, suatu saat nanti kelas proletar akan menyadari kepentingan bersama mereka, lalu memberontak. Terjadi konflik antar kelas, atau disebutnya dengan perjuangan kelas. Dalam konflik tersebut, borjuis akan mengalami kekalahan. Setelah meraih kemenangan dalam perjuangannya, proletar diramalkan akan mendirikan suatu masyarakat tanpa kelas. Oleh sementara kalangan, pendekatan sosiologis Marx disebut sebagai pendekatan konflik. Meski ramalan Marx tidak pernah terwujud, namun pemikirannya tentang stratifikasi sosial dan konflik berpengaruh besar terhadap sejumlah pemikiran ahli sosiologi. Marx dalam analisisnya lebih menekankan pada perubahan sosial besar yang melanda Eropa Barat sebagai dampak dari pembagian kerja, khususnya yang terkait dengan perkembangan kapitalisme.

Gambar 5. Karl Marx

Sumber: www.britannica com

Seperti kita ketahui konsep Marx tentang perjuangan kelas hingga saat ini masih relevan dan hal tersebut dapat dilihat dengan adanya konflik kepentingan antara buruh (proletar) dan pemilik modal (borjuis) yang hampir dapat dikatakan selalu bertentangan. Ketegangan tersebut bisa kita lihat, bagaimana kelompok elit ingin mempertahankan kepentingan dan mengembangkan modal (dengan cara berproduksi menggunakan modal sekecil mungkin modalnya), di lain pihak, kelompok masyarakat bawah memperjuangkan kepentingan untuk meingkatkan kesejahteraan.

5) Herbert Spencer

Herbert Spencer (1820-1903) adalah sosiolog asal Inggris. Perhatian utama Spencer adalah melacak  atau menemukan proses evolusi sosial melalui masyarakat secara historis dan sosiologis. Spencer memandang masyarakat sebagai suatu kesatuan dan perkembangan yang utuh dengan hubungan- hubungan fungsional dan menopang dalam organisme biologis. Dalam hal ini, Spencer merupakan seorang pelopor dari paham fungsionalis strukturalis kontemporer.

Proses evolusi masyarakat berawal dari perorangan bergabung menjadi keluarga, keluarga bergabung menjadi kelompok, kelompok bergabung menjadi desa, desa menjadi kota, kota menjadi negara, negara menjadi perserikatan bangsa- bangsa.

Gambar 6. Herbert Spencer

Sumber: www.quotesgram com

Dalam bukunya yang berjudul First Principles (1862) ia mengatakan bahwa kita harus bertitik tolak dari The low of the persistence of force yaitu prinsip ketahanan kekuatan. Artinya siapa yang kuat dialah yang menang dalam masyarakat. Teori Spencer mengenai evolusi masyarakat merupakan bagian dari teorinya yang lebih umum mengenai evolusi seluruh jagat raya.

Spencer membedakan empat tahap evolusi masyarakat:

a) Tahap penggandaan atau pertambahan Baik tiap-tiap makhluk individual maupun tiap-tiap orde sosial dalam keseluruhannya selalu bertumbuh dan bertambah.

b) Tahap  kompleksifikasi.  Salah  satu  akibat  proses  pertambahan  adalah

makin rumitnya struktur organisme yang bersangkutan. Struktur keorganisasian makin lama makin kompleks.

c) Tahap pembagian atau diferensiasi. Evolusi masyarakat juga menonjolkan pembagian tugas atau fungsi, yang semakin berbeda-beda. Pembagian kerja menghasilkan pelapisan sosial (stratifikasi). Masyarakat menjadi terbagi kedalam kelas-kelas sosial.

d) Tahap pengintegrasian. Dengan mengingat bahwa proses diferensiasi mengakibatkan bahaya perpecahan, maka kecenderungan negatif ini perlu dibendung dan diimbangi oleh proses yang mempersatukan.

Pada tahun 1850 Herbert Spencer mengenalkan Survival of The Fittest dalam buku Social Static, dia yakin bahwa kekuatan hidup manusia adalah sarana untuk menghadapi ujian hidup serta menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan sosial maupun fisik. Seleksi alam ‘yang kuatlah yang menang’ menjadi prasyarat manusia menuju puncak kesempurnaan dan kebahagiaan. Spencer menerima pandangan ini karena ia merupakan seorang darwinis sosial. Jadi jika tidak dihambat oleh intervensi eksternal, orang yang kuat akan bertahan hidup dan berkembang biak, sementara yang lemah pada akhirnya akan punah. Konsep ini juga diistilahkan dengan Darwinisme Sosial.

