Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kesastraan - Modul 3 PPPK Bahasa Indonesia

Kesastraan - Modul 3 PPPK Bahasa Indonesia - hasriani.com


Kesastraan - Modul 3 PPPK Bahasa Indonesia - Penjabaran model kompetensi yang dikembangkan pada kompetensi guru bidang studi lebih spesifik pada pembelajaran 3. Kesastraan, ada beberapa kompetensi guru bidang studi yang akan dicapai pada pembelajaran ini, kompetensi yang akan dicapai pada pembelajaran ini adalah guru P3K mampu:

1. Mampu mengonstruk konsep puisi untuk pembelajaran Bahasa Indonesia.

2. Mampu  mengonstruk  konsep  prosa  fiksi  untuk  pembelajaran  Bahasa Indonesia.

3. Mampu mengonstruk konsep drama untuk pembelajaran Bahasa Indonesia.

Dalam rangka mencapai komptensi guru bidang studi, maka dikembangkanlah indikator-indikator yang sesuai dengan tuntutan kompetensi guru bidang studi.

Indikator  pencapaian  komptensi  yang  akan  dicapai  dalam  pembelajaran 3. Kesastraan adalah sebagai berikut.

1. Peserta mampu menjelaskan hakikat puisi.

2. Peserta mampu menjelaskan ciri, struktur, isi puisi rakyat.

3. Peserta mampu menjelaskan unsur pembangun fisik dan batin puisi.

4. Peserta mampu menjelaskan prosedur menulis puisi dengan memperhatikan unsur-unsur pembangun.

5. Peserta mampu mendemonstrasikan puisi.

6. Peserta mampu menjelaskan hakikat prosa fiksi

7. Peserta mampu menjelaskan unsur pembangun prosa fiksi

8. Peserta mampu menjelaskan jenis prosa fiksi

9. mampu menulis prosa fiksi

10. Peserta mampu menjelaskan hakikat drama.

11. Peserta mampu menjelaskan unsur pembangun drama.

12. Peserta mampu menjelaskan unsur pementasan drama.

13. Peserta mampu menjelaskan jenis drama.

14. Peserta mampu mengapresiasi drama dalam aktivitas menginterpretasi drama, merefleksi nilai-nilai drama, menulis teks drama, dan mementaskan drama.

1. Genre Puisi

a. Hakikat Puisi

Sebagai salah satu genre sastra, puisi memiliki arti penting bagi kehidupan. Sejalan dengan fungsi sastra yang disampaikan oleh Aristoteles, yaitu dulce et utile yang berarti menghibur dan bermanfaat, puisi dapat menghibur sekaligus bermanfaat bagi manusia. 

Puisi dapat menghibur sehingga dengan membaca atau menyaksikan pembacaan dan musikalisasinya, kita akan merasa senang. Puisi juga bermanfaat karena puisi dapat menyuguhkan informasi yang kita butuhkan, memberikan pesan atau amanat yang mengayakan pengalaman jiwa kita, dan membangkitkan emosi.

Perkembangan puisi di Indonesia menunjukkan keberagaman dan kekayaan budaya. Kita memiliki pantun, syair, dan gurindam yang indah dan bernilai budaya. Setelah itu, kita juga memiliki puisi-puisi yang berkembang lebih bervariasi karya penyair-penyair yang hebat, yang berkisah tentang perjuangan, lingkungan hidup, kondisi sosial budaya, kritik sosial, dan sebagainya.

Pendapat Suminto A. Sayuti mewakili definisi puisi yang berkembang saat ini. Menurut Sayuti (2002:3), puisi adalah sebentuk pengucapan bahasa yang mempertimbangkan adanya aspek bunyi-bunyi di dalamnya, yang mengungkapkan pengalaman imajinatif, emosional, dan intelektual penyair yang ditimba dari kehidupan individual dan sosialnya, yang diungkapkan dengan teknik pilihan tertentu, sehingga puisi itu mampu membangkitkan pengalaman tertentu pula dalam diri pembaca atau pendengar-pendengarnya.

Puisi menggunakan medium bahasa. Bahasa dalam konteks ini tidak selalu dalam bentuk kata, frase, kalimat, atau paragraf. Bahasa juga bisa berupa simbol tipografi yang bermakna. Puisi memiliki unsur bunyi, termasuk di dalamnya rima atau persamaan bunyi dalam puisi.

Puisi mengungkapkan pengalaman imajinatif, emosional, dan intelektual penyair. Gagasan penyair juga bisa berasal dari pengalaman emosionalnya.

Semua pengalaman itu akan dikemas secara imajinatif menjadi sebuah puisi. Setiap penyair menulis puisi dengan teknik yang berbeda-beda. Hal ini sejalan dengan proses kreatifnya yang berbeda-beda pula. Hal ini menyebabkan setiap penyair memiliki style atau gaya yang berbeda-beda dalam penulisan puisinya. 

Sapardi Djoko Damono sering menulis puisi yang pendek tetapi dalam dengan diksi yang multitafsir. WS Rendra sering menulis puisi yang panjang dalam bentuk balada dengan diksi yang lebih lugas. Darmanto Jatman sering menulis puisi dengan diksi dari berbagai macam bahasa.

b. Ciri, Struktur, dan Isi Puisi Rakyat

Puisi rakyat adalah kesusastraan rakyat yang memiliki bentuk tertentu, biasanya terdiri dari beberapa deret kalimat, ada yang berdasarkan mantra, ada yang berdasarkan panjang pendek suku kata, lemah tekanan suara, atau hanya berdasarkan irama (Danandjaja, 1991:46).

Puisi rakyat bersifat anonim atau tidak diketahui pengarangnya dan berkembang di kalangan rakyat secara lisan. Karena itulah, puisi ini disebut puisi rakyat. 

Contoh puisi rakyat adalah sajak anak-anak yang dikenal rakyat untuk menghibur pok ame-ame/balang kupu-kupu/tepok rame-rame/malam minum cucuuuuuuu (Danandjaja, 1991:47-48). Dalam perkembangannya sajak tersebut berkembang menjadi pok ame-ame/belalang kupu-kupu/siang makan nasi/kalau malam minum susu/.

Puisi rakyat yang dipelajari di antaranya adalah pantun, gurindam, dan syair. Dalam kategori puisi berdasarkan perkembangan sejarah sastra, puisi tersebut tergolong dalam puisi lama. Puisi lama terikat oleh berbagai aturan, seperti rima atau persamaan bunyi, jumlah suku kata dalam setiap baris, dan jumlah baris dalam setiap bait.

1) Pantun

Pantun merupakan salah satu warisan nenek moyang. Pantun ini berkembang hingga sekarang. Pantun ini tumbuh dan berkembang dalam budaya masyarakat. Pantun sering digunakan untuk sambutan, ceramah, dan khotbah sehingga menarik (Gawa, 2009:xiv). Perhatikan pantun berikut!

Banyak candi di Pulau Bali Candi Dasa paling terkenal Kalau beta yang nona cari

Jangan pura-pura tak kenal (Gawa, 2009:2)

Dengan mencermati pantun di atas, ciri-ciri pantun adalah sebagai berikut.

a) Setiap baris terdiri atas 8-12 suku kata. Pada pantun di atas, setiap baris terdiri dari 9 suku kata.

b) Setiap bait terdiri atas 4 baris

c) Dua baris pertama (1 dan 2) merupakan sampiran, sedangkan dua baris berikutnya (3 dan 4) merupakan isi pantun. Sampiran dan isi pantun tidak selalu saling berkaitan.

d) Sampiran dan isi pantun ini membentuk persajakan atau rima akhir a- b-a-b.

Sajak dalam pantun bisa berupa sajak sempurna yang perulangan suku katanya sama, misalnya mati-peti, lempar-ipar, emas-cemas, dan sebagainya. Sajak dalam pantun juga bisa berupa sajak paruh atau sajak tak sempurna yang perulangan katanya hanya separuh yang sama, misalnya kejar-belajar, sakit- sulit, sepatu-maju, dan sebagainya. Pada pantun di atas, persajakan tampak pada kata ‘Bali’ dan ‘cari’ pada bait 1 dan 3, serta kata ‘terkenal’ dan ‘kenal’ pada bait 2 dan 4.

Berdasarkan isinya, ada berbagai jenis pantun. Berikut ini pembagian jenis pantun menurut Redaksi Balai Pustaka (2011:xiii).

(1) Pantun anak-anak, terdiri atas pantun bersukacita dan pantun berdukacita

(2) Pantun orang muda, terdiri atas pantun dagang atau nasib, pantun muda, dan pantun jenaka. Pantun muda terdiri atas pantun berkenalan, pantun berkasih- kasihan, pantun perceraian, dan pantun beriba hati.

(3) Pantun orang tua, terdiri atas pantun nasihat, pantun adat, dan pantun agama. Pantun di atas tergolong pantun anak muda yang berisi perkenalan laki- laki dan perempuan. Hal ini tampak pada bagian isi bait 3 dan 4 /Kalau beta yang nona cari/Jangan pura-pura tak kenal/.

2) Karmina

Karmina merupakan pantun pendek yang hanya terdiri dari 2 baris. Karmina sering juga disebut pantun kilat. Baris pertama merupakan sampiran. Baris kedua merupakan isi. Jumlah suku kata setiap baris 8-12. Karmina juga memiliki sajak yang terletak di tengah dan di akhir. 

Berdasarkan bunyinya, sajak tersebut berupa sajak sempurna dan sajak paruh. Perhatikan contoh karmina berikut!

Burung merpati terbang tinggi ke awan Manusia mati membawa bekal amalan

Jangan lupa setia pada sahabat Banyak dosa yuk segera taubat

Dalam karmina di atas, kata ‘merpati’ bersajak sempurna dengan ‘mati’, kata ‘awan’ bersajak paruh dengan ‘amalan’, kata ‘lupa’ bersajak paruh dengan ‘dosa’, dan kata ‘sahabat’ bersajak paruh dengan ‘taubat’. Isi karmina dapat dilihat dari baris 2. 

Karmina di atas / Manusia mati membawa bekal amalan/ berisi nasihat bahwa manusia nanti akan mati dan akan membawa bekal amalan kebaikan, sedangkan / Banyak dosa yuk segera taubat/ berisi nasihat agar kita segera bertaubat untuk menghapus dosa.

3) Gurindam

Menurut Waluyo (2003:46), gurindam merupakan puisi yang terdiri dari dua baris yang kesemuanya merupakan isi dan menunjukkan hubungan sebab akibat. Kebanyakan gurindam bersajak sempurna a-a, namun ada pula yang bersajak paruh a-b. 

Gurindam ini biasanya berisi nasihat yang bermanfaat untuk kehidupan. Penyair gurindam yang sangat terkenal ialah Raja Ali Haji yang telah menulis Gurindam XII yang memiliki 12 pasal. Berikut ini contoh yang dipetik dari Gurindam XII pasal pertama.

Gurindam XII Pasal Pertama

Karya Raja Ali Haji

Barang siapa tiada memegang agama, Sekali-kali tiada boleh dibilangkan nama

Barang siapa mengenal yang empat, Maka ia itulah orang ma’rifat

Barang siapa mengenal Allah

Suruh dan tegaknya tiada ia menyalah

Barang siapa mengenal diri,

Maka telah mengenal akan Tuhan yang bahri

Barang siapa mengenal dunia, Tahulah ia barang yang terpedaya

Barang siapa mengenal akhirat, Tahulah ia dunia mudharat

Gurindam di atas setiap bait terdiri terdiri dari 2 baris dengan sajak a-a (agama- nama, empat-ma’rifat, Allah-menyalah, diri-bahri, dunia-terpedaya, akhirat- mudharat). 

Gurindam tersebut berisi nasihat agar manusia mengenal Allah, diri, dunia, dan akhirat, serta berpegang teguh pada agama dan Tuhannya agar selamat hidup di dunia dan akhirat.

