Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Hakikat dan Informasi Geografi - PPPK Geografi 1

Hakikat dan Informasi Geografi - PPPK Geografi 1 - hasriani.com


Hakikat dan Informasi Geografi - PPPK Geografi 1 - Penjabaran model kompetensi yang dikembangkan pada kompetensi guru bidang studi lebih spesifik pada pembelajaran 1. Hakikat dan Informasi Geografi, ada beberapa kompetensi guru bidang studi yang akan dicapai pada pembelajaran ini, kompetensi yang akan dicapai pada pembelajaran ini adalah guru PPPK mampu:

1. Menganalisi pengetahuan dasar geografi dan terapannya dalam kehidupan sehari-hari

2. Menganalisis langkah-langkah penelitian ilmu geografi dengan menggunakan peta

3. Menganalisis dasar-dasar pemetaan

4. Menganalisis pengetahuan tentang sinergi metode penginderaan jauh dan sistem informasi geografis, aplikasi untuk kajian sumber daya, mitigasi bencana, dan perencanaan wilayah dan lingkungan.

Dalam rangka mencapai kompetensi guru bidang studi, maka dikembangkanlah indikator-indikator yang sesuai dengan tuntutan kompetensi guru bidang studi.

Indikator  pencapaian  komptensi  yang  akan  dicapai  dalam  pembelajaran 1. Hakikat dan Informasi Geografi adalah sebagai berikut.

1. Menjelaskan konsep, pendekatan, prinsip dan aspek geografi.

2. Menjelaskan langkah-langkah penelitian geografi dengan menggunakan peta

3. Menjelaskan dasar-dasar pemetaan

4. Menjelaskan dasar-dasar Penginderaan Jauh

5. Menjelaskan Dasar-dasar Sistem Informasi Geografi

6. Menganalisis jaringan transportasi dan tata guna lahan dengan peta dan/atau citra penginderaan jauh serta Sistem Informasi Geografis (SIG) kaitannya dengan pengembangan potensi wilayah dan kesehatan lingkungan.

Uraian Materi Hakikat dan Informasi Geografi - PPPK Geografi 1

1. Pengetahuan Dasar Geografi

a. Ruang Lingkup Geografi

Geografi berasal dari bahasa Yunani geographia yang terdiri dari dua kata yaitu geo yang berarti bumi dan graphein yang berarti tulisan, lukisan atau pencitraan. Secara umum geografi berarti tulisan tentang bumi. Geografi pertama kali dikemukakan oleh Erastotenes dengan istilah geographica. Jadi geografi adalah ilmu pengetahuan yang menggambarkan atau melukiskan keadaan bumi.

Berkaitan dengan kemajuan itu, konsep geografi juga mengalami penyempurnaan. Geografi merupakan ilmu pengetahuan yang mempelajari bumi dan kehidupannnya, mempengaruhi pandangan hidup kita, makanan yang kita konsumsi, pakaian yang kita gunakan, rumah yang kita huni dan tempat rekreasi yang kita nikmati.

Bintarto (1977) mengemukakan, bahwa geografi adalah ilmu pengetahuan yang mencitra, menerangkan sifat bumi, menganalisis gejala alam dan penduduk serta mempelajari corak khas mengenai kehidupan dan berusaha mencari fungsi dari unsur bumi dalam ruang dan waktu.

Hasil Seminar Semarang (1988) menyepakati rumusan, bahwa geografi adalah ilmu yang mempelajari persamaan dan perbedaan fenomena geosfer dengan sudut pandang kewilayahan atau kelingkungan dalam konteks keruangan. Aspek geografi meliputi:

1) Geografi fisik (alam)

Geografi fisik merupakan gejala fisik di permukaan bumi. Gejala fisik itu terdiri atas tanah, air, udara dengan segala prosesnya. Bidang kajian dalam geografi fisik adalah gejala alamiah di permukaan bumi yang menjadi lingkungan hidup manusia. Oleh karena itu keberadaan cabang ilmu ini tidak dapat dipisahkan dengan manusia.

2) Geografi Manusia (sosial)

Geografi manusia obyek kajiannya keruangan manusia. Aspek-aspek yang dikaji dalam cabang ini termaasuk kependudukan, aktivitas manusia yang meliputi aktivitas ekonomi, aktivitas politik, aktivitas sosial dan aktivitas budayanya. Dalam melakukan studi aspek kemanusiaan, geografi manusia terbagi dalam cabang-cabang geografi penduduk, geografi ekonomi, geografi politik, geografi permukiman dan geografi sosial.

b. Konsep Esensial Geografi

Konsep merupakan pengertian yang menunjuk pada sesuatu. Konsep esensial suatu bidang ilmu merupakan pengertian-pengertian untuk mengungkapan atau menggambaran corak abstrak fenomena esensial dari obyek material bidang kajian suatu ilmu. Oleh karena itu konsep dasar merupakan elemen yang penting dalam memahami fenomena yang terjadi.

Dalam geografi dikenali sejumlah konsep esensial. Menurut Whiple (dalam Sumaatmadja,1988:46) ada lima konsep esensial geografi. Konsep yang dimaksud adalah;

(1) bumi sebagai planet,

(2) variasi cara hidup manusia,

(3) variasi wilayah alamiah,

(4) makna wilayah bagi manusia, dan

(5) pentingnya lokasi dalam memahami peristiwa dunia.

Sedangkan menurut menurut J. Warman (dalam Sumaatmadja, 1988:46) ada lima belas konsep esensial geografi sebagai berikut;

(1) wilayah atau regional,

(2) lapisan hidup atau biosfer,

(3) manusia sebagai faktor ekologi dominan,

(4) globalisasi atau bumi sebagai planet,

(5) interaksi keruangan,

(6) hubungan area,

(7) persamaan areal,

(8) perbedaan areal,

(9) keunikan areal,

(10) persebaran areal,

(11) lokasi relative,

(12) keunggulan komparatif,

(13) perubahan yang terus menerus,

(14) pembatasan sumber daya secara budaya, dan

(15) bumi bundar di atas kertas yang datar atau peta.

Dengan menggunakan konsep-konsep tersebut dapat diungkapkan berbagai gejala dan berbagai masalah yang terjadi di lingkungan sekitar kita. Penggunaan konsep itu akan memudahkan pemahaman terhadap sebab akibat, hubungan, fungsi, proses terjadinya gejala dan masalah sehari-hari. Selanjutnya dari kenyataan itu dikembangkan menjadi satu abstraksi, disusun model-model atau teori berkaitan dengan gejala, masalah dan fakta yang dihadapi. Jika ada satu masalah dapat dicoba disusun model alternatif pemecahannya. Sedangkan jika yang dihadapi suatu kenyaan kehidupan yang perlu ditingkatkan tarapnya, maka dapat disusun model dan pola pengembangan kehidupan itu. Dari berbagai konsep itu dapat disusun suatu kaidah yang tingkatnya tinggi dan berlaku secara umum yang disebut generalisasi.

Berdasarkan beberapa pendapat yang dikemukakan para ahli di atas, maka ditetapkan sepuluh konsep esensial geografi yang disepakati untuk dibelajarkan di sekolah, yaitu konsep; (1) letak, (2) jarak, (3) keterjangkauan,

(4) morfologi, (5) pola, (6) aglomerasi, (7) nilai kegunaan, (8) interaksi dan interdependensi, (9) differensiasi area, dan (10) keterkaitan ruang. Dari 10 konsep tersebut diuraikan sebagai berikut.

1) Konsep Lokasi

Merupakan kerangka berpikir untuk memahami atribut suatu obyek ditinjau dari aspek keberadaannya dalam ruang. Ciri khusus pengetahuan Geografi dari jawaban pertanyaan dimana (kaitan antara lokasi absolut dan relative), lintang bujur letak geografis. Dalam studi geografi orang selalu menyebut lokasi. Ada dua pengertian lokasi, yaitu lokasi absolut dan lokasi relative. Lokasi absolut adalah lokasi yang berkenaan dengan posisi menurut koordinat garis bujur dan garis lintang. Misalnya, letak astronomis Indonesia berada pada posisi 950 BT-1410 BT dan 60 LU – 110 LS. Lokasi relative adalah lokasi berdasarkan lingkungan sekitarnya. Misalnya, letak Indonesia di antara Benua Asia dan Australia.

2) Konsep Jarak

Konsep berpikir untuk memahami suatu obyek berdasar jauh dekatnya atau waktu tempuh dari obyek lain. Jarak mempunyai arti penting dalam kehidupan sosial ekonomi. Dalam geografi jarak dapat diukur dengan dua cara, yaitu jarak geometrik yang dinyatakan dalam satuan panjang seperti kilometer dan jarak waktu yang diukur dengan satuan waktu (jarak tempuh). Contoh penerapan: Penentuan rute darat Malang Surabaya. Jarak absolut

90 km. Jika terjadi pemekaran wilayah jarak absolut tetap, tetapi waktu tempuh bisa berubah.

3) Konsep Keterjangkauan

Kerangka berpikir untuk memahami keberadaan suatu obyek ditinjau dari aspek aksesibilitas ruang yang dipengaruhi oleh kondisi wilayah dan ketersediaan sarana “penjangkauan” (transportasi dan komunikasi). Mudah atau sulitnya suatu lokasi untuk dijangkau, dipengaruhi oleh lokasi, jarak dan kondisi tempat. Misalnya, daerah pegunungan yang hanya memiliki jalan setapak tentu saja merupakan daerah yang sulit untuk dijangkau.

4) Konsep Pola

Kerangka berpikir untuk memahami atribut suatu obyek ditinjau dari sebaran dan tatanannya dalam ruang. Pola adalah tatanan geometris yang beraturan. Pola dapat berbentuk garis linier, acak dan tersebar. Misalnya pola permukiman penduduk sepanjang jalan raya atau sungai yang digunakan untuk lalulintas, cenderung memanjang mengikuti jalan raya atau sungai. Contoh penentuan besarnya pajak suatu tempat didasarkan pada lokasi dan fungsinya penggunaan lokasi tersebut.

5) Konsep Geomorfologi

Kerangka berpikir untuk memahami atribut suatu objek ditinjau dari aspek proses pembentukan dan karakteristik bentuk geometrisnya. Geomorfologi adalah ilmu yang mempelajari tentang bentuk permukaan bumi. Ilmu geografi tidak dapat lepas dari bentuk-bentuk permukaan bumi, seperti lembah, bukit, gunung, dan dataran. Hal ini karena permukaan bumi merupakan obyek studi geografi. Contoh penerapannya; membedakan morfologi gunung dan bukit pada citra satelit.

6) Konsep Aglomerasi

Kerangka berpikir untuk memahami atribut suatu objek ditinjau dari aspek konsentrasi distribusi dalam ruang. Persebaran objek dalam ruang tidak merata. Sebagian objek terpencar di beberapa tempat, dan sebagian yang lain terkumpul di satu lokasi. Objek yang terkumpul di satu tempat tersebut diistilahkan dengan teraglomerasi atau terpusat membentuk suatu kelompok. Penerapan konsep aglomerasi dimaksudkan untuk mengetahui; luasan zona konsetrasi, proses pengelompokkan, dan hal yang melatarbelakangi proses tersebut. Aglomerasi adalah kecenderungan mengelompokkan suatu gejala yang terkait dengan aktivitas manusia. Misalnya, pengelompokan permukiman daerah kumuh (slum), permukiman daerah elit, dan pengelompokan pusat perdagangan.