2. Karakteristik, Sifat-Hakikat, dan Manfaat Sosiologi

a. Definisi Sosiologi

Apa yang dimaksud dengan Sosiologi? Berikut ini definisi Sosiologi menurut beberapa ahli (Soekanto, 2006: 17-18): Menurut Pitirim Sorokin, Sosiologi adalah suatu ilmu yang mempelajari:1) Hubungan dan pengaruh timbal balik antara aneka macam gejala-gejala sosial (agama dan ekonomi, keluarga dan moral, huku dan ekonomi, gerak masyarakat dengan politik);

2) Hubungan dan pengaruh timbal balik antara gejala sosial dengan gejala nonsosial (geografi, biologis dan sebagainya); 3) Ciri-ciri umum semua jenis gejala-gejala sosial.

Roucek dan Warren mengemukakan bahwa Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan antarmanusia dalam kelompok-kelompok. Social.

J.A.A van Doorn dan C.J. Lammers mengemukakan bahwa sosiologi adalah ilmu pengetahuan tentang struktur-struktur dan proses-proses kemasyarakatan yang bersifat stabil. Selo Soemardjan dan Soelaeman Soemardi mengatakan bahwa sosiologi adalah ilmu yang mempelajari struktur sosial dan proses sosial termasuk di dalamnya adalah perubahan- perubahan sosial.

b. Karakteristik Sosiologi

Bagaimana membedakan sosiologi dengan ilmu lainnya yang tergabung dalam ilmu-ilmu sosial? Sosiologi jelas merupakan ilmu sosial yang obyeknya adalah masyarakat. Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang berdiri sendiri karena telah memenuhi segenap unsur-unsur ilmu pengetahuan, yang ciri-ciri utamanya (Soekanto, 2006: 14) adalah:

Sosiologi bersifat empiris yang artinya bahwa ilmu pengetahuan tersebut didasarkan pada observasi (pengamatan) terhadap kenyataan dan akal sehat serta tidak bersifat spekulatif.

Sosiologi bersifat teoritis, yaitu ilmu pengetahuan tersebut selalu berusaha untuk menyusun abstraksi dari hasil observasi. Abstraksi tersebut merupakan kerangka unsur-unsur yang tersusun secara logis serta bertujuan untuk menjelaskan hubungan-hubungan sebab-akibat, sehingga tersusun menjadi sebuah teori

Sosiologi bersifat kumulatif yang berarti bahwa teori-teori sosiologi dibentuk atas dasar teori-teori yang sudah ada dalam arti memperbaiki, memperluas serta memperhalus teori-teori lama

Sosiologi itu bersifat nonetis, artinya yang dipersoalkan bukanlah baik- buruknya fakta tertentu, tetapi tujuannya adalah untuk menjelaskan fakta tersebut secara analitis.

c. Sifat  dan Hakikat Sosiologi

Jika dilihat dari sudut sifat dan hakikatnya, maka sosiologi meliputi hal-hal sebagai berikut (Soekanto, 1984):

1) Sosiologi merupakan suatu ilmu sosial, dan bukan ilmu pengetahuan alam atau pun ilmu pengetahuan kerohanian

2) Sosiologi bukan merupakan disiplin yang normatif, akan tetapi merupakan suatu displin yang kategoris, artinya sosiologi membatasi diri pada apa yang terjadi dewasa ini dan bukan mengenai apa yang terjadi atau seharusnya terjadi

3) Sosiologi adalah ilmu pengetahuan yang murni (pure science) dan bukan merupakan ilmu pengetahuan terapan atau terpakai (applied science)

4) Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang bersifat abstrak dan bukan merupakan ilmu pengetahuan yang kongkrit

5) Sosiologi mempunyai tujuan menghasilkan pengertian-pengertian dan pola-pola umum

6) Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang empiris dan rasional

7) Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang umum dan bukan merupakan ilmu pengetahuan yang bersifat khusus.

