Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Metode Penelitian Sosial - PPPK Sosiologi 6

Metode Penelitian Sosial - PPPK Sosiologi 6 - hasriani.com


Metode Penelitian Sosial - PPPK Sosiologi 6 - Penjabaran model kompetensi yang dikembangkan pada kompetensi guru bidang studi lebih spesifik pada pembelajaran 6. Metode Penelitian Sosial, ada beberapa kompetensi guru bidang studi yang akan dicapai pada pembelajaran ini, kompetensi yang akan dicapai pada pembelajaran ini adalah guru PPPK mampu:

Menganalisis metode penelitian sosial.

Dalam rangka mencapai kompetensi guru bidang studi, maka dikembangkanlah indikator-indikator yang sesuai dengan tuntutan kompetensi guru bidang studi.

Indikator pencapaian komptensi yang akan dicapai dalam pembelajaran 6. Metode Penelitian Sosial adalah sebagai berikut.

1. Menjelaskan Jenis-Jenis Penelitian Sosial

2. Menjelaskan Manfaat Hasil Penelitian

3. Menjelaskan Langkah-langkah Penelitian Sosial

4. Menjelaskan Sampel dan Populasi

5. Menjelaskan Teknik Pengumpulan Data

6. Menjelaskan Teknik Pengolahan Data

Uraian Materi Metode Penelitian Sosial - PPPK Sosiologi 6 - hasriani.com

1. Jenis-Jenis Penelitian Sosial

Penelitian sosial merupakan kegiatan ilmiah yang sistematis guna memperoleh kebenaran dari gejala atau fenomena sosial. Sebelum dilakukan penelitian, peneliti perlu memahami jenis-jenis penelitian sosial berdasarkan klasifikasinya. Adapun jenis penelitian sosial dapat dilihat berdasarkan tempat penelitiannya, manfaatnya, tujuannya, dan pendekatannya.

a. Berdasarkan Tempat Penelitiannya

Jenis penelitian diklasifikasikan berdasarkan tempat penelitiannya sebagai

berikut.

1) Field research yaitu penelitian yang dilakukan langsung di lapangan.

2) Library research yaitu penelitian yang dilakukan menggunakan literatur/kepustakaan.

3) Laboratory research yaitu penelitian yang dilakukan di tempat tertentu seperti laboratorium.

b. Berdasarkan Tujuannya

Jenis penelitian diklasifikasikan berdasarkan tujuannya sebagai berikut:

1) Penelitian deskriptif yaitu penelitian yang bertujuan memberikan gambaran mengenai fenomena tertentu.

2) Penelitian eksploratif yaitu penelitian yang bertujuan menemukan fakta/pengetahuan baru.

3) Penelitian tindakan yaitu penelitian untuk menemukan cara efektif meningkatkan kinerja organisasi/kelompok.

4) Penelitian verifikatif yaitu penelitian yang bertujuan menguji teori atau penelitian sebelumnya.

5) Penelitian pengembangan (development) atau R & D, yaitu penelitian yang bertujuan mengembangkan, memperluas, dan memperdalam suatu teori/ pengetahuan.

c. Berdasarkan Manfaat/Penerapannya

Jenis  penelitian  yang  dapat  dikategorikan  berdasarkan  manfaat  atau penerapannya sebagai berikut:

1) Penelitian dasar (basic research) yaitu penelitian yang bersifat murni untuk pengembangan ilmu pengetahuan.

2) Penelitian terapan (applied research) yaitu penelitian yang didesain untuk memecahkan masalah dan memberi solusi secara praktis.

d. Berdasarkan Pendekatannya

Penelitian sosial memiliki dua pendekatan utama, yaitu kualitatif dan kuantitatif. Perbedaan kedua pendekatan tersebut sebagai berikut.

1) Jenis Penelitian dengan Pendekatan Kualitatif

Penelitian sosial dengan pendekatan kualitatif bertujuan mencari kebenaran atau  penjelasan  secara  mendalam  terhadap  fenomena  sosial  dalam

masyarakat. Pendekatan kualitatif cenderung mementingkan deskripsi/penjelasan dalam membangun realitas sosial. Adapun ciri-ciri pendekatan kualitatif sebagai berikut.

(1) Bersifat umum, fleksibel, dan berkembang dalam proses penelitian.

(2) Mementingkan pemahaman dari dalam (emik).

(3) Menggambarkan realitas kompleks.

(4) Berakhir dengan kesimpulan (induktif).

(5) Peneliti berperan sebagai instrumen utama penelitian.

(6) Teknik pengumpulan data melalui wawancara dan observasi.

(7) Analisis dilakukan sejak awal hingga akhir penelitian.

(8) Hubungan dengan informan cukup dekat.

(9) Sajian data berupa deskripsi catatan lapangan, jawaban informan, dan dokumen.

Jenis penelitian dengan pendekatan kualitatif sebagai berikut:

(1) Fenomenologi yaitu penelitian yang berusaha menjelaskan suatu fenomena/ kejadian berdasarkan pemahaman/hasil pemikiran informan/objek penelitiannya.

(2) Deskriptif yaitu penelitian yang berupaya memberikan gambaran secara lengkap mengenai suatu permasalahan sosial.

(3) Stud! kasus yaitu penelitian yang digunakan untuk mempelajari peristiwa atau kasus pada unit sosial seperti orang (individu), kelompok, lembaga sosial, sebuah distrik, komunitas, atau sistem yang dikaji secara menyeluruh (holistik).

(4) Penelitian historis yaitu penelitian yang bertujuan menjelaskan kembali peristiwa ataupun gejala sosial pada masa lampau. Penelitian ini dapat menggunakan tulisan, artefak, dan bukti-bukti peninggalan sejarah sebagai sumber informasi.

(5) Studi dokumen yaitu penelitian yang dilakukan melalui analisis atau interpretasi suatu dokumen seperti buku teks, surat kabar, artikel ilmiah, atau film.

2) Jenis Penelitian dengan Pendekatan Kuantitatif

Pendekatan kuantitatif cenderung sistematis, terstruktur, tersusun dari awal hingga akhir penelitian, dianalisis menggunakan angka-angka dan dianalisis dengan prosedur statistik. Ciri-ciri pendekatan kuantitatif sebagai berikut.

(1) Bersifat spesifik, jelas, dan terperinci.

(2) Mementingkan pandangan orang lain (etik).

(3) Menunjukkan hubungan antarvariabel.

(4) Memulai dengan teori dan hipotesis (deduktif).

(5) Instrumen utama pendekatan ini yaitu komputer, kalkulator, dan aplikasi statistik.

(6) Menggunakan teknik eksperimen, survei, dan angket dalam mengumpulkan data.

(7) Analisis dilakukan setelah pengumpulan data.

(8) Terdapat jarak antara peneliti dan informan serta hubungan berjangka pendek.

Adapun jenis penelitian dengan pendekatan kuantitatif sebagai berikut.

(1) Deskriptif kuantitatif yaitu penelitian yang memberikan gambaran mengenai suatu permasalahan sosial dengan meng- analisis menggunakan metode statistik.

(2) Survei yaitu penelitian yang bertujuan memperoleh informasi mengenai sikap, nilai, dan pendapat dengan mengambil sampel populasi melalui kuesioner.

(3) Eksploratif yaitu penelitian yang bertujuan mengenali variabel tertentu dari suatu fenomena sosial yang ingin diketahui maknanya.

(4) Korelasional yaitu penelitian yang bertujuan menyelidiki sejauh mana dampak variasi-variasi suatu faktor berkaitan dengan variasi-variasi lain dalam satu faktor atau lebih.

(5) Eksperimen yaitu penelitian yang bertujuan mengetahui suatu akibat dari pemberian perlakuan (treatment) yang dilakukan peneliti terhadap objek penelitian.

(6) Eksplanatif yaitu penelitian yang bertujuan menjelaskan variabel-variabel yang memiliki kecenderungan tertentu sebagai akibat adanya variabel bebas.

(7) Komparatif yaitu penelitian yang berupaya membandingkan dua gejala atau lebih. Misalnya, variabel sama untuk sampel berbeda atau variabel berbeda untuk sampel yang sama.

Proses penalaran dalam penelitian dibagi menjadi dua jenis, yaitu deduktif dan induktif. Berikut penjelasannya.

1) Proses Penalaran Deduktif

Proses penalaran deduktif menilai atau mengkaji gejala sosial khusus berdasarkan pengetahuan yang sifatnya umum. Tujuannya adalah menentukan benar atau tidaknya generalisasi dari hasil penelitian dengan teori yang diuji. Proses penalaran deduktif digunakan dalam penelitian kuantitatif. Proses berpikir deduktif terdiri atas tahapan berikut:

a) Menyusun hipotesis (berdasarkan teori atau literatur).

b) Mengumpulkan data untuk menguji hipotesis.

c) Membuat keputusan untuk menerima atau menolak hipotesis.

