Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Interaksi Sosial - PPPK Sosiologi 2

Interaksi Sosial - PPPK Sosiologi 2 - hasriani.com


Interaksi Sosial - PPPK Sosiologi 2 - Penjabaran model kompetensi yang dikembangkan pada kompetensi guru bidang studi lebih spesifik pada pembelajaran 2. Interaksi Sosial, ada beberapa kompetensi guru bidang studi yang akan dicapai pada pembelajaran ini, kompetensi yang akan dicapai pada pembelajaran ini adalah guru PPPK mampu:

Kompetensi yang akan dicapai pada pembelajaran ini adalah guru P3K mampu menjelaskan interaksi sosial.

Dalam rangka mencapai kompetensi guru bidang studi, maka dikembangkanlah indikator-indikator yang sesuai dengan tuntutan kompetensi guru bidang studi.

Indikator  pencapaian  komptensi  yang  akan  dicapai  dalam  pembelajaran 2. Interaksi Sosial adalah sebagai berikut.

1. Menjelaskan Interaksi Sosial dan Proses Sosial

2. Menjelaskan Nilai Sosial dan Norma Sosial

3. Menjelaskan Sosialisasi dan Keteraturan Sosial

4. Menjelaskan Penyimpangan dan Pengendalian Sosial

5. Menjelaskan Kelompok Sosial

Uraian Materi Interaksi Sosial - PPPK Sosiologi 2 - hasriani.com

1. Interaksi Sosial dan Proses Sosial

a. Interaksi Sosial

Interaksi sosial merupakan syarat utama terjadinya aktivitas-aktivitas sosial. Interaksi sosial merupakan hubungan-hubungan sosial yang dinamis menyangkut hubungan antara perorangan, antara kelompok dan kelompok manusia, atau antara perorangan dengan kelompok manusia (Soekanto dan Sulistyowati, 2014:56). Interaksi sosial sangat berguna untuk mempelajari banyak masalah dalam masyarakat. Interaksi sosial menyebabkan  individu/kelompok  saling  memengaruhi  satu  sama  lain sepanjang hidupnya.

1) Syarat Interaksi Sosial

Syarat terjadinya interaksi sosial yaitu adanya kontak sosial (social contact) dan komunikasi (communication).

a) Kontak Sosial

Secara harfiah, kontak sosial berarti terjadi hubungan secara fisik. Akan tetapi, sebagai gejala sosial kontak dapat terjadi baik secara langsung (primer) maupun tidak langsung (sekunder).Terjadinya kontak sosial tidak hanya bergantung dari tindakan seseorang, tetapi juga berdasarkan tanggapan (respons) seseorang terhadap tindakan tersebut. Misalnya, ketika seseorang melambaikan tangan maka respons dari pihak lain yaitu membalas dengan lambaian tangan.

Selain primer dan sekunder, kontak sosial dapat bersifat positif dan negatif. Suatu kontak sosial dikatakan positif apabila mengarah pada kesepakatan atau kerja sama. Adapun kontak sosial dikatakan negatif apabila mengarah pada pertentangan.

b) Komunikasi

Arti terpenting komunikasi adalah seseorang memberikan tafsiran terhadap perilaku/informasi/berita kepada orang lain. Orang yang bersangkutan kemudian memberikan reaksi terhadap perilaku/informasi/ berita tersebut. Beberapa komponen dalam proses komunikasi sebagai berikut.

(1) Sumber informasi/pengirim pesan (komunikator).

(2) Informasi/pesan yang disampaikan (stimulus).

(3) Saluran/media.

(4) Penerima informasi (komunikan).

(5) Respons atau tanggapan dari penerima informasi.

Apabila  dalam  interaksi  sosial  salah  satu  komponen  tersebut  tidak terpenuhi dapat terjadi kegagalan dalam proses interaksi.

2) Ciri Interaksi Sosial

Ciri-ciri interaksi sosial menurut Charles P. Loomis sebagai berikut (Setiadi dan Kolip, 2011: 65-66).

(1) Terdapat komunikasi menggunakan simbol- simbol atau lambang.

(2) Jumlah pelaku dua orang atau lebih.

(3) Terdapat tujuan yang akan dicapai.

(4) Terdapat dimensi waktu meliputi masa lalu, masa kini, dan masa depan.

3) Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Interaksi Sosial

Interaksi sosial dalam masyarakat dipengaruhi oleh faktor-faktor berikut.

(1) Simpati merupakan suatu proses ketika seseorang tertarik kepada pihak lain terkait perilaku atau penampilannya.

(2) Empati merupakan kemampuan merasakan keadaan orang lain dan ikut merasakan situasi yang dialami atau dirasakan orang lain.

(3) Imitasi merupakan proses meniru sikap, tindakan, tingkah laku, atau penampilan fisik orang lain di lingkungan sekitarnya secara berlebihan.

(4) Sugesti merupakan proses menerima sikap, pandangan, dan pendapat orang lain tanpa dipikir ulang. Kondisi tersebut dapat terjadi karena pandangan/pendapat berasal  dari orang  yang  berwibawa, memiliki kekuasaan, dan diakui oleh masyarakat.

(5) Motivasi merupakan dorongan, baik dari dalam diri seseorang maupun orang lain untuk melakukan tindakan.

(6) Identifikasi merupakan kecenderungan atau keinginan dalam diri seseorang menjadi sama (identik) dengan pihak lain. Proses identifikasi bersifat lebih mendalam daripada imitasi. Dalam proses identifikasi tidak hanya perilaku dan penampilan luar yang ditiru. Akan tetapi, kepribadian serta sifat-sifat orang lain juga ditiru sebagai pedoman bertindak dalam kehidupan sehari-hari.

4) Jenis-Jenis Interaksi Sosial

Interaksi sosial yang terjadi dalam masyarakat heterogen dapat menyebabkan timbulnya beberapajenis interaksi sosial. Adapun jenis interaksi sosial tersebut

meliputi interaksi antara individu dan individu, individu dan kelompok atau sebaliknya, serta kelompok dan kelompok.

(1) Interaksi antara Individu dan Individu

Interaksi antara individu dan individu berarti individu menyampaikan informasi kepada individu lain. Dengan demikian, subjek dan objek interaksi sosial adalah individu.

(2) Interaksi antara Individu dan Kelompok

Interaksi antara individu dan kelompok berarti individu berperan sebagai subjek/ komunikator dan kelompok berperan sebagai objek (komunikan).

(3) Interaksi antara Kelompok dan Individu

Interaksi antara kelompok dan individu berarti kelompok berperan sebagai subjek dan individu berperan sebagai objek.

(4) Interaksi antara Kelompok dan Kelompok

Interaksi antara kelompok dan kelompok berarti kelompok berperan sebagai subjek dan kelompok lain berperan sebagai objek.

b. Proses Sosial

Hubungan sosial secara timbal balik dan transaksional mendukung terjadinya proses sosial. Proses sosial merupakan kegiatan interaksi sosial yang berlangsung dalam jangka waktu tertentu. Proses sosial secara garis besar dibedakan menjadi dua bentuk, yaitu proses sosial asosiatif dan proses sosial disosiatif.

1) Proses Sosial Asosiatif

Proses sosial asosiatif mengarah pada persatuan dan dapat meningkatkan solidaritas sosial antarindividu/kelompok. Proses sosial asosiatif dapat diklasifikasikan sebagai berikut.

a) Akulturasi

Akulturasi merupakan proses penerimaan unsur-unsur kebudayaan asing menjadi bagian kebudayaan suatu kelompok tanpa menghilangkan kepribadian ataupun ciri khas kebudayaan asli.

b) Asimilasi

Asimilasi merupakan proses peleburan dua kebudayaan atau lebih yang

berbeda menjadi satu kebudayaan baru. Proses asimilasi mengarah pada hilangnya perbedaan di antara kebudayaan yang berbeda.

c) Amalgamasi

Amalgamasi yaitu meleburnya dua kelompok budaya menjadi satu sehingga melahirkan kelompok budaya baru. Amalgamasi mempertegas hilangnya perbedaan-perbedaan. Proses amalgamasi biasanya dilakukan melalui pernikahan campuran.

d) Kerja Sama (Cooperation)

Kerja sama yaitu suatu usaha ber- sama antara perorangan atau kelompok untuk mencapai tujuan bersama. Bentuk- bentuk kerja sama sebagai berikut (Soekanto, 2002: 60).

a) Koalisi (coalition) yaitu kerja sama dua organisasi politik atau lebih untuk mencapai tujuan yang sama dengan bergabung menjadi satu. Jika kerja sama dilakukan atas dasar bagi hasil disebut patungan (joint venture).

b) Tawar-menawar (bargaining) yaitu bentuk perjanjian mengenai per- tukaran barang dan jasa antara dua pihak atau lebih.

