Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Perubahan Sosial dan Pemberdayaan Komunitas - PPPK Sosiologi 5

Perubahan Sosial dan Pemberdayaan Komunitas - hasriani.com


Perubahan Sosial dan Pemberdayaan Komunitas - PPPK Sosiologi 5 - Penjabaran model kompetensi yang dikembangkan pada kompetensi guru bidang studi lebih spesifik pada pembelajaran 5. Perubahan Sosial dan Pemberdayaan Komunitas, ada beberapa kompetensi guru bidang studi yang akan dicapai pada pembelajaran ini, kompetensi yang akan dicapai pada pembelajaran ini adalah guru PPPK mampu:

Menganalisis perubahan sosial dan pemberdayaan komunitas

Dalam rangka mencapai kompetensi guru bidang studi, maka dikembangkanlah indikator-indikator yang sesuai dengan tuntutan kompetensi guru bidang studi.

Indikator pencapaian komptensi yang akan dicapai dalam pembelajaran 5. Perubahandre Sosial dan Pemberdayaan Komunitas adalah sebagai berikut.

1. Menjelaskan Perubahan Sosial

2. Menjelaskan Modernisasi dan Globalisasi

3. Menjelaskan Masalah Sosial

4. Menjelaskan Kearifan Lokal dan Pemberdayaan Komunitas

Uraian Materi Perubahan Sosial dan Pemberdayaan Komunitas - PPPK Sosiologi 5

1. Perubahan Sosial

Perubahan sosial selalu terjadi di sekitar kita. Perubahan sosial didefinisikan sebagai perubahan dalam pola perilaku dan budaya yang signifikan dari waktu ke waktu. Suatu perubahan dapat disebut sebagai perubahan sosial ketika mampu memengaruhi kehidupan manusia secara luas. Pengaruh perubahan sosial tersebut dapat menyebabkan kemajuan apabila masyarakat memiliki sikap berani, percaya diri, dan mampu menyaring hal-hal negatif. Sebaliknya, masyarakat yang takut berubah dan minder menganggap perubahan sosial sebagai ancaman. Oleh karena itu, masyarakat hendaknya mampu menghadapi perubahan sosial secara bijak.

a. Faktor Penyebab Perubahan Sosial

Faktor penyebab perubahan sosial sebagai berikut:

1) Faktor Internal

a) Pertentangan (Konflik) dan Pemberontakan (Revolusi) Pertentangan dan pemberontakan berkaitan dengan stabilitas suatu negara. Negara yang sering dilanda konflik dan peperangan dapat mengalami masalah sosial. Pertentangan dan pemberontakan merupakan faktor internal penyebab perubahan sosial karena melibatkan antaranggota kelompok masyarakat, misalnya perang saudara.

b) Perubahan Jumlah Penduduk (Demografi)

Perubahan jumlah penduduk dipengaruhi kematian (mortalitas), kelahiran (natalitas), dan migrasi. Perubahan jumlah penduduk berkaitan dengan bertambah dan berkurangnya jumlah penduduk. Jumlah penduduk yang terus meningkat dapat menyebabkan masalah berupa ledakan penduduk. Sementara itu, berkurangnya jumlah penduduk dapat menyebabkan terhambatnya proses pembangunan.

c) Penemuan-Penemuan Baru

Penemuan yang benar-benar baru disebut discovery, sedangkan pem- baruan penemuan yang telah ada disebut invention. Penemuan baru di bidang teknologi dapat meningkatkan kehidupan masyarakat sehingga menyebabkan perubahan sosial.

2) Faktor Eksternal

a) Pengaruh Kebudayaan Masyarakat Luar

Budaya luar yang memasuki kehidupan masyarakat menunjukkan terjadinya proses interaksi budaya antarkelompok dalam masyarakat. Proses tersebut dapat berlangsung melalui berbagai cara seperti penyebaran informasi menggunakan media massa.

b) Perubahan Lingkungan Fisik

Perubahan lingkungan fisik berupa bencana alam seperti banjir, gempa, dan angin puting beliung dapat menyebabkan perubahan sosial dalam masyarakat. Bentuk perubahan tersebut, misalnya

penduduk melakukan mobilitas sosial karena mengungsi dan terjadi perubahan struktur sosial karena keanggotaan masyarakat terpecah akibat mengungsi.

3) Peperangan

Peperangan merupakan konflik terbuka yang menyebabkan perubahan sosial. Adapun dampak peperangan antara lain kerugian materiel, muncul korban jiwa, dan perubahan kondisi sosial politik dalam masyarakat.

b. Faktor Pendorong Perubahan Sosial

Faktor pendorong perubahan sosial sebagai berikut:

1) Sikap menghargai budaya lain.

2) Adanya keinginan untuk maju.

3) Kontak dengan kebudayaan lain.

4) Sikap terbuka terhadap budaya lain.

5) Adanya orientasi pada masa depan.

6) Komposisi masyarakat heterogen.

7) Sistem lapisan masyarakat terbuka.

8) Sikap toleransi terhadap perubahan tertentu.

9) Terdapat kemajuan dalam sistem pendidikan.

10) Ketidakpuasan terhadap bidang kehidupan tertentu.

c. Faktor Penghambat Perubahan Sosial

Faktor penghambat perubahan sosial sebagai berikut:

1) Adanya perbedaan ideologi.

2) Adanya adat yang mengikat.

3) Takut terjadi guncangan budaya.

4) Sikap masyarakat yang masih tradisional.

5) Terdapat prasangka terhadap budaya lain.

6) Kurang menjalin hubungan dengan masyarakat lain.

7) Adanya keyakinan yang tertanam kuat (vested interest).

8) Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi lambat.

9) Adanya sikap pasrah dalam menghadapi kehidupan.

10) Tempat tinggal sulit dijangkau.

d. Teori Perubahan Sosial

Perubahan sosial dalam masyarakat dapat dipelajari secara ilmiah menggunakan teori perubahan sosial. Adapun teori perubahan sosial sebagai berikut.

1) Teori Evolusi

Piotr Sztompka (2000) menyatakan setiap tahap perkembangan masyarakat yang berurutan berbeda dari tahap sebelumnya dan merupakan pengaruh gabungan dari tahap sebelumnya. Tiap-tiap tahap terdahulu menyediakan syarat-syarat bagi tahap selanjutnya. Kondisi tersebut menunjukkan proses perubahan sosial menurut garis lurus. Perubahan sosial menurut teori evolusi ditunjukkan oleh gambar berikut:

Gambar 10. Teori Evolusi

Sumber: www.lsplbwiki.net

Berdasarkan gambar di atas dapat diketahui bahwa masyarakat mengalami perubahan dalam kehidupannya secara perlahan-lahan sesuai arah tahapannya. Masyarakat bergerak dalam satu garis linier menuju satu titik tertentu, yaitu dimulai dari tahap primitif (savage), tradisional, sampai modern. Menurut Auguste Comte, teori evolusi melihat masyarakat seperti bergerak maju dalam pemikiran mereka, atau dari mitos ke metode ilmiah.

2) Teori Siklus

Menurut Hughers, teori siklus perubahan dalam masyarakat akan berputar ibarat sebuah peradaban. Suatu peradaban kemudian mengalami perkembangan, menjadi matang, kemudian mundur dan akhirnya musnah.Teori siklus dalam perubahan sosial dapat digambarkan seperti berikut:

Gambar 11. Teori Siklus

Sumber: www.guruips.com

Pada gambar tampak perubahan sosial bagaikan roda berputar. Artinya, perputaran zaman merupakan suatu hal yang tidak dapat dielakkan oleh siapa pun dan tidak dapat dikendalikan oleh siapa pun. Kemajuan dan kemunduran sebuah peradaban merupakan bagian dari sifat alam yang tidak dapat dikendalikan manusia.

Kebangkitan atau kemunduran suatu masyarakat memiliki hubungan satu sama lain, seperti berupatantangan dan tanggapan (challengedan response). Apabila masyarakat mampu merespons dan menyesuaikan diri dengan tantangan hidup tersebut, masyarakat dapat mengalami kemajuan. Akan tetapi, apabila masyarakat tidak memiliki kemampuan merespons dan tidak dapat menyesuaikan diri, masyarakat akan mengalami kemunduran.

3) Teori Fungsionalis

Teori fungsionalis menekankan perubahan pada fungsi-fungsi lembaga sosial dalam masyarakat. Masyarakat memiliki sistem sosial yang saling berhubungan. Sistem tersebut bergerak untuk mewujudkan tujuan dan memenuhi kebutuhan hidup masyarakat. Menurut teori fungsionalis, lembaga sosial tidak akan bertahan, kecuali berguna bagi masyarakat. Meskipun demikian, lembaga sosial yang secara drastis berubah akan mengancam keseimbangan social. Sebagai contoh, presiden setelah selesai masa jabatan harus segera diganti melalui mekanisme pemilu agar tercipta keseimbangan sosial dalam sistem pemerintahan.

b. Teori Konflik

Menurut teori konflik yang dikemukakan Karl Marx, ketidakadilan dan ketimpangan sosial menyebabkan terjadinya pertentangan antarkelas sosial sehingga muncul istilah perjuangan kelas. Menurut Karl Marx, pertentangan antarkelas sosial terjadi tanpa henti, kadang reda, kadang pecah pertempuran. Pertempuran ini berakhir dengan tersusun ulangnya masyarakat yang semakin revolusioner atau hancurnya salah satu kelas. Pertentangan antarkelas (konflik sosial) mampu mendorong masyarakat melakukan upaya-upaya menyelesaikan pertentangan tersebut untuk berubah ke tingkat lebih maju.

e. Proses Terjadinya Perubahan Sosial Budaya

Perubahan sosial tidak terjadi secara tiba-tiba, tetapi melalui beberapa cara berikut:

1) Akulturasi yaitu proses penerimaan dan pengolahan unsur-unsur kebudayaan asing menjadi bagian dari kebudayaan suatu kelompok tanpa menghilangkan ciri khas kebudayaan asli.

2) Asimilasi yaitu proses peleburan dua atau lebih kebudayaan yang berbeda menjadi satu kebudayaan tunggal. Asimilasi dapat menghapus unsur- unsur perbedaan secara horizontal sehingga perbedaan antaranggota masyarakat dapat dipersatukan melalui konsep budaya baru.

3) Difusi yaitu penyebaran unsur-unsur baru seperti gagasan, keyakinan, hasil kebudayaan, dan ideologi. Berdasarkan prosesnya, difusi dapat dibedakan sebagai berikut.

a) Difusi intramasyarakat (intrasociety diffusion), yaitu penyebaran kebudayaan antarindividu atau antarkelompok dalam masyarakat. Difusi intramasyarakat dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain pengakuan unsur baru yang memiliki banyak kegunaan; unsur kebudayaan yang baru masuk sesuai dengan unsur kebudayaan sebelumnya; serta peran lembaga sosial menentukan unsur kebudayaan baru yang sesuai.

b) Difusi antarmasyarakat (intersociety diffusion), yaitu penyebaran unsur kebudayaan baru dari satu masyarakat ke masyarakat yang lain. Faktor yang memengaruhi difusi antarmasyarakat yaitu kontak sosial antarmasyarakat; kemampuan mensosialisasikan manfaat penemuan baru; pengakuan mengenai kegunaan penemuan baru; tidak adanya unsur kebudayaan lain yang mampu menyaingi unsur kebudayaan baru; aktivitas penyebaran kebudayaan baru yang intensif; dan paksaan untuk menerima unsur baru.

4) Simbiotik, yaitu unsur-unsur kebudayaan yang masuk diterima secara berdampingan. Simbiotik melibatkan dua unsur kebudayaan masyarakat atau lebih. Proses perembesan simbiotik meliputi tiga bentuk yaitu saling menguntungkan, menguntungkan salah satu pihak dan merugikan pihak lain, serta mengakibatkan kerugian kedua belah pihak.

5) Penetration pacifique, yaitu proses penerimaan unsur kebudayaan baru secara damai tanpa ada paksaan.