Penelitian kuantitatif lebih menekankan penalaran deduktif. Oleh karena itu, hasil analisisnya berupa perbandingan-perbandingan angka sehingga tidak dapat mengetahui fenomena lebih dalam.

2) Proses Penalaran Induktif

Proses penalaran induktif diawali dari observasi di lapangan. Proses ini menghubungkan dan membangun data sebagai bentuk pemahaman. Menurut

R. Bruke Johnson, penalaran induktif dibagi menjadi tiga tahap sebagai berikut:

a) Mengamati lapangan.

b) Mencari pola dari objek yang diamati.

c) Membuat generalisasi tentang kondisi yang terjadi.

Proses penalaran ini dapat diamati dalam penelitian dengan pendekatan kualitatif. Pengetahuan yang diperoleh dari penalaran induktif berasal dari fakta khusus menjadi fakta yang bersifat umum.

2. Manfaat Hasil Penelitian

Penelitian sosial merupakan sarana bagi ilmu pengetahuan mengembangkan keilmuan dan memecahkan permasalahan dalam masyarakat. Oleh karena itu, hasil penelitian memiliki manfaat bagi pihak-pihak yang menggunakannya. Agar manfaat penelitian dapat diketahui, hasil penelitian perlu dikomunikasikan kepada masyarakat. Secara umum manfaat hasil penelitian sebagai berikut:

a. Manfaat Penelitian bagi Peneliti

1) Mampu mengembangkan ilmu dan keterampilan yang dimiliki seorang peneliti.

2) Mempertanggungjawabkan hasil penelitian, baik kepada pribadi maupun orang lain.

3) Meningkatkan jenjang karier.

4) Menjadi referensi penelitian relevan bagi ilmuwan lainnya.

b. Manfaat Penelitian bagi Peserta Didik

1) Meningkatkan kepekaan sosial.

2) Mengembangkan kreativitas.

3) Melatih kemampuan menganalisis.

4) Melatih kemampuan diskusi hasil penelitian.

5) Melatih kemampuan memecahkan masalah sosial di lingkungan.

c. Manfaat Penelitian bagi Masyarakat

1) Memberi masukan dan strategi pemecahan masalah.

2) Memberikan informasi tepercaya, objektif, dan up to date.

d. Manfaat Penelitian bagi Pemerintah

1) Memberikan pertimbangan dalam mengambil kebijakan.

2) Memberikan solusi dalam memecahkan masalah sosial.

3) memperoleh masukan dalam meningkatkan kualitas pelaksanaan program pemerintah.

e. Manfaat Penelitian bagi Ilmu Pengetahuan

1) Menambah khazanah ilmu pengetahuan.

2) Menambah referensi penelitian bagi peneliti lainnya.

f. Manfaat Mengomunikasikan Hasil Penelitian

Hasil penelitian sosial hendaknya dikomunikasikan kepada masyarakat luas. Laporan hasil penelitian perlu dikomunikasikan atau dipublikasikan melalui presentasi, seminar/diskusi publik, dan diterbitkan. Presentasi hasil penelitian dilakukan agar memperoleh tanggapan dan masukan dari pihak lain. Peneliti dapat memperbaiki atau menyempurnakan hasil penelitian apabila terdapat kesalahan sebelum dipublikasikan. Dengan demikian, hasil penelitian dapat menjadi pengetahuan yang bermanfaat bagi masyarakat. Manfaat kegiatan mengomunikasikan hasil penelitian yaitu meningkatkan partisipasi dalam kegiatan diskusi ilmiah, menumbuhkan sikap kritis, menyediakan media untuk mengembangkan gagasan, meningkatkan kecakapan komunikasi, dan memberi informasi baru bagi masyarakat

3. Langkah-Langkah Penelitian Sosial

Penelitian sosial merupakan kegiatan ilmiah yang sistematis. Kegiatan penelitian sosial memiliki prosedur yang disusun secara sistematis, konsisten, dan operasional. Peneliti wajib mengikuti prosedur tersebut agar hasil penelitian dapat diklaim sebagai karya ilmiah. Prosedur/langkah-langkah penelitian sosial meliputi kegiatan membuat rancangan penelitian, mengumpulkan data, mengolah data, membuat laporan, dan mengomunikasikan hasil penelitian.

a. Membuat Rancangan Penelitian

Pembuatan rancangan penelitian merupakan langkah awal dalam melakukan penelitian sosial. Pada umumnya rancangan penelitian dibuat dalam bentuk proposal. Proposal terdiri atas bab pendahuluan, kajian pustaka, dan metode penelitian. Adapun bagian rancangan penelitian mencakup komponen-komponen berikut:

1) Penentuan Topik Penelitian

Topik penelitian dapat diperoleh dengan mengamati permasalahan sosial dalam masyarakat melalui pengalaman, membaca hasil penelitian, dan menyimak berbagai informasi dari media massa. Penentuan topik penelitian yang baik harus memperhatikan unsur-unsur berikut:

(1) Memiliki data-data pendukung atau penelitian yang relevan.

(2) Dapat dijangkau (tempat, waktu, tenaga, dan dana).

(3) Bermanfaat bagi masyarakat.

(4) Dapat diteliti/rasional.

(5) Sesuai keahlian.

(6) Menarik bagi peneliti.

Topik yang dipilih harus sesuai kemutakhiran isu dan sesuai keinginan peneliti. Topik berkaitan dengan objek penelitian. Segala sesuatu yang akan menjadi objek pengamatan penelitian disebut variabel. Variabel dapat dibedakan menjadi beberapa jenis berikut.

(1) Variabel bebas/variabel penyebab merupakan variabel yang memengaruhi variabel lain.

(2) Variabel terikat/variabel dependen merupakan variabel yang

memberikan reaksi/respons sebagai akibat hubungan antarvariabel bebas.

(3) Variabel intervening yaitu variabel yang secara teoretis memengaruhi hubungan antara variabel bebas dan terikat, tetapi tidak dapat diamati.

(4) Variabel moderator yaitu variabel yang memengaruhi (memperkuat dan memperlemah) hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat. Topik yang sudah dipilih dirumuskan dalam bentuk judul penelitian.

2) Penulisan Judul Penelitian

Judul merupakan identitas dalam laporan penelitian. Judul penelitian sosial harus bisa menggambarkan informasi yang ingin ditampilkan dalam laporan penelitian. Oleh karena itu, judul penelitian harus ditulis secara informatif, singkat, dan jelas. Judul penelitian harus memuat jenis hubungan antarvariabel/ objek, lokasi, dan mencerminkan permasalahan secara jelas.

3) Penulisan Latar Belakang Masalah

Latar belakang memuat penjelasan pentingnya melakukan penelitian sosial terhadap suatu permasalahan sosial. Penjelasan tersebut disertai dengan argumentasi yang logis, rasional, dan didukung oleh fakta yang melatarbelakangi pelaksanaan penelitian. Penyajian latar belakang disusun dengan pola umum ke khusus.

4) Penulisan Rumusan Masalah

Rumusan masalah dalam penelitian harus ditulis secara jelas dan memuat batasan masalah yang akan diteliti. Rumusan masalah yang baik ditulis dengan kalimat tanya, mengungkapkan atau mewakili variabel/objek penelitian, dan menjelaskan hubungan antarvariabel. Rumusan masalah dibedakan sebagai berikut.

1) Deskriptif yaitu rumusan masalah yang bertujuan menceritakan suatu permasalahan yang hendak diteliti.

2) Komparatif yaitu rumusan masalah yang bertujuan membandingkan keberadaan variabel satu dan lainnya.

3) Asosiatif yaitu rumusan masalah yang bertujuan mengembangkan dua variabel.

5) Penulisan Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian merupakan pernyataan yang hendak dicapai dalam

penelitian.Tujuan penelitian dirumuskan dalam bentuk kalimat pernyataan sesuai rumusan masalah.

6) Penulisan Metode/Jenis Penelitian

Metode penelitian merupakan cara atau prosedur untuk mengetahui suatu hal (gejala sosial) dengan menggunakan langkah- langkah sistematis. Adapun jenis penelitian telah dibahas pada materi jenis-jenis penelitian. Peneliti menggunakan metode penelitian agar proses penelitian dapat terarah dan berjalan lancar.

b. Mengumpulkan Data Penelitian

Data penelitian merupakan catatan dari kumpulan fakta yang belum mempunyai arti sehingga masih harus diolah. Data penelitian dikumpulkan setelah membuat rancangan penelitian. Berdasarkan sifatnya, data penelitian dibedakan menjadi dua, yaitu data kuantitatif dan data kualitatif. Data kuantitatif adalah data yang dinyatakan dalam bentuk angka. Data pada penelitian kuantitatif diperoleh melalui angket dan pengukuran. Adapun data kualitatif adalah data yang dinyatakan dalam bentuk kata-kata/ deskripsi, hasil pengelompokan (nominal), hasil pengategorian (ordinal), dan gambar. Data pada penelitian kualitatif diperoleh melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi.

