Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Genre Teks - Modul 6 PPPK Bahasa Indonesia

Genre Teks - Modul 6 PPPK Bahasa Indonesia - hasriani.com


Genre Teks - Modul 6 PPPK Bahasa Indonesia - Penjabaran model kompetensi yang dikembangkan pada kompetensi guru bidang studi lebih spesifik pada pembelajaran 6. Genre Teks, ada beberapa kompetensi guru bidang studi yang akan dicapai pada pembelajaran ini, kompetensi yang akan dicapai pada pembelajaran ini adalah guru P3K mampu:

1. Mampu mengembangkan teks berdasarkan genre dengan berbagai isi dan tujuan dalam pembelajaran bahasa Indonesia.

2. Mampu mengembangkan teks fiksi berdasarkan genre dengan berbagai isi dan tujuan dalam pembelajaran bahasa Indonesia.

3. Mampu mengembangkan teks nonfiksi berdasarkan genre dengan berbagai isi dan tujuan dalam pembelajaran bahasa Indonesia.

Dalam rangka mencapai kompetensi guru bidang studi, maka dikembangkanlah indikator-indikator yang sesuai dengan tuntutan kompetensi guru bidang studi.

Indikator  pencapaian  komptensi  yang  akan  dicapai  dalam  pembelajaran 6. Genre Teks adalah sebagai berikut.

1. Menjelaskan hakikat teks berbasis genre.

2. Menjelaskan berbagai teks berbasis genre dalam Kurikulum 2013.

3. Menjelaskan struktur retorik dan kaidah kebahasaan genre teks fiksi dalam Kurikulum 2013 Tingkat SMP/MTs.

4. Menjelaskan struktur retorik dan kaidah kebahasaan genre teks fiksi dalam Kurikulum 2013 Tingkat SMA/MA/SMK.

5. Menjelaskan struktur retorik dan kaidah kebahasaan genre teks nonfiksi dalam Kurikulum 2013 Tingkat SMP/MTs

6. Menjelaskan struktur retorik dan kaidah kebahasaan genre teks nonfiksi dalam Kurikulum 2013 Tingkat SMA/MA/SMK.

Uraian Materi

1. Konsep Dasar dan Berbagai Jenis Teks Berbasis Genre

Pembelajaran bahasa Indonesia berbasis teks didasarkan pada prinsip: (1) bahasa hendaknya dipandang sebagai teks, bukan semata-mata kumpulan kata- kata atau kaidah-kaidah kebahasaan,(2) penggunaan bahasa merupakan proses pemilihan bentuk-bentuk kebahasaan untuk mengungkapkan makna,(3) bahasa bersifat fungsional, yaitu penggunaan bahasa tidak pernah dapat dilepaskan dari konteks karena bentuk bahasa yang digunakan itu mencerminkan ide, sikap, nilai, dan ideologi penggunanya,(4) bahasa merupakan sarana pembentukan kemampuan berpikir manusia, dan cara berpikir seperti itu direalisasikan melalui struktur teks.(Prawacana, Bahasa Indonesia Ekspresi Diri dan Akademik, 2013).

Pendekatan genre menawarkan metodologi pengajaran yang memungkinkan guru untuk menyajikan instruksi eksplisit dengan cara yang sangat sistematis dan logis, serta memakai faktor yang diyakini dapat membantu siswa mendapatkan informasi (Firkins, dkk., 2007: 3). Selanjutnya, Firkins, dkk. (2007: 7) menjabarkan mengenai siklus belajar mengajar menggunakan pendekatan genre, terdiri atas tiga tahap, sebagai berikut.

1. Modelling a text

Pada tahap ini, guru memilih atau menentukan sebuah teks untuk dijadikan contoh yang berkaitan dengan tujuan pembelajaran. Kemudian, siswa diajak untuk mengenali bagaimana fungsi teks dalam kehidupan nyata, yaitu tujuan sosial dari teks yang terkait dengan konteks. Siswa diminta untuk membaca dengan cermat dan teliti contoh teks yang telah diberikan guru. Kemudian guru membimbing untuk terjadinya diskusi kelas dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan lisan berkaitan dengan isi teks. Siswa diminta untuk menganalisis unsur atau elemen teks yang telah diberikan.

2. Joint construction of a text

Siswa berdiskusi mengenai struktur teks yang telah diberikan secara keseluruhan. Siswa mendiskusikan mengenai isi, ciri, unsur, hingga tata bahasa yang digunakan dalam teks tersebut. Selain itu, siswa diminta untuk lebih proaktif dalam kegiatan menganalisis bentuk formal teks yang sedang dibaca untuk menyimpulkan tujuan,

genre atau jenis teks, dan struktur retorika, serta mendiskusikan pola gramatikal di bawah bimbingan guru.

3. Independent construction of text

Setelah melakukan tahap-tahap sebelumnya, tahap terakhir yang dilakukan siswa dengan pendekatan ini adalah menuliskan sebuah teks sesuai dengan jenis teks yang telah dicontohkan sebelumnya. Dengan kata lain, guru memberikan waktu kepada siswa untuk berlatih menulis berdasarkan jenis teks yang telah dibaca atau dicontohkan sebelumnya.

Kita ambil contoh misalnya aplikasi tahapan pendekatan genre ini pada pembelajaran teks berita. Penerapan pendekatan genre dapat membantu siswa dalam mengembangkan ide dan menyusun teks berita secara keseluruhan. Pendekatan ini membimbing siswa untuk terlebih dahulu mengenal jenis teks, unsur, struktur, penulisan dan tata bahasa yang digunakan dalam teks berita, untuk kemudian dituliskan dalam bentuk teks secara utuh.

Pendekatan genre memiliki tiga tahapan pembelajaran, yaitu 1) modeling a text, 2) joint construction of text, dan 3) independent construction of text. Pada tahap pertama, yaitu modeling a text, siswa membaca dan mencermati contoh teks berita yang diberikan oleh guru. Modeling a text atau pemberian contoh dilakukan untuk memberi gambaran kepada siswa mengenai jenis teks berita. Guru membimbing siswa untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan lisan berkaitan dengan isi contoh teks berita yang diberikan. Misalnya, informasi mengenai 5W+1H yang terdapat dalam teks tersebut, selain itu guru juga bisa menanyakan isi berita dari sudut pandang siswa.

Setelah siswa mendapat gambaran umum tentang jenis teks berita, tahap selanjutnya adalah joint construction of text. Pada tahap ini siswa di bawah bimbingan guru berdiskusi untuk mengidentifikasi jenis, unsur, struktur, penulisan dan tata bahasa yang digunakan dalam teks berita. 

Siswa diminta untuk bersikap lebih proaktif dalam kegiatan menganalisis bentuk formal teks yang telah dibaca untuk menyimpulkan tujuan, jenis teks, sarana retorika, dan grammatika penulisan berdasarkan contoh teks berita yang telah diberikan. Siswa juga diajak menganalisis struktur dari teks berita berdasarkan teori piramida terbalik.

Siswa yang telah dibekali pengetahuan mengenai teks berita ini akan mendapat gambaran bagaimana teks berita yang baik dan benar secara lebih mendalam. Selanjutnya dilakukan tahap terakhir, yaitu independent construction of text. 

Pada tahap ini mula-mula siswa dibantu untuk mencari informasi apa yang akan ditulis dalam bentuk teks berita berdasarkan tema yang telah ditentukan oleh guru.

Berbicara mengenai teks berbasis genre tidak dapat terlepas dari tujuan teks. Mengapa? Karena seperti yang telah dikemukakan di atas bahwa dalam pendekatan genre, teks dibangun dengan didasarkan pada tujuan sosial tertentu. 

Oleh karena itu, pembahasan pada bagian jenis-jenis teks ini diintegrasikan dengan tujuan dari masing masing-masing teks.

Genre dengan tipe teksnya diklasifikasikan menjadi 5 kelompok yakni menggambarkan (describing) dengan tipe teks laporan serta deskripsi, menjelaskan (explaining) dengan tupe teks eksplanasi, memerintah (instructing) dengan tipe teks instruksi/prosedur, berargumen (arguing) dengan tipe teks eksposisi dan diskusi, serta menceritakan (narrating) dengan tipe teks rekon (recount), narasi, dan puisi.

2. Genre Teks Fiksi

a. Cerita imaginasi/fantasi

Cerita fantasi merupakan sebuah karya tulis yang dibangun menggunakan alur cerita yang normal, namun memiliki sifat imajinatif dan khayalan semata. 

Umumnya unsur unsur dan struktur cerita fantasi ini seperti setting, alur, penokohan, konflik, ending dan lain sebagainya akan dibuat berlebihan dan terkesan tidak akan pernah terjadi di dunia nyata. 

Ketika kita membaca contoh cerita fantasi pun kita juga akan langsung menyadari bahwa cerita tersebut tidak akan pernah terjadi di dunia nyata maka dari itu disebut dengan fantasi (Grant & Clute, 1997).

Teks cerita fantasi merupakan teks yang hampir sama dengan teks narasi jika dilihat dari ciri ciri dan strukturnya, yakni sebuah cerita karangan yang memiliki alur normal namun bersifat imajinatif. 

Umumnya teks ini dibuat dengan alur, unsur unsur dan struktur cerita yang terkesan dilebih lebihkan yang jika dilogika dengan pikiran tidak akan pernah terjadi di dunia nyata.

Semua jenis teks dalam bahasa Indonesia memiliki struktur pembentuk, sama halnya dengan teks cerita fantasi. 

Struktur cerita fantasi umumnya hampir sama dengan struktur teks narasi yakni terdiri dari orientasi, konflik, resolusi dan ending. 

Adapun penjelasan dari masing masing struktur adalah sebagai berikut: 

(1) Orientasi: Pengenalan atau orientasi merupakan sebuah bagian dimana pengarang memberikan pengenalan tentang penokohan, tema, dan sedikit alur cerita kepada pembacanya. 

(2) Konflik: Konflik sendiri merupakan bagian dimana terjadi permasalahan dimulai dari awal permasalahan hingga menuju ke puncak permasalahan. 

(3) Resolusi: Resolusi merupakan penyelesaian dari permasalahan atau konflik yang tejadi. Ending: Ending merupakan penutup cerita fantasi. Ending sendiri dapat dibedakan menjadi dua yakni happy ending dimana tokoh utama menang dan hidup bahagia. Dan yang lain adalah sad ending dimana tokoh utama tewas setelah mencapai tujuan dan sebagainya.

b. Puisi Rakyat

Puisi rakyat mempunyai nilai-nilai yang berkembang didalam kehidupan masyaratakat. Termasuk juga dari puisi rakyat yaitu puisi lama yang berisi nilai- nilai dan pesan-pesan warisan leluhur bangsa Indonesia. 

Didalam dunia kesastraan mempunyai warisan tutun-temurun yang berupa tentang cerita rakyat atau puisi rakyat yang tidak diketahui siapa pengarangnya karena cerita atau puisi tersebut sudah ada sejak dulu kala. 

Karena puisi lama hasil turun temurun dan tidak diketahui siapa pengarangnya, biasanya puisi lama disampikan dengan cara mulut- kemulut.

Puisi lama biasanya terlihat kaku karena terikat oleh aturan-aturan seperti jumlah baris dan jumlah kata, pengulangan kata dan juga jumlah baris dalam setiap bait bisa diawal atau di akhir sajak atau yang disebut dengan rima. 

Contoh puisi rakyat antara lain pantun, gurindam, syair, serta cerita-cerita rakyat tanpa nama yang berkembang di masyarakat.

c. Fabel

Fabel adalah cerita yang menggambarkan kehidupan hewan yang memiliki perilaku layaknya manusia (Rubin, 1993). 

Cerita tersebut tidak mungkin kisah nyata. Fabel adalah cerita fiksi, maksudnya khayalan belaka (fantasi). Kadang fabel memasukkan karakter minoritas berupa manusia. Cerita fabel juga sering disebut cerita moral karena pesan yang berkaitan dengan moral.

Teks fabel ini memiliki struktur pembangun layaknya teks-teks lain. Berikut ini empat struktur teks fabel beserta penjelasannya. 

(1) Orientasi, adalah bagian yang terdapat pada awal cerita. Pada bagian ini dijelaskan tentang para tokoh-tokoh yang ada, suasana, tempat dan waktu, serta pengenalan background kepada pembaca atau pendengar.

(2) Komplikasi, adalah bagian yang dimana tokoh-tokoh yang ada (biasanya tokoh utama) menemui suatu permasalahan yang kompleks dan menjadi puncak masalah dalam cerita tersebut. Bagian ini juga bisa disebut inti dari cerita. 

(3) Resolusi, adalah bagian yang dimana tokoh yang ada mampu menyelesaikan atau memiliki solusi atas masalah yang dihadapinya. Bisa juga tokoh utama mengalami suatu masalah dimana ia tidak bisa menyelesaikan masalahnya tersebut. 

(4) Koda, adalah bagian akhir yang umumnya sering diselipkan nilai-nilai moral atau amanat yang bisa diambil dari cerita tersebut.

Unsur Kebahasaan Teks Fabel. Seperti layaknya teks-teks lain, teks cerita fabel juga memuat unsur kebahasaan yang perlu diperhatikan. Berikut ini beberapa kaidah kebahasaan teks fabel yang harus sobat perhatikan.

(1) Kata Kerja (Verba). Di dalam teks ini terdapat kata kerja atau verba. Kata kerja ini menunjukkan adanya suatu kegiatan atau pekerjaan yang sedang dilakukan. Pada umumnya, terdapat 2 jenis kata kerja yang sering digunakan yaitu kata kerja aktif transitif dan kata kerja aktif intransitif. Berikut penjelasannya. 

(2) Kata Kerja Aktif Transitif adalah kata kerja yang membutuhkan objek didalam kalimatnya. Contohnya adalah memegang. Jadi kata memegang itu harus diikuti oleh objek, yaitu apa yang dipegang. Misalnya “Dia memegang ekor buaya“. Jadi tidak bisa hanya dengan “Dia memegang”. 

(3) Kata Kerja Aktif Intransitif adalah kata kerja yang tidak membutuhkan objek dalam kalimatnya. Contoh kalimatnya misalnya “Singa itu tidur”. Hanya dengan kalimat seperti itu saja tanpa melihat objeknya orang sudah tahu kalau Singa sedang tidur. 

(4) Penggunaan Kata Sandang Si dan Sang. Pada teks fabel banyak ditemukan berbagai kata Si dan Sang, seperti Si Kancil, Sang Kacil, Si Kepompong, Sang Harimau. Ini adalah ciri khas teks fabel. Ada pula teks fabel yang tidak memakai kata sandang ini, bergantung pada gaya penceritaan yang digunakan. 