Sosiologi pada hakikatnya bukanlah semata-mata ilmu murni (pure science) yang hanya mengembangkan ilmu pengetahuan secara abstrak demi usaha peningkatan kualitas ilmu itu sendiri, namun sosiologi bisa juga menjadi ilmu terapan (applied science) yang menyajikan cara-cara untuk mempergunakan pengetahuan ilmiahnya guna memecahkan masalah- masalah sosial yang perlu solusi (Horton dan Hunt, 1992).

d. Manfaat Sosiologi

Memasuki abad ke-20, perkembangan sosiologi makin variatif bidang studi yang menjadi fokusnya. Saat ini perkembangan sosiologi semakin diakui oleh banyak pihak telah memberikan sumbangan yang sangat Bidang- bidang kajian sosiologi juga terus berkembang makin variatif dan telah menembus batas-batas disiplin ilmu lain. Sejumlah bidang sosiologi saat ini telah lahir dan berkembang serta dikenal oleh masyarakat. Beberapa di antaranya adalah sosiologi terapan, perilaku kelompok, sosiologi budaya, perilaku menyimpang, sosiologi industri, sosiologi kesehatan, sosiologi korupsi, dan sosiologi media, hukum dan masyarakat atau sosiologi hukum, sosiologi politik, sosiologi militer,  sosiologi pendidikan, perubahan sosial, sosiologi perkotaan, sosiologi pedesaan, sosiologi agama dan sebagainya (Suyanto, 2006: 8). Di masa-masa mendatang, seiring dengan perkembangan masyarakat yang makin kompleks, akan bisa diprediksi bahwa perkembangan sosiologi juga akan makin beragam dan semakin penting peran dan posisinya.

Dalam bidang pembangunan, sosiologi sebagai suatu ilmu memiliki fungsi dan berkontribusi dalam hal:

1) Penelitian sosial; Kelebihan sosiologi sebagai ilmu sosial adalah kemampuan riset yang memadai. Riset ini bertujuan melihat gejala- gejala dan fakta-fakta sosial  secara empiris dan objektif, untuk pengambilan suatu langkah untuk mengatasi permasalahan.

2) Perencanaan sosial; Sosiologi dapat digunakan untuk pemetaan sosial masyarakat yang digunakan sebagai dasar suatu lembaga atau instansi dalam membuat kebijakan atau perencanaan sosial. yang berdampak luas.

3) Pembangunan sosial, yaitu untuk meningkatkan kualitas masyarakat dari sisi sosial dan budaya, termasuk di dalamnya aspek struktur sosial (institusi, aturan), budaya (nilai, norma, ideologi), dan proses sosial (interaksi, negosiasi).

3. Objek Kajian dan Gejala Sosial

a. Objek Kajian Sosiologi

Seperti halnya dengan ilmu pengetahuan lainnya yang mempunyai obyek sebagai kajian, maka sosiologi pun juga mempunyai obyek sebagai kajian. Obyek sosiologi adalah masyarakat yang dilihat dari sudut hubungan antarmanusia dan proses yang timbul dari hubungan manusia di dalam masyarakat (Soekanto, 2006: 22).

Masyarakat adalah suatu kelompok manusia yang hidup secara bersama- sama di suatu wilayah dan membentuk sebuah sistem, baik semi terbuka maupun semi tertutup, dimana interaksi yang terjadi di dalamnya adalah antara individu-individu yang ada di kelompok tersebut.

Adapun masyarakat itu sendiri pada dasarnya dapat dicirikan dengan beberapa hal sebagai berikut:

1) Masyarakat nerupakan manusia yang hidup bersama

2) Bercampur atau tinggal untuk waktu yang cukup lama

3) Mereka sadar bahwa mereka merupakan suatu kesatuan

4) Mereka merupakan suatu sistem hidup bersama.

Orang yang pertama kali mengemukakan istilah sosiologi adalah Auguste Comte menyebutkan bahwa ilmu yang mempelajari masyarakat adalah sosiologi. Sosiologi mempelajari social static dan social dynamic dari masyarakat. Social static analog dengan struktur sosial, sedangkan social dynamic analog dengan interaksi social (perubahan sosial).

Menurut Durkheim (dalam Ritzer, 2012: 53-58), sosiologi adalah ilmu yang secara ilmiah mengkaji fakta sosial. Dalam kehidupan sehari-hari ada kekuatan di luar kita yang memaksa kita untuk mematuhinya. Kekuatan itulah yang oleh Durkheim disebut dengan fakta sosial. Fakta sosial tidak hanya bersifat material, seperti arsitektur, birokrasi, dan hukum. Namun, juga mengkaji aspek nonmaterial, seperti agama dan norma-norma sosial. Dalam pandangan Durkheim, segala peristiwa sosial hanya bisa dijelaskan melalui fakta social.