c) Kooptasi (cooptation) yaitu bentuk kerja sama yang dilakukan dengan cara menyepakati pimpinan yang ditunjuk mengendalikan jalannya organisasi/kelompok.

e) Akomodasi

Akomodasi yaitu interaksi sosial antara individu dan kelompok dalam upaya menyelesaikan suatu konflik/ pertentangan. Bentuk-bentuk akomodasi sebagai berikut.

a) Toleransi yaitu suatu sikap menghargai perbedaan dalam masyarakat.

b) Arbitrase (arbitration) yaitu upaya penyelesaian sengketa dengan bantuan pihak ketiga yang dipilih oleh kedua belah pihak yang bersengketa. Pihak ketiga dalam arbitrase adalah majelis arbitrase.

c) Mediasi (mediation) yaitu proses pengikutsertaan pihak ketiga sebagai penasihat bersifat netral dalam penyelesaian suatu perselisihan.

d) Ajudikasi (adjudication) yaitu suatu usaha penyelesaian konflik/perselisihan melalui pengadilan (meja hijau).

e) Stalemate yaitu keadaan yang ditandai adanya kekuatan seimbang dari kedua pihak yang bertikai sehingga pertikaian terhenti pada titik tertentu.

f) Koersi (coercion) yaitu bentuk akomodasi yang dilaksanakan menggunakan tekanan (pemaksaan) sehingga salah satu pihak berada dalam keadaan lebih lemah dibandingkan pihak lawan.

g) Kompromi (compromise) yaitu perundingan secara damai antara kedua belah pihak yang bertikai untuk saling mengurangi tuntutan.

h) Konsiliasi (conciliation) yaitu usaha mempertemukan pihak-pihak yang berselisih untuk mencapai persetujuan melalui lembaga sosial sebagai usaha menyelesaikan perselisihan tersebut.

2) Proses Sosial Disosiatif

Proses sosial disosiatif merupakan interaksi sosial yang dapat menyebabkan perpecahan. Bentuk proses sosial disosiatif sebagai berikut.

a) Pertentangan (Pertikaian/Konflik)

Pertentangan adalah suatu proses sosial ketika seseorang/kelompok dengan sadar atau tidak sadar menentang pihak lain disertai ancaman atau kekerasan untuk mendapatkan keinginan/tujuan tertentu.

b) Kontravensi

Kontravensi adalah upaya menghalangi dan menggagalkan tercapainya tujuan pihak lain. Bentuk-bentuk kontravensi berupa gangguan, fitnah, provokasi, dan intimidasi.

c) Persaingan/Kompetisi

Persaingan/kompetisi adalah suatu proses sosial yang dilakukan individu/ kelompok untuk memperoleh  kemenangan secara  kompetitif tanpa menimbulkan bentrok atau kekerasan fisik.

2. Nilai Sosial dan Norma Sosial

Aturan-aturan dalam masyarakat memegang peranan penting untuk menciptakan keteraturan sosial. Aturan pokok tersebut diciptakan dan ditetapkan berdasarkan nilai sosial. Nilai sosial merupakan sesuatu yang dianggap baik dan pantas bagi masyarakat setempat. Aturan-aturan dalam masyarakat meliputi perbuatan yang dilarang dan dianjurkan. Aturan dalam masyarakat terwujud dalam bentuk norma sosial.

Nilai Sosial

Nilai sosial didefinisikan sebagai konsep abstrak tentang prinsip standar atau patokan yang baik, dicita-citakan, penting, dan berguna bagi kehidupan manusia. Menurut Robert M.Z. Lawang (1995), nilai sosial adalah gambaran mengenai hal-hal yang pantas dan berharga atau diinginkan. Hal-hal yang diinginkan oleh seseorang dapat mempengaruhi perilaku sosial orang tersebut. Nilai sosial berperan mengarahkan perilaku seseorang dalam kehidupan bermasyarakat.

1) Ciri-Ciri Nilai Sosial

Meskipun nilai sosial tidak dapat dilihat secara langsung, nilai sosial dapat dimengerti melalui ciri-ciri yang tampak. Adapun ciri-ciri nilai sosial sebagai berikut.

a) Merupakan Hasil Interaksi Anggota Masyarakat

Masyarakat merupakan sekumpulan individu yang berada dalam suatu wilayah. Individu-individu tersebut memiliki kebutuhan yang tidak dapat mereka penuhi sendiri. Oleh karena itu, muncul interaksi sosial dalam masyarakat. Lambat laun interaksi sosial menghasilkan nilai dalam masyarakat tersebut.

b) Terbentuk Melalui Proses Belajar

Nilai sosial merupakan hasil belajar seseorang dengan keluarga, orang lain, dan lingkungan. Interaksi yang terus-menerus terjadi menyebabkan seseorang mempelajari mengenai suatu nilai yang ada dalam masyarakat. Nilai yang sesuai dengan dirinya akan diinternalisasi, sebaliknya nilai yang tidak sesuai akan ditolak.

c) Berbeda Pengaruhnya pada Masyarakat

Masyarakat Indonesia terdiri atas berbagai perbedaan secara horizontal dan vertikal. Perbedaan ini turut memberi pengaruh pada keberadaan suatu nilai. Sebagai contoh, bagi kelompok seniman, nilai estetika sangat mereka junjung, sementara bagi masyarakat lain nilai estetika/keindahan tidak begitu di- perhatikan.

d) Memiliki Pengaruh Positif Sekaligus Negatif

Suatu nilai dapat memberi pengaruh yang berbeda pada kepribadian seseorang.  Seseorang  yang  memiliki  nilai  ekonomi  akan  berusaha

mencukupi kebutuhannya dengan cara bekerja keras. Di sisi lain, nilai ekonomi tersebut dapat menjadikan dirinya egois dan mementingkan dirinya sendiri dengan berusaha mendapatkan untung sebesar- besarnya.

e) Berisi Anggapan Masyarakat Secara Umum

Pada dasarnya nilai yang bersifat abstrak berisi anggapan masyarakat secara umum. Masyarakat sudah pasti sepakat bahwa bersikap sopan kepada orang lain merupakan nilai yang patut dijunjung tinggi. Akan tetapi, ukuran bersikap sopan tersebut masih bisa diperdebatkan atau berbeda pada masyarakat satu dengan masyarakat lain.

f) Keberadaan Nilai Saling Berkaitan

Nilai yang ada dalam masyarakat saling berkaitan sehingga membentuk pola dan sistem sosial. Sebagai contoh, nilai vital, nilai materiel, dan nilai kerohanian dapat membentuk suatu sistem sosial dalam masyarakat.

2) Jenis-Jenis Nilai Sosial

Nilai  sosial  memuat  nilai-nilai  kolektif  yang  dianut  oleh  sebagian  besar masyarakat. Nilai sosial dibagi menjadi tiga sebagai berikut:

a) Nilai vital yaitu segala sesuatu yang berguna bagi manusia untuk melakukan aktivitas atau kegiatan dalam hidupnya. Sesuatu dapat bernilai dilihat dari daya gunanya.

b) Nilai materiel yaitu segala sesuatu yang dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan fisik/jasmani manusia.

c) Nilai rohani yaitu segala sesuatu yang berguna bagi pemenuhan kebutuhan rohani. Nilai rohani dibagi menjadi empat yaitu nilai kebenaran/empiris, nilai keindahan, nilai moral, dan nilai religius.

Berdasarkan ciri-cirinya, nilai sosial dibedakan menjadi tiga sebagai berikut.

a) Nilai instrumental merupakan nilai yang bersifat dinamis sehingga sangatfleksibel terhadap hukum. Nilai instrumental biasanya terdapat dalam kelompok primer yang anggotanya saling memiliki rasa empati, misalnya keluarga.

b) Nilai dominan merupakan nilai yang diutamakan dan dianggap lebih penting daripada nilai lainnya.

c) Nilai  yang  mendarah  daging  merupakan  nilai  yang  membentuk

kepribadian seseorang sehingga pelaksanaannya tidak membutuhkan banyak pertimbangan.

Berdasarkan fungsinya, nilai sosial dikelompokkan sebagai berikut:

a) Nilai integratif merupakan nilai yang memberikan tuntutan atau mengarahkan seseorang/kelompok dalam usaha mencapai cita-cita bersama.

b) Nilai disintegratif merupakan nilai yang hanya berlaku untuk sekelompok orang di wilayah tertentu.