4) Syair

Syair merupakan puisi lama yang berasal dari Arab dan berkembang di kalangan masyarakat Melayu. Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi dan Hamzah Fansuri merupakan penggubah syair yang terkenal di Indonesia. 

Beberapa karyanya di antaranya adalah Syair Perihal Singapura Dimakan Api karya Abdullah bin Abdul kadir Munsyi dan Syair Perahu, Syair Dagang dan Syair si Burung Pingai karya Hamzah Fansuri. Syair terdiri atas beberapa bait yang merupakan satu rangkaian cerita yang utuh.

Perhatikan Syair Perahu karya Hamzah Fansuri berikut ini!

SYAIR PERAHU (Karya Hamzah Fansuri)

Inilah gerangan suatu madah Mengarangkan syair terlalu indah Membetulkan jalan tempat berpindah, Disanalah I’tikaf di perbetul sesudah

Wahai muda, kenali dirimu, Ialah perahu tamsil tubuhmu, Tiadalah berapa lama hidupmu, Ke akhirat jua kekal diammu.

Setiap bait syair tersebut terdiri dari 4 baris. Setiap baris terdiri atas 8-12 suku kata. Syair tersebut bersajak sama a-a-a-a, yaitu persajakan kata ‘madah- indah- berpindah-sesudah’ pada bait pertama dan ‘dirimu-tubuhmu-hidupmu- diammu’ pada bait kedua. 

Syair tersebut tidak memiliki sampiran karena semua baris merupakan isi yang membentuk satu rangkaian pesan yang utuh. Di bait pertama, penulis ingin menulis sebuah syair dengan kata-kata indah tentang perjalanan hidup manusia mencapai kemenangan akhirat. 

Di bait kedua, penulis mengajak kita untuk mengenali diri dengan cara mengibaratkan diri kita sebagai perahu. Penulis juga berpesan bahwa kehidupan di dunia ini fana dan kehidupan akhiratlah yang kekal.

c. Unsur Pembangun Puisi

Unsur pembangun puisi terdiri dari unsur fisik dan unsur batin. Unsur fisik adalah unsur yang secara fisik tampak dapat dilihat, seperti rima, gaya bahasa, imaji, diksi, struktur, dan perwajahan. Rima, gaya bahasa, imaji, dan diksi tampak melalui kata atau frase yang digunakan dalam puisi. 

Perwajahan puisi tampak melalui bentuk penyajian puisi. Unsur batin adalah unsur yang ada dalam batin puisi, yaitu berupa tema, feeling (perasaan), nada, dan amanat. Unsur fisik dan unsur batin tersebut saling berkaitan. Pembaca bisa menemukan unsur batin puisi setelah memahami makna dalam setiap diksi, gaya bahasa, atau perwajahannya.

1) Unsur Fisik Puisi

a)  Rima (Persajakan)

Menurut Sayuti (2008:104), rima atau persajakan merupakan perulangan bunyi yang sama dalam puisi. Pengertian ini dapat diperluas sehingga persajakan dapat diartikan sebagai kesamaan dan atau kemiripan bunyi tertentu dalam dua kata atau lebih, baik yang berada di akhir kata, maupun yang berupa perulangan bunyi- bunyi yang sama yang disusun pada jarak atau rentangan tertentu secara teratur.

Berdasarkan pengertian tersebut, persajakan dalam puisi pun dapat diklasifikasikan. Dilihat dari segi bunyi itu sendiri dikenal adanya sajak sempurna, sajak paruh, sajak mutlak, aliterasi dan asonansi; dari posisi kata yang mengandung dikenal adanya sajak awal, sajak tengah (sajak dalam), dan sajak akhir; dan dari segi hubungan antarbaris dalam tiap bait dikenal adanya sajak merata (terus), sajak berselang, sajak berangkai, dan sajak berpeluk (Sayuti, 2008: 105).

Sajak sempurna muncul apabila seluruh suku akhirnya berirama sama, contoh: peti – hati. Sajak paruh muncul apabila sebagian atau separuh suku akhirnya berirama sama, contoh: gunung – pelindung. Sajak mutlak muncul apabila beberapa kata persis sebunyi, contoh jua-jua. Untuk memahami jenis persajakan berdasar bunyi ini, perhatikan contoh puisi berikut!

BULAN RUWAH (karya Subagyo Sastrowardoyo)

....

Di yaumulakhir roh kita dari kubur

akan keluar berupa kelelawar

dan berebut menyebut nama Allah dengan cicit suara kehausan darah

Dalam puisi di atas ditemukan sajak sempurna, yaitu kata ‘berebut’ dan menyebut’. Dalam puisi tersebut juga ditemukan sajak paruh, yaitu pada kata ‘keluar’ dan ‘kelelawar’ dan kata ‘Allah’ dan ‘darah’.

Sajak mutlak tampak dalam perulangan kata ‘jua’ dalam puisi berikut.

MENDATANG-DATANG JUA (karya A.M. Daeng Myala)

Mendatang-datang jua Kenangan lama lampau Menghilang muncul jua Yang dulu sinau silau

Membayang rupa jua Adi kanda lama lalu Membuat hati jua Layu lipu rindu-sendu

Sajak awal atau anafora adalah ulangan pola bunyi di awal baris. Sajak tengah adalah persamaan bunyi yang terdapat di tengah baris di antara dua baris atau lebih (berupa kata atau suku kata). Sajak dalam adalah persamaan bunyi kata yang terdapat dalam satu baris. Sajak akhir adalah persamaan bunyi yang terdapat di akhir baris. Untuk lebih memahami jenis persajakan berdasarkan posisi kata, perhatikan contoh puisi berikut!

PERJALANAN KUBUR (karya Sutardji Calzoum Bachri)

...

sungai pergi ke laut membawa kubur-kubur laut pergi ke laut membawa kubur-kubur awan pergi ke hujan membawa kubur-kubur hujan pergi ke akar ke pohon ke bunga-bunga membawa kuburmu alina

Dalam puisi “Perjalanan Kubur” karya Sutardji Calzoum Bachri di atas ditemukan sajak tengah dengan perulangan kata “pergi ke”. Posisi kata yang diulang berada di tengah baris sehingga  disebut sajak  tengah. Selain itu, dalam puisi juga ditemukan sajak akhir dengan perulangan kata “membawa kubur-kubur”. 

Perulangan kata yang diulang berada di akhir baris sehingga disebut sajak akhir. Sajak merata (terus) adalah persajakan dengan pola a-a-a-a. Sajak berselang adalah persajakan dengan pola a-b-a-b. Sajak berangkai adalah persajakan dengan pola a-a-b-b. Sajak berpeluk adalah persajakan dengan pola a-b-b-a. Untuk memahami jenis persajakan berdasar hubungan antarbaris ini, perhatikan puisi berikut!

IBUKOTA SENDJA (karya Toto Sudarto Bachtiar)

Klakson dan lontjeng bunji bergiliran

Dalam penghidupan sehari-hari, kehidupan sehari-hari Antara kuli-kuli jang kembali

Dan perempuan mendaki tepi sungai kesajangan

Serta anak-anak berenangan tertawa tak berdosa Di bawah bajangan samar istana kedjang

Lajung-lajung sendja melambung hilang Dalam hitam malam mendjulur tergesa

Puisi di atas ditulis tahun 1951 sehingga masih menggunakan ejaan lama. Bait pertama dan kedua puisi tersebut memiliki sajak berpeluk dengan pola a-b-b- a. Pada bait pertama pola a-b-b-a tampak pada persajakan kata ‘bergiliran’, ‘hari’, ‘kembali’, dan ‘kesajangan’. Dilihat dari bunyinya, kata ‘bergiliran’ dan ‘kesajangan’ merupakan sajak paruh, begitu pula dengan kata ‘hari’ dan ‘kembali.

Pada bait kedua, pola a-b-b-a tampak pada persajakan ‘berdosa’, ‘kedjang’, ‘hilang’, dan ‘tergesa’. Dilihat dari bunyinya, kata ‘berdosa’ dan ‘tergesa’ merupakan sajak sempurna, sedangkan kata ‘kedjang’ dan ‘hilang’ merupakan sajak paruh.

2. Diksi

Diksi merupakan pemilihan kata yang dilakukan oleh penyair untuk mengekspresikan gagasan dan perasaan-perasaan. Fungsi diksi dalam puisi merupakan sarana yang menghubungkan pembaca dengan gagasan penyair dan dunia intuisi penyair, menciptakan kesan hidup dalam puisi. Diksi dalam puisi menjadi ciri khas penyair. Bahasa puisi bersifat konotatif dan estetis. Untuk memahami puisi, pembaca harus memahami makna diksi ini. Perhatikan puisi berikut ini!

HATIKU SELEMBAR DAUN (karya Sapardi Djoko Damono) hatiku selembar daun melayang jatuh di rumput;

nanti dulu, biarkan aku sejenak terbaring di sini;

ada yang masih ingin kupandang, yang selama ini senantiasa luput; sesaat adalah abadi sebelum kausapu tamanmu setiap pagi.

3. Gaya Bahasa

Salah satu keindahan puisi terletak pada gaya bahasanya. Gaya bahasa yang sering muncul dalam puisi antara  lain simile,  metafora, metonimi, sinekdok, personifikasi, repetisi, pertanyaan retoris, dan ironi (Sayuti, 2002).

a. Simile, yaitu membandingkan satu hal dengan hal lain dengan kata-kata pembanding, yaitu seperti, bagai, laksana, semisal, seumpama, sepantun, sebagai, serupa, bak, dan sebagainya. Bentuk pembandingannya eksplisit.

b. Metafora, yaitu menyatakan sesuatu sebagai hal yang sebanding dengan hal lain yang sesungguhnya tidak sama. Bentuk pembandingannya implisit.

c. Metonimi, yaitu pemanfaatan ciri atau sifat suatu hal yang erat hubungannya.

d. Sinekdok, yaitu bahasa viguratif yang menyebutkan suatu bagian penting dari suatu benda atau hal itu sendiri. pars prototo (penyebutan sebagian dari suatu hal untuk menyebutkan keseluruhan) dan totum pro parte (penyebutan keseluruhan dari suatu benda atau hal untuk sebagiannya).

e. Personifikasi, yaitu mempersamakan sesuatu benda dengan manusia.

f. Repetisi berfungsi sebagai penekan dan melukiskan keadaan atau peristiwa yang terjadi secara terus menerus.

g. Pertanyaan retoris, merupakan sarana retorik berbentuk pertanyaan yang tanpa perlu dijawab karena jawabannya sudah tersirat dalam jalinan konteks yang tersedia atau jawabannya diserahkan sepenuhnya kepada pembaca atau pendengar.

h. Ironi, merupakan bentuk pengucapan kata-kata yang bertentangan dengan maksud sebenarnya, dan biasanya dimaksudkan untuk menyindiri atau mengejek.

Perhatikan puisi-puisi berikut untuk memahami gaya bahasa tersebut!

IBU (Karya D. Zawawi Imron) ibu adalah gua pertapaanku

dan ibulah yang meletakkan aku di sini

saat bunga kembang menyemerbak bau sayang ibu menunjuk ke langit, kemudian ke bumi

aku mengangguk meskipun kurang mengerti bila kasihmu ibarat samudra

sempit lautan teduh

tempatku mandi, mencuci lumut pada diri 

tempatku berlayar, menebar pukat dan melempar sauh lokan-lokan, mutiara dan kembang laut semua bagiku kalau ikut ujian lalu ditanya tentang pahlawan namamu ibu, yang kan kusebut paling dahulu

lantaran aku tahu

engkau ibu dan aku anakmu

bila aku berlayar lalu datang angin sakal Tuhan yang ibu tunjukkan telah kukenal

ibulah itu, bidadari yang berselendang bianglala sesekali datang padaku menyuruhku menulis langit biru dengan sajakku

(1966)

Dalam puisi tersebut banyak ditemukan metafora. Ibu digambarkan dengan metafora ‘gua pertapaanku’ yang berarti tempat bersemayam saat belum terlahir dan ‘bidadari yang berselendang bianglala’ yang merupakan penggambaran ibu yang sangat sempurna seperti bidadari berselendang pelangi. 