6) Penetration violent, yaitu masuknya unsur kebudayaan baru dalam masyarakat melalui proses kekerasan dan paksaan. Unsur kebudayaan tersebut dapat merusak kebudayaan asli masyarakat.

f. Pengelola Perubahan Sosial

Pengelola perubahan sosial merupakan orang yang mempelopori, merencanakan, dan melaksanakan perubahan sosial. Pengelola perubahan sosial dapat disebut sebagai agen perubahan sosial (agent of change). Agen perubahan sosial memiliki beberapa peran sebagai berikut:

1) Katalisator yang menggerakkan masyarakat untuk ikut berpartisipasi dalam perubahan sosial.

2) Pemberi solusi dalam pemecahan masalah sosial.

3) Pihak yang membantu proses perubahan sosial.

4) Penghubung antara pihak yang membantu perubahan sosial dan pihak yang menerima perubahan sosial.

g. Bentuk-Bentuk Perubahan Sosial

Bentuk-bentuk perubahan sosial sebagai berikut:

1) Perubahan Sosial Berdasarkan Kecepatan Berlangsungnya

a) Perubahan lambat (evolusi) yaitu perubahan yang terjadi dengan sendirinya tanpa rencana atau kehendak. Perubahan evolusi berlangsung lambat dalam masyarakat.

b) Perubahan cepat (revolusi) yaitu perubahan mengenai dasar pokok kehidupan masyarakat yang berlangsung cepat. Faktor pendorong perubahan revolusi antara lain keinginan kuat dari masyarakat untuk melakukan perubahan, adanya pemimpin yang baik, adanya tujuan yang jelas, dan didukung waktu yang tepat.

2) Perubahan Sosial Berdasarkan Ukuran Perubahannya

a) Perubahan kecil yaitu perubahan yang hanya memengaruhi beberapa golongan atau kelompok sosial masyarakat. Perubahan kecil tidak menimbulkan pengaruh yang berarti dalam aspek- aspek kehidupan masyarakat.

b) Perubahan besar yaitu perubahan yang dapat memengaruhi aspek- aspek kehidupan masyarakat secara luas. Selain itu, perubahan besar dapat dirasakan oleh semua kalangan masyarakat, misalnya perubahan sosial akibat peperangan dan krisis moneter.

3) Perubahan Sosial Berdasarkan Prosesnya

a) Perubahan yang direncanakan (planned change) yaitu perubahan yang dikehendaki melalui program-program tertentu. Perubahan ini dilakukan oleh pihak-pihak yang hendak mengubah kehidupan masyarakat menjadi lebih baik (agent of change).

b) Perubahan yang tidak direncanakan (unplanned change) yaitu perubahan yang terjadi tanpa perencanaan serta berlangsung di luar jangkauan pengawasan masyarakat. Perubahan jenis ini tidak selalu menimbulkan dampak negatif dalam masyarakat.

4) Perubahan Sosial Berdasarkan Sifat Perubahannya

a) Perubahan struktural (perubahan mendasar) yaitu perubahan dalam aspek kehidupan mendasar manusia sehingga timbul reorganisasi.

b) Perubahan proses (tidak mendasar) yaitu perubahan yang hanya

terjadi pada aspek pelaksanaan sistem. Perubahan ini bersifat tidak mendasar dan bertujuan memperbaiki sistem sebelumnya.

5) Perubahan Sosial Berdasarkan Caranya

a) Perubahan dengan cara kekerasan yaitu perubahan yang terjadi karena adanya kelompok yang menggunakan cara kekerasan untuk melakukan perubahan, misalnya kudeta.

b) Perubahan tanpa kekerasan yaitu perubahan yang mengutamakan cara-cara damai sebagai upaya mencapai tujuan perubahan. Perubahan ini dilakukan dengan cara menjalin hubungan sosial antarpihakyang ingin melakukan perubahan (agent of change) dengan masyarakat yang hendak diubah.

6) Perubahan Sosial Berdasarkan Perkembangannya

a) Perubahan progress yaitu perubahan yang membawa kemajuan bagi masyarakat. Perubahan progress merupakan perubahan yang dikehendaki oleh masyarakat.

b) Perubahan regress yaitu perubahan yang membawa kemunduran bagi masyarakat. Perubahan regress tidak menguntungkan sehingga termasuk perubahan yang tidak dikehendaki oleh masyarakat.

h. Dampak Perubahan Sosial

1) Dampak Positif Perubahan Sosial

Dampak positif perubahan sosial mengarah pada kemajuan (progress).

Dampak positif perubahan sosial sebagai berikut:

a) Terbentuk struktur sosial baru.

b) Kemudahan dalam menjalin komunikasi.

c) Kemajuan teknologi di berbagai bidang kehidupan.

d) Berkembangnya lembaga sosial baru dalam masyarakat.

e) Muncul nilai dan norma sosial baru sesuai perkembangan zaman.

f) Kemajuan di berbagai bidang kehidupan

g) Mendorong efisiensi dalam kehidupan masyarakat.

h) Terjadi peningkatan kesejahteraan masyarakat.

i) Mendorong integrasi sosial.

j) Terjadi transformasi politik.

2) Dampak Negatif Perubahan Sosial

Dampak negatif perubahan sosial mengarah pada kemunduran (regress).

Dampak negatif perubahan sosial sebagai berikut:

a) Terjadi kerusakan lingkungan.

b) Terjadi culture shock dan culture lag.

c) Terjadi disorientasi nilai dan norma sosial.

d) Muncul krisis di berbagai dimensi kehidupan.

e) Lembaga sosial tidak berfungsi secara optimal.

f) Terjadi konflik sosial (baik vertikal maupun horizontal).

g) Terjadi ketimpangan sosial.

h) Peningkatan tindak kriminalitas.

i) Muncul fenomena anomi sosial.

j) Muncul fenomena marginalisasi.

2. Modernisasi dan Globalisasi

Modernisasi dari kata modo yang berarti cara dan ernus berarti masa kini. Jadi proses menuju masa kini (proses menuju masyarakat modern). Menurut Wilbert E. Moore adalah proses transformasi total kehidupan bersama dalam IPTEK dan organisasi ke arah pola-pola ekonomis dan politis telah dilalui oleh negara barat. Modernisasi bisa bermacam-macam tergantung daerah atau kebutuhan.

Menurut Soerjono Soekanto (2002), modernisasi adalah bentuk perubahan sosial yang terencana. Menurut Astrid S. Susanto (1979), modernisasi adalah suatu proses pembangunan kearah perubahan demi kemajuan. Jadi modernisasi adalah proses perubahan sosial di masyarakat yang sedang memperbarui diri dan berusaha mendapatkan karakteristik yang dimiliki masyarakat modern. Modernisasi tidak sama dengan sekulerisasi (pemisahan antara nilai keagamaan dan kepentingan duniawi dengan penekanan pada kepentingan duniawi). Modernisasi pun bukan westernisasi yaitu meniru sikap para pelakunya/barat secara bulat-bulat.

Syarat modernisasi, menurut Soerjono Soekanto: 1) cara berpikir ilmiah; 2) ada sistem administrasi/data yang baik; 3) Penciptaan iklim yang menyenangkan terhadap modernisasi; 4) Tingkat organisasi yang tinggi, disiplin diri; dan 4) Sentralisasi wewenang

a. Ciri-ciri Manusia Modern

Ciri-ciri manusia modern setidaknya dapat diidentifikasi dari beberapa teori modernisasi berikut ini:

1) Teori Dorongan Berprestasi

Teori Dorongan Berprestasi atau The Need of Achievement (n-Ach) dikemukakan oleh David McClelland yang menjelaskan tentang hal yang paling penting untuk membuat suatu pekerjaan berhasil ialah sikap terhadap pekerjaan tersebut. Dorongan dalam berprestasi ini tidak hanya sekedar untuk meraih pencapaian material yang besar, namun terdapat pencapaian tersendiri yang berupa kepuasan batin seseorang di saat Ia berhasil menyelesaikan pekerjaannya dengan sempurna.

Dalam memupuk ‘n-Ach’ pada diri individu, peran orang tua menjadi sangat penting dimana dari kecil individu diberi pengertian bahwa orientasi materi dalam berprestasi adalah bersifat sekunder, dan kepuasan batin merupakan hal yang primer. Menurut McClelland, jika mayoritas masyarakat memiliki prinsip ‘n-Ach’ maka pertumbuhan ekonomi akan tinggi.

2) Teori Manusia Modern

Teori Manusia Modern dikemukakan oleh Alex Inkeles dan David H. Smith. Teori ini menekankan tentang pentingnya manusia sebagai komponen penting dalam menopang pembangunan, Inkeles menyebutnya Manusia Modern. Dalam buku Becoming Modern dipaparkan ciri-ciri manusia modern adalah:

a) Keterbukaan terhadap pengalaman dan ide baru

b) Berorientasi di masa sekarang dan masa depan

c) Memiliki kemampuan dalam hal perencanaan

d) Percaya bahwa manusia dapat menguasai alam dan tidak sebaliknya Dengan memberikan lingkungan yang tepat, setiap individu dapat diubah menjadi manusia modern setelah memasuki masa dewasa. Pendidikan adalah faktir paling efektif untuk mengubah individu serta faktor pengalaman kerja di lembaga modern.

3) Teori Pembangunan

Menurut Walt Wiltman Rostow, dalam pembangunan terdapat 5 tahap yang berada pada 1 (satu) garis lurus secara hierarkis, yaitu:

a) Masyarakat tradisional; Pada tahap ini, masyarakat masih tunduk terhadap alam, produksi masih terbatas, sifat masyarakat masih statis.

b) Prakondisi untuk lepas landas; Meski pembangunan terbilang sangat lambat namun proses tetap berjalan. Segala usaha peningkatan produksi mulai berjalan.

c) Lepas landas; pada tahapan ini hambatan-hambatan dalam proses pertumbuhan ekonomi mulai tersingkirkan.

d) Bergerak ke kedewasaan; Setelah melalui tahap lepas landas, pembangunan masih tetap berjalan meski terkadang mengalami pasang surut, industri mulai berkembang pesat, dan segala kebutuhan yang sebelumnya menggunakan proses impor mulai berkurang karena fokus pada produksi sendiri.

e) Konsumsi massal tinggi; Efek dari kenaikan pendapatan masyarakat, kebutuhan yang bersifat pokok meningkat ke hal yang lebih tinggi. Pada tahap ini pembangunan merupakan proses yang berkesinambungan serta dapat menopang kemajuan secara terus menerus.

b. Dampak Modernisasi

1) Disorganisasi sosial. Proses memudarnya atau melemahnya nilai sosial. Penerimaan maupun penolakan modernisasi yang telah ada dan unsur- unsur tertentu dari modernisasi dapat digantikan dengan unsur-unsur yang baru.

2) Kesenjangan budaya dan disintegrasi sosial Perubahan sosial yang terjadi dalam masyarakat dapat menimbulkan ketidakseimbangan (disequilibrium) hubungan-hubungan sosial. Ada unsur yang berubah cepat dan ada yang lambat.

c. Perubahan Sosial di Tengah Pengaruh Globalisasi

Globalisasi menyebabkan penduduk dunia tergabung dalam masyarakat

dunia yang disebut masyarakat global. Fenomena masyarakat global dapat dilihat pada komunitas/masyarakat yang berinteraksi dengan teknologi informasi modern, misalnya internet.

Dengan teknologi modern, globalisasi semakin berkembang cepat. Perkembangan globalisasi ditandai dengan semakin mudahnya individu/kelompok/negara melakukan interaksi sosial dengan individu/kelompok/negara lain. Globalisasi menyebabkan perubahan di berbagai aspek kehidupan masyarakat seperti berikut:

1) Kehidupan Sosial

Masuknya unsur-unsurdari masyarakat atau negara lain menyebabkan perubahan pada unsur-unsur masyarakat. Misalnya, masuknya ideologi baru sebagai bagian dari proses modernisasi.

2) Gaya Hidup

Globalisasi membawa pengaruh besar dalam gaya hidup masyarakat. Sebagai contoh, globalisasi menyebabkan berkembangnya perilaku konsumtif masyarakat yang dipengaruhi persaingan pasar, modernisasi, dan westernisasi.

3) Kemajuan llmu Pengetahuan dan Teknologi

Hubungan antarbangsa menyebabkan suatu negara memperkenalkan, menyalurkan ilmu pengetahuan, dan menunjukkan hasil discovery-nya kepada negara lain. Akibatnya, negara lain dapat mengadopsi serta mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi tersebut. Kondisi tersebut menyebabkan ilmu pengetahuan dan tenologi suatu negara mengalami perkembangan.