3) Fungsi Nilai Sosial

Nilai-nilai sosial memiliki beberapa fungsi sebagai berikut.

a) Sebagai alat solidaritas masyarakat.

b) Membentuk sikap mandiri dan tanggung jawab.

c) Sebagai pengawas, pembatas, dan pendorong perilaku individu dalam masyarakat.

d) Memotivasi manusia agar berperilaku sesuai peran guna mencapai suatu tujuan.

e) Sebagai alat menentukan harga dan kelas sosial dalam stratifikasi sosial.

f) Mengarahkan masyarakat untuk berpikir dan berperilaku sesuai nilai- nilai sosial agar tercipta integrasi dan ketertiban sosial.

Norma Sosial

Norma sosial berisi larangan dan perintah yang digunakan sebagai petunjuk hidup bermasyarakat. Pelanggaran terhadap norma akan dikenai sanksi.

1) Proses Pembentukan Norma Sosial

Norma sosial tumbuh melalui proses dalam masyarakat berdasarkan nilai yang dianut oleh masyarakat tersebut. Nilai ini dapat berbeda penerapannya pada masyarakat satu dengan masyarakat lain. Perbedaan ini terjadi karena situasi dan kondisi dari masyarakat yang berbeda pula. Selain itu, perbedaan kepentingan dalam masyarakat membutuhkan aturan yang nyata, tidak sekadar nilai yang bisa saja berbeda antarmasyarakat. Oleh karena itu, muncul norma yang memiliki sanksi jelas  agar  nilai yang masih abstrak

tersebut dapat ditaati oleh masyarakat demi mencapai keteraturan sosial.

2) Ciri-Ciri Norma Sosial

Norma sosial tidak dapat dipisahkan dari norma sosial. Meskipun demikian, norma sosial dapat dikenali melalui ciri-ciri yang dapat diamati. Adapun ciri-ciri norma sosial sebagai berikut.

a) Merupakan Hasil Kesepakatan Bersama

Suatu norma sudah tentu telah disepakati oleh masyarakat. Kesepakatan tersebut dapat berupa norma yang tertulis dan tidak tertulis. Sebagai hasil kesepakatan mereka sendiri, norma tersebut harus ditaati oleh masyarakat.

b) Memiliki Sanksi

Perbedaan yang khas dari nilai dan norma terletak pada sanksinya. Apabila pada nilai sanksi tidak ada, sanksi pada norma ada dengan kadar setiap norma berbeda. Norma yang memiliki sanksi paling lemah adalah norma cara (usage) dan norma yang paling kuat sanksinya adalah norma hukum (laws).

c) Berupa Norma Tertulis dan Tidak Tertulis

Norma yang telah disepakati oleh masyarakat berupa norma tertulis dan tidak tertulis. Norma tertulis bersifat resmi seperti norma hukum. Sementara itu, norma tidak tertulis bersifat tidak resmi seperti norma kebiasaan dan kesopanan.

d) Bersifat Dinamis

Norma sosial bersifat dinamis menyesuaikan dengan dinamika masyarakat. Dengan kata lain, norma sosial dapat berubah-ubah karena adanya perubahan dalam masyarakat. Terjadinya perubahan baik yang disadari maupun tidak disadari akan menyebabkan perubahan norma dalam masyarakat.

3) Jenis-Jenis Norma Sosial

Berdasarkan jenisnya, norma sosial dibagi menjadi dua sebagai berikut.

a) Berdasarkan Daya Ikatnya

(1) Tata kelakuan (mores) merupakan sekumpulan perbuatan mengenai anjuran dan larangan dalam kehidupan bermasyarakat.

(2) Cara (usage) merupakan suatu bentuk perilaku atau tindakan yang dilakukan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.

(3) Kebiasaan (folkways) merupakan perbuatan berulang-ulang yang dilakukan secara sadar dan mempunyai tujuan jelas.

(4) Hukum (laws) merupakan sekumpulan aturan tertulis dalam masyarakat yang berisi ketentuan- ketentuan, perintah, dan larangan untuk menciptakan keteraturan.

(5) Adat istiadat (customs) merupakan tata kelakuan yang terintegrasi secara kuat dengan pola-pola perilaku masyarakat.

b) Berdasarkan Sanksinya

(1) Norma kesusilaan merupakan peraturan sosial yang berasal dari hati nurani yang menghasilkan akhlak/ moral.

(2) Norma kesopanan merupakan peraturan sosial yang bersumber pada pola perilaku individu sebagai hasil interaksi sosial dalam masyarakat.

(3) Norma agama merupakan ketentuan-ketentuan yang bersumber pada agama, bersifat mutlak, dan keberadaannya tidak dapat ditawar.

(4) Norma hukum merupakan ketentuan-ketentuan dalam kehidupan sosial yang bersumber dari undang-undang. Pelanggar norma ini akan mendapat sanksi tegas berupa pidana atau perdata.

4) Fungsi Norma Sosial

Fungsi norma sosial dalam masyarakat sebagai berikut.

a) Sebagai sistem kontrol dalam masyarakat. 

b) Sebagai alat menertibkan dan menstabilkan kehidupan sosial. 

c) Sebagai pedoman/aturan perilaku seseorang dalam hidup

bermasyarakat.

5) Manfaat Menjalankan Norma Sosial

Norma harus ditaati dan dijalankan oleh seluruh anggota masyarakat. Dengan menaati norma, masyarakat dapat merasakan manfaat menjalankan norma. Adapun manfaat menjalankan norma dalam masyarakat sebagai berikut.

a) Kebudayaan Masyarakat Terjaga

Mematuhi norma dalam masyarakat berarti menjaga kelestarian budaya masyarakat. Sebuah kebudayaan akan terus bertahan selama masyarakat pendukungnya masih mempraktikkannya dalam kehidupan. Kepatuhan terhadap norma dalam masyarakat merupakan wujud dukungan masyarakat terhadap kebudayaan sehingga kebudayaan tetap lestari.

b) Integrasi Sosial Tercapai

Integrasi sosial merupakan proses penyatuan berbagai unsur dalam kehidupan masyarakat. Norma menyatukan segala bentuk perbedaan yang ada dalam kehidupan masyarakat. Norma dapat menyatukan perbedaan pola pikir, tindakan, dan hubungan sosial antaranggota masyarakat di tiap-tiap daerah. Dengan demikian, masyarakat di tiap-tiap daerah akan terhindar dari perpecahan.

c) Perilaku Individu Dapat Dikendalikan

Norma mengendalikan perilaku individu agar tidak melakukan penyimpangan sosial. Melalui norma, seseorang dapat mengetahui perbuatan-perbuatan yang dianggap benar dan salah. Patokan benar dan salah serta baik dan buruk menjadi kontrol setiap individu untuk berperilaku agar tidak menyimpang dari norma.

d) Keteraturan Sosial Terwujud

Keteraturan sosial dalam masyarakat akan terwujud apabila terdapat norma dalam masyarakat. Kepatuhan atau ketaatan terhadap norma akan mendorong terwujudnya keadaan tertib dan teratur. Keadaan tertib dan teratur merupakan modal utama terciptanya keteraturan sosial.

e) Orang yang Lemah Dapat Terlindungi

Masyarakat terdiri atas beberapa komponen yang saling melengkapi. Oleh karena karakteristik peran dan kemampuan setiap orang berbeda-beda, akibatnya terdapat beberapa kelompok yang memiliki kekuatan dan kelemahan. Salah satu manfaat norma adalah melindungi masyarakat lemah dari ketidaknyamanan dan kesewenangan para pemimpin atau kelompok-kelompok yang memiliki kekuatan.

3. Sosialisasi dan Keteraturan Sosial

a. Sosialisasi

Dalam lingkungan masyarakat, individu dituntut untuk menyesuaikan diri. Proses penyesuaian diri dilakukan agar kita berperilaku sesuai harapan masyarakat. Oleh karena itu, diperlukan pengenalan nilai dan norma sosial melalui proses sosialisasi.

Sosialisasi berlangsung melalui interaksi sosial antar manusia. Manusia mempelajari sesuatu dari orang-orang yang terpenting dalam hidupnya, seperti anggota keluarga, teman baik, dan para guru. Namun demikian manusia juga orang-orang yang ditemui di jalan, televisi, dalam film, majalah atau internet.

Hal-hal yang disosialisasikan dalam proses sosialisasi adalah pengetahuan, nilai, norma serta keterampilan hidup. Pengetahuan disosialisasikan melalui proses pendidikan dan pengajaran, keterampilan disosialisasikan melalui proses pelatihan. Pada akhirnya nilai dan norma sosial diinternalisasikan oleh orang yang terlibat dalam sosialisasi. Proses internalisasi adalah proses mempelajari atau me-nerima nilai dan norma sosial sepenuhnya sehingga menjadi bagian dari sistem nilai dan norma yang dianutnya.

1) Pengertian Sosialisasi

Sosialisasi merupakan proses sosial yang dialami seseorang atau kelompok untuk belajar mengenali serta menghayati pola perilaku, sistem nilai, dan norma yang berlaku dalam masyarakat. Dengan sosialisasi, individu dapat berkembang menjadi pribadi yang diterima masyarakat.

