Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Keterampilan Bahasa Reseptif - Modul 4 PPPK Bahasa Indonesia

Keterampilan Bahasa Reseptif - Modul 4 PPPK Bahasa Indonesia - hasriani.com


Keterampilan Bahasa Reseptif - Modul 4 PPPK Bahasa Indonesia - Penjabaran model kompetensi yang dikembangkan pada kompetensi guru bidang studi lebih spesifik pada pembelajaran 4. Keterampilan Bahasa Reseptif, ada beberapa kompetensi guru bidang studi yang akan dicapai pada pembelajaran ini, kompetensi yang akan dicapai pada pembelajaran ini adalah guru P3K mampu:

1. Mampu mengonstruk prinsip kemahiran berbahasa reseptif (menyimak- membaca-memirsa).

2. Mampu mengonstruk prinsip kemahiran berbahasa reseptif (menyimak- membaca- memirsa)

3. Mampu mengonstruk prinsip kemahiran berbahasa reseptif (membaca) untuk pembelajaran bahasa Indonesia.

4. Mampu mengonstruk prinsip kemahiran berbahasa reseptif (menyimak- membaca- memirsa)

Dalam rangka mencapai kompetensi guru bidang studi, maka dikembangkanlah indikator-indikator yang sesuai dengan tuntutan kompetensi guru bidang studi.

Indikator  pencapaian  komptensi  yang  akan  dicapai  dalam  pembelajaran 4. Keterampilan Bahasa Reseptif adalah sebagai berikut.

1. Mampu menjelaskan pengertian/ hakikat menyimak membaca.

2. Mampu menjelaskan proses menyimak.

3. Mampu menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi menyimak.

4. Mampu menjelaskan jenis-jenis menyimak.

5. Mampu menjelaskan strategi dan teknik menyimak.

6. Mampu menjelaskan pengertian, tujuan, jenis-jenis membaca.

7. Mampu menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi membaca.

8. Mampu menjelaskan hakikat membaca cepat dan membaca pemahaman.

9. Mampu menjelaskan berbagai metode/strategi keterampilan membaca.

10. Mampu mengimplementasikan metode/strategi membaca dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di sekolah.

C. Uraian Materi

1. Keterampilan Menyimak

a. Pengertian/Hakikat Menyimak

Keterampilan berbahasa secara umum digolongkan menjadi empat keterampilan secara garis besar yaitu keterampilan menyimak/memirsa, berbicara, membaca, dan menulis. Keterampilan berbahasa tersebut merupakan dasar pengembangan keterampilan berkomunikasi yang efektif karena setiap aspeknya menuntut pencapaian pada indikator yang mengarah pada berlangsungnya keterampilan berkomunikasi yang ideal.

Dalam kehidupan sehari-hari kegiatan menyimak mempunyai peranan penting sehingga mengambil bagian melebihi 50% dari seluruh kegiatan berkomunikasi. Hal in menunjukan betapa menyimak memegang peranan penting termasuk dalam dunia akademik karena merupakan salah satu penentu kesuksesan dalam belajar selama masa studi (Goh, 2004: 1). Berbagai informasi penting dapat diperoleh melalui kegiatan menyimak/memirsa apalagi di era digital seperti sekarang ini yang menawarkan berbagai variasi media sebagai penyampai informasi baik yang penting samapi tidak penting, baik yang benar maupun tidak benar.

Konsep menyimak biasanya identik dengan “mendengarkan”. Akan tetapi, sedikit berbeda dengan konsep “mendengar”. Jika seseorang tanpa sengaja menangkap bunyi sehingga sampai di indera pendengaran, berarti dia sedang dalam proses “mendengar”. Apabila kegiatan tersebut diintensifkan, atau dilakukan dengan sengaja menangkap rangsangan bunyi untuk memperoleh sebuah informasi, kegiatan tersebut baru disebut dengan mendengarkan atau menyimak (listening).

Konsep menyimak untuk hal ini sedikit berbeda dengan menyimak bahasa kedua atau bahasa asing yang berangkat dari tahap mengenal bunyi-bunyi bahasa dan unit-unit lainnya secara bertahap. Menyimak dalam konteks bahasa Indonesia, tidak hanya sekadar membedakan bunyi bahasa. Hal ini ini dikarenakan bagi pembelajar Indonesia, bahasa Indonesia metupakan bahasa pertama atau bahasa kedua setelah bahasa daerah yang sudah dikuasai dengan cukup baik. Menyimak fase ini sudah sampai pada level superior karena sudah sampai kegiatan menganalisis, mensintesis, megintepretasi, dan mengevaluasi pesan yang mereka dapatkan melalui kegiatan menyimak.

Dalam konsep menyimak, terdapat kegiatan yang cukup kompleks karena dalam proses menyimak terdapat aktivitas lain, dan tidak hanya berhenti pada kegiatan menangkap bunyi. Secara lengkap, menyimak didefinisaikan sebagai kegiatan mendengarkan bunyi bahasa secara sungguh-sungguh, seksama, sebagai upaya untuk memahami ujaran itu sebagaimana yang dimaksudkan oleh pembicara dengan melibatkan seluruh aspek mental kejiwaan seperti mengidentifikasi, menginterpretasi, dan mereaksinya.

Proses menyimak di sini mengharapkan pembelajar dapat mengaktifkan pengetahuan latar belakang yang mereka miliki sebagai bekal untuk menafsirkan atau menginterpretasi, menganalisis serta mengevaluasi pesan dalam bahan simakan.

Dalam konsep tersebut menyimak masih terbatas pada materi yang menggunakan media berupa rangsang bunyi atau audio. Padahal, dewasa ini media menyimak biasanya didukung oleh media visual sehingga tidak hanya mendengarkan, tetapi juga melihat/menonton. Untuk memahami media audiovisual, pembelajar terlebih dahulu memahami karakter masing-masing media tersebut. Dengan demikian, menyimak dengan pendekatan multiliterasi memerlukan pemahaman lebih dari sekadar memahami satu teks/materi saja.

b. Proses Menyimak

Proses menyimak merupakan proses yang cukup kompleks karena merupakan serangkaian proses penerimaan sekaligus penyimpanan informasi yang disampaikan secara lisan baik menggunakan media audio atau audiovisual atau bahkan secara tanpa media.

Proses menyimak merupakan proses yang tidak saja melibatkan aspek fisik tetapi juga aspek mental. Pandangan kognitif menyatakan bahwa dalam proses menyimak informasi linguistik diproses oleh sejumlah kognitif: perhatian (attention), persepsi (perception), dan ingatan (memory). Informasi linguistik atau pesan yang diperoleh diolah atau dipersepsi dan dimaknai dengan cara menghubungkan apa yang didengan dan dilihat oleh penyimak dengan pengetahuan yang dimiliki sebelumnya oleh penyimak, (Goh, 2004).

Dalam konteks ini terlihat jelas bahwa menyimak tidak berhenti pada aktivitas fisik. Aktivitas otak menjadi dominan dalam mengolah informasi baru yang masuk melalui media yang tertangkap oleh fisik. Proses pengolahan informasi menjadi satu pemahaman yang akurat melalui proses panjang yang luar biasa rumit. Akan tetapi, secara fisik sulit dirasakan.

Proses menyimak yang hanya mengandalkan fisik saja tidak akan sampai pada pemahaman yang akurat dan tentu saja tidak akan sampai pada tahap penyimpanan dalam memori jangka panjang. Ahli menggolongkan proses menyimak yang demikian rumit ke dalam tiga tahap secara garis besar yaitu sebagai berikut (Anderson via Goh, 2004).

1) Persepsi (Perception). Fase mempersepsi rangsangan yang ditangkap oleh telinga dan ditambahkan signal berupa gambar oleh mata. Dalam fase ini sangat membutuhkan fisik yang prima karena dapat mempengaruhi daya tangkap terhadap signal pembawa pesan.

