Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Semantik dan Wacana - Modul 2 PPPK Bahasa Indonesia

Semantik dan Wacana - Modul 2 PPPK Bahasa Indonesia hasriani.com


Semantik dan Wacana - Modul 2 PPPK Bahasa Indonesia - Penjabaran model kompetensi yang dikembangkan pada kompetensi guru bidang studi lebih spesifik pada pembelajaran 2. Semantik, ada beberapa kompetensi guru bidang studi yang akan dicapai pada pembelajaran ini, kompetensi yang akan dicapai pada pembelajaran ini adalah guru P3K mampu

1. memahami  berbagai  jenis  makna,  hubungan  bentuk  dan  makna,  seperti sinonim, antonim, homonim, dan polisemi;

2. menjelaskan perubahan makna

Dalam rangka mencapai komptensi guru bidang studi, maka dikembangkanlah indikator-indikator yang sesuai dengan tuntutan kompetensi guru bidang studi.

Indikator  pencapaian  komptensi  yang  akan  dicapai  dalam  pembelajaran  2. Semantik Wacana adalah sebagai berikut.

1. menjelaskan jenis-jenis makna,

2. menjelaskan hubungan bentuk dan makna.

3. Peserta mampu mendiskripsikan perubahan makna,

4. Peserta mampu mendeskripsikan jenis-jenis perubahan makna

Hubungan Bentuk dan Makna

a. Jenis Makna

Sebelum membahas terkait dengan jenis-jenis makna, mari kita pahami dahulu apa yang disebut dengan makna. Pada bagian pendahuluan di atas sudah dijelaskan bahwa objek kajian semantik adalah makna. 

Bentuk-bentuk kebahasaaan akan berhubungan dengan makna yang dimilikinya. Bapak linguistik modern, Ferdinand de Saussure mengatakan bahwa setiap tanda linguistik terdiri dari dua unsur, yaitu signifie dan signifiant. 

Signifie mengacu pada konsep atau makna dari suatu tanda bunyi, sedangkan signifiant mengacu pada bunyi-bunyi yang terbentuk dari fonem-fonem dalam bahasa yang bersangkutan. Oleh karena itu, setiap bentuk kebahasaan terdiri dari dua unsur, yaitu bentuk dan makna. Bentuk berupa elemen fisik sebuah tuturan.

Bentuk mempunyai tataran dari mulai yang terkecil hingga terbesar, yaitu dimulai dari fonem, morfem, kata, frasa, klausa, kalimat, paragraf, dan wacana. Berbagai bentuk kebahasaan tersebut ada yang memiliki konsep yang bersifat mental yang disebut sebagai makna. Lebih lanjut, Saussure mengatakan bahwa hubungan bentuk dan makna bersifat arbitrer dan konvensional.

Bahasa bersifat arbitrer artinya semaunya/sesukanya. Tidak ada hubungan yang wajib antara bentuk dan makna. Bahasa bersifat arbitrer menunjukkan bahwa tidak ada hubungan klausal, logis, alamiah atau sejarah. Bahasa bersifat konvensional menunjukkan adanya kesepakatan bersama antarpenutur. Ini menunjukkan bahwa bahasa sebagai alat komunikasi juga diatur dalam konvensi tertentu.

Bentuk kebahasaan berhubungan dengan konsep dalam pikiran manusia yang dikenal dengan istilah makna. Konsep seperti ini umumnya berhubungan dengan sesuatu di luar bahasa yang biasa disebut dengan referen. 

Makna tersebut terdapat dalam satuan bahasa seperti morfem, kata, frasa, klausa, kalimat, paragraf hingga wacana. Untuk memahami lebih jauh tentang makna coba kita cermati kata rawan. Ketika kita tidak tahu apa makna rawan, maka kita akan mencari makna kata tersebut dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia yang memiliki makna ‘mudah menimbulkan gangguan keamanan atau bahaya’. 

Dari makna tersebut, kita juga harus mengetahui makna mudah, menimbulkan, gangguan, keamanan, atau, dan bahaya. Dengan demikian, bentuk-bentuk kebahasaan, seperti morfem, kata, frasa, klausa, kalimat, paragraf, dan wacana memiliki konsep yang disebut dengan makna. Makna adalah konsep abstrak pengalaman manusia tentang sesuatu, tetapi makna bukan pengalaman setiap individu (Wijana dan Rohmadi, 2008: 11). Makna digunakan sebagai penghubung bahasa dengan dunia luar sesuai dengan kesepakatan penutur bahasa sehingga antarindividu dapat saling mengerti (Djayasudarma, 2012: 7).

Setelah Anda mengerti tentang konsep makna, mari kita lanjutkan pembahasan kita tentang jenis-jenis makna. Sebelum kita membahas panjang lebar mengenai jenis-jenis makna, mari kita perhatikan kalimat berikut.

(1) Dokter akan melakukan operasi tangan pasien pagi ini.

(2) TNI akan menggelar operasi di wilayah perbatasan.

Kata operasi pada kalimat pertama bermakna ‘tindakan membedah untuk mengobati’, sedangkan operasi pada kalimat kedua bermakna ‘tindakan atau gerakan militer’. Secara bentuk, kata operasi pada kalimat (1) dan (2) sama, namun keduanya memiliki makna yang berbeda. Tentunya masih terdapat kosakata yang memiliki bentuk yang sama, namun memiliki makna yang berbeda. Silakan Anda temukan kosakata yang lainnya yang lainnya.

Secara dikotomis berbagai jenis makna dikelompokkan menjadi beberapa macam. Pengelompokkan makna ini dapat dilihat dengan berbagai sudut pandang. Pateda mengelompokkan jenis makna menjadi 25 jenis makna. Sementara itu, Leech mengelempokkan jenis makna menjadi tujuh jenis makna (melalui Chaer,

1995: 59). Berdasarkan pengelompokkan jenis makna yang dikemukakan oleh para ahli, kemudian Chaer (1989: 60) pengelompokkan jenis makna menjadi empat kelompok.