(5) Penggunaan Keterangan Tempat dan Waktu. Dalam teks ini ada banyak kalimat yang menunjukkan lokasi dan waktu yang sedang terjadi di dalam cerita tersebut, misalnya: Keterangan Tempat: Di dalam hutan yang paling rimbun tersebut, hiduplah Sang Raja Hutan yang gagah dan perkasa.Keterangan Waktu: Di pagi hari yang cerah tersebut, si Kancil telah berhasil meloloskan diri dari kejaran Harimau yang mau memakannya.

(6) Penggunaan Konjungsi Seperti pada teks-teks lainnya, terdapat konjungi atau kata hubung yang menghubungkan dua kalimat atau lebih, misalnya: Setelah mengendap-endap beberapa menit, akhirnya kancil mengetahui bahwa Si Gajah akan melakukan rencana pertamanya untuk menyerang penduduk. Oleh karena itu, Kancil juga mencari ide untuk menghentikan rencana si Gajah.

d. Puisi

Pada umumnya unsur-unsur puisi dapat dibagi berdasarkan strukturnya menjadi dua jenis yakni struktur fisik dan struktur batin.

1). Struktur Fisik Puisi

Tipografi: Tipografi merupakan bentuk puisi yang dipenuhi dengan kata, tepi kiri kanan, dan tidak memiliki pengaturan baris hingga pada baris puisi yang tidak selalu diawali huruf besar (kapital) dan diakhiri dengan tanda titik. Namun hal semacam ini dapat menentukan pemaknaan dari suatu puisi.

Diksi: Diksi adalah pemilihat kata yang digunakan oleh sang penyair didalam puisinya. Karena puisi bersifat memiliki bahasa yang padat maka pemilihan kata yang sesuai dan mengandung makna harus dilakukan. 

Pemiilihan kata dilakukan dengan mempertimbangkan irama, nada, dan estetika (keindahan bahasa).

Imaji: Imaji atau yang lebih kerap disebut denganimajinasi merupakan unsur yang melibatkan penggunaan indra manusia, seperti imaji penglihatan, imaji suara dan lain sebagainya. 

Penggunaan imaji bertujuan agar pembaca maupun pendengar dapat berimajinasi atau merasakan apa yang dirasakan oleh penyair.

Kata Konkret: kata konkret adalah kata yang memungkinkan terjadinya imaji, Kata konkret seperti permata senja dapat berarti pantai atau tempat yang sesuai untuk melihat datangnya senja.

Gaya Bahasa: Gaya bahasa merupakan penggunaan bahasa yang bersifat seolah olah menghidupkan dan menimbulkan makna konotasi dengan menggunakan bahasa figuratif. 

Umumnya gaya bahasa yang digunakan pada puisi berbentuk majas seperti majas metafora, simile, anafora, paradoks dan lain sebagainya. Irama/Rima: Irama atau rima adalah persamaan bunyi di awal, tengah maupun akhir puisi.

2) . Struktur Batin Puisi

Tema: Tema merupakan unsur utama pada puisi karena tema berkaitan erat dengan makna yang dihasilkan dari suatu puisi. Tanpa tema yang jelas tentunya akan menghasilkan puisi yang tidak jelas maknanya.

Nada: Nada berkaitan dengan sikap penyair terhadap pembacanya. Umumnya nada yang digunakan akan bervariasi seperti nada sombong, nada tinggi, nada rendah dan lain sebagainya.

Amanat: Amanat merupakan pesan yang terkandung didalam sebuah puisi. Amanat dapat ditemukan dengan memaknai puisi tersebut secara langsung.

Contoh membelajarkan cara telaah struktur retorik teks puisi

a) Analisis Unsur Fisik

Tipografi. Bentuk wajah yang ditampilkan pada puisi tersebut cukup menarik. Penulisannya rata kiri. Bagian kanan tulisan terlihat tidak teratur. 

Terkesan singkat dan indah karena tiap baris puisi hanya disusun oleh beberapa kata saja. Bahkan ada yang satu baris hanya terdiri satu kata. 

Jadi, baris-baris dalam puisi itu tidak panjang-panjang, melainkan pendek. Selain itu, setiap baris tidak diawali dengan huruf kapital. Beberapa baris diawali huruf kapital dan lainnya diawwali huruf kecil.

Diksi. Diksi yang digunakan penyair adalah kata-kata yang bernada ragu, lemah, bimbang, dan rapuh. Sebagai contoh pengarang menggunakan kata- kata “Dalam termenung”, “Biar susah sungguh”, “Aku hilang bentuk”, “Remuk”.

Imaji. Imaji yang muncul dalam puisi tersebut diantaranya adalah sebagai berikut. Imaji penglihatan terdapat pada kata-kata “tinggal kerdip lilin di kelam sunyi”. 

Penyair mengajak pembaca melihat seberkas cahaya kecil walau hanya sebuah perumpamaan. Imaji pendengaran terdapat pada “aku masih menyebut namaMu”. 

Pembaca diajak seolah-plah mendengar ucapan tokoh aku dalam menyebut nama Tuhan. Imaji sentuh atau rasa terdapat pada kata-kata “cahaya-mu panas suci”. 

Penyair menyampaikan kepada pembaca nikmatnya sinar suci Tuhan sehingga pembaca seolah-olah merasakannya.

Kata Konkret. Kata-kata konkret yang dipakai pengarang di antaranya sebagai berikut. Kata “termangu”, untuk mengkonkritkan bahwa penyair mengalami krisis iman yang membuanya sering ragu terhadap Tuhan. 

Kata- kata  “tinggal  kerdip  lilin  dikelam  sunyi”,  untuk  mengkonkritkan  bahwa penyair mengalami krisis iman. Kata-kata “aku hilang bentuk/remuk”, untuk mengkonkritkan gambaran bahwa penyair telah dilumuri dosa-dosa. 

Kata- kata “dipintumu aku mengetuk, aku tidak bisa berpaling” , untuk mengkonkritkan bahwa tekad penyair yang bulat untuk kembali ke jalan Tuhan”

Gaya Bahasa. Gaya bahasa yang muncul didominasi oleh majas hiperbola, yaitu melebih-lebihkan. Sebagai contoh kata-kata “Biar susah sungguh / mengingat kau penuh seluruh” atau kata- kata “Tuhanku / aku hlang bentuk / remuk.

Verifikasi. Untuk rima akhirnya mempunyai pola yang tidak beraturan. Sebagai contoh, bait ke-1 hanya terdiri satu baris yang berarti mempunyai rima akhir a. untuk bait ke-2 terdiri dari tiga baris dengan rima akhir a-a-a. 

Begitu pula untuk bait ke-3 dan ke-4 mempunyai rima akhir a-a, a-a. Untuk bait-bait salanjutnya tidak menentu rima akhirnya.

b) Analisis Struktur Batin

Tema. Tema puisi tersebut adalah ketuhanan. Hal itu karena diksi yang digunakan sangat kental dengan kata-kata yang bermakna ketuhanan.

Perasaan. Perasaan dalam puisi tersebut adalah perasaan terharu dan rindu. Perasaan tersebut tergambar dari diksi yang digunakan antara lain: termenung, menyebut nama-Mu, aku hilang bentuk, remuk, aku tak bisa berpaling.

Nada. Nada dalam puisi tersebut adalah mengajak (ajakan) agar pembaca menyadari bahwa hidup ini tidak bisa berpaling dari ketentuan Tuhan. Karena itu, dekatkanlah diri kita dengan Tuhan.

Amanat. Amanat yang dapat kita ambil dari puisi tersebut diantaranya adalah agar kita (pembaca) bisa menghayati hidup dan selalu merasa dekat dengan Tuhan. Agar kita bisa merenung (termenung) seperti yang dicontohkan penyair.

e. Drama

Sebelum menelaah teks drama, perlu dipahami terlebih dahulu struktur yang membangun naskah drama. Secara umum, struktur drama meliput: 1) prolog (pengenalan, tokoh, latar, latar belakang cerita); 2) Dialog (orientasi, konflikasi, resolusi); dan 3) Epilog (penutup, intisari, dan cerita). Menurut Waluyo (2009), struktur naskah drama itu meliputi:

1). Plot/alur. Plot atau kerangka cerita, yaitu jalinan cerita atau kerangka cerita dari awal hingga akhir yang merupakan jalinan konflik antara dua tokoh atau lebih yang saling berlawanan.

2). Penokohan dan perwatakan. Penokohan erat hubungannya dengan perwatakan. Penokohan merupakan susunan tokoh-tokoh yang berperan dalam drama. Tokoh-tokoh itu selanjutnya akan dijelaskan keadaan fisik dan psikisnya sehingga akan memiliki watak atau karakter yang berbeda-beda.

3). Dialog (percakapan). Ciri khas naskah drama adalah naskah iru berbentuk percapan atau dialog. Dialog dalam naskah drama berupa ragam bahasa yang komunikatif sebagai tiruan bahasa sehari-hari bukan ragam bahasa tulis.

4). Seting (tempat, waktu dan suasana). Setting disebut juga latar cerita yaitu penggambaran waktu, tempat, dan suasana terjadinya sebuah cerita.

5). Tema (dasar cerita). Tema merupakan gagasan pokok yang mendasari sebuah cerita dalam drama.Tema dikembangkan melalui alur dramatik dalam plot melalui tokoh-tokoh antagonis dan protagonis dengan perwatakan yang berlawanan sehingga memungkinkan munculnya konflik di anatara keduanya.

6). Amanat atau pesan pengarang. Sadar atau tidak sadar pengarang naskah drama pasti menyampaikan sebuah pesan tertentu dalam karyanya. Pesan itu dapat tersirat dan tersurat.

7). Petunjuk teknis/teks samping. Dalam naskah drama diperlukan petunjuk teknis atau teks samping yang sangat diperlukan apabila naskah drama itu dipentaskan.

Kaidah Kebahasaan teks drama tampak dalam kalimat-kalimat yang tersaji di dalamnya. Hampir  semuanya teks  berupa  obrolan atau tuturan  pribadi  para tokohnya. 

Kalimat pribadi dalam drama lazimnya diapit oleh dua tanda petik (“......"). Teks drama memakai kata ganti orang ketiga pada kepingan Prolog atau

epilognya. Karena melibatkan banyak pelaku (tokoh), kata ganti yang lazim dipakai yakni mereka.

Lain halnya dengan kepingan dialognya, yang kata gantinya yakni kata orang pertama dan kedua. Mungkin juga dipakai kata-kata sagaan. 

Seperti yang tampak pada rujukan teks drama tersebut bahwa kata-kata ganti yang dimaksud yakni aku, saya, kami, kita, kamu. 

Adapun kata sapaan, misalnya, anak-anak, ibu. Sebagaimana halnya percakapan sehari-hari, obrolan dalam teks drama juga tidak lepas dari munculnya kata-kata tidak baku dan kosakata percakapan, seperti: kok, sih, dong, oh. 

Di dalamnya juga banyak ditemukan kalimat seru, suruhan, pertanyaan.

Selain itu, teks drama mempunyai ciri-ciri kebahasaan sebagai berikut.

1) Banyak memakai kata yang menyatakan urutan waktu (konjungsi temporal), seperti: sebelum, kini sesudah itu, mula-mula, kemudian.

2) Banyak memakai kata kerja yang menggambarkan suatu insiden yang terjadi, ibarat menyuruh, menobatkan, menyingkirkan, beristirahat, menghadap, mengatakan, dsb.

3) Banyak memakai kata kerja yang menyatakan sesuatu yang dipikirkan atau dirasakan oleh tokoh, seperti: merasakan, menginginkan, mengharapkan, mendambakan, mengalami.

4) Menggunakan kata-kata sifat untuk menggambarkan tokoh, tempat, atau suasana. Kata-kata yang dimaksud, misalnya, sepi, ramai, bersih, kotor, baik, kuat, gagah, santun, dsb.

Berikut ini contoh teks drama. Dapatkah Anda menganalisis struktur retorik dan kaidah kebahasaannya?

Di sebuah meja yang berada di sebuah kelas. Di sebuah kelas yang berada di sekolah. Di suatu sekolah yang entah ada ataupun tidaknya. 

Hiduplah 4 orang murid yang sedang bahagia-bahagianya, namun semua tersebut berubah saat ulangan bakal datang.

Renata : “ Eh. Kalian udah ngapalin buat ulangan besok? “ ( Datang ) Rio : “ Belum “

Renal : “ Innalillahi “

Renata : “ What the hell, Oh my God. Kalau kualitas ulangannya jelek, kelak dihukum “

Renal : “ Paling hukumannya lari di lapangan “

Renata : “ Bukan. Hukumannya pelajaran tambahan setiap pulang sekolah “

Renal : “ Innalillahi “

Rio : “ Aku cek dulu, barangkali guru “ ( Berangkat ) Renal : “ Ngapaling bab yang mana a- “

Rio : “ Ada guru “ ( Dateng ) ( Semua melihat ke pintu ) Ririn : “ Loh. Kok sepi? “ ( Datang )

Renal : “ Huuu. Katanya ada guru “ ( Nepuk bahu Rio ) Rio : “ Iya ini guru. Guru masa depan “

Ririn : “ Kamu bisa aja “

Renata : “ Kamu udah ngapalin Rin? “

Ririn : “ Udah dong. Ririn “ Rio : “ Ellleh. Arogan amet “ Ririn : “ Biarin “

Renata : “ Udah-udah jangan berantem “

Renal : “ Iya, daripada berantem mendingan gini, siapa yang kualitasnya paling gede, Dirinya yang menang, & yang menang bisa nyuruh 1 kali terhadap yag kalah “

Ririn + Rio : “ Setuju! “ ( Asep datang dari belakang ) Asep : “ Bapa juga setuju! “

Ririn & Rio terus mempersiapkan ulangannya matang-matang. Ririn melakukan gerakan 3B yaitu Belajar, Ber’doa, & Berusaha yang sudah biasa dilakukan.

Sedangkan Rio merangkum semua bab & menulisnya di kertas kecil untuk kelak dihapal saat ulangan dengan kata lain nyontek. Akhirnya saat ulanganpun tiba.

Asep : “ Baiklah anak-anak, buka lembar soalnya se-se-sekarang “ Ririn : “ Bismillah “ ( Membuka & mengisi soal)

Rio : “ Inimah enteng “ ( Membuka soal ) ( Saat Asep berbalik menempelkan kertas di punggung Asep untuk menyontek )

Rio : “ Kalo ginikan ga bakal ketahuan “ ( Ngisi )

Asep : “ Bapa keluar dulu, jangan nyontek, jangan kerja sama, & jangan ribut “ (Keluar)

Rio : “ Rencana B “ ( Nyilang kaki & di alas sepatunya ada contekan )

f. Cerpen

Berbicara mengenai struktur teks cerpen, maka beberapa hal berikut perlu dipelajari. Cerpen terdiri atas bagian-bagian berikut. 