2) Segmentasi (Parsing). Fase berikutnya adalah pembagian ke dalam segmen-segmen tertentu sesuai dengan unit-unit kebahasaan (sintactic structure atau syntactic meaning) yang dikenal atau dikuasai oleh penyimak. Dalam fase ini dimungkinkan terbentuknya pengertian dan pemahaman terhadap pesan yang ditangkap pada fase sebelumnya. Penyimak harus jeli dengan sistem bahasa yang digunakan dalam menyampaikan pesan, Terkadang pembicara dimungkinkan menggunakan dua bahasa atau dua angkapan yang berbeda sistem bahasanya sebagai penyampai pesan. Perbedaan bahasa memerlukan pengetahuan tentang system linguistic yang dapat dijadikan sebagai alat untuk mempersepsi atau memaknai pesan.

3) Pemanfaatan (Utilisation). Fase ini merupakan fase yang menentukan pemahaman lebih lanjut karena penyimak mencoba mencocokkan dan menghubungkan pemahaman penyimak yang disusun berdasarkan persepsi terhadap pesan yang baru saja diperoleh dengan persepsi yang timbul setelah dikaitkan dengan pesan yang sudah ada sebelumnya.

c. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Menyimak

Menyimak merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang berfungsi di dalam komunikasi. Kegiatan berkomunikasi tentunya melibatkan penyamapai pesan, penerima pesan, pesan, dan media yang digunakan sebagai alat untuk mengantarkan pesan. Secara umum faktor-faktor tersebut dapat digolongkan ke dalam dua golongan besar yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal yaitu penyimak sebagai penerima pesan dan faktor eksternal berupa segala sesuatu di luar penyimak yang dapat mempengaruhi pemahaman terhadap pesan yang disampaikan di dalam kegiatan menyimak tersebut yaitu: pembicara, media yang digunakan dalam menyampaikan pesan dapat berupa bahasa lisan/audio maupun gambar/visual, serta lingkungan di sekitar berlangsungnya proses menyimak.

Sebuah proses komunikasi yang ideal menuntut saling pengertian antara pengirim dan penerima pesan. Di dalam situasi seperti ini terdapat sebuah tuntutan bahwa sebagai penyampai pesan, seorang pembicara harus menjadi pembicara ideal yang memenuhi prasyarat sesuai dengan mitra bicaranya. Demikian pula halnya dengan tuntutan terhadap penyimak, sebagai penerima pesan dia harus ekstra konsentari dan harus betu-betul mempunyai pemahaman yang sama dengan pembicara. Tidak berbeda dengan media yang digunakan yaitu menggunakan bahasa yang betu-betul dipahami secara baik oleh kedua belah pihak.

Akan tetapi, dalam konteks pembelajaran keterampilan menyimak hal tersebut tidak dapat dicapai sepenuhnya. Pihak penyimak merupakan pihak yang mempunyai tanggung jawab terbesar terhadap keberhasilan proses komunikasi yang berlangsung. Hal tersebut karena menyimak seperti halnya membaca adalah keterampilan reseptif yaitu keterampilan komunikasi yang didominasi oleh pemahaman pesan yang sampai. Di sisi lain terdapat keterampilan berbicara dan menulis yang merupakan keterampilan yang bersifat produktif. Dengan demikian, hal terpenting yang harus dilakukan supaya tujuan menyimak dapat tercapai secara maksimal adalah bagaimana penyimak menyiapkan dirinya sebagai pihak yang dapat menyiasatisegala hal selama terjadinya proses menyimak agar dia dapat mencapai pemahaman atau

tujuannya dengan optimal. Hubungan anatar unsur yang terlibat di dalam proses menyimak tersebut dilihat dalam bagan berikut.

Gambar 7. Hubungan unsur-unsur komunikasi dalam proses komunikasi yang ideal

Gambar 8. Hubungan antarunsur di dalam proses menyimak

d. Jenis-Jenis Menyimak

Jenis menyimak biasanya sesuai dengan tujuannya. Untuk menentukan srategi yang tepat dalam kegiatan menyimak berikut ini digolongkan beberapa jenis menyimak yang selaras dengan tujuan yang bermacam-macam tersebut. Pengetahuan tentang jenis menyimak dapat membantu penyimak menyiapkan strategi yang diperlukan untuk kesuksesan tujuan menyimaknya tersebut. Wolvin & Coakely menngolongkan jenis menyimak dalam 5 tipe yaitu: diskriminatif (discriminative), komprehensif (comprehensive), terapeutik (therapeutic), kritis (critical), dan apresiatif (apreciative) (Goh:2002).

1) Diskriminatif (discriminative). Menyimak diskriminatif merupakan menyimak yang bertujuan untuk membedakan rangsang bunyi atau visual yang merupakan dasar dari tujuan menyimak

2) Komprehensif (comprehensive). Menyimak komprehensi ini bertujuan untuk memahami pesan. Menyimak komprehensi ini merupakan menyimak yang mendasari jenis menyimak yang lain yaitu menyimak terapeutik, menyimak kritis, dan menyimak apresiatif. Dasar dari semua jenis menyimak tersebut memang harus ada pemahaman terhadap pesan yang disampaikan dengan media audio dan atau audio visual.

3) Terapeutik (therapeutic). Menyimak terapeutik merupakan menyimak untuk menyediakan kesempatan untuk berbicara melalui sebuah pemasalahan. Hal ini tampak pada percakapan antar pasien dan dokter, atau psikolog dengan pasiennya.

4) Kritis (critical). Menyimak kritis merupakan menyimak yang bertujuan untuk mengevaluasi pesan. Hal ini merupakan kemampuan yang dapat dilakukan oleh penyimak tingkat mahir karena untuk mengevaluasi pesan diperlukan penguasaan terhadap bahasa yang menjadi pengantar pesan tersebut juga penguasaan terhadap makna yang komprehensif.

5) Apresiatif (apreciative). Menyimak apresiatif merupakan jenis menyimak yang bertujuan untuk memperoleh kesenangan melalui karya atau pengalaman orang lain. Apresiasi adalah bentuk penghargaan yang diberikan kepada pembuat/pencipta suatu karya atau pemilik pengalaman tertentu. Untuk dapat menghargai sebuah karya sebagai contoh karya sastra, penyimak harus terlebih dahulu mempunyai bekal pengetahuan tentang struktur sastra yang diapresiasinya karena tanpa pengetahuan tersebut, penyimak akan menemukan kesulitan ketika memahami isi atau maknanya.

Dalam pembelajaran menyimak bahasa asing, dari sekian jenis menyimak yang paling penting adalah keterampilan menyimak komprehensi atau pemahaman kegiatan: menyimak untuk memperoleh ide pokok, membuat kesimpulan, memilih dan memprediksi. Kunci menyimak pemahaman adalah dapat memahami detail dengan baik. Secara khusus fokusnya biasanya terletak pada pemahaman terhadap kata kunci dan nomor/angka. Di dalam bahasa asing menyimak jenis ini merupakan tantangan tersendiri karena memang adanya perbedaan pola dengan bahasa pertama penyimak biasanya mempengaruhi banyak hal.

Pembelajaran keterampilan menyimak dalam bahasa Indonesia, para siswa rata-rata sudah melampaui tahap tersebut dengan baik. Tuntutan berikutnya adalah bagaimana kekompleksan pemahaman mereka yang terlihat dari penafsiran mereka terhadap teks yang dihadapi. Kegiatan menyimak untuk memperoleh ide pokok berarti menyimak yang bertujuan untuk memahami inti secara keseluruhan. Menyimak untuk membuat kesimpulan berarti menyimak untuk mengisi kata yang rumpang artinya berdasarkan konteks yang dipahami, penyimak dapat menyimpulkan kata-kata yang harus mengisi bagian yang rumpang tersebut. Adapun menyimak untuk memilih adalah menyimak yang bertujuan hanya untuk bagian khusus dari informasi yang masuk. Menyimak jenis ini dapat mengganggu pemahaman jika tujuan penyimak diwarnai oleh prasangka mereka atau persepsi mereka yang bias.