Berikut ini jenis-jenis makna yang dikemukan oleh para ahli.

1) Makna Leksikal

Dalam kajian semantik, analisis makna dimulai dari yang terkecil hingga yang paling besar. Satuan unit semantik terkecil dalam bahasa adalah leksem. Kedudukan leksem dalam semantik sama seperti kedudukan fonem dalam fonologi, dan morfem dalam morfologi yang bersifat abstrak sama seperti halnya leksem. Leksem inilah yang menjadi dasar pembentukkan kata (Wijana dan Rohmadi, 2008:22). 

Leksem adalah satuan dari leksikon. Jika leksikon disamakan dengan disamakan dengan kata atau perbendaharaan kata, maka leksem juga dapat disamakan dengan kata (Chaer, 1995: 60). Dengan demikian, makna leksikal dapat diartikan sebagai makna yang bersifat leksikon, leksem, dan kata. Makna leksikal adalah makna yang makna sesungguhnya, sesuai dengan referennya, sesuai dengan penglihatan pancaindra. Perhatikan contoh berikut.

(3) Adik merapikan kursi tamu.

(4) Semua kursi tertata rapi.

(5) Anggota dewan memperebutkan kursi.

Makna leksikal kursi pada contoh (3) dan (4) adalah tempat duduk yang berkaki dan bersandaran. Makna kursi pada kedua contoh tersebut merujuk pada tempat duduk, bukan yang lain. Sementara itu, makna kursi pada contoh (5) bukan merujuk pada referen tempat duduk, melainkan jabatan. Makna kursi pada contoh

(5) bukan merujuk pada makna leksikal, melainkan makna yang lainnya, yaitu kedudukan atau jabatan. Dengan demikian, makna leksikal adalah makna sesungguhnya mengenai gambaran yang nyata tentang konsep yang dilambangkan.

2) Makna Gramatikal

Berbeda dengan makna leksikal yang dapat diidentifikasi tanpa menggabungkan unsur lain, makna gramatikal baru dapat diidentifikasi setelah unsur kebahasaan yang satu digabungkan dengan unsur kebahasaan yang lainnya. Makna gramatikal muncul karena adanya proses gramatikal. Makna ini terjadi karena adanya hubungan antarunsur bahasa dalam satuan yang lebih besar, misalnya kata turunan, frasa, atau klausa. Pehatikan kalimat berikut.

(6) Mangga jatuh dari pohon. 

(7) Adik kejatuhan mangga.

Kata jatuh pada kalimat (6) bermakna ‘turun atau meluncur ke bawah dengan cepat karena gravitasi bumi’. Kata jatuh dapat menjadi kejatuhan (kalimat 7) yang bermakna ‘ketidaksengajaan’ (tertimpa sesuatu yang jatuh). Konfiks ke- an sebenarya tidak mempunyai makna. Konfiks ini atau konfiks yang lainnya baru mempunyai makna jika digabungkan dengan unsur yang lainnya. Variasi makna konfiks ke-an ini banyak bentuknya.

(8) Para pejabat punya kedudukan. 

(9) Mereka tahu kelemahan tim kita. 

(10) Baju ini kemahalan.

Seperti yang sudah dijelaskan pada bagian atas, konfiks ke-an selain bermakna ‘ketidaksengajaan’, konfiks ini juga dapat bermakna lain, misalnya kedudukan bermakna ‘tempat’, kelemahan bermakna ‘memiliki’, kemahalan bermakna ‘sifat’.

Makna gramatikal sangat beragam. Hampir setiap bahasa memiliki aturan gramatikal yang kadang berbeda-beda. Misalnya, dalam bahasa Indonesia untuk menyatakan makna jamak, bahasa Indonesia menggunakan bentuk ulang. Kata roti menyatakan jumlah satu, sedangkan kata roti-roti menyatakan jumlah yang jamak. Hal tersebut tentu berbeda dengan jika kita bandingkan bahasa Inggris. Dalam bahasa Inggris, untuk menyatakan bentuk jamak tidak menggunakan reduplikasi, tetapi dengan menambahkan morfem {s} atau menggunakan bentuk yang lainnya. Kata bird menyatakan jumlah satu, namun birds menyatakan jamak. Kata child menyatakan tunggal, namun children menyatakan jumlah jamak. Kata wolf menyatakan tunggal, namun wolves menyatakan jamak. Dengan demikian, konstruksi bentuk jamak antara bahasa Indonesia dan bahasa Inggris berbeda.

3) Makna Referensial

Referensi berhubungan  dengan sumber acuan.  Makna  referensial  berkaitan langsung dengan sumber yang menjadi acuan. Makna ini mempunyai hubungan dengan makna yang telah disepakati bersama. Misalnya, kata air termasuk dalam makna referensial. Makna air mengacu pada cairan jernih yang tidak berwarna, tidak berasa, dan tidak berbau, diperlukan oleh manusia, hewan, dan tumbuhan, secara kimiawi mengandung hidrogen dan oksigen. Contoh lainnya misalnya kata kertas yang memiliki makna referensial. Makna kata kertas mengacu pada sebuah lembaran yang terbuat dari bubur kayu, jerami, rumput, dan sebagainya yang biasanya digunakan untuk menulis atau dijadikan pembungkus. Contoh lain kata yang memiliki makna referensial adalah botol, plastik, lampu, masker, kerudung, dan sebagainya. Semua kata tersebut memiliki acuan atau referensi sehingga memiliki makna referensial.

