Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Permasalahan Dasar, Motif, Prinsip Ekonomi, dan Pelaku Ekonomi - PPPK IPS Ekonomi 1

Permasalahan Dasar, Motif, Prinsip Ekonomi, dan Pelaku Ekonomi - PPPK IPS Ekonomi 1 - hasriani.com

Permasalahan Dasar, Motif, Prinsip Ekonomi, dan Pelaku Ekonomi - PPPK Ekonomi 1 - Penjabaran model kompetensi yang dikembangkan pada kompetensi guru bidang studi lebih spesifik pada pembelajaran 1. Permasalahan Dasar, Motif, Prinsip Ekonomi, dan Pelaku Ekonomi, ada beberapa kompetensi guru bidang studi yang akan dicapai pada pembelajaran ini, kompetensi yang akan dicapai pada pembelajaran ini adalah guru PPPK mampu:

Memahami permasalahan dasar ekonomi, motif ekonomi prinsip ekonomi, dan pelaku ekonomi.

Dalam rangka mencapai kompetensi guru bidang studi, maka dikembangkanlah indikator-indikator yang sesuai dengan tuntutan kompetensi guru bidang studi.

Indikator  pencapaian  komptensi  yang  akan  dicapai  dalam  pembelajaran 1. Permasalahan Dasar, Motif, Prinsip Ekonomi, dan Pelaku Ekonomi adalah sebagai berikut.

1. Mengidentifikasi permasalahan dasar ekonomi.

2. Menjelaskan kebutuhan dan alat pemuas kebutuhan

3. Mendeskripsikan motif ekonomi.

4. Membedakan motif ekonomi.

5. Menjelaskan prinsip ekonomi.

6. Mengidentifikasi prinsip ekonomi.

7. Mengidentifikasi pelaku-pelaku ekonomi

Uraian Materi Permasalahan Dasar, Motif, Prinsip Ekonomi, dan Pelaku Ekonomi - PPPK IPS Ekonomi 1

1. Materi 1: Permasalahan Dasar Ekonomi

Ilmu ekonomi pada dasarnya adalah ilmu yang mempelajari tentang manusia dan interaksi diantara manusia. Seluruh manusia tanpa memandang gender, suku bangsa, agama, pendidikan, status sosial dan sebagainya, memiliki kebutuhan dan keinginan yang tidak terbatas. 

Saat satu kebutuhan atau keinginan terpenuhi, akan muncul kebutuhan atau keinginan berikutnya, demikian seterusnya. Disisi yang lain, sumber daya yang dimiliki manusia untuk memenuhi seluruh kebutuhan dan keinginan tersebut adalah terbatas. Oleh karena  itu dalam  upaya  untuk  memenuhi  kebutuhan  dan  keinginan  hidupnya,  manusia harus membuat pilihan-pilihan, yaitu kebutuhan atau keinginan yang mana yang harus dipenuhi terlebih dahulu. 

Sehingga, ilmu ekonomi dapat didefinisikan sebagai suatu ilmu yang mempelajari bagaimana manusia membuat pilihan- pilihan untuk menggunakan sumber daya yang terbatas dalam rangka memenuhi kebutuhan dan keinginan yang tidak terbatas.

Sebagai makhluk yang rasional, pilihan-pilihan yang dibuat oleh manusia tersebut dibuat dengan mempertimbangkan tingkat kepuasan maksimal yang dapat dicapai dari pilihan tersebut dengan mengalokasikan sumber daya terbatas yang dimilikinya secara efisien. Misalnya, pada saat yang sama, seseorang perlu membeli pakaian yang baru dan memperbaiki telepon genggam  yang rusak, namun uang (sumber daya) yang dimilikinya saat ini tidak cukup untuk melakukan kedua-duanya, sehingga ia harus memilih. Pilihan yang akan diambil adalah pilihan yang memaksimalkan tingkat kepuasan yang akan didapatnya dari pilihan tersebut. Setiap orang akan memiliki rasional (latar belakang) dan pertimbangan sendiri (subyektif) dalam membuat pilihan-pilihan.

Dalam kondisi diatas, seseorang akan memilih membeli pakaian baru daripada memperbaiki telepon genggam yang rusak jika ia merasa bahwa memiliki pakaian baru saat ini adalah lebih penting daripada memperbaiki telepon genggam. Namun, orang yang lain, jika dihadapkan pada kondisi yang sama, mungkin saja memilih memperbaiki telepon genggam karena dianggap lebih mendesak daripada membeli pakaian baru. Tindakan yang dilakukan manusia untuk memaksimalkan kepuasan atau keuntungannya disebut dengan tindakan ekonomis.

Kondisi dimana sumber daya yang dimiliki manusia  terbatas sedangkan kebutuhan dan keinginan tidak terbatas memunculkan kondisi yang disebut dengan kelangkaan (scarcity). Kelangkaan merupakan masalah inti atau masalah dasar ekonomi. Kelangkaan adalah suatu keadaan dimana sesuatu produk baik barang atau jasa tidak tersedia dalam jumlah yang cukup untuk memenuhi keinginan semua orang tanpa pengorbanan (dalam bahasa yang lebih mudah: “tanpa perlu membayar” atau at zero price).

Tanpa adanya kelangkaan ilmu Ekonomi tidak akan ada.  Ilmu Ekonomi membahas diantaranya tentang produksi, distribusi, dan konsumsi barang dan jasa. Jika barang dan jasa tersedia secara melimpah dan tidak terbatas (tidak langka), masyarakat akan memproduksi, mendistribusikan, dan memproduksi seluruh barang dan jasa yang dibutuhkan oleh masyarakat tanpa masyarakat harus membayar (gratis) atas apa yang mereka peroleh. Selain itu, pilihan sebagai konsekwensi dari kelangkaan tidak pernah akan ada.