Tujuan menyimak dan jenis menyimak tersebut menjadi penting karena akan menentukan strategi yang akan digunakan dalam menyimak. Sebagai contoh ketika akan menyimak untuk memeperhatikan detail penyimak pasti sudah mulai memikirkan detail apa saja yang akan dibutuhkan untuk diperhatikan sungguh- sungguh. Memakanai detail juga berkaitan dengan materi apa yang disimak. Menyimak subuah siaran berita akan berbeda dengan menyimak jadwal perjaalanan pesawat terbang atau yang lain. Hal-hal tersebutlah akan selalu berkaitan satu dengan yang yang lain karena memang tujuan dan jenis menyimak mendasari kegiatan atau proses menyimak yang berlangsung.

Jadi, untuk mencapai hasil menyimak yang maksimal seorang penyimak harus betul-betul paham dengan tujuan dari kegiatan menyimaknya karena tujuan tersebutlah yang akan menjadi pijakan untuk langkah selanjutnya. Menyimak tanpa tujuan yang jelas akan mengaburkan atau memecah fokus dan ini adalah sumber kegagalan pertama di dalam menyimak. Mohon diperhatikan bahwa materi di dalam menyimak tersampaikan secara lisan dan tidak dapat diulang seperti halnya di dalam keterampilan membaca atau menulis yang dapat mundur sesekali ketika tidak paham dengan isi atau salah menuliskan gagasan. Menyimak merupakan keterampilan yang sangat mengandalkan konsentrasi karena sekali saja kita kehilangan konsentrasi entah berapa hal dapat terlepas atau kehilangan alur dan tidak dapat diulangi lagi untuk mendengarkan ulang.

e. Strategi dan Teknik Menyimak

Proses belajar atau mempelajari bahasa memerlukan stategi atau cara-cara tertentu yang bertujuan untuk memaksimalkan pencapaian pada level tertentu. Begitu juga halnya dalam pembelajaran menyimak. Chamot menyampaikan bahwa terdapat tiga kategori strategi di dalam pembelajaran menyimak yaitu kognitif, metakognitif, dan sosial-afektif Goh,2002:7). Berikut ini akan dibahas strategi tersebut satu per satu.

1) Kognitif (cognitive). 

Strategi kognitif di dalam menyimak merupakan strategi yang fokus pada proses, interpretasi, penyimpanan dan recall (pemanfaatan) ingatan dalam menyimak. Strategi ini melihat bagaimana sistem pengolahan informasi di dalam otak manusia selama proses menyimak berlangsung. Dalam strategi kognitif ini terdapat strategi yang lebih khusus dideskripsikan oleh O’Malley melalui Brown (2000:125-124) berikut ini.

2) Repetisi: menirukan model bahasa dengan tindakan praktik atau berlatih diam diam.

3) Pemanfaatan sumber: menggunakan materi yang merujuk pada bahasa target.

4) Penerjemahan: menggunakan bahasa pertama untuk memahami atau memroduksi bahasa kedua.

5) Pengelompokkan: mengurutkan kembali atau mengelompokkan dan menamai sumber materi belajar berdasar sifatnya.

6) Membuat catatan: menuliskan ide pokok, hal-hal penting, kerangka, ringkasan informasi yang disampaikan secara lisan atau dalam tulisan.

7) Deduksi: secara sadar menerapkan aturan untuk memproduksi atau memahami bahasa kedua.

8) Rekombinasi: menyusun kalimat yang bermakna atau susunan kebahasaan yang lebih besar dengan mengombinasikan bagian-bagian yang dikenal dengan cara yang baru.

9) Imageri: menghubungkan informasi baru ke dalam konsep visual dalam ingatan yang familiar.

10) Representasi auditori: retensi bunyi atau bunyi-bunyi yang mirip untuk kata, frasa, atau urutan kebahasaan yang lebih panjang.

11) Kata kunci: mengingat kata baru dalam bahasa kedua dengan mengidentifikasi kata yang familiar dalam bahasa pertama yang terdengar mirip, dan dengan cara mengingat yang secara umum lebih mudah.

12) Kontekstualisasi: menempatkan kata atau frasa dalam urutan kebahasaan yang bermakna.

13) Elaborasi: menghubungkan informasi baru untuk konsep lain dalam ingatan.

14) Transfer: memanfaatkan bahasa yang diperoleh sebelumnya dan atau pengetahuan konseptual untuk memfasilitasi tugas pembelajaran bahasa yang baru.

15) Rujukan: memanfaatkan informasi yang tersedia untuk menduga makna kata baru, memprediksi luaran, atau mengisi inforamasi yang hilang.

Strategi kognitif tersebut sebetulnya memang didesain untuk pembelajaran bahasa kedua atau bahasa asing secara umum. Untuk konteks pembelajaran bahasa Indonesia dan lebih khusus lagi untuk pembelajaran keterampilan menyimak, beberapa strategi dapat diterapkan di kelas yaitu strategi berikut ini.

1) Pembutan Catatan (Note Taking). Pembelajaran menyimak bahasa Indonesia bagi orang Indonesia bukan hanya sekedar mendengarkan kata dan memahaminya satu per satu akan tetapi lebih sebagai keterampilan pemahaman wacana secara keseluruhan. Kemampuan penyimak dapat diidentifikasi dari sejauh mana kelengkapan informasi yang dapat ditangkap saat proses menyimak berlangsung. Bentuk tagihan tugas yang dapat diterapkan adalah penyimak diminta membuat catatan hasil menyimak.

2) Penggambaran (Imagery). Strategi kognitif yang dapat diterapkan adalah dengan cara menghubungkan informasi dengan konsep visual. Tagihan yang dibuat biasanya adalah pembuatan mind map yaitu menghubungkan antarkonsep dalam bentuk gambar yang dapat dicermati keterkaitan atau hubungannya.

3) Kata Kunci (Keyword). Tugas menyimak yang lain adalah menuliskan kata-kata kunci yang merupakan inti dari informasi yang diperoleh pada saat proses menyimak yang berlangsung. Inti informasi bergantung dari jenis materi yang disimak, sebagai contoh materi cerpen intinya adalah struktur, tetapi inti dari siaran berita adalah unsur utama yang biaasanya disingkat menjadi 5W+1H (who, what, when, were + How).

4) Elaborasi (Elaboration). Setelah proses menyimak berlangsung, penyimak dapat menghubungkan informasi baru dengan konsep lain yang terdapat dalam ingatannya. Bentuk tagihannya dapat berupa menuliskan gagasan penyimak dalam bentuk esai sederhana yang berisi gagaasan, pikiran, pendapat yang diperoleh dari proses menyimak dan hubungannnya dengan pengalaman atau pengetahuan yang sudah dimiliki sebelumnya oleh penyimak.

5) Transfer. Penyimak juga dapat memindahkan bahasa yang sudah dikuasai sebelumnya untuk mendukung tugas baru dalam hal pembelajaran bahasa. Misalnya hasil dari proses pembelajaran menyimak digunakan untuk menyelesaikan tugas menulis atau berbicara.

b. Metakognitif (Metacognitive)

Strategi yang berikutnya adalah strategi metakognitif (metacognitive) yaitu strategi yang berfungsi untuk mengelola dan memfasilitasi proses mental, serta mengatasi kesulitan selama menyimak (Goh, 2002:7). Strategi ini tidak hanya melibatkan aspek kognitif, tetapi juga aspek mental atau psikis. Strategi ini memungkinkan pembelajar mengontrol proses belajarnya secara mandiri serta melibatkan pembelajar dalam mengevaluasi pencapaiannya secara mandiri sehingga pembelajar dapat mengetahui kesulitannya dalam belajar bahasa. Secara khusus terdapat beberapa strategi yang termasuk dalam strategi metakognitif yaitu sebagai berikut.