4) Makna Nonreferensial

Satuan-satuan bahasa dalam kajian semantik ada yang memiliki referen ada juga yang tidak memiliki referen. Pada bagian atas, makna referen berkaitan dengan sumber atau acuan yang dimiliki oleh kata tersebut. Jika yang menjadi pokok perhatiannya adalah acuan, maka makna nonreferensial adalah makna yang tidak memiliki acuan. Misalnya, kata dan, atau, karena termasuk dalam makna nonreferensial karena tidak memiliki acuan atau referen.

5) Makna Denotatif

Makna denotatif adalah makna yang sesungguhnya, makna dasar yang merujuk pada makna yang lugas atau dasar dan sesuai dengan kesepakatan masyarakat pemakai bahasa (Suwandi, 2008: 80). Pateda (1989: 55) mengatakan bahwa makna denotatif merujuk pada acuan tanpa “embel-embel” apapun. Makna denotatif menurut Chaer (1995: 65) sering juga disebut sebagai makna denotasional, makna konseptual, atau makna kognitif jika dilihat dari sudut pandang yang lainnnya. Makna denotatif juga berhubungan dengan makna referensial karena makna denotasi ini kadang dihubungkan dengan hasil pengamatan seseorang melalui penglihatan, pendengaran, penciuman, dan perasaan secara langsung. Oleh karena itu, makna denotasional berhubungan dengan informasi faktual yang objektif. Lebih lanjut Chaer (1995: 66) menghubungkan makna denotatif dengan makna yang sesungguhnya. Kata ibu dan mak mempunyai makna denotatif yang sama ‘orang tua perempuan’. Kata ayah dan bapak juga memiliki makna denotatif yang sama ‘orang tua perempuan’.

Kata ibu dan mak, kata ayah dan bapak pada contoh di atas memang memiliki makna denotasi yang sama, namun memiliki nilai yang yang berbeda. Dalam penggunaannya di masyarakat, kata ibu memiliki nilai rasa yang lebih tinggi dibandingkan kata mak. Kata ayah juga memiliki nilai rasa yang lebih tinggi dibandingkan dengan kata bapak. Mungkin kita akan bertanya mengapa dalam penggunaanya bisa terjadi demikian. Dalam masyarakat makna sebuah kata dapat memiliki nilai rasa tambahan karena pandangan dan nilai rasa yang dimiliki budaya masyarakat. Akibatnya, ada beberapa makna yang memiliki makna tambahan karena dipengaruhi faktor nilai rasa dan budaya pemakainnya.

6) Makna Konotatif

Makna denotasi sering disandingkan dengan makna konotasi. Konotasi sebagai sebuah leksem, merupakan seperangkat gagasan atau perasaan yang mengelilingi leksem tersebut dan juga berhubungan dengan nilai rasa yang ditimbulkan oleh leksem tersebut. Nilai rasa berhubungan dengan rasa hormat, suka/senang, jengkel, benji, dan sebagainya (Suwandi, 2008: 83). Lebih lanjut Suwandi memberikan contoh pemakaian kata langsing dan kurus yang memiliki makna denotatif yang sama.

(11) Tubuhnya sangat langsing.

(12) Tubuhnya sangat kurus.

Jika dihubungkan dengan keadaan fisik seseorang kedua langsing dan kurus memiliki makna denotasi ‘berat badan yang kurang’. Dalam penggunaannya, kedua kata tersebut memiliki makna konotasi yang berbeda. Langsing merujuk pada berat badan yang ideal, biasanya menjadi idaman bagi perempuan, sedangkan kata kurus berkonotasi negatif karena kurang makan, kurang gizi, atau karena penyakit. Dengan demikian, kata langsing berkonotasi baik dan kata kurus berkonotasi kurang baik. Perhatikan contoh lainnya.

(13) Satpol PP menertibkan para gelandangan.

(14) Satpol PP menertibkan para tunawisma.

Kata gelandangan dan tunawisma merujuk pada makna orang yang tidak memiliki tempat tinggal. Akan tetapi, kedua kata tersebut memiliki makna konotasi yang berbeda. Gelandangan memiliki konotasi yang kurang baik, sedangkan tunawisma memiliki konotasi yang lebih baik. Penggunaan kata tunawisma dianggap lebih baik dan sopan daripada gelandangan.

7) Makna Literal

Makna literal berhubungan dengan makna harfia atau makna lugas. Dalam makna literal, makna sebuah satuan bahasa belum mengalami perpindahan makna pada referen yang lain. Perhatikan kalimat berikut ini.

(15) Di sungai ini banyak lintah.

(16) Hati-hati di hulu sungai ini banyak buaya.

(17) Nenek mencari kayu di hutan.

Kedua kalimat di atas menggunakan kata lintah sebagai salah satu unsurnya. Kata lintah pada contoh (15) merujuk pada nama binatang, yaitu binatang air seperti cacing, berbadan pipih bergelang-gelang, biasnya berwarna hitam atau cokelat tua, pada kepala dan ujung badannya terdapat alat untuk menghisap darah. Secara lugas makna kata lintah pada contoh tersebut mengacu pada referen yang sesungguhnya, yaitu hewan penghisap darah. Kata buaya pada contoh (16) di atas merujuk pada salah satu binatang reptil berdarah dingin, bertubuh besar dan berkulit keras, bernafas dengan paru-paru, hidup di sungai atau di laut. Referen buaya mengacu pada salah satu jenis binatang buas yang berbahaya. Sementara itu, kata nenek pada kalimat (17) mengacu pada ibu dari ayah atau ibu. Ketiga kata tersebut semuanya mengacu pada makna yang sesungguhnya, yaitu makna literal.

8) Makna Figuratif

Berbeda dengan makna literal, makna figuratif adalah makna yang menyimpang dari referennya. Dalam makna figuratif, makna satuan disimpangkan dari referen yang sesunggunya. Perhatikan kalimat berikut.