Metafora juga tampak pada baris sebelumnya /bila aku berlayar lalu datang angin sakal/. Dalam baris ini ‘berlayar’ berarti mengarungi kehidupan di dunia, sedangkan ‘angin sakal’ berarti ujian atau musibah kehidupan. 

Dalam puisi tersebut juga terdapat gaya bahasa simile pada baris ‘bila kasihmu ibarat samudra’ dengan kata pembanding ‘ibarat’. Ibu diumpamakan seperti samudra yang luas.

DARI BENTANGAN LANGIT (karya Emha Ainun Nadjib) Dari bentangan langit yang semu

Ia, kemarau itu, datang kepadamu Tumbuh perlahan.

Berhembus amat Panjang Menyapu lautan.

Mengekal tanah berbongkahan menyapu hutan! Mengekal tanah berbongkahan!

datang kepadamu, Ia, kemarau itu dari Tuhan, yang senantia diam dari tangan-Nya.

Dari Tangan yang dingin dan tak menyapa yang senyap. Yang tak menoleh barang sekejap.

Puisi di atas memiliki banyak sekali personifikasi yang dikembangkan dari kata ‘kemarau’ dan disandingkan dengan dengan kata kerja ‘datang’, ‘tumbuh’, ‘menyapu’ dan ‘mengekal’. Dalam hal ini kemarau digambarkan seperti benda hidup.

4. Imaji /Citraan

Citraan merupakan rangkaian kata yang mampu menggugah pengalaman keindraan (membentuk gambaran angan-angan). Gambar yang muncul dalam angan-angan disebut citra (imaji). Sesuatu itu tergambar dengan sarana indra. Karena itu, jenis citraan sellau dikaitkan dengan indra ini. Berikut ini enam jenis citraan dalam puisi.

a) Citraan visual (visual imagery), yaitu citraan yang berhubungan dengan indera penglihatan, contoh kata ‘daun’, ‘pohon’, ‘langit’, ‘pelangi’, dan sebagainya.

b) Citraan auditif (auditory imagery), yaitu citraan yang berhubungan dengan indera pendengaran, misalnya kata ‘ritmis’, ‘gemericik’, ‘denting’, dan sebagainya.

c) Citraan kinestetik/gerak (kinaesthetic/movement imagery), yaitu citraan yang berhubungan dengan indera gerak, misalnya kata ‘melompat’, ‘berlari’, ‘beranjak’, dan sebagainya.

d) Citraan peraba (thermal imagery), yaitu citraan yang berhubungan dengan indera peraba, misalnya kata ‘prasasti’, ‘stupa’, dan sebagainya.

e) Citraan penciuman, yaitu citraan yang berhubungan dengan indera penciuman, misalnya kata ‘aroma’, ‘bangkai’, ‘melati’, dan sebagainya.

f) Citraan pencecapan, yaitu citraan yang berhubungan dengan indera pencecapan, misalnya kata ‘getir’, ‘pahit’, ‘manis’, dan sebagainya.

5. Perwajahan/ Tipografi

Perwajahan merupakan bagian dari wujud visual puisi. Hal ini terkait dengan pengaturan bait dan baris dalam puisi. Ada puisi yang terdiri dari beberapa bait dengan jumlah baris yang sama. Ada puisi yang hanya terdiri dari satu bait yang sangat panjang. Ada juga puisi yang hanya terdiri dari satu bait yang sangat pendek. Selain itu, perwajahan juga dapat dikaitkan dengan tipografi atau bentuk puisi. Ada banyak puisi yang memiliki tipografi yang biasa dengan pengaturan bait dan baris yang teratur, tetapi ada juga puisi dengan bentuk yang menyerupai sebuah benda. Bandingkan perwajahan dalam puisi berikut!

HATIKU SELEMBAR DAUN (karya Sapardi Djoko Damono) hatiku selembar daun melayang jatuh di rumput;

nanti dulu, biarkan aku sejenak terbaring di sini;

ada yang masih ingin kupandang, yang selama ini senantiasa luput; sesaat adalah abadi sebelum kausapu tamanmu setiap pagi.

MAUT (karya Ibrahim Sattah)

dia diamdiam diamdiam dia dia diamdiam diamdiam dia diamdiam diamdiam dia dia diamdiam diamdiam dia dia diamdiam diamdiam dia

dia diamdiam diamdiam maut

Puisi “Maut” karya Ibrahim Sattah tersebut berbentuk segitiga terbalik. Diksi yang digunakan hanya terdiri dari tiga kata,  yaitu  ‘maut’,  ‘dia’,  dan ‘diamdiam’. Dari diksi yang digunakan, isi puisi ini mudah ditangkap pembaca, yaitu maut itu datangnya diam-diam. Penulisan ‘diamdiam’ tanpa tanda penghubung seakan memberi penegasan bahwa kehidupan dunia dan setelahnya itu sangat dekat. Tipografi segitiga terbalik yang berujung pada kata ‘maut’ juga menegaskan pesan bahwa kehidupan manusia akan sampai pada titik kematian.

2. Unsur Batin Puisi

Unsur batin puisi puisi merupakan pikiran perasaan yang diungkapkan penyairnya (Waluyo, 1995:47). Unsur batin ini merupakan makna yang ingin disampaikan penyair dalam puisinya. Makna puisi ini tersurat di balik unsur fisiknya. I.A. Richards (melalui Waluyo, 1995:180-181) menyebutkan makna atau stuktur batin puisi itu ada empat yaitu tema (sense), perasaan penyair (feeling), nada atau sikap penyair terhadap pembaca (tone), amanat (intention). Keempat hal tersebut akan dibahas sebagai berikut.

a. Tema (Sense)

Tema merupakan gagasan pokok atau subject matter yang dikemukakan penyair (Waluyo, 1995:106). Pokok pikiran itu begitu kuat mendesak dalam jiwa penyair sehingga menjadi landasan utama penyampaian puisinya. Jika desakan yang kuat itu berupa hubungan penyair dengan Tuhan, maka puisinya bertema ketuhanan.   Jika   desakan   yang   kuat   itu   berhubungan   dengan   sisi-sisi

kemanusiaan, maka puisi bertema kemanusiaan. Jika desakan yang kuat itu berupa dorongan memprotes ketidakadilan, maka puisinya bertema protes atau kritik sosial. Jika desakan yang kuat itu berupa perasaan cinta pada seseorang atau sesuatu, maka puisinya bertema cinta (Waluyo, 1995:106-107).

b. Perasaan (Feeling)

Perasaan (feeling) merupakan sikap penyair terhadap pokok persoalan yang ditampilkannya. Perasaan penyair dalam puisinya dapat diketahui melalui ungkapan-ungkapan yang digunakan dalam puisinya. Ketika menulis puisi, penyair mengekspresikan suasana hati penyair sehingga dapat dihayati pembaca (Waluyo, 1995:121).

c. Nada (Tone)

Nada dalam puisi dapat diketahui dengan memahami apa yang tersurat. Nada berhubungan dengan suasana karena nada menimbulkan suasana tertentu pada pembacanya. Suasana adalah keadaan jiwa pembaca (sikap pembaca) setelah membaca puisi atau akibat psikologis yang ditimbulkan puisi terhadap pembaca (Waluyo, 1995:71). Sebagai contoh, puisi yang bernada duka menimbulkan suasana iba hati pada pembaca, nada khusuk bisa menimbulkan suasana khusyuk.

d. Amanat (Intention)

Amanat yaitu pesan yang ingin disampaikan penyair kepada pembaca. Meskipun penyair tidak secara khusus dan sengaja mencantumkan amanat dalam puisinya, amanat tersirat di balik kata dan tema yang diungkapkan penyair (Waluyo, 1995:130). Untuk memahami unsur batin ini, perhatikan puisi berikut!

TUHAN, KITA BEGITU DEKAT (karya Abdul Hadi W.M.)

Tuhan

Kita begitu dekat

Sebagai api dengan panas Aku panas dalam apimu

Tuhan

Kita begitu dekat

Seperti kain dengan kapas Aku kapas dalam kainmu

Tuhan

Kita begitu dekat

Seperti angin dan arahnya Kita begitu dekat

Dalam gelap Kini aku nyala

Pada lampu padammu

Sense atau tema puisi “Tuhan, Kita Begitu Dekat” karya Abdul Hadi W.M. di atas adalah tema ketuhanan, secara lebih khusus adalah penegasan seorang hamba atas kedekatannya dengan Tuhannya. Baris /Tuhan/Kita  begitu dekat/ mengalami perulangan (repetisi) tiga kali pada bait 1,2, dan 3. 

Kedekatan tersebut diumpakaman melalui gaya bahasa simile dengan baris /sebagai api dengan panas/, /seperti kain dengan kapas/, dan /seperti angin dan arahnya/, yang ditandai dengan kata pembanding ‘sebagai’ dan ‘seperti’. 

Hubungan kedua objek tersebut sangat dekat dan tidak bisa dipisahkan, seperti hubungan seorang hamba dengan Tuhan.

Feeling atau perasaan penyair dalam puisi di atas adalah perasaan cinta seorang hamba pada Tuhannya. Rasa cinta tampak pada panggilan Tuhan yang diulang-ulang. 

Orang yang mencintai sesuatu akan sering menyebutnya dalam hidup. Selain itu, rasa cinta tampak pada penegasan baris /kita bergitu dekat/ yang menunjukkan kebanggaan dan rasa bersyukur atas kedekatannya dengan Tuhan.

Tone atau nada puisi di atas menunjukkan suasana bahagia dan ketenangan. Kebahagiaan dan ketenangan hati tersebut terutama tampak pada baris /dalam gelap/kini aku nyala/dalam lampu padammu/. Dalam kegelapan hidup di dunia, kedekatan dengan Tuhan tetap membuat seorang hamba menyala atau bahagia.

Intention atau amanat puisi di atas adalah pesan untuk menjaga kedekatan dengan Tuhan dengan beribadah dan aktivitas-aktivitas yang dapat mendekatkan seorang hamba dengan Tuhannya. Melalui puisi ini, penyair juga berpesan bahwa kedekatan dengan Tuhan akan membuat ketenangan dan kebahagiaan dalam kehidupan di dunia dan akhirat.

d. Menulis Puisi dengan Memperhatikan Unsur Pembangun

Menulis puisi dapat dimulai dengan menemukan gagasan yang akan ditulis. Gagasan itu dapat diperoleh melalui berbagai sarana, seperti objek gambar pemandangan, video, lagu, kisah inspiratif, dan sebagainya. Dari objek-objek itu kita dapat menginventaris kata. 

Sebagai contoh, dari gambar pemandangan pantai dengan pasir dan bebatuan, kita inventaris kata ‘pantai’, ‘batu’, ‘pasir’, ‘langit’, ‘ombak’, ‘angin’, dan sebagainya. Ambil satu kata dan rangkai dengan kata yang indah, misalnya ‘sebongkah batu’, ‘pasir putih, ‘langit yang syahdu’, ‘sepoi angin laut’, ‘deburan ombak’, dan sebagainya. Selanjutnya, rangkailah menjadi baris-baris puisi seperti berikut.

Di bawah langit yang syahdu

Pada deburan ombak dan sepoi angin laut Aku merangkai kata cinta di pasir putihnya Lalu, kusembunyikan di bawah sebongkah batu Berharap suatu saat bisa mengejanya

Di depanmu

Cara ini bisa kita gunakan sebagai latihan. Untuk mengasah kemampuan ini kita bisa memperbanyak objek untuk mendapatkan gagasan. Semakin banyak objek, semakin bervariasi juga kata-kata yang kita kumpulkan. 