Menurut Weber, sosiologi  adalah  ilmu  yang berhubungan dengan pemahaman interpretatif terhadap tindakan sosial. Tidak semua tindakan yang dilakukan individu dikategorikan sebagai tindakan sosial. Menurut Weber, tindakan sosial adalah tindakan yang dilakukan oleh seseorang yang diorientasikan kepada orang lain dan tindakan tersebut mempunyai makna subjektif. Weber menawarkan metode verstehen, yaitu metode (cara) untuk mengumpulkan data atau informasi yang berhubungan dengan tindakan sosial (Ritzer, 2012: 46).

Menurut Herbert Mead, sosiologi memfokuskan pada kajian interaksi sosial yang menggunakan simbol-simbol yang memiliki makna. Simbol merupakan sesuatu yang nilai atau maknanya diberikan oleh orang yang mempergunakan simbol itu. Interaksi sosial tidak lain adalah saling menafsirkan nilai atau makna dari masing-masing simbol. Herbert Blumer juga memfokuskan pada interaksi sosial. Menurut Blumer (Ritzer, 2012: 96- 98), bahwa manusia bertindak (act) terhadap sesuatu (thing) atas dasar

makna (meaning) yang dipunyai sesuatu tersebut baginya. Makna yang dipunyai sesuatu berasal atau muncul dari interaksi sosial.

Peter L. Berger (1985) juga mengungkapkan bahwa produk dari sosiologi adalah para pemikir yang senantiasa peka dan kritis terhadap realitas sosial. Realitas merupakan potret kehidupan masyarakat yang benar- benar terjadi di lingkungan sosial dan biasanya justru berlawanan dengan apa yang digambarkan sebagai dalam berbagai narasi sebagai masyarakat yang ideal.

b. Gejala Sosial

Gejala sosial (social symptom) menjadi salah satu bahasan penting dalam ilmu sosial, khususnya di dalam ilmu sosiologi. Gejala sosial bahkan menjadi objek kajian sosiologi. Selain menjadi objek kajian, gejala sosial dipengaruhi pula dengan pergerakan yang ada dalam masyarakat yang bergerak dinamis dan berubah-ubah.

Gejala sosial adalah hasil interaksi sosial antarmanusia dalam masyarakat. Gejala sosial dapat sesuai harapan masyarakat dan tidak sèsuai harapan masyarakat. Oleh karena itu, setiap gejala sosial dapat berdampak positif atau negatif bagi masyarakat.

Pitirim A. Sorokin. Menurutnya, definisi gejala sosial adalah hubungan timbal balik gejala sosial dan gejala nonsosial yang terjadi karena hubungan yang ada di dalam masyarakat. Gejala sosial ini menurutnya terbagi menjadi 4, yaitu gejala ekonomi, gejala agama, gejala keluarga, dan gejala moral.

1) Faktor Penyebab Gejala Sosial

Faktor penyebab gejala sosial dalam masyarakat dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu gejala sosial akibat pengaruh heterogenitas sosial, penyimpangan sosial, dan perubahan sosial. Faktor penyebab tersebut penjelasannya adalah sebagai berikut.

a) Heterogenitas Sosial

Masyarakat Indonesia dikenal sebagai masyarakat heterogen. Heterogenitas dalam masyarakat ditandai adanya perbedaan, balk secara

horizontal maupun vertikal. Oleh karena itu, muncul gejala sosial seperti stratifikasi sosial dan diferensiasi sosial. Sebagai contoh gejala sosial akibat pengaruh heterogenitas sosial adalah tentang ras, agama, suku bangsa, dan profesi.

b) Penyimpangan Sosial

Penyimpangan sosial merupakan perbuatan yang melanggar aturan dan norma sosial dalam masyarakat. Penyimpangan sosial dapat memunculkan berbagal gejala sosial di antaranya pergeseran peran, kenakalan remaja, kriminalitas, dan penyimpangan seksual.

c) Perubahan SosiaI

Perubahan sosial dalam masyarakat berkaitan dengan perubahan perilaku, nilai, dan norma yang menjadi pedoman masyarakat. OIeh karena itu, muncul gejala sosial dalam masyarakat seperti globalisasi, western isasi, modernisasi, hedonisme, culture shock, culture lag, konsumerisme, industrialisasi, dan dekadensi moral.