Menurut G. Herbert Mead, pembentukan diri seseorang berlangsung melalui pengambilan peran (role taking). Ketika lahir manusia belum mempunyai diri (self) diri manusia berkembang tahap demi tahap melalui interaksi dengan melalaui interaksi dengan anggota masyarakat lai. Setiap anggota baru harus mempelajari peran-peran dalam masyarakatnya. Dalam proses ini seseorang belajar mengenai peran apa yang dijalaninya dan apa yang dijalankan orang lain. Setiap individu mengalami sosialisasi sesuai tahapannya. Adapun tahapan sosialisasi sebagai berikut.

a) Tahap Persiapan (Preparatory Stage)

Tahap persiapan merupakan tahap pemahaman tentang diri sendiri. Pada tahap ini anak mulai melakukan tindakan meniru meskipun belum sempurna.

b) Tahap Meniru (Play Stage)

Play stage merupakan tahap anak dapat meniru perilaku orang dewasa secara lebih sempurna. Pada tahap ini anak sudah menyadari keberadaan dirinya dan orangorang terdekat serta mampu memahami suatu peran.

c) Tahap Siap Bertindak (Game Stage)

Pada tahap ini anak mulai memahami perannya dalam keluarga dan masyarakat. Anak juga mulai menyadari peraturan yang berlaku.

d) Tahap Penerimaan Norma Kolektif (Generalized Other)

Pada tahap ini anak sudah mencapai proses pendewasaan dan mengetahui kehidupan bermasyarakat dengan jelas. Anak juga mampu memahami perannya dalam masyarakat.

2) Tujuan Sosialisasi

Tujuan sosialisasi sebagai berikut:

a) Menciptakan integrasi masyarakat.

b) Mencegah terjadinya perilaku menyimpang.

c) Mewariskan nilai dan norma kepada generasi penerus.

d) Membantu individu untuk beradaptasi dengan lingkungan sekitar.

e) Memberikan pengetahuan yang berhubungan dengan nilai dan norma sehingga dapat diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat.

3) Bentuk Sosialisasi

Sosialisasi terbagi dalam beberapa bentuk sebagai berikut:

a) Sosialisasi langsung merupakan tahap sosialisasi yang dilakukan secara face to face tanpa menggunakan media perantara atau alat komunikasi. Melalui sosialisasi ini, subjek sosialisasi dapat menilai keberhasilan pesan yang disampaikan melalui sikap, mimik muka, dan argumentasi yang disampaikan.

b) Sosialisasi tidak langsung merupakan sosialisasi yang dilakukan menggunakan  media  atau  perantara  komunikasi.  Subjek  dan  objek

sosialisasi tidak berada dalam konteks ruang dan waktu yang sama.

c) Sosialisasi primer merupakan tahap sosialisasi pertama yang diterima individu di lingkungan keluarga.

d) Sosialisasi sekunder merupakan bentuk sosialisasi yang terjadi di lingkungan sekolah, lingkungan bermain, lingkungan kerja, dan interaksi melalui media massa.

e) Sosialisasi represif merupakan bentuk sosialisasi yang bertujuan mencegah terjadinya perilaku menyimpang. Sosialisasi represif berkaitan dengan pemberian hadiah (reward) dan hukuman (punishment).

f) Sosialisasi partisipatoris merupakan bentuk sosialisasi yang dilakukan dengan meng- utamakan peran aktif objek sosialisasi dalam proses internalisasi nilai dan norma.

g) Sosialisasi secara formal merupakan bentuk sosialisasi melalui lembaga- lembaga formal seperti sekolah dan kepolisian.

h) Sosialisasi secara nonformal merupakan bentuk sosialisasi melalui lembaga nonformal seperti masyarakat dan kelompok bermain.

4) Faktor-Faktor Pembentuk Kepribadian

Kepribadian seseorang dapat dipengaruhi oleh faktor keturunan dan sosialisasi yang dilakukan individu. Berikut faktor-faktor pembentuk kepribadian seseorang.

a) Faktor kebudayaan yaitu faktor pembentuk kepribadian yang dipengaruhi lingkungan budaya.

b) Faktor biologis yaitu faktor pembentuk kepribadian yang diperoleh dari gen keturunan orang tua.

c) Faktor geografis yaitu faktor pembentuk kepribadian yang dipengaruhi oleh lingkungan alam.

d) Faktor prenatal yaitu faktor yang berkaitan dengan pemberian rangsangan atau stimulus ketika anak masih dalam kandungan.

e) Faktor pengalaman yaitu faktor pembentuk kepribadian yang berhubungan dengan pengalaman hidup.

f) Faktor kelompok yaitu kepribadian seseorang yang terbentuk karena pengaruh lingkungan kelompok sosial.

5) Berbagai Bentuk Media atau Agen Sosialisasi

Sosialisasi  dalam  masyarakat  dapat  dilakukan  melalui  beberapa  media berikut.

a) Keluarga

Keluarga merupakan kelompok primer yang memiliki intensitas tinggi untuk mengawasi perilaku anggota keluarga. Sosialisasi dalam keluarga bertujuan membentuk ciri khas kepribadian anak.

b) Sekolah

Sosialisasi di lingkungan sekolah berperan sebagai sosialisasi sekunder dan memiliki cakupan lebih luas. Sosialisasi di sekolah bertujuan menanamkan nilai kedisiplinan yang lebih tinggi dan mutlak serta berorientasi mempersiapkan peran peserta didik pada masa mendatang.

c) Kelompok Sepermainan (Peer Group)

Proses sosialisasi dalam kelompok bermain dilakukan antarteman, baik teman sebaya maupun teman tidak sebaya. Hubungan sosialisasi yang terjalin dalam kelompok bermain bersifat ekualitas (sederajat).

d) Lingkungan Kerja

Sosialisasi dalam lingkungan kerja diutamakan untuk mencapai kesuksesan dan keunggulan hasil kerja. Adaptasi dalam proses sosialisasi di lingkungan kerja dilakukan berdasarkan tuntutan sistem dan intensitas sosialisasi tertinggi dilakukan antarkolega.

e) Media Massa

Penyampaian pesan dalam sosialisasi melalui media massa lebih bersifat umum, selalu mengikuti segala bentuk  perkembangan dan perubahan sosial, serta berperan penting menyampaikan nilai dan norma untuk menghadapi masyarakat yang heterogen.

6) Pola Sosialisasi

Gertrude Jaeger (Sunarto, 2008) membagi sosilalisasi ke dalam dua pola.

a) Sosialisasi represif: Menekankan pada penggunaan hukuman terhadap kesalahan, komunikasi satu arah, kepatuhan penuh anak-anak kepada orang tua. Peran orang tua sangat dominan.

b) Sosialisasi   partisipatif.   Yaitu   sosialisasi   yang   lebih   mengutamakan penggunaan motivasi, persuasi, komunikasi timbal balik dan penghargaan terhadap otonomi anak. Orang tua merupakan partner sharing tanggung jawab dalam proses tersebut. Merupakan pola anak diberi imbalan ketika berperilaku baik.

b. Keteraturan Sosial

Tujuan interaksi sosial adalah mewujudkan keteraturan sosial. Keteraturan sosial menunjukkan masyarakat melakukan interaksi sosial secara tertib dan teratur sesuai nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakat. Wujud keteraturan sosial dapat dilihat dalam kehidupan masyarakat yang aman, tertib, saling menghormati, dan mengedepankan gotong royong. Keteraturan sosial dalam masyarakat dapat terbentuk melalui unsur- unsur berikut.

1) Tertib sosial, artinya kondisi kehidupan suatu masyarakat yang aman, dinamis, dan teratur karena setiap individu bertindak sesuai nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakat. Sebagai contoh, tertib sosial dalam masyarakat dapat dilihat ketika kita mengamati pengendara sepeda motor di jalan raya. Pengguna jalan raya yang memahami norma yang berlaku akan menaati aturan lalu lintas. Sementara itu, pengguna jalan yang tidak memahami norma sosial akan melanggar aturan lalu lintas.

2) Order, artinya sistem norma dan nilai sosial yang berkembang, diakui, dan dipatuhi oleh seluruh anggota masyarakat. Order dapat tercapai apabila terdapat tertib sosial dan setiap individu melaksanakan hak serta kewajibannya. Contoh order adalah adat istiadat yang dijadikan pedoman dalam kehidupan masyarakat.