7) Konsep Perbedaan Wilayah

Kerangka berpikir untuk memahami perbedaan karakteristik antar wilayah. Diferensiasi/perbedaan tersebut dapat ditinjau dari aspek bentang alam ataupun bentang budaya. Suatu wilayah dengan wilayah lainnya tentu ada perbedaan, baik fisik maupun sosial. Adanya perbedaan keruangan ini akan menyebabkan terjadinya hubungan atau interaksi antar wilayah. Misalnya, perbedaan antara kondisi di pedesaan dan perkotaan.

8) Konsep Nilai Kegunaan

Kerangka berpikir memahami objek berdasarkan nilai dan manfaat. Nilai kegunaan suatu objek bersifat relatif. Tarafnya ditentukan berdasarkan manfaatnya bagi manusia. Nilai kegunaan suatu objek dapat berubah sewaktu-waktu menyesuaikan perspektif manusia dalam memanfaatkan objek tersebut. Contoh penerapannya; Kali Mas di Surabaya, semula jalur transportasi utama, sekarang menjadi tempat pembuangan limbah yang menurunkan nilainya. Contoh yang lain, wilayah pantai landai yang bersih dan jernih airnya, berpasir putih, belum tentu berarti bagi penduduk setempat yang berorientasi pada pemanfaatan sumber di daratan yang sederhana. Sebaliknya, bagi orang kota yang setiap hari sibuk, hidup berkecukupan, tinggal di kota yang sehari-hari selalu ramai, pantai seperti itu mempuyai nilai kegunaan yang tinggi sebagai tempat rekreasi.

9) Konsep Interaksi Interdependensi

Merupakan kerangka berpikir untuk memahami keterkaitan antar gejala. Terbentuknya suatu gejala tidak disebabkan oleh faktor tunggal, tetapi dapat dipengaruhi oleh beberapa gejala lain yang bekerja secara bersamaan ataupun berantai. Hubungan antara dua gejala yang menimbulkan gejala baru disebut dengan interaksi. Hubungan dua gejala yang membentuk pola ketergantungan disebut dengan interdependensi. Contoh penerapan konsep interaksi dan interdependensi; Pemahaman terhadap proses terbentuknya kerjasama antara desa dan kota. Hubungan kerjasama kedua wilayah tersebut sangat erat, hingga membentuk pola saling ketergantungan. Desa bergantung pada kota sebagai daerah pemasaran komoditas pertanian. Begitu pula sebaliknya, kota bergantung pada desa sebagai daerah pensuplai bahan pangan. Lambat laun hubungan kedua wilayah tersebut tidak hanya sebatas aktivitas perdagangan, tetapi menimbulkan gejala baru berupa arus urbanisasi. Perkembang ekonomi kota yang begitu pesat menjadi daya tarik bagi masyarakat desa. Para petani gurem dan buruh tani berpindah ke kota untuk mendapatkan pekerjaan dan penghasilan yang lebih baik dari pada di desa.

10) Konsep Keterkaitan Keruangan

Kerangka berpikir untuk memahami hubungan antar gejala yang terjadi lintas ruang. Fenomena yang terjadi di suatu wilayah tidak hanya disebabkan oleh faktor lokal, tetapi juga dipengaruhi faktor ekternal berupa gejala yang berasal dari wilayah lain. Keterkaitan keruangan merupakan keterkaitan antara suatu fenomena dan fenomena yang lain. Misalnya, hubungan antara kemiringan lereng di suatu wilayah dan ketebalan lapisan tanah serta hubungan antara daerah berbatuan kapur dan kesulitan air.

c. Prinsip Geografi

Prinsip merupakan dasar yang digunakan sebagai landasan dalam menjelaskan suatu fenomena atau masalah yang terjadi. Prinsip juga berfungsi sebagai pegangan/pedoman dasar dalam memahami fenomena itu. Dengan prinsip yang dimiliki, gejala atau permasalahan yang terjadi secara umum dapat

dijelaskan dan dipahami karakteristik yang dimilikinya dan keterkaitan dengan fenomena atau permasalahan lain.

Setiap bidang ilmu memiliki prinsip sendiri-sendiri. Ada kemungkinan satu atau beberapa prinsip bidang ilmu itu memiliki kesamaan dengan prinsip bidang ilmu yang lain, tetapi juga ada kemungkinan berbeda sama sekali. Dalam bidang geografi dikenali sejumlah prinsip, yaitu: prinsip penyebaran, prinsip interelasi, prinsip deskripsi dan prinsip korologi.

1) Prinsip Penyebaran (Prinsip Distribusi)

Dalam prinsip ini fenomena atau permasalahan alam dan manusia tersebar di permukaan bumi. Penyebaran fenomena atau permasalahan itu tidak merata. Fenomena sumber air tentu tidak dijumpai di semua tempat. Demikian pula permasalahan pencemaran air juga tidak dijumpai disemua sungai atau laut.

2) Prinsip Interelasi

Fenomena atau permaalahan alam dan manusia saling terjadi keterkaitan antara aspek yang satu dengan aspek yang lainnya. Keterkaitan itu dapat terjadi antara aspek fenomena alam dengan aspek fenomena alam lain, atau fenomena aspek manusia dengan aspek fenomena manusia. Fenomena banjir yang terjadi di wilayah hilir terjadi karena kerusakan hutan di bagian hulu. Kerusakan hutan alam itu dapat terjadi karena perilaku menusia. Perilaku manusia yang demikian terjadi karena kesadaran terhadap fungsi hutan yang rendah.

3) Prinsip Deskripsi

Fenomena alam dan manusia memiliki saling keterkaitan. Keterkaitan antara aspek alam (lingkungan) dan aspek manusia itu dapat dideskripsikan. Pendiskripsian itu melalui fakta, gejala dan masalah, sebab-akibat, secara kualitatif maupun kuantitatif dengan bantuan peta, grafik, diagram, dll.

4) Prinsip Korologi

Prinsip korologi merupakan prinsip keterpaduan antara prinsip penyebaran, interelasi dan deskripsi. Fenomena atau masalah alam dan manusia dikaji penyebarannya, interelasinya, dan interaksinya dalam satu ruang. Kondisi ruang itu akan memberikan corak pada kesatuan gejala, kesatuan fungsi dan kesatuan bentuk.

d. Obyek Studi geografi

Setiap disiplin ilmu memilki obyek yang menjadi bidang kajiannya. Obyek bidang ilmu tersebut berupa obyek material dan obyek formal. Obyek material berkaitan dengan substansi materi yang dikaji yaitu geosfer, sedangkan obyek formal berkaitan dengan pendekatan (cara pandang) yang digunakan dalam menganalisis substansi (obyek material) tersebut.

Pada obyek material, antara bidang ilmu yang satu dengan bidang ilmu yang lain dapat memiliki substansi obyek yang sama atau hampir sama. Obyek material ilmu geografi adalah fenomena geosfer yang meliputi litosfer, hidrosfer, atmosfer, biosfer, dan antroposfer. Obyek material itu juga menjadi bidang kajian bagi disiplin ilmu lain, seperti geologi, hidrologi, biologi, fisika, kimia, dan disiplin ilmu lain. Sebagai contoh obyek material tanah atau batuan. Obyek itu juga menjadi bidang kajian bagi geologi, agronomi, fisika, dan kimia.

Oleh karena itu untuk membedakan disiplin ilmu yang satu dengan disiplin ilmu yang lain dapat dilakukan dengan menelaah obyek formalnya. Obyek formal geografi berupa pendekatan (cara pandang) yang digunakan dalam memahami obyek material. Dalam konteks itu geografi memilki pendekatan spesifik yang membedakan dengan ilmu-ilmu lain. Pendekatan spesifik itu dikenal dengan pendekatan keruangan (spatial approach). Selain pendekatan keruangan tersebut dalam geografi juga dikenali adanya pendekatan kelingkungan (ecological approach), dan pendekatan kompleks wilayah (regional complex approach).

e. Ilmu Penunjang Geografi

Objek material geografi begitu luas. Untuk mempelajari objek materialnya, para ahli geografi membutuhkan bantuan atau kajian dari disiplin ilmu lain. Berikut ini akan kita bahas beberapa ilmu-ilmu penunjang geografi:

a) Geologi

Ilmu tentang bumi yang mengkaji batuan, bentuk, atau struktur dan hubungan antar batuan serta proses terjadinya.

b) Geomorfologi

Ilmu yang mempelajari tentang bentuk-bentuk muka bumi, terutama mengenai proses, genesis, litologi (karakteristik fisik dari batuan). Bentuk lahan, hubungan timbal balik.

c) Meteorologi

Ilmu yang mempelajari tentang udara, cuaca, suhu, angin, awan, curah hujan, radiasi matahari.

d) Hidrologi

Ilmu yang mempelajari tentang distribusi dan pergerakan air di bumi, baik diatas maupun di bawah permukaan bumi.

e) Klimatologi

Ilmu yang mempelajari tentang iklim dan kondisi rata-rata cuaca.

f) Antropologi

Ilmu yang mempelajari tentang manusia dari keanekaragaman fisik serta kebudayaan.

g) Ekonomi

Ilmu yang mempelajari tentang bagaimana masyarakat mengalokasikan berbagai sumberdaya (alam, manusia, modal, energi, lingkungan, dan teknologi) yang jumlahnya terbatas

h) Demografi

Ilmu yang mempelajari tentang dinamika kependudukan manusia.

f. Pendekatan geografi

Geografi merupakan pengetahuan yang mempelajarai fenomena geosfer dengan menggunakan pendekatan keruangan, kelingkungan, dan kompleks wilayah. Berdasarkan definisi geografi tersebut ada dua hal penting yang perlu dipahami, yaitu obyek studi geografi dan pendekatan geografi. Obyek studi geografi adalah fenomena geosfer yang meliputi litosfer, hidrosfer, biosfer, atmosfer dan antrophosfer.

Berdasarkan pada obyek material ini, geografi belum dapat menunjukan identitas sebagai salah satu cabang disiplin ilmu. Sebab, disiplin ilmu lain juga memiliki obyek yang sama. Perbedaan geografi dengan disiplin ilmu lain terletak pada pendekatannya. Sejalan dengan hal itu Hagget (1983)

mengemukakan tiga pendekatan, yaitu (1) pendekatan keruangan, (2) pendekatan kelingkungan, dan (3) pendekatan kompleks wilayah.

1) Pendekatan Keruangan

Pendekatan keruangan merupakan suatu cara pandang atau kerangka analisis yang menekankan pada eksistensi ruang. Eksisitensi ruang dalam perspektif geografi dapat dipandang dari struktur (spatial structure), pola (spatial pattern), dan proses (spatial processes).

Dalam konteks fenomena keruangan terdapat perbedaan kenampakan struktur, pola dan proses. Struktur keruangan berkenaan dengan elemen- elemen penbentuk ruang. Elemen-elemen tersebut dapat disimpulkan dalam tiga pembentuk utama, yaitu: (1) kenampakan titik (point features), (2) kenampakan garis (line features), dan (3) kenampakan bidang (areal features).

Kerangka kerja analisis pendekatan keruangan bertitik tolak pada permasalahan susunan elemen-elemen pembentuk ruang. Dalam analisis itu dilakukan dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut.

