Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Masyarakat Multikultural : Pengertian, Ciri, Bentuk, dan Masalah Sosial

Konflik Sosial dan Integrasi Sosial - PPPK Sosiologi 4 - hasriani.com


Dalam bahasan ini akan dikupas secara mendalam tentang Masyarakat Multikultural : Pengertian, Ciri, Bentuk, dan Masalah Sosial. Simak pembahasannya berikut ini:

Masyarakat multikultural dapat diartikan sebagai masyarakat yang memiliki beraneka ragam kebudayaan. Masyarakat multikultural menekankan pada keanekaragaman kebudayaan dalam kesederajatan atau kesetaraan. Artinya, tidak ada posisi superior dan inferior antaretnik, ras, jenis kelamin, serta agama.

a. Latar Belakang Terbentuknya Masyarakat Multikultural

Terbentuknya masyarakat multikultural dilatarbelakangi oleh berbagai faktor berikut.

1) Bentuk Wilayah dan Kenampakan Alam

Indonesia merupakan negara kepulauan. Pulau-pulau yang menjadi tempat tinggal masyarakat Indonesia dihubungkan oleh selat dan laut. Kondisi ini menyebabkan terbentuknya kemajemukan masyarakat Indonesia. Adapun kenampakan alam merupakan segala sesuatu yang tampak di permukaan bumi atau alam. Kenampakan alam, misalnya daerah dataran tinggi dan dataran rendah.

2) Perbedaan Iklim

Setiap daerah memiliki iklim berbeda-beda. Iklim di suatu daerah dipengaruhi letak geografis dan topografi daerah tersebut. Iklim berpengaruh besar terhadap pola kehidupan dan kebudayaan masyarakat. Perbedaan iklim menyebabkan perbedaan pola kehidupan antarmasyarakat di setiap daerah. Sebagai contoh, pola kehidupan masyarakat yang tinggal di daerah tropis berbeda dengan masyarakat yang tinggal di daerah subtropis.

3) Letak Geografis

Letak geografis merupakan letak suatu negara atau wilayah di permukaan bumi. Sebagai contoh, Indonesia terletak pada posisi silang di antara dua benua dan dua samudra. Letak strategis ini menyebabkan banyak bangsa asing singgah di Kepulauan Indonesia. Akibatnya, terjadi proses akulturasi, asimilasi, atau amalgamasi sehingga budaya di Indonesia semakin beragam.

b. Ciri-Ciri Masyarakat Majemuk dan Masyarakat Multikultural

Pembentukan masyarakat multikultural didahului dengan terbentuknya masyarakat majemuk. Adapun ciri-ciri masyarakat majemuk sebagai berikut.

1) Mengalami segmentasi dalam kelompok-kelompok dengan subkebudayaan berbeda.

2) Memiliki struktur sosial yang terbagi dalam lembaga-lembaga nonkomplementer atau tidak memiliki hubungan keterkaitan.

3) Kurang mengembangkan konsensus di antara anggotanya terhadap nilai- nilai yang bersifat mendasar.

4) Relatif sering terjadi konflik antarsatu kelompok dengan kelompok lain.

5) Integrasi dapat terjadi meskipun melalui proses paksaan.

6) Terjadi dominasi politik suatu kelompok terhadap kelompok lain atau alienasi terhadap kelompok lain yang dianggap lemah.

Ciri-ciri masyarakat multikultural cenderung berupa ciri positif dari masyarakat majemuk seperti memiliki rasa toleransi dan menghargai perbedaan yang tinggi, bersifat inklusif, serta tingginya kesadaran dalam berintegrasi.

c. Bentuk-Bentuk Keanekaragaman dalam Masyarakat Multikultural

Berdasarkan proses pembentukannya, keanekaragaman masyarakat dapat tercipta dari proses alami serta proses buatan. Adapun keanekaragaman yang dimaksud sebagai berikut.

1) Keanekaragaman etnik/suku bangsa menunjukkan kelompok manusia yang memiliki kesamaan latar belakang budaya dan terikat oleh kesadaran serta identitas. Faktor yang membedakan antara suku bangsa satu dan suku bangsa lain, yaitu daerah asal, adat istiadat, sistem kekerabatan, bahasa daerah, serta kesenian daerah.