3) Keajekan, artinya suatu kondisi keteraturan sosial yang berlangsung tetap dan berkelanjutan sebagai hasil hubungan antara tindakan, nilai, dan norma sosial yang berlangsung secara terus-menerus. Keajekan bisa terwujud jika setiap individu telah melaksanakan hak dan kewajiban sesuai sistem norma dan nilai sosial yang berkembang dalam lingkungan tertentu. Misalnya, setiap pagi peserta didik selalu datang ke sekolah.

4) Pola, artinya corak hubungan yang tepat dan ajek dalam interaksi sosial yang dijadikan model bagi semua anggota masyarakat atau kelompok. Pola lebih menekankan aspek kebiasaan yang tetap terpelihara dan teruji dalam berbagai situasi. Contoh pola adalah musyawarah yang dijadikan masyarakat sebagai  cara  menyelesaikan  masalah  karena teruji  dapat  menyelesaikan berbagai persoalan.

Berikut syarat-syarat terwujudnya keteraturan sosial dalam masyarakat.

a) Terdapat norma sosial sesuai kebutuhan serta peradaban manusia.

b) Terdapat kesadaran warga tentang pentingnya keteraturan masyarakat.

c) Terdapat aparat penegak hukum yang konsisten dalam menjalankan tugas, fungsi, dan wewenangnya dalam upaya mewujudkan keteraturan sosial.

Penyimpangan dan Pengendalian Sosial

Penyimpangan sosial sering ditemukan dalam kehidupan di sekitar kita. Penyimpangan sosial terjadi akibat ketidaksesuaian perilaku atau tindakan dengan nilai dan norma sosial dalam masyarakat. Penyimpangan sosial dapat mengganggu keteraturan sosial. Oleh karena itu, diperlukan upaya pengendalian sosial untuk mengembalikan keteraturan sosial.

a. Penyimpangan Sosial

Menurut Elly M. Setiadi dan Usman Kolip (2011), penyimpangan sosial merupakan semua perilaku manusia, baiksecara individual maupun kelompok yang tidak sesuai nilai dan norma yang berkembang dalam kelompok tersebut. Penyimpangan sosial sering disebut deviasi sosial. Adapun pelaku penyimpangan sosial disebut devian (deviant).

1) Ciri-Ciri Penyimpangan Sosial

Menurut Horton dan Hunt  (1987) ciri-ciri penyimpangan sosial sebagai berikut.

a) Terdapat penyimpangan relatif dan penyimpangan mutlak. Artinya, terdapat pihak-pihak yang melakukan penyimpangan dengan frekuensi kecil atau disebut penyimpangan relatif dan terdapat pihak-pihak yang melakukan penyimpangan dengan frekuensi besar dan kontinu atau disebut penyimpangan mutlak.

b) Muncul penyimpangan terhadap budaya nyata dan budaya ideal. Artinya, budaya ideal berkaitan dengan norma yang tertulis. Akan tetapi, banyak peristiwa budaya nyata yang menyimpang dari budaya ideal.

c) Didefinisikan  perilaku  menyimpang  oleh  masyarakat.  Artinya,  suatu

perilaku yang telah dicap sebagai penyimpangan karena merugikan dan meresahkan masyarakat. Pedoman yang digunakan yaitu nilai dan norma sosial dalam masyarakat.

d) Terdapat norma penghindaran dalam penyimpangan. Artinya, terdapat praktik- praktik dalam masyarakat yang tidak sesuai dengan norma yang berlaku, tetapi masyarakat menolak jika dikatakan menyimpang.

e) Penyimpangan dapat diterima atau ditolak. Artinya, penyimpangan yang dilakukan tidak selalu berdampak negatif. Jika penyimpangan berdampak positif seperti mendorong perubahan akan diperbolehkan.

2) Faktor Penyebab Terjadinya Penyimpangan Sosial

Penyimpangan sosial dalam masyarakat disebabkan oleh beberapa faktor berikut:

a) Keterbatasan ekonomi.

b) Pelampiasan rasa kecewa.

c) Sosialisasi tidak sempurna.

d) Pemberian julukan (labelling).

e) Pengaruh mental yang tidak sehat.

f) Keinginan seseorang untuk dipuji oleh orang lain.

g) Pengaruh lingkungan dan media massa yang cenderung negatif.

h) Adanya differential association atau asosiasi diferensial.

i) Sosialisasi subkebudayaan menyimpang.

j) Penyerapan nilai dan norma dalam proses sosialisasi tidak maksimal.

3) Hubungan Sosialisasi dengan Penyimpangan Sosial

Proses  sosialisasi  yang  mempengaruhi  munculnya  penyimpangan  sosial meliputi proses belajar menyimpang dan proses sosialisasi tidak sempurna.

a) Proses belajar menyimpang. Individu atau kelompok melakukan proses sosialisasi berupa belajar melakukan penyimpangan. Individu atau kelompok secara sadar ingin melakukan penyimpangan. Misalnya, pelajar secara sadar melanggar tata tertib sekolah.

b) Proses sosialisasi tidak sempurna. Agen atau media sosialisasi yang tidak menjalankan proses sosialisasi secara benar dapat mendorong terjadinya penyimpangan sosial. Misalnya, orang tua tidak menjalankan fungsi afeksi dan kontrol terhadap anak.

4) Klasifikasi Penyimpangan Sosial dalam Masyarakat

Penyimpangan  sosial  dalam  masyarakat  dapat  diklasifikasikan  sebagai berikut.

a) Berdasarkan Sifatnya

(1) Penyimpangan positif yaitu perilaku yang bertentangan dengan norma kebiasaan dalam masyarakat, tetapi berdampak positif bagi pelaku penyimpangan atau orang lain di sekitarnya. Sebagai contoh, perempuan bekerja pada pekerjaan yang mayoritas dikerjakan oleh laki- laki atau sebaliknya.

(2) Penyimpangan negatif yaitu seluruh perilaku bertentangan dengan nilai dan norma dominan dalam masyarakat. Penyimpangan ini menimbul- kan keresahan dan berdampak negatif bagi pelaku atau masyarakat. Masyarakat biasanya tidak mentoleransi tindak penyimpangan negatif.

b) Berdasarkan Jumlah Pelakunya

(1) Penyimpangan individual yaitu penyimpangan yang dilakukan oleh seseorang yang melanggar tatanan nilai dan norma di lingkungan masyarakat.

(2) Penyimpangan koiektif yaitu bentuk pelanggaran terhadap nilai dan norma oleh sekelompok orang secara terkoordinasi. Penyimpangan ini terjadi karena adanya pengaruh subkebudayaan menyimpang.

c) Berdasarkan Jenisnya

(1) Penyimpangan primer yaitu penyimpangan yang dilakukan dalam kondisi terdesak atau ketidaksengajaan. Ciri penyimpangan ini bersifat temporer, tidak dilakukan secara berulang-ulang, dan masih dapat ditoleransi oleh masyarakat.

(2) Penyimpangan sekunder yaitu penyimpangan sosial yang dilakukan secara berulang-ulang dan sudah mengarah pada pelanggaran hukum.

b. Pengendalian terhadap Penyimpangan Sosial

Menurut Bruce J. Cohen (1992), pengendalian penyimpangan sosial merupakan cara-cara atau metode yang digunakan untuk mendorong seseorang agar berperilaku selaras dengan kehendak kelompok atau masyarakat tertentu. Masyarakat dapat mengajak, mendidik, serta memaksa warga masyarakat mematuhi nilai dan  norma sosial yang berlaku dalam masyarakat.

1) Fungsi Pengendalian Sosial

Pengendalian sosial memiliki beberapa fungsi sebagai berikut.

a) Mempertebal keyakinan masyarakat terhadap norma sosial.

b) Memberikan imbalan kepada warga yang menaati norma.

c) Mengembangkan rasa malu.

d) Mengembangkan rasa takut.

e) Menciptakan sistem hukum.

2) Proses Pengendalian terhadap Penyimpangan Sosial

Proses  pengendalian  terhadap  penyimpangan  sosial  terbagi  menjadi  tiga bagian, yaitu berdasarkan cara, sifat, dan bentuk pengendalian sosial.

a) Berdasarkan Cara Pengendalian Sosial

Pengendalian sosial berdasarkan caranya sebagai berikut.

(1) Persuasif merupakan pengendalian sosial tanpa kekerasan dengan melakukan pendekatan-pendekatan, balk secara formal maupun informal dalam bentuk sosialisasi, imbauan, dan bimbingan kepada pelaku penyimpangan agar mematuhi nilai dan norma sosial.

(2) Koersif merupakan pengendalian sosial dengan cara kekerasan atau paksaan, baik secara fisik maupun nonfisik untuk membentuk masya- rakat yang tertib sosial.

b) Berdasarkan Sifat Pengendalian Sosial

Pengendalian sosial berdasarkan sifatnya.

(1) Preventif merupakan pengendalian sosial yang dilakukan dengan mencegah munculnya gangguan keserasian masyarakat.

