Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Integrasi Sosial : Pengertian, Sifat, Faktor Pendorong dan Penghambat

Konflik Sosial dan Integrasi Sosial - PPPK Sosiologi 4 - hasriani.com


Dalam bahasan ini akan dikupas secara mendalam tentang Integrasi Sosial : Pengertian, Sifat, Faktor Pendorong dan Penghambat. Simak pembahasannya berikut ini:

Integrasi sosial terjadi ketika unsur-unsur dalam masyarakat saling berhubungan secara intensif di berbagai bidang kehidupan. Akibatnya, terjadi pembauran beberapa unsur berbeda dan setiap unsur dalam masyarakat dapat bekerja sama dengan unsur lain.

a. Proses Terwujudnya Integrasi

Proses terwujudnya integrasi sosial diawali dengan terjadinya konflik dalam masyarakat. Konflik tersebut kemudian diredam melalui akomodasi. Akomodasi tersebut menghasilkan koordinasi antarpihak yang berkonflik untuk bersatu. Tahap terakhir ialah terjadi asimilasi antarpihak yang menjalin koordinasi.

b. Sifat Integrasi Sosial

Menurut Paulus Wirutomo (2012), integrasi sosial dibedakan menjadi tiga sifat berikut.

1) Integrasi normatif yaitu integrasi yang terbentuk karena adanya kesepakatan nilai, norma, cita-cita bersama, dan rasa solidaritas antaranggota masyarakat. Integrasi normatif biasanya terjadi pada masyarakat yang memiliki solidaritas mekanis (masyarakat sederhana). Integrasi ini berkaitan dengan unsur-unsur budaya sehingga sering disebut integrasi budaya.

2) Integrasi fungsional yaitu integrasi yang terbentuk berdasarkan kerangka perspektif fungsional, yaitu melihat masyarakat sebagai suatu sistem yang terintegrasi. Integrasi fungsional biasanya berkembang dalam masyarakat yang memiliki tingkat spesialisasi kerja tinggi.

3) Integrasi koersif yaitu integrasi yang terjadi tidak berasal dari hasil kesepakatan normatif ataupun ketergantungan fungsional. Integrasi koersif merupakan hasil kekuatan yang mengikat masyarakat secara paksa. Integrasi koersif terjadi karena paksaan dari pihak-pihak yang memiliki kekuasaan.

c. lntegrasi dan Kerukunan

Masyarakat majemuk rawan terjadi disintegrasi sosial. Oleh karena itu, diperlu- kan upaya untuk mewujudkan kerukunan dalam masyarakat. Menurut Paulus Wirutomo (2012), kerukunan yang akan menciptakan integrasi sosial memiliki beberapa konsep sebagai berikut:

1) Integration (integrasi) yaitu keutuhan atau persatuan. Konsep ini mengolaborasikan antara integrasi nasional dan integrasi sosial. Apabila integrasi sosial terjalin dengan baik, integrasi nasional dapat dipertahankan.

2) Equilibrium (keseimbangan) yaitu keadaan seimbang dan tidak terjadi kesenjangan yang menimbulkan gejolak.

3) Stability (stabilitas) yaitu keadaan tenang, mantap, dan mapan. Stability bersifat tidak dinamis karena adanya kelompok penguasa yang memaksakan stabilitas tersebut.

4) The absence of conflict (keadaan nyaris tanpa konflik) yaitu keadaan yang terjadi karena adanya kekuatan yang menekan kelompok-kelompok agar tidak berkonflik. Konflik sebenarnya tidak dapat dipisahkan dari masyarakat. Oleh karena itu, keadaan ini bersifat semu dan tidak realistis.

5) Tolerance (toleransi) yaitu sikap menahan diri, menerima keadaan, dan tidak menyerang pihak lain. Akan tetapi, kerukunan yang dihasilkan masih bersifat dangkal dan tidak akan berkembang.

6) Solidarity (kesetiakawanan) yaitu kondisi yang lebih baik daripada toleransi. Kondisi ini ditandai dengan adanya sikap saling membantu dan bersatu dalam kerukunan masyarakat.

7) Conformity (keteraturan) yaitu kepatuhan anggota masyarakat sehingga menimbulkan suasana rukun.

8) Peace (kedamaian) yaitu kondisi tidak berselisih dan bersifat rukun, tetapi bersifat pasif.

9) Cohesion (kohesi) yaitu kondisi kesatuan yang kuat, terdapat kerja sama, dan kekompakan. Akan tetapi, dalam kondisi ini terdapat nuansa fanatik kelompok.

10) Compromise (kompromi) yaitu keadaan saling mengalah untuk menghindari konflik.

11) Harmony (harmoni) yaitu keadaan yang menunjukkan adanya perbedaan sosial budaya, namun bersifat serasi.

12) Solidity (kekukuhan/kekuatan) yaitu keadaan rukun yang memiliki daya tahan sehingga tidak mudah goyah atau dipengaruhi oleh pihak lain.

13) Sinergy (sinergi) yaitu bersepakat dan bersatu dalam perbedaan. Semua pihak berlawanan menggabungkan kekuatan untuk menghasilkan kekuatan berlipat ganda. Sinergi ini bersifat win-win solution.

d. Faktor Pendorong dan Penghambat Integrasi Sosial

Proses integrasi sosial dipengaruhi oleh beberapa faktor pendorong dan penghambat sebagai berikut:

1) Faktor Pendorong Integrasi Sosial

Berikut beberapa faktor pendorong integrasi sosial.

a) Rasa ingin memiliki.

b) Konsensus.

c) Cross-cutting affiliations.

d) Cross-cutting loyalities.

e) Kesediaan berkorban demi kebaikan bersama.

2) Faktor Penghambat Integrasi Sosial

Faktor penghambat integrasi sosial sebagai berikut:

a) Kondisi masyarakat yang terisoIasi.

b) Masyarakat kurang memiliki ilmu pengetahuan.

c) Terdapat perasaan superior salah satu kelompok.

e. Bentuk-bentuk Integrasi Sosial

1) Integrasi normatif, akibat adanya norma yang berlaku di masyarakat seperti prinsip Bhineka Tunggal Ika

2) Integrasi fungsional, terbentuk karena fungsi- fungsi tertentu dalam masyarakat. Misalnya suku bugis yang suka melaut difungsikan sebagai penyedia hasil-hasil laut.

3) Integrasi koersif, terbentuk berdasarkan kekuasaan yang dimiliki penguasa. Dalam hal ini penguasa melakukan cara-cara kekerasan (koersif).

Posting Komentar untuk "Integrasi Sosial : Pengertian, Sifat, Faktor Pendorong dan Penghambat"