1) Pengatur andal (advance organizers): membuat rancangan konsep yang cukup menyeluruh untuk mengantisipasi aktivitas pembelajaran.

2) Perhatian langsung: memutuskan untuk mengikuti tugas pembelajaran dan mengabaikan pengecoh yang tidak relevan.

3) Perhatian terpilih: memutuskan untuk mengikuti aspek tertentu dari masukan pembelajaran atau detil situasional yang akan menandai retensi masukan bahasa.

4) Pengelola yang mandiri: memahami kondisi yang membantu seseorang belajar dan melibatkan diri dalam kondisi tersebut.

5) Perencanaan fungsional: membuat rencana dan melatih komponen bahasa yang penting untuk membawa tugas belajar yang selanjutnya.

6) Monitoring secara mandiri: mengoreksi percakapan seseorang dalam hal ketepatan, ucapan, tata baasa, kosakata, atau hubungan yang dengan setting atau dengan pembicara.

7) Menunda produksi: secara sadar memutuskan untuk berhenti berbicara untuk belajar menandai melalui menuimak komprehensi.

8) Evaluasi mandiri: mengecek hasil dari belajar bahasa seseorang, mengukkr secara internal kelengkapan dan ketepatan.

Strategi tersebut berlaku secara umum dalam pembelajaran bahasa. Dalam pembelajaran keterampilan menyimak, strategi tersebut tetap dimodifikasi sesuai dengan kebutuhan yang secara umum berkaitan dengan pengelolaan pembelajaran menyimak dan evaluasi mandiri terhadap proses belajar menyimak yang sudah dilakukan.

c. Sosial-Afektif (Social-Affective)

Strategi sosial-afektif merupakan strategi menyimak yang melibatkan pihak lain dalam prosesnya. Dalam hal ini selama proses menyimak, penyimak memerlukan bantuan orang lain untuk membantu pemahaman

2. Keterampilan Membaca

a. Pengertian Membaca

Membaca merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang berperan penting bagi kehidupan seseorang sebagai sarana komunikasi serta informasi dalam rangka pengembangan pengetahuan. Membaca merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang bersifat resepif. Dikatakan reseptif karena membaca merupakan suatu kegiatan berbahasa yang bertujuan memperoleh atau memahami informasi dari bahan bacaan. Oleh karenanya membaca memiliki peran penting dalam pengembangan pengetahuan karena sebagian besar pengetahuan diperoleh melalui membaca (Iskandarwassid dan Sunendar, 2015: 245).

Ada berbagai definisi membaca yang dikemukakan oleh para ahli yang memungkinkan adanya perbedaan pengertian membaca didasarkan pada sudut pandang tertentu. Membaca merupakan proses kognitif yang berupaya untuk

menemukan informasi yang terkandung dalam tulisan. Membaca bukan sekadar melihat kumpulan huruf yang berupa kata, kelompok kata, kalimat, paragraf, dan wacana, tetapi membaca merupakan kegiatan memahami dan menginterpretasikan lambang-lambang tertulis yang bermakna sehingga pesan penulis dapat dipahami oleh pembaca (Dalman, 2013:5).

Soedarso (2010:7) mengemukakan bahwa membaca adalah aktivitas kompleks yang mengerahkan sejumlah besar tindakan yang terpisah-pisah. Membaca tidak hanya melihat suatu bacaan, tetapi memerlukan konsentrasi untuk memahami dan mengingat-ingat isi bacaan. Tampubolon (2015: 5) menyatakan bahwa membaca meliputi kecepatan membaca dan pemahaman isi secara keseluruhan. Pembaca memerlukan teknik yang efektif dan efisien agar dapat memahami isi bacaan. Pembaca yang tidak mampu membaca dengan baik akan mengalami kesulitan dalam menyerap informasi sehingga mengalami hambatan dalam pengembangan pengetahuan.

Snow (2002:11) mendefinisikan membaca sebagai proses menyadap (extracting) dan mengontruksi (constructing) makna melalui interaksi dan keterlibatan dengan bahasa tulis. Pemakaian kata menyadap dan mengonstruksi untuk memberikan tekanan pada pentingnya dan kurang memadainya teks sebagai faktor penentu dalam membaca pemahaman. Pemahaman memerlukan tiga elemen utama, yaitu pembaca yang melakukan pemahaman, teks yang dipahami, dan aktivitas di mana pemahaman menjadi bagiannya. Sejalan dengan pendapat tersebut, Zuchdi (2008: 22) mengemukakan bahwa kemampuan membaca pemahaman terdiri dari tiga komponen utama komprehensi, yaitu pengodean kembali, pemerolehan makna leksikal, dan organisasi teks.

Sejalan dengan pendapat di atas, Mikulecky (2007:vi-vii) menyatakan bahwa membaca adalah kegiatan yang kompleks yang melibatkan banyak jenis keterampilan. Kemampuan seorang pembaca dalam memahami dan mengingat apa yang dibaca sebagian besar bergantung pada kemampuan pembaca menerapkan keterampilan itu dalam membaca.

b. Tujuan Membaca

Membaca sebagai sebuah keterampilan reseptif secara umum bertujuan untuk memperoleh informasi atau pesan melalui bahasa tulis. Pada dasarnya tujuan membaca ditentukan dan dipengaruhi oleh berbagai hal, antara lain informasi yang diperlukan oleh pembaca dan jenis bacaan yang dipilih. Berbagai tujuan membaca dikemukakan oleh para ahli didasarkan pada informasi yang diperlukan bagi pembaca. Nurhadi (2016:3-4) mengemukakan berbagai tujuan membaca yang disesuaikan dengan tujuan yang ingin dicapai oleh pembaca. Berdasar tujuan pembaca, selanjutnya dikemukakan berbagai tujuan membaca sebagai berikut.

1) Memahami secara detail dan menyeluruh isi bacaan.

2) Menangkap ide pokok/gagasan utama buku secara cepat.

3) Mendapatkan informasi tentang sesuatu.

4) Mengenai makna kata.

5) Ingin mengetahui peristiwa penting yang terjadi di seluruh dunia.

6) Ingin mengetahui peristiwa penting yang terjadi di masyarakat sekitar. Tujuan membaca juga dikemukakan oleh Anderson melalui Dalman (2013:11) sebagai berikut.

1) Membaca untuk memperoleh fakta dan rincian.

2) Membaca untuk memperolehh ide-ide utama.

3) Membaca untuk mengetahui urutan/susunan struktur karangan.

4) Membaca untuk menyimpulkan.

5) Membaca untuk mengelompokkan.

6) Membaca untuk menilai/mengevaluasi.

7) Membaca untuk memperbandingkan

Dari berbagai tujuan seperti dikemukakan Anderson di atas, pada prinsipnya didasarkan pada kepentingan atau tujuan pembaca. Demikian pula bahan bacaan yang akan dibaca perlu disesuaikan dengan tujuan yang ingin dicapai oleh pembaca. Oleh karana itu, pembaca perlu menentukan tujuan membaca sebelum melakukan kegiatan membaca.

Tarigan (2015:9-11) menyatakan bahwa tujuan utama membaca adalah untuk mencari dan memperoleh informasi, mencakup isi dan makna bacaan. Makna berhubungan erat dengan tujuan dan keintensifan dalam membaca. Tujuan

membaca yang dikemukakannya sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Anderson. Secara rinci tujuan membaca adalah sebagai berikut.

1) Membaca untuk menemukan atau mengetahui penemuan tokoh, apa yang diperbuat tokoh, apa yang terjadi pada tokoh, atau untuk memecahkan permasalahan yang dihadapi oleh tokoh.

2) Membaca untuk mengetahui mengapa hal itu merupakan topik yang baik dan menarik masalah yang terjadi dalam cerita, apa yang dipelajari atau dialami tokoh, dan merangkum hal-hal yang dilakukan tokoh.

3) Membaca untuk menemukan atau mengetahui apa yang terjadi pada setiap bagian cerita.