1) What? Struktur ruang apa itu?

2) Where? Dimana struktur ruang tesebut berada?

3) When? Kapan struktur ruang tersebut terbentuk sperti itu?

4) Why? Mengapa struktur ruang terbentuk seperti itu?

5) How? Bagaimana proses terbentukknya struktur seperti itu?

Pola keruangan berkenaan dengan distribusi elemen-elemen pembentuk ruang. Penyebaran fenomena titik, garis, dan areal memiliki kedudukan sendiri- sendiri, baik secara implisit maupun eksplisit. Beberapa contoh seperti cluster pattern, random pattern, regular pattern, dan cluster linier pattern untuk kenampakan-kenampakan titik dapat diidentifikasi. Kenampakan areal (bidang) dapat berupa kenampakan yang memanjang (linier/axial/ribon); kenampakan seperti kipas (fan-shape pattern), kenampakan membulat (rounded pattern), empat persegi panjang (rectangular pattern), kenampakan gurita (octopus shape pattern), kenampakan bintang (star shape pattern), dan beberapa gabungan dari beberapa yang ada.

Proses keruangan berkenaan dengan perubahan elemen-elemen pembentuk ruang. Analisis perubahan keruangan selalu terkait dengan dimensi kewaktuan (temporal dimension). Dalam hal ini minimal harus ada dua titik waktu yang digunakan sebagai dasar analisis terhadap fenomena yang dipelajari.

2) Pendekatan Kelingkungan

Dalam pendekatan ini penekanannya bukan lagi pada eksistensi ruang, namun pada keterkaitan antara fenomena geosfera tertentu dengan variabel lingkungan yang ada. Dalam pendekatan kelingkungan, diarahkan kepada hubungan antara manusia sebagai makhluk hidup dengan lingkungan alamnya. Pandangan dan penelaahan ini juga dikenal sebagai pendekatan ekologi. Pendekatan ekologi dapat mengungkapkan masalah hubungan persebaran dan aktifitas manusia dengan lingkungannya. Contoh pada pendekatan ekologi suatu daerah pemukiman, maka ditinjau hasil interaksi antara persebaran dan aktifitas manusia dalam membangun pemukiman dengan kondisi lingkungan alamnya. Demikian pula jika kita mengkaji daerah pertanian, daerah perindustrian dan sebagainya.

Pendekatan kelingkungan, pertanyaan yang dapat membantu dalam menganalisisnya adalah:

(1) Apakah terjadi dampak lingkungan?

(2) Darimana sumber dampak berasal?,

(3) Seberapa besar ukurannya?,

(4) Dimana dampak tersebut berlangsung?,

(5) Mengapa terjadi dampak linkungan?,

(6) Siapa yang bertanggung jawab?,

(7) Bagaimana cara penanggulangannya?.

3) Pendekatan Kompleks Wilayah

Permasalahan yang terjadi di suatu wilayah tidak hanya melibatkan elemen di wilayah itu. Permasalahan itu terkait dengan elemen di wilayah lain, sehingga keterkaitan antar wilayah tidak dapat dihindarkan. Selain itu, setiap masalah tidak disebabkan oleh faktor tunggal. Faktor determinannya bersifat kompleks. Oleh karena itu ada kebutuhan memberikan analisis yang kompleks itu untuk memecahkan permasalahan secara lebih luas dan kompleks pula.

Untuk menghadapi permasalahan seperti itu, salah satu alternatif dengan menggunakan pendekatan kompleks wilayah. Pendekatan itu merupakan kombinasi antara pendekatan yang pertama dan pendekatan yang kedua. Oleh karena sorotan wilayahnya sebagai obyek bersifat multivariate, maka kajian bersifat horisontal dan vertikal. Kajian horisontal merupakan analisis yang menekankan pada keruangan, sedangkan kajian yang bersifat vertikal menekankan pada aspek kelingkungan. Adanya perbedaan antara wilayah yang satu dengan wilayah yang lain telah menciptakan hubungan fungsional antara unit-unit wilayah sehingga tercipta suatu wilayah, sistem yang kompleks sifatnya dan pengkajiannya membutuhkan pendekatan yang multivariate juga.

Beberapa pertanyaan yang dapat membantu dalam analisisnya adalah: (1) Bagaimana dan mengapa perbedaan serta persamaan wilayah tersebut terjadi? (2) Adakah kemungkinan untuk memanfaatkan kelebihan dan kelemahan sifat perbedaan dan persamaan wilayah tersebut ?, (3) Kerja sama apa saja yang dapat dilakukan oleh pemerintah yang bersangkutan ?, (4) Bagaimanakah penjabaran penggunaan tanah yang sekarang ada ?, (5) Apakah penggunaan tanah diwilayah tersebut sudah optimal dan lestari ?.

2. Penelitian Geografi

a. Pengantar

Manusia memiliki rasa ingin tahu yang tinggi sehingga akan senantiasa peduli terhadap lingkungan, baik terhadap lingkungan alam maupun sosial. Rasa ingin tahu itu menjadikan seseorang terus belajar sepanjang hayat sebagai salah satu sikap dan perilaku mandiri.

Metode Penelitian Geografi agak berbeda dengan metode penelitian yang lain. Agar diperoleh gambaran secara lebih mendalam, uraian materinya dengan cara dedukti. Materi penelitian pada umumnya kemudian metode penelitian pada studi geografi. Metode penelitian geografi menggunakan Konsep, Prinsip dan Pendekatan Geografi dalam mendapatkan masalah penelitian terhadap gejala alam maupun sosial, dan memecahkan permasalahan dengan sudut pandang keruangan, kewilayahan dan kelingkungan. Obyek studi geografi berkenaan dengan; (1) permukaan bumi (geosfer), (2) alam lingkungan (atmosfer, litosfer, hidrosfer, biosfer), (3) umat manusia dengan kehidupannya (antroposfer), (4) penyebaran keruangan gejala alam dan kehidupannya termasuk persamaan dan perbedaan, dan (5) analisis hubungan keruangan gejala- gejala geografi di permukaan bumi.

Ciri khas dalam penelitian geografi adalah sebagai berikut.

1) Pembuatan dan penggunaan peta yang berkaitan analisa pendekatan keruangan, wilayah dan kelingkungan untuk analisa gejala geosfera yang meliputi penyebaran jenis tanah, jenis vegetasi, pemukiman, penduduk jaringan jalan, pola aliran sungai, dan jenis pertanian yang digunakan pemanfaatan interprestasi dan analisa peta.

2) Observasi lapangan, kemampuan observasi dilapangan memberikan data yang akurat yang lebih besar yang tidak dapat terbaca lewat peta dan kebutuhan yang tidak dapat ditinggalkan dalam penelitian geografi. Mencatat dan meneliti obyek penelitian di suatu wilayah berarti bahwa secara bersama-sama diadakan pemetaan daerah tersebut dengan observasi lapangan.

3) Dokumentasi, kecakapan dalam menyusun dokumen hasil penelitian dan foto serta peta daerah penelitian yang diperoleh di lapangan memberikan informasi yang akurat dan bukti untuk analisa penelitian geografi.

4) Penentuan Model dari Hasil Analisa Penelitian Geografi.

Hasil analisa dari studi penelitian geografi memberikan interprestasi data yang dapat digunakan untuk menentukan model atau gejala geosfer yang terjadi di wilayah tertentu dengan pendekatan keruangan, kelingkungan, dan kewilayahan. Model ini dapat berupa pola penyebaran maupun gambar, grafik dan diagram.

Materi metode penelitian geografi dipelajari dengan terlebih dahulu membaca dan membuat ringkasan sehingga mudah untuk dipahami.

b. Pengertian Penelitian

Pengertian penelitian diterjemahkan dari kata “research” (Inggris) yaitu re (kembali) dan to search (mencari atau mencari kembali), yang kemudian oleh para ahli diterjemahkan sebagai riset. Penelitian merupakan aktivitas menelaah sesuatu masalah dengan menggunakan metode ilmiah secara terancang dan sistematis untuk menemukan pengetahuan baru yang terandalkan kebenarannya (obyektif dan sahih) mengenai “dunia “alam” atau “dunia sosial”. Penelitian suatu metode studi yang dilakukan seseorang melalui penyelidikan yang hati-hati dan sempurna terhadap suatu masalah, sehingga diperoleh pemecahan yang tepat terhadap masalah tersebut. Dengan demikian selain merupakan suatu proses dan metode, penelitian diharapkan mampu mencari pemecahan masalah yang diteliti (problem solving).

Kata kunci definisi penelitian adalah: sistematis, menemukan/menafsirkan ilmu, dan prosedur yang benar. Penelitian dijalankan untuk memperoleh jawaban atas pertanyaan-pertanyaan atau soal-soal melalui aplikasi suatu prosedur ilmiah. Kalau digambarkan tahap-tahap terjadinya riset adalah sebagai berikut:

Gambar 2 Skema Jenis-jenis Penelitian

c. Jenis-Jenis Penelitian

1) Jenis Penelitian Berdasarkan Tujuan

Berdasarkan tujuannya, penelitian dapat dibedakan sebagai berikut:

a) Penelitian yang bersifat menjelajah/penjajagan (eksploratif)

Penelitian ini bertujuan untuk memperdalam pengetahuan mengenai gejala tertentu. Dapat pula bertujuan untuk memperoleh ide-ide baru mengenai suatu gejala (masih mencari-cari) dengan maksud untuk merumuskan hipotesis-hipotesis, karena belum ada referensi untuk mendeduksi hipotesis.

b) Penelitian yang bersifat deskriptif

Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan secara tepat sifat-sifat individu, keadaan, gejala atau hal-hal yang khusus dalam masyarakat dan deskripsi fenomena alam. Penelitian jenis ini dapat memiliki atau tidak hipotesis, tergantung dari ada tidaknya pengetahuan tentang masalah yang bersangkutan. Penelitian deskriptif yang biasa disebut juga dengan penelitian taksonomik (taxonomic research), dimaksudkan untuk eksplorasi dan klarifikasi mengenai sesuatu fenomena atau kenyataan sosial.

c) Penelitian yang bersifat menerangkan (explanatory research)

Penelitian ini bertujuan untuk menguji hipotesis-hipotesis tentang adanya sebab akibat antara berbagai variabel yang diteliti. Hipotesis merupakan titik tolak langkah-langkah penelitian selanjutnya. Hipotesis itu sendiri menggambarkan hubungan antara dua atau lebih variabel; untuk mengetahui apakah sesuatu variabel berasosiai ataukah tidak dengan variabel lainnya; atau apakah sesuatu variabel disebabkan/dipengaruhi atau tidak oleh variabel lainnya.

d) Penelitian Eksperimen (Experimental Research)

Penelitian eksperimen sangat sesuai untuk menguji hipotesis tertentu dan dimaksudkan untuk mengetahui hubungan variabel penelitian. Pelaksanaannya memerlukan konsep dan variabel yang jelas dan pengukuran yang cermat. Pada penelitian eksperimen peneliti secara sengaja memanipulasi suatu variabel (memunculkan atau tidak memunculkan sesuatu variabel) kemudian memeriksa efek atau pengaruh yang ditimbulkannya.

e) Penelitian Tindakan (Action Research)

Dalam penelitian tindakan (action research) peneliti tidak hanya melakukan penelitian sampai pada kesimpulan mengenai hubungan antar variabel saja tetapi juga meneliti sampai action hubungan antar variabel. Ciri utama dari penelitian tindakan adalah tujuannya untuk memperoleh penemuan yang signifikan secara operasional sehingga dapat digunakan ketika kebijakan dilaksanakan.