Jadi bagaimana menentukan siapa yang akan memperoleh sesuatu tersebut? Jalan keluarnya adalah dengan menetapkan harga atas sesuatu tersebut. Dengan kata lain, barang atau jasa disebut langka jika memiliki harga yang harus dibayar jika seseorang ingin mendapatkannya. Hampir seluruh barang dan jasa yang dikonsumsi oleh individu atau masyarakat secara keseluruhan memiliki harga yang harus dibayar. Jadi hanya mereka yang memiliki cukup uang (sumber daya) yang dapat memperoleh sesuatu tersebut. Dengan kata lain, kelangkaan akan barang dan jasa mengakibatkan adanya seleksi untuk memperoleh barang atau jasa tersebut. Barang-barang yang hanya dapat diperoleh dengan melalui pengorbanan (membayar  atau mengeluarkan biaya) disebut dengan barang- barang ekonomis. Dengan kata lain, barang ekonomis adalah barang-barang yang memiliki harga yang harus dibayar.

Hampir seluruh barang dan jasa yang dikonsumsi oleh individu atau masyarakat secara keseluruhan memiliki harga yang harus dibayar. Mengapa diantara semua barang langka, barang langka yang satu lebih tinggi harganya (lebih mahal) daripada yang lain? Hal ini terjadi karena adanya perbedaan tingkat kelangkaan. Semakin langka suatu barang atau jasa semakin tinggi harganya.

Masalah inti ekonomi berupa kelangkaan kemudian melahirkan masalah lain, khususnya dalam lingkup suatu negara, yaitu bagaimana mengelola sumber daya yang dimiliki yang jumlahnya terbatas untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan yang tidak terbatas dari seluruh penduduk suatu negara. Oleh karena itu, masalah ekonomi moderen dirumuskan menjadi lebih spesifik, yaitu: Barang apa yang akan diproduksi, bagaimana barang tersebut diproduksi, untuk siapa barang tersebut diproduksi (Sutatmi, 1997).

1. Barang apa yang harus diproduksi (What)

Dengan sumber daya yang tersedia terbatas, dan penggunaannya bersifat alternatif, serta tingkat kebutuhan dan keinginan dari suatu masyarakat yang tidak terbatas dan sangat bervariasi, pertanyaan “barang apa yang harus diproduksi”, menjadi salah satu masalah ekonomi moderen.

2. Bagaimana barang tersebut diproduksi (How)

Barang diproduksi dengan menggunakan faktor-faktor produksi yang ada. Bagaimana cara yang paling efektif dan efisien untuk menghasilkan barang produksi dengan faktor-faktor produksi yang tersedia. Metode dan teknologi apa yang dapat digunakan dalam kegiatan produksi barang tersebut agar kegiatan produksi tersebut dapat dilakukan seefisien mungkin.

3. Untuk siapa barang tersebut diproduksi (for Whom)

Kepada siapa barang hasil kegiatan produksi tersebut akan disalurkan sehingga keuntungan maksimal dapat diperoleh, hal ini berkaitan dengan segmentasi pasar. Dari sudut pandang suatu negara, pertanyaannya dapat menjadi: kepada siapa hasil-hasil kegiatan produksi itu akan disalurkan sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Kelangkaan dan Kebutuhan Manusia

Kebutuhan manusia adalah titik pangkal kegiatan perekonomian serta menjadi tujuan akhir kegiatan perekonomian. Kebutuhan adalah tenaga penggerak atau pendorong perekonomian. Kebutuhan  manusia  mempunyai dua  ciri yaitu kebutuhan itu beraneka ragam dan dalam jangka panjang tidak dapat dipuaskan.

Kebutuhan manusia adalah suatu keinginan manusia akan barang dan jasa yang harus dipenuhi. Apabila tidak dipenuhi akan menimbulkan dampak negatif, contoh untuk pertumbuhan dan kesehatan diperlukan makanan apabila makanan tidak dipenuhi maka akan sakit. Kebutuhan  berbeda dengan keinginan. Perbedaanya, kebutuhan menuntut untuk dipenuhi dan jika tidak dipenuhi akan berdampak besar bagi kelangsungan hidup manusia sedangkan keinginan tidak harus  dipenuhi  atau  pemenuhannya  masih  dapat  ditunda  (Awaluddin  dan Wijayati, 2018).

Kebutuhan manusia bila sudah terpenuhi akan timbul kebutuhan yang lain dan manusia selalu berusaha untuk memenuhinya, hal ini terjadi karena sifat alami manusia, faktor alam dan lingkungan, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, perdagangan internasional, demonstration effect dan tingkat pendapatan (Mulyani, dalam Awaluddin dan Wijayati, 2018).

1) Sifat Alami Manusia

Menurut kodratnya setiap orang selalu merasa kurang dan ingin lebih dari yang lain. Apalagi kalau didukung oleh daya beli (mempunyai pendapatan yang tinggi) dan didukung nafsu serakah maka akan lebih bersemangat untuk memiliki suatu barang dan jasa dalam jumlah yang lebih banyak dan beraneka ragam.

2) Faktor Alam dan Lingkungan

Pola hidup seseorang dipengaruhi oleh lingkungan dimana mereka tinggal yaitu keadaan iklim, keadaan sosial ekonomi dan adat istiadat masyarakat sangat mempengaruhi usaha manusia untuk memenuhi kebutuhannya. Misalnya di desa terpencil masyarakatnya mempunyai kebutuhan tentang makan,minum, dan tempat tinggal yang sederhana jika dibandingkan dengan masyarakat yang hidup diperkotaan.

3) Kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi

Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi menyebabkan adanya penemuan baru dan produk baru, misalnya alat komunikasi telepon rumah berkembang menjadi Hand Phone dengan berbagai pilihan fitur dan pengembangannya menjadi smartphone. Mesin jahit sederhana menjadi mesin jahit portable, dan sebagainya.

4) Perdagangan Internasional

Perdagangan internasional menyebabkan masuknya beraneka ragam produk luar negeri ke dalam negeri yang menyebabkan orang ingin memilikinya sehingga orang berusaha untuk memenuhinya. Misalnya serbuan produk buatan China yang beraneka ragam jenis dan fitur yang dibuat sangat menarik dengan menawarkan harga yang lebih murah dari harga produk dalam negeri.

5)  Demonstration Effect

Demonstration effect adalah kebiasaan seseorang untuk memenuhi kebutuhan yang mengarah keinginan yang bersifat pemborosan dan sekedar hanya untuk menjaga prestise padahal barang yang dibeli belum tentu merupakan kebutuhan. Misalnya membeli pakaian dengan merek terkenal sehingga harga pakaian tersebut yang sangat tidak masuk akal secara umum. Fungsi pakaian tidak hanya memenuhi kebutuhan untuk menutup tubuh, namun juga untuk menjaga prsetise seseorang yang diyakini dari merek dan harganya.

6) Tingkat Pendapatan

Semakin besar pendapatan seseorang, biasanya orang tersebut akan semakin berusaha untuk memenuhi kebutuhannya hal ini terlihat ketika pendapatan meningkat orang cenderung membeli barang yang lebih banyak. Sebaliknya semakin rendah pendapatan seseorang maka seseorang cenderung untuk menekan keinginan untuk membeli.

Ilmu ekonomi membahas kebutuhan manusia dan cara-cara memenuhi kebutuhannya juga mengatasi kelangkaan, dengan mencari cara yang paling tepat, hemat dan berdayaguna dalam pemenuhan kebutuhan manusia yang tak terbatas. Sehingga timbullah istilah “berbuat ekonomis”, yang artinya berbuat sesuatu untuk mencegah pemborosan, karena dengan pemborosan dalam penggunaan alat pemenuhan kebutuhan manusia akan mengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.

Seringkali tidak mudah untuk membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Sebagai contoh, jika makanan dikategorikan sebagai kebutuhan, maka apakah es krim double chocolate adalah kebutuhan?

Jika pakaian adalah kebutuhan, maka apakah T-shirt merek Nike keluaran terbaru juga adalah sebuah kebutuhan. Secara sederhana kebutuhan dapat didefinisikan sebagai “sesuatu yang harus diperoleh untuk dapat bertahan hidup (survive)  dan  melakukan  kegiatan  sehari-hari”  sedangkan  keinginan  adalah

“sesuatu yang ingin dimiliki, yang jika tidak dimiliki seseorang masih dapat bertahan hidup”. Oleh karena itu, pada dasarnya hanya ada empat hal yang dapat dikategorikan sebagai kebutuhan untuk dapat bertahan hidup:

1. Rumah untuk tempat bernaung.

2. Makanan dan minuman yang cukup.

3. Perawatan kesehatan dasar

4. Pakaian yang layak

Rumah memberikan perlindungan dari hawa panas dan dingin, dari sengatan sinar matahari dan hujan, serta dari gangguan binatang-binatang. Tanpa makanan dan minuman yang cukup seseorang tidak akan mampu untuk bertahan hidup layak. Tubuh manusia sebagian besar terdiri dari air sehingga tanpa air yang cukup seseorang tidak akan bertahan. Makanan yang cukup dibutuhkan agar seseorang mendapatkan  cukup energi untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Perawatan kesehatan dasar dibutuhkan agar  seseorang dapat terhindar dari berbagai jenis penyakit yang dapat mengancam hidup seseorang. Sebagai contoh, penyakit cacar jika tidak mendapatkan perawatan yang memadai dapat menyebabkan kematian. Demikian juga dengan pakaian, selain melindungi tubuh seseorang juga berfungsi untuk menjaga harkat dan martabat hidup seseorang.

Segala sesuatu diluar ke-empat hal tersebut dikategorikan sebagai keinginan, misalnya: rumah yang megah, pakaian bermerek terkenal, kudapan (snacks, fast foods and drinks), dan berbagai jenis kendaraan mewah/bermerek terkenal. Namun jika anda terdampar disebuah pulau terpencil dan anda hanya memiliki sebatang coklat (yaitu snacks), maka coklat tersebut menjadi kebutuhan. Demikian juga dengan kendaraan, dapat berubah menjadi kebutuhan, jika keberadaannya merupakan syarat agar seseorang dapat menjalani kehidupan sehari-harinya secara layak, misalnya untuk mengantar seseorang ke rumah sakit, digunakan untuk pergi ke tempat kerja untuk mendapatkan penghasilan.

Dalam kaitannya dengan pembahasan sebelumnya yaitu kelangkaan dan pilihan, maka seseorang harus membuat pilihan dan keputusan untuk mendahulukan

kebutuhan daripada keinginan. Jadi seseorang akan menggunakan sumber daya yang terbatas yang dimilikinya untuk memenuhi kebutuhan terlebih dahulu sebelum keinginannya yang tidak terbatas. Hal tersebut dilakukan sebagai cara untuk memaksimalkan kepuasan.

Agar dapat memahami konsep kelangkaan dan kaitannya dengan pemenuhan kebutuhan manusia, kita juga perlu memahami konsep mengenai sumber daya (resources). Sumber daya adalah sesuatu yang dapat diubah menjadi barang atau jasa setelah melalui proses tertentu (khusus untuk barang/produk proses tersebut disebut proses produksi atau proses manufakturing). Barang atau jasa tersebut kemudian dapat diubah menjadi kepuasaan jika barang atau jasa tersebut telah dikonsumsi.