1). Abstrak. 

Abstrak disebut juga ringkasan atau inti cerita yang akan dikembangkan pengarang menjadi Rangkaian peristiwa yang dialami tokoh. Teks cerpen ini bersifat opsional, artinya sebuah teks cerpen bisa saja tidak melalui tahapan ini. 

2). Orientasi. 

Struktur orientasi merupakan bagian pendahuluan  dalam  sebuah  cerita  baik pengenalan sifat tokoh, latar cerita, maupun alur cerita.

3). Komplikasi. 

Struktur komplikasi atau konflik dapat terdiri dari satu. Berbagai konflik tersebut akhirnya mengarah pada klimaks.

4). Evaluasi. 

Pada struktur evaluasi, konflik yang terjadi diarahkan pada pemecahan masalah sehingga mulai tampak penyelesaiannya. 

5). Resolusi. 

Pada tahap resolusi pengarang akan mengungkapkan solusi dari berbagai konflik yang dialami tokoh. 

6). Koda. 

Koda merupakan bagian akhir dalam sebuah cerita.

Unsur kebahasaan teks cerpen adalah unsur-unsur yang membangun teks tersebut (Sam, 2014). Beberapa unsur kebahasaan teks cerpen antara lain ragam bahasa sehari-hari, kosakata, majas atau gaya bahasa, dan kalimat deskriptif. 

Berikut ini penjelasan mengenai unsur kebahasaan teks cerpen. 

1) . Ragam Bahasa 

Sehari-hari atau Bahasa Tidak Resmi. Cerpen merupakan cerita fiksi bukan karangan ilmiah (nonfiksi) yang harus menggunakan bahasa resmi. 

Cerpen mengisahkan kehidupan sehari-hari. Kalimat ujaran langsung yang digunakan sehari-hari membuat cerpen terasa lebih nyata. 

Dalam cerpen “Aku dan Cita- Citaku” karya Hiakri Inka, kita sering menemukan bahasa pergaulan sehari-hari. 

2). Kosakata. 

Seorang penulis cerpen harus mempunyai banyak perbendaharaan kata. Pilihan kata atau diksi sangatlah penting karena menjadi tolak ukur kualitas cerpen yang dihasilkan. 

Diksi menambah keserasian antara bahasa dan kosakata yang dipakai dengan pokok isi cerpen yang ingin disampaikan kepada pembaca. 

3). Majas (Gaya Bahasa). 

Peristiwa pemakaian kata yang melewati batas-batas maknanya yang lazim atau menyimpang dari arti harfiahnya. 

Majas disebut juga bahasa berkias yang dapat menghidupkan atau meningkatkan efek dan menimbulkan konotasi tertentu. 

Terdapat sekitar enam puluh gaya bahasa, namun Gorys Keraf (1990) membaginya menjadi empat kelompok, yaitu majas perbandingan (metafora, personifikasi, depersonifikasi, alegori, antitesis), majas pertentangan (hiperbola, litotes, ironi, satire, paradoks, klimaks, antiklimaks), majas pertautan (metonimis, sinekdoke, alusio, eufemisme, ellipsis), dan majas perulangan (aliterasi, asonansi, antanaklasis, anafora, simploke). 4). Kalimat Deskriptif. 

Kalimat deskriptif adalah kalimat yang melukiskan atau menggambarkan sesuatu. Dalam cerpen, kalimat deskriptif digunakan untuk menggambarkan suasana, tempat, tokoh dalam cerita. Contohnya dalam cerpen “Aku dan Cita-Citaku” karya Hiakri Inka.

Aku menatap lalu lalang mobil dengan pandangan bingung. Bus yang membawaku pulang ke rumah melaju kencang atau bisa dibilang ugal-ugalan. 

Jujur, aku bingung. Kejadian di sekolah tadi masih mengganggu pikiranku. Memang bukan kejadian besar, tetapi itu membuatku berpikir keras dan berusaha mencari kejelasan atas apa yang aku lakukan.

g. Cerita inspirasi

Dalam KBBI inspirasi diartikan sebagai ilham atau sesuatu yang dapat menggerakkan hati untuk mencipta (mengarang syair, lagu, dan sebagainya). 

Dalam beberapa literasi dijelaskan bahwa inspirasi merupakan percikan ide-ide kreatif yang timbul akibat proses pembelajaran dan kepedulian terhadap lingkungan sekitar. 

Dengan demikian teks cerita inspiratif merupakan teks yang berisi cerita fiksi maupun pengalaman yang benar-benar terjadi yang mampu menggugah inspirasi dan semangat seseorang yang membacanya.

Struktur teks cerita inspiratif tidak jauh berbeda dengan struktur teks narasi lainnya yakni terdiri dari orientasi, rangkaian peristiwa, komplikasi, resolusi, dan koda. 

1) Bagian orientasi adalah tahap pengenalan atau penyituasian biasanya berisi pengenalan tokoh, latar, dan latar belakang cerita. 

2) Bagian rangkaian peristiwa dimulai dari awal terjadinya sebuah peristiwa sampai pada puncak masalah.

3) Bagian komplikasi meupakan tahap puncak dari peristiwa-peristiwa yang dikembangkan pada tahap rangkaian peristiwa sampai masalah tersebut di temukan jalan keluarnya. 

4) Bagian resolusi merupakan tahap penyelesaian masalah. Peristiwa atau masalah yang dikembangkan pada bagaian rangkaian peristiwa dan komplikasi dikendurkan pada tahap resolusi.

5) Bagian koda adalah bagian penutup dari sebuah cerita inspiratif dan jenis teks narasi lainnya. Dalam tahap ini disampaikan kesimpulan dan pesan moral yang dapat diambil dari cerita tersebut.

Cara penyampaian pesan-pesan dalam cerita inspiratif disampaikan dengan memilih kata-kata yang menyentuh. Hal tersebut bertujuan untuk menyentuh hati pembaca. 

Dengan tujuan itu pula, teks cerita inspiratif banyak menggunakan ungkapan simpati, kepedulian, empati, atau perasaan pribadi agar dapat mengilhami dan memberi pencerahan kepada pembaca.

Berikut ini ada contoh cerita inspiratif. Dapatkah Anda menemukan hal yang membuat cerita ini tergolong cerita inspiratif?

Cobalah lakukan analisis struktur retorik cerita berikut!

GARAM dan AIR

Di sebuah desa ada seorang anak perempuan umurnya kira-kira 13 sampai 16 tahun. Dia seorang anak yang cantik juga pintar tapi sayangnya dia memiliki sifat suka mengeluh ketika ada masalah datang menghampirinya. Sekecil apapun masalah itu dia selalu mengeluh dan menggerutu.

Suatu hari dia sedang berjalan menuju sekolah, tiba-tiba lewat seorang teman sekolahnya dengan mengendarai sepeda baru. 

Dia menatap temannya yang sedang mengendarai sepeda sambil mengeluhkan dirinya yang cuma berjalan kaki. 

Sesampainya di rumah diapun mengeluhkan hal ini kepada ibunya. "Bu, aku capek setiap hari harus berjalan kaki ke sekolah, kenapa Ibu tidak membelikan aku sepeda baru supaya aku tidak perlu capek-capek berjalan kaki".

Dia merasa dalam hidup ini hanya dia seorang yang selalu mendapat masalah tidak seperti teman-temannya yang lain yang bisa hidup enak dan tidak pernah punya masalah. Padahal semua manusia di muka bumi tidak pernah lepas dari masalah.

Ibunya mulai resah dengan sikap anaknya yang selalu mengeluh. Hingga di suatu hari, Ibu anak ini mengajaknya ke dapur, dia mengambil garam, gelas, dan sebuah panci kemudian mengisi gelas dan panci dengan air sampai penuh. 

Dia kemudian memasukan satu sendok garam kedalam gelas yang berisi air dan satu sendok lagi ke dalam panci. Sang anak mulai penasaran dengan apa yang sedang dilakukan ibunya.

"Untuk apa air garam itu bu?" Sang Ibu pun berkata, "sekarang coba kamu minum air yang ada di dalam gelas". 

Anak itu pun meminumnya dan mengeluh, "rasanya sangat asin bu!", Ibunya kemudian menyuruh anak itu untuk mencicipi air yaang ada di dalam panci. 

"Rasanya asin bu, tapi tidak seasin air yang di gelas tadi" Kata anak itu dengan nada penasaran. Setelah itu sang ibu mengajaknya ke sebuah danau yang berada tidak jauh dari rumah mereka.

"Sekarang coba kamu lemparkan segenggam garam ke dalam danau itu!". Dengan wajah yang masih penasaran anak itu melemparkan segenggam garam ke dalam danau. 

"Kenapa bu? Untuk apa ibu menyuruhku melemparkan garam ke danau?". Sang ibu kemudian berkata, "Nak, kamu adalah anak yang cerdas, menurut kamu bagaimana rasa air danau setelah kamu melemparkan segenggam garam ke dalamnya?" dengan spontan anak itu menjawab, "Tentu saja rasanya tidak akan berubah bu, tapi aku masih penasaran kenapa ibu melakukan semua ini?"

Dengan nada yang lembut ibunya menjelaskan bahwa garam yang dimasukkan ke dalam gelas, panci dan danau itu diibaratkan masalah setiap orang yang ada di dunia. 

Tinggal bagaimana sikap kita menghadapi masalah itu. Apakah kita akan seperti gelas dan panci ketika ditimpa sedikit masalah akan berubah menjadi asin? 

Ataukah kita adalah danau yang ketika ditimpa masalah sebesar apapun tidak akan berubah rasa sedikitpun.

Setelah mendengarkan penjelasan ibunya, anak ini mulai mengerti bahwa setiap orang di atas bumi ini pasti punya masalah entah itu masalah yang besar atau masalah yang kecil, tetapi jika kita menghadapinya dengan lapang dada, maka sebesar apapun masalah yang

f. Teks Anekdot

Teks anekdot merupakan salah satu jenis teks yang dipakai untuk membuat teks cerita dari pengalaman seseorang, dimana teks tersebut berisikan cerita singkat dan juga menghibur. 

Selain berisi cerita yang menghibur, terdapat juga cerita peristiwa- peristiwa menarik, ataupun ungkapan tentang kebenaran. 

Jika seseorang mempunyai pengalaman pribadi yang lucu dan ingin menulis cerita singkatnya, maka ia harus menggunakan teks anekdot dalam pembuatan cerita tersebut.

Teks anekdot biasanya dimanfaatkan untuk menyindir, seperti menyindir terhadap pelayanan yang kurang baik, lingkungan yang kurang sehat. 

Sindiran tersebut dijadikan sebuah kemasan cerita yang menghibur. Teks anekdot seperti ini bisa kita temukan di surat kabar seperti majalah ataupun koran. 

Penggunaan kata pada teks anekdot yaitu dengan menggunakan kata-kata kias, pengandaian, perbandingan, antonim, ungkapan, konjungsi, serta pertanyaan retoris.

Teks anekdot memiliki ciri yang khas, ciri-ciri tersebut diantaranya, pertama teks anekdot hampir serupa dengan dongeng, namun tak sama karena tek anekdot memiliki tujuan sendiri. 

Kedua partisipannya biasanya orang terkenal, atau orang yang memiliki kepentingan. Ketiga teks yang disuguhkan penuh humor, sindiran, serta lelucon yang realistis.

Struktur teks sangat penting sekali dalam penyusunan teks, seperti halnya menyusun teks anekdot maka harus diketahui terlebih dahulu struktir teksnya. 

Struktur teks anekdot berbeda dengan teks eksposisi ataupun jenis teks lainnya, struktur teks anekdot yaitu abstraksi, orientasi, krisis, reaksi, dan koda. 

Struktur teks tersebut berfungsi sebagai kerangka dalam penyusunan teks anekdot. Untuk lebih jelas bisa simak teks anekdot dan penjelasan bagian-bagian srtuktur teks anekdot dibawah ini:

Struktur Teks Anekdot Layanan Publik

1) Abstraksi: Pada suatu hari, Seorang Presiden Negara I tertarik dengan dagangan kue dipinggir jalan. Lalu kemudian dia membelinya.

2) Orientasi: Jawaban penjual kue, “Alhamdulillah, pak, sekitar 30 tahun lebih saya berjualan kue ini.

3) Krisis: Penjelasan penjual kue mengenai keempat anaknya,  ““Tidak, pak, mereka sibuk semua. Saya punya anak 4; yang pertama bekerja di KPK, kedua di POLDA, ketiga di Kejaksaan Negeri, dan yang terakhir di DPR, pak.”

4) Reaksi: Sang Presiden menggelengkan kepala tidak percaya. Mungkin dia berpikir kok bisa anak-anaknya sukses tapi ibunya sendiri jualan kue di pinggir jalan.

5) Koda: Sang Presiden kemudian tercengang mendengar jawaban penjual kue tadi. Sambil sedikit menahan tawa, presiden membeli kue dan melanjutkan perjalanannya.

h. Teks Hikayat

Kata hikayat berasal dari kata kerja bahasa Arab yang artinya "memberitahu" dan "menceritakan". 

Hikayat menyampaikan kisah manusia (legendaris) dan seringkali juga tentang hewan yang bersifat layaknya manusia, seperti kemampuan untuk berbicara. 

Hikayat jarang digambarkan sebagai laporan yang bersifat sejarah (Mcglynn 1999:76).

Struktur hikayat terdiri dari empat unsur, yaitu: 

1) Tema: Menyangkut soal kepercayaan, pendidikan, agama, pandangan hidup, adat-istiadat, percintaan, dan sosial. 

2) Penokohan: Erat kaitannya dengan alur dan peristiwa-peristiwa. Hikayat tampaknya tidak jauh berbeda dengan Roman. 

3). Pertentangan antara tokoh utama yang baik dan yang jahat. Biasanya yang baiklah yang mendapat kemenangan, sedangkan yang jahat dapat dikalahkan. 

4). Latar: Lingkungan atau menyangkut aspek yang lebih luas. Memahami latar hikayat tidak lepas dari lingkungan pengarang pada saat itu. 

5).Sudut pandang: Menceritakan suatu peristiwa, pengarang boleh memilih sudut pandang mana ia akan menceritakan cerita itu. 

Pada umumnya, pengarang hikayat adalah pengarang pengamat. Seorang penulis hikayat seolah-olah mengetahui apa saja yang akan terjadi dalam cerita yang disampaikan.

Contoh membelajarkan cara telaah struktur retorik teks hikayat.

Hikayat Bunga Kemuning

Doakan saja aku akan kembali dengan selamat dan kubawakan hadiah indah buatmu," kata sang raja. Tak lama kemudian, raja pun pergi.