2) Jenis Penelitian Berdasarkan Cara Pengumpulan Data

Tipe penelitian dilihat dari cara mengumpulkan data dapat dibedakan menjadi:

a) Penelitian Survei

Penelitian survei merupakan salah satu metode penelitian yang amat luas penggunaannya. Pengertian survei dibatasi pada penelitian yang datanya dikumpulkan dari sampel atas populasi untuk mewakili seluruh populasi. Penelitian survei dapat digunakan untuk maksud (1) penjajagan (eksploratif),

(2) deskriptif, (3) penjelasan (explanatory atau confirmatory) yakni untuk menjelaskan hubungan kausal dan pengujian hipotesis, (4) evaluasi, (5) prediksi atau meramalkan kejadian tertentu di masa yang akan datang, (6) penelitian operasional, dan (7) pengembangan indikator-indikator sosial.

b) Penelitian Sensus

Penelitian sensus yaitu penelitian yang data/informasinya dikumpulkan dari seluruh populasi. Di samping didukung pula oleh data-data sekunder yang biasanya diperoleh dari instansi yang terkait. Contoh dari penelitian sensus ini adalah sensus penduduk. Sensus penduduk sendiri dapat didefinisikan sebagai keseluruhan proses pengumpulan, kompilasi dan publikasi data yang berkenaan dengan data demografi, ekonomi, dan sosial pada waktu-waktu tertentu, mencakup semua orang di suatu negara atau teritorial terbatas dengan definisi yang jelas.

c) Pengamatan Berpartisipasi (Participation Observation)

Pengamatan (observation) mengacu pada proses mengamati perilaku anggota masyarakat yang berpola, dan partisipasi menunjuk kepada kegiatan meneliti suatu masyarakat, lalu berusaha berperan sebagaimana salah seorang anggota masyarakat. Dalam teknik pengamatan partisipatif kedua kegiatan tersebut dilakukan bersamaan dan peneliti tinggal di daerah penelitian, mengamati dan mengambil data (tinggal dalam jangka waktu yang lama).

d) Rapid Rural Appraisal

Rapid Rural Appraisal (RRA) merupakan kumpulan metode yang dapat dipergunakan oleh orang-orang, dalam kualifikasi tertentu, untuk menggali informasi sesuai keperluannya mengenai wilayah pedesaan yang dikunjungi dengan waktu relatif cepat.

e) Partisipatory Rural Appraisal

Penelitian yang bersifat top down, memecahkan masalah tetapi dengan asumsi masyarakat mengetahui masalahnya. Peneliti bertindak sebagai fasilitator. Data yang didapat diambil dengan memotivasi masyarakat untuk mengeluarkan pendapat.

f) Penelitian Kualitatif

Penelitian ini dapat berhubungan dengan kehidupan masyarakat seperti tingkah laku, fungsi organisasi, pergerakan sosial atau interaksi kekeluargaan. Dalam penelitian kualitatif, peneliti mengumpulkan data melalui wawancara, pengamatan, studi dokumen, pustaka bahkan data yang dikuantitatifkan seperti sensus. Pada dasarnya ada tiga komponen utama dari penelitian kualitatif yaitu:

1) Data yang dapat berasal dari berbagai sumber, wawancara dan pengamatan merupakan sumber yang umum digunakan,

2) Analisis atau prosedur interpretasi untuk memperoleh teori,

3) Laporan tulisan atau lisan. Laporan ini mungkin berupa penulisan dalam jurnal ilmiah atau pengujian temuan dalam suatu acara seminar.

d. Masalah Penelitian

Untuk memilih pokok permasalahan perlu dipertimbangkan apakah topik itu memenuhi empat hal berikut ini atau tidak.

1) Manageable, yaitu terjangkau oleh peneliti setelah mempertimbangkan latar belakang pengetahuan, kecakapan dan kemampuan, dana yang tersedia dan waktu.

2) Obtainable, yaitu tersedia bahan-bahan kepustakaan, faktor-faktor yang merintangi pengumpulan seperti masalah letak daerah, penguasaan bahasa, dan sebagainya dapat diatasi.

3) Significance, yaitu cukup penting untuk diselidiki yang akan menghasilkan problematik baru atau pemecahan baru, bukan duplikasi serta mempunyai kegunaan praktis.

4) Interested, yaitu menarik minat untuk dibahas dan diteliti yang timbul dari keinginan ilmiah (scientific truth).

Salah satu bagian yang paling sulit dalam melakukan penelitian adalah memulai. Dua pertanyaan utama untuk menemukan masalah penelitian, yaitu;

(1) bagaimana menemukan permasalahan yang dapat diteliti; dan (2) bagaimana merumuskan masalah itu supaya secara operasional dapat dikerjakan. Namun demikian salah satu sifat yang harus dimiliki oleh seorang peneliti adalah sensitifitas teoritis. Sensitifitas teoritis mengacu kepada kelengkapan dan penguasaan teori serta kemampuan mengartikan data dalam kaitannya dengan pengembangan teori.

e. Tahap-Tahap Penelitian

Tahap-tahap yang lazim dilalui pada setiap penelitian adalah (1) pemilihan dan analisis masalah penelitian, (2) penentuan strategi pemecahan masalah, atau penentuan metodologi penelitian yang akan digunakan, (3) pengumpulan data,

(4) pengolahan, analisis, dan interpretasi data, serta (5) penyusunan laporan penelitian. Kelimanya akan dijelaskan sebagi berikut:

1) Pemilihan dan Analisis Masalah yang Akan Diteliti

Tujuan suatu penelitian adalah untuk memecahkan atau menemukan jawaban terhadap suatu masalah. Oleh karena itu, pada setiap penelitian, tahap pertamanya ialah menentukan atau memilih sesuatu pokok masalah yang akan diteliti. Pokok masalah tersebut biasanya tercermin dalam judul atau topik suatu penelitian.

2) Penentuan Metodologi Penelitian

Penentuan metodologi penelitian ini, sering pula disebut dengan "strategi pemecahan masalah"; karena pada tahap ini, mempersoalkan "bagaimana" masalah-masalah penelitian tersebut hendak dipecahkan atau ditemukan jawabannya. Pada tahap ini, yang perlu ditentukan adalah: 1) jenis atau format penelitian yang akan digunakan; 2) metode, sumber, dan alat pengumpulan data (untuk survei disertai teknik pengambilan sampel, dan

untuk eksperimen disertai desain eksperimen yang akan dilakukan); dan 3) strategi analisis data. Mengenai jenis, atau format penelitian yang akan digunakan, pada dasarnya menunjuk pada tipe pendekatan penelitian yang akan digunakan; apakah studi kasus, survei, atau eksperimen; juga apakah tujuan dari penelitian, apakah untuk tujuan eksplanasi; dan apakah unit studinya individu, ataukah unit studinya kelompok.

3) Pengumpulan Data

Data dikumpulkan sesuai dengan sumber, metode, dan instrumen pengumpulan data yang dinyatakan. Pada tahap ini peneliti mewawancarai responden yang menjadi sumber data penelitian (menggunakan pedoman wawancara yang telah disiapkan sebelumnya); atau mengobservasi sesuatu keadaan, suasana, peristiwa, dan/atau tingkah laku (menggunakan panduan observasi yang telah disusun sebelumnya); atau menghimpun, memeriksa, mencatat dokumen-dokumen yang menjadi sumber data penelitian (menggunakan Form Pencatatan Dokumen yang telah disiapkan sebelumnya); atau menyebarkan dan menghimpun kembali angket yang disebarkan ke responden yang menjadi sumber data penelitian (menggunakan angket yang telah disusun sebelumnya); atau menguji testee yang menjadi sumber data penelitian (menggunakan bahan tes yang telah disiapkan sebelumnya); atau melakukan perlakuan tertentu dan memeriksa/mengobservasi efek dari perlakuan tersebut.

4) Pengolahan, Analisis, dan Interpretasi Data.

Setelah data dikumpulkan, selanjutnya perlu diikuti kegiatan pengolahan (data proscessing). Pengolahan data mencakup kegiatan mengedit (editing) data dan mengkode (coding) data. Mengedit data ialah kegiatan memeriksa data yang terkumpul; apakah sudah terisi secara sempurna atau tidak; lengkap atau tidak, cara pengisiannya sudah benar atau tidak. Mengkodekan data, berarti memberikan kode-kode tertentu kepada masing-masing kategori atau nilai dari setiap variabel yang dikumpulkan datanya. Setelah semua data dikodekan, selanjutnya dipindahkan ke dalam rekapitulasi data.

5) Penyusunan Laporan Penelitian.

Pada laporan penelitian, peneliti mengkomunikasikan apa yang diteliti, bagaimana ditelitinya, dan hasil penelitian yang ditemukan. Karenanya, di tahap akhir ini, peneliti perlu menjelaskan dalam laporan yang disusunnya:

(1) masalah yang diteliti, (2) metodologi penelitian yang digunakan, dan (3) hasil-hasil penelitian yang ditemukan.

3. Perpetaan

a. Hakikat, Syarat, dan Fungsi Peta

Menurut ICA (International Cartographic Association) peta adalah suatu gambaran atau representasi unsur-unsur atau kenampakan-kenampakan abstrak yang dipilih dari permukaan bumi atau yang ada kaitannya dengan permukaan bumi atau benda-benda angkasa, dan umumnya digambarkan pada suatu bidang datar dan diperkecil atau diskalakan.

Syarat peta yang baik adalah; (1) dapat dimengerti maknanya oleh si pemakai,

(2) dapat memberikan gambaran yang sebenarnya, (3) tampilan peta hendaknya sedap dipandang (menarik, rapih dan bersih), (4) ekuivalen, yaitu perbandingan luas daerah pada peta harus sama dengan luas daerah yang sebenarnya, (5) ekuidistan, yaitu perbandingan jarak pada peta harus sama dengan jarak yang sebenarnya, (6) konform, yaitu bentuk dari semua sudut yang digambarkan harus sama dengan bentuk yang sebenarnya.

Secara umum kegunaan dan fungsi peta adalah sebagai berikut:

(1) menunjukkan posisi atau lokasi suatu tempat di permukaan bumi,

(2) memperlihatkan ukuran (luas, jarak) dan arah suatu tempat di permukaan bumi,

(3) menggambarkan bentuk-bentuk di permukaan bumi,

(4) membantu peneliti untuk mengetahui kondisi daerah yang akan diteliti,

(5) menyajikan data tentang potensi suatu wilayah,

(6) alat analisis untuk mendapatkan suatu kesimpulan,

(7) alat untuk menjelaskan rencana-rencana yang diajukan,

(8) alat untuk mempelajari hubungan timbal-balik antara fenomena- fenomena (gejala-gejala) geografi di permukaan bumi.

b. Klasifikasi dan Bentuk Peta

Peta dapat digolongkan (diklasifikasikan) sebagai berikut.