(2) Represif merupakan pengendalian sosial yang dilakukan untuk mengembalikan keserasian akibat

(3) Pelanggaran nilai dan norma sosial. Upaya pengendalian sosial ini

dilakukan dengan cara memberikan sanksi.

c) Berdasarkan Bentuk Pengendalian Sosial

Pengendalian sosial berdasarkan bentuknya sebagai berikut.

(1) Formal merupakan pengendalian sosial bersifat tertulis yang dilaku- kan oleh pihak berwenang seperti polisi, kejaksaan, dan pengadilan. Pelaku penyimpangan akan diproses sesuai ketentuan undang- undang dan peraturan yang berlaku.

(2) Nonformal merupakan pengendalian sosial yang tidak tertulis dan dilakukan oleh masyarakat kepada pelaku penyimpangan secara langsung melalui desas-desus, intimidasi, teguran, cemooh, dan pengucilan.

3) Jenis-jenis Pengendalian Sosial

a) Gosip. Gosip atau desas-desus atau kabar burung, merupakan berita yang menyebar belum tentu atau tanpa berdasar kenyataaan. Pada umumnya orang tidak senang kalau menjadi sasaran gosip, sebab gosip menyebabkan perubahan sikap masyarakat terhadap orang yang digosipkan. Oleh karena itu orang akan berusaha tidak menjadi sasaran gosip. Gosip menjadikan seseorang menyadari kesalahannya, lalu berusaha bertindak sesuai denga norma yang berlaku.

b) Sindiran. Sindiran merupakan cara menegur seseorang tidak secara langsung kepada orang yang bersangkutan atau pelanggaran yang dilaku- kannya. Sindiran dimaksud untuk menegur secara halus supaya orang yang dimaksud tidak kehilangan muka dan segera menyadari kekeliruannya.

c) Teguran. Teguran adalah peringatan yang dilakukan oleh satu pihak kepada pihak lain secara tertulis maupun lisan. Tujuannya untuk menyadarkan pihak yang melakukan perilaku menyimpang.

d) Sanksi. Sanksi atau hukuman adalah perlakuan tertentu yang sifatnya tidak mengenakkan atau menimbulkan penderitaan, diberikan kepada seseorang yang melakukan penyimpangan. Hukuman ini dimaksudkan untuk menyadarkan pelaku penyimpang sehingga tidak melakukan penyimpangan lagi, dan memberikan contoh kepada masyarakat bahwa aturan harus ditegakkan.

e) Pendidikan. Melalui pendidikan seseorang menjadi tahu, memahami, mengakui dan bersedia berperilaku sesuai dengan norma yang berlakau dalam masyarakat. Pendidikan berlangsung dalam tiga matra yaitu keluarga, sekolah dan masyarakat.

f) Agama. Bagi umat beragama, agama memberikan pedoman hidup, baik dalam berhubungan dengan sesama manusia, dengan alam maupun dengan Tuhan. Agama memberikan perintah untuk berbuat baik dan memberikan larangan untuk berbuat jahat.

4. Kelompok Sosial

Menurut Rouceck dan Warren (Veeger, 1992) kelompok sosial adalah suatu kelompok yang meliputi dua atau lebih manusia, yang di antara mereka terdapat beberapa pola interaksi yang dapat dipahami oleh para anggotanya atau orang lain secara keseluruhan.

Menurut Abdulsyani (1990) kelompok adalah kumpulan orang yang memiliki kesadaran bersama akan keanggotaan dan saling berinteraksi. Kelompok diciptakan oleh anggota masyarakat. Kelompok juga dapat memengaruhi perilaku para anggotanya. Kelompok sosial juga merupakan himpunan manusia yang hidup bersama dalam suatu perikatan sosial dan kultural.

Park dan Burgess (Susanto, 1979: 48) menyebut bahwa kelompok sebagai “social group” antara para anggotanya perlu ada interaksi dengan faktor-faktor utama yaitu:

• An interrelationship (hubungan antara para anggotanya)

• An interplay of personality (teman bermain)

• A moving unit of interacting personalites (gerak sosial)

Robert Mac Iver (Soekanto, 2002: 115) mengemukakan bahwa diperlukan suatu syarat-syarat untuk mendefinisikan kelompok sosial, yaitu:

1) Setiap anggota kelompok harus sadar bahwa dia merupakan bagian dari kelompok yang bersangkutan;

2) ada hubungan timbal balik antara anggota yang satu dengan lainnya;

3) ada suatu faktor yang dimiliki bersama yang mempererat hubungan anggota kelompok, seperti faktor senasib, ideologi, kepentingan, tujuan, dan kepercayaan;

4) berstruktur, berkaidah, dan mempunyai pola perilaku;

5) bersistem dan berproses.

a. Proses Terbentuknya Kelompok Sosial

Pada dasarnya, pembentukan kelompok dapat diawali dengan adanya keyakinan bersama akan perlunya pengelompokan dan tujuan, adanya harapan yang dihayati oleh anggota-anggotanya, serta adanya ideologi yang mengikat semua. Dalam proses selanjutnya didasarkan adanya hal-hal berikut (Susanto, 1979):

1) Persepsi: Pembagian kelompok didasarkan pada tingkat kemampuan intelegensi yang dilihat dari pencapaian akademis. Misalnya terdapat satu atau lebih punya kemampuan intelektual, atau yang lain memiliki kemampuan bahasa yang lebih baik. Dengan demikian diharapkan anggota yang memiliki kelebihan tertentu bisa menginduksi anggota lainnya.

2) Motivasi: Pembagian kekuatan yang berimbang akan memotivasi anggota kelompok untuk berkompetisi secara sehat dalam mencapai  tujuan kelompok. Perbedaan kemampuan yang ada pada setiap kelompok juga akan memicu kompetisi internal secara sehat. Dengan demikian dapat memicu anggota lain melalui transfer ilmu  pengetahuan  agar bisa memotivasi diri untuk maju.

3) Tujuan/ideologi: Terbentuknya kelompok karena memiliki tujuan untuk dapat menyelesaikan tugas-tugas kelompok atau individu.

4) Organisasi: Pengorganisasian dilakukan untuk mempermudah koordinasi dan proses kegiatan kelompok. Dengan demikian masalah kelompok dapat diselesaikan secara lebih efesien dan efektif.

5) Independensi: Kebebasan merupakan hal penting dalam dinamika kelompok. Kebebasan disini merupakan kebebasan setiap anggota untuk menyampaikan ide, pendapat, serta ekspresi selama kegiatan. Namun demikian kebebasan tetap berada dalam tata aturan yang disepakati kelompok.

6) Interaksi: Interaksi merupakan syarat utama dalam dinamika kelompok, karena dengan interaksi akan ada proses transfer ilmu dapat berjalan secara horizontal yang didasarkan atas kebutuhan akan informasi tentang pengetahuan tersebut.

Apabila kelompok telah terbentuk, maka dengan sendirinya diusahakan mempertahankan dirinya/hidupnya. Kelangsungan hidup dari tiap-tiap kelompok sosial tersebut, dipengaruhi oleh beberapa faktor, di antaranya faktor psikologis dan faktor sosial (Susanto, 1979).

Faktor psikologis meliputi (1) Tiap-tiap anggota takut dicela oleh anggota lainnya; (2) Bahwa tiap-tiap anggota memerlukan perasaan aman dan membutuhkan perlindungan dari kelompoknya. Sedangkan faktor sosial meliputi (1) Adanya norma kelompok (group norm); (2) Jumlah atau banyaknya koordinasi antara anggota kelompok menentukan berlangsungnya suatu kelompok. (3) Kelompok sebagai tempat perwujudan dari kebutuhan.

b. Macam - Macam Kelompok Sosial

Masyarakat terdiri atas macam-macam kesatuan sosial, karena itu dapat dibedakan (diklasifikasikan) ke dalam  beberapa jenis atas  dasar  berbagai ukuran. Berbagai pengklasifikasian tentang kelompok sosial telah banyak dilakukan para tokoh sosiologi.

1) Dilihat dari besaran jumlah anggotanya, George Simmel (Soekanto, 2002: 118) menganalisa kelompok-kelompok sosial mulai dari satu orang sebagai fokus hubungan sosial, yang dinamakan monad, kemudian dua orang (dyad), tiga orang (triad), dan seterusnya.

2) Dilihat dari berlangsungnya suatu kepentingan, Max Weber (Soekanto, 2002: 136-139; Sunarto, 2000: 140) menyoroti tentang adanya konsep kelompok formal (formal group) dan kelompok informal (informal group). Kelompok formal dirumuskan sebagai kelompok-kelompok yang mempunyai peraturan-peraturan yang tegas dan dengan sengaja diciptakan oleh anggota-anggotanya untuk mengatur hubungan antara anggota- anggotanya. Pada kelompok informal tidak terdapat struktur dan organisasi secara pasti. Kelompok informal biasanya terbentuk karena pertemuan yang berulang kali atas dasar kepentingan dan pengalaman yang sama.