d) Faktor Kultural dan Faktor Struktural

Faktor kultural adalah nilai yang tumbuh dan berkembang dalam lingkungan masyarakat atau komunitas. Beberapa contoh gejala sosial menurut faktor kultural antara lain kemiskinan, gotong royong. Sedangkan faktor struktural adalah sebuah keadaan yang menjadi pengaruh struktur yang disusun oleh pola tertentu. Faktor ini dapat dilihat dari pola hubungan sesama individu dan kelompoknya terjalin dalam lingkungan masyarakat. Contoh gejala sosial yang dipengaruhi oleh faktor struktural antara lain seperti penyuluhan sosial, interaksi sesama individu dan lain sebagainya.

2) Dampak Gejala Sosial

Gejala sosial yang terjadi dalam masyarakat dapat berdampak positif dan negatif. Dampak tersebut bergantung pada sikap masyarakat dalam menghadapinya. Secara umum, gejala sosial dalam masyarakat menimbulkan dampak negatif. Penjelasan mengenai dampak negatif dalam gelaja sosial adalah sebagai berikut:

a) Terjadi ketidakteraturan sosial dalam masyarakat.

b) Penyimpangan sosial semakin meningkat.

c) Terjadi kerusakan lingkungan alam.

d) Terjadi masalah kependudukan.

e) Konflik sosial meningkat.

f) Dekadensi moral.

Adapun  dampak  positif  yang  ada  di  dalam  gejala  sosial  masyarakat sebagai berikut;

a) Kualitas pendidikan masyarakat meningkat.

b) Masyarakat semakin maju dan produktif.

c) Timbulnya rasa toleransi.

d) Kesetaraan gender.

Contoh mengenai gelaja sosial yang terjadi dalam masyarakat, misalnya saja adalah perkembangan teknologi yang semakin maju pada akhirnya mampu mengubah cara berkomunikasi masyarakat. Sebagai contohnya di dalam masyarakat cenderung menggunakan telepon seluler dan media sosial untuk menghubungi kerabat dekat walaupun jarak yang harus ditempuh relatif dekat. Kondisi tersebut terjadi karena hampir setiàp orang memiliki telepon seluler dan media sosial. Hal ini menjadi sebuah tanda bahwa masyarakat telah mengalami perubahan sosial. Perubahan tersebut dapat berdampak positif dan negatif. Dampak positif perubahan tersebut yaitu mempermudah manusia menjalin komunikasi dengan orang lain di tempat yang jauh. Sedangkan dampak negatifnya adalah dapat mengurangi interaksi sosial antarmanusia secara langsung sehingga bisa mengikis rasa kemanusiaan, menjadi introvert, bahkan asosial.

3) Jenis-Jenis Gejala Sosial

Pada dasarnya gejala sosial terjadi pada semua bidang kehidupan masyarakat. Berikut ini adalah beberapa jenis gejala sosial yang sering terjadi:

a) Gejala Ekonomi

Status sosial dan ketimpangan penghasilan setiap anggota masyarakat dapat menimbulkan gejala sosial di dalam masyarakat. Contoh gejala sosial di bidang ekonomi; kemiskinan, pengangguran, kriminalitas, dan lain-lain

b) Gejala Budaya

Perbedaan kebudayaan antarsuku tersebut bisa saja mengakibatkan terjadinya perpecahan bila antarsuku tidak saling menghormati. Globalisasi juga turut andil dalam menimbulkan gejala sosial. Kebudayaan asing yang negatif akan berdampak buruk bagi kebudayaan lokal, misalnya gaya hidup, ideologi, dan lain-lain.

c) Gejala Lingkungan Alam

Apa yang terjadi pada lingkungan alam manusia akan berdampak bagi manusia itu sendiri. Gejala yang timbul bisa disebabkan oleh alam dan juga disebabkan oleh ulah manusia yang menyebabkan kerusakan lingkungan alam. Sebagai contoh, kebiasaan membuang sampah sembarangan dapat menimbulkan masalah lingkungan.

d) Gejala Psikologis

Aspek psikologi seseorang akan mempengaruhi tingkah laku orang tersebut di dalam masyarakat. Tekanan jiwa, depresi, stres, atau bahkan gangguan jiwa yang terjadi pada diri seseorang akan menyebabkan gejala sosial di dalam masyarakat.