Berdasarkan jenisnya, data penelitian dapat dibedakan sebagai berikut.

a) Data opini yaitu data berupa ekspresi verbal responden terhadap sesuatu.

b) Data perilaku yaitu data yang berkaitan dengan tindakan yang telah dilakukan responden.

c) Data fakta yaitu data mengenai karakteristik atau latar belakang responden/objek yang diteliti.

d) Data  motif  yaitu  data  yang  berkaitan  dengan  alasan  responden berkelakuan/bersikap/ berpendapat terhadap sesuatu.

e) Data  pengetahuan  yaitu  data  yang berkaitan  dengan  kedalaman pemahaman/pengetahuan responden terhadap sesuatu.

f) Data sikap yaitu data yang berkaitan dengan perasaan positif atau negatif dan setuju atau tidak setuju terhadap sesuatu.

g) Data keyakinan yaitu data yang berkaitan dengan anggapan benar dan tidak benar atau percaya dan tidak percaya terhadap sesuatu.

Berdasarkan sumbernya, data penelitian dapat dibedakan menjadi dua yaitu data primer dan data sekunder. Data primer adalah data yang dikumpulkan secara langsung oleh peneliti. Adapun data sekunder adalah data yang sudah tersedia atau dikumpulkan dalam penelitian sebelumnya. Sumber data sekunder dapat diperoleh dari buku, surat kabar, dan jurnal.

c. Mengolah Data Penelitian

Pada penelitian dengan pendekatan kuantitatif pengolahan data berlangsung setelah semua data dikumpulkan. Misalnya, penghitungan data dilakukan setelah pengukuran atau semua angket diisi oleh responden. Pengolahan data kuantitatif biasanya menggunakan program statistik seperti SPSS.

Dalam penelitian dengan pendekatan kualitatif pengolahan data dilakukan sejak awal hingga akhir penelitian. Alat utama yang digunakan dalam analisis data kualitatif ialah pemikiran peneliti. Peneliti melakukan analisis dengan menginterpretasi hasil data menggunakan teori sebagai pisau analisis. Saat ini, analisis penelitian kualitatif terbantu karena terdapat software analisis data kualitatif seperti NVIVO dan CAQDAS

d. Penyusunan Laporan Penelitian

Membuat laporan penelitian dilakukan setelah analisis data. Penulisan laporan penelitian hendaknya memperhatikan kerangka laporan penelitian. Kerangka laporan penelitian dibagi menjadi tiga bagian yaitu awal, isi, dan akhir. Bagian awal laporan penelitian terdiri atas halaman judul, pengesahan, abstrak, kata pengantar, dan daftar isi. Bagian tersebut berguna untuk memberikan identitas, informasi awal, dan gambaran garis besar isi laporan

Bagian isi terdiri atas lima bab. Bab I yaitu pendahuluan memuat alasan, batasan, dan pentingnya melakukan penelitian. Bab II yaitu kajian pustaka memberikan informasi mengenai teori dan cara berpikir peneliti dalam melihat suatu fenomena berdasarkan teori yang digunakan. Bab III yaitu metode penelitian memuat cara-cara yang digunakan peneliti untuk memperoleh data dan melakukan analisis data. Bab IV yaitu hasil dan pembahasan memberikan gambaran mengenai hasil keseluruhan kegiatan serta analisis penelitian yang telah diolah peneliti. Sementara itu, pada Bab V yaitu penutup menunjukkan ringkasan hasil analisis penelitian, masukan, dan upaya yang direkomendasikan peneliti terhadap objek/hasil penelitiannya. Bagian akhir berisi lampiran seperti daftar pustaka, gambar, dan izin penelitian. Daftar pustaka merupakan daftar sumber referensi buku, jurnal, alamat website, dan literatur yang digunakan dalam penelitian.

Bagian-bagian laporan penelitian kuantitatif dan kualitatif berbeda. Perbedaan dapat diamati dalam sistematika penulisan laporan penelitian berikut:

a) Penelitian Kualitatif

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

B. Rumusan Masalah

C. Tujuan Penelitian

D. Manfaat Penelitian BAB II KAJIAN PUSTAKA

A. Kajian Teori dan Penelitian Relevan

B. Kerangka Berpikir BAB III METODE PENELITIAN

A. Tempat dan Waktu Penelitian

B. Jenis Penelitian

C. Sumber Data

D. Teknik Pengumpulan Data

E. Teknik Analisis Data BAB IV HASIL PENELITIAN

A. Deskripsi Lokasi Penelitian

B. DataTemuan Penelitian

C. Hasil Analisis Data BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan

B. Saran

b) Penelitian Kuantitatif

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

B. Rumusan Masalah

C. Tujuan Penelitian

D. Manfaat Penelitian BAB II KAJIAN PUSTAKA

A. Kajian Teori dan Penelitian Relevan

B. Kerangka Berpikir

C. Hipotesis

BAB III METODE PENELITIAN

A. Tempat dan Waktu Penelitian

B. Rancangan Penelitian

C. Populasi dan Sampel

D. Teknik Pengambilan Sampel

E. Pengumpulan Data

F. Teknik Analisis Data

G. Pengujian Hipotesis BAB IV HASIL PENELITIAN

A. Deskripsi Data

B. Uji Prasyarat Analisis

C. Pengujian Hipotesis

D. Pembahasan Analisis Data BABV PENUTUP

A. Kesimpulan

B. Saran

e. Mengomunikasikan Hasil Penelitian Sosial

Setelah menyusun laporan penelitian, peneliti hendaknya mempresentasikan hasil penelitiannya kepada pihak-pihak terkait. Presentasi merupakan upaya penyampaian suatu informasi dari penyaji atau orang yang melakukan presentasi kepada pihak lain. Tujuan presentasi adalah mengomunikasikan hasil penelitian agar mendapat masukan dari pihak lain. Sebelum melakukan presentasi laporan penelitian, hendaknya peneliti yang menjadi penyaji membuat rencana presentasi. Rencana presentasi dapat memperkecil peluang terjadinya kesalahan ketika presentasi. Adapun perencanaan presentasi meliputi pokok-pokok yang akan disampaikan, menentukan cara penyampaian, menetapkan tujuan dan target yang ingin dicapai, menetapkan waktu, menyiapkan kemungkinan pertanyaan dan jawaban saat diskusi, serta strategi menjawab pertanyaan. Dengan persiapan yang matang diharapkan presentasi dapat berjalan lancar.

4. Sampel dan Populasi

Setelah membuat rancangan penelitian, tahap selanjutnya adalah melakukan pengumpulan data penelitian. Pengumpulan data tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Peneliti perlu mencermati teknik yang digunakan dalam melakukan pengumpulan data penelitian. Berikut penjelasan mengenai teknik pengumpulan data.

Teknik menentukan sampel merupakan cara yang digunakan peneliti dalam menentukan orang/ kelompok yang menjadi objek penelitian. Adapun sampel merupakan orang/kelompok yang dijadikan objek penelitian. Sampel akan dipilih secara khusus dan harus mampu mewakili keseluruhan populasi. Sampel pada penelitian kuantitatif disebut responden. Sementara itu, sampel pada penelitian kualitatif disebut informan.

a. Teknik Sampel Probabilitas

Teknik sampel probabilitas atau random sampling merupakan teknik pengambilan sampel secara acak. Teknik ini digunakan ketika keterwakilan sampel penting untuk generalisasi.Teknik sampel probabilitas dapat dibedakan sebagai berikut.

1) Sampel acak sederhana (random sampling) yaitu teknik pengambilan sampel yang setiap anggota populasinya memiliki kesempatan sama menjadi anggota sampel.

2) Sampel acak terstratifikasi (stratified random sampling) yaitu teknik pengambilan sampel yang digunakan apabila sampel terdiri atas beberapa tingkat/kelompok dalam sebuah populasi.

3) Sampel rumpun (clustersampling) yaitu teknik pengambilan sampel acak sederhana dari kelompok atau kluster dengan karakteristik tertentu.

4) Sampel acak sistematis (systematic random sampling) yaitu teknik pengambilan sampel yang dilakukan secara acak hanya untuk unsur

pertama sampel. Adapun unsur pemilihan sampel selanjutnya dipilih secara sistematis.

Keempat teknik sampel tersebut digunakan pada penelitian kuantitatif karena sampel yang diambil pada umumnya relatif banyak.

b. Teknik Sampel Nonprobabilitas

Teknik sampel nonprobabilitas atau nonrandom sampling merupakan teknik pengambilan sampel tidak acak dan memiliki tujuan. Teknik ini digunakan ketika ingin mendapatkan data/informasi yang relevan hanya untuk kelompok tertentu. Teknik sampel nonprobabilitas dapat dibedakan sebagai berikut.

1) Sampel aksidental (accidental sampling) yaitu pengambilan sampel dari siapa saja yang dijumpai peneliti secara kebetulan.

2) Sampel kuota (quota sampling) yaitu teknik pengambilan sampel dari populasi yang mempunyai kriteria tertentu dalam jumlah tertentu.