Secara garis besar terdapat dua kategori sumber daya: sumber daya yang terbatas (langka) contohnya adalah makanan, air, listrik dan sumber daya yang tidak terbatas misalnya sinar matahari dan udara (adakah kondisi kondisi tertentu yang dapat menyebabkan sinar matahari dan udara dapat berubah menjadi sumber daya yang langka?).

Lebih lanjut, pembagian alat pemuas kebutuhan manusia dapat dilakukan berdasarkan beberapa aspek.

a) Ditinjau dari segi keberadaannya.

• Barang bebas. Barang yang keberadaannya dan jumlahnya tidak terbatas, sehingga untuk memperolehnya tidak memerlukan pengorbanan bagi yang membutuhkan dan dapat memberikan manfaat. Contohnya: udara, angin.

• Barang ekonomis. Barang yang berguna untuk memenuhi kebutuhan manusia akan tetapi jumlah keberadaannya terbatas. Oleh karena itu untuk memperolehnya diperlukan pengorbanan. Contoh, seseorang lapar membutuhkan makan, untuk memperoleh  makanan  harus membeli, untuk membeli dibutuhkan uang dan untuk mendapatkan uang dibutuhkan kerja dan seterusnya.

b) Ditinjau dari segi tujuan penggunaannya:

• Barang konsumsi. Barang yang langsung dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari (konsumsi) yang habis sekali pakai (makanan, minuman) dan tidak lekas habis atau tahan lama (pakaian).

• Barang produksi. Barang yang tidak habis pakai atau barang yang dipergunakan untuk  proses produksi (suku cadang mesin)

c) Ditinjau dari hubungan antar alat pemuas itu sendiri.

• Barang substitusi. Barang yang dapat diganti dengan barang lain dengan manfaat dan fungsinya sama. Contohnya beras diganti dengan jagung.

• Barang komplementer. Merupakan barang yang saling melengkapi sehingga mempunyai manfaat. Contohnya: pena dengan tinta, buku tulis dengan alat tulis, meja dengan kursi dan sebagainya

d) Ditinjau dari sifatnya

• Barang bergerak. Barang yang dapat dipindahkan dari satu tempat ke tempat lain. Contoh motor, meja, kursi, bahan makanan dan sebagainya.

• Barang tak bergerak. Barang yang tidak mudah dipindahkan dari satu tempat ke tempat lain. Contoh: tanah ladang, bangunan, pabrik dan sebagainya.

Alat pemuas kebutuhan manusia tidak hanya berbentuk barang, namun juga berbentuk jasa, berikut ini pendapat beberapa ahli tentang jasa (Awaluddin dan Wijayati, 2018):

a) Kotler menyatakan bahwa jasa adalah setiap tindakan atau kegiatan yang dapat ditawarkan oleh satu pihak kepada pihak lain yang pada dasarnya tidak berwujud dan tidak mengakibatkan kepemilikan apapun.

b) Stanton mendefinisikan jasa adalah kegiatan yang dapat diidentifikasi sendiri, dan pada prinsipnya tidak dapat diraba secara fisik (intangible) namun dapat dipergunakan untuk pemenuhan kebutuhan pelanggan.

Menurut Fandy Tjiptono (2000) jasa memiliki 4 (empat) karakteristik pokok yang membedakannya dengan barang yaitu:

a) Tidak Berwujud (Intangibility)

Jasa bersifat intangible, artinya tidak dapat dilihat, diraba, dirasa atau dicium sebelum jasa tersebut dibeli dan dikonsumsi. Konsep Intagible artinya jasa adalah sesuatu yang tidak dapat disentuh dan tidak dapat dirasa dan sesuatu yang tidak mudah didefinisikan dan diformulasikan atau dipahami secara rohaniah. Konsumen akan menyimpulkan kualitas jasa berdasarkan tempat (place), orang (people), peralatan (equipment), bahan komunikasi (communication material), simbol dan harga.

b) Tidak Dapat Dipisahkan (Inseparatibility)

Proses memproduksi dan konsumsi jasa terjadi dalam waktu yang bersamaan. Dalam hal ini interaksi antara penyedia  jasa dengan konsumen merupakan ciri khusus dalam pemasaran jasa dan akan mempengaruhi hasil (outcome) jasa tersebut.

c) Keberagaman (Variability)

Jasa banyak memiliki variasi bentuk, kualitas dan jenis tergantung pada siapa, kapan, dimana jasa tersebut dihasilkan serta penerima jasa dan kondisi dimana jasa tersebut diberikan.

d) Tidak Tahan Lama (Perishability)

Jasa merupakan komoditas yang tidak tahan lama, tidak dapat disimpan, meskipun demikian ada pengecualian dalam karakteristik ini. Dalam kasus tertentu jasa dapat disimpan yaitu dalam bentuk pemesanan (reservasi tiket pesawat dan kamar hotel), peningkatan permintaan akan suatu jasa pada saat permintaan sepi (misalnya minivacation weekends dihotel-hotel tertentu) dan penundaan jasa (misal: asuransi).

2. Materi 2: Motif Ekonomi

Ilmu ekonomi pada hakekatnya adalah sebuah ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia dan alasan-alasan mengapa manusia melakukan tingkah laku (tindakan) tertentu. Tindakan manusia yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya disebut dengan tindakan ekonomi. Tindakan manusia, termasuk tindakan ekonomi didasari oleh motif-motif tertentu. Motif paling mendasar yang menyebabkan manusia melakukan tindakan ekonomi adalah motif untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Manusia adalah makhluk yang tidak pernah merasa puas atas apa yang telah diperolehnya. Hal tersebut merupakan sifat dasar seluruh manusia. Hal itulah salah satunya yang menyebabkan terjadinya kelangkaan. Akibat dari sifat dasar manusia tersebut, maka setiap manusia senantiasa berusaha untuk memaksimalkan kepuasan yang dapat diraihnya melalui berbagai tindakan ekonomi.