4) Kesenian dan Kebudayaan

Globalisasi mempermudah suatu negara untuk memperkenalkan budaya daerahnya kepada negara lain. Globalisasi juga menyebabkan budaya suatu negara diadaptasi oleh negara lain. Sebagai contoh, pemerintah Indonesia memperkenalkan budaya khas daerah kepada masyarakat dunia. Upaya memperkenalkan budaya daerah kepada masyarakat dunia diharapkan dapat meningkatkan jumlah wisatawan asing yang berkunjung ke Indonesia.

d. Tanggapan Masyarakat terhadap Globalisasi

Reaksi masyarakat terhadap globalisasi dapat dibagi menjadi dua kelompok, yaitu proglobalisasi dan antiglobalisasi

1) Proglobalisasi.

Orang-orang atau kelompok yang mendukung globalisasi sering disebut proglobalisasi. Kalangan ini meyakini globalisasi dapat mendorong kesejahteraan perekonomian dunia. Gerakan proglobalisasi menginginkan adanya sistem perdagangan bebas. Setiap negara akan bersaing menciptakan barang dengan harga murah sehingga dapat meningkatkan permintaan dan kemakmuran.

2) Antiglobalisasi.

Kelompok atau orang-orang menentang globalisasi disebut gerakan antiglobalisasi. Gerakan ini menentang perjanjian perdagangan global seperti menentang keberadaan organisasi perdagangan dunia (World Trade Organization/WTO). Bagi kelompok antiglobalisasi, perdagangan bebas hanya akan menimbulkan berbagai permasalahan sosial. Gerakan antiglobalisasi melihat bahwa globalisasi berdampak pada pergeseran pola pikir/ide masyarakat, gaya hidup, tradisi atau adat istiadat, kesenian, dan peralatan tradisional.

e. Globalisasi dan Dampaknya

Menurut Elly M. Setiadi dan Usman Kolip (2011), globalisasi merupakan istilah yang berhubungan dengan peningkatan keterkaitan antarbangsa dan antarmanusia di seluruh dunia melalui perdagangan, investasi, perjalanan, budaya populer, jaringan komunikasi, serta bentuk-bentuk interaksi yang lain. Ciri-ciri globalisasi menurut Djaya (2012) sebagai berikut:

1) Meningkatnya interaksi yang melintasi batas- batas negara.

2) Terdapat persepsi diri yang bersifat transnasional di berbagai ranah seperti media massa, budaya, dan pariwisata.

3) Semakin tidak terikatnya komunitas, tenaga kerja, dan modal dalam satu wilayah.

4) Meningkatnya kepedulian terhadap bahaya ekologi global dan tindakan yang diambil untuk mengatasinya.

5) Industri kebudayaan global berkembang pesat.

6) Meningkatnya kekuasaan aktor, institusi, dan kesepakatan transnasional.

Globalisasi tidak dapat dipisahkan dari perkembangan teknologi. Melalui teknologi, manusia mampu mengakses segala kebutuhan secara lebih mudah. Misalnya, manusia dapat berinteraksi dengan orang lain yang berada di tempat berbeda. Melakukan perjalanan ke negara lain, atau melakukan transaksi/ perdagangan lintas negara.

Globalisasi dapat berdampak positif ataupun negatif bagi kehidupan masyarakat. Dampak-dampak globalisasi tersebut sebagai berikut:

1) Dalam Bidang Ekonomi

Dampak positif globalisasi dalam bidang ekonomi, antara lain:

a) Memperluas pangsa pasar bagi produksi dalam negeri.

b) Menambah cadangan devisa negara.

c) Negara dapat memenuhi kebutuhan hidup rakyat melalui perdagangan internasional.

d) Terjadi transfer teknologi dari negara maju.

Dampak negatif globalisasi dalam bidang ekonomi, antara lain:

a) Pilihan barang yang beragam mendorong masyarakat cenderung konsumtif.

b) Meningkatkan ketergantungan terhadap investasi asing.

c) Industri kecil kalah bersaing dengan industri besar (dominasi produk asing semakin kuat).

2) Dalam Bidang Politik

Dampak positif globalisasi dalam bidang politik, antara lain:

a) Mendorong pemerintah mewujudkan good governance

b) Meningkatkan hubungan diplomatik antarnegara.

c) Meningkatkan dukungan/partisipasi aktif untuk menciptakan perdamaian dunia.

Dampak negatif globalisasi dalam bidang politik, antara lain:

a) Negara cenderung mengikuti perkembangan kenegaraan yang dianut banyak negara di dunia sebagai kesepakatan negara-negara

dunia yang tergabung dalam satu badan internasional.

b) Kebijakan yang telah disepakati secara internasional sering tidak sesuai ideologi suatu negara.

c) Pergolakan politik negara berpotensi muncul lebih besar.

3) Dalam Bidang Sosial Budaya

Dampak positif globalisasi dalam bidang sosial budaya, antara lain:

a) Masyarakat dapat mengenal berbagai kebudayaan asing.

b) Kehidupan masyarakat semakin maju.

c) Budaya lokal/daerah mulai dikenal dunia.

Dampak negatif globalisasi dalam bidang sosial budaya, antara lain:

a) Etnosentrisme yaitu sikap memandang budayanya lebih baik (superior) daripada budaya lain.

b) Culture shock yaitu masyarakat merasa gagap/tidak siap terhadap budaya baru yang muncul.

c) Culture lag atau ketimpangan budaya yaitu perbedaan tingkat kemajuan antarunsur kebudayaan dalam masyarakat.

f. Berbagai Permasalahan Sosial Akibat Pengaruh Globalisasi 

Globalisasi diibaratkan memiliki dua sisi yang saling bertolak belakang. Satu sisi menjanjikan kemajuan bagi kehidupan masyarakat. Di sisi lain globalisasi menyebabkan munculnya permasalahan sosial. Adapun beberapa per- masalahan sosial yang muncul akibat globalisasi sebagai berikut.

1) Kerusakan Lingkungan

Secara umum globalisasi memang bukan penyebab utama kerusakan lingkungan. Meskipun demikian, globalisasi memiliki andil dalam mengglobalkan perdagangan internasioanal, industrialisasi, dan budaya konsumtif yang tidak ramah lingkungan. Permasalahan muncul ketika manusia tidak mampu mengontrol aktivitas dan pemanfaatan sumber daya. Meningkatnya pertumbuhan perusahaan multinasional yang berusaha mengembangkan usahanya di negara-negara berkembang mendorong eksploitasi sumber daya. Dalam praktiknya banyak industri yang kurang menunjukkan kepedulian terhadap dampak yang ditimbulkan oleh aktivitas mereka. Adapun dampak aktivitas tersebut yaitu muncul persoalan lingkungan seperti pencemaran tanah, air, dan udara.

2) Budaya Populer

Budaya populer merupakan tren yang sengaja diciptakan supaya dikonsumsi atau digemari masyarakat. Budaya populer mendorong keseragaman budaya di seluruh dunia. Konsumsi budaya populer semakin berkembang dan diterima masyarakat melalui peran media massa. Ciri-ciri suatu budaya popular adalah sebagai berikut:

a) Adanya tren dan tingkat kesukaan publik yang tinggi.

b) Tingkat pemahaman yang mudah diingat dan mudah dimengerti.

c) Mudah diadaptasi dan diterima oleh masyarakat.

d) Bersifat momentum atau tidak bertahan lama. Umumnya beberapa budaya populer mudah dilupakan setelah sekian lama menjadi tren.

e) Mengandung unsur profit atau memiliki nilai keuntungan, contoh budaya dari suatu negara digemari oleh negara-negara lain. K-Pop, J- Pop, dan maraknya swafoto (selfie) menunjukkan berkembangnya budaya populer.

3) Neokolonialisme

Neokolonialisme merupakan cerminan negara berdaulat dan merdeka, tetapi sistem ekonomi dan politiknya ditentukan oleh pihak luar. Walaupun dari segi politik era kolonial sudah berakhir, penjajah masih berkuasa di berbagai bidang kehidupan dalam bentuk neokolonialisme. Globalisasi mendorog negara maju untuk melakukan intervensi di negara berkembang. Bentuk intervensi tersebut mencakup bidang ekonomi, sosial, politik, budaya, hingga pertahanan.

Beberapa permasalahan lain yang sering muncul akibat neokolonialisme di antaranya sebagai berikut:

a) Negara berkembang hanya memperoleh sebagian kecil dari keuntungan industri.

b) Eksploitasi sumber daya alam meningkat sehingga terjadi kerusakan lingkungan, terutama di negara-negara berkembang.

c) Paham kapitalis tidak hanya terjadi di sektor ekonomi tetapi mulai berpengaruh pada sektor politik.

4) Konsumerisme

Konsumerisme menunjukkan perilaku konsumtif, yaitu membeli barang atau jasa dengan lebih mengutamakan keinginan daripada kebutuhan. Perilaku konsumtif dipengaruhi gaya hidup western, tuntutan gaya hidup, serta akibat persaingan antara produsen lokal dan produsen internasional dalam menawarkan produknya. Persaingan antarprodusen mendorong munculnyatawaran berupa diskon kepada konsumen. Kondisi tersebut memengaruhi konsumen untuk berperilaku konsumtif. Selain diskon, masyarakat yang terjebak perilaku konsumerisme karena memiliki sikap pandang tertentu. Sikap pandang tersebut antara lain:

1) Kekinian. Seseorang mengonsumsi sesuatu karena produk tersebut sedang tren dan digandrungi oleh masyarakat.

2) Keinginan. Seseorang cenderung mengonsumsi sesuatu hanya karena keinginan, bukan didasarkan atas kebutuhan.

3) Prestise. Seseorang mengonsumsi sesuatu didasarkan atas rasa gengsi atau martabat ketika mengonsumsi produk tersebut.

g. Tantangan Masa Depan Bangsa dalam Menghadapi Globalisasi Globalisasi menjadi tantangan apabila disikapi secara optimis. Tantangan globalisasi meliputi berbagai bidang, sebagai berikut:

1) Ekonomi

Di bidang ekonomi, globalisasi mendorong munculnya berbagai pangsa pasar baru sehingga dapat dijadikan lahan basah bagi masyarakat untuk berwirausaha. Meskipun demikian, perlu diwapadai bahwa tantangan pada sistem pasar bebas menuntut adanya persaingan produk-produk agar mampu diterima pasar dunia. Oleh karena itu, globalisasi mendorong persaingan agar setiap pihak mampu menunjukkan potensi terbaik yang dimiliki. Ketika pelaku ekonomi dalam negeri tidak mampu bersaing dampak yang timbul yaitu bidang ekonomi didominasi oleh pihak asing.

2) Politik

Seiring perkembangan zaman, praktik perpolitikan menjadi lebih demokratif dan transparan sehingga dapat dipantau oleh masyarakat. Meskipun demikian, perlu diwaspadai bahwa kegiatan kerja sama dengan

negara maju berpengaruh terhadap kondisi politik di negara berkembang. Sebagai contoh, adanya intervensi dari negara maju mengenai kebijakan politik di negara berkembang.

3) Budaya

Globalisasi menyebabkan pertukaran budaya semakin mudah dan cepat. Bangsa Indonesia dikenal sebagai bangsa ramah dan terbuka dengan budaya lain. Akan tetapi, sikap yang kurang bijak dan selektif terhadap pengaruh budaya lain dapat menyebabkan lunturnya budaya Indonesia. Masyarakat menganggap bahwa budaya dari luar negeri merupakan representasi dari budaya modern yang perlu diikuti. Padahal dalam kenyataannya anggapan tersebut tidak tepat.

4) Lingkungan

Globalisasi mendorong tersebarnya perusahaan multinasional. Kegiatan produksi perusahaan multinasional yang tidak memperhatikan kelestarian lingkungan dapat menyebabkan kerusakan lingkungan, misalnya terjadi pencemaran, kebakaran, dan pembabatan hutan. Kerusakan lingkungan tersebut didorong oleh banyaknya pembukaan lahan hijau untuk dijadikan kawasan industri dan rendahnya kesadaran amdal oleh perusahaan.

h. Sikap Kritis dalam Menghadapi Globalisasi

Globalisasi sebagai tantangan dapat memberi manfaat bagi kehidupan masyarakat apabila disikapi secara kritis. Adapun sikap kritis dalam menghadapi globalisasi sebagai berikut.

1) Meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM).

2) Berpegang teguh pada niiai dan norma sosial.

3) Menumbuhkan sikap bangga terhadap identitas bangsa Indonesia.

4) Mewujudkan glokalisasi produk-produk lokal agar diminati masyarakat dalam negeri maupun mancanegara.

5) Meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan terkait berbagai permasalahan akibat kerusakan lingkungan.

3. Masalah Sosial

Kartini Kartono mendefinisikan permasalahan sosial sebagai bentuk tingkah laku yang melanggar adat istiadat masyarakat. Sebagian besar masyarakat menganggap permasalahan sosial mengganggu, tidak dikehendaki, berbahaya, dan merugikan banyak orang. Oleh karena itu, permasalahan sosial tidak diharapkan masyarakat.

a. Bentuk Permasalahan Sosial

Permasalahan sosial dibedakan menjadi dua bentuk sebagai berikut.

1) Manifest social problem merupakan masalah sosial yang dampaknya langsung dirasakan masyarakat.

2) Latent social problem merupakan masalah sosial yang tidak tampak (tersembunyi) sehingga dampaknya tidak langsung dirasakan masyarakat

b. Faktor Penyebab Munculnya Permasalahan Sosial

Permasalahan sosial dalam masyarakat dipengaruhi oleh beberapa faktor berikut.

1) Faktor biologis merupakan penyebab permasalahan sosial yang berkaitan dengan gangguan fisik atau penyakit tertentu.

2) Faktor ekonomi merupakan penyebab permasalahan sosial yang berkaitan dengan pendapatan, kekayaan, dan upaya pemenuhan kebutuhan hidup.

3) Faktor psikologis merupakan penyebab permasalahan sosial yang berkaitan dengan gangguan kejiwaan seseorang.

4) Faktor budaya menunjukkan latar belakang terjadinya permasalahan sosial berkaitan dengan unsur-unsur nilai dan norma sosial seperti adat istiadat dan kebiasaan di lingkungan masyarakat.

c. Contoh Permasalahan Sosial

Beberapa contoh permasalahan sosial dalam masyarakat sebagai berikut.

1) Kenakalan Remaja

Kenakalan remaja merupakan perilaku menyimpang yang dilakukan oleh remaja. Contoh kenakalan remaja yaitu perkelahian, tawuran, penyalahgunaan narkoba dan miras.

2) Delinkuensi Anak

Delinkuensi anak merupakan penyimpangan sosial yang dianggap

melanggar nilai dan norma masyarakat. Delinkuensi anak dapat terjadi karena faktor dari dalam dan faktor dari luar. Delinkuensi anak dapat berupa keterlibatan anak dalam aktivitas yang bertentangan dengan nilai dan norma. Penyimpangan sosial juga dapat dilakukan secara individu.

3) Kemiskinan

Menurut Soerjono Soekanto (2002), kemiskinan merupakan suatu keadaan ketika seseorang tidak mampu memelihara dirinya sendiri sesuai taraf kehidupan kelompok. Adapun salah satu parameter kemiskinan yaitu ketidakmampuan seseorang mencukupi kebutuhan primer.

4) Tindak Kriminal

Tindak kriminal merupakan perilaku melanggar norma hukum. Pelaku tindak kriminal akan mendapat hukuman berupa denda dan pidana. Contoh tindak kriminal yaitu pencurian, pembunuhan, dan korupsi.

5) Kesenjangan Sosial

Jika ditinjau dari teori sistem sosial yang dikemukakan Talcott Parsons, kesenjangan sosial merupakan ketidaksesuaian antara realitas sosial dan fungsi dalam sistem sosial. Kesenjangan sosial dapat muncul akibat terganggunya keseimbangan sistem sosial.

6) Cyber Crime

Cyber crime merupakan tindak kejahatan yang terjadi di dunia maya melalui koneksi internet. Kejahatan di dunia maya dapat berbentuk penipuan online, cyberbullying, penipuan kartu kredit, pornografi, atau peretasan situs-situs penting.

7) Penyimpangan Seksual

Penyimpangan seksual dianggap melanggar nilai dan norma sosial serta dapat menimbulkan permasalahan. Adapun bentuk-bentuk penyimpangan seksual di antaranya pedofilia, eksibisionisme, fetisisme dan LGBTQ.

d. Dampak Permasalahan Sosial

Dampak permasalahan sosial dalam masyarakat sebagai berikut.

1) Meningkatnya Angka Kriminalitas

Kasus kriminalitas seperti begal, jambret, dan pencurian yang tidak segera ditangani dapat meningkatkan angka kriminalitas. Meningkatnya angka

kriminalitas menimbulkan keresahan dan menjadi ancaman bagi masyarakat.

2) Konflik Sosial

Permasalahan sosial dapat menyebabkan konflik sosial apabila tidak segera diatasi secara optimal. Permasalahan yang menimbulkan konflik sosial antara lain tawuran pelajar, demo buruh menuntut kenaikan UMR, dan tuntutan warga terhadap pemerintah mengenai kenaikan BBM.

3) Kenyamanan dan Keamanan Terganggu

Permasalahan sosial seperti tawuran pelajar, begal, geng motor, masalah sampah, hingga banjir dapat mengganggu kehidupan masyarakat. Masyarakat tidak dapat hidup tenang karena terancam dan terganggu.

4) Menimbulkan Kerusakan Fisik

Beberapa permasalahan sosial seperti tawuran dan vandaiisme menyebabkan rusaknya fasilitas umum yang berguna bagi masyarakat. Selain itu, tawuran dapat menimbulkan kerusakan fisik berupa Iuka- Iuka dan hingga jatuh korban jiwa.

e. Upaya Pemecahan Permasalahan Sosial

Permasalahan sosial dalam masyarakat harus segera diatasi. Beberapa permasalahan sosial dapat memicu konflik apabila tidak segera diatasi. Upaya pemecahan permasalahan sosial antara lain sebagai berikut:

1) Mempertegas Sanksi Sosial bagi Para Pelanggar

Pemberian sanksi tegas kepada pelaku yang melanggar peraturan merupakan upaya represif untuk mengatasi permasalahan sosial. Pemberian sanksi disesuaikan dengan tindakan yang dilakukan oleh pelaku.

2) Mensosialisasikan Nilai dan Norma Sosial

Permasalahan sosial dapat dicegah melalui upaya preventif. Upaya preventif dapat dilakukan dengan menyosialisasikan nilai dan norma sosial secara intensif.

3) Menyediakan Modal Usaha

Pemberian bantuan modal usaha melalui sistem pendampingan dan pemantauan  dapat  menyelesaikan  masalah  kemiskinan  dan pengangguran. Bantuan modal usaha juga diharapkan dapat membuka lapangan usaha mandiri dan meningkatkan perekonomian rakyat.

d. Meningkatkan Pemerataan Pembangunan dan Pendidikan Pemerataan pembangunan bertujuan mengurangi tingkat kesenjangan sosial. Pemerataan pembangunan dapat menciptakan perekonomian masyarakatyang semakin baik. Pembangunan juga penting untuk meningkatkan pendapatan ekonomi per kapita.

f. Ketimpangan Sosial dan Kemiskinan

Ketimpangan sosial merupakan konsekuensi dari stratifikasi sosial. Ketimpangan Sosial atau Ketidaksetaraan Sosial merupakan satu konsep tentang posisi seseorang atau sekelompok orang yang tidak sama dibandingkan seseorang atau sekolompok orang lainnya. Ketimpangan sosial ini lebih terlembagakan (institutionalized inequality) daripada bersifat individual. Bentuknya bisa ketidaksetaraan yang terstruktur antara kategori individu yang diciptakan secara sistematis, direproduksi, dilegitimasi oleh seperangkat ide dan relatif bersifat stabil (Hurst, 2010: 4). Di dalam perspektif sosiologi, ketimpangan sosial tidak dilihat dari individu per individu, tetapi bagaimana satu lapisan sosial dengan jumlah sedikit dan tidak proporsional menentukan nasib orang yang lebih banyak.

Ketimpangan sosial kerap dipandang sebagai kegagalan dari pembangunan yang mengejar pertumbuhan di sektor ekonomi dan mengabaikan perkembangan di sektor sosial. Ketimpangan sosial ditandai dengan ketidaksetaraan peluang atau penghargaan untuk posisi sosial yang berbeda atau status sosial yang berbeda. Ketimpangan sosial disebabkan karena adanya distribusi kesempatan yang tidak sama. Hal ini yang melandasi ketimpangan sosial menjadi sebuah masalah sosial.

Untuk mencermati ketimpangan ekonomi atau pendapatan, sekaligus melihat pemerataan distribusniya, Corrado Gini (1912), seorang statistik Italia mengembangkan rumus Koefisien Gini. Dengan rumus tersebut, pada prinsip bila angka koefisien Gini mendekati angka 0, maka tidak ada ketimpangan atau terjadi pemerataan pendapatan. Sebaliknya, bila angka koefisien mendekati angka 1, maka ada ketimpangan pendapatan.

1) Faktor Penyebab Ketimpangan Sosial

Faktor penyebab ketimpangan sosial dapat dinilai dari dua faktor, yakni faktor struktural dan faktor kultural.

a) Faktor Struktural

Faktor struktural merupakan kebijakan yang diambil oleh pemerintah dalam menangani masyarakat, baik yang bersifat legal, formal, maupun dalam pelaksanaan kebijakannya.

b) Faktor Kultural

Faktor kultural sebagai energi penggerak kehidupan masyarakat. Hal itu berkaitan dengan karakter masyarakat dalam melaksanakan kehidupannya. Dalam hal ini, kultur masyarakat berkaitan dengan nilai-nilai yang dianut oleh suatu masyarakat. Jadi, faktor kultur sangatlah penting untuk dibenahi agar dapat menciptakan nilai-nilai produktif dalam mengatasi ketimpangan sosial sehingga terjadi keadilan sosial.

Poverty Global Practice World Bank (2018) lewat laporan bertajuk Indonesia’s Rising Divide menyebutkan empat hal yang mendorong ketimpangan di Indonesia adalah:

(1) Ketimpangan kesempatan yang memperkecil peluang sukses anak-anak dari keluarga miskin. Akibatnya mereka tak mampu mengakses hal-hal yang memungkinkannya punya kecakapan (skill) yang dibutuhkan pasar dan kehilangan kesempatan mendapat pekerjaan bergaji bagus.

(2) Ketimpangan upah dalam dunia kerja. Pasar kerja kini dipenuhi oleh tenaga kerja, baik terampil atau tidak. Mereka yang punya kecakapan tinggi akan digaji besar sekali. Sebaliknya, yang kurang cakap dan belum punya kesempatan untuk mengembangkan diri akan terjebak dalam pekerjaan informal, bergaji kecil, dan kurang produktif.

(3) Konsentrasi kekayaan yang tinggi. Semakin terpusatnya kekayaan di tangan segelintir orang berarti pendapatan dari aset keuangan dan fisik juga mendorong ketimpangan semakin tinggi.

(4) Ketahanan ekonomi yang rendah. Apabila terjadi guncangan ekonomi atau politik hingga menyebabkan krisis moneter atau PHK, maupun terjadi bencana alam, orang kaya tidak akan kesulitan mengatasi masalah. Sebaliknya, rumah tangga yang tergolong miskin dan rentan miskin, akan rentan ambruk pula jika terjadi guncangan ekonomi, kesehatan, sosial, politik, dan bencana alam.

2) Dampak Ketimpangan Sosial

Hurst (2010) menggambarkan bagaimana dampak ketimpangan sosial tidak saja terjadi di masyarakat, tetapi juga berakibat hingga di tingkat individu. Di masyarakat, kekurangan akses atau eksklusi sosial terhadap kelompok yang kurang beruntung akan memaksa melakukan tindakan kriminal.

Ketimpangan berpengaruh di dalam keluarga. Akibatnya adalah kekerasan terhadap pasangan dan anak. Budaya patriaki yang mendudukan laki-laki pada posisi yang lebih tinggi sering mengakibatkan kekerasan terhadap perempuan dan anak.