3) Sampel bertujuan (purposive sampling) yaitu teknik pengambilan sampel ber- dasarkan pertimbangan tertentu yang dipercaya mewakili suatu populasi.

4) Sampel bola salju (snowball sampling) yaitu teknik pemilihan sampel/informan berdasarkan rekomendasi dari sampel/ informan sebelumnya.

Teknik accidental sampling dan quota sampling cenderung digunakan dalam penelitian kuantitatif. Sementara itu, teknik purposive sampling dan snowball sampling cenderung digunakan dalam penelitian kualitatif.

5. Teknik Pengumpulan Data Penelitian

Teknik pengumpulan data merupakan cara yang digunakan peneliti untuk memperoleh informasi/data. Dalam setiap teknik pengumpulan data dibutuhkan instrumen/alat yang digunakan peneliti untuk pengumpulan data. Adapun teknik pengumpulan data sebagai berikut.

a. Wawancara

Wawancara merupakan teknik pengumpulan data melalui tanyajawab antara

peneliti dan informan. Wawancara dibedakan menjadi dua yaitu wawancara langsung dan tidak langsung. Sebelum melakukan wawancara, peneliti menyiapkan instrumen wawancara yang disebut pedoman wawancara. Pedoman wawancara berisi jumlah pertanyaan atau pernyataan yang meminta jawaban informan. Isi pertanyaan atau pernyataan meliputi fakta, data, pengetahuan, konsep, pendapat, persepsi, dan evaluasi responden terhadap fokus masalah atau variabel yang dikaji dalam penelitian.

Pertanyaan dalam pedoman wawancara harus terstruktur. Suatu pertanyaan umum hendaknya diikuti dengan pertanyaan yang lebih khusus dan lebih terurai. Adapun instrumen yang digunakan dalam wawancara di antaranya voice recorder, handycam, daftar pertanyaan, dan buku catatan.

Wawancara dapat dibedakan menjadi tiga jenis sebagai berikut:

1) Wawancara terstruktur yaitu wawancara yang dilakukan secara langsung meng- gunakan pedoman wawancara yang telah disiapkan.

2) Wawancara tidak terstruktur yaitu wawancara yang dilakukan tanpa meng- gunakan pedoman wawancara. Peneliti dapat memodifikasi proses wawancara sesuai situasi dan kondisi secara lebih fleksibel.

3) Wawancara kombinasi, yaitu perpaduan antara wawancara terstruktur dan wawancara tidak terstruktur. Pedoman wawancara hanya berisi garis besar pertanyaan utama yang perlu ditanyakan peneliti. Peneliti bebas melakukan improvisasi dengan menanyakan informasi lain.

Kelebihan metode pengumpulan data melalui wawancara sebagai berikut.

1) Informasi yang diperoleh lebih mendalam.

2) Peneliti dapat mengembangkan pertanyaan sesuai kondisi terbaru.

3) Dapat dilakukan pada semua golongan masyarakat, misalnya kalangan tuna- aksara.

4) Peneliti dapat menemukan informasi khusus dari informan.

5) Peneliti dapat menilai kejujuran informan.

Kekurangan metode pengumpulan data melalui wawancara sebagai berikut.

1) Sangat bergantung pada kepekaan peneliti.

2) Membutuhkan banyak waktu.

3) Interpretasi data dapat dipengaruhi oleh informan.

b. Observasi

Observasi adalah pengumpulan data dengan cara memperhatikan langsung

objek penelitian di lapangan. Observasi dibedakan menjadi dua yaitu observasi partisipasi (bergabung secara langsung) dan non- partisipasi (tidak bergabung secara langsung). Adapun instrumen pengumpulan data yang digunakan dalam observasi misalnya pedoman pengamatan, handycam, dan kamera.

Pengumpulan data melalui teknik observasi dibedakan menjadi dua sebagai berikut.

1) Observasi Partisipasi (Partisipant Observer)

Observasi partisipasi dilakukan dengan cara peneliti hadir di tengah- tengah informan dan melakukan berbagai kegiatan bersama sambil mencatat informasi yang dibutuhkan. Kehadiran peneliti dapat diketahui oleh siapa saja sehingga observasi ini bersifat terbuka.

2) Observasi Nonpartisipasi (Nonparticipant Observer)

Observasi nonpartisipasi dilakukan peneliti tanpa ikut serta dalam berbagai kegiatan informan. Artinya, peneliti tidak benar-benar merasakan kehidupan informan. Observasi nonpartisipasi juga dapat dilakukan tanpa kehadiran peneliti atau responden. Observasi dilakukan dari jarak jauh atau antara peneliti dan informan berbeda tempat. Observasi ini dapat dilakukan secara tidak langsung melalui berbagai media seperti CCTV atau internet.

Kelebihan metode observasi dalam pengumpulan data adalah sebagai berikut:

1) Dapat melihat langsung kegiatan informan.

2) Dapat mencatat secara bersamaan saat terjadi peristiwa tertentu.

3) Mengetahui fakta di lapangan.

4) Memanfaatkan waktu luang.

Kekurangan metode observasi bagi peneliti sebagai berikut.

1) Menghabiskan waktu dan tenaga.

2) Informan kadang tidak leluasa karena merasadiawasi.

3) Risiko adanya gangguan tidak terduga.

4) Tidak mampu memperoleh data yang bersifat pribadi dan rahasia. Observasi dapat digunakan, baik dalam penelitian dengan pendekatan kualitatif maupun kuantitatif.

c. Dokumentasi

Dokumentasi merupakan teknik pengumpulan data yang diperoleh melalui pengumpulan arsip, dokumen, artefak, foto, dan artikel dalam surat kabar.

Kelebihan metode dokumentasi dalam pengumpulan data sebagai berikut:

1) Memberikan gambaran berbagai informasi pada masa lampau.

2) Menyajikan informasi mengenai hubungan informasi pada masa lampau dengan kondisi sekarang.

3) Memberikan informasi dalam jumlah banyak dan terukur, misalnya data kependudukan.

Kekurangan metode dokumentasi dalam pengumpulan data sebagai berikut.

1) Memerlukan validitas dokumentasi untuk mengetahui keabsahan dokumen.

2) Dokumentasi terkadang tidak lengkap sehingga menyesatkan peneliti. Sumber dokumen umumnya dibedakan menjadi empat sebagai berikut.

1) Dokumen resmi, berupa dokumen atau berkas yang dikeluarkan oleh suatu lembaga secara resmi, misalnya rapor dan arsip sejarah.

2) Dokumen tidak resmi, berupa dokumen tidak resmi yang memberikan informasi suatu kejadian.

3) Dokumen primer, berupa dokumen yang diperoleh dari sumber asli atau orang yang menjadi informan. Dokumen primer memiliki bobot yang lebih valid daripada dokumen lain.

4) Dokumen sekunder, berupa dokumen yang diperoleh selain dari sumber asli. bisa orang lain atau berbagai media seperti surat kabar, laporan penelitian, makalah, atau publikasi lainnya.

d. Angket (Kuesioner)

Angket/kuesioner merupakan alat pengumpulan data yang berupa seperangkat pertanyaan secara tertulis yang diberikan kepada responden. Angket dapat diberikan kepada responden baik secara langsung atau tidak langsung.

Jenis-jenis angket dibedakan sebagai berikut (Arikunto, 2006: 224):

1) Berdasarkan Cara Menjawab

a) Angket tertutup yaitu angket yang sudah menyediakan jawaban sehingga responden bisa langsung memilih.

b) Angket terbuka yaitu angket yang memberi kesempatan kepada responden memberikan jawaban dengan kalimat sendiri.

c) Angket campuran yaitu angket yang menyediakan jawaban untuk dipilih serta menyediakan ruang bagi responden menjawab dengan kalimatnya sendiri.

2) Berdasarkan Jawaban yang Diberikan

a) Angket langsung yaitu angket yang meminta responden menjawab pertanyaan tentang dirinya sendiri.

b) Angket tidak langsung yaitu angket yang meminta responden menjawab pertanyaan tentang orang lain

3) Berdasarkan Bentuknya

a) Angket pilihan ganda yaitu angket yang menyajikan pertanyaan dalam bentuk pilihan ganda.

b) Angket lisan yaitu angket yang menyajikan pertanyaan dan kolom jawaban yang diisi responden sendiri.

c) Angket check list yaitu angket yang menyajikan pertanyaan dan responden bisa langsung membubuhkan tanda check list pada kolom yang sesuai.

d) Angket rating scale yaitu angket yang menyajikan pertanyaan beserta kolom yang menyajikan tingkatan, misalnya mulai dari jawaban setuju hingga tidak setuju.

Kelebihan teknik pengumpulan data menggunakan kuesioner sebagai berikut.

1) Peneliti tidak perlu bertatap muka karena kuesioner dapat dikirim atau melalui perantara lainnya.

2) Dapat dibagikan secara serentak kepada seluruh responden.

3) Dapat dijawab responden pada waktu senggang.

4) Dapat dibuat anonim (tidak disebutkan identitasnya).Tujuannya agar tidak malu ketika menjawab pertanyaan dalam angket.