4) Membaca untuk menemukan dan mengetahui mengapa para tokoh merasakan seperti cara mereka, apa yang hendak diperlihatkan kepada pembaca, mengapa para tokoh berubah, dan berhasil atau gagal.

5) Membaca untuk menemukan dan mengetahui apa yang wajar, lucu, benar dan tidak benar dalam cerita

6) Membaca untuk menemukan apakah tokoh berhasil, apakah pembaca akat mengikuti apa yang dilakukan tokoh atau bekerja seperti cara tokoh.

7) Membaca untuk menemukan bagaiman cara tokoh berubah, bagaimana perbedaan kehidupan tokoh dengan kehidupan yang dikenal pembaca, bagaimana persamaan dan perbedaan tokoh dengan apa yang dialami pembaca.

c. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Membaca

Membaca sebagai sebuah keterampilan berbahasa tidak terlepas dari berbagai pengaruh yang menyebabkan keberhasilan dan kegagalan seorang pembaca dalam memahami isi bacaan. Snow (2002:11-12 ) mengemukakan bahwa ada tiga elemen utama yang mempengaruhi pemahaman pembaca, yaitu pembaca, teks, dan aktivitas di mana pemahaman menjadi bagiannya. Aspek pembaca berkenaan dengan semua kapasitas, kemampuan, pengetahuan, dan pengalaman yang digunakan seseorang dalam kegiatan membaca. Teks adalah teks cetak atau teks elektronik apa pun, sedangkan aktivitas adalah tujuan, proses, dan konsekuensi yang berhubungan dengan kegiatan membaca. Tiga dimensi tersebut membatasi fenomena yang terjadi di dalam konteks sosiokultural yang lebih besar yang

membentuk dan dibentuk oleh pembaca yang berinteraksi dengan tiga elemen tersebut. Pembaca, teks, dan aktivitas juga berinterelasi dengan cara dinamis yang berubah-ubah selama proses membaca.

Di sisi lain Johnson dan Pearson (melalui Zuchdi, 2008:23) mengemukakan bahwa secara garis besar komprehensi membaca dipengaruhi oleh dua faktor utama yaitu yang berasal dari dalam diri pembaca dan di luar diri pembaca. Faktor- faktor yang berada di dalam diri pembaca meliputi kemampuan linguisik (kebahasaan), minat (seberapa besar kepedulian pembaca terhadap bacaan yang dihadapinya), motivasi (seberapa besar kepedulian pembaca terhadap tugas membaca), dan kemampuan membaca (seberapa baik pembaca dapat membaca). Faktor-faktor di luar diri pembaca dikategorikan menjadi dua, yaitu unsur-nsur bacaan dan lingkungan pembaca. Unsur-unsur bacaan meliputi kebahasaan teks dan organisasi teks. Kualitas lingkungan meliputi persiapan guru (sebelum, pada saat, dan setelah membaca), cara murid menanggapi tugas, dan suasana umum penyelesaian tugas (hambatan , dorongan, dan sebagainya).

Selanjutnya Yap via Zuchdi (2008:25) mengemukakan bahwa kemampuan membaca seseorang sangat ditentukan oleh faktor kuantitas membaca. Artinya, kemampuan membaca seseorang sangat dipengaruh oleh jumlah waktu yang digunakan untuk melakukan aktivitas membaca. Semakin banyak waktu membaca besar kemungkinan semakin tinggi tingkat komprehensinya atau semakin mudah memahami bacaan. Hal ini diperkuat dengan hasil penelitian Yap terkait perbandingan faktor-faktor yang mempengaruhi kemampuan membaca yakni 65% ditentukan oleh banyaknya waktu yang digunakan untuk membaca, 25% oleh IQ, dan 10% dari faktor lain berupa lingkungan sosial, emosional, dan fisik.

Dalam kaitannya dengan faktor-faktor yang mempengaruhi pembaca, Tampubolon (2015:11) menyatakan bahwa ada enam faktor utama, yaitu: (1) kompetensi kebahasaan, (2) kemampuan mata, (3) penentuan informasi fokus, (4) teknik dan metode membaca, (5) fleksibilitas membaca, dan (6) kebiasaan membaca. Dalman (2013: 21-22) mengemukakan bahwa membaca dipengaruhi oleh fleksibilitas membaca, yaitu kemampuan untuk mengatur kecepatan membaca dan memilih strategi yang sesuai agar informasi yang diperlukan dapat diterima dengan baik.

d. Jenis-Jenis Membaca

Ada berbagai macam pengelompokan jenis membaca. Klasifikasi jenis membaca didasarkan pada cara pandang para ahli sehingga ada kalanya berbeda antara ahli yang satu dengan yang lain. Tarigan (2015:14) mengelompokkan membaca berdasar dua kategori, yaitu: 1) atas dasar terdengar atau tidaknya suara pembaca, dan (2) atas dasar keintensifannya.

Berdasar bersuara dan tidaknya, membaca dikelompokkan menjadi dua, yaitu membaca nyaring dan membaca bersuara. Berdasar keintensifannya dibedakan atass membaca ekstensif dan intensif. Membaca intensif dikelompokkan menjadi tiga yaitu membaca survei, sekilas, dan dangkal. Membaca intensif dibedakan atas membaca telaah isi dan membaca telaah bahasa. Membaca telaah isi dikelompokkan menjadi tiga yaitu membaca teliti, membaca pemahaman, membaca kritis, dan membaca ide, sedangkan membaca telaah Bahasa dibedakan menjadi dua yaitu membaca bhasa dan membaca sastra.

1) Membaca Nyaring

Tarigan (2015:23) mendefiisikan membaca nyaring sebagai suatu aktivitas atau kegiatan yang merupakan alat bagi pembaca atau pendengaruntuk menangkap serta memahami informasi, pikiran, dan perasaan penulis. Pembaca nyaring pertama-tama harus mengerti makna serta perasaan yang terkandung dalam bahan bacaan. Pembaca nyaring juga harus memiliki keterampilan menafsirkan bahan bacaan serta kecepatan mata dan pandangan mata. Dalam membaca nyaring, pembaca dituntut untuk memiliki kemampuan mengelompokkan kata-kata dengan baik dan tepat agar jelas maknanya bagi pendengar.

Membaca nyaring merupakan suatu keterampilan yang serba rumit dan kompleks. Dikatakan rumit dan kompleks karena di dalam membaca nyaring diperlukan pemahaman terhadap aksara di atas halam kertas serta memproduksi suara yang tepat dan bermakna. Perlu diingat bahwa membaca nyaring pada hakikatnya merupakan masalah lisan (Tarigan, 2015:24).

Seorang pembaca nyaring yang baik selalu ingin menyampaikan sesuatu/informasi yang penting berupa informasi baru, suatu pengalaman berharga, uraian yang jelas, karakter yang menarik, sekelumit humor yang segar, atau sebait puisi kepada pendengarnya. Agar dapat membaca nyaring dengan

baik pembaca juga dituntut menguasai keterampilan-keterampilan persepsi sehingga dapat memahami kata-kata dengan cepat dan tepat (Tarigan, 2015:27).

2) Membaca dalam Hati

Membaca dalam hati sesuai namanya adalah kegiatan membaca yag dilakukan tanpa bersuara. Dalam membaca dalam hati pembaca menggunakan ingatan visual yang melibatkan pengaktifan mata dan ingatan karena tujuan utamanya adalah untuk memperoleh informasi). Membaca dalam hati dibedakan atas membaca ekstensif dan intensif (Tarigan, 2015: 30-31).

a) Membaca Ekstensif

Membaca ekstensif berarti membaca secara luas, yaitu membaca sebanyak mungkin teks dalam waktu yang singkat. Tujuan dan tuntutan dalam membaca ekstensif adalah memahami isi atau bagian-bagian penting sebuah bacaan secara cepat. Membaca ekstensif meliputi membaca survei, sekilas, dan dangkal.