2) Keanekaragaman agama merujuk pada berbagai agama yang dianut oleh masyarakat. Pemerintah Indonesia mengakui enam agama yang dianut masyarakat yaitu Hindu, Buddha, Islam, Katolik, Kristen, dan Konghucu. Selain itu, pemerintah mengakui terdapat beragam aliran kepercayaan lokal yang dianut oleh beberapa suku bangsa di Indonesia.

3) Keanekaragaman ras menunjukkan pengelompokan manusia berdasarkan perbedaan segi fisik dan ciri-ciri tubuh. Ras dapat dibedakan atas dasar ciri kualitas dan kuantitas. Ciri kualitas meliputi warna kulit, bentuk rambut, ada atau tidaknya lipatan mata, dan bentuk bibir. Ciri-ciri ras berdasarkan kuantitas meliputi tinggi badan, berat badan, dan indeks ukuran kepala.

4) Keanekaragaman profesi/mata pencaharian. Profesi berkaitan dengan pekerjaan yang membutuhkan kemampuan dan pengetahuan khusus. Adapun mata pencaharian me- rupakan pekerjaan masyarakat berkaitan dengan aktivitas mengolah potensi alam. Profesi dan mata pencaharian merupakan kegiatan individu untuk mencari nafkah dengan tujuan memenuhi kebutuhan hidup. Seiring perkembangan zaman, profesi baru semakin banyak bermunculan.

Berdasarkan konfigurasi dan komunitas etnik, J.S. Furnivall (Nasikun, 2004) membedakan masyarakat majemuk dalam empat kategori/bentuk sebagai berikut:

1) Masyarakat majemuk dengan fragmentasi, terdiri atas kelompok etnik kecil sehingga tidak memiliki posisi dominan dalam aspek kehidupan masyarakat seperti aspek politik dan ekonomi.

2) Masyarakat majemuk dengan kompetisi seimbang, terdiri atas sejumlah kelompok sosial yang mempunyai kekuatan kompetitif dan seimbang.

3) Masyarakat majemuk dengan minoritas dominan, artinya kelompok minoritas memiliki keunggulan kompetitif sehingga mendominasi beberapa aspek kehidupan seperti aspek politik dan ekonomi masyarakat.

4) Masyarakat majemuk dengan mayoritas dominan terdiri atas sejumlah kelompok yang mendominasi, baik dari segi jumlah maupun pengaruh terhadap kelompok lain dengan kekuatan kompetitif tidak seimbang.

d. Hubungan Antarkelompok dalam Masyarakat Multikultural

Hubungan antarkelompok dalam masyarakat multikultural bersifat dinamis. Hubungan sosial antarkelompok dalam masyarakat multikultural dapat diibaratkan seperti puzzle atau permainan bongkar pasang. Setiap bagian terlihat banyak perbedaan, tetapi ketika disatukan dapat membentuk satu kesatuan utuh dan saling melengkapi.

Hubungan sosial antarkelompok dalam masyarakat multikultural menghasilkan berbagai konsekuensi sosial yang dapat diamati dan dipelajari. Adapun konsekuensi tersebut sebagai berikut:

1) Asimilasi

Asimilasi adalah proses pembauran dua kebudayaan disertai dengan hilangnya ciri khas tiap-tiap kebudayaan sehingga membentuk/ menghasilkan kebudayaan baru.

2) Interseksi

Interseksi yaitu suatu titik potong atau pertemuan keanggotaan kelompok sosial dari berbagai seksi meliputi agama, suku bangsa, jenis kelamin, dan kelas sosial. Interseksi dapat terjadi melalui kerja sama dalam bidang ekonomi, politik, dan sosial.

Interseksi terbentuk melalui interaksi sosial melalui sarana pergaulan dalam kebudayaan masyarakat antara lain antara bahasa, kesenian, sarana transpor, pasar, sekolah dan Iain-Iain, yang berbeda latar belakang ras, agama, suku, jenis kelamin, tingkat ekonomi, pendidikan, yang bersama- sama menjadi anggota kelompok sosial tertentu atau penganut agama tertentu. Perbedaan tersebuat saling menyilang satu sama lain Mempunyai akibat: 1) Meningkatkan solidaritas; Memperkuat hubungan anatar anggota dengan mengabaikan perbedaan vertikal dan horizontal di antara mereka. Misalnya; perkumpulan penggemar bola yang mengabaikan perbedaan suku, ras, agama yang mereka anut ketika berkumpul dengan kelompoknya; 2) Menimbulkan potensi konflik; Perbedaan yang mereka miliki lebih menonjol dan semakin tajam. Contohnya: contoh konflik yang terjadi dalam kompleks perumahan. Mereka berasal dari latar belakang dan sosial budaya yang berbeda-beda.