5) Data dapat diperoleh serentak dalam satu waktu.

Kekurangan teknik pengumpulan data menggunakan kuesioner sebagai berikut.

1) Rawan jawaban terlewatkan akibat ketidaktelitian responden dalam membaca.

2) Tidak dapat diketahui kejujurannya.

3) Kuesioner sering tidak dikembalikan kepada peneliti.

4) Tidak dapat dijangkau oleh responden dengan keterbatasan tertentu. Kuesioner yang baik dapat menjadi alat untuk mengumpulkan data bagi peneliti. Adapun syarat kuesioner yang baikantara lain pertanyaan dibuat dengan bahasa

yang jelas dan tidak multitafsir (ambigu), pertanyaan berkaitan dengan masalah yang hendak dipecahkan dalam penelitian, pertanyaan dibuat tidak panjang, dan menghindari pertanyaan yang memuat dua atau lebih hal yang dipertanyakan (Silalahi, 2012: 308).

6. Teknik Pengolahan Data Penelitian

Setelah peneliti mengumpulkan data penelitian, tahapan selanjutnya adalah mengolah data penelitian. Pengolahan data dalam penelitian kuantitatif dan kualitatif berbeda. Adapun perbedaan pengolahan data tersebut sebagai berikut.

1. Pengolahan Data Kuantitatif

Pengolahan data kuantitatif juga melewati tiga tahapan. Adapun tahapan tersebut adalah sebagai berikut:

a. Editing

Proses edit merupakan proses memeriksa data yang telah terkumpul. Pemeriksaan meliputi kelengkapan isian, keterbacaan tulisan, kejelasan jawaban, relevansi jawaban, dan keseragaman satuan data yang digunakan. Pada saat melakukan proses edit, peneliti tidak boleh mengganti jawaban, angka, atau pertanyaan-pertanyaan dengan maksud tertentu.

b. Coding

Coding merupakan kegiatan memberi kode pada setiap data yang terkumpul di tiap-tiap instrumen penelitian. Pemberian kode bertujuan memudahkan dalam menganalisis dan menafsirkan data. Dalam penelitian kuantitatif, kode yang sering digunakan berbentuk angka.

c. Tabulating

Merupakan proses memasukkan data-data yang sudah dikelompokkan dalam tabel sehingga lebih ringkas dan mudah dipahami. Proses tabulasi data dapat dilakukan melalui beberapa cara berikut:

1) Tabulasi langsung, data dari kuesioner secara langsung ditabulasi.

2) Lembaran kode, tabulasi ini dapat dikerjakan menggunakan komputer. Tabulasi jenis ini lebih efisien dan efektif apabila jumlah responden yang diteliti banyak dan bersifat heterogen.

3) Tabel frekuensi, dilakukan sebelum proses analisis data. Tabel frekuensi dijadikan dasar pembuatan analisis. Tabel frekuensi mencatat dan menyajikan jumlah peristiwa yang diamati. Pengukuran data pada penelitian kuantitatif secara sederhana dapat dilakukan dengan menghitung tendensi sentral. Tendensi sentral terdiri atas mean, median, dan modus.

Langkah pertama dalam analisis data adalah menyusun tabel frekuensi. Sebaiknya tabel frekuensi disusun untuk semua variabel penelitian dan disusun secara tersendiri. Tabel frekuensi merupakan bahan dasar untuk analisis selanjutnya. Tabel frekuensi memiliki beberapa fungsi, antara lain:

a) Mengecek apakah jawaban responden atas satu pertanyaan adalah konsisten dengan jawaban atas pertanyaan lain.

b) Mendapatkan deskripsi ciri atau karakteristik responden atas dasar analisis satu variabel.

c) Mempelajari distribusi variabel-variabel penelitian.

d) Menentukan klasifikasi yang paling baik untuk tabulasi silang.

Berikut akan ditampilkan contoh tabel frekunsi dalam format grafik untuk menggambarkan jawaban responden atas sebuah pertanyaan peneliti beserta interpretasi grafiknya.

Contoh pada kasus kepemilikan lahan pertanian: Luas kepemilikan lahan pertanian ternyata mempengaruhi kondisi sosial ekonomi responden. Hal tersebut akan dijelaskan pada gambar grafik berikut:

Gambar 13. Contoh Grafik Visual Data Frekuensi

Sumber: Imron dan Hariyanto (2017)

Keterangan:

a. 0 – 0,25 ha (sempit) b. 0,26 – 0,50 ha (sedang)

c. > 0,51 ha (luas)

Grafik tersebut menunjukkan bahwa hanya 11% saja responden yang memiliki lahan luas diatas 0,51 ha dan 29% memiliki lahan sedang berkisar antara 0,26-0,50 ha. Angka paling banyak ditunjukkan sebanyak 60% responden memiliki lahan yang sempit. Hal ini berimplikasi pada produktivitas panen. Semakin sempit lahan pertanian yang dimiliki, maka akan semakin kecil pula produktivitas panennya.

Tabel frekuensi silang. Analisis tabulasi silang merupakan metode analisis yang sederhana namun memiliki daya menerangkan yang cukup kuat untuk menjelaskan hubungan antarvariabel. Dalam analisis tabulasi silang, peneliti menggunakan distribusi prosentase pada sel-sel dalam tabel sebagai dasar untuk menyimpulkan hubungan antara variabel- variabel penelitiannya. Jumlah responden untuk setiap kelompok variabel pengaruh perlu dicatat karena angka tersebut diperlukan dalam interpretasi. Agar tabel mudah dibaca, variabel terpengaruh biasanya disusun secara vertikal dan variabel pengaruh disusun secara horizontal. Berikut akan ditampilkan contoh tabel frekuensi silang dalam format grafik untuk menggambarkan jawaban responden atas sebuah pertanyaan peneliti beserta interpretasi grafiknya.

Contoh pada kasus kepemilikan lahan pertanian. Dengan asumsi bahwa luas pemilikan tanah akan mempengaruhi hubungan patron-klien, maka dalam grafik berikut akan ditunjukkan hubungan antara luas pemilikan tanah dengan patron-klien.

Gambar 14. Contoh Grafik Tabel Frekuensi Silang

Sumber: Imron dan Hariyanto (2017)

Grafik tersebut menggambarkan bahwa responden yang memiliki tanah yang luas ternyata memiliki tingkat hubungan patron-klien yang tinggi. Hal ini dapat dijabarkan secara logis bahwa petani yang memiliki tanah yang luas dan memiliki klien yang banyak, maka asuransi sosial yang diberikan banyak pula.

Penelitian dengan menggunakan kuantitatif menggunakan istilah validitas dan reliabilitas untuk mengukur keabsahan data. Validitas adalah sejauh mana suatu alat pengukuran dapat mengukur apa yang ingin diukur, sedangkan reliabilitas adalah sejauh mana suatu hasil pengukuran relatif konsisten apabila pengukuran tersebut diulang dua kali atau lebih.

Penelitian dengan menggunakan metode kualitatif tidak menggunakan istilah tersebut. Moleong (2005: 53) menggunakan istilah kredibilitas dan keteralihan (kontras validitas), kebergantungan (kontras reliabilitas) dan kepastian (objektif). Kredibilitas pada penelitian dengan metode kualititatif

maksudnya bahwa peneliti kualitatif berperan sebagai instrumen itu sendiri. Menurut Moleong (2005: 55), kredibilitas pada penelitian dengan metode kualititatif mencakup beberapa aspek, antara lain:

1. Keikutsertaan

Keikutsertaan berarti bahwa peneliti harus terjun ke lapangan sampai peneliti menemui kejenuhan. Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk membatasi gangguan dari dampak peneliti pada sebuah konteks. Artinya bahwa peneliti harus memahami konteks kultural subjek. Selain itu juga bertujuan untuk membatasi bias peneliti dan mengkonpensasikan pengaruh dari kejadian-kejadian yang tidak biasa atau pengaruh sesaat.

2. Pengamatan

Pengamatan berarti peneliti harus secara konsisten melakukan interpretasi dengan berbagai cara dalam kaitan dengan proses analisis yang konstan. Dengan kata lain bahwa perpanjangan keikutsertaan peneliti dalam proses pengamatan mengakibatkan kedalaman data. Hal ini berarti bahwa peneliti hendaknya mengadakan pengamatan dengan teliti dan rinci secara berkesinambungan terhadap faktor-faktor yang menonjol.

3. Triangulasi

Triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data dengan memanfaatkan sumber atau metode yang lain sebagai pembanding. Denzin (1978) membedakan empat macam triangulasi sebagai teknik pemeriksaan yang memanfaatkan penggunaan sumber, metode, penyidik dan teori.

Triangulasi dengan sumber berarti membandingkan dan mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda. Hal ini dapat dicapai dengan jalan (Patton, 1987: 331):

(1) Membandingkan  data  hasil  pengamatan  dengan  data  hasil wawancara.

(2) Membandingkan apa yang dikatakan orang di depan umum dengan apa yang dikatakannya secara pribadi.