Selama sang raja pergi, para puteri semakin nakal dan malas. Mereka sering membentak inang pengasuh dan menyuruh pelayan agar menuruti mereka. 

Karena sibuk menuruti permintaan para puteri yang rewel itu, pelayan tak sempat membersihkan taman istana. Puteri Kuning sangat sedih melihatnya karena taman adalah tempat kesayangan ayahnya. 

Tanpa ragu, Puteri Kuning mengambil sapu dan mulai membersihkan taman itu. Daun-daun kering dirontokkannya, rumput liar dicabutnya, dan dahan-dahan pohon dipangkasnya hingga rapi. 

Semula inang pengasuh melarangnya, namun Puteri Kuning tetap berkeras mengerjakannya.

Kakak-kakak Puteri Kuning yang melihat adiknya menyapu, tertawa keras-keras. "Lihat tampaknya kita punya pelayan baru,"kata seorang diantaranya. 

"Hai pelayan! Masih ada kotoran nih!" ujar seorang yang lain sambil melemparkan sampah. Taman istana yang sudah rapi, kembali acak-acakan. 

Puteri Kuning diam saja dan menyapu sampah-sampah itu. Kejadian tersebut terjadi berulang- ulang sampai Puteri Kuning kelelahan. 

Dalam hati ia bisa merasakan penderitaan para pelayan yang dipaksa mematuhi berbagai perintah kakak-kakaknya.

"Kalian ini sungguh keterlaluan. Mestinya ayah tak perlu membawakan apa-apa untuk kalian.

Bisanya hanya mengganggu saja!" Kata Puteri Kuning dengan marah. "Sudah ah, aku bosan. Kita mandi di danau saja!" ajak Puteri Nila. 

Mereka meninggalkan Puteri Kuning seorang diri. Begitulah yang terjadi setiap hari, sampai ayah mereka pulang. 

Ketika sang raja tiba di istana, kesembilan puteri nya masih bermain di danau, sementara Puteri Kuning sedang merangkai bunga di teras istana. 

Mengetahui hal itu, raja menjadi sangat sedih. "Anakku yang rajin dan baik budi! Ayahmu tak mampu memberi apa-apa selain kalung batu hijau ini, bukannya warna kuning kesayanganmu!" kata sang raja.

Raja memang sudah mencari-cari kalung batu kuning di berbagai negeri, namun benda itu tak pernah ditemukannya. 

"Sudahlah Ayah, tak mengapa. Batu hijau pun cantik! Lihat, serasi benar dengan bajuku yang berwarna kuning," kata Puteri Kuning dengan lemah lembut. "Yang penting, ayah sudah kembali. 

Akan kubuatkan teh hangat untuk ayah," ucapnya lagi. Ketika Puteri Kuning sedang membuat teh, kakak-kakaknya berdatangan. 

Mereka ribut mencari hadiah dan saling memamerkannya. Tak ada yang ingat pada Puteri Kuning, apalagi menanyakan hadiahnya. Keesokan hari, Puteri Hijau melihat Puteri Kuning memakai kalung barunya. 

"Wahai adikku, bagus benar kalungmu! Seharusnya kalung itu menjadi milikku, karena aku adalah Puteri Hijau!" katanya dengan perasaan iri.

Ayah memberikannya padaku, bukan kepadamu," sahut Puteri Kuning. Mendengarnya, Puteri Hijau menjadi marah. 

Ia segera mencari saudara-saudaranya dan menghasut mereka. "Kalung itu milikku, namun ia mengambilnya dari saku ayah. 

Kita harus mengajarnya berbuat baik!" kata Puteri Hijau. Mereka lalu sepakat untuk merampas kalung itu. Tak lama kemudian, Puteri Kuning muncul. Kakak-kakaknya menangkapnya dan memukul kepalanya. 

Tak disangka, pukulan tersebut menyebabkan Puteri Kuning meninggal. "Astaga! Kita harus menguburnya!" seru Puteri Jingga. Mereka beramai-ramai mengusung Puteri Kuning, lalu menguburnya.

Telaah struktur dan kaidah kebahasaan teks hikayat Bunga Kemuning

a) Telaah unsur intrinsik

(1) Alur/plot : Alur maju, karena dalam cerita ini tidak menceritakan tentang masa lalu.

(2) Tema : Kekeluargaan, Kerajaan dan Kasih sayang tulus seorang anak kepada ayahnya.

(3) Latar/setting: Latar tempat :Kerajaan (bukti: hikayat ini mengisahkan tentang kerajaan jaman dahulu). Taman (bukti : tanpa ragu, putri kuning mengambil sapu dan mulai membersihkan taman itu). Danau (bukti : ketika sang raja tiba di istana kesembilan putrinya masih bermain di danau). Teras istana (bukti : sementara putri kuning sedang merangkai bunga di teras istana). -Latar waktu : Pada zaman dahulu kala. -Latar suasana Sedih (bukti: berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan, tak ada yang berhasil menemukan Putri Kemuning. Raja sangat sedih. "Aku ini ayah yang buruk," katanya).

(4) Tokoh: Protagonis: Raja dan Putri Kuning. Antagonis: Putri Jingga, Putri Nila, Putri Hijau, Putri Kelabu, Putri Oranye, Putri Merah Merona, Putri Kuning dan 2 putri lainnya. Karakter tokoh-tokoh : 

-Raja: Bijaksana (bukti: sang raja dikenal sebagai raja yang bijaksana) Penyayang (bukti: sang raja sangat menyayangi anak-anaknya). 

-Putri kuning: Baik hati (bukti: karna para inang sibuk untuk menuruti permintaan kakak- kakaknya, taman menjadi tidak ada yang membersihkan. Tapi dengan senang hati putri kuning mau membantu membersihkan taman) Penyabar (bukti: “Hai pelayan! Masih ada kotoran nih!” ujar seorang yang lain sambil melemparkan sampah. Taman istana yang sudah rapi, kembali acak- acakan. Putri kuning diam saja dan menyapu sampah sampah itu). Ramah (bukti: Sebaliknya ia selalu riang dan tersenyum ramah kepada siapa pun).

- Puteri Hijau: Jahat, mudah iri (bukti: Puteri Hijau melihat Puteri Kuning memakai kalung barunya. "Wahai adikku, bagus benar kalungmu! Seharusnya kalung itu menjadi milikku, karena aku adalah Puteri Hijau!" katanya dengan perasaan iri).

- Kakak-kakak putri kuning: Nakal, manja, jahat. (bukti: sering membentak inang pengasuh dan menyuruh pelayan agar menuruti mereka, merampas kalung putri kuning, menangkap dan memukul kepala putri kuning sampai putri kuning meninggal dan menguburnya tanpa memberitahu ayahnya (raja).

5) Sudut Pandang: Orang Pertama dan orang ketiga.

(6) Amanat:-Berlaku baiklah kepada sesama saudara kita.-Berpikirlah terlebih dahulu ketika kita akan bertindak.

(7) Gaya Bahasa: Majas metafora: Batangnya bagaikan jubah puteri, daunnya bulat berkilau bagai kalung batu hijau, bunganya putih kekuningan dan sangat wangi! Majas ironi: "Wahai adikku, bagus benar kalungmu! Seharusnya kalung itu menjadi milikku” Majas Paradoks: Meskipun kecantikan mereka hampir sama, si bungsu Puteri Kuning sedikit berbeda, Ia tak terlihat manja dan nakal. Sebaliknya ia selalu riang dan dan tersenyum ramah kepada siapapun. Ia lebih suka bebergian dengan inang pengasuh daripada dengan kakak-kakaknya.

b) Telaah unsur ekstrinsik

(1) Nilai Sosial: Mencoba untuk lebih baik

(2) Nilai Agama: Berbuat baik walaupun dibalas kejahatan (Bukti agama islam)

(3) Nilai Moral: Keburukan akan terbongkar dengan sendirinya walaupun ditutupi.

(4) Nilai Budaya: Sopan dan santun kepada orang tua, Pada jaman dahulu tentang pemberian nama putri atau putra.

i. Novel

Novel menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI, 2017), diartikan sebagai ‘karangan prosa yang panjang, mengandung rangkaian cerita kehidupan seseorang dengan orang di sekelilingnya dengan menonjolkan watak dan sifat setiap pelaku’. 

Novel juga bisa didefinisikan sebagai sebuah karya fiksi prosa yang yang tertulis dan naratif. Umumnya sebuah novel bercerita tentang tentang tokoh- tokoh dan kelakuan mereka dalam kehidupan sehari-hari, dengan menitik beratkan pada sisi-sisi yang aneh dari naratif tersebut. 

Kata novel berasal dari bahasa Italia, novella yang berarti “sebuah kisah, sepotong berita” dan novel memiliki cerita yang lebih kompleks dari cerpen.

Struktur teks adalah bagian-bagian terpisah yang menusun sebuah teks hingga menjadi sebuah teks yang utuh. 

Adapun struktur teks pada teks novel meliputi 

1). Abstrak (Gambaran atau ringkasan awal cerita). 

2). Orientasi (Bagian awal teks cerita atau teks pembuka yang biasanya berisi pengenalan tokoh). 

3). Komplikasi (masalah mulai muncul). 

4) Evaluasi (masalah mulai memuncak). 

5). Resolusi (penyelesaian masalah). 

6). Koda atau pesan penulis.

Kaidah kebahasaan yang digunakan dalam teks novel adalah sebagai berikut 

1). Berusaha menghidupkan perasaan atau menggugah emosi pembacanya. 

2) Biasanya berbentuk tulisan ilmiah dan ilmiah populer. 

3) Dipengaruhi oleh subjektivitas pengarangnya. 

4) Bahasa bermakna denotatif (yaitu makna sebenarnya) juga konotatif, asosiatif (yaitu makna tidak sebenarnya), ekspresif (yaitu memberi bayangan suasana pribadi pengarang), sugestif (yaitu bersifat mempengaruhi pembaca), dan plastis (yaitu bersifat indah untuk menggugah perasaan pembaca). 

5) Melibatkan gaya bahasa ironi atau sindirian, yang dikatakan kebalikan dari apa yang sebenarnya,contoh: Lekas betul abang pulang baru saja sudah jam 1 malam. 

6) Melibatkan gaya bahasa sinisme, sindiran yang lebih kasar dari ironi untuk mencemooh, contoh: Bersih benar badanmu nak, kata ibu kepada anaknya yang baru main seharian. 

7) Melibatkan gaya bahasa sarkasme, Sindiran yang sangat tajam dan kasar hingga kadang-kadang menyakitkan hati, contoh: Enyah kau dari sini!

3. Genre Teks Nonfiksi

Teks yang dibahas adalah jenis teks di jenjang SMP/MTs kelas VII, VIII, IX. Teks tersebut terdiri dari teks deskripsi, prosedur, laporan hasil observasi, berita, eksposisi, eksplanasi, dan pidato persuasif.

a. Teks Deskripsi

Salah satu keterampilan pertama yang muncul oleh pengguna bahasa adalah menggambarkan atau mendeskripsikan sesuatu. 

Keterampilan ini paling banyak digunakan di semua di area pembelajaran. 

Deskripsi memungkinkan pengkategorian atau klasifikasi berbagai pengalaman, pengamatan, dan interaksi yang hampir tak terbatas (Knapp & Watkins, 2005: 97). 

Penjelasan juga digunakan secara luas dalam banyak jenis teks, seperti laporan informasi, deskripsi sastra, deskripsi deskriptif. 

Genre teks deskripsi kemudian banyak diartikan sebagai tulisan dimana gagasan utamanya itu disampaikan dengan cara menggambarkan dengan secara jelas objek, tempat, atau peristiwa yang sedang menjadi topik atau tema kepada pembaca sehingga si pembaca seolah-olah merasakan langsung apa yang sedang diungkapkan di dalam teks tersebut. 

Ada 3 (tiga) macam teks deskripsi yang sering dikenal, yakni subjektif (penggambaran objek oleh kesan penulis), spatial (penggamabaran objek yang berupa tempat, benda, atau ruang), dan objektif (penggambaran keadaan pada objek tanpa penambahan suatu opini penulis).

Ada beberapa tujuan yang ingin dicapai oleh penulis teks deskripsi, antara lain sebagai berikut.

1) Agar orang yang membaca teks tersebut seolah-olah sedang merasakan apa yang sedang di jelaskan di dalam teks tersebut.

2) untuk memberikan penjelasan kepada tiap-tiap pembaca mengenai/tentang suatu objek dengan secara utuh, hal ini dalam upaya agar mereka dapat dengan tepat dan cepat memahami tema yang disajikan didalam sebuah teks deskripsi.

3) Karena teks deskripsi diperoleh dari hasil observasi, teks ini mempunyai tujuan untuk memberikan informasi yang jelas mengenai suatu benda atau juga objek sesuai dengan data serta fakta yang diperoleh oleh si penulis teks.

Dalam menelaah teks deskripsi maka yang perlu dilatihkan oleh guru kepada siswa tentunya mengenai struktur teks deskripsi. 

Ada empat (4) struktur yang menyusun teks deskripsi agar menjadi satu keutuhan, yakni sebagai berikut. 

a) Identifikasi.Penentu identitas seseorang, benda, dan sebagainya. 

b) Klasifikasi. Penyusunan secara bersistem dalam sebuah kelompok dengan menurut kaidah atau standar yang sudah ditetapkan. 

c) Deskripsi bagian. Bagian teks yang berisi mengenai gambaran-gambaran bagian didalam teks tersebut atau lebih mudahnya, deskripsi bagian ini adalah pengklasifikasian yang dijelaskan secara lebih rinci dengan memberikan suatu gambaran- gambaran yang jelas. 

d) Penutup. Kesimpulan atau penegasan hal-hal yang penting.

Kaidah Kebahasaan Teks Deskripsi. Berikut merupakan kaidah kebahasaan teks deskripsi.

1) Menggunakan kata benda sesuai dengan topik yang dideskripsikan, misalnya: Buku-buku itu tertata rapi di rak.

2) Menggunakan frasa yang mengandung kata benda, contohnya: Beliau ialah orang tua asuh yang baik hati, dll.

3) Mengandung kata sifat yang menggambarkan sesuatu, misalnya: Siswa- siswa tampak serius mendengarkan penjelasan guru.

4) Mengandung kata kerja transitif untuk dapat memberikan informasi subjek. Seperti: Siswi itu mengenakan seragam pramuka.

5) Mengandung kata kerja (perasaan, pendapat) dengan tujuan ialah mengungkapkan sebuah pandangan pribadi si penulis mengenai/tentang sebuah subjek, contohnya: Saya pikir tulisan ini mengisnpirasi anak muda.

6) Mengandung kata keterangan untuk memberikan sebuah informasi tambahan mengenai suatu objek, seperti: Dia berlari dengan kencang karena takut terlambat masuk kelas.