Walaupun pada dasarnya manusia adalah makhluk yang cenderung mementingkan kepentingan diri sendiri, namun menurut Adam Smith dalam bukunya “Moral Sentiment” (buku yang ditulis sebelum bukunya yang sangat terkenal dan berpengaruh “An Inquiry Into the Nature and Causes of the Wealth of Nations”), bahwa sifat dasar manusia tersebut akan dibatasi oleh dua hal. Pertama, oleh sentimen moral, yaitu  keinginan universal manusia  untuk menjunjung tinggi harga diri pribadi dan keinginan untuk memperoleh penghargaan dari orang lain. Kedua, oleh suatu kebetulan yang positif dan menyenangkan bahwa jika masing-masing individu/keluarga/perusahaan /negara berupaya maksimal meraih keuntungan maksimal maka pada akhirnya masyarakat secara keseluruhan pula yang akan merasakan keuntungannya. Sebagai contoh, dalam rangka memperebutkan konsumen, perusahaan- perusahaan saling bersaing untuk menghasilkan produk-produk yang berkwalitas dengan harga yang serendah mungkin. Kondisi tersebut pada akhirnya akan menguntungkan masyarakat karena masyarakat akan memperoleh barang- barang yang berkualitas dengan harga murah. Demikian juga sebaliknya, individu atau rumah tangga yang berupaya memaksimalkan keuntungan/kepuasan dari harta  yang  dimilikinya  akan  menyisihkan  sebagian  hartanya  dalam  bentuk tabungan atau investasi pada lembaga-lembaga keuangan. Harta masyarakat yang disimpan dalam lembaga-lembaga keuangan tersebut kemudian dapat dipinjamkan kepada perusahaanperusahaan untuk memperbesar skala usaha mereka.

Sebuah aksioma dalam ilmu ekonomi mengatakan bahwa manusia yang rasional selalu bertindak untuk memaksimalkan kepuasannya. Dengan kata lain berarti bahwa manusia yang rasional senantiasa berusaha memenuhi kepentingan pribadinya. Lawan dari sifat mementingkan kepentingan pribadi adalah sifat altruistik, yaitu sifat mementingkan kepentingan orang lain tanpa memperhatikan kepentingan sendiri. Motif-motif yang melatarbelakangi tindakan-tindakan ekonomi manusia terentang diantara dua titik ekstrim tersebut, yaitu “murni untuk kepentingan pribadi” dan “murni untuk kepentingan orang lain”. Dengan kata lain tindakan ekonomi seseorang seyogyanya tidak semata-mata didasari motif untuk memenuhi kepentingan pribadi namun juga memperhatikan kepentingan umum/masyarakat.

Pandangan kontemporer ini berasal dari cabang ilmu mikroekonomi yang disebut dengan ekonomi perilaku (behavioral economics). Jika tindakan-tindakan ekonomi semata-mata didasari oleh kepentingan pribadi dan upaya-upaya untuk memenuhi kepuasan semaksimal mungkin tanpa sama sekali mempertimbangkan kepentingan umum, pada akhirnya kegiatan ekonomi masyarakat akan mengalami kehancuran. Bayangkan jika seluruh pelaku ekonomi, pengusaha, pegawai negeri, pedagang, dan lain-lain dalam  rangka mencapai keuntungan/kepuasan maksimal, mereka senantiasa berupaya berlaku curang dalam setiap tindakannya. Jika kondisi tersebut terjadi, diperlukan biaya yang sangat tinggi untuk melakukan pengawasan dan pencegahan, apalagi jika petugas/pelaku pengawasan dan pencegahan itu sendiri juga berlaku curang untuk memaksimalkan kepentingan pribadinya.

Oleh karena itu, oleh sebagian penulis, motif ekonomi yang mendorong perilaku atau tindakan-tindakan ekonomi manusia dapat dikategorikan sebagai berikut:

1. Motif untuk memenuhi kebutuhan

Pemenuhan kebutuhan merupakan pendorong paling besar bagi manusia untuk melakukan kegiatan ekonomi. Manusia bekerja (melakukan kegiatan produksi) untuk memperoleh penghasilan agar dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidup yang bervariasi (melakukan konsumsi). Sebagian manusia harus bekerja lebih keras dari sebagian yang lain untuk mencukupi kebutuhan-kebutuhan atau untuk memenuhi keinginan- keinginan yang terus berkembang. Misalnya seorang ayah rela untuk menambah jam kerja ekstra pada malam hari agar dapat membiayai pengobatan anaknya.

2. Motif untuk membantu sesama (sosial)

Selain untuk memenuhi kebutuhan hidup, manusia juga melakukan kegiatan ekonomi (khususnya kegiatan produksi) karena dorongan faktor sosial. Misalnya, warga sebuah kampung bergotong-royong bekerja secara sukarela untuk memperbaiki jembatan yang rusak agar jalur transportasi dan kenyamanan seluruh warga dapat diwujudkan. Atau seseorang yang menambah jam kerja harian agar dapat terus melanjutkan pemberian sumbangan  rutinnya untuk sebuah  pondok pesantren.