Membaca survei biasa dilakukan sebelum seorang pembaca melakukan kegiatan membaca. Membaca survei dilakukan untuk meneliti atau mencermati terlebih dahulu bahan bacaan yang akan dipelajari atau ditelaah melalui cara-cara berikut,

(a) memeriksa, meneliti indeks dan daftar kata yang terdapat dalam buku, (b) melihat, memeriksa, meneliti judul-judul bab yang terdat dalam buku, dan (c) memeriksa, meneliti bagan, skema, outline buku.

Membaca sekilas atau skimming adalah jenis membaca yang membuat mata kita bergerak cepat melihat, memperhatikan bahan tertulis untuk mencari serta mendapatkan informasi. Ada tiga tujuan utama dalam membaca sekilas yaitu: (a) untuk memperoleh suatu kesan umum dari suatu bahan bacaan, (b) untuk menemukan hal tertentu dari suatu bahan bacaan, dan (c) untuk menemukan bahan yang diperlukan dalam kajian pustaka.di perpustakaan.

Membaca dangkal bertujuan untuk memperoleh pemahaman yang dangkal yang bersifat luaranyang tidak mendalam dari suatu bahan bacaan. Membaca dangkal biasanya dilakukan untuk tujuan kesenangan, membaca ringan sebagai hiburan di waktu senggang.

Dalam kaitannya dengan membaca ekstensif, Mikulecky (2007:4-5) mengemukakan bagaimana cara memilih buku serta petunjuk dalam membaca

ekstensif. Dalam memilih buku atau bahan bacaan ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan, antara lain sebagai berikut.

(a) Pilihlah buku yang menarik perhatian anda. Guru atau teman sekelas anda mungkin mempunyai saran yang baik, tetapi pilihlah buku yang terbaik bagi anda, bukan bagi teman atau guru anda.

(b) Pilihlah buku utuh, bukan koleksi artikel atau cerita. Membaca buku utuh dengan satu penulis akan membuat anda menjadi merasa senang dengan gaya tulisan dan kosakatanya.

(c) Hindari buku yang menceritakan apa yang anda sudah familiar karena anda sudah membacanya – mungkin dalam bahasa yang berbeda – atau telah melihat gambar hidup yang dibuat berdasarkan cerita itu. Mengetahui apa yang akan terjadi mungkin membuatnya kurang menarik bagi anda.

(d) Evaluasi buku itu. Untuk menemukan penulis dan genre (tipe buku), baca sampul depan dan belakang. Bacalah halaman-halaman pertamanya, untuk menemukan gaya dan subjeknya.

(e) Periksa tingkat kesulitannya. Jika buku itu terlalu mudah, mungkin akan membosankan; jika terlalu sulit mungkin anda menjadi berkecil hati dan berhenti membaca. Untuk menemukan seberapa tingkat kesulitan buku itu bagi anda, perhitungkan sejumlah kata utama pada halaman tertentu yang tidak anda ketahui. (Kata utama adalah kata yang harus anda ketahui dengan tujuan mengikuti makna umumnya) Jika pada setiap halaman anda menemukan lima kata utama yang tidak anda ketahui maknanya, berarti buku itu sulit bagi anda. Jika tidak ada kata utama yang tidak anda ketahui maknanya, berarti buku itu mudah bagi anda.

Selain memperhatikan beberapa hal di atas, Mikulecky (2007:5) memberikan petunjuk atau arahan dalam kaitannya dengan praktik membaca kritis. Berikut disajikan petunjuk untuk sukses dalam membaca kritis yang dikemukakan oleh Mikulecky.

Petunjuk untuk Sukses dalam Membaca Ekstensif

(1) Susunlah tujuan untuk anda sendiri. Tentukan berapa buku yang akan anda baca selama satu semester.

(2) Membacalah secara rutin setiap hari. Jadwalkan waktu dan tempat untuk membaca. Membacalah selama 30 menit setiap saat sehingga anda bisa merasa terlibat di dalam buku yang anda baca.

(3) Bawalah buku anda ke mana saja anda pergi dan bacalah kapan pun anda punya waktu.

(4) Buatlah jurnal. Tulis reaksi atau tanggapan anda terhadap isi buku itu atau pemikiran apa pun yang ditimbulkan oleh bacaan anda.

(5) Ketika anda sudah membaca buku itu sampai selesai, selesaikan pula Lembar Respon Buku, seperti Lembar yang ada pada halaman 24. Kemudian buatlah kesepakatan dengan guru anda untuk mengadakan pertemuan pembahasan buku untuk berbagi pikiran dan reaksi anda terhadap isi buku itu.

b) Membaca Intensif

Membaca intensif pada hakikatnya adalah kegiatan membaca yang bertujuan untuk memahami secara mendalam isi atau informasi dalam bacaan. Tujuan utama membaca intensif terletak pada keberhasilan pembaca dalam memahami secara utuh argumen-argumen yang logis, urutan atau struktur teks, pola-pola simbol, nada tambahan yang bersifat emosional dan sosial, pola-pola sikap dan tujuan penulis, serta sarana linguistik yang digunakan untuk mencapai tujuan. Dalam hubungannya dengan pemahaman isi bacaan ada berbagai faktor yang mempengaruhi, yaitu kecepatan membaca, kejelasan teks bacaan, dan pengenalan pembaca terhadap isi bahan bacaan (Tarigan:2015 37).

Seperti telah diuraikan di atas, membaca intensif dikelompokkan atas dua jenis yaitu membaca telaah isi dan telaah bahasa. Membaca telaah isi diklasifikasikan menjadi membaca teliti, membaca pemahaman, membaca kritis, dan membaca ide, sedangkan membaca telaah bahasa dibedakan atas membaca bahasa dan sastra.

e. Berbagai Jenis Membaca dalam Pembelajaran Keterampilan Membaca di Sekolah

1) Membaca Cepat

Membaca cepat sebagai bagian dari membaca ekstensif adalah kegiatan membaca yang mengutamakan kecepatan dengan tanpa mengabaikan pemahaman. Artinya, dalam proses menbaca kecepatan membaca harus disertai dengan pemahaman isi bacaan secara keseluruhan. Kecepatan membaca juga dipengaruhi oleh berbagai hal seperti tujuan membaca, tingkat keterbacaan, bahan bacaan, teknik atau strategi membaca, motivasi serta hal- hal lain sebagai penentu keberhasilan membaca (Tampubolon, 2015:7).

Untuk mengukur kecepatan membaca seseorang ada berbagai cara yang dapat digunakan berdasar pendapat para ahli. Tampubolon (2015:243-245) mengemukakan bahwa kecepatan membaca seseorang diukur berdasar jumlah kata yang dibaca per menit, sedangkan pemahaman diukur berdasar persentase jawaban benar terhadap pertanyaan isi bacaan. Hasil pengukuran kedua aspek tersebut diintegrasikan sehingga dapat menunjukkan kemampuan membaca secara keseluruhan. Perhitungan tersebut ditunjukkan dengan rumus berikut.

jumlah kata dalam bacaan ----------x persentase pemahaman isi lama membaca dalam sekon:60

Untuk menghitung jumlah kata dalam bacaan dapat dipergunakan cara berikut.

a. Hitung jumlah kata yang terdapat dalam sat ugaris penuh (dari tepi kiri ke tepi kanan pada suatu halaman bacaan). Tuliskan jumlah itu pada selembar kertas catatan. Kata yang bersambung ke baris berikut tidak perlu dihitung.

b. Kemudian hitunglah jumlah baris pada halaman yang bersangkutan dari baris pertama sampai baris terakhir. Baris yang hanya sampai separuh dari Panjang baris atau kurang tidak perlu dihitung.

c. Kalikan jumlah kata a dan jumlah baris pada b. Hasil perkalian inilah jumlah kata (kurang lebih) yang terdapat pada halaman tersebut, Jika bacaan itu terdiri dari beberapa halaman maka jumlah kata ialah hasil kali dari jumlah kata tiap baris, jumlah baris, dan jumlah halaman.

d. Jika bacaan terdiri dari kolom-kolom seperti pada surat kabar, cara tersebut (a,b,c) dapat dipakai tetapi dengan dasar kolom bukan halaman.