(18) Pekerjaannya seperti lintah darat.

(19) Orang itu terkenal sebagai buaya darat. 

(20) Hati-hati di hutan ada nenek.

Makna lintah (darat) pada contoh (18) tidak mengacu langsung pada makna lintah yang sesungguhnya, yaitu salah satu jenis hewan penghisap darah, tetapi mengacu pada makna kiasan, yaitu berkaitan dengan perilaku seseorang yang meminjamkan uang dengan pengembalian yang sangat tinggi. Demikian juga pada kata buaya (darat) pada contoh (19) yang tidak mengacu pada salah satu binatang buas yang berbahaya, tatapi mengacu pada perilaku seseorang yang sering mempeermainkan perempuan. Sementara itu, kata nenek pada kalimat

(20) mengacu pada harimau jadi-jadian. Dengan demikian, ketiga kata tersebut memiliki makna yang telah disimpangkan dari referennya yang sesungguhnya. Penyimpangan makna kepada hal yang lainnya ini disebut dengan makna figuratif.

9) Makna Primer

Pada bagian awal Anda sudah diperkenalkan dengan konsep makna leksikal, makna denotatif, dan makna literal. Makna tersebut dapat kita ketahui tanpa bantuan konteks. Wijana dan Rohmadi (2008: 26) menjelaskan bahwa makna- makna yang dapat diketahui tanpa bantuan konteks disebut makna primer.

10) Makna Sekunder

Selain makna leksikal, makna denotatif, dan makna literal terdapat juga makna gramatikal, makna konotasi, dan makna figuratif. Berbagai makna tersebut seperti makna gramatikal, konotasi, dan figuratif baru dapat diidentifikasi oleh penutur bahasa ketika sudah dihubungkan dengan konteks. Makna satuan kebahasaan yang baru dapat didentifikasikan dengan bantuan konteks disebut makna sekunder.

b. Hubungan Bentuk dan Makna

Ketika kita melakukan tindak berbahasa, kita kadangkala menemukan adanya relasi atau hubungan antara satuan bahasa yang satu dengan yang lainnya. Hubungan ini dapat terjadi dalam banyak bahasa, salah satunya bahasa Indonesia. Relasi makna ini dapat berkaitan dengan kesamaan makna (sinonim), kebalikan makna (antonim), perbedaan makna (homonim), kegandaan makna (polisemi atau ambiguitas), ketercakupan makna (hiponim), dan kelebihan makna (rudundansi). Pada bagian berikut, mari kita perhatikan hubungan bentuk dan makna tersebut.

1) Sinonim

Kata sinonimi secara etimologi berasal dari bahasa Yunani kuno, yaitu onoma ‘nama’ dan syn ‘dengan’. Secara harfiah sinonim berarti ‘nama lain untuk benda atau hal yang sama’. Djayasudarma (2012: 55) menyatakan sinonim sebagai sameness of meaning (kesamaan arti). Sinonim adalah bentuk bentuk bahasa yang memiliki makna kurang lebih sama atau mirip, atau sama dengan bentuk lain. Kesamaan makna tersebut berada pada tataran kata, frasa, klausa, atau kalimat (Kridalaksana, 1984: 179).

Kadangkala kita sering mendengar pernyataan bahwa sinonim adalah dua buah kata atau lebih yang memiliki kesamaan makna. Menurut Suwandi (2008: 102) pernyatan tersebut kurang tepat. Alasannya adalah makna dalam sinonim belum tentu sama persis. Selain itu, pasangan satuan bahasa yang bersinonim itu beragam, mulai morfem, kata, frasa, hingga kalimat.

Penggunaan bentuk-bentuk sinonim cakupannya sangat beragam. Dua satuan bahasa yang bersinonim kadang kala tidak serta merta dapat saling menggantikan. Memang satuan tersebut dapat saling menggantikan, namun kadang juga tidak bisa saling menggantikan. Perhatikan contoh berikut.

(21) Bapak berangkat ke Jakarta. (22) Ayah berangkat ke Jakarta.

(23) Bapak Presiden akan datang pagi ini. (24) Ayah Presiden akan datang pagi ini.

Sinonim bapak dan ayah pada kalimat (21) dan (22) di atas dapat saling menggantikan, sedangkan pada kalimat (23) dan (24) sinonim bapak dan ayah tidak dapat saling menggantikan. Oleh karena itu, untuk dapat menggunakan sinonim, pemakai bahasa harus memperhatikan berbagai faktor yang melatarbelakangi penggunaannya. Faktor tersebut antara lain: faktor waktu, sosial, tempat, dan gramatikal.

2) Antonim

Secara etimologi, antonimi berasal dari bahasa Yunani kuno, yaitu terdiri dari kata onoma ‘nama’ dan anti ‘melawan’. Secara harfiah antonim bermakna ‘nama lain untuk benda lain’. Antonim beraitan dengan oposisi makna dalam pasangan leksikal yang dapat dijenjangkan (Kridalaksana, 1982). Antonimi merupakan hubungan di antara kata-kata yang dianggap memiliki pertentangan makna (Djayasudarma, 2012: 73). Adanya pertentangan makna dalam antonimi menunjukkan bahwa hubungan dua buah kata yang berlawan bersifat dua arah. Misalnya, kata baik berantonim dengan buruk, maka kata buruk berantonim dengan baik; kata jauh berantonim dengan dekat, maka kata dekat berantonim dengan jauh.

Kata-kata yang berantonim dapat bekategori kata sifat, kata benda, kata ganti, kata kerja, dan keterangan. Kata tugas seperti dan, karena, untuk, bagi, dan sebagainya tidak memiliki lawan katanya/tidak berantonim. Suwandi (2008: 106-109) dan Chaer (2012: 298-299)mengelompokkan antonim menjadi beberapa jenis.