7) Mengandung bahasa kiasan berupakan sebuah perumpamaan atau metafora. Seperti: Kulitnya putih bersih seperti kapas putih.

Contoh membelajarkan cara telaah struktur retorik teks deskripsi.

b. Teks Prosedur

Teks prosedur teks prosedur diartikan sebagai teks yang berisi cara, tujuan untuk membuat atau melakukan sesuatu hal dengan langkah demi langkah yang tepat secara berurutan sehingga menghasilkan suatu tujuan yang diinginkan. 

Dalam Knapp & Watkins (2005: 153) teks ini diistilahkan dengan genre of instructing. Teks prosedur biasanya terdapat pada tulisan yang mengandung cara, tips atau tutorial melakukan langkah tertentu. 

Di dalam teks prosedur terdapat kata imperatif atau kata perintah untuk melakukan apa yang dibahas pada teks agar si pembaca melakukan apa yang diperintahkan pada isi teks tersebut.

Salah satu keterampilan kognitif awal yang dikembangkan anak adalah kemampuan untuk mengemukakan urutan. 

Namun, banyak anak tidak mampu ketika mereka diharapkan untuk mereproduksi urutan langkah-langkah secara tertulis. 

Untuk alasan inilah penting untuk menggunakan kegiatan konkret Ketika pertama kali memberikan instruksi untuk mewakili tahapan dalam prosedur dengan gambar atau bahkan media audiovidual.

Teks prosedur terdiri dari tiga bagian utama, yakni: 

a) Tujuan. Bagian tujuan teks prosedur berisi tentang tujuan pembuatan teks prosedur atau hasil akhir yang hendak dicapai bila sudah melakukan beberapa tahapan dalam teks prosedur itu.

b) Material. Pada bagian material dari teks prosedur yang isinya terkait bahan, alat, ataupun material yang diperlukan. Tidak semua teks prosedur memerlukan bagian material ini. Umumnya pemakaian bagian material ada dalam teks prosedur yang membahas tentang pembuatan tertentu seperti pembuatan resep makanan ataupun lainnya. 

c). Langkah-Langkah. Bagian langkah-langkah isinya tentang langkah yang perlu dilalui agar memperoleh hasil yang sesuai terhadap tujuan dari teks prosedur.  Hal  yang  harus  diperhatikan  adalah urutan yang tidak boleh dilakukan secara acak.

Beberapa kaidah kebahasaan teks prosedur adalah sebagai berikut.

1) Konjungsi temporal. Konjungsi temporal atau kata penghubung menyatakan waktu kegiatan dan bersifat kronologis contohnya seperti kata penghubung selanjutnya, berikutnya, lalu, kemudian, serta setelah itu.

2) Kata kerja imperatif. Pada teks prosedur juga banyak ditemukan adanya kalimat imperatif ataupun kalimat perintah serta larangan yang perlu ditaati untuk pelaksanaan hal yang di tulis pada teks prosedur.

3) Verba material dan tingkah laku. Verba material dan tingkah laku ialah sesuatu mengenai tindakan fisik misalnya memotong wortel, menghaluskan bumbu maupun lainnya.

Pada teks prosedur selalu tampak butir-butir langkah atau instruksi yang berurutan. Kalimat yang dipakai dapat berupa kalimat imperatif, deklaratif, serta interogatif.

Contoh membelajarkan cara telaah struktur retorik teks prosedur.

c. Teks Laporan Hasil Observasi

Teks laporan hasil observasi merupakan teks yang memberikan informasi secara umum tentang sesuatu berdasarkan fakta dari hasil pengamatan secara langsung, seperti melaporkan hasil observasi buku pengetahuan yang dibaca dan membandingkan dua teks laporan hasil observasi.

Adapun struktur lainnya dari teks laporan ini adalah sebagai berikut. 

a) Definisi Umum, adalah pembukaan yang berisi pengertian tentang sesuatu yang dibahas didam teks. 

b) Definisi Bagian, adalah bagian yang berisi ide pokok dari setiap

paragraph (penjelasan rinci). 

c) Definisi Manfaat, bagian yang menjelaskan manfaat dari sesuatu yang dilaporkan 

d) Penutup, adalah bagian rincian akhir dari teks.

Teks laporan hasil observasi memiliki hubungan erat dengan penelitian dan pengetahuan, maka hal ini termasuk kedalam jenis teks formal yang mengharuskan bahasa yang baku atau sesuai kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar, serta mudah dipahami. 

Kaidah kebahasaan teks laporan hasil observasi antara lain diuraikan sebagai berikut.

1) Menggunakan frasa nomina yang diikuti penjenis dan pendeskripsi.

2) Menggunakan verba relasional, seperti : ialah, merupakan, adalah, yaitu, digolongkan, termasuk, meliputi, terdiri atas, disebut, dan lain-lain (digunakan untuk menyatakan definisi pada istilah teknis atau istilah yang digunakan secara khusus pada bidang tertentu).

3) Menggunakan verba aktif alam, hal ini untuk menjelaskan perilaku, seperti : bertelur, membuat, hidup, makan, tidur, dan sebagainya.

4) Menggunakan kata penghubung, untuk menyatakan : Tambahan (dan, serta), Perbedaan (berbeda dengan), Persamaan (sebagaimana, seperti halnya), pertentangan (sedangkan, tetapi, namun), Pilihan (atau).

5) Menggunakan paragraf dengan kalimat  utama, hal  ini  untuk menyusun informasi utama, diikuti rincian aspek yang hendak dilaporkan dalam beberapa paragraf.

6) Menggunakan kata keilmuwan atau teknis, seperti : herbivora, degeneratif, osteoporosis, mutualisme, parasitisme, pembuluh vena, dan lain-lain. Contoh membelajarkan cara telaah struktur retorik teks laporan hasil observasi.

Hutan bakau ini termasuk lingkup ekosistem pantai sebab terletak di kawasan perbatasan laut dan darat.

Hutan bakau terletak di wilayah pantai dan muara sungai. Tepatnya, hutan bakau terletak di garis pantai. 

Dengan posisi hutan bakau yang berada di garis pantai, hutan ini dipengaruhi oleh keadaan air laut. 

Pasang surut laut mengubah kondisi hutan bakau. Hutan akan tergenang air di masa pasang dan akan bebas dari genangan air pada saat air surut. 

Habitat hutan bakau memiliki wilayah tanah yang tergenang secara berkala. Tempat tersebut juga mendapat aliran air tawar yang cukup dari daratan.

Hutan bakau memiliki ciri yang khas. Hutan ini terlindung dari gelombang besar. Selain itu, hutan bakau juga terlindung dari arus pasang surut laut yang kuat. 

Hutan bakau yang terletak di perbatasan laut dan muara sungai memiliki kadar garam payau. Di samping itu, ciri khas lain hutan bakau adalah berawa-rawa.

Hutan bakau memiliki beberapa fungsi dan manfaat. Secara fisik hutan bakau dapat menahan abrasi pantai. 

Pada saat datang badai, hutan bakau berfungsi sebagai penahan badai dan angin yang bermuatan garam. 

Di samping itu, hutan bakau dapat menahan intrusi (peresapan) air laut ke daratan. Hutan bakau juga menurunkan kandungan karbondioksida (CO2) di udara dan penambat bahan-bahan pencemar (racun) di perairan pantai. 

Manfaat hutan bakau juga dapat dilihat dari segi biologi. Hutan bakau menjadi tempat hidup biota laut. Selain itu, masyarakat sekitar memanfaatkan hutan bakau sebagai sumber mata pencaharian. Hutan bakau juga menyediakan beberapa unsur penting bahan obat-obatan.

Simpulan

Hutan  bakau  memiliki  ciri  khas.  Hutan  bakau  memiliki  manfaat  untuk  melindungi lingkungan laut, manfaat ekonomi, dan menyediakan sumber makanan/ obat-obatan.

d. Teks Berita

Teks Berita adalah teks yang berisi tentang segala peristiwa yang terjadi di dunia yang disebarkan melalui berbagai media seperti radio, televisi, internet, situs web, maupun media yang lainnya. 

Teks berita berisi fakta, tetapi tidak semua fakta dijadikan berita. Bagaimana seorang guru harus mengajarkan teks berita kepada siswa? 

Karena kemuculan teks berita dapat berasal dari berbagai media seperti yang disebutkan di atas, guru dapat melalukan berbagai variasi pembelajaran teks berita. 

Yang perlu diperhatikan oleh pada guru adalah siswa harus mengerti betul bagian-bagian atau struktur teks berita. 

Oleh karena itu, dalam kurikulum dibentangkan kemampuan yang harus dikuasai siswa mulai dari membacakan teks berita, memahami teks berita melalui lisan maupun tulis sampai pada menulis teks berita melalui reportase langsung sebuah kejadian di lingkungan sekitar siswa.

Seperti yang telah diketahui bahwa teks berita harus memuat informasi minimal memenuhi unsur 5W+1H. 

Struktur tertentu, begitu pula dengan teks berita. Teks ini mempunyai tiga struktur yang saling berhubungan yang kemudian membentuk teks ini secara utuh.

1) Orientasi Berita yaitu berisi pembuka dari peristiwa yang diberitakan di teks tersebut. Umumnya tertera penjelasan singkat mengenai berita yang sedang dibahas.

2) Peristiwa yaitu berisi tentang proses kejadian dari awal sampai akhir berdasarkan peristiwa yang terjadi dan menjelaskan berdasarkan fakta yang ada.

3) Sumber Berita yaitu dari mana asal sumber berita tersebut muncul. Sumber berita tidak selamanya ditulis dibagian akhir berita.

Teks berita memiliki tipe atau gaya penulisan yang lebih sarat dengan aturan dibandingkan dengan teks yang lain. Konsep penulisan berita yang lebih banyak digunakan adalah model piramida terbalik. 

Piramida terbalik adalah salah satu konsep, formula atau struktur penulisan berita atau sebuah acuan baku yang sering digunakan oleh para wartawan untuk menyusun sebuah teks berita. 

Penggunaan metode piramida terbalik berkaitan dengan space atau ruang dalam halaman yang disediakan untuk memuat berita. Ketika berita itu terlalu panjang dan tidak cukup untuk dimuat di halaman yang disediakan, maka editor bisa membuang bagian berita itu mulai dari paling bawah atau derajat informasi pentingnya yang paling rendah yang biasanya diletakan di bagian bawah atau akhir berita.

Struktur teks berita piramida terbalik bisa dilihat pada gambar di bawah ini:

Gambar 9. Struktur Teks Berita: piramida terbalik

1) Lead/Prioritas  Utama  Penting:  merupakan  puncaknya  yang  harus  dapat menjawab sebagian besar unsur 5 W + 1 H.

2) Neck/Sangat Penting: adalah urutan yang sangat penting yakni peralihan alur atau penyambung alur ide berita yang ada pada bagian lead atau kepala berita untuk dilanjutkan pada gagasan-gagasan yang tertuang pada bagian berikutnya.

3) Body/Penting: merupakan penjabaran dari gagasan berita yang termaktub dalam lead dan neck. Penjabaran itu bisa merupakan jawaban why (mengapa) dan how). d) Body Lanjutan/Kurang Penting: mencantumkan berbagai data yang tidak terlalu penting ditempatkan.

Beberapa kaidah kebahasaan teks berita, antara lain sebagai berikut.

1) Verba transitif: merupakan verba yang dapat diubah ke bentuk pasif.

2) Verba pewarta: adalah verba yang mengindikasikan suatu percakapan.

3) Adverbia  atau  kata  keterangan:  adalah  kelas  kata  yang  memberikan keterangan kepada kata lain.

4) Konjungsi temporal: adalah kata hubung yang berhubungan dengan waktu.

5) Kalimat langsung

6) Kalimat tidak langsung

7) Bahasa yang digunakan: Baku dan sederhana, menarik, singkat, padat dan luga, komunikatif, netral atau objektif.

Setelah  melihat  telaah  struktur  berikut,  cobalah  bagaimana  membelajarkan telaaah kaidah kebahsaan pada teks berita berikut!

"Water Salute" dan F-16 di Udara, Tanda Hormat TNI AU untuk Wapres Kalla.

JAKARTA, KOMPAS.com - TNI Angkatan Udara (AU) memberikan penghormatan kepada Wakil Presiden Jusuf Kalla yang akan melepas jabatannya sebagai orang nomor dua di Republik. 

Penghormatan itu diberikan saat Kalla lepas landas dari Bandara Adisutjipto menuju Bandara Halim Perdanakusuma seusai kunjungan kerja dari Yogyakarta, Kamis (10/10/2019).

Komandan Lanud Pangkalan Adi Sutjipto Yogyakarta, Marsekal Pertama Bob Henry Panggabean, melakukan Water Salute untuk melepas keberangkatan Wapres Jusuf Kalla menuju Jakarta. 

Saat pesawat Boeing Business Jet (BBJ) 2 yang ditumpangi Wapres akan terbang, dua kendaraan pemadam kebakaran yang mengapit landasan pacu menyemprotkan air secara diagonal hingga membentuk gapura yang melengkung. 

Pesawat pun melewati gapura yang terbuat dari air tersebut sebagai tanda penghormatan. Tidak hanya itu, saat pesawat BBJ 2 yang ditumpangi Wapres mengudara, dua pesawat tempur Indonesia, F-16 melintas dan mengawal sebagai tanda hormat kepada Wapres Kalla.

Salah satu pilot F-16 pun menyapa Kalla yang berada di kokpit BBJ-2. Ia mewakili TNI AU mengucapkan terima kasih atas pengabdian Kalla kepada negara lewat saluran komunikasi radio antar-pesawat "Kami dengan bangga mengawal penerbangan Indonesia 2. 

Kami mengucapkan terima kasih atas kepemimpinan Bapak selama menjadi Wakil Presiden. Semoga selalu dikaruniai keselamatan dan kesehatan," ujar sang pilot, seperti dikutip dari rekaman video yang didapat Kompas.com, Kamis (11/10/2019) . 

Kalla pun membalas ucapan terima kasih tersebut. "Saya mengucapkan terima kasih atas dukungan dan juga tentu pengabdian Anda. 

Hari ini saya berbangga dikawal Anda semua. Saya yakin negara kita terjaga dengan Anda semua di sini. Terima kasih atas pengawalan hari ini," ucap Kalla.

Setibanya di Pangkalan Udara TNI AU Halim Perdanakusuma, pesawat yang ditumpangi Wapres juga mendapat seremoni Water Salute. 

Upacara water salute biasanya digelar untuk ketibaan pesawat baru atau penerbangan perdana. Upacara ini juga kerap dilakukan untuk menandai pensiunnya pilot senior.

https://nasional.kompas.com/read/2019/10/11/08484401/water-salute-dan-f- 16-di-udara-tanda- hormat-tni-au-untuk-wapres-kalla.