Ketimpangan berpengaruh terhadap kesehatan. Angka gizi buruk (stunting) menunjukkan kekurangan asupan gizi pada anak balita, sekaligus menunjukkan perhatian yang kurang terhadap kesehatan anak.

Tingginya ketimpangan sosial dapat menimbulkan dampak sosial yang memperparah konflik. Ketika masyarakat menyadari adanya jurang pendapatan dan kekayaan, maka potensi ketegangan sosial dan ketidakrukunan sangat mungkin terjadi dengan tingkat ketimpangan lebih tinggi dari rata-rata di Indonesia memiliki rasio konflik 1,6 kali lebih besar dibandingkan daerah dengan tingkat ketimpangan lebih rendah.

Poverty Global Practice (2018) menyatakan bahwa kebijakan publik dapat membantu Indonesia memutus siklus ketimpangan antargenerasi. Bank Dunia merekomendasikan empat tindakan utama, yaitu:

a) Memperbaiki pelayanan publik di daerah

Kunci utama agar generasi berikutnya mendapatkan awal yang lebih baik adalah peningkatan pelayanan publik di daerah, sehingga dapat

memperbaiki peluang kesehatan, pendidikan dan keluarga berencana bagi semua orang.

b) Menciptakan lapangan pekerjaan yang lebih baik dan peluang melatih keterampilan bagi tenaga kerja

Program pelatihan keterampilan dapat meningkatkan daya saing pekerja yang tidak sempat mengenyam pendidikan berkualitas. Selain itu, Pemerintah dapat membantu menciptakan pekerjaan-pekerjaan yang lebih baik melalui investasi lebih besar di infrastruktur, iklim investasi yang lebih kondusif dan perundang-undangan yang tidak terlalu kaku.

c) Memastikan perlindungan dari guncangan

Kebijakan pemerintah dapat mengurangi frekuensi dan keparahan guncangan, selain juga memberikan mekanisme penanggulangan untuk memastikan bahwa semua rumah tangga memiliki akses ke perlindungan memadai jika guncangan melanda

d) Menggunakan pajak dan anggaran belanja pemerintah

Kebijakan fiskal yang berfokus pada peningkatan belanja pemerintah di bidang infrastruktur, kesehatan dan pendidikan, bantuan sosial dan jaminan sosial. Merancang sistem perpajakan yang lebih adil dengan memperbaiki sejumlah peraturan perpajakan yang saat ini mendukung terpusatnya kekayaan di tangan segelintir orang.

3) Dimensi Kemiskinan

Menurut definisi Bank Dunia, kemiskinan adalah kelaparan. Kemiskinan adalah ketiadaan tempat tinggal. Kemiskinan adalah sakit dan tidak mampu untuk periksa ke dokter. Kemiskinan adalah tidak mempunyai akses ke sekolah dan tidak mengetahui bagaimana caranya membaca. Kemiskinan adalah tidak mempunyai pekerjaan dan khawatir akan kehidupan di masa yang akan datang. Kemiskinan adalah kehilangan anak karena penyakit yang disebabkan oleh air yang tidak bersih. Kemiskinan adalah ketidakberdayaan, ketiadaaan keterwakilan dan kebebasan.

Kemiskinan Absolut (absolut poverty) mengacu pada tingkat minimum subsisten bahwa tidak ada keluarga yang harus diharapkan untuk hidup di bawah. Salah satu yang digunakan alat ukur untuk kemiskinan absolut adalah garis kemiskinan pemerintah, jumlah penghasilan berupa uang yang biasanya dihitung setiap tahun kencerminkan kebutuhan konsumsi keluarga berdasarkan ukuran dan komposisi Garis kemiskinan berfungsi sebaga definisi resmi orang miskin. Dalam hal ini Badan Pusat Statistik (BPS) memberi patokan sebagai orang yang dikatakan miskin melalui kriteria berikut ini dengan persyaraatan Jika minimal 9 (sembilan) variabel terpenuhi maka suatu rumah tangga bisa dikatakan miskin, yaitu:

(1) Luas lantai bangunan tempat tinggal kurang dari 8m2 per orang

(2) Jenis lantai tempat tinggal terbuat dari tanah/bambu/kayu murahan

(3) Jenis dinding tempat tinggal dari bambu/ rumbia/ kayu berkualitas rendah/tembok tanpa diplester.

(4) Tidak memiliki fasilitas buang air besar/ bersama rumah tangga lain.

(5) Sumber penerangan rumah tangga tidak menggunakan listrik.

(6) Sumber air minum dari sumur/mata air tidak terlindung/sungai/ air hujan.

(7) Bahan bakar untuk memasak sehari-hari adalah kayu bakar/arang/ minyak tanah

(8) Hanya mengkonsumsi daging/ susu/ ayam dalam satu kali seminggu.

(9) Hanya membeli satu stel pakaian baru dalam setahun

(10) Hanya sanggup makan sebanyak satu/ dua kali dalam sehari

(11) Tidak sanggup membayar biaya pengobatan di puskesmas/ poliklinik

(12) Sumber penghasilan kepala rumah tangga adalah: petani dengan luas lahan 500m2, buruh tani, nelayan, buruh bangunan, buruh perkebunan dan atau pekerjaan lainnya dengan pendapatan dibawah Rp. 600.000,- per bulan

(13) Pendidikan kepala rumah tangga: tidak sekolah/ tidak tamat SD/ tamat SD.

(14) Tidak memiliki tabungan/ barang yang mudah dijual dengan minimal Rp. 500.000,- seperti sepeda motor kredit/ non kredit, emas, ternak, kapal motor, atau barang modal lainnya.

Sebaliknya, Kemiskinan relatif adalah kemiskinan yang tidak berhubung dengan garis kemiskinan, kemiskinan jenis ini berasal dari pandangan masing- masing orang, yaitu sebab orang itu merasa miskin.

Kuntjoro (2003) menyebutkan faktor-faktor terjadinya kemiskinan adalah sebagai berikut :

(1) Secara makro, kemiskinan muncul karena adanya ketidaksamaan nilai kepemiikan sumber daya yang menimbulkan distribusi pendapatan timpang, penduduk miskin hanya memiliki sumber daya dalam jumlah yang terbatas dan kualitasnya rendah.

(2) Kemiskinan muncul akibat perbedaan kualitas sumber daya manusia karena kualitas sumber daya manusia yang rendah berarti produktivitas juga rendah, upahnya pun juga rendah.

(3) Kemiskinan muncul sebab perbedaan dan ketertiadaan akses manusia mempunyai keterbatasan (bahkan tidak ada) pilihan untuk mengembankan hidupnya kecuali menjalankan apa yang terpaksa saat ini yang dapat dilakukan (bukan apa yang seharusnya dilakukan). Dengan demikian manusia mempunyai keterbatasan dalam melakukan pilihan. Akibatnya potensi manusia untuk mengembangkan hidupnya menjadi terhambat.

4) Kemiskinan Struktural dan Kemiskinan Kultural

Menurut Soemardjan (1984) kemiskinan struktural adalah kemiskinan yang diderita oleh suatu golongan masyarakat karena struktur sosial masyarakat ini tidak dapat ikut menggunakan sumber-sumber pendapatan yang sebenarnya tersedia bagi mereka.

Kemiskinan struktural sebenarnya sangat terkait dengan interaksi antara birokrasi (pemerintah) dengan inisiatif dari masyarakat, termasuk golongan yang miskin.

Konsep kemiskinan kultural pertama kali diungkapkan oleh Oscar Lewis. Menurut Lewis dalam (Palikhah, 2016) bahwa kemiskinan dapat muncul sebagai akibat nilai-nilai dan kebudayaan yang dianut oleh kaum miskin itu sendiri. Menurut Lewis, kemiskinan tidak hanya dilihat sebagai persoalan ekonomi saja namun juga dilihat sebagai cara hidup atau kebudayaan Budaya kemiskinan merupakan suatu cara yang dipakai oleh orang miskin untuk beradaptasi dan bereaksi terhadap posisi mereka yang marginal dalam masyarakat yang memiliki kelas-kelas dan bersifat individualistik dan kapitalistik. Budaya kemiskinan ini kemudian mendorong terwujudnya sikap- sikap menerima nasib, meminta-minta atau mengharapkan bantuan atau sedekah yang sebenarnya merupakan suatu bentuk adaptasi yang rasional dan cukup pandai dalam usaha mengatasi kemiskinan yang mereka hadapi.

5) Perangkap Kemiskinan

Kemiskinan terkandung dalam perangkap kemiskinan. Perangkap kemiskinan itu sendiri adalah suatu kondisi atau situasi dimana seseorang tidak mencoba dan tidak bisa atau tidak merasa terdorong untuk keluar dari kemiskinan. Menurut Robert Chambers dalam (Suyanto, 2013) unsur-unsur dalam perangkap kemiskinan adalah kekurangan materi, kerentanan, kelemahan jasmani, ketidakberdayaan dan derajat isolasi. Kelima unsur perangkap kemiskinan tersebut oleh Chambers disebut sebagai sebuah lingkaran setan yang mana antara unsur yang satu dengan yang lain saling berkaitan.

Secara umum, strategi yang dapat dijalankan untuk menanggulangi kemiskinan adalah:

(1) Membuka peluang dan kesempatan berusaha bagi orang miskin untuk berpartisipasi dalam proses pembangunan ekonomi.

(2) Kebijakan dan program untuk memberdayakan kelompok miskin. Kemiskinan memiliki sifat multidimensional, maka penanggulangannya tidak cukup hanya dengan mengandalkan pendekatan ekonomi, akan tetapi juga mengandalkan kebijakan dan program di bidang sosial, politik, hukum dan kelembagaan.

(3) Kebijakan dan Program yang melindungi kelompok miskin. Kelompok masyarakat miskin sangat rentan terhadap goncangan internal (misalnya kepala keluarga meninggal, jatuh sakit, kena PHK) maupun goncangan eksternal (kehilangan pekerjaan, bencana alam, konflik sosial), karena tidak memiliki ketahanan atau jaminan dalam menghadapi goncangan-goncangan tersebut.

(4) Kebijakan dan Program untuk memutus pewarisan kemiskinan antar generasi; hak anak dan peranan perempuan. Kemiskinan seringkali diwariskan dari generasi ke generasi berikutnya. Karena itu, rantai pewarisan kemiskinan harus diputus. Meningkatkan pendidikan dan peranan perempuan dalam keluarga adalah salah satu kunci memutus rantai kemiskinan.

(5) Kebijakan dan program penguatan otonomi desa. Otonomi desa dapat menjadi ruang yang memungkinkan masyarakat desa dapat menanggulangi sendiri kemiskinannya.

4. Kearifan Lokal dan Pemberdayaan Komunitas

a. Konsep Kearifan Lokal

Kearifan lokal berkaitan dengan komunitas masyarakat tertentu. Komunitas ialah suatu unit atau kesatuan sosial yang terorganisasikan dalam kelompok- kelompok dengan kepentingan bersama (communities of common interest), baik yang bersifat fungsional maupun yang mempunyai teriotrial. Istilah community dapat diterjemahkan sebagai “masyarakat setempat”. Dalam pengerian lain, komunitas (community) diartikan sebagai sekelompok orang yang hidup bersama pada lokasi yang sama sehingga mereka telah berkembang menjadi sebuah “kelompok hidup” (group lives) yang diikat oleh kesamaan kepentingan (common interest). Artinya, ada social relationship yang kuat di antara mereka, pada satu batasan geografis tertentu.

Ada tiga istilah yang sering dalam memahami kearifan lokal, yaitu pengetahuan lokal (local knowledge), kearifan lokal (local wisdom), dan kecerdasan setempat (local genius).

1) Pengetahuan lokal/tradisional adalah segala sesuatu yang terkait dengan bentuk-bentuk tradisional (lokal), baik itu suatu kegiatan ataupun hasil suatu karya yang biasanya didasarkan pada suatu kebudayaan tertentu (Avonia, 2006 dalam Sudikan, 2013).