3) Integrasi

Integrasi adalah proses penyatuan unsur-unsur berbeda dalam masyarakat multikultural. Ciri integrasi yaitu setiap anggota saling mengisi kebutuhan satu sama lain serta mampu menciptakan kesepakatan nilai dan norma sosial dalam masyarakat.

4) Konsolidasi

Konsolidasi adalah upaya meningkatkan solidaritas masyarakat dengan mempertegas status keanggotaan seseorang. Dampak positif dari konsolidasi ialah menguatkan indentitas antarindividu sebagai bagian dari kelompok/masyarakat. Meskipun demikian, konsolidasi juga dapat berpotensi menimbulkan konflik apabila penegasan yang membedakan satu kelompok dengan kelompok lain menyebabkan etnosentrisme secara berlebihan. Struktur sosial yang terkonsolidasi berfungsi menghambat terjadinya penguatan identitas dalam batas-batas tertentu yang akan mempertajam prasangka antara ras, suku, agama yang berbeda. Prasangka semakin tajam dengan perbedaan peluang dalam kesempatan ekonomi dan poiitik.

5) Mutual Akulturasi

Mutual akulturasi merupakan keterbukaan suatu kelompok terhadap kebudayaan baru dari kelompok lain. Mutual akulturasi merupakan tahap awal terjadinya integrasi sosial. Masyarakat bersikap terbuka dan menerima berbagai perbedaan. Mutual alkulturasi diawali dari proses interseksi yang berjalan terus-menerus sehingga menimbulkan perasaan menyukai, menghargai, dan menghormati kebudayaan kelompok lain.

Mutual akulturasi dapat mempercepat proses modernisasi.

6) Dominasi

Dominasi adalah proses penguasaan suatu kelompok sosial terhadap kelompok sosial lain. Bentuk dominasi tidak hanya terbatas pada jumlah. Dominasi juga dapat berbentuk pengaruh kebudayaan.

e. Pemecahan Masalah sebagai Dampak Keanekaragaman

Masalah-masalah sosial terkadang muncul dalam kehidupan masyarakat multikultural. Masalah sosial cenderung muncul karena perbedaan yang tidak disikapi secara bijak. Oleh karena itu, diperlukan upaya tepat untuk mengatasi permasalahan sosial. Upaya mengatasi masalah-masalah sosial dalam masyarakat multikultural sebagai berikut:

1) Mengembangkan Sikap Simpati

Simpati merupakan perasaan tertarik yang timbul dari diri seseorang terhadap orang lain. Simpati diberikan karena faktortertentu seperti, sikap, penampilan, perbuatan, prestasi individu/kelompok lain. Sikap simpati Sikap simpati dapat menyebabkan terjalinnya interaksi lintas budaya, lintas etnik, lintas agama, hingga lintas generasi.

2) Mengembangkan Sikap Empati

Sikap empati merupakan kelanjutan dari sikap simpati yang iebih mendalam. Empati adalah kemampuan merasakan diri seolah-olah dalam keadaan orang lain dan ikut merasakan hal-hal yang dirasakan orang lain. Melalui sikap empati, seseorang dapat tergerak untuk membantu orang lain.

3) Menghargai Perbedaan

Istilah menghargai perbedaan digunakan untuk menyikapi bentuk- bentuk perbedaan dalam masyarakat seperti perbedaan jenis kelamin, ras, suku bangsa, pemikiran, dan pendapat. Menghargai perbedaan berarti menerima realitas takdir, tidak menganggap sebagai sesuatu yang buruk atau harus disingkirkan, serta menyadari perbedaan sebagai suatu yang wajar. Sikap menghargai perbedaan dapat menjadi sarana mengembangkan toleransi dalam diri.

4) Mengembangkan Toleransi

Toleransi diartikan sebagai sikap tenggang rasa (menghargai, membiarkan, dan membolehkan) terhadap pendirian, pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan, dan perilaku yang berbeda atau bertentangan. Toleransi menitikberatkan pada bentuk tindakan atau praktik kebudayaan yang berbeda dari setiap kelompok sosial.