1) Antonim Mutlak

Antonim mutlak adalah pertentangan bentuk bahasa yang bersifat mutlak. Misalnya kata hidup berantonim dengan mati. Sesuatu yang masih hidup tentunyan belum mati, sebaliknya sesuatu yang sudah mati pastinya sudah tidak hidup lagi. Kata siang yang berantonim mutlak dengan malam. Ketika matahari berada di atas kepala menandakan hari sudah siang, hari belum gelap/malam, sebaliknya ketika matahari tenggelam, bumi dalam keaadaan gelap maka disebut malam. Contoh lain antonim mutlak adalah atas dan bawah, muka dan belakang.

2) Antonim Bergradasi

Antonim bergradasi disebut juga dengan oposisi kutub. Pertentangan antonim jenis ini tidak bersifat mutlak atau relatif. Misalnya kata besar dan kecil. Ukuran besar dan kecil itu relatif, sebuah benda dikatakan besar atau kecil karena diperbandingkan antara unsur yang lainnya. Mobil bus dianggap besar jika disandingkan dengan mobil sedan karena ukuran mobil sedan dianggap lebih kecil daripada bus. Sementara itu, ukuran mobil sedan dianggap besar jika disandingkan dengan sepeda motor. Contoh antonim bergradasi lainnya adalah tinggi dan rendah, panjang dan pendek, murah dan mahal, jauh dan dekat. Pada umumnya kata-kata antonim bergradasi berkategori kata sifat atau adjektif.

3) Antonim Relasional

Antonim jenis ini dapat dilihat berdasarkan kesimetrian dalam makna setiap pasanangannya. Misalnya kata suami dan istri. Seseorang baru dikatakan sebagai suami ketika sudah memiliki istri. Hal ini berbeda ketika terjadi perceraian tidak lagi disebut lagi suami, tetapi duda. Contoh lainnya adalah maju dan mundur, memberi dan menerima, guru dan murid

4) Antonim Hierarkial

Antonim jenis ini terdapat dalam satuan waktu, berat, panjang, jenjang kepangkatan, dan jenjang yang lainnya. Contoh antomin hierarkial adalah kilogram dan kuintal/ton, hari dan bulan, prajurit dengan letnan, mayor, jenderal.

5) Antonim Resiprokal

Antonim resiprokal adalah antonim yang bersifat timbal balik. Makna dalam antonim ini saling bertentangan, namun secara fungsional keduanya mempunyai hubungan yang sangat erat dan bersifat timbal balik. Contoh antonim ini adalah mengajar dan belajar, menjual dan membeli, mengirim dan menerima.

3) Homonim

Sama seperti halnya sinonimi dan antonimi, homonimi berasal dari kata Yunani kuno onoma ‘nama’ dan homo ‘sama’. Hominimi berarti nama yang sama untuk benda atau hal yang lain’. Dengan kata lain, homonimi adalah hubungan antara kata yang ditulis dan atau dilafalkan dengan cara yang sama dengan kata yang lain, tetapi maknanya tidak saling berhubungan (Kridalakasana, 1984: 68). Misalnya kata buku yang memiliki dua makna: 1) lembar kertas yang berjilid, biasanya berisi tulisan, 2) tempat pertemuan dua ruas (jari, buluh, tebu). Relasi antara lembar kertas dan tempat pertemun dua ruas disebut sebagai homonim.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, pasangan yang berhomonim ditulis dengan cara yang berbeda. Kata-kata yang berhomonim ditulis dengan angka Arab yang ditulis terangkat setengah spasi di belakang kata yang berhomonim.

Hubungan makna dalam hominim dapat bersifat dua arah, misalnya pada kata buku dan kopi yang memiliki dua makna. Hal tersebut berbeda dengan kata katak yang memiliki tiga makna. Tidak menutup kemungkinan kata yang berhomonim memiliki lebih dari tiga atau empat makna yang berbeda. Kata kakap pada contoh di bawah ini memiliki lima makna yang tidak saling berhubungan antara makna yang satu dengan yang lainnnya.

Mungkin kita akan bertanya, mengapa dalam homonim terjadi. Bentuknya sama, namun maknanya berbeda sama sekali. Chaer (1995: 95) menjelaskan terkait hal tersebut. Menurutnya ada dua hal mengapa terjadi homonimi. Pertama, bentuk- bentuk homonimi terjadi karena berasal dari bahasa atau dialek yang berlainan. Kata bang yang berarti ‘azan’ berasal dari bahasa Jawa, sedangkan bang yang berarti ‘kakak’ berasal dari bahasa Melayu dialek Jakarta. Kedua, bentuk-bentuk kata yang berhomonim terjadi akibat proses morfologi. Misalnya, kata mengarang yang bermakna ‘menjadi arang’ dan ‘menjadi karang’. Kedua kata tersebut memiliki kata dasar yang berbeda, yaitu arang dan karang. Keduanya mengalami proses morfologi berupa afiksasi, me+arang dan me+karang.

4) Polisemi

Polisemi adalah satuan bahasa yang memiliki lebih dari satu. Misalnya, misalnya kata ibu bermakna: 1) wanita yang melahirkan seorang anak, 2) sapaan untuk wanita yang sudah bersuami, 3) bagian yang pokok;--jari 4) yang utama di antara beberapa hal yang lain. Jika polisemi memiliki makna lebih dari satu, lalu apa bedanya dengan homonimi. Perbedaan homonimi dengan polisemi terletak pada hubungan makna di dalamnya. Makna kata yang berhomonim antara kata yang satu dengan yang lainnya sama sekali tidak ada hubungannya, misalnya kata mata yang berhubungan dengan pancaindra yang digunakan untuk melihat dan mata yang berhubungan dengan satuan ukuran berat untuk candu. Makna mata antara makna yang satu dengan yang lainnya benar-benar berbeda dan tidak bisa dirunut lagi. Hal ini berbeda dengan polisemi, makna kata yang satu dengan yang lainnya masih terdapat hubungan, misalnya kata akar yang bermakna 1) bagian tanaman tumbuhan yang biasanya tertanam di dalam tanah, 2) asal mula, 3) unsur yang menjadi dasar pembentukan kata, 4) suatu operasi aljabar. Jika kita perhatikan, makna akar antara makna satu dengan yang lainnya masih memiliki hubungan dengan makna asalnya.