4) Fungsi sosiologi untuk mengenali gejala sosial

Gejala sosial dapat dikenali dengan mengkajinya menggunakan ilmu sosiologi. Fungsi sosiologi dalam mengenali gejala sosial dapat dilakukan dengan penelitian sosial. Untuk menjelaskan gejala sosial secara logis dan ilmiah dapat dilakukan lewat penelitian sosial yang bertujuan untuk memecahkan masalah sosial. Sosiologi dapat digunakan untuk memahami berbagai berbagai gejala sosial di masyarakat:

(1) Sosiologi   mampu   memahami   kode,   simbol  dan   istilah   yang digunakan masyarakat sebagai objek penelitian empiris.

(2) Sosiologi memahami pola-pola tingkah laku di masyarakat.

(3) Sosiologi  mampu mempertimbangkan  berbagai  fenomena sosial yang muncul di masyarakat.

(4) Sosiologi mampu melihat berbagai kecenderungan arah perubahan pola tingkah laku yang disebabkan faktor-faktor tertentu.

(5) Sosiologi  berhati-hati  dalam  menjaga  pemikiran  yang  rasional sehingga tidak terjebak dalam pola pikir yang irasional dan subjektif.

Rangkuman

Sejarah kelahiran sosiologi pada awal abad  ke-18 dipengaruhi oleh perubahan-perubahan yang terjadi di dalam masyarakat dipengaruhi oleh kekuatan sosial. Adapun kekuatan sosial yang berperan dalam perkembangan ilmu sosiologi saat itu, antara lain: revolusi politik, revolusi industri dan kemunculan kapitalisme, kemunculan sosialisme, gerakan feminism, terjadinya urbanisasi besar-besaran, perubahan keagamaan, dan perkembangan ilmu pengetahuan.

Sumbangan pemikiran dari para founding fathers sosiologi, yaitu Auguste Comte, Emile Durkheim, Marx Weber, Karl Marx, dan Herbert Spencer, merupakan sebuah grand theory yang hingga saat ini masih menjadi pijakan teori-teori baru dalam perkembangan sosiologi. Auguste Comte mencetuskan pemikiran tentang “hukum kemajuan manusia” atau “hukum tiga tahap perkembangan intelektual”. Comte menyebutkan bahwa sejarah pemikiran manusia melewati tiga tahap yang mendaki, yaitu: teologi, metafisika, dan positif. Comte juga membagi sosiologi ke dalam dua bagian besar, yaitu: Statika Sosial (social statics) yang mewakili stabilitas dan Dinamika Sosial (social dynamics) mewakili perubahan.

Emile Durkheim mengemukakan bahwa setiap kehidupan masyarakat manusia itu memerlukan solidaritas. Menurutnya, soidaritas dibedakan ke dalam dua hal, yaitu mekanis dan organis. Solidaritas mekanis berjalan atas dasar kepercayaan dan kesetiakawanan yang diikat oleh conscience collective (kesadaran kolektif). Solidaritas organis ditandai dengan adanya saling ketergantungan karena anggota masyarakat tidak dapat memenuhi kebutuhannya.  lain.  Dalam   buku   Rules   of   Sociological   Method, (1895) Durkheim menyatakan bahwa sosiologi harus mempelajari fakta-fakta sosial. Fakta sosial berisi cara bertindak, berpikir dan merasakan yang mengendalikan individu tersebut. Bentuk fakta sosial antara lain hukum, kepercayaan, adat istiadat, cara berpakaian, atau kaidah ekonomi. Segala bentuk kelanggaran atas hal-hal tersebut akan diberi sanksi.

Max Weber mengatakan bahwa sosiologi akan menjadi ilmu yang mempelajari tentang pemahaman interpretatif (verstehen) mengenai tindakan

sosial manusia. Weber juga berbicara tentang Tindakan Rasional. Menurut dia, tindakan rasional itu dikategorikan menjadi empat, yaitu tindakan Rasional Instrumental, Tindakan Rasional Nilai, Tindakan Afektif dan Tindakan Tradisional.

Karl Marx berpandangan bahwa sejarah umat manusia merupakan sejarah perjuangan kelas. Menurutnya, perkembangan pembagian kerja dalam kapitalisme menumbuhkan dua kelas yang berbeda. Kelas pertama, yaitu borjuis,yang menguasai alat produksi dan mengeksploitasi mereka yang tidak memiliki alat produksi (proletar).