Unsur pembangun puisi dapat kita pertimbangkan untuk mendapatkan efek estetis. Sebagai contoh, kita dapat memasukkan unsur persajakan dan gaya bahasa dengan variasi berikut.

Di bawah langit yang syahdu

Hatiku menari menulis kata cinta yang biru Lalu, kusembunyikan di bawah sebongkah batu Berharap suatu saat bisa mengejanya di depanmu Sembari menunggu senandungmu

Berucap ku juga cinta padamu

e. Mendemonstrasikan Puisi

Salah satu cara mengapresiasi puisi adalah dengan mendemonstrasikannya menjadi sebuah pembacaan yang menarik. Untuk melakukan pembacaan puisi dengan baik, kita perlu memahami isi puisi tersebut. 

Aktivitas menemukan unsur batin puisi, baik berupa tama, perasaaan, nada, maupun amanat, di atas dapat menjadi bekal untuk membaca puisi. 

Dengan memahami isi dan suasana puisi, kita dapat melakukan penghayatan atau penjiwaan. Selanjutnya, kita bisa berlatih mengucapkan baris-baris puisi dengan lafal dan intonasi yang jelas, tempo yang tepat, ekspresi wajah yang sesuai dengan isi puisi, dan melatih gerak atau gestur tubuh.

Sebagai variasi, pembacaan puisi dapat juga diiringi musik yang sesuai dengan suasana puisi. Musik yang tepat akan membantu membangun suasana. Selain itu, puisi dapat didemonstrasikan dalam bentuk musikalisasi puisi. 

Dalam musikalisasi puisi, puisi dilagukan, diberi irama, atau diiringi musik yang sesuai dengan isinya. Setelah menentukan puisi yang akan dimusikalisasikan, pahami isinya. Selanjutnya, rancanglah lagunya dengan menentukan notasi nada yang akan digunakan. 

Notasi itu akan mempermudah melagukan puisi tersebut. Tentukan alat musik apa yang akan digunakan untuk musikalisasi. Untuk mendapatkan musikalisasi yang baik, kita harus harus rajin berlatih, terutama jika musikalisasi dilakukan bersama tim.

2. Genre Prosa

a. Hakikat Prosa Fiksi

Istilah fiksi digunakan untuk menandai karya sastra dalam bentuk prosa, seperti cerpen, dongen, dan novel. Prosa fiksi sering juga disebut cerita rekaan atau cerita khayalan, artinya cerita yang tidak sungguh-sungguh terjadi atau bersifat imajinatif. Prosa fiksi menampilkan  permasalahan  manusia.  

Meskipun begitu, sebuah prosa fiksi haruslah tetap merupakan bangunan struktur yang koheren dan tetap mempunyai tujuan estetik (Wellek dan Warren, 2014).

Sebagai karya imajinatif, prosa fiksi memiliki bahasa yang khas. Dalam hal ini, Wellek dan Warren (2014) membedakan bahasa sastra dengan bahasa ilmiah dan bahasa sehari-hari. Bahasa sastra lebih mengedepankan perasaan dan bersifat konotatif. 

Dalam bahasa ilmiah dan sehari-hari, kata ‘bunga mawar’ bermakna bunga yang berwarna merah, berdaun hijau, dan berduri sebagaimana bunga yang kita tanam di halaman rumah. 

Dalam bahasa sastra, kata ‘bunga mawar’ bisa bermakna perasaan cinta sebagaimana penggunaannya dalam kalimat “Kusematkan bunga mawar di hatimu”. Penggunaan kata dalam bahasa sastra bertujuan untuk membangun makna tertentu sekaligus menimbulkan efek estetis.

b. Unsur-Unsur Prosa Fiksi

Menurut Stanton (cari), unsur pembangun prosa fiksi terdiri dari fakta cerita, sarana cerita, dan tema. Fakta cerita merupakan fakta yang ada dalam cerita, terdiri dari alur, tokoh, dan latar. Sarana cerita merupakan alat untuk bercerita, terdiri dari antara lain sudut pandang, judul, dan bahasa. Dalam modul ini, unsur prosa fiksi yang akan dibahas adalah fakta cerita.

1) Alur

Alur cerita merupakan rangkaian peristiwa yang disusun berdasar hubungan kausalitas atau hubungan sebab akibat (Sayuti, 2002). Artinya, peristiwa- peristiwa dalam prosa fiksi itu saling berhubungan. Peristiwa pertama menyebabkan peristiwa kedua, peristiwa kedua menyebabkan peristiwa ketiga, dan seterusnya. 

Alur cerita dapat kita bagi menjadi tiga bagian, yaitu bagian awal, tengah, dan akhir (Sayuti, 2002). Bagian awal adalah bagian pengenalan, baik pengenalan tokoh, latar, maupun konflik. Bagian tengah adalah bagian konflik terjalin dan memuncak, atau biasa disebut sebagai klimaks. Bagian akhir merupakan bagian penyelesaian cerita.

Struktur Alur

Orientasi berisi pengenalan tokoh, latar, ataupun konflik. Setelah pengenalan selesai, muncullah ketidakstabilan (instabilitas). Ketidakstabilan dalam alur bisa terjadi karena datangnya tokoh baru yang membawa masalah, munculnya masalah di dalam diri tokoh sendiri, terjadinya sebuah peristiwa yang membawa masalah, atau yang lainnya. Dari ketidakstabilan inilah kemudian muncullah konflik.

Konflik dalam suatu cerita dapat bersumber dari permasalahan kehidupan. Konflik dalam alur cerita menjadi sesuatu yang penting. Seiring dengan jalannya cerita, konflik ini akan mengalami komplikasi. Ibarat penyakit, konflik yang mengalami komplikasi itu menyebar ke tokoh-tokoh lain dan konflik lebih serius sampai memuncak dan mencapai klimaks. Di titik klimaks inilah cerita mencapai ketegangan yang ditunggu-tunggu pembaca.

Konflik dalam cerita dapat dimunculkan secara bervariasi (Sayuti, 2002). Konflik tersebut dapat berupa konflik dalam diri seseorang (tokoh) atau ‘konflik kejiwaan’,  seseorang dan masyarakat atau ‘konflik sosial’, dan  Konflik dalam dalam fiksi dapat juga terjadi karena peristiwa alam atau ‘konfik alamiah’. 

Berbagai jenis konflik dalam fiksi bukan berarti fiksi hanya bisa mengangkat satu jenis konflik saja. Namun, dalam fiksi berbagai konflik itu dapat muncul bersama-sama.

Di bagian akhir, cerita bergerak menuju penyelesaian (denoument). Akhir setiap cerita itu berbeda-beda. Berdasarkan dari akhir ceritanya kita mengenal istilah alur tertutup dan alur terbuka (Sayuti, 2002). Alur tertutup adalah alur yang akhir ceritanya jelas. 

Dikatakan tertutup karena tertutup bagi pembaca untuk menafsirkan jalan cerita akhirnya karena akhir cerita ini telah ditentukan oleh pembaca. Sementara itu, alur terbuka adalah alur yang tidak jelas. Dikatakan terbuka karena pembaca diberi kesempatan untuk menafsirkan jalan cerita akhirnya.

Struktur alur yang dijelaskan digambarkan sebagai berikut.

Gambar 3. Struktur Cerpen dalam Buku Siswa (Kemdikbud, 2018)

Jenis alur ada bermacam-macam. Selain pembagian alur tertutup dan alur terbuka itu, kita juga mengenal pembagian yang lain. Dilihat sifatnya, akhir cerita juga dapat dibagi menjadi dua, yaitu akhir cerita yang menyenangkan (happy ending) dan akhir cerita yang menyedihkan (sad ending).

Struktur alur yang dijelaskan di atas sejalan dengan struktur cerpen dalam buku (Kemdikbud, 2018). Struktur cerpen dalam buku tersebut digambarkan sebagai berikut.

Gambar 4. Struktur Cerpen dalam Buku Siswa (Kemdikbud, 2018)

Sementara itu, berdasarkan segi penyusunan peristiwa atau urutan peristiwa, dikenal adanya alur maju atau kronologis dan alur mundur atau sorot-balik (Sayuti, 2002). 

Urutan peristiwa dalam alur maju bergerak dari depan ke belakang, sedangkan urutan peristiwa dalam alur mundur bergerak dari belakang ke depan. Alur mundur ini dering juga disebut flash-back. Namun, banyak dijumpai suatu cerita menggunakan variasi alur maju dan mundur ini, yaitu alur campuran.

2) Tokoh

Cerita digerakkan oleh tokoh. Tokoh ini bisa berupa manusia, binatang, mainan, hantu, dan sebagainya. Sebagaimana manusia, tokoh digambarkan secara utuh meliputi tiga dimensi, yaitu dimensi fisiologis, psikologis, dan sosiologis (Sayuti, 2002 cari). 

Dimensi fisiologis berkaitan dengan aspek fisik tokoh, misalnya usia, jenis kelamin, keadaan tubuh, ciri muka, cara berjalan, cara berbicara, warna kulit, dan sebagainya. 

Dimensi psikologis berkaitan dengan aspek psikis atau kejiwaan tokoh, misalnya kondisi mental, kondisi moral, keinginan dan perasaan pribadi, sikap dan kelakuan (temperamen), kepandaian, dan sebagainya. 

Dimensi sosiologis berkaitan dengan Sementara itu, dimensi sosiologis berkaitan dengan kondisi sosial tokoh, misalnya status sosial, pekerjaan, jabatan, pendidikan, agama, pandangan hidup, ideologi, aktivitas sosial, organisasi, hobi, bangsa, suku, kondisi ekonomi, keturunan, dan sebagainya.

Berdasarkan keterlibatannya dalam cerita, tokoh dapat dibagi menjadi dua, yaitu tokoh utama dan tokoh tambahan (Sayuti, 2002). Tokoh utama paling terlibat dengan makna atau tema, paling banyak berhubungan dengan tokoh lain, paling banyak memerlukan waktu penceritaan.

3) Latar

Latar cerita merupakan unsur fiksi yang mengacu pada tempat, waktu, dan kondisi sosial cerita itu terjadi. Hal ini sejalan dengan pembagian latar, yaitu latar tempat, latar waktu, dan latar sosial (Nurgiyantoro, 1995). Latar tempat adalah latar yang mengacu pada tempat berlangsungnya cerita, misalnya di kelas, di pedesaan, di kantor, dan sebagainya. 

Latar waktu adalah latar yang mengacu pada waktu terjadinya cerita, misalnya pada pagi hari, pada malam hari, pada perang kemerdekaan, pada musim kemarau, dan sebagainya. 

Latar sosial adalah latar yang mengacu pada kondisi sosial tempat terjadinya cerita, misalnya masyarakat pemulung di bawah jembatan yang miskin dan tidak terpelajar atau keluarga kaya yang berlimpah harta. Ketiga unsur latar tersebut terbangun secara bersama, tidak terputus, dan saling berhubungan.

c. Jenis-Jenis Fiksi

Jenis-jenis fiksi yang dibahas dalam subbab ini mengacu pada jenis fiksi yang dipelajari pada jenjang menengah SMP/MTs dan SMA/MA/SMK.

1) Fabel

Fabel merupakan prosa fiksi yang menggunakan tokoh binatang. Fabel ini dapat digunakan untuk menanamkan moral dan karakter. Banyak anak suka membaca fabel ini. Fabel biasanya ditujukan untuk anak-anak sehingga masuk dalam kategori sastra anak. 

Meskipun begitu, ada juga fabel yang ditujukan untuk pembaca dewasa. Fabel jenis ini bisa digunakan untuk menyampaikan pelajaran hidup.