Untuk mengukur waktu membaca dipergunakan sekon (detik) karena lama membaca tidak selalu tepat dalam menit. Oleh karena itu, untuk mengukur waktu membaca sebaiknya menggunakan stop watch. Dalam mengukur kemampuan membaca ada dua hal penting yaitu waktu baca dan persentase pemahaman isi. Waktu baca ialah jumlah sekon (detik) yang dipergunakan untuk membaca seluruh bacaan tidak termasuk waktu yang dipakai untuk membaca pertanyaan (jika ada). Persentase pemahaman isi ialah persentase jawaban benar atas pertanyaan- pertanyaan yang tersedia.

Untuk memudahkan perhitungan kemampuan membaca seseorang, berikut disajikan rumus perhitungan kemampuan membaca seseorang dengan menggunakan simbol-simbol agar mudah dipahami  dan digunakan. Rumus tersebut ialah:

2) Membaca Pemahaman

Membaca sebagai salah satu keterampilan reseptif yang bertujuan untuk memahami informasi yang disampaikan oleh penulis melalui bahan bacaan. Membaca pemahaman merupakan proses pemerolehan makna secara aktif dengan melibatkan pengetahuandan pengalaman yang dimilikioleh pembaca dan dihubungkan denga isi bacaan. Hal ini berarti kegiatan membaca pemahaman menghubungkan pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki dengan bacaan sehingga pembaca memahami isi bacaan secara menyeluruh (Somadyo, 2011:10).

Membaca pemahaman adalah membaca dengan cara memahami materi bacaan yang melibatkan asosiasi (kaitan) yang benar antara makna dan pengorganisasian ide, penyimpanan gagasan dan pemakaiannya dalam berbagai aktivitas saat ini atau yang akan datang (Yoakam melalui Ahuja, 2010:50). Dalam membaca pemahaman ada tiga komponen utama komprehensi bacaan, yaitu pengodean kembali, pemerolehan makna leksikal, dan organisasi teks (Golinkoff melalui Zuchdi, 2008:22).

Membaca pemahaman merupakan proses menyadap (extracting) dan mengonstruksi (constructing) makna melalui interaksi dan keterlibatan dengan bahasa penulis. Penggunaan kata extracting ‘menyadap’ dan constructing ‘mengonstruksi’ untuk memberikan tekanan pada pentingnya dan kurang memadainya teks sebagai faktor penentu dalam membaca pemahaman. Pemahaman memerlukan tiga elemen utama, yaitu pembaca yang melakukan pemahaman, teks yang dipahami, dan aktivitas di mana pemahaman menjadi bagiannya (Snow, 2002:11)

Ketiga elemen di atas memiliki batasan atau ruang lingkup masing-masing. Elemen pembaca adalah semua kapasitas, kemampuan, pengetahuan, dan pengalaman yang digunakan seseorang dalam kegiatan membaca. Teks adalah teks cetak atau teks elektronik apa pun. Yang berkenaan dengan aktivitas adalah tujuan, proses, dan konsekuensi yang berhubungan dengan kegiatan membaca.Tiga dimensi tersebut membatasi fenomena yang terjadi di dalam konteks sosiokultural yang lebih besar yang membentuk dan dibentuk oleh pembaca dan yang berinteraksi dengan tiga elemen itu. Pembaca, teks, dan aktivitas juga berinterelasi dengan cara dinamis yang berubah-ubah selama pra-membaca, membaca, dan pasca-membaca. Dalam membaca, kita menganggap ketiganya, masing-masing, sebagai “periode-mikro” (microperiods) karena penting untuk membedakan antara apa yang pembaca bawa ketika membaca dan apa yang pembaca peroleh dari membaca (Snow, 2002:11-12)

Untuk memahami sebuah bacaan, pembaca harus memiliki sejumlah kapasitas dan kemampuan. Hal itu mencakup kapasitas kognitif (misalnya, perhatian, memori, kemampuan analitis kritis, menyimpulkan, kemampuan visualisasi),

motivasi (tujuan membaca, minat terhadap konten yang dibacanya, kelihaian- diri sebagai pembaca), dan berbagai tipe pengetahuan (kosakata, pengetahuan tentang topik dan domain, pengetahuan linguistis dan wacana, pengetahuan strategi pemahaman tertentu).

Ketika pembaca mulai membaca sampai menyelesaikannya kegiatan apa pun berada di tangannya, beberapa pengetahuan dan kemampuan pembaca akan mengalami perubahan. Misalnya, pembaca mungkin mengalami kemajuan domain pengetahuannya selama membaca. Demikian juga, kosakata, pengetahuan kebahasaan atau kewacanaan mungkin juga mengalami kemajuan. Kelancaran juga akan meningkat sebagai fungsi latihan tambahan dalam membaca. Faktor motivasi, misalnya konsep-diri dan ketertarikan pada topik, mungkin berubah pada arah positif atau negatif ketika pengalaman membaca itu berhasil atau tidak berhasil. Sumber perubahan lain yang cukup penting terhadap pengetahuan dan kemampuan adalah pembelajaran yang diterima pembaca.

Fitur teks memiliki pengaruh besar terhadap pemahaman. Pemahaman tidak akan terjadi jika semata-mata menyadap (extracting) makna dari teks. Selama membaca, pembaca mengonstruk gambaran yang berbeda dari teks yang penting untuk pemahaman. Gambaran itu meliputi, misalnya, kode permukaan (susunan kata-kata dalam teks), dasar-dasar teks (unit gagasan yang menggambarkan makna), dan gambaran model mental yang terkandung dalam teks. Teks itu bisa mudah dan bisa sulit, tergantung pada faktor-faktor yang terkandung di dalam teks, tergantung pada hubungan antara teks itu dengan pengetahuan dan kemampuan pembaca , serta tergantung pada aktivitas keterlibatan pembaca. (Snow, 2002: 14)

Membaca tidak terjadi dalam ruang hampa. Membaca dilakukan untuk tujuan tertentu, untuk mencapai beberapa tujuan. Aktivitas membaca merujuk pada dimensi membaca itu. Aktivitas membaca melibatkan satu tujuan atau lebih, beberapa tindakan yang dilakukan untuk memproses teks, dan konsekuensi dari performa aktivitas itu. Sebelum membaca, pembaca memiliki tujuan, yang bisa ditentukan secara eksternal (misalnya, memenuhi tugas kelas) atau ditentukan secara internal (berkeinginan untuk memprogram sebuah VCR).

Tujuan itu dipengaruhi oleh sejumlah variabel motivasional, termasuk minat dan latar belakang pengetahuan terdahulu. Tujuan semula bisa mengalami perubahan selama pembaca melakukan kegiatan membaca. Maksudnya, pembaca mungkin menghadapi informasi yang menimbulkan pertanyaan baru yang membuat tujuan semula menjadi tidak terpenuhi atau tidak relevan lagi (Snow, 2002: 15).

3. Membaca Kritis

Kemampuan membaca kritis adalah kemampuan pembaca mengolah bahan bacaan secara kritis untuk menemukan keseluruhan makna bahan bacaan baik makna tersurat maupun tersirat melalui tahap mengenal, memahami, menganalisis, mensintesis, dan menilai. Mengolah secara kritis artinya dalam proses membaca seorang pembaca tidak hanya menangkap makna yang tersurat tetapi juga menemukan makna antar baris, dan makna di balik baris (Nurhadi, 2010: 59).