3) Dilihat dari derajat interaksi sosial, Charles Horton Cooley (Soekanto, 2002: 125-132; Sunarto, 2000: 134), membagi kelompok sosial menjadi dua, yaitu kelompok primer (primary group) dengan kelompok sekunder (secondary group). Menurutnya, kelompok primer adalah kelompok yang ditandai oleh pergaulan dan kerjasama yang bersifat intim dan pribadi, misalnya keluarga, kelompok sepermainan (peer group), rukun tetangga, dan sebagainya. Sedangkan kelompok sekunder adalah kelompok- kelompok besar yang terdiri dari banyak orang, hubungannya tidak berdasarkan kedekatan pribadi dan tidak langgeng, misalnya, kelompok buruh pada masyarakat industri, klub sepakbola pada masyarakat industri, dan sebagainya.

4) Dilihat dari sudut persaingan antarkelompok, William Graham Sumner (Soekanto, 2002: 123-125; Sunarto, 2000: 134) mengklasifikasikan pembedaan antara kelompok dalam (in-group) atau kelompok kami (we- group) dan kelompok luar (out-group) atau kelompok orang lain (others group). Kelompok dalam merupakan kelompok sosial di mana individu mengidentifikasikan dirinya. Dalam kelompok ini terdapat hubungan persahabatan, kerjasama, dan kedamaian antara anggotanya. Sedangkan kelompok luar adalah kelompok di luar in-group-nya, yang ditandai oleh adanya rasa perbedaan, persaingan bahkan permusuhan. Sebagai contoh, kelompok “kami siswa sekolah X” dan “mereka siswa sekolah Z”, “kami orang desa” dan “mereka orang kota”, dan seterusnya.

5) Dilihat dari derajat organisasi, Robert K. Merton (Soekanto, 2002: 139- 142; Sunarto, 2000: 135) membedakan antara membership group (kelompok anggota) dan reference group (kelompok acuan). Membership group merupakan kelompok di mana seseorang secara fisik menjadi anggota kelompok tersebut, meskipun karena situasi tertentu seseorang tersebut tidak selalu berkumpul dengan anggota lain dalam kelompok tersebut, misalnya kelompok pelajar SMA, kelompok mahasiswa, kelompok pekerja, dan sebagainya Sedangkan reference group adalah kelompok sosial yang menjadi acuan bagi sesorang untuk membentuk pribadi dan perilakunya. Misalnya, kelompok sosialita di Amerika menjadi referensi bagi kelompok sosialita di Indonesia.

6) Dilihat dari kepentingan wilayah Ferdinand Tonnies (Soekanto, 2002: 132- 136; Sunarto, 2000: 133) juga mengulas secara rinci pembagian kelompok sosial. Menurutnya kelompok sosial dibagi menjadi dua bagian, gemeinschaft dan gesselschaft. Gemeinschaft atau masyarakat paguyuban digambarkan sebagai bentuk kehidupan bersama,di mana anggota-anggotanya oleh hubungan batin yang murni dan bersifat alamiah serta kekal. Ciri - ciri paguyuban, yaitu: 1) Intim yaitu hubungan menyeluruh yang mesra; 2) Privat, yaitu hubungan yang bersifat pribadi atau khusus untuk beberapa orang saja; dan 3) Ekslusif, yaitu hubungan tersebut hanyalah untuk anggota dan tidak untuk orang-orang lain di luar anggota. Ada tiga tipe paguyuban, 1) paguyuban karena ikatan darah (gemeinschaft by blood) atau genealogis, yaitu kelompok yang terbentuk berdasarkan hubungan sedarah. Kelompok genealogis memiliki tingkat solidaritas yang tinggi karena adanya keyakinan tentang kesamaan nenek moyang. Contoh: keluarga, kelompok kekerabatan. 2) paguyuban karena tempat (gemeinschaft of place), yaitu kelompok sosial yang terbentuk berdasarkan lokalitas (komunitas). Contoh: Beberapa keluarga yang berdekatan membentuk RT(Rukun Tetangga), dan selanjutnya sejumlah Rukun Tetangga membentuk RW (Rukun Warga); dan 3)  paguyuban karena ideologi atau hubungan kepatuhan (gemeinschaft of mind). Contoh: organisasi massa berdasarkan agama. Sedangkan gesselschaft atau masyarakat patembayan, dilukiskan sebagai kelompok sosial yang memiliki ikatan lahir yang bersifat pokok untuk jangka waktu yang pendek sementara. Ciri-ciri patembayan: 1) Impersonal, yaitu hubungan keanggotaan sebatas kepentingan. 2) Kontraktual, yaitu ikatan antaranggota berdasarkan perjanjian semata; 3) Realistis dan ketas, yaitu hubungan antaranggotanya tidak akrab dan mengutamakan untung rugi. Contoh: ikatan antara pedagang, organisasi dalam sebuah pabrik, atau masyarakat di lingkungan perkotaan.

7) Dilihat dari kuat lemahnya ikatan kelompok, Emile Durkheim (Sunarto, 2000: 132) melihat bahwa masyarakat terbagi menjadi dua kelompok sosial berdasarkan ikatan solidaritas, yaitu solidaritas mekanik dan solidaritas organik. Dalam masyarakat yang menganut solidaritas mekanik, yang diutamakan adalah faktor persamaan perilaku dan sikap. Seluruh warga masyarakat terikat dalam kesadaran kolektif (collective conscience), suatu kesadaran bersama yang mencakup kepercayaan dan perasaan dan bersifat memaksa. Solidaritas mekanik ini  biasanya  terdapat  dalam masyarakat pedesaan. Sedangkan masyarakat yang menganut solidaritas organik, cenderung saling ketergantungan karena adanya pembagian kerja. Ikatan yang tumbuh dalam masyarakat ini terjalin melalui kesepakatan di antara kelompok profesi. Masyarakat  dengan  solidaritas organik ini diidentikan dengan masyarakat yang terdapat di lingkungan perkotaan.

Berdasarkan pada ada tidaknya organisasi, hubungan sosial antara kelompok, dan kesadaran jenis, Robert Bierstedt (Sunarto, 2000: 130) menggunakan tiga kriteria untuk membedakan jenis  kelompok, yaitu: (a) adanya orientasi yang telah ditentukan bersama atau organisasi; (b) kesadaran jenis yang sama; dan (c) adanya hubungan sosial. Berdasarkan kriteria-kriteria tersebut dibedakan empat jenis kelompok:

1) Kelompok statistik (statistical group), adalah pengelompokan atas dasar ciri tertentu. Kelompok ini merupakan hasil ciptaan para ilmuwan sosial hanya untuk kepentingan analitis, misalnya kelompok umur, kelompok pekerjaan, kelompok jenis kelamin;

2) Kelompok kemasyarakatan (societal group), merupakan kelompok yang hanya memenuhi satu persyaratan, yaitu adanya kesadaran dan persamaan di antara anggotanya, misalnya kelompok pemuda, kelompok wanita, kelompok petani, kelompok pengusaha

3) Kelompok sosial (social group), merupakan kelompok yang mempunyai kesadaran jenis di antara anggotanya dan berhubungan satu dengan yang lain tetapi tidak terikat dalam ikatan organisasi, misalnya kelompok teman, kerabat, keluarga batih;

4) Kelompok asosiasi (associational group), merupakan kelompok yang para anggotanya memiliki kesadaran jenis, persamaan kepentingan pribadi (like interest) dan kepentingan bersama (common interest), serta terdapat hubungan sosial yang umumnya bersifat formal, misalnya sekolah, OSIS, gerakan pramuka, fakultas, parpol, KORPRI, dan sebagainya.

Selain klasifikasi di atas tentunya masih banyak kelompok lain yang tidak tercakup. Masih berdasarkan kriteria Bierstedt, Soerjono Soekanto (2002: 122) menambahkan adanya kelompok sosial yang tidak teratur, yakni suatu kelompok di mana orang-orang berkumpul di suatu tempat pada waktu yang sama, karena pusat perhatian yang sama, dan bersifat temporer, misalnya kerumunan, massa, publik, dan kelompok kecil (small group).

1) Kerumunan (crowd) merupakan individu yang berkumpul secara bersamaan serta kebetulan di suatu tempat dan juga pada waktu yang bersamaan. Kerumunan jelas tidak terorganisasi, tidak mempunyai sistem pembagian kerja maupun sistem pelapisan sosial. Bentuk umum kerumunan sebagai berikut :

a) Kerumunan berartikulasi dengan struktur sosial:

• Khalayak penonton atau pendengar yang formal (formal audiences) merupakan kerumunan-kerumunan yang mempunyai pusat perhatian dan persamaan tujuan akan tetapi sifatnya pasif, misalnya penonton bioskop, penonton wayang kulit/orang.