2) Kearifan lokal diartikan sebagai pandangan hidup dan pengetahuan serta berbagai strategi kehidupan yang berwujud aktivitas yang dilakukan oleh masyarakat lokal dalam menjawab berbagai masalah dalam pemenuhan kebutuha mereka. Sistem pemenuhan kebutuhan meliputi seluruh unsur kehidupan agama, ilmu pengetahuan, ekonomi,

teknologi, organisasi sosial, bahasa dan komunikasi, serta kesenian (Wahono, dkk, 2005).

3) Kecerdasan Setempat (local genius) merupakan keseluruhan ciri-ciri kebudayaan yang dimiliki bersama oleh suatu masyarakat/bangsa sebagai hasil pengalaman mereka pada masa lampau (Wales dalam Sudikan, 2013). Mundardjito (Sudikan, 2013) menjelaskan secara implisit hakekat local genius, yaitu:

a. mampu bertahan terhadap budaya luar,

b. memiliki kemampuan mengakomodasi unsur-unsur budaya luar,

c. memiliki kemampuan mengintegrasi unsur-unsur budaya luar ke dalam budaya asli,

d. mempunyai kemampuan mengendalikan,

e. mampu memberikan arah terhadap perkembangan budaya.

Konsep kearifan lokal atau kearifan tradisional atau sistem pengetahuan lokal (indigenous knowledge system) adalah pengetahuan yang khas milik suatu masyarakat atau budaya tertentu yang telah berkembang lama sebagai hasil dari proses hubungan timbal balik antara manusia dengan lingkungannya (Marzali dalam Sudikan, 2013).

Kearifan lokal dapat didefinisikan sebagai: suatu kekayaan budaya lokal yang mengandung kebijakan hidup; pandangan hidup (way of life) yang mengakomodasi kebijakan (wisdom) dan kearifan hidup.

b. Dimensi Kearifan Lokal

Menurut Ife (2014), kearifan lokal memiliki enam dimensi, yaitu:

1) Pengetahuan lokal, setiap masyarakat selalu memiliki pengetahuan lokal terkait dengan lingkungan hidupnya.

2) Nilai lokal, untuk mengatur kehidupan bersama antar warga masyarakat. Nilai itu biasanya mengatur hubungan antara manusia dengan Tuhannya, manusa dengan manusia, dan manusia dengan alam.

3) Ketrampilan lokal, digunakan sebagai kemampuan bertahan hidup (Survival).

4) Sumber daya lokal, pada umumnya adalah sumber daya alam yaitu sumber daya yang tak terbarukan da yang terbarukan.

5) Mekanisme pengambilan keputusan lokal, setiap masyarakat memiliki pemerintahan lokal sendiri seperti kesukuan.

6) Solidaritas kelompok lokal, suatu masyarakat umumnya dipersatukan oleh ikatan komunal yang membentuk solidaritas lokal

c. Contoh Kearifan Lokal Nusantara

Ada beberapa kekayaan budaya, kearifan lokal nusantara yang terkait dengan pemanfaatan alam, di antaranya:

1) Masyarakat papua, terdapat kepercayaan te aro neweak lako (alam adalah aku). Tanah dianggap sebagai bagian hidup manusia. Pemanfaatan sumber daya alam harus hati-hati.

2) Masyarakat Serawai, Bengkulu, terdapat keyakinan celako kumali. Kelestarian lingkungan terwujud dari kuatnya keyakinan tata nilai dalam berladang dan tradisi tanam.

3) Masyarakat Dayak Kenyah, Kalimantan Timur. Terdapat tradisi tana’ ulen. Kawasan hutan dikuasai dan menjadi milik masyarakat adat.

4) Masyarakat Undau Mau, Kalimantan Barat. Kearifan lingkungan dalam pola penataan ruang pemukiman, dengan mengklasifikasi hutan dan memanfaatkannya.

5) Masyarakat Kasepuhan Pancer Pangawinan, Kampung Dukuh, Jawa Barat. Mereka mengenal upacara tradisional, mitos, tabu, sehingga pemanfaatan hutan dilakukan secara hati-hati. Tidak diperbolehkan eksploitasi kecuali atas ijin sesepuh adat.

6) Masyarakat Bali dan Lombok. Mempunyai kearifa lingkungan awig-awig. Awig-awig adalah patokan tingkah laku yang dibuat masyarakat berdasarkan rasa keadilan dan kepatutan masyarakat setempat.

7) Masyarakat Baduy mempunyai kearifan lingkungan yang mendasari mitigasi bencana dalam bentuk pikukuh (ketentuan adat pokok) yang mengajarkan antara lain: gunung teu meunang dilebur, lebak teu meunang dirusak (gunung tidak boleh dihancurkan, sumber air tidak boleh dirusak).

d. Tantangan-Tantangan dalam Kearifan Lokal

1) Jumlah Penduduk

Pertumbuhan penduduk yang tinggi akan mempengaruhi kebutuhan pangan dan berbagai produksi lainnya untuk mencukupi kebutuhan manusia. Robert Malthus menyatakan bahwa penduduk yang banyak merupakan penyebab kemiskinan, hal ini terjadi karena laju pertumbuhan penduduk yang mengikuti deret ukur tidak akan pernah terkejar oleh pertambahan makanan dan pakaian yang hanya mengikuti deret hitung (Soerjani dkk, 1987:99).

2) Teknologi Modern dan Budaya

Perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan yang cepat menyebabkan kebudayaan berubah dengan cepat pula. Teknologi modern secara disadari atau tidak oleh masyarakat, sebenarnya menciptakan keinginan dan harapan-harapan baru dan memberikan cara yang memungkinkan adanya peningkatan kesejahteraan manusia. Melihat kenyataan tersebut maka mudah dipahami mengapa cita-cita tentang teknologi lokal cenderung diabaikan, karena kebanyakan orang beranggapan bahwa teknologi modern selalu memiliki tingkat percepatan yang jauh lebih dinamis.

3) Eksploitasi Sumber Daya Alam

Eksploitasi terhadap sumber daya alam dan lingkungan sekarang ini telah sampai pada titik kritis, yang menimbulkan berbagai masalah lingkungan dan masyarakat. Di samping masalah lingkungan yang terjadi di wilayah- wilayah dimana dilakukan eksploitasi sumber daya alam, sebenarnya terdapat masalah kemanusiaan, yaitu tersingkirnya masyarakat asli (indigenous people) yang tinggal di dalam dan sekitar wilayah eksploitasi baik eksploitasi sumber daya hutan, sumber daya laut, maupun hasil tambang. Mereka yang telah turun temurun tinggal dan menggantungkan kehidupannya pada hutan maupun laut, sekarang seiring dengan masuknya modal besar baik secara legal maupun ilegal yang telah mngeksploitasi sumber daya alam, maka kedaulatan dan akses mereka terhadap sumber daya tersebut terampas.

4) Kemiskinan dan Kesenjangan

Kemiskinan dan kesenjangan merupakan salah satu masalah yang paling berpengaruh terhadap timbulnya masalah sosial. Masalah sosial yang bersumber dari kemiskinan dan kesenjangan atau kesulitan dalam pemenuhan kebutuhan pokok, sering kali tidak berdiri sendiri tetapi saling berkaitan dengan faktor lain. Kemiskinan bukan saja menjadi masalah di Indonesia, tetapi juga di banyak Negara berkembang. Kemiskinan juga mempengaruhi orang bertindak untuk memenuhi kebutuhan dasarnya, meskipun tindakan tersebut kadang bertentangan dengan aturan atau norma-norma yang sudah ada atau pun berkaitan dengan kerusakan lingkungan.

e. Kearifan Lokal Untuk Mengatasi Masalah Sosial

Di samping melalui proses pendidikan, pemberdayaan komunitas juga diperlukan dalam rangka mengatasi tantangan kearifan lokal tersebut. Pemberdayaan komunitas berbasis kearifan lokal untuk mengatasi ketimpangan sosial antara lain:

1) Mengatasi masalah/ketimpangan sosial berdasarkan kearifan lokal, pada dasarnya pemberdayaan komunitas untuk mengatasi ketimpangan sosial berdasarkan kearifan lokal ini sudah dapat kita temukan di berbagai daerah, contohnya budaya gotong royong dalam mendirikan rumah.

2) Mengatasi ketimpangan sosial berdasarkan kelestarian lingkungan, kelestarian lingkungan perlu dijaga untuk mencegah terjadinya ketimpangan sosial dalam suatu masyarakat. Kelestarian lingkungan alam yang tidak dijaga akan mengakibatkan semakin berkurangnya sumber daya alam untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia.

3) Mengatasi ketimpangan sosial berdasarkan pembangunan berkelanjutan, pembangunan berkelanjutan adalah pembangunan yang berorientasi pada pemenuhan kebutuhan manusia melalui pemanfaatan sumber daya alam secara bijaksana, efisien, dan memperhatikan keberlangsungan pemanfaatannya baik untuk generasi masa kini maupun generasi yang akan datang.

f. Strategi Pemberdayaan Komunitas Melalui Nilai-Nilai Kearifan Lokal

Pemberdayaan komunitas pada dasarnya bertujuan untuk menciptakan masyarakat yang sadar lingkungan, sadar hukum, sadar akan hak dan kewajiban, serta mewujudkan kehidupan yang sejahtera dan mandiri bagi masyarakat yang bersangkutan. Oleh karena itu, pemberdayaan komunitas tak terlepas dari upaya penanggulangan kemiskinan yang kerap menghantui masyarakat kita. Terdapat lima hal yang perlu diperhatikan dalam pemberdayaan suatu masyarakat, yaitu:

1) Menghormati dan menjungjung tinggi Hak Asasi Manusia (HAM).

2) Komitmen global terhadap pembangunan sosial masyarakat adat sesuai dengan konvensi yang diselenggarakan oleh ILO.

3) Isu pelestarian lingkungan dan menghindari keterdesakan komunitas asli dari eksploitasi sumber daya alam yang berlebihan.

4) Meniadakan marginalisasi masyarakat asli dalam pembangunan nasional.

5) Memperkuat nilai-nilai kearifan masyarakat setempat dengan cara mengintegrasikannya dalam desain kebijakan dan program penanggulangan masalah sosial.

Model pemberdayaan masyarakat berbasis kearifan lokal mengandung arti peletakan nilai-nilai setempat (lokal) sebagai input penanggulangan masalah sosial seperti kemiskinan. Nilai-nilai setempat (lokal) tersebut merupakan nilai-nilai sosial yang menjadi cerminan dari masyarakat yang bersangkutan. Nilai-nilai tersebut meliputi kegotongroyongan, kekerabatan, musyawarah untuk mufakat, dan toleransi (tepa selira). Pemberdayaan komunitas berbasis nilai-nilai kearifan lokal akan menciptakan masyarakat yang berdaya, ciri-ciri masyarakat yang berdaya antara lain:

1) Mampu memahami diri dan potensinya dan mampu merencanakan (mengantisipasi kondisi perubahan ke depan).

2) Mampu mengarahkan dirinya sendiri.

3) Memiliki kekuatan untuk berunding.

4) Memiliki bargaining power yang memadai dalam melakukan kerjasama yang saling menguntungkan.

5) Bertanggung jawab atas tindakannya.

g. Konsep Pemberdayaan Komunitas

Secara konseptual, pemberdayaan masyarakat atau komunitas merupakan usaha untuk meningkatkan harkat dan martabat lapisan masyarakat yang dalam kondisi sekarang tidak mampu untuk melepaskan diri dari perangkap kemiskinan dan keterbelakangan. Secara sederhana memberdayakan dalam hal ini diartikan sebagai memampukan dan memandirikan masyarakat.

Menurut Ife (2014) pemberdayaan (empowerment) sebagai upaya memberikan otonomi, wewenang, dan kepercayaan kepada setiap individu dalam suatu organisasi, serta mendorong mereka untuk kreatif agar dapat menyelesaikan tugasnya sebaik mungkin. Swift dalam Mardikanto (2015) menegaskan bahwa pemberdayaan dalam konsep ini menunjuk pada kemampuan orang, khususnya kelompok yang rentan, dalam hal:

1) Akses terhadap sumber-sumber produktif yang memungkinkan mereka dapat meningkatkan pendapatannya dan memperoleh barang dan jasa yang mereka perlukan;

2) Partisipasi dalam proses pembangunan dan keputusan-keputusan yang mempengauhi mereka. Pemberdayaan menunjuk pada usaha pengalokasian kembali kekuasaan melalui pengubahan struktur sosial

Dengan kepemilikan akses terhadap segala sumber daya produktif dan partisipasi aktif dalam pembangunan akan mendorong setiap individu untuk memiliki daya ubah untuk dirinya sendiri lalu secara kolektif mengubah struktur sosial masyarakatnya.