Cerita fabel ini termasuk cerita rakyat kategori dongeng. Aarne dan Thompson (melalui Danandjaja, 1991:86) menyatakan bahwa jenis dongeng dapat dibagi dalam empat kelompok besar, yaitu dongeng binatang (fabel), dongeng biasa, lelucon dan anekdot, dan dongeng-dongeng berumus. 

Tokoh dalam fabel bisa berupa binatang piaraan atau binatang liar, seperti binatang menyusui, burung, binatang melata, ikan dan serangga. Binatang-binatang itu dalam cerita dapat berbicara dan memiliki akal seperti manusia. 

Tokoh binatang dalam fabel bisa berupa binatang liar (wild animals), binatang liar dan peliharaan (wild animals and domestic animals), manusia dan binatang liar (man and wild animals), binatang- binatang peliharaan (domestic animals), burung-burung, ikan-ikan, dan binatang- binatang lainnya dan benda-benda (other animals and objects).

2) Legenda Setempat

Legenda setempat tidak sama dengan fabel. Legenda adalah cerita prosa rakyat yang dianggap sebagai kejadian yang sungguh-sungguh terjadi. Legenda ini bersifat keduniawian (bukan di dunia gaib), bertempat di dunia seperti yang kita kenal sekarang (Danandjaja, 1991).

Menurut Jan Harold Brunvand (melalui Danandjaja, 1991), legenda dapat digolongkan menjadi empat kelompok, yaitu legenda keagamaan, legenda alam gaib, legenda perseorangan, dan legenda lokal. Legenda keagamaan berisi cerita yang terkait dengan agama tertentu, misalnya cerita Legenda Wali Sanga. 

Legenda alam gaib berisi cerita yang berkaitan dengan suatu kepercayaan terhadap alam gaib, misalnya Legenda Nyai Roro Kidul, legenda tentang hantu dan sundel bolong. Legenda perseorangan berisi cerita tokoh tertentu, misalnya cerita Legenda Si Pitung, Legenda Panji. Legenda lokal berisi cerita yang berkaitan dengan tentang suatu tempat atau nama tempat, misalnya Legenda Gunung Tangkuban Perahu.

3) Cerita Rakyat (Hikayat)

Hikayat adalah karya sastra lama Melayu berbentuk prosa yang berisi cerita, undang-undang, dan silsilah bersifat rekaan, keagamaan, historis, biografis, atau gabungan sifat-sifat itu, dibaca untuk pelipur lara, pembangkit semangat juang, atau sekadar untuk meramaikan pesta, misalnya Hikayat Hang Tuah, Hikayat Perang Palembang, Hikayat Seribu Satu Malam (https://kbbi.kemdikbud.go.id). Sudjiman (2006:34) menyatakan hikayat adalah jenis cerita rekaan dalam sastra Melayu Lama yang menggambarkan keagungan dan kepahlawanan. 

Sebagai sastra Melayu Lama, hikayat bersifat anonim. Hikayat menceritakan kehebatan dan kemuliaan seorang pahlawan sehingga dapat digunakan sebagai sarana pendidikan.

Sementara itu, menurut Hamzah (1996:128), hikayat adalah prosa fiksi lama yang menceritakan kehidupan istana atau raja serta dihiasi oleh kejadian yang sakti dan ajaib. Hikayat sering mengangkat latar kehidupan kerajaan dengan tokoh-tokoh yang memiliki kesaktian. Keajaiban juga sering muncul dalam alur hikayat dalam bentuk kejadian-kejadian yang mustahil.

4) Anekdot

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI V), anekdot merupakan cerita singkat yang menarik karena lucu dan mengesankan, biasanya mengenai orang penting atau terkenal dan berdasarkan kejadian yang sebenarnya. 

Anekdot dalam kehidupan sehari-hari muncul dalam berbagai media dan bentuk. Ada anekdot yang muncul dalam pementasan teater. Ada anekdot dalam teks tulis. Ada juga anekdot yang muncul dalam pidato. Meskipun media anekdot bervariasi tetapi substansi anekdot tetap sama, yaitu lucu dan berisi kritikan untuk menyindir.

Untuk menyampaikan kritikan yang menyindir, Kresna (2001) menyatakan bahwa materi anekdot dapat bervariasi. Anekdot bebas berbicara tentang keadilan, kebenaran, kelayakan, kepatutan, Hak Asasi manusia, masalah politik (demokrasi, kebebasan berpendapat, supremasi sipil dan kepastian hukum). 

Anekdot juga mengupas berbagai kepincangan kehidupan dan menyusupkan kritik sosial. Kritik dalam anekdot disertai humor, sebenarnya amat pedih, namun tidak melukai siapa- siapa. Nilai hiburan amat tinggi dengan jaminan resiko aman.

Menurut Kresna (2001), sebagai sesuatu yang fiktif, anekdot selalu hanya berpura-pura nyata, tetapi kemudian berbelok tajam di ujungnya. Anekdot penuh spontanitas. Anekdot tidak dituntut logis. Justru ketika semua anekdot itu logis, ia akan kehilangan keanekdotannya, nilai spontanitasnya hilang, kejutan dan kelucuannya jadi hambar.

Sebagai contoh, bacalah dan cermatilah anekdot-anekdot yang dikutip dari buku Anekdot Cina berikut ini.

KAPAL MILIK NEGARA

Ketika Hu Li Tzu akan pulang ke kampung halamannya dari ibukota, perdana menteri memerintahkan inpekstur polisi untuk mengantar keberangkatan Hu Li. “Jika Anda ingin menggunakan perahu, pilihlah perahu milik negara yang mana saja Anda suka,” sang inspektur memberi tahu Hu Li Tzu.

Sebelum inspektur itu tiba, Hu Li Tzu sudah berada di tepi sungai untuk memilih perahu. Di situ terdapat ratusan perahu yang ditambatkan di sepanjang tepian sungai. Ia tidak bisa membedakan perahu milik negara dengan perahu-perahu lainnya.

“Mudah saja,” jawab sang inspektur polisi. “Pilih salah satu yang kerainya rusak, dayungnya pecah, dan layarnya robek. Perahu seperti itulah milik negara.”

Hu Li Tzu menghela napas. “Tidak mengherankan jika rakyat tampak compang camping. Mungkin saja Sang Kaisar menganggap mereka sebagai “milik negara” juga.” Ia berkata pada dirinya sendiri. (Suryandani, 2003:7-8).

5) Cerpen, Novelet, dan Novel

Jenis tulisan prosa fiksi dilihat dari panjang pendeknya cerita dan kata dapat dikategorikan dalam cerpen, novelet, dan novel. Pembedaan ketiga bentuk fiksi ini didasarkan pada panjang pendeknyanya cerita. Cerpen adalah cerita yang pendek, sedangkan novelet adalah cerpen yang panjang tetapi lebih pendek dari novel. 

Jika diurutkan berdasarkan panjangnya maka diperoleh urutan: cerpen-novelet-novel. Sayuti (2000) menyatakan bahwa istilah cerpen biasanya digunakan untuk pada prosa fiksi yang panjangnya antara 1.000 sampai 5.000 kata, sedangkan novel umumnya berisi lebih dari 45.000 kata. Sementara itu, novelet berkisar antara 5.000 sampai 45.000 kata.

Sesuai namanya, cerpen merupakan cerita yang pendek yang habis dibaca dalam sekali duduk. Panjang cerpen berkisar 1000-1500 kata. Dibaca dalam sekali duduk tentu bukan dalam makna atau arti yang sesungguhnya. Namun, hal itu berarti cerpen memerlukan waktu baca yang tidak lama karena tidak terlalu panjang. 

Dalam cerpen, alur cerita diarahkan pada insiden atau peristiwa tunggal, dengan pemadatan (compression). Jakob Sumardjo (2001) menyebutkan bahwa cerpen hanya memiliki satu krisis dan satu efek untuk pembacanya. Pengarang cerpen menyajikan cerpen dengan tajamsehingga ia harus dituntut untuk ekonomi bahasa. Ketajaman ini adalah tujuan penulisan cerpen.

Hal ini berbeda dengan karya fiksi yang lain. Novel tidak bisa dibaca dalam sekali duduk karena merupakan cerita yang sangat panjang. Panjang novel lebih dari 45.000 kata. Alur cerita dalam novel diarahkan pada insiden atau peristiwa jamak. Jakob Sumardjo (2001) berpendapat bahwa novel adalah cerita fiktif yang panjang, dalam arti fisik (yang kelihatan) dan isi. Novel terdiri dari satu cerita yang pokok, dijalani dengan beberapa cerita sampingan yang lain, beberapa kejadian, dan kadang beberapa masalah juga, yang harus terjalin sebagai suatu kesatuan yang bulat. Di antara cerpen dan novel, ada novelet dengan panjang berkisar antara 15.000 – 45.000 kata. Secara lebih jelas, perhatikan bagan berikut!

Gambar 5. Perbandingan Antara Cerpen, Novelet, dan Novel

Panjang pendeknya cerita dalam cerpen, novelet, dan novel membawa konsekuensi dalam penceritaannya. Dalam cerpen, karena ceritanya pendek maka peristiwa, konflik, dan tokoh dalam ceritanya pun tidak banyak berkembang. 

Sebaliknya, karena lebih panjang maka peristiwa, konflik, dan tokoh dalam cerita menjadi lebih panjang, banyak, dan kompleks. 

Cerpen dapat dikumpulkan dalam sebuah buku kumpulan cerpen atau antologi cerpen. Antologi cerpen dapat ditulis oleh seorang pengarang, tetapi dapat juga ditulis oleh banyak pengarang. Judul antologi cerpen biasanya diambil dari salah satu judul cerpen yang ada di dalamnya.

6) Cerita Fantasi

Menurut Nurgiyantoro (2013), cerita fantasi menampilkan tokoh, alur, atau tema yang derajat kebenarannya diragukan, baik dalam seluruh cerita maupun dalam sebagian cerita. Teks cerita fantasi menghadirkan dunia khayal atau imajinatif yang diciptakan oleh pengarang. 

Khayalan atau fantasi pengarang membuat cerita tampak tidak masuk akal. Lebih lanjut, Nurgiyantoro (2005) berpendapat bahwa kekurangmasukakalan cerita fantasi dapat disebabkan oleh tokoh-tokoh cerita yang ditampilkan. 

Cerita fantasi tidak hanya menampilkan tokoh dari kalangan manusia, tetapi juga tokoh dari dunia lain seperti makhluk halus, dewa-dewi, manusia mini, raksasa, naga bersayap, atau tokoh-tokoh lain yang tidak dijumpai di dunia realitas. Tokoh-tokoh tersebut kemudian dapat berinteraksi dengan manusia biasa.

Cerita fantasi memanfaatkan unsur imajinasi dan fantasi yang diolah dengan menarik. Semakin tinggi daya imajinasi dan kreativitas pengarang, semakin menarik teks cerita fantasi yang ditulis. Cerita fantasi dapat menghibur pembaca sekaligus bermanfaat untuk membantu merangsang imajinasi. 

Nilai- nilai moral juga dapat dimunculkan dalam cerita fantasi ini. Pembaca dapat memperoleh pengetahuan dan pengalaman yang bermanfaat dalam kehidupannya. Cerita fantasi dapat dikemas dalam bentuk novel, cerita pendek, atau kumpulan cerita pendek.

7) Cerita Sejarah

Prosa fiksi merupakan salah satu genre fiksi yang sifatnya imajinatif. Akan tetapi, karya fiksi dapat mendasarkan diri pada fakta. Setidaknya ada tiga fiksi yang mendasarkan diiri pada fakta, yaitu historical fiction (fiksi sejarah) jika yang menjadi dasar fakta sejarah, biographical fiction (fiksi biografi) jika yang menjadi dasar fakta biografi seseorang, dan science fiction (fiksi sains) jika yang menjadi dasar fakta ilmu pengetahuan (Nurgiyantoro, 1995).