Penulis : Rakhmat Nur Hakim Editor : Krisiandi

e. Teks Eksposisi

Teks eksposisi yaitu sebuah paragraf atau karangan yang di dalamnya mengandung sejumlah informasi yang isi dari paragraf tersebut ditulis dengan tujuan untuk menjabarkan atau memberikan pengertian dengan gaya penulisan yang singkat, padat dan akurat.

Struktur teks eksposisi yang harus diajarkan kepada siswa adalah sebagai berikut.

a) Judul: menggambarkan sesuatu yang dibahas Judul harus ditulis dengan kata- kata yang singkat, menarik dan sarat akan makna. 

b) Pernyataan Umum atau Tesis: berfungsi untuk memperkenalkan topik sekaligus menempatkan pembaca pada posisi tertentu. Karena dengan teks yang digunakan penulis itu ingin mengemukakan pendapat, pembaca dapat berada pada posisi yang sependapat atau pada posisi yang bersebrangan dengannya. 

c) Argumentasi atau alasan: berisi argumen atau alasan. Panjang dan pendeknya bagian ini tergantung pada jumlah argumen yang ada dalam pernyataan umum, kemudian menjabarkan argumen tersebut dalam paragraf-paragraf. Pengembangan argumen menjadi paragraf ini dilakukan melalui penyajian contoh dan alasan. 

d) Penegasan Ulang Pendapat (Simpulan): pengulangan opini bersifat pilihan, sehingga tidak semua teks eksposisi memiliki.

Untuk mengajarkan unsur atau kaidah kebahasaan teks eksposisi, Anda perlu memahami apa saja kaidah yang ada dalam teks eskposisi. 

Berikut uraian singkatnya. 

a) Pronomina. Pronomina atau kata ganti adalah jenis kata yang menggantikan nomina atau frasa nomina. Pronomina dapat diklasifikasikan menjadi dua macam yaitu pronomina persona dan pronomina nonpersona. 

b) Nomina dan Verba. Nomina (kata benda): merupakan kata yang mengacu pada benda, baik nyata maupun abstrak. Dalam kalimat berkedudukan sebagai subjek. Dilihat dari bentuk dan maknanya ada yang berbentuk nomina dasar maupun nomina turunan. Nomina dasar contohnya gambar, meja, rumah, pisau. Nomina turunan contohnya perbuatan, pembelian, kekuatan, dll. Verba (kata kerja): mrupakan kata yang mengandung makna dasar perbuatan, proses, atau keadaan yang bukan sifat. Dalam kalimat biasanya berfungsi sebagai predikat. 

c) Konjungsi:  merupakan kata hubung baik antarklausa maupun antarkalimat. Contoh cara membelajarkan struktur retorik dan  kaidah kebahasaan teks eksposisi.

f. Teks Eksplanasi

Teks eksplanasi adalah teks yang memaknai fenomana latar belakang dan proses kronologis sebuah kejadian. Struktur teks eksplanasi terdiri atas bagian-bagian yang memperlihatkan pernyataan umum (pembukaan), deretan penjelasan (isi), dan interpretasi/penutup (Mahsun, 2013: 189).

Pernyataan Umum berisi tentang penjelasan umum tentang fenomena yang akan dibahas, bisa berupa pengenalan fenomena tersebut atau penjelasannya. 

Penjelasan umum yang dituliskan dalam teks ini berupa gambaran secara umum tentang apa, mengapa, dan bagaimana proses peristiwa alam tersebut bisa terjadi. 

Deretan Penjelas berisi tentang penjelasan proses mengapa fenomena tersebut bisa terjadi atau tercipta dan bisa terdiri lebih dari satu paragraf. 

Deretan penjelas mendeskripsikan dan merincikan penyebab dan akibat dari sebuah bencana alam yang terjadi. Interpretasi/penutup (Opsional) tidak harus ada dalam teks. Teks penutup yang dimaksud adalah, teks yang merupakan intisari atau kesimpulan dari

pernyataan umum dan deretan penjelas. Opsionalnya dapat berupa tanggapan maupun mengambil kesimpulan atas pernyataan yang ada dalam teks tersebut.

Teks eksplanasi pada umumnya memiliki kaidah kebahasaan sebagai berikut.

1) Fokus  pada  hal  umum  “generic”  bukan  partisipan  manusia  (nonhuman participants) misalnya gempa bumi, banjir, hujan dan udara.

2) Dimungkinkan menggunakan istilah ilmiah.

3) Lebih banyak menggunakan kata kerja material dan relasional “kata kerja aktif”.

4) Menggunakan konjungsi waktu dan kausul misalnya jika, bila, sehingga, sebelum, pertama dan kemudian.

5) Menggunakan kalimat pasif

6) Eksplanasi ditulis untuk membuat justifikasi bahwa sesuatu yang diterangkan secara kausal itu benar.

Berikut  contoh  analisis  atau  telaah  struktur  dan  kaidah  kebahasaan  teks eksplanasi.

Analisis kaidah kebahasaan

Fokus pada hal umum (generic), bukan partisipan manusia (nonhuman participants), misalnya gempa bumi, banjir, hujan, dan udara. 

Dimungkinkan menggunakan istilah ilmiah. Menggunakan konjungsi waktu atau klausal, misalnya jika, bila, sehingga, sebelum, pertama dan kemudian. Bahasanya ringkas menarik dan jelas

g. Teks Pidato Persuasif

Salam pembuka

Pertama-tama, marilah kita panjatkan puja dan puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang  senantisa melimpahkan rahmatnya  kepada kita semua  sehingga kita dapat berkumpul di sini, di gedung ini dengan keadaan sehat wa-afiat. 

Yang kedua tidak lupa sholawat dan salam yang senantiasa kita haturkan kepada junjungan kita Nabi Agung Muhammad  SAW  yang  kita  nanti-nantikan  syafaatnya  di  hari  akhir  nanti.

Yang saya hormati para petinggi perusahaan Anak Muda Kreatif. Yang saya hormati para peserta Seminar Pengembangan Pemuda Menjadi Pribadi Pengusaha. Saya juga mengucapkan banyak terimakasih bagi panitia yang telah mempersiapkan ini dengan baik dan lancar.

Pendahuluan

Sebelum kita membahasnya lebih jauh, pernahkah kita menyadari bahwa betapa banyak pengusaha-pengusaha sukses yang meniti karir kehidupannya mulai dari nol besar. 

Mereka-mereka adalah kebanyakan yang mempunyai latar belakang orang susah atau orang tidak mampu namun mempunyai mimpi yang begitu besar.

Isi

Kebanyakan pengusaha-pengusaha yang telah berhasil memperkerjakan orang- orang memiliki latar belakang pendidikan yang tinggi. 

Jadi, pada intinya, kita yang berjiwa muda mempunyai kesempatan yang selebar-selebarnya untuk mewujudkan mimpi-mimpi kita. 

Masih cukup banyak waktu untuk berusaha sebaik mungkin dalam mewujudkan apa yang kita cita-citakan. Kita sebagai generasi muda harus mempunyai cara berfikir yang visioner, yakni mampu melihat peluang dimasa depan dan mampu memanfaatkan peluang tersebut. 

Disini saya bukan berarti melarang anda untuk menempuh pendidikan yang setinggi- tingginya. Kan tetapi kita semua harus mempunyai jiwa-jiwa pengusaha sehingga nantinya dapat diandalkan untuk mengangkat perekonomian Indonesia. 

Remaja-remaja yang saat ini sedang mencari dan membentuk jati dirinya harus mempunyai sudut pandang yang lebih baik mengenai kehidupan. 

Khususnya dalam membangun perekonomiannya sediri, terlebih dapat bermanfaat dan memajukan perekonomian bangsa.

Salah satu caranya adalah pembekalan dan pelatihan berwira usaha sehingga nantinya dapat menumbuhkan benih-benih pemuda berjiwa interpreneur. Hal ini penting, karena salah satu

h. Teks Negosiasi

Teks negosiasi memang belum banyak dikenalkan pada buku teks sebelum kurikulum 2013. 

Teks negosiasi atau negosiasi adalah suatu bentuk interaksi sosial yang berfungsi untuk mencapai penyelesaian bersama di antara pihak-pihak yang mempunyai perbedaan kepentingan. 

Pihak-pihak tersebut berusaha menyelesaikan perbedaan tersebut dengan cara berdialog dan tidak akan merugikan salah satu pihak (Bahasa Indonesia Ekspresi Diri dan Akademik, 2013). 

Negosiasi dilakukan karena adanya pihak-pihak yang berkepentingan perlu membuat kesepakatan mengenai permasalahan yang menuntut penyelesaian bersama. 

Tujuannya dari teks ini adalah untuk mengurangi perbedaan posisi setiap pihak, dengan mencari cara menemukan butir-butir yang sama sehingga tercipta kesepakatan yang disetujui bersama. 

Sebelum melakukan negosiasi hendaknya ditetapkan terlebih dahulu wakil-wakil dari setiap pihak, begitu juga bentuk atau struktur interaksi (apakah dialog atau mediasi)

Hal yang membedakan teks negosiasi dengan teks lainnya yakni teks ini memiliki ciri-ciri yaitu: 

a) menghasilkan kesepakatan (yang saling menguntungkan);

b) mengarah pada tujuan  praktis; 

c) memprioritaskan kepentingan bersama;

d) merupakan sarana untuk mencari penyelesaian.

Secara umum, struktur retorik teks negosiasi terdiri dari empat bagian berikut.

1) Negosiator: Penutur & Mitra Tutur

2) Pembuka: Penggiringan topik / basa-basi

3) Isi: Inti pembicaraan

4) Penutup: Pengambilan keputusan / penyelesaian

Pada teks negosiasi yang lebih kompleks, struktur ini dirinci lagi menjadi sebagai berikut.

1) Orientasi: Kalimat pembuka, biasanya dibubuhi salam. Fungsinya memulai negosiasi

2) Permintaan: Suatu hal berupa barang ataupun jasa yang ingin diblei oleh pembeli atau konsumen

3) Pemenuhan: Pemenuhan hal berupa barang atau jasa dari pemberi jasa atau penjual yang diminta oleh pembeli atau konsumen

4) Penawaran: Puncaknya Negosiasi terjadi tawar menawar

5) Persetujuan: Keputusan antara dua belah pihak untuk penawaran yang sudah dilakukan

6) Pembelian: Keputusan konsumen jadi menerima/menyetujui penawaran itu atau tidak

7) Penutup: Kalimat penutup atau salam penutup

Kaidah kebahasaan yang biasanya digunakan dalam teks negosiasi antara lain: 

a) menggunakan bahasa yang santun; 

b) terdapat ungkapan persuasif (bahasa untuk membujuk), 

c) berisi pasangan tuturan; 

d) Kesepakatan yang dihasilkan tidak merugikan dua belah pihak; 

e) bersifat memerintah dan memenuhi perintah; 

f) tidak berargumen dalam 1 waktu; 

g) didasari argumen yang kuat disertai fakta; 

h) minta alasan dari pihak mitra negosiasi (mengapa ya/tidak); 

i) tidak menyela argumen.

Contoh membelajarkan cara telaah struktur retorik teks negosiasi

Penjelasan

Pihak yang bernegosiasi adalah wali kelas da ketua kelas. Bahasa yang digunakan oleh keduanya sangat santun dan tidak saling menyela. 

Solusi yang ditawarkan pun tidak akan merugikan kedua pihak karena mengambil jalan untuk menemui kepala sekolah yang menjadi pejabat berwenang untuk memutuskan sesuatu. 

Keresahan wali kelas tidak akan berlanjut karena hasil keputusan apapun bersumber dari atasan. Siswa pun memiliki kebebasan untuk memilih objek sesuai dengan keinginan mereka meski harus didiskusikan dahulu dengan kepala sekolah. Inilah yang dinamakan win-win solution atau kesepakatan yang tidak merugikan sebelah pihak.

i. Resensi

Resensi ini berasal dari Belanda resentie serta Bahasa Latin recensio, recensere atau juga revidere yang mempunyai arti mengulas kembali atau juga melihat kembali. 

Sementara dalam Bahasa Inggris dikenal dengan istilah review. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonsia (2017), resensi ini diartikan ialah sebagai pertimbangan atau juga pembicaraan dan ulasan mengenai buku. 

Sementara itu, Poerwadarminta (Romli, 2003:75) menjelaskan resensi secara bahasa ialah sebagai pertimbangan atau juga perbincangan mengenai sebuah buku yang menilai kelebihan atau juga kekurangan buku tersebut, menarik- tidaknya tema serta isi buku, kritikan, dan juga memberi dorongan kepada khalayak mengenai perlu tidaknya buku tersebut untuk dibaca dan juga dimiliki atau dibeli.

Ada beberapa jenis resensi yang dikenal. 1) Resensi Informatif, yakni suatu resensi yang hanya menyampaikan isi dari resensi dengan secara singkat serta umum dari keseluruhan isi buku. 2) Resensi Deskriptif, merupakan suatu resensi yang membahas dengan secara detail/ lengkap pada setiap bagian atau babnya.

3) Resensi Kritis merupakan suatu resensi yang berbentuk ulasan detail/lengkap dengan metodologi ilmu pengetahuan tertentu. Isi dari resensi tersebut biasanya kritis dan juga objektif dalam menilai isi buku.

Hal yang perlu Anda ajarkan kepada siswa ialah mengenai struktur teks resensi ini yang meliputi beberapa bagian berikut :

1) Identitas, melingkupi judul, pengarang, tahun terbit,  tebal  halaman, penerbit, dan juga ukuran buku. Bagian diatas mungkin saja tidak dinyatakan dengan secara langsung, seperti yang tampak pada teks ulasan film serta juga juga lagu.

2) Orientasi, biasanya letaknya itu pada paragraf pertama, yakni penjelasan mengenai/tentang keunggulan buku seperti penghargaan yang pernah didapatkan oleh buku yang diresensi.

3) Sinopsis, yakni ringkasan yang menggambarkan pemahaman penulis terhadap isi novel.

4) Analisis, berisi paparan mengenai atau tentang keberadaan unsur-unsur cerita, seperti tema, penokohan, dan juga alur.

5) Evaluasi, adalah paparan mengenai kelebihan/keunggulan serta juga kekurangan suatu karya.

Contoh membelajarkan cara telaah struktur retorik teks resensi.

Petualangan Bocah di Zaman Jepang

1) Identitas

Judul Novel : Saksi Mata Pengarang : Suparto Brata

Penerbit : Penerbit Buku KOMPAS Tebal : x + 434 halaman

2) Orientasi

(memperkenalkan pengarang, tujuan pengarang buku, dll)

Setelah membaca novel yang sangat tebal ini, saya jadi teringat dengan novel Mencoba Tidak Menyerah-nya Yudhistira A.N. Massardhie dan juga novel Ca Bau Kan-nya Remy Sylado. 