1) Jenis Peta berdasarkan isinya

Jenis Berdasarkan isinya peta dapat digolongkan menjadi dua jenis, yaitu:

a) Peta Umum

Peta umum adalah peta yang menggambarkan permukaan bumi secara umum. Peta umum ini memuat semua penampakan yang terdapat di suatu daerah, baik kenampakan fisis (alam) maupun kenampakan sosial budaya. Peta umum terdiri dari 2 jenis yaitu:

(1) Peta Topografi, yaitu peta yang menggambarkan bentuk relief (tinggi rendahnya) permukaan bumi. Dalam peta topografi digunakan garis kontur (countur line) yaitu garis yang menghubungkan tempat-tempat yang mempunyai ketinggian sama. Peta Rupabumi. Peta Rupabumi Indonesia (RBI) adalah peta topografi yang menampilkan sebagian unsur-unsur alam dan buatan manusia di wilayah NKRI

(2) Peta Chorografi, adalah peta yang menggambarkan seluruh atau sebagian permukaan bumi dengan skala yang lebih kecil antara 1 : 250.000 sampai 1 : 1.000.000 atau lebih. Atlas adalah kumpulan dari peta chorografi yang dibuat dalam berbagai tata warna.

b) Peta Tematik

Peta tematik terdiri dari satu atau beberapa tema dengan informasi yang lebih dalam/detail. Disebut peta khusus atau tematik karena peta tersebut hanya menggambarkan satu atau dua kenampakan pada permukaan bumi (fenomena geosfer) tertentu, baik kondisi fisik maupun sosial budaya.

2) Jenis Peta berdasarkan Skalanya

Berdasarkan skalanya peta dapat digolongkan menjadi empat jenis, yaitu:

a) Peta kadaster/teknik, dengan skala antara 1 : 100 sampai 1 : 5.000.

b) Peta skala besar dengan skala 1 : 5.000 sampai 1 : 250.000. Peta skala besar digunakan untuk menggambarkan wilayah yang relatif sempit, misalnya peta kelurahan.

c) Peta skala sedang, dengan skala antara 1 : 250.000 sampai 1: 500.000. Peta skala sedang digunakan untuk menggambarkan daerah yang agak luas, misalnya peta propinsi Jawa Tengah.

d) Peta skala kecil, dengan skala 1 : 500.000 sampai 1 : 1.000.000 atau lebih, digunakan untuk menggambarkan daerah yang relatif luas.

Bentuk Peta

Bentuk peta dapat bermacam-macam, antara lain:

a) Sketsa adalah peta yang dibuat secara garis besar, tidak mementingkan kebenaran ukuran dan bentuk obyek.

b) Peta adalah gambaran suatu obyek pada bidang datar yang memperhitungkan ukuran dan bentuk obyek.

c) Peta timbul adalah peta yang digambarkan dalam bentuk tiga dimensi sehingga relief permukaan bumi tampak jelas meskipun skala ke arah vertikal/ketinggian mengalami pengecilan.

d) Maket/Miniatur, hampir sama dengan peta timbul tetapi daerah yang digambarkan sempit sehingga kenampakan permukaan bumi lebih rinci.

e) Peta foto (Ortofoto) adalah foto udara yang diberi tambahan keterangan nama jalan, kota, nama geografis lainnya. Dengan demikian peta foto tidak mengalami generalisasi, tidak menggunakan simbol-simbol kartografis sehingga sulit membacanya.

f) Atlas adalah buku yang berisi bermacam-macam peta, biasanya disertai diagram dan gambar-gambar dan disertai penjelasan.

c. Atribut Peta (Unsur-unsur Peta)

Peta yang baik biasanya dilengkapi dengan komponen-komponen peta, agar peta mudah dibaca, ditafsirkan dan tidak membingungkan. Peta terdiri dari beberapa unsur yang berfungsi memberi informasi tertentu agar pembaca mudah memahaminya. Unsur-unsur peta tersebut antara lain:

1) Judul Peta

Judul peta harus mencerminkan isi peta. Judul peta biasanya diletakkan di bagian tengah atas peta. Tetapi judul peta dapat juga diletakkan di bagian lain dari peta, asalkan tidak mengganggu kenampakkan dari keseluruhan peta.

2) Garis Astronomis

Garis astronomis berguna untuk menentukan lokasi suatu tempat. Biasanya garis astronomis hanya dibuat tanda di tepi atau pada garis tepi dengan menunjukkan angka derajat, menit, dan detiknya tanpa membuat garis bujur atau lintang.

3) Skala Peta

Skala peta adalah perbandingan jarak antara dua titik sembarang di peta dengan jarak sebenarnya di permukaan bumi, dengan satuan ukuran yang sama.

Skala sangat penting dicantumkan untuk melihat tingkat ketelitian dan kedetailan objek yang dipetakan. Skala peta berpengaruh pada besar kecilnya generalisasi peta, besar interval kontur yang akan digunakan dalam penggambaran peta dan sebagainya. Skala peta dapat dinyatakan dengan tiga cara:

a) Skala Angka/Skala Pecahan (Numeric Scale) yaitu skala peta yang dinyatakan dengan angka, misalnya 1 : 50.000 yang berarti jarak 1 cm dalam peta mewakili jarak horizontal 50.000 cm di medan/lapangan.

b) Skala Inci - Mil (Inch to Mile Scale), sering pula disebut skala yang dinyatakan dengan kalimat, yaitu skala peta yang dinyatakan dengan satuan inci untuk jarak dalam peta dan satuan mil untuk jarak di medan/lapangan.

c) Skala Grafik (Graphic Scale), yaitu skala yang dinyatakan dengan garis lurus yang dibagi menjadi beberapa bagian yang sama panjang dimana panjang bagian-bagian garis lurus tersebut mewakili jarak tertentu di medan. Contoh: Skala grafik mempunyai kelebihan dibanding jenis skala lainnya karena tidak menimbulkan masalah apabila peta diperbesar atau diperkecil lewat fotocopy.

Jika ada peta yang skalanya tidak tercantum, perlu dicari tahu skala dari peta tersebut. Ada beberapa cara menentukan skala peta:

a) Membandingkan peta yang sudah ada skalanya dengan peta yang belum ada skalanya tentang daerah yang sama.

b) Membandingkan jarak 2 tempat dalam peta dengan jarak kedua tempat tersebut di lapangan.

c) Memperhatikan kenampakan dalam peta yang sudah pasti ukurannya, misalnya lapangan sepak bola yang panjangnya = 100 m. Ukur panjang

lapangan sepak bola dalam peta misalnya 1 cm, maka skala peta = 1 cm : 100 m 1 cm : 10.000 cm => 1 : 10.000.

d) Menghitung jarak 2 garis lintang atau 2 garis bujur dalam peta. Dalam hal ini gunakan panjang 1° lintang dan 1° bujur.

e) Memperhatikan interval kontur dalam peta. Besar interval kontur untuk peta- peta topografi di Indonesia menggunakan rumus: Ci = 1/2000 x Angka penyebut skala (Catatan: Ci dalam meter).

4) Legenda atau keterangan

Legenda adalah penjelasan simbol-simbol yang terdapat dalam peta. Gunanya agar pembaca dapat dengan mudah memahami isi peta.

5) Tanda Arah atau Tanda Orientasi

Simbol arah dicantumkan dengan tujuan untuk orientasi peta. Gunanya untuk menunjukkan arah utara, Selatan, Timur dan Barat. Tanda arah pada peta biasanya berbentuk tanda panah yang menunjuk ke arah Utara.

6) Simbol dan Warna

Simbol-simbol dalam peta harus memenuhi syarat, sehingga dapat menginformasikan hal-hal yang digambarkan dengan tepat. Syarat-syarat tersebut adalah sederhana, mudah dimengerti, dan bersifat umum.

Uraian berikut akan menjelaskan satu demi satu tentang simbol dan warna tersebut.

Simbol Peta

a) Macam-macam simbol peta berdasarkan bentuknya

(1) Simbol titik, digunakan untuk menyajikan tempat atau data posisional, seperti simbol kota, pertambangan, titik trianggulasi (titik ketinggian) tempat dari permukaan laut dan sebagainya. Simbol titik sendiri dapat terbagi menjadi tiga, yaitu:

(2) Simbol Geometrik atau Abstrak, Simbol yang digunakan untuk mewakili suatu kenampakan muka bumi dengan bentuk yang abstrak, yang mudah digambar namun agak sulit diketahui maksudnya.

(3) Simbol Piktorial, Simbol yang digunakan untuk mewakili suatu kenampakan muka bumi dengan bentuk yang mirip atau identik dengan bentuk asli kenampakan tersebut.

(4) Simbol Huruf (Letter Symbol), Simbol yang digunakan untuk mewakili suatu kenampakan muka bumi yang khas atau khusus dengan huruf. Penggunaan simbol tersebut disesuaikan pula dengan jenis peta. Simbol ini mempunyai bentuk yang sangat sederhana dan sangat mudah di pahami, namun kebanyakan simbol ini kurang memiliki nilai keindahan ataupun kurang begitu artistik.

(5) Simbol garis, digunakan untuk menyajikan data geografis misal; sungai, batas wilayah, jalan. Simbol garis merupakan simbol yang digunakan untuk mewakili kenampakan muka bumi yang berupa garis, perhubungan, pemisahan, serta gerakan atau arus. Simbol garis digunakan untuk menunjukan tanda seperti jalan, sungai, rel KA dan lainnya, dengan demikian timbul istilah-istilah:

(a) Isohyet yaitu garis dengan jumlah curah hujan sama

(b) Isobar yaitu garis dengan tekanan udara sama

(c) Isogon yaitu garis dengan deklinasi magnet yang sama

(d) Isoterm yaitu garis dengan angka suhu sama

(e) Isopleth yaitu garis yang menunjukan angka kuantitas yang bersamaan.

Simbol garis dapat digolongkan menjadi 2 macam, yaitu:

(a) Simbol garis deskriptif yaitu simbol garis yang digunakan untuk menyatakan unsur yang sesungguhnya ada, bentuknyapun biasanya mirip dengan sesungguhnya

(b) Simbol garis abstrak yaitu simbol garis yang digunakan untuk menyatakan unsur yang tak tampak, bentuknya menyesuaikan.

Contoh:

- – - – - – - – - - : batas kecamatan

++++++++++ : batas propinsi

—————— : jalan setapak

(6) Simbol luasan (Area), digunakan untuk menunjukkan kenampakan area misalnya rawa, hutan, padang pasir dan sebagainya.

(7) Simbol aliran, digunakan untuk menyatakan alur dan gerak

b) Macam macam simbol berdasarkan fungsinya

(1) Simbol daratan

(2) Simbol perairan

(3) Simbol budaya

c) Berdasar atas arti atau sifatnya:

(1) Simbol kualitatif, yaitu simbol yang menyatakan keadaaan sebenarnya apa yang digambarkan dengan bentuk yang lebih sederhana. Simbol ini hanya mewakili unsur yang dimaksud baik berupa titik, garis, maupun luasan.

(2) Simbol kuantitatif, yaitu simbol yang menyatakan keadaaan sebenarnya apa yang digambarkan dengan bentuk yang lebih sederhana dengan disertai dengan nilai atau kuantitasnya. Nilai atau kuantitas tersebut dapat menunjukkan ketinggian, jumlah, luas, dan sebagainya.