Fiksi sejarah berbeda dengan teks sejarah. Fiksi sejarah bersifat imajinatif, sedangkan teks sejarah bersifat faktual. Fiksi sejarah dapat memanfaatkan teks sejarah sebagai sumber inspirasi ceritanya. Sebagai contoh karya-karya Pramudya Ananta Toer yang banyak mengangkat sejarah.

d. Menulis Prosa Fiksi

Secara umum, untuk menulis kita perlu memahami tahapan menulis. Tompkins (2004) menyatakan ada lima tahapan dalam menulis, yaitu tahap pre- writing (pramenulis), drafting (menulis draf), revising (revisi), editing (penyuntingan), dan publishing (publikasi). Tahapan menulis tersebut dapat diterapkan dalam menulis kreatif sebagai berikut.

Pertama, tahap pre-writing (pramenulis). Pada tahap ini penulis menentukan tujuan penulisan, sasaran pembaca, ide atau gagasan tulisan, dan kerangka tulisan. Untuk menulis fiksi, tentukan dulu jenis fiksi yang akan ditulis. Apakah kita akan menulis fabel, menulis hikayat dalam bentuk cerpen, menulis anekdot, menulis cerpen, menulis novel/novelet, menulis cerita imajinasi, atau menulis cerita sejarah. 

Hal ini penting mengingat setiap jenis prosa fiksi tersebut memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Ide tulisan fiksi bisa diperoleh dari peristiwa yang kita jumpai sehari-hari. Ide tulisan ada di sekitar kita. Ide dapat didapatkan di berbagai tempat, di berbagai kesempatan, dan di berbagai aktivitas. 

Ide bisa juga kita dapatkan dari pengalaman pribadi kita. Hal-hal yang kita pikirkan, kita lihat, kita dengar, dan kita rasakan dapat menjadi sumber ide cerita. Hal-hal tersebut dapat kita peroleh melalui kejadian atau peristiwa yang kita alami atau dialami orang lain, curhat seorang teman pada kita, diskusi dengan orang lain tentang topik tertentu, adegan film yang kita tonton, buku yang kita baca, dan sebagainya. 

Hal itu sejalan dengan pernyataan Arswendo Atmowiloto (2011) “... ide berawal dari kisah yang saya temui, saya lihat, saya dengar, saya jalani, dalam kehidupan keseharian.”

Kedua, tahap menulis draf (drafting). Tahap menulis drat adalah tahap menulis ide-ide ke dalam bentuk tulisan yang kasar. Tahapan penulisan draf ini memungkinkan kita meninjau lagi tulisan mereka sebelum dikembangkan lebih lanjut lagi. Dengan demikian, ide-ide yang dituliskan pada draf itu sifatnya masih sementara dan masih mungkin diubah.

Ketiga, tahap merevisi (revising). Tahap merevisi adalah tahap memperbaiki ulang atau menambahkan ide-ide baru terhadap karya. Pada tahap ini kita harus membaca ulang seluruh draf. Kita juga dapat melakukan sharing dengan teman atau penulis yang telah berpengalaman untuk membantu memperbaiki dan memperkaya hasil karya.

Keempat, tahap menyunting (editing). Pada tahap ini kita harus memperbaiki karangan pada aspek kebahasaan dan kesalahan mekanik yang lain. Aspek mekanik antara lain penulisan huruf, ejaan, struktur kalimat, tanda baca, istilah, dan kosa kata. Hal ini perlu kita lakukan agar tulisan kita menjadi tulisan yang sempurna.

Kelima, tahap publikasi (publishing). Tulisan akan berarti dan lebih bermanfaat jika dibaca orang lain dengan  memublikasikannya.  Publikasi bisa dilakukan dengan mengirim tulisan ke majalah sekolah, majalah dinding, atau media yang lain.

3. Genre Drama

a. Hakikat Drama

Drama merupakan salah satu genre sastra dengan kekhasan pada unsur dialog. Hal ini sebagaimana pendapat Suryaman (2010: 10) yang menyatakan drama sebagai karya sastra yang berupa dialog-dialog dan memungkinkan untuk dipertunjukkan sebagai tontonan. Meskipun memiliki kemungkinan untuk dipertunjukkan, tetapi drama tidak selalu dipentaskan. Wahyudi (cari:99) menyatakan bahwa ada drama untuk dibaca saja meskipun di dalamnya terdapat dialog atau cakapan dan petunjuk pemanggungan. Drama seperti ini lazim disebut closet drama atau drama baca. Sementara itu, ada juga drama yang dipentaskan yang disebut sebagai drama pentas.

Naskah drama atau teks-teks drama ialah semua teks yang bersifat dialog dan isinya membentangkan sebuah alur (Luxemburg, 1984). Hal ini sejalan dengan pendapat Wiyanto (2002: 31-32) yang menyatakan naskah drama sebagai karangan yang berisi cerita atau lakon. Prosa fiksi berbentuk cerita atau memiliki alur yang dikisahkan secara langsung. Berbeda dengan prosa fiksi, penuturan cerita dalam naskah drama ditampilkan melalui dialog para tokohnya.

Drama menampilkan alur dengan konflik kehidupan. Karya sastra ini mendramatisasikan konflik-konflik yang dialami oleh manusia, meskipun tokoh- tokoh yang diangkatnya tidak selalu manusia. Drama bisa mengangkat tokoh binatang, tokoh hantu, tokoh benda-benda di alam, tokoh mainan, dan sebagainya. Dengan mendramatisasikan kehidupan manusia, pembaca teks drama atau penonton pementasan drama akan mendapatkan amanat yang bermanfaat untuk kehidupannya. Dengan alasan ini, pembelajaran drama di sekolah sangat relevan untuk mengayakan pengalaman jiwa para siswa, sekaligus membangun karakter.

b. Unsur Drama

1) Alur

Alur atau plot atau kerangka cerita merupakan jalinan cerita atau kerangka dari awal hingga akhir yang merupakan jalinan  konflik antara dua tokoh yang berlawanan (Waluyo, 2001:8). Menurut Wiyanto (2002:24), secara rinci, perkembangan plot drama ada enam tahap, yaitu eksposisi, konflik, komplikasi, krisis, resolusi, dan keputusan. Tahap eksposisi disebut pula tahap perkenalan. Wujud perkenalan ini berupa penjelasan untuk mengantarkan penonton pada situasi awal lakon drama. Pada tahap konflik, mulai muncul insiden (kejadian). Insiden pertama inilah yang memulai plot sebenarnya, karena insiden merupakan konflik yang menjadi dasar sebuah drama (Wiyanto 2002: 25).

Selanjutnya, cerita berkembang ke dalam tahap komplikasi sehingga menimbulkan konflik-konflik yang semakin banyak dan rumit. Banyak persoalan yang saling terkait yang menimbulkan tanda tanya. Konflik pun akhirnya memuncak dan masuk pada tahap krisis. Klimaks berarti titik pertikaian paling ujung yang dicapai pemain protagonis (pemeran kebaikan) dan pemain antagonis (pemeran kejahatan). Tahap resolusi merupakan penyelesaian konflik. Jalan keluar penyelesaian konflik-konflik yang terjadi sudah mulai tampak jelas. Tahap terakhir adalah keputusan. Pada tahap ini semua konflik berakhir dan sebentar lagi cerita selesai. Dengan selesainya cerita, maka pementasan drama selesai (Wiyanto, 2002: 26).

Struktur alur drama ini sejalan dengan struktur alur dalam buku siswa

Gambar 6. Struktur Alur Drama (Kemdikbud, 2018)

Menurut Wiyanto (2002:12), alur drama disajikan dalam urutan babak dan adegan. Babak adalah bagian terbesar dari drama. Pergantian babak bisa ditandai dengan layar yang turun atau lighting sejenak dimatikan. Pergantian babak biasanya menandai pergantian latar (di panggung pergantian properti), baik latar waktu, atau latar tempat/ruang, atau keduanya. Adegan adalah bagian dari babak. Satu babak dapat terdiri atas beberapa adegan. Sebuah adegan hanya menggambarkan satu suasana. Pergantian adegan tidak selalu disertai pergantian latar.

2) Tokoh

Tokoh adalah pelaku yang menggerakkan alur drama. Cara menggambarkan tokoh disebut penokohan. Penokohan ini erat hubungannya dengan perwatakan. Menurut Wiyanto (2002: 27), karakter atau perwatakan adalah keseluruhan ciri-ciri jiwa seorang tokoh dalam lakon drama. Watak para tokoh ini dapat digambarkan dalam tiga dimensi (watak dimensional), yaitu dimensi fisiologis, psikologis, dan sosiologis (Waluyo, 2003:17-18). Dimensi fisiologis terkait dengan kondisi fisik tokoh seperti umur, jenis kelamin, warna kulit, tinggi rendah badan, kurus gemuk badan, suara, dan sebagainya. Dimensi psikologis terkait dengan kondisi psikis seperti watak, mentalitas, standar moral, temperamen, keadaan emosi, dan sebagainya. Dimensi sosiologis terkait dengan kondisi sosial yang melingkupinya, seperti pekerjaan atau mata pencaharian, agama, ras, kelas sosial, dan sebagainya.

Berdasarkan peranannya terhadap jalan cerita, tokoh-tokoh dalam drama dapat dikategorikan dalam tokoh protagonis, tokoh antagonis, dan tokoh tritagonis. Tokoh protagonis adalah tokoh yang mendukung cerita. Dalam drama biasanya ada satu atau dua tokoh protagonis utama yang didukung oleh tokoh-tokoh pendukung lainnya. Tokoh antagonis adalah tokoh penentang cerita. Dalam drama biasanya ada seorang tokoh utama yang menetang cerita dan beberapa figur pembantu yang ikut menentang cerita. Tokoh tritagonis adalah tokoh pembantu, baik untuk tokoh protagonis maupun untuk tokoh antagonis (Waluyo, 2003:16).

3) Latar

Waluyo (2001: 23) menyatakan bahwa setting atau tempat kejadian cerita disebut latar cerita. Secara lebih lengkap, Wiyatmi (2006: 51) menyatakan latar dalam naskah drama meliputi latar tempat, waktu, dan suasana yang ditunjukkan dalam teks samping. Dalam pentas drama, latar divisualisasikan di atas pentas dengan tampilan, dekorasi, dan tata panggung yang menunjukkan situasi tertentu.

Untuk memahami latar, maka seorang pembaca naskah drama, para aktor, dan pekerja teater yang akan mementaskannya harus memperhatikan keterangan tempat, waktu, dan suasana yang terdapat pada teks samping atau teks nondialog (Wiyatmi 2006: 52).

4) Tema

Tema adalah pikiran pokok yang mendasari lakon drama, yang dikembangkan sedemikian rupa sehingga menjadi cerita yang menarik (Wiyanto, 2002: 23). Waluyo (2003: 24) menyatakan tema merupakan gagasan pokok yang terkandung dalam drama. Dalam drama, tema akan dikembangkan melalui alur dramatik melalui tokoh-tokoh protagonis dan antagonis dengan perwatakan yang memungkinkan terjadinya konflik dan diformulasikan dalam bentuk dialog (Waluyo 2001: 24). Dengan kata lain, tema ini menjadi dasar untuk pengembangan cerita.

5. Amanat

Seorang pengarang drama, sadar atau tidak sadar, pasti menyampaikan amanat atau pesan dalam karyanya. Pembaca dan penonton mencari amanat dari drama yang dibacanya atau pementasan yang ditontonnya. Pembaca yang teliti akan menangkap amanat yang tersirat di balik yang tersurat. Amanat bersifat subjektif. Artinya, pembaca dapat berbeda-beda menafsirkan makna atau amanat karya itu bagi dirinya (Waluyo, 2003:28).

Menurut Waluyo (2001: 28), amanat sebuah drama akan lebih mudah dihayati penikmat, jika drama itu dipentaskan. Melalui pelajaran moral, pesan- pesan kebaikan, empati pada isu-isu kemanusiaan, dan sebagainya, drama akan memberikan manfaat dalam kehidupan. Selain kemanfaatan, tentu saja membaca teks drama atau menonton pementasan drama akan membuat pembaca atau penonton menjadi terhibur.