Dalam KBBI, penulisan kata yang berpolisemi berbeda dengan kata yang berhomonim. Jika homonim ditulis dengan entri yang terpisah, maka makna kata yang berpolisemi penulisannya dijadikan satu dengan makna yang lainnnya.

Kata kaki adalah kata yang berpolisemi. Dalam KBBI, makna kata kaki memiliki tujuh makna, begitu juga dengan kata mata yang merupakan kata yang berpolisemi, memiliki delapan makna. Ketujuh makna dalam kata kata tersebut masih terdapat hubungan makna dengan makna kaki yang lainnya, begitu juga dengan makna yang masih memiliki hubungan dengan makna primernya.

5) Ambiguitas

Ambiguitas dapat diartikan dengan ‘makna ganda’. Konsep ini mengacu pada sifat konstruksi penafsiran makna yang lebih dari satu (Suwandi, 2006: 117). Ambiguitas kadang disamakan dengan polisemi. Lalu apakah sama antara ambiguitas dengan polsemi? Polisemi dan ambiguitas memang sama-sama memiliki makna lebih dari satu, namun keduanya memiliki perbedaan. Makna dalam polisemi berada pada tataran kata, sedangkan makna dalam ambiguitas berasal dari frasa atau kalimat yang terjadi karena penafsiran yang berbeda, misalnya berbeda penafsiran dari sisi gramatikal. Perhatikan kalimat berikut.

(25) Dhifa datang untuk memberi tahu.

Makna memberi tahu dapat bermakna: 1) menjadikan supaya tahu, sedangkan makna 2) memberi jenis makanan yang terbuat dari kedelai (tahu).

(26) Istri pejabat yang nakal itu ditahan Polisi.

Makna kalimat (26) di atas memiliki dua makna, yaitu: 1) yang nakal adalah istri dari seorang pejabat, 2) yang nakal adalah pejabat itu sendiri.

(27) Kakek-nenek Nadhifa menjalankan ibadah haji.

Makna kalimat (27) di atas bermacam-macam. Makna kalimat tersebut antara lain: 1) kakek dan nenek dari seorang yang bernama Nadhifa menjalankan ibadah haji, 2) kakek, nenek, dan Nadhifa menjalankan ibadah haji, 3) kakek dan nenek yang bernama Nadhifa menjalankan ibadah haji.

Ambiguitas sering terjadi dalam ragam bahasa tulis. Hal tersebut terjadi ketika penanda ejaan tidak digunakan dengan tepat atau cenderung diabaikan. Akan tetapi, dalam bahasa lisan, ambiguitas tidak banyak terjadi. Dalam komunikasi lisan, berbagai unsur paralinguistik sangat membantu, seperti adanya intonasi dan ekspresi penutur. Dalam bahasa lisan, kita juga dapat menanyakan secara langsung kepada mitra tutur terkait dengan informasi yang diberikannya. Konteks situasi juga sangat membantu seorang penutur dan mitra tutur dalam memaknai tuturan.

6) Redundansi

Istilah redundansi sering diartikan sebagai sesuatu yang belebih-lebihan, misalnya berlebihan pemakaian unsur segmental dalam kalimat. Istilah redundansi biasanya dipakai dalam linguistik modern. Istilah ini digunakan untuk menyatakan bahwa salah satu konstituen kalimat yang tidak perlu jika dipandang dari sisi semantik (Suwandi, 2006: 119). Dengan kata lain, redundansi adalah pemakaian unsur segmental yang berlebihan. Perhatikan contoh berikut.

(28) Adzkia datang agar supaya mendapat hadiah dari temannya. (29) Para guru- guru mengikuti pelatihan minggu depan di LPPM. (30) Dhifa datang pada hari Senin, tanggal 21 April 2019.

Kalimat pada contoh (28), (29), dan (30) adalah kalimat yang redundan. Kata agar dan supaya memiliki makna yang hampir sama sehingga kemunculannya dalam kalimat tersebut harus memilih salah satunya saja. Frasa para guru-guru pada kalimat (29) juga termasuk redundan. Kata para adalah penanda jamak dan kata guru-guru juga sebagai penanda jamak. Begitu juga dengan kalimat (30) yang redundan, kata Senin adalah penanda hari dan 21 penanda tanggal. Jika diperbaiki kalimat tersebut adalah sebagai berikut.

(31) Adzkia datang supaya mendapat hadiah dari temannya. (32) Para guru mengikuti pelatihan minggu depan di LPPM. (33) Dhifa datang pada Senin, 21 April 2019.

Kalimat (31), (32), (33) adalah kalimat yang tidak redundan. Bentuk-bentuk yang sama dengan bentuk yang sudah disebutkan sebelumnya sudah dihilangkan sehingga kalimat tersebut juga menjadi kalimat yang efektif karena tidak berlebihan.

Perubahan Makna

Bahasa sebagai bagian dari kehidupan manusia terus mengalami perkembangan. Jika suatu bahasa mengalami perubahan yang sangat besar dan penting, baik itu perubahan kosakata maupun bunyi dan strukturnya, bahasa tersebut dapat berubah menjadi bahasa baru atau bahasa lain, seperti bahasa Romawi  Modern  yang  berasal  dari  bahasa  Latin  (Ohoiwutun,  2007:  19). 