Warna

Penggunaan warna pada peta (dapat juga pola seperti titik-titik atau jaring kotak-kotak dan sebagainya) ditujukan untuk tiga hal, yaitu untuk:

a) membedakan

b) menunjukan tingkatan kualitas maupun kuantitas (gradasi)

c) keindahan

Dalam menyatakan perbedaan digunakan bermacam warna atau pola. Tidak ada peraturan yang baku mengenai penggunaan warna dalam peta. Jadi penggunaan warna adalah bebas, sesuai dengan maksud atau tujuan si pembuat peta dan kebiasaan umum.

Contohnya:

a) Untuk laut, danau digunakan warna biru.

b) Untuk temperatur (suhu) digunakan warna merah atau coklat.

c) Curah hujan digunakan warna biru atau hijau.

d) Daerah pegunungan tinggi/dataran tinggi (2000 - 3000 meter) digunakan coklat tua.

e) Dataran rendah (pantai) ketinggian 0 sampai 200 meter dpl. digunakan warna hijau.

7) Sumber dan Tahun Pembuatan Peta

Sumber dan tahun pembuatan peta memberi kepastian kepada pembaca peta, bahwa data dan informasi yang disajikan dalam peta tersebut benar benar

absah (dipercaya/akurat), dan bahwa peta itu masih cocok untuk digunakan pada masa sekarang.

8) Inset dan Indek peta

Inset peta merupakan peta yang diperbesar dari bagian belahan bumi. Sebagai contoh, mau memetakan pulau Jawa, pulau Jawa merupakan bagian dari kepulauan Indonesia yang diinzet. Sedangkan indek peta merupakan sistem tata letak peta, yang menunjukan letak peta yang bersangkutan terhadap peta yang lain di sekitarnya.

Berdasarkan fungsinyanya, inset di bedakan menjadi 3 macam yaitu:

a) Inset yang berfungsi untuk menunjukkan lokasi relatif wilayah yang tergambar pada peta utama. Inset ini memiliki skala lebih kecil dari peta utama, untuk menjelaskan letak/hubungan antara wilayah pada peta utama dengan wilayah lain di sekelilingnya. Inset yang berfungsi memperbesar/memperjelas sebagian kecil wilayah pada peta utama.

b) Inset ini memiliki skala lebih besar dari peta pokok, mempunyai kegunaan untuk menjelaskan bagian dari peta pokok yang dianggap penting.

c) Inset yang berfungsi untuk menyambung wilayah pada peta utama. Inset ini memiliki skala sama besar dengan peta utama dan juga merupakan peta utama yang disambung.

9) Grid

Dalam selembar peta sering terlihat dibubuhi semacam jaringan kotak- kotak atau grid system. Tujuan grid adalah untuk memudahkan penunjukan lembar peta dari sekian banyak lembar peta dan untuk memudahkan penunjukan letak sebuah titik di atas lembar peta. Cara pembuatan grid yaitu, wilayah dunia yang agak luas, dibagi-bagi kedalam beberapa kotak. Tiap kotak diberi kode. Tiap kotak dengan kode tersebut kemudian diperinci dengan kode yang lebih terperinci lagi dan seterusnya. Jenis grid pada peta-peta dasar (peta topografi) di Indonesia adalah: Kilometerruitering (kilometer fiktif) yaitu lembar peta dibubuhi jaringan kotak-kotak dengan satuan kilometer.

10) Nomor peta

Penomoran peta penting untuk lembar peta dengan jumlah besar dan seluruh lembar peta terangkai dalam satu bagian muka bumi. Nomor lembar peta pada peta topografi memberikan petunjuk tentang kedudukan lembar peta dalam seri pemetaan. Nomor seri peta dibuat / direncanakan berdasar skala peta. Nomor edisi peta selalu berhubungan dengan tanggal atau tahun penerbitan.

11) Sumber/Keterangan Riwayat Peta

Keterangan ini merupakan catatan tentang asal usul pemetaan tersebut, terutama mengenai sumber data, metode pemetaan, tahun pengumpulan/pengolahaan dan tanggal pembuatan/pencetakan peta, serta keterangan lain yang ditekankan pada pemberian identitas peta, meliputi penyusun peta, percetakan, sistem proyeksi peta, penyimpangan deklinasi magnetis, dan lain sebagainya yang memperkuat identitas penyusunan peta yang dapat dipertanggungjawabkan.

12) Elevasi

Salah satu unsur yang penting lainnya pada suatu peta adalah informasi tinggi suatu tempat terhadap rujukan tertentu. Unsur ini disebut dengan elevasi, yaitu ketinggian sebuah titik di atas muka bumi dari permukaan laut. Kartograf menggunakan teknik yang berbeda untuk menggambarkan ketinggian, misalnya permukaan bukit dan lembah. Satuan ketinggian merupakan keterangan mengenai satuan untuk ketinggian yang digunakan dalam peta, satuan ketinggian yang digunakan di Indonesia adalah satuan meter.

Peta Topografi tradisional menggunakan garis lingkaran yang memusat yang disebut dengan garis kontur, untuk menggambarkan elevasi.

13) Koordinat

Koordinat merupakan titik pertemuan antara absis dan ordinat. Koordinat ditentukan dengan menggunakan sistem sumbu, yakni perpotongan antara garis-garis yang tegak lurus satu sama lain.

Sistem koordinat yang dipakai adalah koordinat geografis (geographical coordinate). Sumbu yang digunakan adalah garis bujur (bujur barat dan bujur timur) yang tegak lurus dengan garis katulistiwa, dan garis lintang (lintang utara dan lintang selatan) yang sejajar dengan garis katulistiwa.

14) Letering

Letering ditujukan untuk mengidentifikasi/memberi penjelasan dari suatu kenampakan yang tertera di dalam peta. Fungsi letering: memudahkan dalam menganalisis peta, memberikan suatu kenampakan yg baik dan teratur pada peta.

d. Proyeksi Peta

Permukaan bumi merupakan bidang lengkung, dan peta, merupakan bidang datar, artinya, semua peta tidak terkecuali globe mengalami distorsi dari bumi yang sebenarnya. Secara khusus pengertian dari proyeksi peta adalah cara memindahkan sistem paralel (garis lintang) dan meridian (garis bujur) berbentuk bola (Globe) ke bidang datar (peta). Pemindahan dari globe ke bidang datar harus diusahakan akurat. Agar kesalahan diperkecil sampai tidak ada kesalahan maka proses pemindahan harus memperhatikan syarat-syarat di bawah ini:

1) Bentuk-bentuk di permukaan bumi tidak mengalami perubahan (harus tetap), persis seperti pada gambar peta di globe bumi.

2) Luas permukaan yang diubah harus tetap.

3) Jarak antara satu titik dengan titik lain di atas permukaan bumi yang diubah harus tetap.

Bila diminta untuk memetakan seluruh permukaan bumi, maka harus tepat dalam memilih proyeksi yang digunakan. Pemilihan proyeksi tergantung pada bentuk, luas dan letak daerah yang dipetakan. Juga memperhatikan ciri-ciri tertentu/ciri asli yang akan dipertahankan.

Untuk memenuhi syarat itu mengakibatkan lahirnya bermacam jenis proyeksi peta. Poyeksi peta dapat digolongkan atas beberapa sudut pandang:

a) Ditinjau dari sifat asli yang akan dipertahankan:

(1) Proyeksi equivalent, dimana luas daerah dipertahankan sama artinya luas di atas peta sama dengan luas di atas muka bumi setelah dikalikan skala.

(2) Proyeksi conform, dimana sudut-sudut dipertahankan sama.

(3) Proyeksi equidistant, dimana jarak dipertahankan sama artinya jarak di atas peta sama dengan jarak di atas muka bumi setelah dikalikan skala.

b) Ditinjau dari macam bidang proyeksi:

(1) Proyeksi azimuthal/zenithal, bidang proyeksi adalah bidang datar.

(2) Proyeksi kerucut, bidang proyeksi adalah kerucut.

(3) Proyeksi silinder, bidang proyeksi adalah bidang silinder.

c) Ditinjau dari kedudukan sumbu simetri/garis karakteristik bidang proyeksi:

(1) proyeksi normal, sumbu simetri berimpit dengan sumbu bumi.

(2) Proyeksi miring, sumbu simetri membentuk sudut dengan sumbu bumi.

(3) Proyeksi transversal, sumbu simetri tegak lurus sumbu bumi atau terletak pada bidang equator.

Beberapa jenis proyeksi yang umum adalah silinder/tabung (cylindrical), kerucut (conical), bidang datar (zenithal) dan gubahan (arbitrarry)

Gambar 3 Proyeksi Peta a. zenithal, b. kerucut, c. silinder

a) Proyeksi Azimuthal, proyeksi peta yang menggunakan bidang datar sebagai bidang proyeksi. Pada proyeksi ini bola bumi menyinggung bidang proyeksi pada salah satu kurub (kutub utara atau kutub selatan) disebut proyeksi azimuthal normal, sedang apabila menyinggung pada salah satu titik equator disebut proyeksi azimuthal equatorial atau menyinggung di sembarang tempat pada bola bumi disebut proyeksi azimuthal miring (oblique).

Gambar 4 Proyeksi azimuthal normal

b) Proyeksi Silinder, biasanya menggunakan bidang silinder sebagai bidang proyeksinya. Kenampakan yang ada pada bola bumi (globe) diproyeksikan ke bidang silinder, kemudian bidang silinder dipotong dan dibuka menjadi bidang datar. Sifat proyeksi silinder yang normal adalah lingkaran-lingkaran meridian diproyeksikan menjadi garis-garis lurus vertikal yang sejajar.

Lingkaran-lingkaran parallel diproyeksikan menjadi garis-garis lurus yang sejajar dan tegak lurus dengan meridian.

Gambar 5 Proyeksi Silinder normal

c) Proyeksi Kerucut, apabila diletakkan suatu kerucut pada bola bumi, kerucut tersebut akan menyinggung bola bumi sepanjang suatu lingkaran apabila kerucut tersebut dalam posisi normal maka garis singgung dari bidang kerucut dengan bola bumi adalah suatu paralel standar, dimana pada paralel standar tidak mengalami distorsi. Kedudukan sumbu kerucut terhadap sumbu bola bumi dapat normal, miring dan transversal.

Gambar 6 Proyeksi kerucut dengan satu standar paralel.

Jenis proyeksi yang sering di jumpai sehari-hari adalah proyeksi gubahan, yaitu proyeksi yang diperoleh melalui perhitungan. Contohnya proyeksi lambert merupakan proyeksi yang digunakan untuk daerah yang membujur Utara- Selatan tidak jauh dari katulistiwa, ada lagi proyeksi molweide digunakan untuk wilayah dunia yang sering digunakan pada jenis peta statistik misalnya peta persebaran penduduk, peta hasil pertanian. Salah satu proyeksi gubahan yang sering digunakan adalah proyeksi mercator.

Kapan masing-masing proyeksi itu dipakai?

a) Seluruh Dunia, dalam dua belahan bumi dipakai proyeksi zenithal kutub. Peta navigasi dengan arah kompas tetap menggunakan proyeksi mercator.

b) Daerah Kutub, menggunakan proyeksi proyeksi lambert dan proyeksi proyeksi zenithal sama jarak.

c) Daerah Belahan Bumi Selatan, menggunakan proyeksi sinusoidal, lambert

dan bonne.

d) Daerah yang lebar ke samping tidak jauh dari katulistiwa, menggunakan salah satu proyeksi kerucut, proyeksi apapun sebenarnya dapat dipakai.