Dalam novel Mencoba Tidak Menyerah, yang menjadi tokoh sentralnya adalah bocah laki-laki berusia sepuluh tahun sedangkan dalam novel Ca Bau Kan yang telah diangkat ke layar lebar, digambarkan bagaimana keadaan Jakarta Kota era zaman penjajahan Belanda dengan sangat detail. Lalu apa hubungannya dengan novel Saksi Mata karya Suparto Brata ini?

Dalam Saksi Mata, yang menjadi “jagoan” alias tokoh utamanya adalah bocah berusia dua belas tahun bernama Kuntara, seorang pelajar sekolah rakyat Mohan-gakko dan mengambil seting kota Surabaya di zaman penjajahan Jepang dengan penggambaran yang sangat apik, detail dan sangat memikat. 

Novel setebal 434 halaman ini sendiri sebenarnya merupakan cerita bersambung yang dimuat di Harian Kompas pada rentang waktu 2 November 1997 hingga 2 April 1998.

3) Sinopsis

Kisah berawal saat Kuntara secara tidak sengaja memergoki  buliknya Raden  Ajeng Rumsari alias Bulik Rum tengah bercinta dengan Wiradad di sebuah bungker perlindungan-belakangan baru diketahui oleh Kuntara kalau Wiradad adalah suami sah dari Bulik Rum.

 “Pemandangan” yang luar biasa itu dan belum patut untuk disaksikan oleh Kuntara membuat perasaan hatinya berkecamuk. 

Kuntara pun masygul dengan apa yang dilakukan oleh Bulik Rum yang selama ini selalu dihormatinya. Namun ia bisa mengerti kalau ternyata Bulik Rum yang cantik ini menyembunyikan sejuta kisah yang tak bakal disangka-sangka.

Bulik Rum adalah “wanita simpanan” tuan Ichiro Nishizumi, meski pekerjaan sehari- harinya bekerja di pabrik karung Asko. 

Mau tidak mau Bulik Rum harus melayani nafsu Ichiro Nishizumi kapan saja. Sebenarnya Bulik Rum sudah menikah dengan Wiradad tetapi tuan Ichiro Nishizumi tidak peduli dengan menyusul Bulik Rum ke Surabaya.

Saat Wiradad akan bertemu dengan Bulik Rum inilah terjadi sesuatu yang diluar dugaan. Okada yang merupakan guru Kuntara di sekolah rakyat Mohan-gakko berupaya untuk melampiaskan nafsunya kepada Bulik Rum, yang dengan tegas menolak keinginan Okada. 

Okada yang gelap mata ini segera menikamkan samurai kecilnya hingga akhirnya Bulik Rum terbunuh di bungker perlindungan. 

Okada yang selama ini sangat dihormati oleh Kuntara tenyata memiliki tabiat tidak beda dengan Tuan Ichiro Nishizawa, sama-sama doyan tidur dengan berbagai macam perempuan. 

Dari sinilah awal kisah “petualangan” Kuntara dalam mengungkap kasus terbunuhnya Bulik Rum hingga upaya untuk membalas dendamnya bersama dengan Wiradad kepada tuan Ichiro Nishizawa dan juga Okada.

Sejak kasus terbunuhnya Bulik Rum ini, keluarga Suryohartanan—tempat Kuntara dan ibunya menetap--mulai terlibat dengan berbagai kejadian yang mengikutinya. 

Kuntara yang tidak menginginkan keluarga ini terlibat dengan permasalahan yang terjadi dengan sengaja menyembunyikannya. Dengan segala “kecerdikan” ala detektif cilik Lima Sekawan Kuntara berupaya menyelesaikan kasus ini bersama dengan Wiradad.

4) Analisis

Sangat jarang sekali novel-novel “serius” di Indonesia yang terbit dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir yang menggunakan tokoh utama seorang anak kecil, selain dari novel Mencoba Tidak Menyerahnya Yudhistira ANM, mungkin hanya novel Ketika Lampu Berwarna Merah karya cerpenis Hamsad Rangkuti. 

Adalah hal yang menarik apabila membaca cerita sebuah novel “serius” dengan tokoh utama seorang anak kecil karena ia memiliki perspektif atau pandangan berbeda mengenai dunia dan segala sesuatu yang terjadi, bila dibandingkan dengan orang dewasa. 

Kita bisa membayangkan bagaimana seorang Kuntara yang baru berusia dua belas tahun menanggapi berbagai peristiwa yang terjadi dengan diri, keluarga, dan lingkungan sekitarnya pada masa penjajahan Jepang dan dengan “kepintarannya” ia mencoba untuk memecahkan persoalan tersebut. 

Meski menarik tetap saja akan memunculkan pertanyaan bagaimana bisa bocah dua belas tahun menjadi “sangat pintar”?

5) Evaluasi (keunggulan dan kekurangan buku)

Keunggulan lain dari novel ini adalah penggambaran suasana yang detail mengenai kota Surabaya di tahun 1944 (zaman pendudukan Jepang), malah ada lampiran petanya! Suasana kota Surabaya di zaman itu juga “direkam” dengan indah oleh Suparto Brata. 

Kita bisa membayangkan bagaimanan keadaan kampung SS Pacarkeling yang kala itu masih “berbau”. Sebagai arek Suroboyo yang tentunya mengenal seluk beluk kota Buaya ini, Suparto Brata jelas tidak mengalami kesulitan untuk melukiskan keadaan ini. 

Apalagi ia adalah penulis yang hidup dalam tiga zaman- -kolonialisme Belanda, pendudukan Jepang dan era kemerdekaan. 

Penggambaran suasana yang detail ini juga berkonsekuensi kepada cerita yang cukup panjang meski tetap tanpa adanya maksud untuk bertele-tele. 

Tidak ada satupun terjemahan untuk kosakata Jepang tersebut. Jadi bagi yang tidak mengerti bahasa Jepang, seperti saya juga, ya tebak-tebak saja sendiri.

6) Penutup

Novel ini juga diperkaya dengan adanya kosakata dan lagu-lagu Jepang yang makin menghidupkan suasana zaman pendudukan balatentara Jepang di Indonesia. Tetapi uniknya, tidak ada satupun terjemahan untuk kosakata Jepang tersebut. 

Jadi bagi yang tidak mengerti bahasa Jepang, seperti saya juga, ya tebak-tebak saja sendiri.

Ciri Kebahasaan Teks Resensi. Teks resensi tersebut memiliki kaidah-kaidah kebahasaan seperti berikut.

1) Banyak menggunakan konjungsi penerang, seperti bahwa, yakni, yaitu

2) Banyak  menggunakan  konjungsi  temporal:  sejak,  semenjak,  kemudian, akhirnya

Contoh pada teks sebagai berikut.

“Setelah membaca novel yang sangat tebal ini, saya jadi teringat dengan novel Mencoba Tidak Menyerah-nya Yudhistira A.N. Massardhie dan juga novel Ca Bau Kan-nya Remy Sylado”

3) Banyak menggunakan konjungsi penyebababan: karena, sebab. Contoh pada teks sebagai berikut.

“Adalah hal yang menarik apabila membaca cerita sebuah novel “serius” dengan tokoh utama

seorang anak kecil karena ia memiliki perspektif atau pandangan berbeda mengenai dunia dan  segala sesuatu yang terjadi”

4) Menggunakan pernyataan-pernyataan yang berupa saran atau rekomendasi pada bagian akhir

teks. Hal ini ditandai oleh kata jangan, harus, hendaknya.

j. Teks Editorial

Teks editorial atau sering dikenal dengan tajuk rencana merupakan pernyataan mengenai fakta dan opini secara singkat, logis, menarik ditinjau dari segi penulisan dan bertujuan untuk mempengaruhi pendapat atau memberikan interpretasi terhadap suatu berita yang menonjol sebegitu rupa sehingga bagi kebanyakan pembaca surat kabar akan menyimak pentingnya arti berita yang ditajukkan tadi (Spencer dalam Assegaff: 1991).

Teks editorial adalah sebuah artikel dalam surat kabar yang merupakan pendapat atau pandangan redaksi terhadap suatu peristiwa yang aktual atau sedang menjadi perbincangan hangat pada saat surat kabar itu diterbitkan. 

Isu atau masalah aktual itu dapat berupa masalah politik, sosial, maupun masalah ekonomi yang berkaitan dengan politik. Penulisan pendapat atau opini harus dilengkapi dengan fakta, bukti dan argumentasi yang logis. Ada tiga struktur utama yang menyusun teks editorial/opini, yaitu:

1) Pernyataan pendapat (tesis), bagian yang berisi sudut pandang penulis tentang masalah yang dibahas, berisi sebuah teori yang akan diperkuat oleh argumen.

2) Argumentasi, merupakan alasan atau bukti yang digunakan guna memperkuat pernyataan dalam tesis. Argumentasi yang diberikan dapat

berupa  pertanyaan  umum/data  hasil  penelitian,  pernyataan  para  ahli, maupun fakta-fakta.

3) Pernyataan/Penegasan ulang pendapat (Reiteration), merupakan bagian yang berisi penegasan ulang pendapat yang didukung oleh fakta yang biasanya berada di bagian akhir teks.

Kaidah kebahasaan yang digunakan dalam tek editorial tidak berbeda jauh dengan teks prosedur kompleks yaitu menggunakan verba material. 

Adverbia, bertujuan agar pembaca meyakini teks yang dibahas dengan menggunakan kata keterangan seperti selalu, sering, biasanya, kadang-kadang, jarang dan lain sebagainya. 

Konjungsi yaitu kata penghubung pada teks, seperti bahkan dan lain sebagainya. Verba material yaitu verba yang menunjukan perbuatan fisik atau peristiwa. Verba rasional yaitu verba yang menunjukan hubungan intensitas(Pengertian B adalah C) dan milik (Mengandung pengertian B memiliki C). 

Verba mental yaitu verba yang menunjukan persepsi (melihat, dan lainnya), afeksi (khawatir dan lainnya), dan kognisi (mengerti dan lainnya). Pada verba mental ada partisipan pengindra dan fenomena.

Menurut data yang dihimpun oleh POLRI, setiap tahun angka kecelakaan selalu meningkat. Pada tahun 2015, korban meninggal dunia akibat kecelakaan berjumlah 22.158 jiwa dan tahun 2016 angkat tersebut naik sekitar tiga persen, yakni 23.683 jiwa. 

Sementara itu, jumlah total kecelakaan yang terjadi pada tahun 2015 adalah 87.878 kali dan pada tahun 2016 sejumlah 96.635 kali. 

Tentu angka tersebut menimbulkan kerugian yang tak terkira jumlahnya. Lantas apa solusi untuk mengurangi resiko kecelakaan ini?

Sementara pemerintah telah meningkatkan jumlah dan mutu pelayanan transportasi umum seperti bus, kereta, dan pesawat. 

Namun demikian, alat transportasi darat seperti bus dan angkot masih belum menjadi pilihan masyarakat untuk bepergian karena memang tidak sepraktis dan seekonomis kendaraan pribadi seperti motor. 

Hal ini masih menjadi PR bagi pemerintah untuk mengupayakan keselamatan masyarakat dalam melakukan mobilitas.

Sebenarnya masyarakat tak hanya pasif dalam hal ini, sejumlah solusi dan pendapatpun telah disuarakan sebagai kritik, misalnya pemerintah selalu menambah kuota jumlah kendaraan yang bisa dipasarkan di Indonesia dan tidak segera memperbaharui dan mempercanggih alat transportasi umum.

Bahkan sekarang, untuk mendapatkan kendaraan bermotor sangat mudah dengan cara kredit yang bahkan tanpa uang muka. 

Hal ini sebenarnya mengerikan karena mindset masyarakat tak akan pernah berubah dan memilih kendaraan umum sebagai sarana transportasi utama. 

Kalaupun pemerintah berusaha meredam pemakaian kendaraan bermotor dengan cara menaikan harga bahan bakar dan menaikkan tarif pajak, hal tersebut tak akan berdampak banyak.

Semestinya pemerintah membuat kebijakan baru, yakni mempersulit atau mengurangi angka pembelian kendaraan bermotor yang diimbangi dengan penambahan jumlah, mutu, dan jalur bagi kendaraan umum sehingga situasinya bisa seperti zaman dahulu, yakni warga lebih memilih kendaraan umum untuk bepergian.

Pernyataan Ulang Pendapat

Kemacetan yang terjadi di jalan raya akibat banyaknya jumlah kendaraan yang melintas tak hanya berdampak sepele. 

Ancaman di jalan raya bukanlah mitos bahwa resiko keselamatan mengendarai kendaraan pribadi untuk bepergian hanyalah 50% saja. Berhati- hati kadangkala bukanlah jaminan, pasalnya di jalan raya para pengendara berhadapan dengan pengendara lainnya yang kadangkala ceroboh dalam berkendara.

Rangkuman : Ada tujuh jenis teks yang dipelajari pada kedua jenjang tersebut, yakni teks laporan hasil observasi, eksposisi, prosedur, eksplanasi, cerpen, puisi, dan drama. Teks laporan hasil observasi merupakan teks yang memberikan informasi secara umum tentang sesuatu berdasarkan fakta dari hasil pengamatan secara langsung. 

Teks eksposisi yaitu sebuah paragraf atau karangan yang di dalamnya mengandung sejumlah informasi yang isi dari paragraf tersebut ditulis dengan tujuan untuk menjabarkan atau memberikan pengertian dengan gaya penulisan yang singkat, padat dan akurat. 

Teks prosedur diartikan sebagai teks yang berisi cara, tujuan untuk membuat atau melakukan sesuatu hal dengan langkah demi langkah yang tepat secara berurutan sehingga menghasilkan suatu tujuan yang diinginkan. 

Teks eksplanasi adalah teks yang berisi tentang proses mengapa dan bagaimana suatu peristiwa alam, ilmu pengetahuan, sosial, budaya, dan juga lainnya bisa terjadi. teks cerpen atau cerita pendek adalah bentuk karya fiksi berupa kisah tentang manusia dan seluk beluknya lewat tulisan pendek. 

Puisi dikenal sebagai suatu karya sastra tertulis dimana isinya merupakan ungkapan perasaan seorang penyair dengan menggunakan bahasa yang bermakna semantis serta mengandung irama, rima, dan ritma dalam penyusunan larik dan baitnya. 

Teks drama adalah suatu teks cerita yang dipentaskan di atas panggung atau biasa disebut teater ataupun tidak dipentaskan di atas panggung seperti drama radio, televisi, dan film. 

Masing-masing teks memiliki tujuan sosial, karakteristik, struktur retorik, serta kaidah kebahasaan yang menjadi pembeda antara satu teks dengan teks yang lain.