5) Menerapkan Sikap Inklusif

Inklusif merupakan kesediaan menerima dan mengakui kehadiran individu lain yang memiliki latar belakang sosial budaya berbeda dengan dirinya. Sikap inklusif mendorong masyarakat memiliki pandangan positif terhadap perbedaan. Sikap ini tidak fokus mencari perbedaan tetapi mencari kesamaan untuk dapat menciptakan kondisi yang saling menguntungkan. Penerapan sikap inklusif dapat dilakukan dengan cara mengembangkan sikap toleransi, demokrasi, dan antidiskriminasi dalam masyarakat multikultural.

6) Mengembangkan Sikap Demokratis dan Antidiskriminasi

Sikap demokratis dan antidiskriminasi merupakan perwujudan dari pemenuhan hak asasi setiap individu atau kelompok. Sikap demokratis dan antidiskriminasi dapat mencegah pertentangan akibat perbedaan latar belakang primordial. Demokrasi dalam masyarakat tidak dapat tercapai apabila masih terdapat diskriminasi. Kondisi tersebut terjadi karena demokrasi mengutamakan persamaan hak dan perlakuan bagi setiap individu/kelompok dalam masyarakat multikultural

7) Mengembangkan Upaya Akomodatif

Upaya akomodatif bertujuan menghindari adanya pihak atau kelompok yang merasa direndahkan atau dikalahkan. Upaya akomodatif untuk menjaga integrasi dalam masyarakat multikultural dapat dilakukan dengan menjunjung pengakuan HAM, mengembangkan wawasan kebudayaan, menggelar berbagai pertunjukan kebudayaan di berbagai daerah, dan membangun forum komunikasi antargolongan.

8) Mengembangkan Semangat Nasionalisme

Semangat nasionalisme dapat menjadi landasan masyarakat untuk bersatu dalam perbedaan. Semangat nasionalisme ditandai dengan kesediaan mengesampingkan berbagai perbedaan demi keutuhan bangsa.

9) Mengembangkan Pendidikan Multikultural

Sosialisasi pendidikan multikultural merupakan upaya yang dilakukan secara sadar mengajarkan sifat-sifat masyarakat multikultural dalam memandang derajat kedudukan yang sama. Sosialisasi pendidikan multikultural dapat dilakukan oleh berbagai pihak misalnya melalui sosialisasi keluarga, sekolah, masyarakat, pemerintah, dan media massa.

10) Mengembangkan Sikap Kerja Sama

Sikap saling membantu dan memahami dalam kerja sama dapat menjaga harmoni sosial. Pelaksanaan kerja sama antarkelompok dalam masyarakat tanpa memandang sifat-sifat primordial dalam pembangunan nasional dapat memajukan bangsa dan menciptakan keteraturan sosial.

f. Masyarakat Multikultural dalam Bingkai NKRI

Kekayaan alam dan keragaman budaya Indonesia merupakan potensi unik yang harus dijaga. Kekayaan alam dapat dilihat dari banyaknya sumber daya alam di Indonesia. Sementara itu, keberagaman budaya dilihat dari banyaknya budaya dan agama di Indonesia. Potensi bangsa Indonesia tersebut hendaknya menjadi kekuatan untuk membentuk integrasi sosial, bukan sebagai pemicu masalah dalam NKRI.

Berbagai suku bangsa di Indonesia dan hasil kebudayaannya merupakan satu kesatuan yang menunjukkan identitas bangsa secara utuh. Akan tetapi, realitas kehidupan dalam masyarakat multikultural dapat berpotensi menimbulkan gesekan atau konflik antargolongan. Setiap anggota masyarakat wajib menjaga hubungan harmonis demi mewujudkan cita-cita NKRI yang tertuang dalam Pancasila sila ke-3. Berbagai perbedaan dalam masyarakat tersebut sebaiknya dipandang dari sisi positif seperti menjadi alat pemersatu untuk mempertahankan NKRI, menjadi identitas bangsa, dan menjadi fondasi sikap nasionalisme.