(3) Membandingkan apa yang dikatakan orang-orang tentang situasi penelitian dengan apa yang dikatakan sepanjang waktu.

(4) Membandingkan keadaan dan perspektif seseorang dengan berbagai pendapat dan pandangan orang, seperti rakyat biasa, orang yang berpendidikan menengah atau tinggi, orang yang berada atau orang pemerintahan.

(5) Membandingkan hasil wawancara dengan isi suatu dokumen yang berkaitan.

a) Triangulasi dengan metode

Triangulasi dengan metode (Patton, 1987: 329) terdapat dua strategi, yaitu:

(1) Pengecekan derajat kepercayaan penemuan hasil penelitian dengan beberapa teknik pengumpulan data.

(2) Pengecekan derajat kepercayaan beberapa sumber data dengan metode yang sama.

b) Triangulasi dengan penyidik

Triangulasi dengan penyidik berarti memanfaatkan peneliti atau pengamat lainnya untuk keperluan pengecekan kembali derajat kepercayaan data. Pemanfaatan pengamat lainnya membantu mengurangi kemelencengan dalam pengumpulan data.

c) Triangulasi dengan teori

Triangulasi dengan teori menurut Lincoln dan Guba (1981: 307), berdasarkan anggapan bahwa fakta tidak dapat diperiksa derajat kepercayaannya dengan satu atau lebih teori.

(1) Pengecekan sejawat; Teknik ini dilakukan dengan cara menampilkan hasil sementara atau hasil akhir yang diperoleh dalam bentuk diskusi dengan rekan-rekan sejawat yang memiliki pengalaman dan pengetahuan tentang tema atau permasalahan yang diteliti.

(2) Kecukupan refensial; Teknik ini dilakukan dengan cara mengumpulkan data-data atau informasi di lapangan lainnya yang dapat digunakan sebagai pembanding.

(3) Kajian kasus negatif; Teknik analisis kasus negatif dilakukan dengan jalan mengumpulkan contoh dan kasus yang tidak sesuai dengan pola dan kecenderungan informasi yang telah dikumpulkan dan digunakan sebagai bahan pembanding.

(4) Pengecekan anggota; Pengecekan dengan anggota yang terlibat dalam proses pengumpulan data sangat penting dalam pemeriksaan derajat kepercayaan. Pengecekan anggota meliputi keterlibatan anggota dalam pengumpulan data, kategori analitis, penafsiran dan kesimpulan. Para anggota yang terlibat yang mewakili rekan-rekan mereka dimanfaatkan untuk memberikan reaksi dari segi pandangan dan situasi mereka sendiri terhadap data yang telah diorgasnisasikan oleh peneliti.

Kriteria terakhir dalam pemeriksaan keabsahan data adalah menyangkut faktor kepastian. Artinya, bahwa data yang diperoleh apakah bersifat objektif atau subjektif tergantung pada persetujuan beberapa orang. Pada penelitian kuantitatif, kepastian menekankan pada aspek sampel yang terpilih, sedangkan penelitian kualitatif kepastian menekankan pada aspek data yang diperoleh. Beberapa permasalahan yang muncul dari aspek kepastian data, antara lain:

(1) Apakah hasil penelitian tersebut benar-benar berasal dari data. Hal ini dapat dilacak melalui catatan lapangan (field note).

(2) Apakah kesimpulan penelitian ditarik dari data. Hal ini dapat dilacak melalui teknik analisis, kategori dan penafsiran.

(3) Apakah konseptual yang disusun berasal dari teori atau hanya sekedar apriori (konstruksi peneliti sendiri).

2) Pengolahan Data Kualitatif

Menurut Silalahi (2009: 339), analisis data kualitatif digunakan apabila data empiris yang diperoleh adalah data kualitatif berupa kata-kata dan bukan rangkaian angka serta tidak dapat disusun dalam kategori-kategori/struktur klasifikasi. Data kualitatif mungkin dikumpulkan melalui berbegai metode seperti indepth interview, observasi, dan dokumentasi. Dalam analisis data kualitatif tidak menggunakan perhitungan matematis dan uji statistik sebagai alat bantu analisis. Menurut Miles dan Huberman (1992: 35), kegiatan analisis terdiri atas tiga alur kegiatan yang terjadi secara bersamaan, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan/verifikasi. Kegiatan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan/verifikasi merupakan kegiatan yang jalin menjalin pada sebelum, selama, dan sesudah pengumpulan data.

3) Reduksi data

Reduksi data merupakan bagian dari analisis. Menurut Miles dan Huberman (1992: 16; Silalahi, 2009: 339 -340)), reduksi data adalah proses pemilihan, pemusatan perhatian pada penyederhanaan, pengabstraksian, dam transformasi data kasar yang muncul dari catatan-catatan tertulis di lapangan. Kegiatan ini berlangsung secara terus menerus selama kegiatan pengumpukan data. Kegiatan reduksi data ini meliputi membuat ringkasan, mengkode, menelusuri tema, membuat gugus-gugus, membuat partisi, dan menulis memo. Pilihan-pilihan peneliti tentang bagian mana yang dikode, mana yang dibuang, pola-pola mana yang meringkas sejumlah bagian yang tersebar, cerita-cerita apa yang sedang berkembang, semuanya merupakan pilihan-pilihan analisis.

4) Penyajian Data

Menurut Miles dan Huberman (1992: 17; Emzir, 2011: 131 - 132), penyajian data sebagai sekumpulan informasi tersusun yang memberi kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan. Melalui data yang disajikan, peneliti melihat dan dapat memahami apa yang sedang terjadi dan apa yang harus dilakukan berdasarkan atas pemahaman yang didapat dari penyajian-penyajian tersebut. Penyajian data dalam penelitian kualitatif sekarang ini dapat dilakukan dalam berbagai jenis matriks, grafik, jaringan, dan bagan. Hal itu dirancang untuk menggabungkan informasi yang tersusun dalam suatu bentuk yang padu dan mudah diraih (Miles dan Huberman, 1992; 17-18; Emzir, 2011: 131 - 132).

5) Penarikan kesimpulan

Menurut Miles dan Huberman (1992: 18-19), langkah ketiga dari kegiatan analisis data adalah menarik kesimpulan dan verifikasi. Pada saat pengumpulan data, seorang peneliti mencari makna sesuatu, mencata keteraturan, pola-pola, penjelasan, konfigurasi- konfigurasi yang mungkin, alur sebab akibat, dan proposisi-proposisi. Mula-mula kesimpulan belum jelas, namun lambat laun kian meningkat lebih terperinci. Kesimpulan- kesimpukan akhir mungkin tidak muncul hingga pengumpulan data berakhir, bergantung pada pada besarnya kumpulan-kumpulan catatan lapangan, pengkodeannya, penyimpanan, dan metode pencarian ulang yang digunakan, dan kecakapan peneliti. Kesimpulan kemudian diverifikasi dengan melakukan tinjauan ulang pada catatan-catatan lapangan, atau mungkin merupakan peninjauan kembali untuk mengembangkan kesepakatan intersubjektif (Miles dam Huberman, 1992: 18).

Rangkuman

Penelitian sosial merupakan kegiatan ilmiah yang sistematis guna memperoleh kebenaran dari gejala atau fenomena sosial. Sebelum dilakukan penelitian, peneliti perlu memahami jenis-jenis penelitian sosial berdasarkan klasifikasinya. Adapun jenis penelitian sosial dapat dilihat berdasarkan tempat penelitiannya, manfaatnya, tujuannya, dan pendekatannya.

Tabel 3. Jenis-Jenis Penelitian

No Jenis Penggolongan Macam Penelitian

1. Menurut Tujuan 1.1. Penelitian Eksplorasi

1.2. Penelitian Pengembangan

1.3. Penelitian Verifikasi

2. Menurut Pendekatan 2.1. Penelitian Longitudinal

2.2. Penelitian Cross-sectional

2.3. Penelitian Kualitatif

2.4. Penelitian Kuantitatif

2.5. Penelitian Grounded

2.6. Penelitian Survey

 2.7. Penelitian Studi Kasus

2.8. Penelitian Assesment

2.9. Penelitian Evaluasi

2.10. Penelitian Aksi

3. Menurut Tempat 3.1. Penelitian Perpustakaan

3.2. Penelitian Laboratorium

3.3. Penelitian Kancah/Wilayah

4. Menurut Pemakaian 4.1. Penelitian Murni

4.2. Penelitian Terapan

5. Menurut Bidang Ilmu 5.1. Penelitian Pendidikan

5.2. Penelitian Kesejahteraan Sosial

5.3. Penelitian Bahasa

5.4. Penelitian Hukum, dsb.

5.5. Penelitian Sosial Budaya

6. Menurut taraf penelitian 6.1. Penelitian Deskriptif

6.2. Penelitian Eksplanasi

7. Menurut saat terjadi variabel 7.1. Penelitian Historis

7.2. Penelitian Ekspos-Fakto

7.3. Penelitian Eksperimen

Sumber: Suntari (2017)

Penelitian sosial merupakan sarana bagi ilmu pengetahuan mengembangkan keilmuan dan memecahkan permasalahan dalam masyarakat. Oleh karena itu, hasil penelitian memiliki manfaat bagi pihak-pihak yang menggunakannya. Hasil penelitian sosial hendaknya dikomunikasikan kepada masyarakat luas. Laporan hasil penelitian perlu dikomunikasikan atau dipublikasikan melalui presentasi, seminar/diskusi publik, dan diterbitkan.