3. Motif untuk mendapatkan penghargaan

Selain untuk memenuhi kebutuhan  hidup  dan kepentingan sosial, sebagian manusia juga melakukan kegiatan ekonomi karena dorongan untuk memperoleh penghargaan. Misalnya, sebuah pemerintah daerah meningkatkan layanan-layanan bagi masyarakat seperti membangun lebih banyak fasilitas umum (taman kota, toilet umum, taman bermain) untuk mendapatkan pengakuan/penghargaan baik dari pemerintah pusat maupun dari masyarakatnya sendiri. Contoh lain, divisi-divisi produksi sebuah perusahaan swasta berlomba untuk meningkatkan  kualitas produksi, efisiensi produksi, dan hasil penjualan untuk memperoleh penghargaan dari pimpinan perusahaan.

4. Motif untuk memperoleh kekuasaan

Selain ketiga motif diatas, sebagian manusia  melakukan kegiatan ekonomi dalam upaya mereka untuk meraih kekuasaan. Misalnya, seorang kepala daerah berupaya meningkatkan layanan masyarakat dan membangun serta memperbaiki fasilitas-fasilitas umum dengan harapan agar dapat dipilih kembali oleh masyarakat dalam pemilihan kepala daerah periode berikutnya. Contoh lain, para direktur sebuah perusahaan berupaya meningkatkan kinerja masing-masing agar dapat  terpilih menjadi direktur utama perusahaan tersebut.

3. Materi 3: Prinsip Ekonomi

Diatas telah dijelaskan bahwa tindakan yang dilakukan manusia untuk memaksimalkan kepuasan atau keuntungannya disebut dengan tindakan ekonomis. Tindakan ekonomis yang dilakukan manusia didasari oleh apa yang disebut dengan prinsip ekonomi, yaitu “dengan pengorbanan tertentu dapat memperoleh hasil/kepuasan yang setinggi-tingginya”, atau, “dengan pengorbanan yang minimal dapat memperoleh hasil/kepuasan tertentu”. Dengan memahami prinsip ekonomi seseorang dapat memahami banyak kejadian- kejadian yang terjadi disekitarnya. Selain itu dengan prinsip ekonomi juga seseorang dapat membuat keputusan yang sesuai dengan keadaan dirinya.

Prinsip ekonomi merupakan konsekwensi (hal yang tidak dapat dihindari) yang lahir dari adanya kontradiksi antara sumber daya yang terbatas disatu sisi dan keinginan manusia yang tidak terbatas disisi lain (kelangkaan). Pilihan-pilihan tindakan ekonomi manusia yang lahir dari adanya kelangkaan senantiasa dilandasi oleh prinsip ekonomi, baik dalam  kegiatan produksi, distribusi, dan konsumsi.

Beberapa ciri manusia yang melakukan tindakan dengan dilandasi oleh prinsip ekonomi adalah:

1. Bertindak rasional. 

Setiap tindakan dilakukan dengan pertimbangan dan pemikiran agar seseorang dapat mencapai kepuasan maksimal. Tindakan yang dilakukan tidak semata-mata untuk memenuhi pemenuhan kepuasan sesaat, namun lebih kepada kepentingan jangka panjang.

2. Bertindak ekonomis. 

Manusia yang memegang prinsip ekonomi selalu membandingkan antara jumlah pengeluaran yang dilakukan dengan penghasilan yang diperoleh. Manusia akan selalu memilih selisih yang paling besar antara penghasilan dan pengeluaran.

3. Menyusun skala prioritas. 

Karena tidak semua kebutuhan dan keingian manusia dapat dipenuhi dengan sumber daya yang dimiliki, maka manusia akan mendahulukan kebutuhan-kebutuhan dasar dan keinginan- keinginan yang paling memberikan kepuasan maksimal.

Namun yang perlu dicatat bahwa dalam menjalankan prinsip ekonomi dalam setiap tindakan manusia, pertimbangan-pertimbangan yang dilakukan manusia untuk mencapai kepuasan maksimal tidak semata-mata pertimbangan material dan finansial. Manusia juga kadangkala mempertimbangkan hal-hal diluar material dan finansial untuk memaksimalkan kepuasan, seperti rasa aman dan rasa aman.

Misalnya dalam memutuskan pembelian tiket pesawat seorang calon penumpang dihadapkan pada dua pilihan. Pilihan pertama tiket maskapai Y dengan harga lebih tinggi namun dalam 20 tahun terakhir tidak pernah mengalami kecelakaan. Pilihan kedua tiket maskapai X dengan harga lebih murah namun dalam 2 tahun terakhir mengalami 10 kali kecelakaan penerbangan. Jika calon penumpang hanya mempertimbangkan harga tiket dalam melaksanakan prinsip ekonomi tanpa mempertimbangkan rasa aman, maka ia akan memilih tiket maskapai X yang lebih murah, namun jika calon penumpang tersebut juga mempertimbangkan rasa aman, maka ia akan memilih tiket maskapai Y yang lebih mahal namun dapat memberi jaminan rasa aman yang lebih besar.

4. Materi 4: Pelaku Kegiatan Ekonomi

Pelaku  perekonomian  ada  empat  golongan,  yaitu  rumah  tangga  konsumen, rumah tangga perusahaan, negara, dan sektor luar negeri.