Membaca kritis yang dilakukan terhadap teks-teks bacaan bisaanya akan menjadi persiapan dalam menghasilkan tulisan. Perpaduan antara membaca dan menulis ini memiliki banyak keuntungan: Pertama, anda bisa mengembangkan pemikiran tentang what is dan is not sehatnya sebuah bagian penelitian – sesuatu yang esensial ketika anda merencanakan penelitian empirik anda sendiri (misalnya, untuk disertasi). Kedua, anda akan segera mulai mengidentifiksi di mana penelitian yang ada telah mengesampingkan celah yang bisa anda isi dengan penelitian anda. Ketiga, perhatian yang anda berikan pada teks dari penulis yang berbeda secara alami akan mempengaruhi kualitas tulisan anda sendiri. Keterampilan membaca kritis menaksir seberapa besar penulis telah memberikan pembenaran yang cukup terhadap klaim yang dibuatnya. Penaksiran itu bergantung sebagian pada apa yang telah dikemukakan penulis dan sebagian pada pengetahuan, pengalaman, dan kesimpulan lain yang relevan, yang bisa anda bawa ke dalam kerangka itu (Poulson, 2004:7)

Selanjutnya, Nurhadi (2010:59) mengemukakan berbagai ciri pembaca kritis. Seseorang dikatakan sebagai pembaca kritis bila: (1) dalam kegiatan membaca selalu melibatkan kemampuan berpikir kritis, (2) tidak begitu saja menerima apa

yang dikatakan penulis, (3) membaca kritis adalah usaha mencari kebenaran yang hakiki, (4) membaca kritis selalu terlibat dengan permasalahan mengenai gagasan dalam bacaan, (5) membaca kritis adalah mengolah bahan bacaan bukan mengingat, (6) hasil membaca untuk diingat dan diterapkan.

Di dalam membaca kritis ada berbagai jenis keterampilan yang dilakukan. Keterampilan-keterampilan tersebut berkaitan dengan usaha menemukan makna yang tersirat dalam bacaan. Beberapa jenis keterampilan tersebut ialah:

(1) menemukan informasi faktual, (2) menemukan ide pokok yang tersirat, (3) menemukan unsururutan, perbandingan, dan sebab akibat yang tersirat, (4) menemukan suasana, (5) membuat simpulan, (6) menemukan tujuan penulis,

(7) memprediksi dampak, (8) membedakan opini dan fakta, (9) membedakan realitas dan fantasi, (10) mengikuti petunjuk, (11) menemukan unsur propaganda, (12) menilai keutuhan gagasan, (13) menilai kelengkapan antargagasan, (14) menilai kesesuaian antargagasan, (15) menilai keruntutan gagasan, (16) menilai kesesuaian antara judul dan isi bacaan, (17) membuat kerangka bahan bacaan, dan (17) menemukan tema karya sastra (Nurhadi, 2010: 59-60).

F. Metode dan Strategi Membaca

Ada berbagai metode dan strategi membaca yang dapat digunakan dalam prembelajaran membaca di sekolah. Westwood (2001: 51) mengemukakan berbagai metode dan strategi yang dapat digunakan secara fleksibel untuk semua kelas atau kelompok anak-anak. Metode dan strategi itu dapat dengan mudah diadaptasi dan diterapkan dengan cara yang lebih terstruktur ketika melakukan tutorial terhadap anak-anak secara individual, yang mengalami kesulitan belajar. Di dalam kasus apa pun, pembelajaran membaca dianggap sebagai proses berpikir; dengan penekanan pada pemahaman. Berikut disajikan berbagai metode dan strategi membaca seperti dikemukakan Westwood (2001:59-63).

1. DRTA (Directed reading–thinking activity)

Pendekatan DRTA didasarkan pada hubungan langsung antara proses berpikir dan aktivitas membaca. DRTA merupakan strategi pengajaran yang dirancang untuk memberikan pengalaman kepada anak dalam memprediksi apa yang

akan dikatakan oleh penulis, membaca teks untuk mengonfirmasi atau meninjau kembali prediksi dan mengelaborasi respon (Walker melaui Westwood, 2001). Berbagai pertanyaan yang disampaikan guru digunakan untuk mendorong anak berpikir secara analitis dan kritis mengenai “apa” yang mereka baca (Rubin, melalui Westwood, 2001)).

Proses pembelajaran dengan pendekatan DRTA melibatkan pembaca dalam tiga langkah dasar:

1) memprediksi beberapa informasi yang mungkin ditemukan atau membuat beberapa pertanyaan yang diharapkan mendapatkan jawaban dari teks.

2) membaca teks dengan cermat, dengan senantiasa memikirkan apa yang sudah diprediksikan dan dipertanyakan.

3) membuktikan – dengan disertai bukti-bukti yang diperoleh dari teks – apa yang telah diprediksi dan dipertanyakan serta membuat kesimpulan- kesimpulan yang didasarkan pada hasil membaca

Keterlibatan guru, sebagian besar, mengemukakan pertanyaan yang terfokus dan relevan untuk menggugah pikiran anak:

• What do you think will happen?

• What is this going to be about?

• How would she be feeling?

• Why do you think that?

• Can you prove what you say from something in the book?

Pendekatan DRTA bisa digunakan untuk anak dengan tingkat perkembangan membaca apa pun. Pendekatan itu mudah diakomodasikan pada level sederhana dalam pelajaran berbagi-buku (shared book) atau level yang melibatkan proses berpikir pada tingkat yang lebih tinggi – yaitu bagi pembaca yang lebih dewasa – ketika mereka memproses teks yang lebih sulit. Untuk konteks remedial, DRTA bisa digunakan untuk melibatkan pembaca secara lebih aktif dalam memikirkan apa yang sudah dibacanya, sesudah berjuang mendekode teks yang dibacanya. Bagi beberapa anak yang mengalami kesulitan membaca, untuk mendapatkan keuntungan besar dari DRTA biasanya mereka perlu melakukan baca-ulang agar kelancarannya dalam membaca mengalami peningkatan sehingga usaha kognitifnya bisa mencapai makna setiap kata.

2) Strategi PQRS

Pada dasarnya, strategi PQRS itu hanya sederhana; rencana tindakan langkah- demi-langkah yang mungkin dipakai anak ketika dihadapkan pada tugas membaca (reading assignment) (Westwood, 1997). Langkah-langkah itu dapat dikemukakan berikut ini.

a) P = preview (meninjau). 

Anak melakukan scaning terhadap sebuah bab atau halaman, untuk menemukan judul, subjudul, diagram, atau gambar. Dengan cara itu, kemungkinan kesan umum mengenai seperti apa teks itu dapat diperoleh. Tanyakan kepada anak atau mintalah anak untuk bertanya pada diri sendiri, “Apa yang sudah saya ketahui tentang teks itu?”

b) Q = question (mempertanyakan). 

Anak membuat beberapa pertanyaan di dalam hati.

• Apa yang dapat saya harapkan ketika belajar dari teks itu?

• Adakah informasi yang bisa saya peroleh mengenai berapa banyak butir-butir pembiayaan?

• Adakah informasi yang bisa menjawab pertanyaan berikutnya yang ada di dalam lembar pekerjaan rumah saya?

• Apakah saya perlu membaca bagian teks itu secara cermat, atau bisakah jika saya hanya melakukan skiming?

c) R = read (membaca) 

Anak membaca halaman itu dengan cermat untuk mendapatkan informasi. Di samping itu, anak bisa melakukan baca-ulang pada bagian-bagian yang sulit. Tanyakan;

• Apakah pertanyaan saya sudah terjawab?

• Haruskah saya mengeceknya lagi?

• Apakah saya sudah memahami apa saja yang ada di halaman itu?

d) S = summarise (meringkas). 

Anak menyatakan dengan singkat dengan kata- katanya sendiri butir-butir utama yang ada di dalam teks atau menarik kesimpulan atas apa yang sudah dibacanya.

Sumber:  Sudiati.  2019.  Pendalaman  Materi  Bahasa  Indonesia  Modul  4 Keterampilan Berbahasa Reseptif. Kemdikbud.

Posting Komentar untuk "Keterampilan Bahasa Reseptif - Modul 4 PPPK Bahasa Indonesia"