• Kelompok ekspresif yang telah direncanakan (planned expressive group), adalah kerumunan yang pusat perhatiannya tak begitu penting akan tetapi mempunyai persamaan tujuan yang tersimpul dalam aktifitas kerumunan tersebut serta kepuasan yang dihasilkannya, misalnya, demonstrasi penolakan kenaikan harga BBM, aksi joget para penonton konser musik dangdut, aksi para suporter sepakbola yang mendukung tim kesayangannya.

b) Kerumunan yang bersifat sementara (casual crowds) :

• Kumpulan yang kurang menyenangkan, misalnya orang-orang yang mengantre karcis, melakukan penjarahan, orang-orang menunggu bis dan sebagainya.

• Kerumunan orang-orang yang sedang dalam keadaan panik (panic crowds),    misalnya    orang-orang     yang     bersama-sama berusaha menyelamatkan diri dari suatu bahaya, misalnya lari karena ada gempa.

• Kerumunan penonton (spectator crowds), misalnya kerumunan yang terjadi karena orang-orang ingin melihat suatu kejadian tertentu, misalnya menonton korban kecelakaan

c) Kerumunan yang berlawanan dengan norma-norma hukum (lawles crowds):

• Kerumunan yang bertindak emosional (acting mobs). Kerumunan- kerumunan  semacam  ini   bertujuan   untuk   mencapai   suatu tujuan tertentu dengan mempergunakan kekuatan fisik yang berlawanan dengan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat. Contoh: aksi pengeroyokan pada pelaku curanmor, perusakan fasilitas umum oleh para demonstran.

• Kerumunan yang  bersifat  immoral  (immoral  crowds),  hampir sama dengan kelompok-kelompok ekspresif, akan tetapi bedanya adalah bahwa yang utama bertentangan dengan norma-norma dalam masyarakat. Misalnya, kelompok orang bermain judi, kelompok orang sedang berpesta miras/narkoba.

2) Massa merupakan kelompok yang cenderung tidak teratur, yang mempunyai ciri-ciri mirip dengan kerumunan, tetapi terbentuknya disengaja atau direncanakan dengan persiapan (tidak spontan), misalnya aksi protes/demontrasi, orang-orang yang mengikuti kegiatan tertentu, seperti sepeda gembira.

3) Publik merupakan kelompok yang tidak merupakan suatu kesatuan. Interaksi antar individu terjadi secara tidak langsung melalui alat komunikasi, misalnya opini atau desas-desus melalui media seperti surat kabar, radio, televisi, film, maupun jejaring sosial.

4) Kelompok kecil (small group) merupakan suatu kelompok secara teoritis terdiri paling sedikit dua orang yang saling berhubungan untuk memenuhi tujuan - tujuan tertentu dan menganggap hubungan itu penting bagi individu yang bersangkutan. Oleh karena itu, kelompok kecil merupakan wadah bagi orang yang mempunyai kepentingan – kepentingan yang sama. Kelompok ini selalu timbul dalam kerangka organisasi yang lebih besar dan luas.

Rangkuman

Interaksi sosial merupakan syarat utama terjadinya aktivitas-aktivitas sosial. Interaksi sosial merupakan hubungan-hubungan sosial yang dinamis menyangkut  hubungan  antara  perorangan,  antara  kelompok  dan  kelompok manusia, atau antara perorangan dengan kelompok manusia. Syarat terjadinya interaksi sosial yaitu adanya kontak sosial (social contact) dan komunikasi (communication). Interaksi sosial dalam masyarakat dipengaruhi oleh faktor- faktor berikut. simpati, impati , imitasi, sugesti, motivasi, dan identifikasi.

Hubungan sosial secara timbal balik dan transaksional mendukung terjadinya proses sosial. Proses sosial  merupakan kegiatan  interaksi  sosial  yang berlangsung dalam jangka waktu tertentu. Proses sosial secara garis besar dibedakan menjadi dua bentuk, yaitu proses sosial asosiatif (kerjasama, akomodasi, akulturasi, asimilasi, dan amalgamasi) dan proses sosial disosiatif (kompetisi, kontravensi, dan konflik)

Aturan-aturan dalam masyarakat memegang peranan penting untuk menciptakan keteraturan sosial. Aturan pokok tersebut diciptakan dan ditetapkan berdasarkan nilai sosial. Nilai sosial merupakan sesuatu yang dianggap baik dan pantas bagi masyarakat setempat. Aturan-aturan dalam masyarakat meliputi perbuatan yang dilarang dan dianjurkan. Aturan dalam masyarakat terwujud dalam bentuk norma sosial.

Berdasarkan jenisnya, norma sosial dibagi menjadi dua sebagai berikut.  1) Berdasarkan Daya Ikatnya (tata kelakuan, cara, kebiasaan, hokum, dan adat istiadat) (customs) merupakan tata kelakuan yang terintegrasi secara kuat dengan pola-pola perilaku masyarakat. 2) Berdasarkan sanksinya (norma kesusilaan, norma kesopanan, norma.agama, dan norma.hukum)

Fungsi norma sosial dalam masyarakat adalah sebagai 1) sistem kontrol dalam masyarakat; 2) alat menertibkan dan menstabilkan kehidupan sosial; dan 3) pedoman/aturan perilaku seseorang dalam hidup bermasyarakat.

Sosialisasi merupakan proses sosial yang dialami seseorang atau kelompok untuk belajar mengenali serta menghayati pola perilaku, sistem nilai, dan norma yang berlaku dalam masyarakat. Dengan sosialisasi, individu dapat berkembang menjadi pribadi yang diterima masyarakat. Setiap individu mengalami sosialisasi sesuai tahapannya: 1) tahap persiapan (preparatory stage); 2) tahap meniru (play stage); 3. tahap siap bertindak (game stage); 4) tahap penerimaan norma kolektif (generalized other)

Wujud keteraturan sosial dapat dilihat dalam kehidupan masyarakat yang aman, tertib, saling menghormati, dan mengedepankan gotong royong. Keteraturan sosial dalam masyarakat dapat terbentuk melalui unsur-unsur: tertib sosial, order, keajekan, pola.

Penyimpangan sosial sering ditemukan dalam kehidupan di sekitar kita. Penyimpangan sosial terjadi akibat ketidaksesuaian perilaku atau tindakan dengan nilai dan norma sosial dalam masyarakat. Penyimpangan sosial dapat mengganggu keteraturan sosial. Oleh karena itu, diperlukan upaya pengendalian sosial untuk mengembalikan keteraturan sosial. Penyimpangan sosial dalam masyarakat disebabkan oleh beberapa faktor berikut: 1) keterbatasan ekonomi; 2) sosialisasi tidak sempurna; 3) pemberian julukan (labelling); 4) pengaruh mental yang tidak sehat; 5) pengaruh lingkungan dan media massa yang cenderung negative; 6) adanya asosiasi diferensial; 7) sosialisasi subkebudayaan menyimpang; dan 8) penyerapan nilai dan norma dalam proses sosialisasi tidak maksimal.

Pengendalian sosial merupakan cara-cara atau metode yang digunakan untuk mendorong seseorang agar berperilaku selaras dengan kehendak kelompok atau masyarakat tertentu. Masyarakat  dapat mengajak, mendidik, serta memaksa warga masyarakat mematuhi nilai dan norma sosial yang berlaku dalam masyarakat. Pengendalian sosial dapat dilakukan melalui cara persuasif dan koersif. Jenis pengendalian sosial meliputi: gosip, sindiran, teguran, sanksi, pendidikan, dan agama.

Kelompok sosial adalah suatu kelompok yang meliputi dua atau lebih manusia, yang di antara mereka terdapat beberapa pola interaksi yang dapat dipahami oleh para anggotanya atau orang lain secara keseluruhan. Pembentukan kelompok dapat diawali dengan adanya keyakinan bersama akan perlunya pengelompokan dan tujuan, adanya harapan yang dihayati oleh anggota- anggotanya, serta adanya ideologi yang mengikat semua, didasarkan adanya persepsi, motivasi, tujuan/ideologi, organisasi, independensi, dan interaksi: Beragam bentuk kelompok sosial dapat dilihat dari besaran jumlah anggotanya, kepentingan, derajat interaksi sosial, sudut persaingan antarkelompok, derajat organisasi, kepentingan wilayah, kuat lemahnya ikatan kelompok, dari tingkat keteraturan kelompok..

Posting Komentar untuk "Interaksi Sosial - PPPK Sosiologi 2"