1) Rumah Tangga Keluarga

Rumah Tangga Keluarga adalah kelompok orang yang terikat dalam hubungan kekeluargaan. Karena terdiri atas orang-orang, Rumah Tangga (keluarga) merupakan sebuah unit pelaku ekonomi. Peran rumah tangga dalam perekonomian masyarakat. sebagai berikut :

a) Konsumen. Sebagai konsumen, rumah tangga membeli dan mengonsumsi barang dan jasa yang dihasilkan perusahaan. Perusahaan mendapat keuntungan dari penjualan barang dan jasa tersebut. Sebaliknya rumah tangga dapat memperoleh pendapatan karena keterlibatannya dalam proses produksi. Rumah tangga dapat menyewakan alam, bekerja, dan memberikan modal dalam proses produksi.

b) Penyedia faktor produksi bagi perusahaan. Sebagai penyedia faktor produksi, rumah tangga menawarkan  tenaga kerja, lahan (tanah) dan modal. Anggota keluarga merupakan sumber tenaga kerja.  Saat bekerja di perusahaan, tenaga kerja mendapatkan upah. Rumah tangga adalah pemilik lahan (tanah). Tanah disewa oleh perusahaan sehingga mendapatkan sewa. Modal (uang) disimpan di bank oleh konsumen, lalu oleh bank disalurkan kepada pengusaha. Bank memberikan bunga kepada rumah tangga. Dalam keadaan tertentu, konsumen juga dapat berperan sebagai produsen. Yaitu sebagai produsen barang dan jasa. Contoh: menanam padi di lahan sendiri, mencuci pakaian sendiri. Menanam padi berarti melakukan proses produksi barang, yaitu padi. Mencuci pakaian sendiri, berarti melakukan produksi jasa. Seandainya mencuci pakaian, diserahkan kepada orang lain, maka seseorang harus membayar orang tersebut.

2) Rumah Tangga Produksi (Perusahaan)

Rumah Tangga Produksi disebut juga perusahaan. Perusahaan adalah kesatuan teknis yang mengkombinasikan faktor produksi untuk menghasilkan barang dan jasa. Menurut jenis badan hukumnya, perusahaan digolongkan sebagai perusahaan perseorangan, CV, firma, Perseroan Terbatas (PT) dan koperasi. Menurut lapangan usahanya, perusahaan terdiri atas  perusahaan agraris, ekstraktif, industri, perdagangan dan jasa.

Peran perusahaan dalam perekonomian adalah sebagai berikut.

a) Produsen. Sebagai produsen, perusahaan menghasilkan barang dan jasa. Misalnya perusahaan roti menghasilkan roti, perusahaan otomotif menghasilkan mobil atau motor. Perusahaan ekstraktif adalah perusahaan yang menghasilkan barang dan cara mengambil langsung dari alam, misalnya perusahaan pertambangan minyak bumi,  batu bara, besi dan sebagainya. Perusahaan industri adalah perusahaan yang mengasilkan barang dengan cara mengolah bahan mentah menjadi barang jadi atau setengah jadi. Misalnya pabrik rokok, pabrik makanan dalam kemasan dan lain-lain.

b) Pengguna faktor produksi. Untuk menghasilkan barang dan jasa diperlukan komponen-komponen yang disebut faktor produksi. Faktor produksi disediakan oleh rumah tangga. Dengan skill yang dimiliki perusahaan mengkombinasikan faktor produksi untuk diolah sehingga menghasilkan barang atau jasa. Sebagai pemilik skill pengusaha akan mendapatkan keuntungan (laba).

c) Agen Pembangunan. Agen artinya perantara atau pembantu. Sebagai agen pembangunan, artinya perusahaan membantu pemerintah dalam kegiatan pembangunan. Kegiatan ekonomi (produksi) yang dilakukan perusahaan, dapat memberikan kesejahteraan bagi karyawan perusahaan tersebut, juga kepada warga masyarakat. Pembelian faktor produksi oleh perusahaan mengakibatkan rumah tangga memperoleh pendapatan. Dengan demikian, apa yang dilakukan perusahaan dapat

membantu usaha pemerintah dalam meningkatkan  kesejahteraan rakyat.

3) Negara (Pemerintah)

Negara adalah komunitas sosial, politik dan ekonomi. Pemerintah adalah salah satu unsur dari negara. Pemerintah adalah pelaku kegiatan ekonomi. Peran pemerintah dalam kegiatan ekonomi adalah sebagai berikut.

a) Konsumen. Sebagai konsumen pemerintah membeli dan mengonsumsi berbagai barang dan jasa untuk mengelola negara. Misalnya: membeli jasa pegawai, kendaraan dinas, kertas, alat-alat kantor, listrik, telepon, dan lain-lain. Sebagai konsumen, pemerintah harus mengeluarkan dana untuk pembelian barang dan jasa tersebut. Dana pemerintah diperoleh dari APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara).

b) Produsen. Sebagai produsen, pemerintah menghasilkan barang dan jasa. Barang dan jasa tersebut diproduksi oleh badan usaha milik pemerintah. Sesuai amanat UUD 1945 pasal 33 ayat 2 dan 3, pemerintah bertugas menyediakan barang dan jasa yang penting (vital) dibutuhkan oleh rakyat. Melalui BUMN, pemerintah menyediakan barang dan jasa tersebut. minyak dan gas bumi disediakan oleh PT Pertamina, listrik disediakan oleh PT PLN, jasa transportasi udara disediakan oleh PT Garuda, jasa transportasi darat disediakan oleh Perum Damri, jasa keuangan/ perbankan oleh PT Bank Rakyat Indonesia, dan lain-lain.

c) Regulator

Sebagai regulator, pemerintah bersama DPR membuat peraturan dalam bidang ekonomi. Tujuannya mendorong kegiatan ekonomi agar lebih optimal dan dapat meningkatkan kesejahteraan rakyat. Misalnya Undang-Undang No. 19 Tahun 2003 tentang BUMN, Undang-Undang No. 1 tahun 1967 tentang Penanaman Modal Asing.

4) Masyarakat Luar Negeri

Untuk  memenuhi   kebutuhan   di   dalam   negeri   suatu   negara   perlu hubungan  dengan  negara  lain.  Karena  tidak  semua  negara  dapat

memproduksi semua barang dan jasa yang dibutuhkan oleh rakyatnya. Indonesia melakukan hubungan ekonomi dengan berbagai negara di seluruh dunia. Hubungan tersebut dapat berupa perdagangan, ketenagakerjaan, dan permodalan.