4. Pemanfaatan PJ dan SIG untuk Tata Guna Lahan dan Pengembangan Potensi Wilayah

a. Konsep Dasar Tata Guna Lahan

Pengertian Tata Guna Lahan adalah wujud dalam ruang di alam mengenai bagaimana penggunaanlahan tertata, baik secara alami maupun direncanakan. Dari sisi pengertian perencanaan sebagai suatu intervensi manusia, maka lahan secara alami dapat terus berkembang tanpa harus ada penataan melalui suatu intervensi. Sedangkan pada keadaan yang direncanakan, tata guna lahan akan terus berkembang sesuai dengan upaya perwujudan pola dan struktur ruang pada jangka waktu yang ditetapkan. Perencanaan tata guna lahan (landuse planning) dari sisi intervensi dalam memberikan dorongan dan bantuan pada pengguna lahan (landusers) dalam menata lahan.

Penekanan terhadap kata “perencanaan” adalah adanya intervensi, baik dari sisi kebijakan yang diperkuat oleh pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi, maupun aktivitas sosial ekonomi yang terorganisasi secara baik. Di sinilah prinsip dan teknik penataan dan zonasi itu diperlukan, melalui pertimbangan efisiensi, ekuitas (equity), dan keberkelanjutan (sustainability).

Dari Penjelasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pengertian Tata Guna Lahan adalah aktivitas penilaian secara sistematis terhadap potensi lahan dalam rangka untuk memilih, mengadopsi, dan menentukan pilihan penggunaan lahan terbaik dalam ruang berdasarkan potensi dan kondisi biofisik, ekonomi dan sosial untuk meningkatkan produktivitas dan ekuitas, dan menjaga kelestarian lingkungan.

Faktor-faktor yang mempengaruhi penetapan tata guna lahan yang perlu diperhatikan dan dipertimbangkan adalah faktor fisik, faktor biologis, faktor ekonomi dan faktor institusi.

b. Unsur-Unsur Interpretasi Citra Pengindraan Jauh Terkait Tata Guna Lahan

1) Rona

Rona, adalah tingkat kecerahan/kegelapan suatu obyek yang terdapat pada citra. Air laut memantulakn rona gelap sedangkan pasir memantukan rona terang.

2) Warna

Warna, adalah wujud tampak mata dengan menggunakan spektrum sempit, lebih sempit dari spektrum tampak. Misalnya warna coklat kekuningan pada air menandakan air tersebut keruh.

3) Bentuk

Bentuk, merupakan variabel kualitatif yang mencerminkan konfigurasi atau kerangka obyek. Bentuk merupakan atribut yang jelas dan khas sehingga banyak obyek-obyek di permukaan bumi dapat langsung dikenali pada saat interpretasi citra melalui unsur bentuk saja.

4) Ukuran

Ukuran, adalah atribut obyek yang meliputi jarak, luas, volume, ketinggian tempat dan kemiringan lereng. Ukuran merupakan faktor pengenal yang dapat digunakan untuk membedakan obyek-obyek sejenis yang terdapat pada foto udara sehingga dapat dikatakan bahwa ukuran sangat mencirikan suatu obyek.

5) Tekstur

Tekstur, sering dinyatakan dengan kasar, sedang, dan halus. Contohnya pohon besar memiliki tekstur kasar, perkebunan sedang dan tanah kosong memiliki tekstur halus

6) Pola

Pola atau susunan keruangan merupakan ciri yang menandai bagi banyak objek bentukan manusia dan bagi beberapa objek alamiah. Contoh aliran sungai di daerah pegunungan memiliki pola aliran radial sentrifugal.

7) Bayangan

Bayangan, bersifat menyembunyikan detail atau obyek yang berada di daerah gelap. Obyek atau gejala yang terletak di daerah bayangan biasanya hanya tampak samar-samar atau bahkan tidak tampak sama sekali. Meskipun bayangan membatasi gambaran penuh suatu obyek pada foto udara, kadang justru menjadi kunci penting dalam interpretasi terutama untuk mengenali suatu obyek yang justru kelihatan lebih tampak/jelas dengan melihat bayangannya.

8) Situs

Situs adalah tempat kedudukan suatu obyek dengan obyek lain di sekitarnya. Situs bukan merupakan ciri obyek secara langsung tetapi dalam kaitannya dengan lingkungan sekitar. Contohnya pola pemukiman yang memanjang sejajar dengan jalan.

9) Asosiasi

Asosiasi diartikan sebagai keterkaitan antara obyek satu dengan obyek lain. Adanya keterkaitan itu, maka terlihatnya suatu obyek sering merupakan petunjuk bagi obyek lain. Contohnya stasiun kereta berasosiasi dengan rel kereta di sekitarnya.

c. Penginderaan Jauh untuk Kajian Tata Guna Lahan

Penginderaan jauh kaitannya dengan tata guna lahan salah satunya dalam bentuk inventarisasi penggunaan lahan. Inventarisasi penggunaan lahan penting dilakukan untuk mengetahui apakah pemetaan lahan yang dilakukan oleh aktivitas manusia sesuai dengan potensi ataupun daya dukungnya. Penggunaan lahan yang sesuai memperoleh hasil yang baik, tetapi lambat laun hasil yang diperoleh akan menurun sejalan dengan menurunnya potensi dan daya dukung lahan tersebut. Integrasi teknologi penginderaan jauh merupakan salah satu bentuk yang potensial dalam penyusunan arahan fungsi penggunaan lahan. Dasar penggunaan lahan dapat dikembangkan untuk berbagai kepentingan penelitian, perencanaan, dan pengembangan wilayah.

Contoh inventarisasi citra penginderaan jauh dalam penggunaan lahan seperti inventarisasi lahan pertanian, perkebunan, permukiman, kehutanan, pertambangan, industri, pertokoan, pusat perbelanjaan, perbankan, perkantoran, ruang terbuka hijau, dll yang dapat dilakukan dengan menggunakan kunci interpretasi citra. Setelah itu citra penginderaan jauh dapat diolah dengan SIG untuk menampilkan peta penggunaan lahan yang akan digunakan lebih lanjut oleh para pengambil kebijakan. SIG memiliki banyak keunggulan dalam pengolahan ini karena data dapat dikelola dalam format yang jelas, biaya lebih murah daripada harus survei lapangan, pemanggilan data cepat dan dapat diubah dengan cepat, data spasial dan non spasial dapat dikelola bersama, analisa data dan perubahan dapat dilakukan secara efisien, dapat untuk perancangan secara cepat dan tepat.

Setelah selesai dilakukan pengolahan, maka langkah selanjutnya adalah dilakukan layout agar informasi-informasi yang ada didalamnya lebih mudah dipahami. Berikut adalah contoh peta penggunaan lahan yang sudah siap digunakan.

Gambar 7 Contoh Peta Penggunaan Lahan

Sumber: http://abuzadan.staff.uns.ac.id/files/2014/02/02-Peta-Penggunaan-Lahan.jpg

d. Pemanfaatan SIG untuk Pegembangan Potensi Wilayah

Perkembangan teknologi yang semakin pesat sangat membantu manusia dalam membantu menjalankan hidupnya. SIG dalam geografi sangat membantu menganalisis data-data geografi. Data yang dimaksudkan adalah data spasial. SIG membantu dalam memperoleh, menyimpan, menganalisa dan mengelola data yang terkait dengan atribut, yang mana secara spasial. Dalam hal analisis menggunakan SIG, dapat dilakukan dengan berbagai cara, diantaranya klasifikasi, Overlay, networking, Buffering, dan tiga dimensi (3D).

1) Analisis Klasifikasi

Analisis klasifikasi yaitu suatu proses mengelompokkan data keruangan (spasial) menjadi data keruangan yang berarti. Contohnya adalah mengklasifikasikan pola tata guna lahan untuk pemukiman, pertanian perkebunan atau hutan berdasarkan analisis data kemiringan atau ketinggian.

2) Analisis Overlay

Analisis overlay yaitu proses untuk menganalisis dan mengintegrasikan (tumpang tindih) dua atau lebih data keruangan yang berbeda. Contohnya adalah menganalisis daerah rawan erosi dengan menggabungkan data ketinggian, jenis tanah dan kadar air.

Gambar 8 Contoh Analisis Overlay Sumber: www.google.image.com

3) Analisis Networking

Proses ini berupa analisis yang bertitik tolak pada jaringan yang terdiri dari garis-garis dan titik-titik yang saling terhubung. Analisis ini seringkali dipakai dalam berbagai bidang misalnya sistem jaringan telepon, kabel listrik, pipa minyak atau gas, pipa air minum atau saluran pembuangan.

4) Analisis Buffering

Analisis ini menghasilkan sebuah penyangga yang bisa berbentuk lingkaran atau poligon yang melingkupi suatu objek sebagai pusatnya sehingga kita bisa mengetahui berapa parameter objek dan luas wilayahnya. Buffering misalnya dapat digunakan untuk menentukan jalur hijau kota, menggambarkan Zona Ekonomi Ekslusif suatu negara, mengetahui luas daerah tumpahan minyak di laut atau untuk menentukan lokasi pasar.

5) Tiga Dimensi

Analisis ini sering digunakan untuk memudahkan pemahaman karena data keruangan divisualisasikan dalam bentuk tiga dimensi menyerupai bentuk sebenarnya. Penerapannya bisa digunakan misalnya untuk menganalisi daerah yang rawan terkena aliran lava jika gunung api akan meletus.

Kemampuan SIG dalam mengelola data spasial dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan, antara lain berikut ini:

1) SIG untuk Inventarisasi Sumber Daya Alam

Secara sederhana, manfaat SIG dalam data kekayaan sumber daya alam adalah sebagai berikut.

a) Untuk mengetahui persebaran berbagai sumber daya alam. Misalnya minyak bumi, batubara, emas, besi, dan barang tambang lainnya.

b) Untuk mengetahui persebaran kawasan lahan. Misalnya; kawasan lahan potensial dan lahan kritis, kawasan hutan yang masih baik dan hutan rusak, kawasan lahan pertanian dan perkebunan, dan pemanfaatan perubahan penggunaan lahan.

c) Pemetaan geologi yang digunakan untuk kepentingan eksplorasi penanggulangan bencana alam.

d) Pemantauan daerah pasang surut guna mengembangkan lokasi pertanian atau kepentingan lain.

e) Pemetaan kesuburan tanah yang sangat diperlukan bagi usaha pertanian.

2) SIG untuk Perencanaan Pembangunan

Dalam hal perencanaan pembangunan, SIG dapat dimanfaatkan untuk perencanaan menentukan wilayah atau zonafikasi berdasarkan berbagai pertimbangan, misalnya karakteristik lahan dan ketidakselarasan. Sebagai contoh adalah pembangunan tempat sampah. Kriteria-kriteria yang bisa dijadikan parameter di antaranya; (1) dii luar area pemukiman, (2) berada dalam radius 10 meter dari genangan air, dan (3) berjarak 5 meter dari jalan raya.

3) SIG untuk Perencanaan Ruang

Untuk bidang perencanaan ruang, SIG digunakan untuk perencanaan tata ruang wilayah (analisis dampak lingkungan, daerah serapan air, kondisi tata ruang kota, dan masih banyak lagi. Penataan ruang menggunakan SIG akan menghindarkan terjadinya banjir, kemacetan, infrastruktur dan transportasi, hingga pembangunan perumahan dan perkantoran), perencanaan kawasan industri, kawasan pemukiman, serta penataan sistem dan status pertahanan.