6. Dialog

Dialog merupakan ciri khas drama. Dialog dilakukan oleh para tokoh dan harus mendukung karakter tokoh yang diperankan. Dialog ini menggerakkan alur drama. Karena drama adalah gambaran kehidupan, maka dialog juga harus menggambarkan kehidupan para tokohnya. Menurut Waluyo (2003:20), ragam bahasa dialog adalah bahasa lisan yang komunikatif dan bukan bahasa tulis. Hal ini disebabkan drama adalah potret kenyataan yang diangkat ke dalam pentas. Sebagai contoh, dialog ibu dan anak dalam keseharian menggunakan bahasa lisan yang tidak formal. Jika dalam pementasan bahasa ibu dan anak menggunakan bahasa tulis dan formal, maka relasi atau hubungan ibu dan anak menjadi tidak alami dan tidak hidup.

Selain komunikatif, Waluyo (2003:21) juga menyatakan bahwa dialog dalam drama harus bersifat estetis atau memiliki keindahan bahasa. Bahkan, kadang- kadang dialog harus bersifat filosofis dan mampu mempengaruhi keindahan. Hal ini disebabkan kenyataan yang ditampilkan dalam pentas harus lebih indah dari kenyataan yang sesungguhnya terjadi dalam dunia nyata.

Menurut Waluyo (2003: 22), dialog juga harus hidup, artinya mewakili tokoh yang dibawakan oleh para pemain. Watak secara fisiologis, psikologis, dan sosiologis dapat diwakili oleh dialog itu. Sebagai contoh, seorang tokoh dengan fisik yang lemah, sakit, kritis, dan sakaratul maut tidak mungkin bersuara keras dengan mimik wajah yang cerah ceria.

7. Lakuan

Lakuan merupakan gerak-gerik pemain di atas pentas. Lakuan harus berkaitan dengan alur dan watak tokoh. Lakuan adalah proses perwujudan adanya sebuah konflik di dalam sebuah drama. Konflik adalah hal yang bersifat dramatik. Dalam sebuah drama, lakuan tidak selamanya badaniah dengan gerak-gerik tubuh. Akan tetapi, lakuan dapat juga bersifat batiniah atau laku batin, yaitu pergerakan yang terjadi dalam batin pelaku, yang dapat dihasilkan oleh dialog. Dialog akan menggambarkan perubahan atau kekusutan emosi yang terungkap dalam sebagaian dari percakapan pelakunya. Di sini situasi batin dapat pula terlihat dari gerak-gerik fisik seseorang, yang disebut sebagai dramatic action yang terbaik (Grabanier dalam Wiyatmi, 2006: 52-53). Karena itu, Waluyo (2003:20) menyatakan bahwa diksi dalam dialog harus disesuaikan dengan dramatic action ini.

8. Teks Samping

Teks samping atau petunjuk teknis mempunyai nama lain yaitu kramagung. Dalam bahasa Inggris sering disebut stage direction. Sesuai namanya, teks samping ini memberikan petunjuk teknis tentang tokoh, waktu, suasana pentas, suara, musik, keluar masuknya pemain, keras lemahnya dialog, warna suara, perasaan yang mendasari dialog, dan sebagainya. Teks samping yang lengkap akan membantu sutradara dan para pemain dalam menafsirkan naskah. Teks samping ini biasanya ditulis dengan tulisan yang berbeda dari dialog, misalnya huruf besar, huruf miring, atau di dalam kurung buka dan kurung tutup (Waluyo, 2003:29).

Untuk memahami unsur-unsur ini, bacalah naskah drama “Operasi” karya Putu Wijaya berikut ini.

ADEGAN II

Lantas? PASIEN

Saya kemari juga tidak minta untuk diobati dok! DOKTER

Ya, ya! Tapi coba ceritakan apa keluhan anda sebenarnya?

PASIEN

O, begini dokter, Muka saya ini terlalu umum dokter! Sama sekali tidak ada ciri yang khas dan istimewa. Coba amati muka saya… muka saya ini sama saja dengan berjuta-juta orang Indonesia lainnya. Mata saya tidak sipit seperti orang Jepang juga tidak lebar seperti orang Bule. Hidung saya ini dok, tidak mancung juga tidak dapat dikatakan pesek. Ah, kalau nama saya ini saya ganti yang aksi misalnya (menyebut satu atau dua nama) juga tidak membuat saya berbeda dokter. Itulah yang membuat saya merasa hambar dan seperti berjalan di jalan datar yang panjang dan membosankan. Pantas saja kalau saya melamar jadi bintang film, tidak ada yang mau menerima.

DOKTER

O, jadi anda mau jadi bintang film? PASIEN

Begitulah! DOKTER

Jadi anda datang kemari mau dioperasi supaya bisa diterima jadi bintang film? PASIEN (mengangguk)

DOKTER

Itu mudah, sebentar. PASIEN

E…kenapa anda memandang seperti itu. Ada yang salah pada diri saya? DOKTER (tersenyum)

Jangan khawatir itu salah satu cara saya untuk mencari rumus dan kunci pada wajah anda. Sehingga nantinya saya mudah untuk melakukan operasi

PASIEN

Oh. DOKTER

Ya. Saya sudah menemukannya. Anda mau dibuat cantik seperti siapa? PASIEN (terperanjat)

Apa dokter bilang? Cantik? Jangan dokter, jangan bikin saya cantik? DOKTER

Lantas? PASIEN

Kedatangan saya kemari adalah ingin menjadi orang yang berwajah jelek, bahkan terjelek di seluruh muka bumi ini!

DOKTER (tertawa) Anda bercanda!

PASIEN

Saya tidak bercanda dan ini bukan lelucon. Ini serius dok! Saya benar-benar ingin menjadi orang yang paling jelek, jelek, dan jelek sekali. Kalau bisa lebih jelek dari si (menyebut satu atau dua nama) sudahlah siapa saja pokoknya jelek.

DOKTER

Jadi anda benar-benar serius? PASIEN

Ya. Buat wajah saya sejelek mungkin. Pesekkan hidung saya atau rusak mulut saya, ubah mata saya atau terserah dokter. Dokter kan tahu sendiri! Yang penting saya bisa komersil!

DOKTER (tampak kebingungan) PASIEN

Dokter kok kelihatannya bingung. DOKTER

Tentu saja saya bingung sebab selama ini belum ada yang datang kemari yang minta supaya mukanya dirusak. Rata-rata mereka minta supaya dibuat ganteng atau cantik. Lihat saja surat-surat pujian dan piagam penghargaan itu, atau lihat foto- foto itu, itu adalah hasil kerja saya dan rata-rata mereka puas.

PASIEN

Tapi  apa  susahnya  merusak?  Merusak  itu  lebih  mudah  daripada  membuat ganteng atau  cantik!

DOKTER

Saya tahu, tapi… PASIEN

Tapi apa dokter? DOKTER

Saya tidak bisa menjamin nanti setelah operasi dan wajah anda rusak, anda bisa komersil!

PASIEN

c. Unsur Pementasan Drama

1) Naskah Drama

Pementasan drama dilakukan berdasarkan naskah drama. Dalam naskah drama terdapat dialog dan teks samping yang akan menjadi panduan pementasan. Naskah drama ini biasanya dibagi menjadi babak demi babak dan adegan demi adegan. Dalam naskah drama termuat nama-nama tokoh dalam cerita, peran tokoh, dialog yang diucapkan, lakuan yang dilakukan para tokoh, alur cerita, dan penataan panggung.

2) Pemain (Aktor dan Aktris)

Pemain merupakan orang yang memerankan cerita di atas pentas. Aktor adalah pemain laki-laki, sedangkan aktris adalah pemain perempuan. Pemain ini akan menentukan jalan cerita drama. Karena itu, seorang pemain harus dapat memahami tokoh yang diperankan dan harus dapat memerankannya dengan penghayatan yang tepat. Dengan alasan ini, peran pemain ini sangat penting dalam pementasan sehingga Waluyo (2003:35) menyatakan bahwa aktor dan aktris menjadi tulang punggung pementasan. Dengan aktor dan aktris yang tepat dan berpengalaman, serta didukung naskah dan sutradara yang baik, sebuah pementasan akan menjadi bermutu.

3) Sutradara

Menurut Waluyo (2003:36), tugas sutradara adalah mengkoordinasi segala anasir pementasan, sejak latihan sampai dengan pementasan selesai. Tugas sutradara meliputi mengurus acting para pemain, mengurus kebutuhan yang berhubungan dengan artistik dan teknis. Bahkan, urusan musik, tata panggung, tata lampu, tata rias, kostum, dan sebagainya diatur atas persetujuan sutradara. Dengan tugas- tugas ini, dapat dipahami bahwa tugas sutradara tidaklah ringan dan mudah.

Selain penguasaan terhadap hal-hal yang berkaitan dengan pentas, seorang sutradara juga harus memiliki kemampuan manajemen dan komunikasi yang bagus. Sebagai pemimpin pementasan, seorang sutradara mengkoordinir banyak sekali orang, mulai dari pemain, tim tata rias, tim kostum, tim teknis panggung, dan sebagainya. Meskipun sebagai pemimpin pementasan, seorang sutradara tetap harus mengakomodasi usulan dari tim.

4) Tata Rias

Tata rias adalah seni menggunakan bahan kosmetika untuk menciptakan wajah peran sesuai tuntutan lakon (Waluyo, 2003:131). Karena itu, penata rias dalam pementasan drama harus  memahami  peran apa  yang akan  dimainkan oleh pemain yang diriasnya. Terkait dengan watak dimensional, penata rias harus memahami dimensi fisiologis, psikologis, dan sosiologis tokoh. Karena itu, tugas penata rias tidak sekadar membuat aktor menjadi ganteng dan aktris menjadi cantik, tetapi lebih dari itu adalah merias sesuai karakternya. Penata rias memahami teknik membuat kumis atau jenggot buatan, teknik membuat pemain tampak galak, bahkan teknik membuat pemain menjadi menakutkan seperti hantu. Secara lebih spesifik, seorang penata rias harus memiliki teknik seni dalam merias, seperti teknik shading hidung, meniruskan pipi, memajukan gigi, menebalkan mata, membuat keriput, membentuk alis dan teknik lainnya. Selain itu, penata rias juga harus terampil dan cekatan mengingat pemain yang dirias bisa jadi banyak dengan teknik rias yang membutuhkan waktu yang lama. Penata rias harus memiliki manajemen waktu yang baik sehingga pemainnya bisa siap sebelum pementasan dimulai.

5) Tata Busana

Penata busana dalam pementasan drama membantu aktor membawakan perannya sesuai tuntutan lakon (Waluyo, 2003:134). Penata busana mengatur pakaian pemain, seperti bahan, model, dan cara mengenakannya. Tata busana tidak bisa dipisahkan dengan tata rias. Karena itu, penata rias dan penata busana harus bekerja sama untuk saling menyesuaikan dan saling membantu untuk menciptakan tokoh yang hidup dalam pementasan.

Untuk pementasan dengan latar waktu dan latar sosial yang khas, penata busana harus melakukan riset untuk menentukan kostum yang tepat. Sebagai contoh, pementasan drama dengan latar waktu sebelum kemerdekaan memerlukan busana-busana yang sesuai dengan masanya. Begitupun untuk pementasan dengan latar sosial tipikal Suku Dayak. Penata busana harus detil memahami jenis kostum yang tepat.

6) Tata Pentas

Tata pentas adalah segala hal yang terkait dengan penataan tempat pementasan. Istilah tata panggung biasanya digunakan untuk pementasan di panggung. Namun, pementasan dapat juga dilakukan di arena, tanah lapang, ruangan, atau tampat yang lain. Penata pentas biasanya dilakukan secara tim. Panggung atau tempat pentas lainnya mendeskripsikan tempat, waktu, dan suasana yang terjadi. Tata pentas ini berhubungan dengan tata lampu dan tata suara.