Perkembangan dan pertumbuhan bahasa yang berkesinambungan merupakan ciri khas bahasa. Ini menjadi bukti bahwa bahasa tidak statis, tetapi dinamis. Bahasa akan sedikit banyak akan terus mengalami perubahan seiring dengan perkembangan kehidupan penuturnya. Fromkin dan Rodman (melalui Ohoiwutun, 2007: 18-19) secara lebih terperinci menjelaskan tentang bahasa. Mari kita perhatikan paparan tentang bahasa menurut Fromkin dan Rodman (melalui Ohoiwutun, 2007: 18-19).

1. Di mana terdapat manusia, di situ terdapat bahasa.

2. Semua bahasa bersifat kompleks sehingga mampu mengungkapkan suatu maksud.

3. Kosakata setiap bahasa dapat diperluas sehingga tercipta kosakata baru untuk menggambarkan berbagai konsep baru.

4. Hubungan antara bunyi dan makna dalam bahasa bersifat arbitrer.

5. Semua bahasa manusia memanfaatkan seperangkat bunyi untuk membentuk unsur-unsur atau kata-kata yang bermakna.

6. Bunyi-bunyi bahasa yang dihasilkan dapat membentuk kalimat atau ujaran yang tidak terbatas.

7. Semua tata bahasa memiliki aturan pembentukan kata dan kalimat.

8. Setiap bahasa memiliki cara untuk menunjukkan masa lampau, kemampuan mengajukan pertanyaan, pengingkaran, istruksi, dan sebagainya.

Bahasa sebagai bunyi-bunyi yang arbitrer dan konvesinal memiliki peran yang begitu kompleks. Bahasa akan berhubungan dengan budaya, ilmu pengetahuan, teknologi, agama, politik dan sebagainya. Hampir semua sisi kehidupan manusia akan berhubungan dengan bahasa. Bahasa memiliki fungsi yang sangat penting bagi masyarakat penuturnya.

Seiring dengan perkembangan zaman dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, makna dalam bahasa kadang juga ikut mengalami perubahan. Pengetahuan terkait perubahan bahasa menjadi hal yang penting dalam berkomunikasi. 

Dengan begitu, seorang penutur dapat memilih dengan tepat pilihan kata atau ungkapan yang akan digunakan. Misalnya, kata sarjana dahulu bermakna ‘cendikiawan’. Pada waktu itu, setiap orang yang pandai dan memiliki kecerdasan  atau  orang  yang  memiliki  sikap  hidup selalu meningkatkan kemampuan intelektualnya disebut sarjana. 

Akan tetapi, kata sarjana pada saat ini bermakna ‘orang yang telah menyelesaikan studinya dari perguruan tinggi’. Walaupun secara intelektual kemampuan berpikirnya rendah, orang tersebut tetap disebut sebagai sarjana. Gelar sarjana didapatkan melalui pendidikan formal. Dengan demikian, kata sarjana mengalami perubahan makna, yaitu penyempitan makna.

Pada bagian pertama ini, mari kita bahas faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya perubahan makna. Pembahasan berikutnya  adalah  berkaitan dengan jenis-jenis perubahan makna.

Jenis-Jenis Perubahan Makna

a. Perluasan Makna

Seperti yang sudah dijelaskan pada bagian atas, salah satu sifat bahasa adalah dinamis. Artinya, bahasa dapat berkembang sesuai dengan perkembangan zaman, begitu juga dengan maknanya. Salah satu perubahan yang terjadi dalam bahasa adalah perluasan makna. Indikator perluasan makna dapat dilihat bahwa makna sekarang lebih lusa daripada makna terdahulu. Perhatikan perubahan makna meluas berikut ini.

Manuskrip ‘naskah tulisan tangan yang menjadi kajian filologi ‘naskah, baik tulisan tangan (dengan pena, pensil) maupun ketikan’

Papan ‘kayu (besi, batu, dan sebagainya) yang lebar dan tipis’ ‘tempat tinggal; rumah’ Saudara ‘orang yang seibu seayah’ ‘sapaan kepada orang yang diajak berbicara’ Kita dapat menggunakan kata adik, anak, bapak, ibu, saudara sesuai dengan konteksnya. Sebelum terjadi perluasan makna, kosakata tersebut hanya digunakan untuk menyebut sistem kekerabatan. Akan tetapi, saat ini penggunaannya tidak terbatas untuk menyebut kekerabatan saja, kita dapat juga menggunakannya sebagai bentuk sapaan. Dalam ragam bahasa tulis, kita harus membedakan cara penulisannya. Jika kosakata tersebut digunakan untuk menunjuk hubungan kekeluargaan maka penulisannya dengan huruf kecil. Akan tetapi, jika itu digunakan sebagai bentuk sapaan dengan menggunakan huruf kapial.

(1) Kami berangkat bersama adik.

Silakan masuk, Dik!

(2) Para orang tua diperbolehkan membawa anak pada acara nanti malam. Ada yang dapat kami bantu, Nak?

(3) Dua tahun lalu bapak meninggalkan kami semua.

Apakah Bapak berkenan hadir dalam acara tersebut?

(4) Adzkia tidur bersama ibu.

Silakan Ibu menandatangani surat kontrak ini.

(5) Kami hanya memiliki dua saudara.

Polisi akan meminta keterangan dari Saudara.