Hubungan tersebut dapat diuraikan sebagai berikut.

a) Perdagangan. Salah satu bentuk kerjasama dengan luar negeri adalah perdagangan yaitu ekspor maupun impor barang maupun jasa. Misalnya Indonesia mengekspor karet ke Jepang. Sedangkan Jepang mengekspor mesin-mesin ke Indonesia. Kedua belah pihak mendapatkan tambahan devisa dari kegiatan perdagangan tersebut.

b) Pertukaran Tenaga Kerja. Masyarakat Indonesia banyak mengirimkan tenaga kerja ke luar negeri, mereka yang bekerja di luar negeri memberikan devisa bagi Indonesia. Selain masyarakat Indonesia bekerja di luar negeri, masyarakat dari negara lain juga banyak yang bekerja di Indonesia. Masyarakat dari negara lain yang bekerja di Indonesia umumnya adalah tenaga ahli yang bekerja pada perusahaan- perusahaan untuk mengerjakan proyek-proyek tertentu yang membutuhkan penguasaan teknologi tinggi atau modal yang besar.

c) Sumber Penanaman Modal Asing. Penanaman modal asing di suatu negara merupakan salah satu cara untuk meningkatkan kemakmuran penduduk di suatu negara. Bagi Indonesia, investasi dari negara lain sangat menguntungkan. Indonesia menarik bagi para investor asing karena harga tenaga kerja di Indonesia lebih murah dibandingkan dengan Negara lainnya. Di samping itu, Indonesia merupakan pangsa pasar yang besar karena jumlah penduduknya sangat besar.

d) Pemberi Pinjaman. Untuk melaksanakan pembangunan, suatu negara membutuhkan dana yang sangat besar. Pada saat suatu negara mengalami kesulitan keuangan, maka Negara akan meminjam dari negara lain atau badan keuangan internasional. Lembaga keuangan internasional itu antara lain adalah World Bank, IMF, ADB, IDB, dan lain-lainnya. Di sinilah peranan masyarakat luar negeri dalam perekonomian suatu negara.

Pemberi Bantuan. Bantuan yang diberikan oleh masyarakat luar negeri biasanya diwujudkan dalam bentuk proyek-proyek pembangunan fisik atau kegiatan pelayanan dengan bekerja sama dengan pemerintah daerah setempat. Bantuan tersebut diberikan kepada negara yang membutuhkan secara cuma- cuma tanpa harus mengembalikan.

Rangkuman

Kelangkaan menyebabkan manusia harus menentukan pilihan dan membuat keputusan untuk mengalokasikan sumber daya yang terbatas yang dimilikinya untuk mendapatkan barang dan jasa yang dibutuhkan dan diinginkan. Adanya kelangkaan ini juga menyebabkan munculnya harga, yaitu biaya yang harus dikeluarkan oleh seseorang untuk mendapatkan barang  atau jasa yang diinginkannya. Semakin langka sesuatu semakin tinggi harganya. Karena manusia pada dasarnya memiliki keinginan yang tidak terbatas maka manusia selalu berusaha mencapai kepuasan maksimal dalam membuat pilihan-pilihan untuk memperoleh barang atau jasa yang diinginkannya. Kelangkaan merupakan permasalahan dasar ekonomi. Kelangkaan ini kemudian melahirkan masalah- masalah ekonomi berikutnya, yaitu: barang apa yang akan diproduksi, bagaimana barang tersebut diproduksi, untuk siapa barang tersebut diproduksi.

Walaupun pada hakekatnya manusia adalah  makhluk yang selalu ingin mementingkan kepentingan sendiri sebagai motif utama dalam melaksanakan tindakan ekonomi, dalam kenyataannya tindakan-tindakan ekonomi manusia tidak dapat dilepaskan dari pertimbangan-pertimbangan untuk kepentingan umum. Motif ekonomi yang mendorong perilaku atau tindakan-tindakan ekonomi manusia dapat dikategorikan sebagai berikut: motif untuk memenuhi kebutuhan, motif untuk membantu sesama (sosial), motif untuk mendapatkan penghargaan, motif untuk memperoleh kekuasaan.

Tindakan ekonomis yang dilakukan manusia didasari oleh apa yang disebut dengan prinsip ekonomi, yaitu “dengan pengorbanan tertentu dapat memperoleh hasil/kepuasan yang setinggi-tingginya”. Namun, dalam penerapannya, prinsip ekonomi tidak selalu hanya didasari dari pertimbangan material-finansial, namun kadangkala juga mempertimbangkan aspek-aspek non material-finansial seperti rasa aman dan rasa cinta. Beberapa ciri manusia yang melakukan tindakan dengan dilandasi oleh prinsip ekonomi adalah, bertindak rasional. bertindak ekonomis. menyusun skala prioritas.

Pelaku perekonomian ada empat golongan, yaitu rumah tangga konsumen, perusahaan, negara, dan sektor luar negeri. Dalam perekonomian masyarakat peran rumah tangga keluarga adalah sebagai konsumen dan penyedia faktor produksi. Peran rumah tangga perusahaan adalah sebagai produsen pengguna faktor-faktor produksi, dan agen pembangunan. Peran negara adalah sebagai konsumen, produsen, dan regulator. Sedangkan peran masyarakat luar negeri adalah dalam perdagangan, pertukaran tenaga kerja, penanam modal, dan sebagai pemberi pinjaman.

Posting Komentar untuk "Permasalahan Dasar, Motif, Prinsip Ekonomi, dan Pelaku Ekonomi - PPPK IPS Ekonomi 1"