Sumodiningrat (1999) menjelaskan bahwa jika dilihat dari proses operasionalisasinya, maka ide pemberdayaan memiliki dua kecenderungan, antara lain:

1) Kecenderungan primer, yaitu kecenderungan proses yang memberikan atau mengalihkan sebagian kekuasaan, kekuatan, atau kemampuan (power) kepada masyarakat atau individu menjadi lebih berdaya.

2) Kecenderungan sekunder, yaitu kecenderungan yang menekankan pada proses memberikan stimulasi, mendorong atau memotivasi individu agar mempunyai kemampuan atau keberdayaan untuk menentukan apa yang menjadi pilihan hidupnya melalui proses dialog.

Berikut ini beberapa pengertian pemberdayaan menurut para pakar:

1) Pemberdayaan adalah suatu cara agar rakyat, komunitas, dan organisasi diarahkan agar mampu menguasai atau berkuasa atas kehidupannya (Rappaport dalam Mardikanto, 2015).

2) Pemberdayaan bertujuan untuk meningkatkan kekuasaan orang-orang yang lemah atau tidak beruntung (Ife, 2014).

3) Pemberdayaan menunjuk pada usaha pengalokasian kembali kekuasaan melalui pengubahan struktur sosial

4) Pemberdayaan adalah sebuah proses dengan mana orang menjadi cukup kuat untuk berpartisipasi dalam, berbagi pengontrolan atas, dan mempengaruhi terhadap, kejadian-kejadian serta lembaga-lembaga yang mempengaruhi kehidupannya. Pemberdayaan menekankan bahwa orang memperoleh keterampilan, pengetahuan, dan kekuasaan yang cukup untuk mempengaruhi kehidupannya dan kehidupan orang lain yang menjadi perhatiannya.

h. Prinsip Pemberdayaan Masyarakat

Dalam pelaksanaan pemberdayaan masyarakat terdapat beberapa prinsip yang harus dipenuhi sebagai berikut:

1) Penyadaran

Penyadaran berarti bahwa masyarakat secara keseluruhan menjadi sadar bahwa mereka mempunyai tujuan-tujuan dan masalah- masalah. Masyarakat yang sadar juga mulai menemukan peluang- peluang dan memanfaatkannya, menemukan sumber daya-sumber daya yang telah dimiliki namun tak pernah dipikirkan untuk dikembangkan. Masyarakat yang memiliki kesadaran menjadi semakin tajam dalam mengetahui permasalahan yang dihadapi dan kekuatan serta sumber daya yang dimiliki untuk mengatasi

2) Pendidikan & Pelatihan

Pendidikan dan pelatihan menjadi penting karena dijadikan sarana karena ide besar yang terkandung dibalik pendidikan dan pelatihan bagi masyarakat yang tidak berdaya adalah membuka pandangan yang luas untuk keluar dari permasalahan dan keterampilan untuk malakukan aksi nyata untuk mengatasi permasalahan.

3) Pengorganisasian

Agar menjadi kuat dan dapat menentukan nasibnya sendiri, suatu masyarakat tidak cukup hanya disadarkan dan dilatih ketrampilan, tapi juga harus diorganisir. Dengan demikian setiap anggota msyarakat memiliki peran dan tanggung jawab untuk keluar dari permasalahan yang memilit mereka.

4) Pengembangan Kekuatan

Kekuasaan berarti kemampuan untuk mempengaruhi orang lain. Bila dalam suatu masyarakat tidak ada penyadaran, latihan atau organisasi, orang-orangnya akan merasa tak berdaya dan tak berkekuatan. Pengembangan kekuatan akan menyatukan mereka untuk keluar dari permasalahan.

5) Pengembangan Dinamika

Dinamika masyarakat berarti bahwa masyarakat itu sendiri yang memutuskan dan melaksanakan program-programnya sesuai dengan rencana yang sudah digariskan dan diputuskan sendiri. Dalam konteks ini keputusan-keputusan sedapat mungkin harus diambil di dalam masyarakat sendiri, bukan di luar masyarakat tersebut. setiap perubahan-perubahan (dinamika) yang diinginkan merupakan inisiatif mereka sendiri.

i. Tujuan Pemberdayaan Komunitas

Tujuan utama pemberdayaan adalah membentuk masyarakat yang berdaya. Secara spesifik Mardikanto (2015) mengidentifikasi bahwa tujuan dari pemberdayaan masyarakat dapat berupa:

1) Perbaikan kehidupan (better living),

Pemberdayaan dimaksudkan untuk memperbaiki taraf kehidupan setiap individu yang kemudian memberi efek pada perbaikan kehidupan di setiap keluarga dan pada akhirnya mampu mendorong perbaikan kehidupan masyarakatnya.

2) Perbaikan aksesabilitas (better accesability),

Pemberdayaan ditujukkan untuk membuka akses yang seluas-luasnya terutama aksesabilitas tentang informasi, pengetahuan dan keterampilan yang mampu memberi solusi pada permasalahan yang dihadapi masyarakat lalu memberi wawasan tentang berbagai alternatif inovasi.

3) Perbaikan pendidikan (better education)

Bekal pendidikan yang baik pada masyarakat diyakini akan mendorong terjadinya perubahan pada pola pikir dan pola tindakan pada masyarakat. Minimal tindakan yang positif ketika menyadari akan kelemahan atau ketidakberdayaan yang ada pada masyarakat. Harapan besarnya adalah perubahan tindakan yang mendorong masyarakat untuk melakukan tindakan nyata memperbaiki kelemahan atau ketidakberdayaannya.

4) Perbaikan kelembagaan (better institution),

Tujuan pemberdayaan sesungguhnya adalah tidak semata-mata memperbaiki setiap individunya, namun akan lebih baik dan lebih kuat adalah memberdayakan masyarakatnya secara luas sehingga pemberdayaan akan memberi efek perubahan secara signifikan.

5) Perbaikan usaha (better busines)

Akses informasi, pengetahuan, keterampilan, sumber daya dan jaringan yang cukup diharapkan akan mendorong pada perbaikan usaha masyarakat. Perbaikan dapat dilihat dari sisi kuantitas seperti volume usaha, jumlah jaringan dan sebagainya. Selain itu bisa juga dari sisi kualitas seperti kualitas produk, kemasan, mutu dll.

6) Perbaikan pendapatan (better income)

Seringkali pemberdayaan lebih fokus pada upaya memberdayakan masyarakat dari sisi pendapatan. Pemberdayaan bertujuan untuk perbaikan pendapatan harus benar-benar sudah siap dengan sumber daya yang mampu menghasilkan. Misal meningkatkan pendapatan petani rumput laut yang belum mampu mengolah hasil panen rumput lautnya.

7) Perbaikan lingkungan (better environment), Seringkali masyarakat tidak berdaya disebabkan oleh aspek lingkungan yang tidak mendukungnya. Aspek fisik seperti akses transportasi yang sulit karena jalan rusak kemudian tidak mampu menggerakkan roda perekonomian masyarakat sehingga masyarakat lambat sekali berkembang.

8) Perbaikan masyarakat (better community).

Secara umum tujuan pemberdayaan adalah perbaikan sebuah kehidupan masyarakat. Ketika berbicara kehidupan sebuah masyarakat maka banyak aspek yang menyertainya mulai dari pola pikir, pola tindakan, perekonomian dan sebagainya. Perbaikan- perbaikan dari berbagai aspek itulah yang diharapkan dari pelaksaaan sebuah pemberdayaan.

Dari sisi lain tujuan pemberdayaan masyarakat dapat pula dilihat dari tiga sisi seperti dikemukakan oleh Sumodiningrat (1999) sebagai berikut:

1) menciptakan suasana atau iklim yang memungkinkan potensi masyarakat berkembang (enabling).

2) memperkuat potensi atau daya yang dimiliki masyarakat (empowering). Dalam rangka ini diperlukan langkah-langkah lebih positif, selain dari hanya menciptakan iklim dan suasana. Penguatan ini meliputi langkah- langkah nyata dan menyangkut penyediaan berbagai masukan (input), serta pembukaan akses ke dalam berbagai peluang (opportunities) yang akan membuat masyarakat menjadi berdaya.

3) memberdayakan mengandung pula arti melindungi (protecting) Dalam proses pemberdayaan, harus dicegah yang lemah menjadi bertambah lemah, oleh karena kekurangberdayaan dalam menghadapi yang kuat. Oleh karena itu, perlindungan dan pemihakan kepada yang lemah amat mendasar sifatnya dalam konsep pemberdayaan masyarakat. Pemberdayaan masyarakat bukan membuat masyarakat menjadi makin tergantung pada berbagai program pemberian (charity), karena, pada dasarnya setiap apa yang dinikmati harus dihasilkan atas usaha sendiri (yang hasilnya dapat dipertukarkan dengan pihak lain).

j. Pendekatan Pemberdayaan Komunitas

Pendekatan merupakan titik tolak atau sudut pandang terhadap proses yang akan dilakukan. Dalam konteks pemberdayaan, pendekatan yang digunakan akan menentukan dan melatari strategi dan metode pemberdayaan yang akan dilaksanakan. Menurut Eliot dalam

Mardikanto (2005), ada tiga pendekatan yang dipakai dalam proses pemberdayaan komunitas atau masyarakat, antara lain sebagai berikut.

1) Pendekatan kesejahteraan (the walfare approach),

Pendekatan ini fokus pada pemberian bantuan kepada masyarakat untuk menghadapi bencana alam, misalnya mereka yang terkena musibah bencana alam.

2) Pendekatan pembangunan (the development approach), Pendekatan ini fokus perhatian pada pembangunan untuk meningkatkan kemandirian, kemampuan, dan keswadayaan masyarakat. Sebagai contoh adalah pemberian dana bantuan pembangunan untuk menumbuhkan keswadayaan masyarakat.

3) Pendekatan pemberdayaan (the empowerment approach), Pendekatan ini fokus pada upaya pengentasan kemiskinan sebagai akibat proses politik dan berusaha memberdayakan atau melatih rakyat untuk mengatasi ketidakberdayaannya. Pendekatan ini dilakukan melalui pelatihan pemberdayaan masyarakat untuk segera terlepas dari ketidakberdayaan mereka. Misal: pemberian modal usaha kecil.

k. Strategi Pemberdayaan Komunitas

Strategi diartikan sebagai langkah-langkah atau tindakan tertentuyang dilaksanakan demi tercapainya suatu tujuan atau penerima manfaat yang dikehendaki. Strategi pemberdayaan komunitas pada dasarnya mempunyai tiga arah, yaitu:

1) Pemihakan dan pemberdayaan masyarakat

2) Pemantapan ekonomi dan pendelegasian wewenang dalam pengelolaan pembangunan yang mengembangkan peran masyarakat.

3) Modernisasi melalui penajaman arah perubahan struktur sosial ekonomi (termasuk di dalamnya kesehatan), budaya dan politik yang bersumber pada partisipasi masyarakat.

Berdasarkan tiga arah tersebut, maka strategi pemberdayaan komunitas yang digunakan adalah sebagai berikut:

1) Menyusun instrumen penyusunan data. Dalam kegiatan ini informasi yang diperlukan dapat berupahasil penelitian yang telah dilakukan sebelumnya, referensi yang ada, dari hasil temuan dan pengamatan lapangan.

2) Membangun pemahaman, komitmen untuk mendorong kemandirian individu, keluarga dan masyarakat.

3) Mempersiapkan sistem informasi, mengembangkan sistem analisis, intervensi monitoring dan evaluasi pemberdayaan individu, keluarga dan masyarakat.

Mengacu pada Sumaryadi dalam Mardikanto (2015), mengemukakan bahwa ada 5 (lima) generasi strategi pemberdayaan, yaitu:

1) Generasi yang mengutamakan relief and welfare, yaitu strategi yang lebih mengutamakan pada kekurangan dan kebutuhan setiap individu dan masyarakat, seperti: sandang, pangan, papan, kesehatan,dan pendidika.