Pembuatan rancangan penelitian merupakan langkah awal dalam melakukan penelitian sosial. Pada umumnya rancangan penelitian dibuat dalam bentuk proposal. Proposal terdiri atas bab pendahuluan, kajian pustaka, dan metode penelitian. Adapun bagian rancangan penelitian mencakup komponen- komponen berikut. 1) penentuantopik penelitian; 2) penulisan judul penelitian; 3) penulisan latar belakang masalah; 4) penulisan rumusan masalah; 5) penulisan tujuan penelitian; dan 6) penulisan metode/jenis penelitian.

Data  penelitian  dikumpulkan  setelah  membuat  rancangan  penelitian.

Berdasarkan sifatnya, data penelitian dibedakan menjadi dua, yaitu data kuantitatif dan data kualitatif. Data kuantitatif adalah data yang dinyatakan dalam bentuk angka. Data pada penelitian kuantitatif diperoleh melalui angket dan pengukuran. Adapun data kualitatif adalah data yang dinyatakan dalam bentuk kata-kata/ deskripsi, hasil pengelompokan (nominal), hasil pengategorian (ordinal), dan gambar. Data pada penelitian kualitatif diperoleh melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi.

Teknik menentukan sampel merupakan cara yang digunakan peneliti dalam menentukan orang/ kelompok yang menjadi objek penelitian. Adapun sampel merupakan orang/kelompok yang dijadikan objek penelitian. Sampel akan dipilih secara khusus dan harus mampu mewakili keseluruhan populasi. Sampel pada penelitian kuantitatif disebut responden. Sementara itu, sampel pada penelitian kualitatif disebut informan.

Teknik pengumpulan data merupakan cara yang digunakan peneliti untuk memperoleh informasi/data. Dalam setiap teknik pengumpulan data dibutuhkan instrumen/alat yang digunakan peneliti untuk pengumpulan data. Teknik pengumpulan data meliputi: teknik wawancara, observasi (pengamatan), studi dokumentasi, dan angket (kuesioner).

Pada penelitian dengan pendekatan kuantitatif pengolahan data berlangsung setelah semua data dikumpulkan. Dalam penelitian dengan pendekatan kualitatif pengolahan data dilakukan sejak awal hingga akhir penelitian. Pengolahan data kuantitatif juga melewati tiga tahapan, yaitu editing, coding, dan tabulating.

Analisis data kualitatif digunakan apabila data empiris yang diperoleh adalah data kualitatif berupa kata-kata dan bukan rangkaian angka serta tidak dapat disusun dalam kategori-kategori/struktur klasifikasi. Data kualitatif mungkin dikumpulkan melalui berbegai metode seperti indepth interview, observasi, dan dokumentasi. Dalam analisis data kualitatif tidak menggunakan perhitungan matematis dan uji statistik sebagai alat bantu analisis. Kegiatan analisis penelitian kualitatif terdiri atas tiga alur kegiatan yang terjadi secara bersamaan, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan/verifikasi.

Penutup

Modul belajar mandiri yang telah dikembangkan diharapkan dapat menjadi referensi bagi Anda dalam mengembangkan dan me-refresh pengetahuan dan keletarampilan. Selanjutnya, Anda dapat menggunakan modul belajar mandiri sebagai salah satu bahan belajar mandiri untuk menghadapi seleksi Guru P3K.

Anda perlu memahami substansi materi dalam modul dengan baik. Oleh karena itu, modul perlu dipelajari dan dikaji lebih lanjut bersama rekan sejawat baik dalam komunitas pembelajaran secara daring maupun komunitas praktisi (Gugus, KKG, MGMP) masing-masing. Kajian semua substansi materi yang disajikan perlu dilakukan, sehingga Anda mendapatkan gambaran teknis mengenai rincian materi substansi. Selain itu, Anda juga diharapkan dapat mengantisipasi kesulitan- kesulitan dalam materi substansi yang mungkin akan dihadapi saat proses seleksi Guru P3K.

Pembelajaran-pembelajaran yang disajikan dalam setiap modul merupakan gambaran substansi materi yang digunakan mencapai masing-masing kompetensi Guru sesuai dengan indikator yang dikembangkan oleh tim penulis/kurator. Selanjutnya Anda perlu mencari bahan belajar lainnya untuk memperkaya pengetahuan dan keterampilan sesuai dengan bidang studinya masing-masing, sehingga memberikan tingkat pengetahuan dan keterampilan yang komprehensif. Selain itu, Anda masih perlu mengembangkan pengetahuan dan keterampilan Anda dengan cara mencoba menjawab latihan-latihan soal tes yang disajikan dalam setiap pembelajaran pada portal komunitas pembelajaran.

Dalam melaksanakan kegiatan belajar mandiri Anda dapat menyesuaikan waktu dan tempat sesuai dengan lingkungan masing-masing (sesuai kondisi demografi). Harapan dari penulis/kurator, Anda dapat mempelajari substansi materi bidang studi pada setiap pembelajaran yang disajikan dalam modul untuk mengembangkan pengetahuan dan keterampilan sehingga siap melaksanakan seleksi Guru P3K.

Selama mengimplementasikan modul ini perlu terus dilakukan refleksi, evaluasi, keberhasilan serta permasalahan. Permasalahan-permasalahan yang ditemukan dapat langsung didiskusikan dengan rekan sejawat dalam komunitas pembelajarannya masing-masing agar segera menemukan solusinya.

Capaian yang diharapkan dari penggunaan madul ini adalah terselenggaranya pembelajaran bidang studi yang optimal sehingga berdampak langsung terhadap hasil capaian seleksi Guru P3K.

Kami menyadari bahwa modul yang dikembangkan masih jauh dari kesempurnaan. Saran, masukan, dan usulan penyempurnaan dapat disampaikan kepada tim penulis/kurator melalui surat elektronik (e-mail) sangat kami harapkan dalam upaya perbaikan dan pengembangan modul-modul lainnya.

Daftar Pustaka

Abdulsyani. 2012. Sosiologi, Teori, dan Terapan. Jakarta: Bumi Aksara.

Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktek.

Jakarta: Rineka Cipta.

Ashad Kusuma. 2012. Teori-Teori Modernitas dan Globalisasi. Yogyakarta: Kreasi Wacana Offset.

Budiman, Arief. 1992. Pembagian Kerja Secara Seksual. Jakarta: Gramedia.Djaya,

Bungin, B. 2001. Metodologi Penelitian Sosial: Format-format Kuantitatif dan Kualitatif. Surabaya: Airlangga University Press

Cohen, Bruce J. 1992. Sosiologi Suatu Pengantar Jakarta: Rineka Cipta, 1992 Emzir. 2011. Metodologi Penelitian Kualitatif Analisis Data. Jakarta :PT Raja.

Grafindo Persada

Fawaid, Ahmad dan Didik Wicaksono. 2018. “Stratifikasi Sosial dan Diferensiasi Sosial”. Modul Pelatihan Multi-Subject Teaching Mapel Sosiologi. Jakarta: Ditjen GTK Kemdikbud.

Haryanta, Agung Tri dan Eko Sujatmiko. 2012. Kamus Sosiologi. Surakarta: Aksara Sinergi Media.

Hendropuspito, OC. D. 1989. Sosiologi Sistemik. Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya

Henslin, James M. 2006. Sosiologi Dengan Pendekatan Membumi. Edisi 6.

Jakarta: Penerbit Erlangga

Horton, Paul B. & Chester L. Hunt. 1999. Sosiologi Jilid 2. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Hurst, Charles E. 2010. Social Inequality: Forms, Causes, and Consequences.

New York: Pearson Education.

Ife, Jim & Frank Tesoriero. 2014. Community Development. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Imron, Ali dan Sugeng Hariyanto. 2017. “Penelitian Sosial”. Sumber Belajar Penunjang PLPG 2017 Mata Pelajaran/Paket Keahlian Sosiologi. Jakarta: Ditjen GTK Kemdikbud

 2017. “Sejarah Tokoh dan Teori Sosiologi”. Sumber Belajar Penunjang PLPG 2017 Mata Pelajaran/Paket Keahlian Sosiologi. Jakarta: Ditjen GTK Kemdikbud

 . 2017. “Sosiologi Sebagai Ilmu”. Sumber Belajar Penunjang PLPG 2017 Mata Pelajaran/Paket Keahlian Sosiologi. Jakarta: Ditjen GTK Kemdikbud

Jamaludin, Adon Nasrullah. 2015. Sosiologi Perkotaan. Bandung: Pustaka Setia.