Adapun teks untuk jenjang SMP/MTs antara lain: cerita imaginasi/fantasi, puisi rakyat, fabel, puisi, drama, cerpen, serta cerita inspirasi. 

Sementara itu untuk jenjang SMA/MA/SMK genre teks adalah anekdot, hikayat, puisi, cerpen, drama, dan novel. Masing-masing teks memiliki struktur retorik dan kaidah kebahasaan yang digunakan sebagai dasar analisis teks berbasis genre. 

Orientasi, konflik, resolusi, ending merupakan struktur retorik cerita imaginasi/fantasi. Jumlah baris, jumlah kata, pengulangan kata, jumlah baris dalam setiap bait, rima merupakan karakteristik unsur puisi (rakyat). Orientasi, komplikasi, resolusi, koda merupakan struktur retorik fabel. 

Struktur lahir dan struktur batin merupakan karakeristik teks puisi. Prolog, dialog, epilog adalah struktur retorik drama. Abstrak, orientasi, komplikasi, evaluasi, resolusi, koda adalah struktur retorik cerpen dan novel. 

Orientasi, rangkaian peristiwa, komplikasi, resolusi, koda merupakam struktur retorik certa inspirasi. 

Abstraksi, orientasi, event, krisis, reaksi, koda adalah struktur tesk anekdot. 

Tema, penokohan, latar, pertentangan, sudut pandang merupakan struktur teks hikayat.

Telaah genre teks berfokus pada struktur retorik dan kaidah kebahasaan serta contoh aplikasi telaahnya untuk mengajarkan genre teks nonfiksi

Adapun teks untuk jenjang SMP/MTs antara lain: teks deskripsi, prosedur, laporan hasil observasi, berita, eksposisi, eksplanasi, dan pidato persuasif.

Sementara itu untuk jenjang SMA/MA/SMK genre teks yang akan dibahas adalah laporan hasil observasi, eksposisi, negosiasi, prosedur, eksplanasi, resensi, dan editorial Masing-masing teks memiliki struktur retorik dan kaidah kebahasaan yang digunakan sebagai dasar analisis teks berbasis genre

Identifikasi, klasifikasi, deskripsi bagian, dan penutup merupakan struktur retorik teks deskripsi. Tujuan, material, dan langkah-langkah merupakan struktur retorik teks prosedur. 

Deskripsi umum, deskripsi bagian, deskripsi manfaat, penutup merupakan struktur retorik teks laporan hasil observasi.

Teks berita memuat struktur orientasi, peristiwa, sumber berita. Judul, pernyataan umum, argumentasi, penegasan ulang merupakan struktur retorik teks eskposisi. 

Pernyataan umum, penjelas, interpretasi/penutup adalah struktur retorik teks eksplanasi. Salam pembuka, pendahuluan, isi, penutup adalah struktur retorik pidato persuasif. 

Negosiator, pembuka, isi, penutup merupakan struktur retorik teks negosiasi. Struktur resensi memuat identitas, orientasi, sinopsis, analisis, evaluasi. Pernyataan pendapat, argumentasi, penegasan ulang pendapat merupakan struktur retorik teks editorial.

Penutup

Modul belajar mandiri yang telah dikembangkan diharapkan dapat menjadi referensi bagi Anda dalam mengembangkan dan me-refresh pengetahuan dan keletarampilan. 

Selanjutnya, Anda dapat menggunakan modul belajar mandiri sebagai salah satu bahan belajar mandiri untuk menghadapi seleksi Guru P3K.

Anda perlu memahami substansi materi dalam modul dengan baik. Oleh karena itu, modul perlu dipelajari dan dikaji lebih lanjut bersama rekan sejawat baik dalam komunitas pembelajaran secara daring maupun komunitas praktisi (Gugus, KKG, MGMP) masing-masing. 

Kajian semua substansi materi yang disajikan perlu dilakukan, sehingga Anda mendapatkan gambaran teknis mengenai rincian materi substansi. 

Selain itu, Anda juga diharapkan dapat mengantisipasi kesulitan- kesulitan dalam materi substansi yang mungkin akan dihadapi saat proses seleksi Guru P3K.

Pembelajaran-pembelajaran yang disajikan dalam setiap modul merupakan gambaran substansi materi yang digunakan mencapai masing-masing kompetensi Guru sesuai dengan indikator yang dikembangkan oleh tim penulis/kurator. 

Selanjutnya Anda perlu mencari bahan belajar lainnya untuk memperkaya pengetahuan dan keterampilan sesuai dengan bidang studinya masing-masing, sehingga memberikan tingkat pengetahuan dan keterampilan yang komprehensif. 

Selain itu, Anda masih perlu mengembangkan pengetahuan dan keterampilan Anda dengan cara mencoba menjawab latihan-latihan soal tes yang disajikan dalam setiap pembelajaran pada portal komunitas pembelajaran.

Dalam melaksanakan kegiatan belajar mandiri Anda dapat menyesuaikan waktu dan tempat sesuai dengan lingkungan masing-masing (sesuai kondisi demografi). 

Harapan dari penulis/kurator, Anda dapat mempelajari substansi materi bidang studi pada setiap pembelajaran yang disajikan dalam modul untuk mengembangkan pengetahuan dan keterampilan sehingga siap melaksanakan seleksi Guru P3K.

Selama mengimplementasikan modul ini perlu terus dilakukan refleksi, evaluasi, keberhasilan serta permasalahan. Permasalahan-permasalahan yang ditemukan

dapat langsung didiskusikan dengan rekan sejawat dalam komunitas pembelajarannya masing-masing agar segera menemukan solusinya.

Capaian yang diharapkan dari penggunaan madul ini adalah terselenggaranya pembelajaran bidang studi yang optimal sehingga berdampak langsung terhadap hasil capaian seleksi Guru P3K.

Kami menyadari bahwa modul yang dikembangkan masih jauh dari kesempurnaan. Saran, masukan, dan usulan penyempurnaan dapat disampaikan kepada tim penulis/kurator melalui surat elektronik (e-mail) sangat kami harapkan dalam upaya perbaikan dan pengembangan modul-modul lainnya.

Daftar Pustaka

Ahmadi, Abu dan Jaka Tri Prastya. 2005. Strategi Belajar Mengajar. Bandung: CV. Pustaka Setia.

Ahuja, Pramila dan G.C. Ahuja. 2010. Membaca Secara Efektif dan Efisien.

Bandung: PT Kiblat Buku Utama.

Akhadiah, S dkk. 1988. Pembinaan Kemampuan Menulis Bahasa Indonesia.

Jakarta: Erlangga.

Alwi, Hasan, dkk. 2010. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Anitah, Sri. 2009. Strategi Pembelajaran. Jakarta: Universitas Terbuka.

Arief, Ermawati. 2001. Retorika (Seni Berbahasa Lisan dan Tulisan). Buku Ajar.

Padang: FBSS UNP.

Arifin, E. Zaenal dan S. Amran Tasai. 2009. Cermat Berbahasa Indonesia.

Jakarta: Akademika Pressindo.

Assegaf, Dja’far. 1991. Jurnalistik Masa Kini, Pengantar Ke Praktek Kewartawanan. Jakarta : Ghali Indonesia

Atmowiloto, Arswendo. 2011. Mengarang Itu Gampang. Jakarta: Gramedia.

Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa,  Kementerian  Pendidikan dan Kebudayaan, 2017. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia Ekspresi Diri dan Akademik (Buku Siswa

Badan  Pengembangan  dan  Pembinaan  Bahasa,  Kementerian  Pendidikan dan Kebudayaan, 2017. Kamus Besar Bahasa Indonesia.

Chaer, Abdul. 1995. Pengantar Semantik Bahasa Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta.

Chaer, Abdul. 2012. Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta.

Dalman, H. 2013. Keterampilan Membaca. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada. Danandjaja, James. 1991. Folklor Indonesia. Jakarta: Grafiti.

Dipodjojo, Asdi S. 1982. Komunikasi Lisan. Yogyakarta: Lukman. Djayasudarma, T. Fatimah. 2012. Semantik 1. Bandung: Refika Aditama. Gawa, John. 2009. Kebijakan dalam 1001 Pantun. Jakarta: Penerbit Kompas.

Ginting, Abdurrahman. 2008. Esensi Praktis Belajar dan Pembelajaran. Bandung: Humaniora.

Grant, John; Clute, John (1997). "Gilgamesh". The Encyclopedia of Fantasy. Hamzah, A. 1996. Sastra Melayu Lama dan Raja Rajanya. Jakarta: Dian Rakyat. Hendrikus, Dori Wuwur. 1991. Retorika. Yogyakarta: Kanisius.

Hendrikus, Wuwur Dori P. 1991. Retorika (Terampil Berpidato, Berdiskusi, Berargumentasi, dan Bernegosiasi). Yogyakarta: Kanisius.

Huda, Miftahul. 2014. Cooperative Learning Metode, Teknik, Struktur & Model Penerapan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Iskandarwassid dan Sunendar, Dadang. 2015. Strategi Pembelajaran Bahasa.

Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Kemdikbud. 2018. Bahasa Indonesia Kelas VIII SMP/MTs. Jakarta: Kemdikbud. Kemdikbud.  2018.  Buku  Bahasa  Indonesia  Kelas  IX  SMP/MTs.  Jakarta:

Kemdikbud.

Keraf, Gorys. Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama King, larry. 2007. Seni Berbicara. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Knapp, P & Watkins, M. 2005. Genre, Text, Grammar. Sydney: University of New South Wales Press Ltd.

Kresna, Sigit B. (Ed). 2001. Mengenal Lebih Dekat Putu Wijaya Sang Teroris Mental dan Pertanggungjawaban Proses Kreatifnya. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia

Kridalaksana, Harimurti. 1984. Kamus Linguistik. Jakarta: Gramedia Kridalaksana, Harimurti. 2007. Pembentukan Kata dalam Bahasa Indonesia.

Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Luu, T. T. (2011). Teaching Writing through Genre-Based Approach. Belt Journal Porto Alegre. 1 (2), hlm. 122-123. London, England: Palgrave Macmillan. p. 410. ISBN 0 312-19869-8.

Luxemburg, Jan Van dkk. 1984. Pengantar Ilmu Sastra (Terjemahan Dick Hartoko). Jakarta: Gramedia.

Mahsun, M.S. Teks dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia. Jakarta: Rajawali Press.

Nurgiyantoro, Burhan. 2009. Penilaian dalam Pengajaran Bahasa dan Sastra.

Yogkakarta: BPFE

  . 1995. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada Press.

Nusantara, Bondan. 1997. “Format Garapan dan Problematika Ketoprak” dalam Lephen Purwa Raharja Ketoprak Orde Baru. Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya.

Pardiyono. 2005. Pasti Bisa! Teaching Genre-Based Writing. Yogyakarta: Andi Publisher.

Pateda, Mansoer. 1989. Semantik Leksikal. Ende Flores: Nusa Indah

Rakhmat,  Jalaludin.  1996.  Retorika  Modern:  Pendekatan  Praktis.  Bandung: Remaja Rosdakarya.

Ramlan. M. 2005. Sintaksis. C.V. Karyono. Yogyakarta.

Redaksi Balai Pustaka. 2011. Pantun Melayu. Jakarta: Balai Pustaka.

Reid, I. (ed.) (1987) The Place of Genre in Learning: Current Debates, Geelong: Deakin University Press.

Ridha, Akrim. 2004. Seni Menghadapi Publik. Bandung: Syaamil Cipta Media. Rogers, Natalie. 2004. Berani Bicara di Depan Publik. Bandung: Nuansa.

Rubin, D.L. 1993. "Fable in Verse", The New Princeton Encyclopedia of Poetry and Poetics.

Saussure, F. de (1974) Course in General Linguistics, trans. R. Harris, Bungay, Suffolk: Fontana

Sayuti, Suminto A. 2002. Berkenalan dengan Prosa Fiksi. Yogyakarta: Gama Media.

Siswanto, Wahyudi. 2008. Pengantar Teori Sastra. Jakarta: Gramedia.

Snow, Catherine E. 2002. Reading for Understanding: Toward a Research and Development Program in Reading Comprehension. C A: Rand.

Soedarso. 2010. Speed Reading: Sistem Membaca Cepat dan Efektif. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Soeparno. 2008. Media Pengajaran Bahasa. Yogyakarta: Intan Pariwara. Sumardjo, Jakob. 2001. Catatan Kecil Tentang Menulis Cerpen. Yogyakarta:

Pustaka Pelajar

Suryaman, Maman. 2010. Diktat Mata Kuliah Strategi Pembelajaran Sastra. Yogyakarta: Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FBS, UNY

Suryandani, Rasti (penerjemah). 2003. Anekdot Cina. Magelang: IndonesiaTera Sutari, Ice, dkk. 1997/1998. Menyimak. Jakarta: Depdikbud.

Suwandi, Sarwiji. 2008. Semantik Pengantar Kajian Makna. Yogyakarta: Media Perkasa.

Tampubolon, D.P. 2015. Kemampuan Membaca: Teknik Membaca Efektif dan Efisien. Bandung: CV Angkasa.

Tarigan, Henry Guntur. 2015. Membaca Sebagai Suatu keterampilan Berbahasa.

Bandung: CV Angkasa.

Tim Pengembang Pedoman Bahasa Indonesia. Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, diakses pada link:http://badanbahasa.kemdikbud.go.id/lamanbahasa/sites/default/files/ PUEBI.pdf

Wahyudi, Ibnu. 2006. “Hakikat Drama” dalam Membaca Sastra Pengantar Memahami Sastra untuk Perguruan Tinggi. Magelang: IndonesiaTera

Waluyo, Herman J. 1995. Teori dan Apresiasi Puisi. Jakarta: Erlangga.

Waluyo, Herman J. 2001. Drama Teori dan Pengajarannya. Yogyakarta: Hanandita Graha Widia.

Wellek, Rene dan Austin Warren. 2014. Teori Kesusastraan (diterjemahkan oleh Melani Budianta). Jakarta: Gramedia.

Wijana, I Dewa Putu dan Muhammad Rohmadi. 2008. Semantik Teori dan Analisis. Surakarta: Yuma Pustaka

Wiyanto, Asul. 2002. Terampil Bermain Drama. Jakarta : Gramedia. Wiyatmi. 2006. Pengantar Kajian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pinus.

Zuchdi,  Darmiyati. 2008. Strategi Meningkatkan Kemampuan Membaca.

Yogyakarta: UNY Press.

Sumber: Lestyarini, Beniati. 2019. Pendalaman Materi Bahasa Indonesia Modul 6 Genre Teks dalam Bahasa Indonesia. Kemdikbud.

Posting Komentar untuk "Genre Teks - Modul 6 PPPK Bahasa Indonesia"