Apabila setiap individu/kelompok dapat memahami perbedaan suku bangsa, budaya, golongan, dan agama, integrasi sosial akan tercipta. Selain itu, perselisihan dan pertentangan antarindividu/kelompok akibat perbedaan secara horizontal tidak akan terjadi. Dengan demikian, semboyan "BhinnekaTunggal Ika” dapat terealisasi dalam kehidupan masyarakat Indonesia.

g. Berbagai Permasalahan Sosial dalam Masyarakat Multikultural

Permasalahan sosial yang muncul di tengah-tengah masyarakat multikultural merupakan hal yang wajar. Masalah sosial tidak dapat dihilangkan tetapi dapat diminimalisasi agar tidak bertambah besar. Ragam permasalahan sosial dalam masyarakat multikultural sebagai berikut:

1) Konflik Sosial

Konflik merupakan proses sosial yang menunjukkan ketika antarindividu/antarkelompok saling menentang disertai ancaman atau kekerasan untuk mencapai tujuannya. Pada umumnya, konflik terjadi akibat perbedaan kepentingan, perbedaan antargolongan, perbedaan pandangan, dan perubahan sosial yang terjadi terlalu cepat. Antarkelompok yang berkonflik cenderung tidak dapat menyikapi perbedaan dengan baik sehingga menganggap perbedaan tersebut sebagai ancaman.

2) Kesenjangan Sosial

Kesenjangan sosial terjadi akibat perbedaan yang timpang antarkelompok masyarakat dalam mencapai kesejahteraan. Perbedaan tersebut terlihat mencolok. Kenyataan ini berkaitan dengan beragamnya mata pencaharian penduduk dengan penghasilan berbeda-beda. Akibatnya, tingkat kesejahteraan antarindividu pun berbeda-beda.

3) Stereotip

Stereotip merupakan persepsi terhadap seseorang, budaya, dan sifat khas dalam masyarakat berdasarkan prasangka subjektif yang belum tentu tepat. Stereotip dapat bersifat positif ataupun negatif. Stereotip yang terdapat dalam masyarakat cenderung bersifat negatif sehingga menyebabkan diskriminasi sosial.

4) Diskriminasi Sosial

Diskriminasi sosial merupakan sikap membeda-bedakan golongan sosial satu dengan lainnya. Diskriminasi sosial dapat terjadi karena sikap membeda-bedakan terhadap ras, agama, suku bangsa, etnik, golongan, kelas sosial, jenis kelamin, dan kondisi fisik tubuh. Setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat, serta memperoleh pelayanan kesehatan. Ketentuan tersebut tertuang dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

5) Primordialisme

Primordialisme ialah paham yang mengutamakan kepentingan suatu kelompok masyarakat sebagai bentuk kesetiaan atau loyalitas. Primordialisme dapat berfungsi melestarikan budaya kelompoknya sendiri. Akan tetapi, primordialisme yang berlebihan dapat menyebabkan perpecahan dalam masyarakat multikultural.

6) Disintegrasi

Disintegrasi menunjukkan adanya perpecahan. Disintegrasi bangsa dapat terjadi akibat konflik vertikal atau horizontal. Untuk menghindari terjadinya disintegrasi bangsa, hendaknya masyarakat mengedepankan sikap saling menghargai dan menghormati perbedaan suku bangsa/etnik, agama, ras, serta golongan.

7) Etnosentrisme

Etnosentrisme dapat diartikan sebagai paham yang memandang masyarakat dan budaya milik sendiri lebih baik daripada masyarakat/budaya lain. Etnosentrisme dapat menghambat hubungan antarsuku bangsa, proses asimilasi, dan integrasi sosial.

8) Politik aliran (sektarian).

Konsep sekterian ini pertama kali dikemukakan Clifford Geertz (1964) dalam kajiannya di Mojokuto, Pare, Jawa Timur ada tiga golongan masyarakat yaitu priyayi, santri dan abangan. Dari pemikiran Geetz ini, Herbert Feith (1980) kemudian menjabarkan ada lima aliran poiitik di Indonesia yaitu: Pemikiran poiitik yang dipengaruhi campuran hindu, tradisionalisme Jawa, Islam serta barat ke dalam idiologi komunisme, nasionalisme radikal, sosialisme, Islam, dan Tradisionalisme Jawa.

Posting Komentar untuk "Masyarakat Multikultural : Pengertian, Ciri, Bentuk, dan Masalah Sosial"