Berbagai makna yang diluaskan masih berada dalam lingkup poliseminya. Makna-makna yang muncul karena adanya perluasan masih berhubungan dengan makna utamanya. Silakan Anda ingat kembali materi polisemi pada kegiatan belajar terdahulu.

b. Penyempitan Makna

Penyempitan makna berkebalikan dengan perluasan makna. Penyempitan makna terjadi ketika sebuah kata yang pada awalnya mempunyai makna yang luas kemudian maknanya berubah menjadi lebih sempit. Kata madrasah, pendeta, sarjana, sastra adalah kosakata yang mengalami penyempitan makna.

c. Peninggian Makna

Peninggian makna atau ameliorasi berhubungan dengan nilai rasa yang lebih baik atau sopan. Perubahan ini akan membuat kosakata atau ungkapan menjadi lebih halus, tinggi, hormat daripada kosakata pilihan yang lainnya. perhatikan kalimat berikut.

(6) Susilo Bambang Yudhoyono mantan Presiden RI.

(7) Susilo Bambang Yudhoyono bekas Presiden RI.

Susilo Bambang Yudhoyono mantan Presiden RI bernilai rasa halus dan sopan. Penggunaan kata mantan dirasa lebih baik atau halus dibandingkan dengan kata bekas. Kalimat di atas akan bernilai kasar dan kurang sopan ketika diubah menjadi Susilo Bambang Yudhoyono bekas Presiden RI. Kata bekas akan lebih tepat jika digunakan untuk benda mati, misalnya kalimat Kami mengumpulkan barang-barang bekas. Berikut ini contoh peninggian makna yang lainnya.

(8) Koruptor itu akhirnya berada di lembaga pemasyarakatan.

(9) Karena keadaan perusahannya semakin kritis, ia terpaksa merumahkan karyawannya.

(10) Pemerintah sedang memperjuangkan nasib para tunakarya.

(11) Para mahasiswa sedang menyantuni para tunawisma di jalan itu.

(12) Media ini dikembangkan untuk siswa penyandang tunarungu.

d. Penurunan Makna

Penurunan makna atau peyorasi berkebalikan dengan ameliorasi. Proses perubahan makna ini dapat dilihat dari makna kata atau yang mempunyai makna lebih rendah, kasar, atau kurang sopan.

(13) Pemuda itu menjadi jongos di mewah itu.

(14) Selama bekerja sebagai pelayan toko, ia tidak pernah pulang ke kampung.

(15) Para suami mendampingi bini mereka di kantor kelurahan.

(16) Mahasiswa menginginkan para koruptor dijebloskan ke dalam penjara.

Kata jongos bernilai rasa lebih kasar atau kurang sopan. Kita dapat mengganti kata tersebut dengan istilah lainnya yang lebih halus dan sopan, misalnya asisten rumah tangga. 

Kata pelayan toko bernilai rasa kasar dibandingkan pramuniaga, kata bini bernilai kasar dibadingkan istri. Kata koruptor bernilai kasar dibandingkan dengan penyalahgunaan wewenang, dijebloskan dapat diperhalus dengan dimasukkan, dan penjara dapat diganti dengan kata yang lebih sopan, yaitu lembaga pemasyarakatan.

e. Pertukaran Makna

Pertukaran makna disebut sinestesia. Perubahan makna ini disebabkan karena pertukaran tanggapan indra, seperti pendengaran, pengecapan, dan penglihatan. Contoh pertukaran makna dapat dilihat pada kalimat berikut ini.

(17) Sikapnya sangat dingin ketika peristiwa itu terjadi.

(18) Terlalu banyak kenangan manis di kota pelajar ini.

(19) Analisisnya begitu tajam terhadap permasalahan bangsa ini.

(20) Tugas-tugas yang mereka terima begitu berat.

(21) Para guru seharusnya haus akan ilmu pengetahuan.

(22) Ucapannya begitu pedas didengar.

(23) Pengalaman pahit menjadi cambuk bagi tim kami.

Rangkuman : Objek kajian semantik adalah berkaitan dengan makna. Berbagai bentuk kebahasaan tersebut ada yang memiliki konsep yang bersifat mental yang disebut sebagai makna. 

Makna adalah konsep abstrak pengalaman manusia tentang sesuatu, tetapi makna bukan pengalaman setiap individu.

Makna memiliki berbagai macam jenis. Makna leksikal adalah makna yang makna sesungguhnya, sesuai dengan referennya, sesuai dengan penglihatan pancaindra. 

Makna gramatikal terjadi karena adanya hubungan antarunsur bahasa dalam satuan yang lebih besar. Makna referensial berkaitan langsung dengan sumber yang menjadi acuan Makna nonreferensial adalah makna yang tidak memiliki acuan. 

Makna denotatif adalah makna yang sesungguhnya. Makna konotasi berkaitan dengan nilai rasa berhubungan dengan rasa hormat, suka/senang, jengkel, benji, dan sebagainya. Makna literal berhubungan dengan makna harfia atau makna lugas. 

Makna figuratif adalah makna yang menyimpang dari referennya. Makna primer adalah makna-makna yang dapat diketahui tanpa bantuan konteks. Makna sekunder baru dapat diidentifikasi oleh penutur bahasa ketika sudah dihubungkan dengan konteks.

Selain jenis-jenis makna, bahasan dalam semantik yang lainnya adalah hubungan antara bentuk dan makna. Relasi bentuk dan makna ini dapat berkaitan dengan kesamaan makna (sinonim), kebalikan makna (antonim), perbedaan makna (homonim), kegandaan makna (polisemi atau ambiguitas), ketercakupan makna (hiponim), dan kelebihan makna (rudundansi).

Jenis-jenis perubahan makna, yaitu: 1) perluasan makna, 2) penyempitan makna, 3) peninggian makna, 4) penurunan makna, 5) pertukaran makna.

Sumber: Wahyudin, Ahmad. 2019. Pendalaman Materi Bahasa Indonesia Modul 2 Semantik dan Wacana. Kemdikbud.

Posting Komentar untuk "Semantik dan Wacana - Modul 2 PPPK Bahasa Indonesia"