2) Strategi community development atau small scale reliant local development, yang lebih mengutamakan pada penerapan teknologi tepat guna dan pembangunan infrastruktur. Menurut strategi ini, pembangunan dilaksanakan dari bawah (bottom-up approach).

3) Generasi sustainable development, yang lebih mengharapkan terjadinya perubahan pada tingkat regional dan nasional. Diharapkan terjadi perubahan kebijakan yag keluar dari tingkat lokal ke regional, nasional, dan internasional, utamanya terkait dampak pembangunan yag terlalu eksploitatif,

4) Generasi untuk mengembangkan gerakan masyarakat (people movement), melalui pengorganisasian masyarakat, identifikasi masalah dan kebutuhan lokal, serta mobilisasi sumber daya lokal yang ada.

5) Generasi pemberdayaan masyarakat (empowering people), yang memperhatikan arti penting perkembangan, teknologi, persaingan dan kerjasama.

l. Metode Pemberdayaan Komunitas

Dalam praktik pemberdayaan masyarakat banyak menggunakan metode partisipatif, yaitu :

1) RRA (Rapid Rural Appraisal), metode ini menggabungkan beberapa teknik yang terdiri dari :

a) Telaah data sekunder, termasuk peta wilayah dan pengamatan lapangan secara ringkas.

b) Observasi langsung.

c) Wawancara dengan informan kunci.

d) Pemetaan dan pembuatan diagram/grafik.

e) Studi kasus, sejarah lokal, dan biografi.

f) Pembuatan kuesioner.

g) Pembuatan laporan.

2) PRA (Participatory Rapid Appraisal) atau penilaian secara partisipatif, meliputi:

a) Pemetaan wilayah.

b) Analisis keadaan yang berupa:

• Keadaan masa lalu, sekarang, dan kecenderungan masa depan.

• Identifikasi perubahan yang terjadi.

• Identifikasi masalah dan alternatif pemecahan.

• Kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman atau strength, weakness, opportunity, and threat (SWOT)

c) Pemiliha alternatif pemecahan masalah

d) Rincian tentang stakeholder dan peran yang diharapkan dari para pihak, serta jumlah sumber pembiayaan yang dapat diharapkan untuk melaksanakan program.

3) FGD (Focus Group Discussion) atau diskusi Kelompok Terarah Merupakan interaksi individu-individu yang diarahkan untuk pemahaman dan atau pengalaman tentang program atau kegiatan yang diikuti.

4) PLA (Participatory Learning And Action)

Merupakan metode pemberdayaan masyarakat yang terdiri dari proses belajar tentang suatu topik dan selanjutnya diikuti dengan aksi riil yang relevan dengan materi pemberdayaan.

5) SL atau Sekolah lapangan (Farmers Field School/FFC),

Merupakan pertemuan berkala yang dilakukan oleh sekelompok anggota masyarakat untuk membahas persoalan yang dihadapi, berbagi pengalaman, dan pemilihan cara pemecahan masalah yang efektif dan efisien sesuai dengan sumber daya yang dimiliki.

6) Pelatihan Partisipatif.

m. Contoh Program Aksi Pemberdayaan

Pembelajaran Sosiologi dalam kurikulum 2013 menuntut guru membuat program aksi pemberdayaan komunitas yang akan dilakukan peserta didik, hal ini merupakan salah satu implementasi model pembelajaran berbasis proyek salah satu tujuannya adalah mengaitkan materi pembelajaran sosiologi dengan masalah-masalah sosial yang ada pada masyarakat sekitarnya.

Secara sederhana langkah-langkah yang dikerjakan siswa dalam membuat aksi pemberdayaan komunitas dapat diringkas pada gambar berikut:

Gambar 12. Alur Program Aksi Pemberdayaan

Sumber: Tahmidaten, 2017

Rangkuman

Perubahan sosial didefinisikan sebagai perubahan dalam pola perilaku dan budaya yang signifikan dari waktu ke waktu. Suatu perubahan dapat disebut sebagai perubahan sosial ketika mampu memengaruhi kehidupan manusia secara luas. Faktor penyebab perubahan sosial meliputi: faktor internal (konflik, faktor demografi, dan penemuan baru) dan faktor eksternal (pengaruh kebudayaan masyarakat luar, perubahan lingkungan fisik, dan peperangan).

Perubahan sosial dalam masyarakat dapat dipelajari secara ilmiah menggunakan teori perubahan sosial. Adapun teori perubahan sosial yaitu Teori Evolusi, Teori Siklus Teori Fungsionalis, dan Teori Konflik.

Perubahan sosial tidak terjadi secara tiba-tiba, tetapi dapat melalui beberapa cara, yaitu akulturasi, asimilasi, diifusi, simbiotik, dan penetrasi. Bentuk-bentuk perubahan sosial dapat diidentifikasi berdasarkan kecepatan berlangsungnya, ukuran perubahannya, prosesnya, sifat perubahannya, caranya, dan perkembangannya. Dampak positif perubahan sosial mengarah pada kemajuan (progress). Dampak negatif perubahan sosial mengarah pada kemunduran (regress).

Modernisasi diartikan sebagai proses menuju masa kini (proses menuju masyarakat modern). Modernisasi merupakan proses transformasi total kehidupan bersama dalam IPTEK dan organisasi ke arah pola-pola ekonomis dan politis telah dilalui oleh negara barat. Modernisasi adalah bentuk perubahan sosial yang terencana. Ciri-ciri manusia modern setidaknya memiiki: dorongan berprestasi (n-Ach), keterbukaan terhadap pengalaman dan ide baru, berorientasi di masa sekarang dan masa depan, memiliki kemampuan dalam hal perencanaan, percaya bahwa manusia dapat menguasai alam dan tidak sebaliknya.

Globalisasi menyebabkan penduduk dunia tergabung dalam masyarakat dunia yang disebut masyarakat global. Fenomena masyarakat global dapat dilihat pada komunitas/masyarakat yang berinteraksi dengan teknologi informasi modern, misalnya internet. Dengan teknologi modern, globalisasi semakin berkembang-cepat. Perkembangan globalisasi ditandai dengan semakin mudahnya individu/kelompok/negara melakukan interaksi sosial dengan individu/kelompok/negara lain. Globalisasi menyebabkan perubahan di berbagai aspek kehidupan masyarakat dalam hal gaya hidup, kemajuan llmu pengetahuan dan teknologi, serta cara-cara berkesenian dan berkebudayaan.

Globalisasi diibaratkan memiliki dua sisi yang saling bertolak belakang. Satu sisi menjanjikan kemajuan bagi kehidupan masyarakat. Di sisi lain globalisasi menyebabkan munculnya permasalahan sosial. Beberapa permasalahan sosial muncul akibat globalisasi antara lain: kerusakan lingkungan, merebaknya budaya popular, munculnya neokolonialisme, dan menjangkitnya budaya konsumerisme.

Permasalahan sosial merupakan bentuk tingkah laku yang melanggar adat istiadat masyarakat. Sebagian besar masyarakat menganggap permasalahan sosial mengganggu, tidak dikehendaki, berbahaya, dan merugikan banyak orang. Oleh karena itu, permasalahan sosial tidak diharapkan masyarakat. Permasalahan sosial dalam masyarakat dapat dipengaruhi oleh faktor biologis, ekonomi, psikologis, dan budaya. Beberapa contoh permasalahan sosial dalam masyarakat sebagai berikut: kenakalan remaja, delinkuensi anak, kemiskinan, tindak kriminal, kesenjangan social, cyber crime, dan penyimpangan seksual.

Ketimpangan sosial merupakan konsekuensi dari stratifikasi sosial. Ketimpangan sosial atau ketidaksetaraan sosial merupakan satu konsep tentang posisi seseorang atau sekelompok orang yang tidak sama dibandingkan seseorang atau sekolompok orang lainnya. Di dalam perspektif sosiologi, ketimpangan sosial tidak dilihat dari individu per individu, tetapi bagaimana satu lapisan sosial dengan jumlah sedikit dan tidak proporsional menentukan nasib orang yang lebih banyak.

Ketimpangan sosial sering dipandang sebagai kegagalan dari pembangunan yang mengejar pertumbuhan di sektor ekonomi dan mengabaikan perkembangan di sektor sosial. Ketimpangan sosial disebabkan karena adanya distribusi kesempatan yang tidak sama. Hal ini yang melandasi ketimpangan sosial menjadi sebuah masalah sosial. Faktor penyebab ketimpangan sosial dapat dinilai dari dua faktor, yakni faktor struktural dan faktor kultural.

Dampak ketimpangan sosial tidak saja terjadi di masyarakat, tetapi juga berakibat hingga di tingkat individu. Di masyarakat, kekurangan akses atau eksklusi sosial terhadap kelompok yang kurang beruntung akan memaksa melakukan tindakan kriminal. Ketimpangan juga berpengaruh di dalam keluarga, terhadap kesehatan, hingga menimbulkan dampak sosial yang memperparah konflik.

Kemiskinan adalah ketiadaan tempat tinggal. Kemiskinan adalah sakit dan tidak mampu untuk periksa ke dokter. Kemiskinan adalah tidak mempunyai akses ke sekolah dan tidak mengetahui bagaimana caranya membaca. Kemiskinan adalah tidak mempunyai pekerjaan dan khawatir akan kehidupan di masa yang akan datang. Kemiskinan adalah ketidakberdayaan, ketiadaaan keterwakilan dan kebebasan. Kemiskinan dapat dibedakan menjadi dua besaran, yaitu kemiskinan struktural dan kemiskinan kultural. Kemiskinan struktural adalah kemiskinan yang diderita oleh suatu golongan masyarakat karena struktur sosial masyarakat ini tidak dapat ikut menggunakan sumber-sumber pendapatan yang sebenarnya tersedia bagi mereka. Kemiskinan kultural dapat muncul sebagai akibat nilai-nilai dan kebudayaan yang dianut oleh kaum miskin itu sendiri..

Dalam kemiskinan terkandung dalam perangkap kemiskinan. Perangkap kemiskinan adalah suatu kondisi atau situasi dimana seseorang tidak mencoba dan tidak bisa atau tidak merasa terdorong untuk keluar dari kemiskinan. Unsur- unsur dalam perangkap kemiskinan adalah kekurangan materi, kerentanan, kelemahan jasmani, ketidakberdayaan dan derajat isolasi.

Kearifan lokal diartikan sebagai pandangan hidup dan pengetahuan serta berbagai strategi kehidupan yang berwujud aktivitas yang dilakukan oleh masyarakat lokal dalam menjawab berbagai masalah dalam pemenuhan kebutuha mereka. Sistem pemenuhan kebutuhan meliputi seluruh unsur kehidupan agama, ilmu pengetahuan, ekonomi, teknologi, organisasi sosial, bahasa dan komunikasi, serta kesenian.

Pemberdayaan masyarakat atau komunitas merupakan usaha untuk meningkatkan harkat dan martabat lapisan masyarakat yang dalam kondisi sekarang tidak mampu untuk melepaskan diri dari perangkap kemiskinan dan keterbelakangan. Secara sederhana memberdayakan dalam hal ini diartikan sebagai memampukan dan memandirikan masyarakat. Dalam pelaksanaanpemberdayaan masyarakat terdapat beberapa prinsip yang harus dipenuhi adalah sebagai berikut: 1) penyadaran pendidikan dan pelatihan; 2) pengorganisasian; 3) pengembangan kekuatan; dan 4) pengembangan dinamika.

Secara spesifik tujuan dari pemberdayaan masyarakat dapat berupa: perbaikan kehidupan (better living), perbaikan aksesabilitas (better accesability), perbaikan pendidikan (better education), perbaikan kelembagaan (better institution), perbaikan usaha (better busines) perbaikan pendapatan (better income), perbaikan lingkungan (better environment), dan perbaikan masyarakat (better community). Ada tiga pendekatan yang dipakai dalam proses pemberdayaan komunitas atau masyarakat, antara lain.pendekatan kesejahteraan (the walfare approach), pendekatan pembangunan (the development approach), dan pendekatan pemberdayaan (the empowerment approach).

Posting Komentar untuk "Perubahan Sosial dan Pemberdayaan Komunitas - PPPK Sosiologi 5"