7) Tata Lampu

Penata lampu bertugas mengatur pencahayaan di panggung. Karena itu, bagian ini sangat terkait dengan tata panggung. Tata lampu dalam pementasan tidka sekadar memberi penerangan selama pementasan. Lebih dari itu, lampu memiliki banyak fungsi. Fungsi tata lampu menurut Waluyo (2003:137-138) di anataranya adalah memberi efek alamiah dari waktu (misalnya jam, musim, cuaca, dan suasana), membantu melukis bayangan, mengekspresikan mood dan atmosfer lakon, dan sebagainya.

8) Tata Suara

Tata suara bisa terkait pengaturan pengeras suara (sound system), microphone, musik latar, musik dan suara-suara pengiring, dan sebagainya. Menurut Waluyo (2003:148), musik dapat menjadi bagian lakon, tetapi yang terbanyak justru digunakan seabgai ilustrasi, baik sebagai pembuka seluruh lakon, pembuka adegan, memberi efek pada lakon, maupun sebagai penutup lakon. Tata suara berfungsi memberikan efek suara yang diperlakukan lakon, seperti bunyi suara burung, suara tangis, suara kereta api, dan sebagainya. Untuk memberikan efek tertentu, musik sering digabung dengan suara (sound effect).

Di dalam naskah, tata suara ini sering kali tidak tidak dijelaskan secara detil. Informasi dalam teks samping biasanya bersifat umum, seperti musik pelan, gaduh, sendu, atau sedih. Musik pengiring sebaiknya berada di balik layar agar tidak mengganggu para pemain dengan volume yang tepat.

9) Penonton

Penonton menjadi unsur penting dalam pementasan drama. Kesuksesan sebuah pementasan drama dapat dilihat dari respon para penonton. Penonton akan mengapresiasi pementasan sesuai dengan latar belakang pendidikan, ekonomi, ideologi, minat, dan sebagainya.

d. Jenis Drama

Menurut Siswanto (2008:165), berdasarkan masanya, drama dapat dibagi menjadi dua, yaitu drama tradisional dan drama modern. Drama tradisional dan modern ini, menurut Wiyanto (2002:11-12), merupakan pembagian drama berdasar ada tidaknya naskah.

1) Drama Tradisional

Menurut Siswanto (2008:165), drama tradisional atau drama rakyat (folk drama) adalah drama yang lahir dan diciptakan masyarakat tradisional. Drama ini digunakan untuk kegiatan sosial dan keagamaan seperti menyambut datangnya panen, menyambut tamu, sarana ritual atau mengungkapkan rasa syukur kepada Tuhan. Contoh drama tradisional di antaranya wayang orang, wayang ludruk, ketoprak, lenong, dan tari topeng. Menurut Wiyanto (2002:11), drama tradisional tidak menggunakan naskah. Jika pun ada, naskah hanya berupa kerangka cerita dan beberapa catatan yang berkaitan dengan permainan drama. Dalam drama tradisional, watak tokoh, dialog, dan gerak geriknya diserahkan sepenuhnya kepada pemain.

Salah satu drama tradisional adalah kethoprak. Beberapa lakon kethoprak di antaranya Panji Asmorodono, Angling Darmo, Kijang Kencana, dan sebagainya. Menurut Nusantara (1997:56), ciri umum kethoprak ialah tidak menggunakan skenario atau naskah penuh, dramatika lakon mengacu pada wayang kulit purwa, dialog bersifat improvisasi, akting dan bloking bersifat intuitif, tata busana dan tata rias realis, musik pengiring gamelan Jawa (slendro dan pelog), menggunakan keprak dan tembang, lama pertunjukan sekitar 6 jam atau lebih, dan tema cerita dan pengaluran bersifat lentur.

2) Drama Modern

Menurut Siswanto (2008:165), drama modern adalah drama yang lahir pada masyarakat industri. Drama semacam ini sudah memanfaatkan unsur teknologi modern dalam penyajiannya. Dalam seni teater modern, tata busana, tata rias, tata lampu, tata ruang, dan tata panggung dikemas modern, bahkan sudah ada yang menggunakan teknologi modern, film, animasi, dan komputer. Ceritanya selalu berkembang dan tidak selalu merujuk pada cerita tertentu. Menurut Wiyanto (2002:12), drama  modern sudah menggunakan naskah yang memuat nama pemain, dialog, dan teks samping.

e. Apresiasi Drama

Ada banyak cara untuk mengapresiasi drama, di antaranya menginterpretasi drama, merefleksi nilai-nilai drama, menulis teks drama, dan mementaskan drama. Semua aktivitas dalam rangka mengapresiasi drama akan memberi kemanfaatan pada pembaca drama atau penonton pementasan drama.

Menginterpretasi drama merupakan kegiatan menafsirkan makna drama yang dibaca atau pementasan drama yang ditonton. Setiap pembaca akan memiliki interpretasi yang berbeda, yang dipengaruhi oleh pengetahuan dan pengalaman intelektual, emosional, dan imajinasi masing-masing penafsir. 

Menginterpretasi atau menafsirkan drama/film ini sangat diperlukan untuk mengungkapkan makna yang tersembunyi atau sengaja disembunyikan pengarang. Satu hal yang harus dilakukan untuk menginterpretasi drama adalah membaca dengan cermat dan berulang keseluruhan teks drama atau menonton keseluruhan pementasan drama.

Setelah menginterpretasi drama, pembaca dapat merefleksi nilai-nilai drama tersebut dalam kehidupan. Drama adalah tiruan dunia nyata. Pemain-pemain dalam drama mendramatisasikan permasalahan-permasalahan kehidupan. Kerena itu, nilai-nilai dalam drama pasti dekat dengan kehidupan pembacanya.

Selain itu, apresiasi drama bisa dilakukan dengan menulis drama. Ide drama dapat diadaptasi dari cerpen, novel, puisi, diadaptasi dari cerpen, novel, puisi, dan sebagainya. Mengadaptasi dari karya yang sudah ada tidak selalu mudah. 

Untuk mengadaptasi dari karya yang sudah ada, penulis harus memahami isi karya tersebut sebagai bahan penulisan. Setelah itu, dapat dirancang kerangka tulisan dan dituangkan ke dalam bentuk tulisan.

Aktivitas apresiasi drama yang terakhir adalah mementaskan drama. Pementasan adalah sebuah tim yang terdiri dari pemain, penata rias, penata busana, penata pentas, petugas tata suara, dan sebagainya. Tim ini harus kompak dan saling memberi dukungan. 

Untuk membagi tanggung jawab, tugas-tugas dibagi secara merata. Namun, bukan berarti semua harus egois dengan tugasnya masing- masing. Diantara anggota tim harus saling melengkapi dan bekerja sama.

Untuk mementaskan drama, pemain harus memahami jalan cerita secara utuh. Setelah itu, dilanjutkan dengan perencanaan pementasan. Unsur-unsur pementasan drama dapat digunakan sebagai pedoman untuk melakukan perencanaan. 

Beberapa hal yang terkait dengan perencanaan adalah pemilihan naskah yang akan dipentaskan, pembagian pemain dan penata teknis pementasan, dan jadwal latihan sampai pementasan.

Untuk menghasilkan pementasan yang bagus, tim harus banyak berlatih . Refleksi kemajuan latihan pementasan juga perlu dievaluasi. Kualitas latihan akan menentukan kualitas pementasan.

Rangkuman : Menurut Sayuti (2002:3), puisi adalah sebentuk pengucapan bahasa yang mempertimbangkan adanya aspek bunyi-bunyi di dalamnya, yang mengungkapkan pengalaman imajinatif, emosional, dan intelektual penyair yang ditimba dari kehidupan individual dan sosialnya, yang diungkapkan dengan teknik pilihan tertentu, sehingga puisi itu mampu membangkitkan pengalaman tertentu pula dalam diri pembaca atau pendengar-pendengarnya. 

Puisi rakyat merupakan salah satu bentuk kesusastraan lama. Puisi rakyat terikat oleh jumlah suku kata, jumlah bait dan baris, dan persajakan. 

Jenis-jenis puisi rakyat di antaranya adalah pantun, karmina, gurindam, dan syair. Setiap jenis puisi rakyat tersebut memiliki ciri dan struktur yang berbeda-beda. Unsur pembangun puisi terdiri dari unsur fisik dan unsur batin. 

Unsur fisik puisi meliputi persajakan (rima), diksi, gaya bahasa, imaji, struktur, dan perwajahan. Unsur batin puisi meliputi tema, perasaan, nada, dan amanat. Unsur pembangun ini harus dipahami untuk menganalisis puisi. 

Memahami unsur pembangun puisi tersebut bermanfaat untuk menulis puisi dan mendemonstrasikan puisi. Untuk mendapatkan gagasan puisi, kita dapat menggunakan objek yang ada di sekitar, misalnya objek pemandangan alam, video, lagu, kisah inspiratif, dan sebagainya. 

Menulis puisi dapat dilakukan dengan mengolah kata yang dikumpulkan objek-objek tersebut, kemudian merangkainya menjadi baris-baris puisi. Mendemonstrasikan puisi dapat dilakukan dengan pembacaan puisi dan musikalisasi puisi.

Prosa fiksi merupakan genre sastra yang berbentuk prosa. Prosa fiksi bersifat imajinatif. Unsur-unsur pembangun prosa yang merupakan fakta cerita adalah alur, tokoh, dan latar. Alur merupakan rangkaian peristiwa yang saling berhubungan dan menjalin hubungan kausalitas atau sebab akibat. 

Tokoh adalah pelaku yang menggerakkan cerita dalam prosan fiksi. Latar adalah tempat, waktu, dan kondisi sosial yang melatari terjadinya sebuah peristiwa. Jenis prosa fiksi yang dibahas dalam pembelajaran sastra adalah fabel, legenda setempat, anekdot, hikayat, cerpen, novelet, novel, cerita fantasi, dan cerita sejarah. 

Untuk menulis prosa fiksi, kita perlu memahami karakteristik fiksi yang akan kita tulis. Untuk menulis prosa fiksi ini kita bisa mempertimbangkan tahapan menulis, yaitu persiapan menulis, menulis draf, revisi, menyunting, dan publikasi.

Drama merupakan  genre karya sastra  yang berbentuk  cerita  dengan dialog sebagai ciri khasnya. Unsur drama terdiri dari alur, tokoh, latar, tema, amanat, dialog, lakuan, dan teks samping. 

Unsur pementasan drama terdiri dari naskah drama, sutradara, pemain (aktor/aktris), tata rias, tata busana, tata pentas, tata lampu, tata suara, dan penonton. 

Berdasarkan masanya, drama dapat dibagi menjadi dua, yaitu drama tradisional dan drama modern. Drama tradisional atau drama rakyat (folk drama) adalah drama yang lahir dan diciptakan masyarakat tradisional, biasanya pementasan tanpa naskah. 

Contoh drama tradisional adalah wayang orang, wayang ludruk, ketoprak, lenong, dan tari topeng. Drama modern adalah drama yang lahir pada masyarakat industri dan memanfaatkan unsur teknologi modern dalam penyajiannya. Drama modern sudah menggunakan naskah yang memuat nama pemain, dialog, dan teks samping. 

Banyak cara dilakukan untuk mengapresiasi drama, di antaranya adalah menginterpretasi drama, merefleksi nilai- nilai drama, menulis drama, dan memerankan drama.

Sumber: Kusmarwanti. 2019. Pendalaman Materi Bahasa Indonesia Modul 3 Kesastraan. Kemdikbud.

Posting Komentar untuk "Kesastraan - Modul 3 PPPK Bahasa Indonesia"