Herbert Spencer menemukan proses evolusi sosial melalui masyarakat secara historis dan sosiologis. Survival of The Fittest menyebutkan bahwa seleksi alam menjadi prasyarat manusia menuju puncak kesempurnaan dan kebahagiaan. Spencer menerima pandangan ini karena ia merupakan seorang darwinis sosial, oleh karena itu konsep ini juga diistilahkan dengan Darwinisme Sosial.

Sosiologi merupakan ilmu sosial yang obyeknya adalah masyarakat. Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang berdiri sendiri karena telah memenuhi segenap unsur-unsur ilmu pengetahuan, yang memiliki karakteristik empiris, teoritis, kumulatif, dan nonetis.

Sosiologi pada hakikatnya bukanlah semata-mata ilmu murni (pure science) yang hanya mengembangkan ilmu pengetahuan secara abstrak demi usaha peningkatan kualitas ilmu itu sendiri, namun sosiologi bisa juga menjadi ilmu terapan (applied science) yang menyajikan cara-cara untuk mempergunakan pengetahuan ilmiahnya guna memecahkan masalah-masalah sosial yang perlu solusi

Saat ini perkembangan sosiologi semakin mantap kehadirannya dan diakui oleh banyak pihak telah memberikan sumbangan yang sangat penting bagi usaha pembangunan dan kehidupan sehari-hari masyarakat, antara lain dalam hal penelitian sosial, perencanaan sosial, dan pembangunan sosial,

Obyek kajian sosiologi adalah masyarakat yang dilihat dari sudut hubungan antarmanusia dan proses yang timbul dari hubungan manusia di dalam masyarakat. Comte menyebutkan bahwa sosiologi mempelajari social static dan social dynamic dari masyarakat. Durkheim menyebutkan bahwa sosiologi mengkaji fakta sosial. Weber berpendapat bahwa sosiologi mengkaji pemahaman interpretatif terhadap tindakan sosial. Mead nenyatakan sosiologi memfokuskan pada kajian interaksi sosial yang menggunakan simbol-simbol yang memiliki makna. Sedangkan Berger menyampaikan sosiologi adalah ilmuyang mengkaji realitas sosial.

Gejala sosial (social symptom) adalah hasil interaksi sosial antarmanusia dalam masyarakat. Gejala sosial dapat sesuai harapan masyarakat dan tidak sèsuai harapan masyarakat. Oleh karena itu, setiap gejala sosial dapat berdampak positif atau negatif bagi masyarakat. Gejala sosial ini menurutnya terbagi menjadi 4, yaitu gejala ekonomi, gejala agama, gejala keluarga, dan gejala moral.

Faktor penyebab gejala sosial dalam masyarakat dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu gejala sosial akibat pengaruh heterogenitas sosial, penyimpangan sosial, dan perubahan sosial. Faktor penyebab tersebut penjelasannya adalah sebagai berikut.

Gejala sosial yang terjadi dalam masyarakat dapat berdampak positif dan negatif. Dampak negatif dalam gelaja sosial adalah sebagai berikut: 1) Terjadi ketidakteraturan sosial dalam masyarakat; 2) Penyimpangan sosial semakin meningkat. 3) Terjadi kerusakan lingkungan alam; 4) Terjadi masalah kependudukan; 5) Konflik sosial meningkat; dan 6) Dekadensi moral. Sedangkan dampak positif yang ada di dalam gejala sosial meliputi: 1) Kualitas pendidikan masyarakat meningkat; 2) Masyarakat semakin maju dan produktif.; 3) Timbulnya rasa toleransi; dan 4) Kesetaraan gender.

Gejala sosial dapat dikenali dengan mengkajinya menggunakan ilmu sosiologi. Fungsi sosiologi dalam mengenali gejala sosial dapat dilakukan dengan penelitian sosial. Untuk menjelaskan gejala sosial secara logis dan ilmiah dapat dilakukan lewat penelitian sosial yang bertujuan untuk memecahkan masalah sosial. Sosiologi dapat digunakan untuk memahami berbagai berbagai gejala sosial di masyarakat:

Posting Komentar untuk "Sosiologi sebagai Ilmu Pengetahuan - PPPK Sosiologi 1"