4) SIG untuk Pariwisata

Dalam bidang pariwisata, pemanfaatan SIG dilakukan seperti untuk inventarisasi pariwisata dan analisis potensi pariwisata suatu daerah. SIG di bidang pariwisata sangat membantu manusia zaman sekarang untuk mempermudah melihat destinasi wilayah pariwisata yang akan dikunjungi atau sedang dikunjungi.

5) SIG untuk Transportasi

Dalam bidang transportasi pemetaan SIG digunakan untuk inventarisasi jaringan transportasi publik, kesesuaian rute alternatif, perencanaan perluasan sistem jaringan jalan, serta analisis kawasan rawan kemacetan dan kecelakaan.

6) SIG untuk Sosial Budaya

Dalam bidang sosial budaya, pemanfaatan SIG digunakan seperti untuk mengetahui luas dan persebaran penduduk suatu wilayah, mengetahui luas dan persebaran lahan pertanian serta kemungkinan pola drainasenya, pedataan dan pengembangan pusat-pusat pertumbuhan dan pembangunan pada suatu kawasan, serta pendataan dan pengembangan pemukiman penduduk, kawsan industri, sekolah, rumah sakit, sarana hiburan, dan perkantoran.

7) SIG untuk Mitigasi Bencana

Untuk meminimalisasi korban maupun kerugian, terdapat penanggulangan yang dilakukan sebelum, saat dan setelah bencana. Serangkaian penanggulangan tersebut dikenal dengan siklus penanggunalangan bencana. Penggunaan SIG dalam rentang manajemen risiko bencana dari pembuatan Basis data, inventori, overlay SIG yang paling sederhana hingga tingkat lanjut, analisis risiko, analisis untung rugi, proses geologi, statistik spasial, matriks keputusan, analisis sensitivitas, proses geologi, korelasi, auto korelasi dan banyak peralatan dan algoritma untuk pembuatan keputusan spasial yang komplek lainnya. Sekali lagi dapat dikenali bahwa area dimana risiko dengan potensi bahayanya, proses mitigasi dapat dimulai. SIG dapat digunakan dalam penentuan wilayah yang menjadi prioritas utama untuk penanggulangan bencana.

e. Pemanfaatan SIG untuk kesehatan Lingkungan

Sistem informasi geografis melalui pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi memiliki banyak manfaat termasuk untuk kajian kesehatan lingkungan. Oleh karena itu, sejak tahun 1990 di Indonesia telah dimulai peningkatan dan perkembangan SIG sebagai bagian informasi oleh industri kesehatan, baik institusi, kesehatan yang dimiliki pemerintah maupun swasta. Sistem informasi geografi dapat digunakan untuk menentukan distribusi penderita suatu penyakit, pola, atau model penyebaran penyakit. Penentuan distribusi unit-unit rumah sakit ataupun tenaga medis dapat pula dilakukan dengan SIG (Sistem Informasi Geografi).

Menurut WHO, SIG dalam kesehatan masyarakat dapat digunakan untuk hal- hal berikut; (1) menentukan distribusi geografis penyakit, (2) analisis trend spasial dan temporal, (3) pemetaan populasi berisiko, (4) stratifikasi faktor risiko, (5) perencanaan dan penentuan intervensivikasi, dan (6) monitoring penyakit.

Sistem Informasi Geografis (SIG) memiliki beberapa keuntungan dalam metode konvensional yang digunakan dalam perencanaan, manajemen dan penelitian kesehatan.

1) Manajemen data

SIG memberikan kemampuan bagi pengguna/user untuk menyimpan, mengintegrasikan, menampilkan dan menganalisis data dari level molekuler terhadap resolusi satelit kepada komponen spasial yang diperoleh dari sumber data yang berbeda. Manajemen data dengan penggunaan Sistem Informasi Geografis (SIG) dapat mendukung kegiatan survailans penyakit yang sangat membutuhkan keberlangsungan/kontinuitas, sistematika pengumpulan data serta analisis data.

2) Visualisasi

SIG merupakan alat yang akurat untuk menghadirkan informasi spasial terhadap level secara individual dan melakukan model peramalan/prediksi.

3) Analisis Overlay

SIG dapat melakukan analisis secara bersusun dari bagian informasi yang berbeda. Ini sangat membantu dalam pengambilan keputusan, dan penelitian medis terhadap pemodelan multi-kriteria yang membantu dalam memahami asosiasi/hubungan antara prevalensi penyakit dan gambaran yang spesifik.

4) Analisis buffering

SIG dapat menciptakan zona/wilayah buffer disekitar daeerah yang dipilih. Radius 10 km untuk menggambarkan area Rumah sakit yang dijangkau, atau 1 km disekitar sungai untuk menandai penularan risiko pencemaran melalui air. Pengguna/user dapat mengkhususkan ukuran buffer dan mengkombinasikan dengan informasi data inseidensi penyakit untuk meperkirakan jumlah kasus yang terjadi dalam zona buffer.

5) Analisis statistik

SIG dapat menyelesaikan kalkulasi spesifik, seperti proporsi populasi dalam suatu radius tertentu dari suatu pusat kesehatan dan juga mengkalkulasi jarak dan area sebagai contoh jarak suatu masyarakat ke pusat kesehatan serta area yang dicakup oleh program kesehatan tertentu (cakupan).

6) Query

SIG memberikan interaksi pertanyaan untuk mendapatkan intisari

informasi yang dimasukan dalam peta, table, grafik, dan juga dapat menjawab pertanyaan dari lokasi, kondisi, trend dan pemodelan dan pola spasial. SIG secara bertahap diterima dan digunakan oleh administrator dan ahli kesehatan masyarakat termasuk pengambil kebijakan, ahli statistik, ahli epidemiologi, pegawai dinas kesehatan provinsi/kabupaten.

Rangkuman

Geografi adalah ilmu yang mempelajari persamaan maupun perbedaan fenomena geosfer dari sudut pandang kelingkungan, kewilayahan dalam konteks keruangan. Geosfer yang dikaji terdiri atas litosfer, atmosfer, hidrosfer, biosfer dan antroposfer. Ruang lingkup geografi terdiri atas geografi fisik, geografi manusia dan geografi regional. Agar dapat memahami geografi dengan baik sangat perlu memahami konsep esensial geografi. Prinsip geografi yang terdiri atas prinsip persebaran, Interelasi, diskripsi dan korologi. Obyek studi geografi terdiri atas obyek material yaitu geosfer dan obyek formal yaitu dengan pendekatan keruangan, kelingkungan dan kewilayahan. karena yang dikaji geosfer maka geografi perlu ilmu bantu atau ilmu penunjang yaitu antara lain ilmu geologi, geomorfologi, hidrologi, klimatologi, antropologi, ekologi dan demografi.

Ciri khas dalam penelitian geografi adalah sebagai berikut: (1) Pembuatan dan penggunaan peta yang berkaitan analisa pendekatan keruangan, wilayah dan kelingkungan untuk analisa gejala geosfera yang meliputi penyebaran jenis tanah, jenis vegetasi, pemukiman, penduduk jaringan jalan, pola aliran sungai, dan jenis pertanian yang digunakan pemanfaatan interprestasi dan analisa peta. (2) Observasi lapangan, kemampuan observasi dilapangan memberikan data yang akurat yang lebih besar yang tidak dapat terbaca lewat peta dan kebutuhan yang tidak dapat ditinggalkan dalam penelitian geografi. Mencatat dan meneliti obyek

penelitian di suatu wilayah berarti bahwa secara bersama-sama diadakan pemetaan daerah tersebut dengan observasi lapangan. (3) Dokumentasi, kecakapan dalam menyusun dokumen hasil penelitian dan foto serta peta daerah penelitian yang diperoleh di lapangan memberikan informasi yang akurat dan bukti untuk analisa penelitian geografi. (4) Penentuan model dari hasil analisa penelitian geografi.

Peta adalah gambaran konvensional tentang bumi dalam bentuk bidang dasar dengan menggunakan skala. Ilmu yang mempelajari tentang peta dinamakan Kartografi. Ada syarat dikatakan peta yang baik. Peta yang baik memiliki syarat dan atribut peta. Atribut peta atau unsur-unsur peta terdiri; judul peta, garis astronomi, skala, legenda, tanda orientasi, symbol, warna, sumber dan tahun pembuatan peta, inset, indeks, grid, nomor peta, elevasi, koordinat, dan lattering. Proyeksi peta adalah mengubah permukaan bumi yang lengkung menjadi bidang datar. jenis proyeksi ada proyeksi zenithal, kerucut dan silinder.

Pemanfaatan Penginderaan Jauh untuk tata guna lahan dapat diuraikan sebagai berikut: (1) Tata guna lahan adalah wujud ruang di alam mengenai bagaimana penggunaan lahan tertata, baik secara alami maupun direncanakan. (2) Perencanaan tata guna lahan adalah proses penyiapan dalam upaya mewujudkan pola dan struktur ruang pada jangka waktu yang ditetapkan untuk memberikan bantuan pada pengguna lahan dalam menata lahan. (3) Faktor-faktor yang mempengaruhi penetapan tata guna lahan adalah faktor fisik yang meliputi kondisi geologi, air, tanah dan iklim; faktor biologis meliputi vegetasi, hewan dan penduduk; faktor keadaan ekonomi meliputi keadaan pasar dan alat transportasi; dan faktor institusi meliputi keadaan hukum pertahanan, keadaan politik dan keadaan sosial. (4) Untuk perencanaan tata guna lahan memerlukan interpretasi citra penginderaan jauh agar memudahkan dalam menata lahan.

Pemanfaatan SIG untuk pengembangan potensi wilayah dapat diuraikan beberapa hal sebagai berikut: (1) Tahapan dalam kerja SIG adalah klasifikasi, overlay, networking, buffering, dan tiga dimensi. (2) Kegiatan yang penting dalam SIG adalah melakukan tumpang susun (overlay) terhadap beberapa peta tematik untuk menghasilkan informasi baru yang menyeluruh. (3) Sistem informasi geografis (SIG) dapat dimanfaatkan untuk inventarisasi sumber daya alam, perencanaan pembangunan, perencanaan ruang, pariwisata, perencanaan transportasi, sosial budaya dan mitigasi bencana.

Pemanfaatan SIG untuk Kajian Kesehatan Lingkungan dapat diuraikan beberapa hal berikut: (1) Kesehatan lingkungan adalah suatu keseimbangan ekologi yang harus tercipta diantara manusia dengan lingkungannya agar bisa menjamin keadaan sehat dari manusia. (2) Peranan lingkungan yang dapat menyebabkan gangguan kesehatan pada manusia antara lain sebagai reservoir, sebagai agen, media transmisi dan sebagai vektor. (3) Menurut WHO dalam bidang kesehatan peranan SIG antara lain untuk menentukan distribusi geografis penyakit, analisis tren spasial dan temporal, pemetaan populasi berisiko, penilaian distribusi sumber daya, perencanaan dan penentu intervensifikasi dan monitoring penyakit.

Posting Komentar untuk "Hakikat dan Informasi Geografi - PPPK Geografi 1"