Johnson, Doyle. Paul. 1986. Teori Sosiologi Klasik dan Modern Jilid 2. Jakarta : PT. Gramedia

Jones, Pip. (Penerjemah Achmad Fedyani Saifuddin). 2009. Teori-Teori Sosial.

Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Kanto, Sanggar. 2007. Mobilitas Sosial. Makalah disajikan dalam Diklat Berjenjang Mata Pelajaran Sosiologi SMA Jenjang Dasar, PPPG IPS dan PMP, Malang, 6-19 Juni.

Keesing, Roger M. 1999. Antropologi Budaya: Suatu Perspektif Kontemporer,

Edisi kedua. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Kerlinger, F. N. 2004. Asas-Asas Penelitian Behavioral. Terjemahan. Edisi Ketiga.

Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Koentjaraningrat. 1997. Metode-metode Penelitian Masyarakat. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

Koentjaraningrat. 1996. Pengantar Antropologi Jilid I. Jakarta: Rineka Cipta Kuntjoro,  Mudrajad,  2003.  Ekonomi  Pembangunan,  Teori,  Masalah,  dan

Kebijakan, Edisi Ketiga, Yogyakarta: UPP AMP YKPN

Kuper, Adam dan Jesica Kuper. 2000. Ensiklopedi Ilmu-Ilmu Sosial. Jakarta: Rajawali Press.

Kusnadi. 2004. Konflik Sosial Nelayan: Kemiskinan dan Perebutan Sumber Daya Alam. Yogyakarta: LKiS

Lawang, Robert. 1985. Sistem Sosial di Indonesia. Jakarta: Karunika UT Macionis, John J. 2012. Sociology: Fourteenth Edition. United States of America:

Pearson Education, Inc.

Mardikanto, Totok,dkk., 2015, Pemberdayaan Masyarakat dalam Perspektif Kebijakan Publik, Bandung: Alfabeta.

Martono, Nanang. 2012. Sosiologi Perubahan Sosial. Jakarta: Rajawali Pers.

Miles, Matthew B. dan A. Michael Huberman. 1992. Analisis Data Kualitatif.

Terjemahan. Jakarta: Universitas Indonesia Press.

Moleong, Lexy. 2002. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosda Karya.

Narwoko, J. Dwi dan Bagong Suyanto. 2010. Sosiologi Teks Pengantar dan Terapan. Jakarta: Kencana Prenada Media.

Nasikun. 2004. Sistem Sosial Indonesia. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada Nazir, M. 2003. Metode Penelitian. Jakarta: Ghalia Indonesia.

Palikhah, Nur. 2016. "Konsep Kemiskinan Kultural" dalam Jurnal Ilmu Dakwah Vol 15, No 30 (2016)

Poverty Global Practice World Bank. 2018. Ketimpangan Yang Semakin Melebar.

Jakarta: The World Bank – Australia Aid.

Prawoto, Nano 2009. “Memahami Kemiskinan dan Strategi Penanggulangannya” Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Jurnal

Ekonomi dan Studi Pembangunan Volume 9, Nomor 1, April 2009: 56 ‐ 68

Ritzer, George. 2002. Sosiologi Ilmu Pengetahuan Berparadigma Ganda. Jakarta:

Rajawali Press

Ritzer, George dan Goodman J. Douglas. (Penerjemah Alimandan). 2007. Teori Sosiologi Modern Edisi 6. Jakarta: Kencana.

Sadiyo. 1996. Sosiologi Indonesia. Malang: IKIP Malang

Sajogyo dan Pujiwati Sajogyo. 1978. Pengantar Sosiologi Pedesaan dan Pertanian Jogjakarta: Universitas Gadjah Mada Press.

Sanderson, Stephen K. 2003. Sosiologi Makro: Sebuah Pendekatan Terhadap Realitas Sosial. Edisi II. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Setiadi, Elly M. dan Usman Kolip. 2011. Pengantar Sosiologi. Jakarta: Kencana Prenada Media.

Sevilla, C. 1993. Pengantar Metode Penelitian. Jakarta: Universitas Indonesia Press.

Silalahi, Ulber. 2009. Metode Penelitian Sosial. Bandung: Refika Aditama.

 . 2002.  Sosiologi Suatu Pengantar.  Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Soekanto, Soerjono, dan Budi Sulistyowati. 2014. Sosiologi: Suatu Pengantar.

Jakarta: Rajawali Pers.

Soemardjan, Selo dan Soelaeman Soemardi. 1964. Setangkai Bunga Sosiologi.

Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi UI.

Soemardjan, Selo, Alfian, dan Mely G. Tan 1984. Kemiskinan Struktural: Suatu Bunga Rampai. Jakarta: Sangkala Pulsar

Soerjani, dkk. 1987. Lingkungan: Sumber Daya Alam dan Kependudukan dalam Pembangunan. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia.

Sudikan, Setya Yuwana. 2013. Kearifan Budaya Lokal. Sidoarjo: Damar Ilmu. Suntari, Sri. 2017. “Metode Penelitian Sosial dan Karya Tulis Ilmiah”. Modul PKB

KK-J bagi Guru Mata Pelajaran Sosiologi. Jakarta: Ditjen GTK Kemdikbud

Sugiyono. 2008. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R & D. Bandung: Alfabeta.

Sumodiningrat, Gunawan. 1999. Pemberdayaan Masyarakat dan JPS. Jakarta: Gramedia

Sunarto, Kamanto. 2004. Pengantar Sosiologi (Edisi Revisi). Jakarta: Lembaga Penerbit FEUI.

Suranto. 2010. Komunikasi Sosial Budaya. Yogyakarta: Graha llmu.

Susanto, Astrid S. 1979. Pengantar Sosiologi dan Perubahan Sosial. Bandung: Penerbit Binacipta

Suyanto, Bagong (ed.). 2005. Metode Penelitian Sosial: BerbagaiAlternatif Pendekatan. Jakarta: Kencana Prenada Media.

 2013. Anatomi Kemiskinan dan Strategi Penanganannya

Malang: Intrans Publishing

Suyanto, Bagong dan J. Dwi Narwoko. 2004. Sosiologi Teks Pengantar dan Terapan. Jakarta: Kencana

Suyanto, Bagong dan Karnaji. 2005. Kemiskinan dan Kesenjangan Sosial: Ketika Pembangunan Tak Berpihak Kepada Rakyat Miskin. Surabaya: Airlangga University Press.

Svalastoga, Kaare. 1989. Diferensiasi Sosial. Jakarta: Bina Aksara.

Syarbaini, Syahrial dan Fatkhuri. 2016. Teori Sosiologi: Suatu Pengantar. Bogor: Ghalia.

Syarbani, Syahrial dan Rusdiyanta. 2009. Dasar-Dasar Sosiologi. Yogyakarta: Graha Ilmu

Sztompka, Piotr. 2014. Sosiologi Perubahan Sosial. Jakarta: Prenada Tahmidaten, Lilik. 2017. “Kearifan Lokal dan Pemberdayaan Komunitas”. Modul

PKB KK-I bagi Guru Mata Pelajaran Sosiologi. Jakarta: Ditjen GTK Kemdikbud

Tahmidaten, Lilik dan Abdurrahman, 2018. “Masalah-Masalah Sosial”. Modul Pelatihan Multi-Subject Teaching Mapel Sosiologi. Jakarta: Ditjen GTK Kemdikbud.

Tantoro, Susvi, 2017. “Teori-Teori Sosiollogi”. Modul PKB KK-B bagi Guru Mata Pelajaran Sosiologi. Jakarta: Ditjen GTK Kemdikbud

  2018. “Kelompok Sosial”. Modul Pelatihan Multi-Subject Teaching Mapel Sosiologi. Jakarta: Ditjen GTK Kemdikbud.

 2018. “Konflik Sosial”. Modul Pelatihan Multi-Subject Teaching Mapel Sosiologi. Jakarta: Ditjen GTK Kemdikbud.

Veeger , Karel J . 1992. Pengantar Sosiologi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, Wahono, F. 2005. Pangan, Kearifan Lokal dan Keanekaragaman Hayati.

Yogyakarta: Penerbit Cindelaras Pustaka Rakyat Cerdas

Wirutomo, Paulus, dkk. 2012. Sistem Sosial Indonesia. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia (Ul Press).

Wicaksono, Didik. P. 2018. “Pengantar Sosiologi”. Modul Pelatihan Multi-Subject Teaching Mapel Sosiologi. Jakarta: Ditjen GTK Kemdikbud.

Wiraharjo, Indhar Wahyu dan Susvi Tantoro. 2018. “Ketimpangan Sosial”. Modul Pelatihan Multi-Subject Teaching Mapel Sosiologi. Jakarta: Ditjen GTK Kemdikbud.

Wiliams Jr., Robin. 1960. American Society. New York: A Fred A Knopf

Lampiran

Posting Komentar untuk "Metode Penelitian Sosial - PPPK Sosiologi 6"